Free Essay

Akuntasi Manajemen

In:

Submitted By wsartika
Words 4450
Pages 18
Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba
MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Topik Khusus
Dosen Pembimbing :
Djoemarma Bede, S.E.,MBA.,Ak

Oleh: Sartika Wulandari | 120110130090 | Azharia Devi Agustina | 120110130091 | Ulfatur Robbaniyyah | 120110130092 | Grace Ekasari | 120110130149 |

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PADJAJARAN
BANDUNG
2015
KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum wr.wb Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Akuntansi Topik Khusus yaitu Makalah yang berjudul “Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba Studi Kasus pada Yayasan Masjid Al-Falah Surabaya”. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen Akuntansi Topik Khusus, Djoemarma Bede, S.E.,MBA.,Ak, yang telah membimbing, penulis juga berterima kasih kepada orang tua dan semua pihak yang terlibat dalam penulisan karya tulis ilmiah ini.
Penulis sudah berusaha dalam menyelesaikan makalah ini, namun jika masih ada kesalahan penulis mohon maaf, karena penulis masih dalam proses pembelajaran, oleh karena itu penulis menerima kritikan dan saran yang membangun dari pembaca. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum wr.wb

Bandung, 24 November 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2 BAB 1 Pendahuluan 4 1.1 Latar Belakang 4 1.2 Rumusan Masalah 5 1.3 Tujuan Penulisan 5 BAB II Tinjauan Pustaka 6 BAB III Analisis dan Pembahasan 10 BAB IV Simpulan dan Saran 22 DAFTAR PUSTAKA 23

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Organisasi nirlaba memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan organisasi yang berorientasi kepada laba.Dalam menjalankan kegiatannya, organisasi nirlaba tidak semata-mata digerakkan oleh tujuan untuk mencari laba.Meski demikian not-for-profit juga harus diartikan sebagai not-for-loss.Oleh karena itu, organisasi nirlaba selayaknya pun tidak mengalami defisit. Adapun bila organisasi nirlaba memperoleh surplus, maka surplus tersebut akandikontribusikan kembali untuk pemenuhan kepentingan publik, dan bukan untuk memperkaya pemilik organisasi nirlaba tersebut.
Dalam hal kepemilikan, kepemilikan dalam organisasi nirlaba tidak dapat dijual, dialihkan, atau ditebus kembali sebagaimana pada organisasi bisnis. Selain itu, kedua jenis organisasi tersebut bereda dalam hal cara organisasi memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas operasinya. Organisasi nirlaba umumnya memperoleh sumber daya dari sumbangan para anggota dan donatur lain, yang idealnya, tidak mengharapkan adanya pengembalian atas donasi yang mereka berikan.
Lebih lanjut, walaupun tidak meminta adanya pengembalian, namun para donatur sebagai salah satu stakeholder utama organisasi nirlaba tentunya mengharapkan adanya pengembalian atas sumbangan yang mereka berikan. Para donatur ini, baik mempersyaratkan atau tidak, tentu tetap menginginkan pelaporan serta pertanggungjawaban yang transparan atas dana yang mereka berikan. Para donatur ingin mengetahui bagaimana dana yang mereka berikan dikelola dengan baik dan dipergunakan untuk memberi manfaat bagi kepentingan publik.
Untuk itu, organisasi nirlaba perlu menyusun laporan keuangan. Hal ini bagi sebagian organisasi nirlaba yang scope-nya masih kecil serta sumber daya-nya masih belum memadai, mungkin akan menjadi hal yang menantang untuk dilakukan. Terlebih karena organisasi nirlaba jenis ini umumnya lebih fokus pada pelaksanaan program ketimbang mengurusi administrasi.Namun, hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan karena organisasi nirlaba tidak boleh hanya mengandalkan pada kepercayaan yang diberikan para donaturnya. Akuntabilitas sangat diperlukan agar dapat dapat memberikan informasi yang relevan dan dapat diandalkan kepada donatur, regulator, penerima manfaat dan publik secara umum.
Menurut PSAK 45, organisasi nirlaba perlu menyusun setidaknya 4 jenis laporan keuangan sebagai berikut: 1. Laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir periode laporan 2. Laporan aktivitas untuk suatu periode pelaporan 3. Laporan arus kas untuk suatu periode pelaporan 4. Catatan atas laporan keuangan

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana penyusunan laporan keuangan yayasan Masjid Al Falah 2. Bagaimana penerapan PSAK 45 pada laporan keuangan yayasan MasjidAl Falah

1.3 Tujuan Penulisan * Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Akuntansi Topik Khusus. * Mengetahui lebih jauh tentang penyusunan laporan keuangan yayasan Masjid Al Falah * Mengetahui implementasi PSAK 45 pada laporan keuangan yayasan MasjidAl Falah

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Laporan Keuangan Organisasi Nirlaba Menurut PSAK No. 45
Laporan keuangan organisasi nirlaba meliputi laporan posisi keuangan pada akhir periode, laporan aktivitas, laporan arus kas untuk suatu periode pelaporan, dan catatan atas laporan keuangan. Dengan adanya standar ini diharapkan laporan keuangan organisasi nirlaba dapat lebih mudah dipahami, memiliki relevansi, dan memiliki daya banding yang tinggi. Penerapan PSAK No. 45 berlaku efektif untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan mulai 1 Januari 2000. PSAK No. 45 berlaku bagi laporan keuangan yang disajikan oleh organisasi nirlaba yang memenuhikarakteristik sebagai berikut: a) sumber daya entitas berasal dari para penyumbang yang tidak mengharapkan pembayaran kembali atau manfaat ekonomi yang sebanding dengan jumlah sumber daya yang diberikan. b) menghasilkan barang dan/atau jasa tanpa bertujuan memupuk laba, dan kalau suatu entitas menghasilkan laba, maka jumlahnya tidak pernah dibagikan kepada para pendiri atau pemilik entitas tersebut. c) Tidak ada kepemilikan seperti lazimnya pada organisasi bisnis, dalam arti bahwa kepemilikan dalam organisasi nirlaba tidak dapat dijual, dialihkan, atau ditebus kembali, atau kepemilikan tersebut tidak mencerminkan proporsi pembagian sumber daya entitas pada saat likuidasi atau pembubaran entitas.
Tujuan laporan posisi keuangan adalah untuk menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih dan informasi mengenai hubungan di antara unsur-unsur tersebut pada waktu tertentu. Informasi dalam laporan posisi keuangan yang digunakan bersama peng-ungkapan dan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditur dan pihak-pihak lain untuk menilai: a) kemampuan organisasi untuk memberikan jasa secara berkelanjutan dan b) likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi kewajibannya, dan kebutuhan pendanaan eksternal.
Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai: a) Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat aktiva bersih. b) Hubungan antar transaksi, dan peristiwa lain. c) Bagaimana penggungaan sumber daya dalam pelaksanaan berbagai program atau jasa.
Informasi dalam laporan aktivitas yang digunakan bersama denganpengungkapan informasi dalam laporan keuangan lainnya, dapat membantu para penyumbang, anggota organisasi, kreditur dan pihak lainnya untuk: a) Mengevaluasi kinerja dalam suatu periode. b) Menilai upaya, kemampuan, dan kesinambungan organisasi dan memberikan jasa. c) Menilai pelaksanaan tanggung jawab dan kinerja manajer.
Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu periode. Laporan arus kas disajikan sesuai dengan PSAK No. 2 tentang laporan arus kas dengan tambahan berikut ini: a) Aktivitas Pendanaan dimana Penerimaan kas dari penyumbang yang penggunaannya dibatasi untuk jangka panjang, penerimaan kas dari sumbangan dan penghasilan investasi yang penggunaannya dibatasi untuk pemerolehan, pembangunan dan pemeliharaan aktiva tetap, atau peningkatan dana abadi (edowment). Lalu bunga dan deviden yang dibatasi penggunaannya untuk jangka panjang. b) Pengungkapan informasi mengenai aktivitas investasi dan pendanaan nonkas: sumbangan berupa bangunan atau aktiva investasi.
Menurut Wikipedia catatan tambahan dan informasi yang ditambahkan ke akhir laporan keuangan untuk memberikan tambahan informasi kepada pembaca dengan informasi lebih lanjut. Catatan atas laporan keuangan membantu menjelaskan perhitungan item tertentu dalam laporan keuangan serta memberikan penilaian yang lebih komprehensif dari kondisi keuangan suatu entitas. Catatan atas laporan keuangan dapat mencakup informasi tentang hutang, kelangsungan usaha piutang, kewajiban kontijensi, atau informasi kontekstual untuk menjelaskan angka-angka keuangan (misalnya untuk menunjukkan gugatan).
Yayasan
Menurut UU No. 16 Tahun 2001, sebagai dasar hukum positif yayasan, pengertian yayasan adalah badan hukum yang kekayaannya terdiri dari kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Selanjutnya, perkumpulan terbagi atas 2 jenis, yaitu : a) Perkumpulan yang berbentuk badan hukum, seperti perseroan terbatas, koperasi, dan perkumpulan saling menanggung. b) Perkumpulan yang tidak berbentuk badan hukum, seperti persekutuan perdata, CV, dan firma. (Bastian, 2007:1)

Yayasan sebagai suatu badan hukum mampu dan berhak serta berwenang untuk melakukan tindakan-tindakan perdata.Pada dasarnya, keberadaan badan hukum yayasan bersifat permanen, yaitu hanya dapat dibubarkan melalui persetujuan para pendiri atau anggotanya.Yayasan hanya dapat dibubarkan jika segala ketentuan dan persyaratan dalam anggaran dasarnya telah dipenuhi. Hal tersebut sama kedudukannya dengan perkumpulan yang berbentuk badan hukum, dimana subjek hukum yang dapat melakukan perbuatan hukum dan, yang menyandang hak dan kewajiban, dapat digugat maupun menggugat di pengadilan.
Menurut (Bastian, 2007:2) sebagai organisasi, termasuk yayasan, memiliki tujuan yang spesifik dan unik yang dapat bersifat kuantitatif maupun kualitatif.Tujuan yang bersifat kuantitatif mencakup pencapaian laba maksimum, penguasaan pangsa pasar, pertumbuhan organisasi, dan produktivitas.Sementara tujuan kualitatif dapat disebutkan sebagai efisiensi dan efektivitas organisasi, manajemen organisasi yang tangguh, moral karyawan yang tinggi, reputasi organisasi, stabilitas, pelayanan kepada masyarakat, dan citra perusahaan.
Menurut UU No. 16 Tahun 2001, yayasan mempunyai fungsi sebagai pranata hukum dalam rangka mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Undang-undang tersebut menegaskan bahwa yayasan adalah suatu badan hukum yang mempunyai maksud dan tujuan yang bersifat sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang didirikan dengan memperhatikan persyaratan formal yang ditentukan berdasarkan undang-undang.
Sumber Pembiayaan Yayasan
Sumber pembiayaan yayasan berasal dari sejumlah kekayaan yang dipisahkan dalam bentuk uang atau barang. Selain itu, yayasan juga memperoleh sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat, seperti berupa: a) Wakaf adalah kekayaan yang diserahkan untuk dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Yayasan menerima wakaf barang atau hal lainnya supaya bisa dikelola dengan maksimal. b) Hibah umumnya bersifat pengajuan dari yayasan. Hal ini biasanya berasal dari instansi atau yayasan yang lain. Selain itu hibah memiliki konsekuensi pertanggungjawaban berupa laporan terkait dengan penerimaan dan realisasi hibah tersebut. c) Hibah wasiat adalah bantuan yang diberikan seseorang atau instansi kepada yayasan karena wasiat dari seseorang yang telah meninggal sebelumnya. Bantuan ini diberikan dengan harapan yayasan dapat berkembang menjadi lebih besar lagi. d) Perolehan lain yang tidak bertentangan dengan anggaran dasar yayasan dan/atau peraturann perundang-undangan yang berlaku.

BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Susunan Pengurus
Saat ini Yayasan Masjid Al Falah belum menyusun gambar struktur organisasi. Hal ini jelas akan merugikan para pengguna laporan keuangan maupun pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan dengan yayasan dikarenakan belum jelasnya wewenang dari masing-masing bagian tersebut.

Kebijakan Akuntansi Yayasan Masjid Al Falah
Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi keuangan Yayasan Masjid Al Falah yang akan digunakan oleh para pengguna laporan keuangan dalam mengambil keputusan yang sesuai dengan kepentingan pihak-pihak tersebut. Penyusunan laporan keuangan disajikan berdasarkan harga perolehan dengan standar akuntansi yang digunakan adalah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 45 mengenai pelaporan keuangan organisasi nirlaba.Periode akuntansi Yayasan Masjid Al Falah adalah sejak tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember atau 1 tahun fiskal.Laporan keuangan Yayasan Masjid Al Falah disusun setiap akhir tahun sesuai pada tahun yang bersangkutan.
Dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan berdasarkan harga perolehan (cost method). Laporan arus kas disusun dengan metode langsung (direct method). Setara kas (cash equivalent) merupakan bentuk investasi yang jatuh temponya tidak lebih dari 3 bulan. Piutang disajikan dalam laporan posisi keuangan dengan nilai bruto dan tidak dibentuk penyisihan kerugian piutang terhadap piutang yang tidak dapat ditagih. Pada tahun 2011 piutang disajikan berdasarkan nilai bersih yang dapat direalisasi.
Aset bersih merupakan selisih antara aset dengan liabilitas. Pendapatan Masjid dan Lembaga Kursus diakui pada saat diterima (cash basis) sedangkan pendapatan Lembaga Pendidikan Al Falah diakui berdasarkan cash basis untuk penerimaan yang tidak melewati batas akhir pembayaran dan accrual basis atas penerimaan yang tidak dilakukan pelunasan seluruhnya atau menunggak. Sedangkan untuk beban dicatat berdasarkan accrual basis. Aset tetap dinilai menurut harga perolehan kecuali bangunan masjid berdasarkan nilai taksiran.Aset tetap disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus (straight line method) berdasarkan taksiran masa manfaat. Gedung disusutkan selama 20 tahun, kendaraan disusutkan selama 10 tahun, alat sekolah, kantor, dan rumah tangga disusutkan selama 5 tahun, dan alat corak budaya disustkan selama 5 tahun.
Berdasarkan PSAK No. 45 terdapat 4 laporan keuangan yang harus disusun oleh organisasi nirlaba (dalam hal ini adalah yayasan) yaitu laporan posisi keuangan atau neraca, laporan aktivitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.Dalam hal ini keempat laporan keuangan tersebut telah disusun oleh yayasan sesuai dengan ketentuan yang diatur di dalam PSAK No. 45.

Laporan Posisi Keuangan
Laporan posisi keuangan atau neraca disusun pada setiap akhir tahun dengan menggunakan metode accrual basis.Laporan posisi keuangan disusun dengan tujuan untuk menyediakan informasi mengenai aset, liabilitas, dan aset bersih dan informasi mengenai hubungan diantara unsur-unsur tersebut pada waktu tertentu.Yayasan Masjid Al Falah telah.mengklasifikasikan akun-akun tersebut sesuai dengan tingkat likuiditasnya untuk aset, dan sesuai dengan tanggal jatuh temponya untuk liabilitas. Laporan posisi keuangan diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu: 1) Aset
Aset lancar merupakan aset atau harta yang dimiliki yayasan untuk digunakan dalam waktu yang perputarannya kurang dari atau satu tahun periode.Kas dan setara kas adalah akun yang dimiliki yayasan dalam bentuk uang tunai serta saldo rekening tabungan, giro, dan deposito yang digunakan untuk membiayai kegiatan rutin yayasan.Kas dan setara kas adalah akun yang dimiliki yayasan dalam bentuk uang tunai serta saldo rekening tabungan, giro, dan deposito yang digunakan untuk membiayai kegiatan rutin yayasan.
Pada bagian akun aset lancar terdapat akun piutang.Piutang yayasan terdiri dari piutang siswa, piutang karyawan, dan piutang pihak ketiga.Baik laporan tahun 2009 hingga 2011, Yayasan Masjid Al Falah mengakui kerugian piutang secara langsung. Jika akun kerugian piutang pada piutang tak tertagih telah disusun oleh yayasan, maka laporan keuangan akan semakin andal dan semakin
Aset lain-lain pada laporan keuangan tahun 2009 terdapat akun aset dalam penyelesaian dan premi pensiun.Akun aset dalam penyelesaian dan premi program pensiun merupakan bagian dari akun aset lain-lain. Aset dalam penyelesaian merupakan aset atas pembangunan tempat wudhu putri mushollah SMP yang terdiri dari:
- Biaya material Rp13.666.000,00
- Tenaga kerja langsung Rp 6.335.000,00
Jumlah Rp20.001.000,00
Namun pada tahun 2010, aset ini telah selesai pembangunannya, dan segala bentuk biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan tersebut telah direklasifikasi kepada akun aset tetap.
Untuk akun premi pensiun, merupakan pembayaran premi asuransi jiwa pada PT. Asuransi Jiwa Manulife Indonesia. Lembaga pendidikan Al Falah menyertakan pegawainya pada program max protection plan yang memenuhi kesejahteraan karyawan pasca pensiun. Premi program pensiun yang pada tahun sebelum-sebelumnya diklasifikasikan sebagai aset pada laporan posisi keuangan yayasan, namun pada tahun 2010 telah dilakukan reklasifikasi ke beban karyawan di laporan aktivitas. Sehingga atas pengaruh ini terjadi penurunan aset bersih yayasan sebesar Rp. 356.789.800,00.
Pada tahun 2010 masih terdapat akun piutang lain-lain yang juga merupakan saldo yang sama yaitu sebesar Rp. 11.489.000,00. Namun untuk tahun 2011, jumlah tersebut diakumulasikan pada akumulasi penyisihan piutang lain-lain, sehingga saldo piutang lain-lain menjadi Rp. 0. Pada tahun 2011 saldo untuk akun aset lain-lain berjumlah Rp 0 karena akun-akun yang tercantum pada tahun 2009 dan 2010 nilainya telah direklasifikasi.

2) Liabilitas
Pada tahun 2011 akun liabilitas bank, yang merupakan salah satu akun liabilitas tidak lancar jumlah saldonya sebesar Rp. 0. Hal ini terjadi karena saldo pada tahun 2010 sebesar Rp. 603.085.616 telah diakumulasikan pada bagian yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun. Untuk akun imbalan kerja sebelumnya tidak muncul pada laporan keuangan tahun 2009 dan 2010. Akun imbalan kerja muncul pada laporan keuangan tahun 2011, menurut Bapak Cholis selaku karyawan bagian keuangan menjelaskan bahwa akun ini muncul pada tahun 2011 saat akan diaudit.
Menurut beliau akun ini seperti pengganti untuk akun premi pensiun.Akan tetapibagaimana mekanisme perhitungannya yaysan juga tidak memahaminya, karena perhitungan tersebut dilakukan oleh aktuaris. Rincian untuk akun imbalan kerja adalah sebagai berikut:
- Nilai kini liabilitas imbalan kerja
Per 1 Januari 2011 Rp 3.358.990.396,00
Beban periode berjalan Rp 592.284.957,00
- Nilai kini liabilitas imbalan kerjaper 31 Desember 2011 Rp 3.951.275.353,00 Yayasan telah melakukan perhitungan berdasarkan UU RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan sesuai dengan PSAK No.24 (revisi 2004) dimana perhitungan ini dilakukan oleh PT. Gema Mulia Inditama dengan perhitungan sebagai berikut:
Komponen Beban
Biaya jasa kini Rp 335.695.303,00
Biaya bunga Rp 256.589.654,00
Jumlah beban manfaat karyawan Rp 592.284.957,00

3) Aset bersih
Aset bersih menurut PSAK No. 45 terdiri dari aset bersih terikat, terikat temporer, dan terikat permanen.Namun dalam laporan posisi keuangan yang disusun oleh Yayasan Masjid Al Falah belum dijumpai klasifikasi akun yang sesuai.Aset bersih menurut PSAK No. 45 dapat berupa hibah atau wakaf.Yayasan pernah menerima aset tersebut dalam bentuk hibah, namun bagian inventaris yang biasanya mengelola aset tersebut sudah terlalu tua sehingga tidak melakukan pencatatan maupun perhitungan. Sehingga perhitungan aset bersih yang ada saat ini merupakan hasil perkiraan. Perhitungan atas aset bersih milik Yayasan Masjid Al Falah diperoleh dari jumlah: * Aset bersih awal tahun * Koreksi saldo awal aset bersih * Kenaikan (penurunan) aset bersih * Aset bersih setelah koreksi.

Tujuan utama laporan aktivitas adalah menyediakan informasi mengenai pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat aktiva bersih, hubungan antar transaksi, dan peristiwa lain, serta bagaimana penggungaan sumber daya dalam pelaksanaan berbagai program atau jasa.
Laporan aktivitas disusun untuk mengetahui besarnya jumlah selisih antara pendapatan yang diterima Yayasan Masjid Al Falah dengan beban yang dikeluarkan untuk seluruh kegiatan yang ada.Laporan aktivitas disusun pada setiap akhir tahun dengan menggunakan metode cash basis untuk penerimaan atau pendapatannya, sedangkan beban dicatat dengan menggunakan metode accrual basis.Akun pendapatan dan beban diklasifikasikan kedalam dua jenis yaitu penerimaan atau pengeluaran tidak terikat, dan penerimaan atau pengeluaran terikat temporer.Sedangkan untuk penerimaan atau pengeluaran terikat permanen belum dijumpai pada akun-akun tersebut.Berdasarkan laporan aktivitas yang telah disusun oleh Yayasan Masjid Al Falah, bentuk laporan aktivitas yang sesuai dengan PSAK No. 45 adalah laporan aktivitas bentuk B.
Jika melihat pada laporan aktivitas yang ada dalam PSAK No. 45 ada beberapa perbedaan dalam pencatatannya. Di dalam PSAK No. 45 dijelaskan pada sisi pendapatan, penghasilan, dan sumbangan lain-lain disebutkan mengenai sumbangan serta jasa layanan. Sedangkan laporan aktivitas yang disusun oleh Yayasan Masjid Al Falah tidak mengklasifikasikan sumbangan yang diterima secara tersendiri, melainkan sumbangan tersebut diklasifikasikan sebagai penerimaan. Sedangkan untuk jasa layanan sesungguhnya Yayasan Masjid Al Falah telah menyebutkannya pada catatan atas laporan keuangan, namun tidak disebutkan secara terperinci pada laporan aktivitasnya. Jasa layanan menurut Yayasan Masjid Al Falah dapat diartikan sebagai program kegiatan yang dilaksanakan secara rutin. Untuk pencatatan beban yang telah dikeluarkan oleh Yayasan Masjid Al Falah sudah dicatat sesuai dengan PSAK No. 45 dimana beban-beban tersebut dicatat sesuai dengan program kegiatan yang ada di Yayasan Masjid Al Falah.
Pada sisi penerimaan atau pendapatan untuk akun lembaga pendidikan dan masjid terdiri dari 2 jenis penerimaan yaitu penerimaan tidak terikat serta penerimaan terikat temporer.Pada lembaga pendidikan untuk sisi penerimaan tidak terikat terdiri atas penerimaan siswa, formulir pendaftaran PSB, dan penerimaan infaq.Penerimaan-penerimaan tersebut diklasifikasikan pada penerimaan tidak terikat karena penggunaannya tidak dibatasi oleh penyumbang.Dalam hal ini penerimaan tersebut digunakan untuk membiayai operasional rutin lembaga pendidikan Al Falah. Untuk penerimaan terikat temporer lembaga pendidikan terdiri dari dana bos SMP dan SD. Penerimaan tersebut termasuk kedalam penerimaan terikat temporer karena dana tersebut harus digunakan untuk satu tahun masa ajaran.
Pada penerimaan tidak terikat masjid terdiri atas lembaga kursus, infaq, subsidi YDSF, poliklinik, pernikahan, dan muslimah.Penerimaan-penerimaan tersebut termasuk kedalam penerimaan tidak terikat karena tidak ada pembatasan dalam penggunaannya. Dalam hal ini penerimaan tersebut dapat digunakan untuk membiayai apa saja untuk kegiatan rutin yang ada di masjid. Sedangkan untuk penerimaan terikat temporer masjid adalah penerimaan dari zakat maal. Zakat maal termasuk kedalam penerimaan terikat temporer karena dana tersebut tidak bias digunakan sembarangan. Dana tersebut harus disalurkan kepada pihak yang membutuhkan atau kurang mampu dan tidak boleh digunakan untuk membiayai kegiatan lainnya. Selain itu ada ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi oleh penyumbang, misalnya saja besarnya zakat maal yang dikeluarkan jumlahnya tidak sama. Hal ini menyesuaikan dengan besarnya harta yang dimiliki oleh penyumbang itu sendiri.
Pada sisi pengeluaran atau beban yang dikeluarkan oleh Yayasan Masjid Al Falah hampir keseluruhan dari pengeluaran tersebut diklasifikasikan kedalam pengeluaran tidak terikat kecuali pengeluaran mustahiq zakat.Pengeluaran tersebut termasuk kedalam pengeluaran terikat temporer karena dalam menyalurkan dananya harus dikeluarkan kepada orang-orang yang memang membutuhkan atau berhak (mustahiq).
Jumlah kenaikan aset baik sebelum maupun sesudah pajak merupakan selisih dari perhitungan jumlah penerimaan atau pendapatan yang dikurangi dengan pengeluaran atau beban. Aset bersih awal tahun merupakan saldo akhir dari aset bersih pada tahun sebelumnya. Sedangkan untuk koreksi saldo awal aset bersih untuk masing-masing tahun selalu berbeda. Misalnya saja untuk laporan aktivitas tahun 2011 besarnya koreksi saldo awal aset bersih terjadi karena adanya liabilitas imbalan kerja sebesar Rp 3.358.990.396 sehingga jumlah tersebut mengurangi aset bersih yang dimiliki oleh Yayasan Masjid Al Falah.

Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu periode. Laporan arus kas disajikan sesuai dengan PSAK No. 2 tentang laporan arus kas dengan tambahan berikut ini: a) aktivitas pendanaan disajikan antara lain untuk penerimaan kas dari penyumbang yang penggunaannya dibatasi untuk jangka panjang, penerimaan kas dari sumbangan dan penghasilan investasi yang penggunaannya dibatasi untuk pemerolehan, pembangunan dan pemeliharaan aktiva tetap, atau peningkatan dana abadi (edowment) serta bunga dan deviden yang dibatasi penggunaannya untuk jangka panjang; b) pengungkapan informasi mengenai aktivitas investasi dan pendanaan nonkas: sumbangan berupa bangunan atau aktiva investasi.
Menurut PSAK No. 45 laporan arus kas yang disusun oleh Yayasan Masjid Al Falah adalah sesuai dengan contoh bentuk laporan arus kas dengan metode langsung. Laporan arus kas yang disusun oleh Yayasan Masjid Al Falah terdiri atas kas dari aktivitas operasi, aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan. Arus kas pada aktivitas operasi digunakan untuk membiayai kegiatan rutin yang ada di Yayasan Masjid Al Falah baik itu untuk kegiatan operasional lembaga pendidikan maupun kegiatan masjid. Arus kas pada aktivitas investasi digunakan untuk membeli dan menjual aset tetap yang dimiliki Yayasan Masjid Al Falah. Kemudian yang terakhir arus kas pada aktivitas pendanaan digunakan untuk membayar hutang kepada bank.

Pengakuan dan Pengukuran Atas Pendapatan dan Beban Yayasan Masjid Al-Falah Surabaya 1. Pengakuan atas Pendapatan
Pengakuan atas pendapatan Yayasan Masjid Al-Falah Surabaya menggunakan metode cash basis

2. Pengukuran setelah pengakuan awal (PSAK 109- Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah) * Infak/sedekah yang diterima dapat berupa kas atau aset nonkas. Aset nonkas dapat berupa aset lancar atau tidak lancar. * Aset tidak lancar yang diterima oleh amil dan diamanahkan untuk dikelola dinilai sebesar nilai wajar saat penerimaannya dan diakui sebagai aset tidak lancar infak/sedekah. Penyusutan dari aset tersebut diperlakukan sebagai pengurang dana infak/sedekah terikat apabila penggunaan atau pengelolaan aset tersebut sudah ditentukan oleh pemberi.\ * Amil dapat pula menerima aset nonkas yang dimaksudkan oleh pemberi untuk segera disalurkan. Aset seperti ini diakui sebagai aset lancar. Aset ini dapat berupa bahan habis pakai, seperti bahan makanan; atau aset yang memiliki umur ekonomi panjang, seperti mobil ambulance. * Aset nonkas lancar dinilai sebesar nilai perolehan sedangkan aset nonkas tidak lancar dinilai sebesar nilai wajar sesuai dengan PSAK yang relevan. * Penurunan nilai aset infak/sedekah tidak lancar diakui sebagai:
(a) pengurang dana infak/sedekah, jika terjadi bukan disebabkan oleh kelalaian amil;
(b) kerugian dan pengurang dana amil, jika disebabkan oleh kelalaian amil. * Dalam hal amil menerima infak/sedekah dalam bentuk aset (nonkas) tidak lancar yang dikelola oleh amil, maka aset tersebut harus dinilai sesuai dengan PSAK yang relevan. * Dana infak/sedekah sebelum disalurkan dapat dikelola dalam jangka waktu sementara untuk mendapatkan hasil yang optimal. Hasil dana pengelolaan diakui sebagai penambah dana infak/sedekah.

3. Pengakuan Biaya / Beban
Pada dasarnya cost memiliki dua kedudukan penting, yaitu : sebagai aktiva (potensi jasa) dan sebagai beban pendapatan (biaya). Proses pembebanan cost pada dasarnya merupakan proses pemisahan cost. Oleh karena itu agar informasi yang dihasilkan akurat, bagian cost yang telah diakui sebagai biaya pada periode berjalan dan bagian cost yang akan dilaporkan sebagai aktiva (diakui sebagai biaya periode mendatang) harus dapat ditentukan dengan jelas. Ada dua masalah yang muncul sehubungan dengan pemisahan cost tersebut yaitu : a. Kriteria yang digunakan untuk menentukan cost tertentu yang harus dibebankan pada pendapatan periode berjalan. b. Kriteria yang digunakan untuk menentukan bahwa cost tertentu ditangguhkan pembebanannya.

Semua cost dapat ditangguhkan pembebanannya sebagai biaya, apabila cost tersebut memenuhi kriteria sebagai aktiva yaitu : * Memenuhi definisi aktiva (memiliki manfaat ekonomi masa mendatang, dikendalikan perusahaan berasal dari transaksi masa lalu). * Ada kemungkinan yang cukup bahwa manfaat ekonomi masa mendatang yang melekat pada aktiva dapat dinikmati oleh entitas yang menguasai. * Besarnya manfaat dapat diukur dengan cukup andal.

Dari uraian di atas, secara umum dapat dirumuskan bahwa berdasarkan konsep penandingan (matching), pengakuan biaya pada dasarnya sejalan dengan pengakuan pendapatan. Apabila pengakuan pendapatan ditunda, maka pembebanan biaya juga ditunda. Untuk mengatasi berbagai perbedaan pendapat tentang pengakuan biaya, biasanya badan berwenang mengeluarkan aturan tertentu untuk mengakui biaya. IAI (1994), misalnya, dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan menyatakan :
“Beban diakui dalam laporan rugi laba kalau penurunan manfaat ekonomi masa datang yang berkaitan dengan penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur dengan andal”.(paragrap 94).”

4. Pengukuran Biaya / Beban

Sejalan dengan penilaian aktiva dapat diukur atas dasar jumlah rupiah yang digunakan untuk penilaian aktiva dan hutang. Oleh karena itu, pengukuran biaya dapat didasarkan pada : a. Cost historis
Cost historis merupakan jumlah kas atau setaranya yang dikorbankan untuk memperoleh aktiva. Pengukuran biaya atas cost historis, dapat digunakan untuk jenis aktiva seperti : gedung, peralatan dan sebagainya. b. Cost pengganti / cost masukan terkini (replacement cost / curentinput cost)
Cost masukan menunjukkan jumlah rupiah harga pertukaran yang harus dikorbankan sekarang oleh suatu entitas untuk memperoleh aktiva yang sejenis dalam kondisi yang sama contohnya, penilaian untuk persediaan. c. Setara kas (cash equivalent)
Setara kas adalah jumlah rupiah kas yang dapat direalisir dengan cara menjual setiap jenis aktiva di pasar bebas dalam kondisi perusahaan normal. Nilai ini biasanya didasarkan pada catatan harga pasar barang bebas yang sejenis dalam kondisi yang sama. Pos aktiva berwujud biasanya menggunakan dasar penilaian ini.

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
Simpulan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1) Yayasan telah menyusun laporan keuangan sesuai dengan ketentuan yang ada di dalam PSAK No. 45 dimana yayasan menyusun empat laporan keuangan; 2) Gambar struktur organisasi belum disusun; 3) Aset bersih yayasan tidak diklasifikasikan kedalam tiga bagian yaitu aset bersih tidak terikat, terikat temporer, dan terikat permanen; 4) Kerugian piutang tak tertagih diakui secara langsung; 5) Laporan aktivitas telah diklasifikasikan sesuai dengan pembatasannya yaitu tidak terikat, terikat temporer, dan terikat permanen yang sesuai dengan laporan aktivitas bentuk B pada PSAK No. 45; 6) Laporan arus kas telah disusun sesuai dengan PSAK No. 45 dengan mengambil bentuk metode langsung pada penyusunannya; 7) Catatan atas laporan keuangan yang disusun Yayasan Masjid Al Falah terdapat beberapa perbedaan yaitu, yayasan tidak mencatatkan penerimaan hibah atau wakaf yang telah diterima.

Keterbatasan
Adanya keterbatasan dalam memperoleh data mengenai aset bersih dan catatan atas laporan keuangan karena belum dijelaskan secara terperinci oleh bagian keuangan

Saran
Setelah mempelajari cara penyusunan laporan keuangan Yayasan Masjid Al Falah, maka yayasan disarankan agar mempertimbangkan untuk membentuk gambar struktur organisasi dan melakukan penyusunan laporan keuangan yang sesuai dengan PSAK No. 45 tentang pelaporan keuangan organisasi nirlaba. Diharapkan yayasan dapat mengklasifikasikan aset bersih yang dimiliki.
DAFTAR PUSTAKA

Rizky,Diyani Ade,dan Yazid Yud Padmono. 2013. Analisis Penerapan Psak No. 45 Pada Yayasan Masjid Al Falah Surabaya. Surabaya.Vol. 2 No. 7 (2013).Diambil dari:http://ejournal.stiesia.ac.id/index.php/jira/article/download/154/163 (24 November 2015)
Martani, Dwi. PSAK 45 Organisasi Nir Laba. Jakarta. Diambil dari: https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/PSAK-45-Organisasi-Nir-Laba-240911.pdf (24 November 2015)

http://shantycr7.blogspot.hk/2013/05/pengertian-dan-pengakuan-biayabeban.html

Similar Documents

Free Essay

Analisa Efektivitas Atas Pemanfaatan Software Proses Bisnis “Aris 9.8” Dengan Pendekatan Lean Six Sigma Di Bpjs Ketenagakerjaan Untuk Peningkatan Kinerja Perusahaan

...ANALISA EFEKTIVITAS ATAS PEMANFAATAN SOFTWARE PROSES BISNIS “ARIS 9.8” DENGAN PENDEKATAN LEAN SIX SIGMA DI BPJS KETENAGAKERJAAN UNTUK PENINGKATAN KINERJA PERUSAHAAN Oleh : Yulia Nevi Artati Program : Eksekutif B – Kelas 28 C Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada 2015 DAFTAR ISI Daftar Isi ……………………………………………………………………... i Daftar Gambar ……………………………………………………………….. iii Daftar Tabel ………………………………………………………………….. iv Daftar Lampiran ……………………………………………………………… v BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………… 1 1.1 Latar Belakang ………………………………………………… 1 1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………... 6 1.3 Tujuan Penelitian ……………………………………………… 6 1.4 Manfaat Penelitian …………………………………………….. 7 BAB II KAJIAN LITERATUR …………………………………………… 8 2.1 Kerangka Teoritis ……………………………………………… 8 2.1.1 Sistem Informasi ………………………………………………. 8 2.1.2 Software ……………………………………………………….. 9 2.1.3 Pemanfaatan Teknologi Informasi …………………………….. 9 2.1.4 Proses Bisnis …………………………………………………... 9 2.1.5 Enterprise Resource Planning (ERP) System …………………. 10 2.1.6 Lean Six Sigma ………………………………………………... 10 2.1.7 Kinerja Perusahaan ……………………………………………. 11 i 2.1.8 Skala Likert 11 2.1.9 Metode Penelitian : Analisa Kuantitatif 12 2.2 Kerangka Pemikiran …………………………………………… 14 2.3 Kerangka Konsep ……………………………………………… 16 2.4 Hipotesis ……………………………………………………… 17 BAB III METODOLOGI PENELITIAN …………………………………. 19 3.1 Rancangan Penelitian …………………………………………...

Words: 7402 - Pages: 30

Free Essay

Konsep Akuntansi Sektor Publik

... Pemahamaman sektor publik sering diartikan sebagai aturan pelengkap pemerintah yang mengakumulasi utang sektor publik dan permintaaan pinjaman sektor publik untuk suatu tahun tertentu. Artikulasi ini dampak dari sudut pandang ekonomi dan politik yang selama ini mendominasi perdebatan sektor publik. Sebelum namanya diubah, akuntansi sektor publik dikenal dengan nama akuntansi pemerintahan. Dan di berbagai kesempatan juga disebut sebagai akuntansi keuangan publik. Berbagai perkembangan terakhir, sebagai dampak penerapan dari accrual base, pemahaman ini telah berubah. 1.2. Tujuan Penulisan Setelah mempelajari pokok bahasan ini, pembaca diharapkan dapat mengetahui dan memahami secara detail konsep dasar akuntasi sektor publik. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain : a) Memahami konsep dan teori akuntansi...

Words: 4531 - Pages: 19

Free Essay

Bisnis

...ORGANISASI NIRLABA A. Standar Akuntasi Yang Berlaku Untuk Organisasi Nirlaba Organisasi nirlaba menggunakan basis akuntansi akrual untuk mengakui pendapatan dan bebannya. Klasifikasi aktiva bersih Aktiva bersih dikelompokkan dalam tiga katagori yang masing-masing tergantung pada ada tidaknya pembatasan. 1. Aktiva bersih terikat permanen adalah bagiandari aktiva bersih yang penggunaannya dibatasi oleh Donatur (donor-imposed stipulation) yang tidak memiliki pembatasan waktu dan tidak dapat dipindahkan oleh organisasi. 2. Aktiva bersih terikat temporer adalah bagian dari aktiva bersih yang penggunaannya dibatasi oleh Donatur yang memiliki pembatasan waktu atau dapat dipindahkan oleh organisasi dengan melakukan stipulation (pembatasan penggunaan). 3. Aktiva bersih tidak terikat adalah bagian dari aktiva bersih yang tidak dibatasi penggunaannya oleh Donatur. Kontribusi Bagi sebagian besar organisasi nirlaba kontribusi/sumbangan merupakan sumber utama pendapatan. Kontribusi adalah transfer kas atau aktiva lain tanpa syarat kepada organisasi atau suatu penyelesaian atau suatu pembatalan hutang-hutangnya tidak secara timbale balik oleh organisasi lain yang tidak bertindak sebagai pemilik. Karakteristik dari transfer dari pengertian tersebut adalah: • Bahwa transfer dilakukan tanpa syarat. • Bahwa transfer adalah kea tau dari suatu entitas yang bertindak bukan sebagai pemilik. • Bahwa transfer dilakukan...

Words: 2835 - Pages: 12

Free Essay

Tujuan Dan Bukti Audit

...BAB 6 TUJUAN DAN BUKTI AUDIT TUJUAN AUDIT Tujuan umum audit adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran. Dalam semua hal yang meterial, posisi keuangan dan hasil usaha serta arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Tujuan audit spesifik ditentukan berdasar asersi-asersi yang dibuat oleh manajemen yang tercantum dalam laoran keuangan. Asersi-asersi diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Keberadaan atau Keterjadiaan Asersi tentang keberadaan atau keterjadiaan berhubungan dengan apakah aktiva atau utang benar terjadi selama periode tertentu. Asersi keberadaan berkaitan dengan akun-akun riil yang tercantum pada neraca. 2. Kelangkapan Asersi tentang kelengkapan berhubungan dengan apakah semua transaksi dan akun (rekening) yang semestinya disajikan dalam laporan keuangan telah dicantumkan. 3. Hak dan Kewajiban Asersi tentang hak dan kewajiban berhubungan dengan dua hal, yaitu : a. Apakah aktiva yang tercantum dalam laporan keuangan benar-benar merupakan hak perusahaan pada tanggal tertentu. b. Apakah utang yang tercantum dalam laporan keuangan benar-benar merupakan kewajiban perusahaan pada tanggal tertentu. 4. Penilaian atau Pengalokasian Asersi tentang penilaian dan pengalokasian berhubungan dengan apakah komponen-komponen aktiva, utang, pendapatan, dan biaya sudah dimasukkan dalam laporan keuangan pada jumlah yang semestinya. 5. Penyajian dan Pengungkapan Asersi tentang penyajian dan pengungkapan berhubungan dengan...

Words: 2575 - Pages: 11

Free Essay

Performance Measurement

...Perbedaan PSAK Umum dengan SAK ETAP No | Elemen | PSAK | SAK ETAP | 1 | Penyajian Laporan Keuangan | * Laporan posisi keuangan * Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan * Pembedaan asset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan jangka panjang * Aset lancar * Laibilitas jangka pendek * Informasi yang disajikan dalam laporan posisi keuangan atau catatan atas laporan keuangan(Perubahan istilah di ED PSAK 1: Neraca menjadi Laporan Posisi Keuangan, Kewajiban (liability) menjadi laibilitas) | Sama dengan PSAK, kecuali informasi yang disajikan dalam neraca, yang menghilangkan pos:  * Aset keuangan * Properti investasi yang diukur pada nilai wajar (ED PSAK 1) * Aset biolojik yang diukur pada biaya perolehan dan nilai wajar (ED PSAK 1) * Kewajiban berbunga jangka panjang * Aset dan kewajiban pajak tangguhan * Kepentingan nonpengendalian | 2 | Laporan Laba Rugi | * Laporan laba rugi komprehensif * Informasi yang disajikan dalam laporan Laba Rugi Komprehensif * Laba rugi selama periode * Pendapatan komprehensif lain selama periode * Informasi yang disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif atau catatan atas laporan keuangan | Tidak sama dengan PSAK yang menggunakan istilah laporan laba rugi komprehensif, SAK ETAP menggunakan istilah laporan laba rugi. | 3 | Penyajian Perubahan Ekuitas | | Sama dengan PSAK, kecuali untuk beberapa hal yang terkait pendapatan komprehensif lain. | 4 | Catatan Atas...

Words: 1079 - Pages: 5

Free Essay

Managemen Laba

...LANDASAN TEORI II.1 Manajemen Laba II.1.1 Pengertian Manajemen Laba Salah satu ukuran kinerja perusahaan yang sering digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis adalah laba yang dihasilkan perusahaan. Informasi laba sebagaimana dinyatakan dalam Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) Nomor 2 merupakan unsur utama dalam laporan keuangan dan sangat penting bagi pihak-pihak yang menggunakannya karena memiliki nilai prediktif. Hal tersebut membuat pihak manajemen berusaha untuk melakukan manajemen laba agar kinerja perusahaan tampak baik oleh pihak eksternal. Manajemen laba (earning management) didefinisikan oleh beberapa peneliti akuntansi secara berbeda-beda sbb : 1. Widyaningdyah (2001 :92) membagi definisi manajemen laba menjadi dua yaitu: 14    15    a. Definisi sempit Earning management dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan metode akuntansi. Earning management dalam artian sempit ini didefinisikan sebagai perilaku manager untuk “bermain” dengan komponen discretionary accruals dalam penentuan besarnya laba. b. Definisi luas Earning management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas unit dimana manager bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut. 2. Healy dan Wahlen (1999: 368) memberikan definisi manajemen laba yang ditinjau dari sudut pandang penetap standar, yaitu manajemen laba terjadi ketika para...

Words: 6926 - Pages: 28

Free Essay

Economic Consquence

...lepas dari implikasi teori pasar sekuritas yang efisien , pilihan kebijakan akuntansi dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Pada dasarnya merupakan perubahan-perubahan dalam kebijakan yang penting, terutama penting bagi manajemen. Bila hal tersebut penting bagi manajemen maka secara tidak langsung kebijakan akuntansi penting juga bagi investor yang memiliki perusahaan karena sangat mungkin manajer mengubah dengan baik operasi dari perusahaan karena mungkin merubah kebijakan akuntansinya. Pentingnya kita mempelajari EC adalah mempelajari peristiwa yang paling menarik dalam praktik akuntansi diderivikasi ke EC selain itu adanya saran bahwa ”kebijakan akuntansi adalah bukanlah suatu masalah” dengan adanya pengalaman akuntan (auditor).Didalam EC ada PAT (Teori Akuntansi Positif). Teori akuntansi positif TAP berkenaan dengan memprediksi tindakan-tindakan sebagai pilihan kebijakan akuntansi oleh manajer perusahaan dan bagaimana manajer akan merespon standar akuntansi baru yang diusulkan. Dikatakan positif karena sebuah teori ini berusaha membuat prediksi yang baik tentag peristiwa dunia nyata. PAT berkenaan dengan prediksi tentang tindakan memilih kebijakan akuntansi oleh manajer perusahaan dan bagaimana perusahaan menanggapi kebijakan standar akuntasi yang baru. Tujuannya adalah memahami dan memprediksi pilihan kebijakan akuntansi manajerial diantara perusahaan yang berbeda. 8.2 The Rise of Economic Consequences Secara umum Zeff (1978) mendefinisikan Economic Consequences ...

Words: 4563 - Pages: 19

Free Essay

Sistem Informasi Manajemen

...Aplikasi Bisnis Fungsional Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Dosen: Disusun oleh: Magister Akuntansi 2015 1. Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen (SIM) Konsep ini menuntut suatu kajian dari beberapa konsep atau gabungan konsep yang menjembatani konsep secara keseluruhan. Konsep tersebut meliputi: a) Konsep sistem Sistem berasal dari bahasa Latin systēma atau bahasa Yunani sustēma yang berarti suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi. Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak. Menurut John Mc Manama (2012), sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efisien. Karekteristik Sistem Jogianto (2012) dalam bukunya mengemukakan sistem mempunyai karekteristik atau sifat-sifat tertentu, yakni : 1). Komponen Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. komponen-komponen sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem. setiap subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. 2). Batasan sistem. Batasan sistem (boundary)...

Words: 9697 - Pages: 39

Free Essay

Syariah Accounting

...Lu’luil Bahiroh 115020300111041 Akuntansi CA JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013 KERANGKA DASAR PENYUSUNAN DAN PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN SYARIAH A. Tujuan dan Peranan Kerangka Dasar Kerangka dasar ini menyajikan konsep yang medasari penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi para penggunanya. Tujuan kerangka dasar ini adalah untuk digunakan sebagai acuan bagi: 1) Penyusunan standar akuntansi keuangan syariah, dalam pelaksanaan tugasnya. 2) Penyusunan laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah akuntansi syariah yang belum diatur dalam standar akuntansi syariah. 3) Auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah leporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntasi syariah yang berlaku umum. 4) Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan syariah. B. Pemakai dan Kebutuhan Informasi Pemakai laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial; pemilik dana qardh; pemilik dana investasi mudharabah; pemilik dana titipan; pembayaran; pengawas syariah; karyawan; pemasok dan mitra usaha lainnya; pelanggan; pemerintah serta lembaga-lembaganya; dan masyarakat. Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda. Beberapa kebutuhan ini meliputi: 1) Investor. Investor dan penasehat berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil...

Words: 2298 - Pages: 10

Free Essay

Analisa Laporan Keuangan

...|ANALISIS | |LAPORAN | |KEUANGAN | |CHAPTER 01 | |Gambaran Umum Analisis Laporan Keuangan | |CHAPTER 02 | |Pelaporan dan Analisis Keuangan | |PROGRAM PASCA SARJANA | |MAGISTER AKUNTANSI | |UNIVERSITAS TRISAKTI | [pic] KELOMPOK 1 : RONALD ( 123-131-067 ) DENNYS SURYA ( 123-131-015 ) MIFTAH ( 123-131-046 ) ARFIANTO ( 123-131-096 ) RIKA ( 123-131-064 ) WILLIAM ( 123-131-080 ) STEVANUS ( 123-140-140 ) DR. VINOLA HERAWATY, AK, CA, MSC UNIVERSITAS TRISAKTI KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “ Gambaran Umum Analisis Laporan Keuangan & Pelaporan dan Analisis Keuangan ” dengan lancar. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih...

Words: 10835 - Pages: 44

Free Essay

Master of Management

...GAGASAN REKONSTRUKSI POLA PENGEMBANGAN ASURANSI JIWA PADA MASYARAKAT KELAS MENENGAH DALAM PRESPEKTIF SOSIAL EKONOMI DAN BUDAYA (Study Pada PT. Asuransi Jiwa “X” Semarang) Marlien / 922012017 Latar Belakang Resiko dimasa datang dapat terjadi terhadap kehidupan sesorang misalnya kematian, sakit atau dipecat dari pekerjaannya. Dalam dunia bisnis resiko yang dihadapi dapat berupa resiko kerugian akibat kebakaran, kerusakan atau kehilangan atau resiko lainnya. Oleh karena itu setiap resiko yang akan dihadapi harus ditanggulangi sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi. Untuk mengurangi resiko yang tidak diinginkan dimasa yang akan datang, seperti resiko kehilangan, resiko kebakaran, resiko pinjaman kredit macet bank atau resiko lainnya, maka diperlukan pihak ketiga yang mau menanggung resiko tersebut. Pihak ketiga yang menyediakan jasa untuk menanggung risiko tersebut adalah perusahaan asuransi yang mau menanggung resiko yang bakal dihadapi nasabahnya baik perorangan maupun badan usaha. Hal ini disebabkan perusahaan asuransi merupakan perusahaan yang melakukan usaha pertanggung jawaban terhadap resiko yang akan dihadapi oleh nasabahnya. Dari segi Ekonomi, asuransi bertujuan untuk mengurangi ketidak pastian dari hasil usaha yang dilakukan oleh seseorang atau perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan. Dari segi Hukum, asuransi bertujuan untuk memindahkan risiko yang dihadapi oleh suatu obyek atau suatu kegiatan bisnis kepada pihak...

Words: 2409 - Pages: 10

Free Essay

Agency Theory

...ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT * Oleh Bimo Satryo Nugrohudi ( NIM 2015250959 ) * Dimas Indra Respati ( NIM 2015250962 ) KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI 2015 Teori Keagenan Jensen dan Meckling (1976) menjelaskan hubungan keagenan sebagai: “Agency relationship as a contract under which one or more person (the principals) engage another person (the agent) to perform some service on their behalf which involves delegating some decision making authority to the agent.” Maksud dari kutipan dalam teori keagenan Jensen dan Meckling diatas bahwa pemegang saham (shareholders) sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen disini adalah pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan pemegang saham. Oleh karena itu, maka pihak manejemen harus mempertanggung jawabkan semua pekerjaannya kepada pemegang saham. Dalam teori agensi, hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang (prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama prinsipal serta memberi wewenang kepada agen untuk membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal. Jika kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama untuk memaksimumkan nilai perusahaan, maka diyakini agen akan bertindak dengan cara yang sesuai dengan kepentingan prinsipal. Namun dalam hubungan keagenan ini tak jarang terjadi perbedaan pendapat...

Words: 20426 - Pages: 82

Free Essay

Manajemen Database

...Haidar Dzacko. 2007. Basis Data (Database). Copyright© 2007 Mangosoft All rights reserved. +Created 11/09/2007 Version 1.2.5 #Release 24/10/2007 1 1. BASIS DATA (DATABASE) Data, Informasi dan Basis Data Data merupakan fakta mengenai suatu objek seperti manusia, benda, peristiwa, konsep, keadaan dan sebagainya yang dapat dicatat dan mempunyai arti secara implisit. Data dapat dinyatakan dalam bentuk angka, karakter atau simbol, sehingga bila data dikumpulkan dan saling berhubungan maka dikenal dengan istilah basis data (database) [Ramez2000]. Sedangkan menurut George Tsu-der Chou basis data merupakan kumpulan informasi bermanfaat yang diorganisasikan ke dalam aturan yang khusus. Informasi ini adalah data yang telah diorganisasikan ke dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan seseorang [Abdul1999]. Menurut Encyclopedia of Computer Science and Engineer, para ilmuwan di bidang informasi menerima definisi standar informasi yaitu data yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Definisi lain dari basis data menurut Fabbri dan Schwab adalah sistem berkas terpadu yang dirancang terutama untuk meminimalkan duplikasi data. Menurut Ramez Elmasri mendefinisikan basis data lebih dibatasi pada arti implisit yang khusus, yaitu: a. Basis data merupakan penyajian suatu aspek dari dunia nyata (real world). b. Basis data merupakan kumpulan data dari berbagai sumber yang secara logika mempunyai arti implisit. Sehingga data yang terkumpul secara acak dan tanpa mempunyai arti...

Words: 9441 - Pages: 38

Free Essay

Laporan Keuangan Pt Astra Agro Lestari

...Selatan 021-4616555 Presiden DirekturlPresident Director 1. Rudy .11.Pulo Ayang Raya Blok OR-1 Kawasan Industrt Pula Gadung Jakarta 13930 JI. P Jayakarta 121 No. 54 Sawah Besar Jakarta Pusat 021-4616555 Direktur Keuangan7Finance Director 2. Men yatakan bahwa : Name Address Address of Domicile Telephone Number Position Name Address Address of Domicile Telephone Number Position Declare that : 1. Bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian perusahaan; 1_ We are responsible for the preparation and presentation of the company's consolidated financial statements; 2. Laporan keuangan konsolidasian perusahaan telah disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntasi Keuangan di Indonesia; 2. The company's consolidated financial statements have been prepared and presented in accordance with the Indonesian Financial Accounting Standards; 3. a. Semua informasi dalam laporan keuangan konsolidasian perusahaan telah dimuat secara lengkap dan benar; 3....

Words: 31950 - Pages: 128

Free Essay

Laporan Liberisasi

...1|ASC FISIP UI Laporan Penelitian ASEAN Study Center Universitas Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Makmur Keliat, Ph.D Asra Virgianita, MA Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D Agus Catur Aryanto Putro, S.Sos 2013 2|ASC FISIP UI KATA PENGANTAR Laporan penelitian ini merupakan hasil penelitian tentang Tenaga Kerja Terampil Indonesia dan Liberalisasi Jasa ASEAN yang dilakukan oleh ASEAN Study Center Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Tema penelitian ini menjadi tema penting mengingat urgensinya untuk menata kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Penelitian ini mengkaji kondisi delapan sektor yang telah disepakati di dalam Mutual Recognition Arrangement atau Mutual Recognition Agreement Framework. Analisis dirancang untuk: (1) mendapatkan gambaran mengenai nilai strategis berbagai sektor jasa yang disepakati di dalam ASEAN MRA dan MRA Framework; (2) memetakan daya saing pekerja terampil Indonesia di berbagai sektor tersebut; (3) mengidentifikasi tantangan-tantangan yang akan muncul berkaitan dengan liberalisasi sektor jasa ASEAN di masing-masing sektor jasa. Dengan kajian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pada pembuatan kebijakan berkaitan dengan liberalisasi sektor jasa ASEAN dengan tentu saja menempatkan kepentingan nasional Indonesia sebagai pertimbangan...

Words: 37778 - Pages: 152