Free Essay

Arsitektur Jawa

In:

Submitted By lissatania
Words 4104
Pages 17
Arsitektur Jawa
[pic]

Arsitektur atau Seni Bangunan yang terdapat di daerah Provinsi Jawa Tengah dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

a. Arsitektur Tradisional, yaitu Seni Bangunan Jawa asli yang hingga kini masih tetap hidup dan berkembang pada masyarakat Jawa.
Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. Yang merupakan bangunan pokok dalam seni bangunan Jawa ada 5 (lima) macam, ialah :

- Panggang-pe, yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi.
- Kampung, yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi, sebuah bubungan di tengah saja.
- Limasan, yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan de tengahnya.
- Joglo atau Tikelan, yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya.
- Tajug atau Masjid, yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi, tanpa bubungan, jadi meruncing.

Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain.

Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug.
Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang tertentu, antara lain :

- pintu gerbang : bentuk kampung
- pendopo : bentuk joglo
- pringgitan : bentuk limasan
- dalem : bentuk joglo
- gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang
- dapur : bentuk kampung
- dan lain-lain.

Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. Dengan sendirinya rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagian-bagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu, misalnya :
-- emper depan : untuk Pendopo
-- ruang tengah : untuk tempat pertemuan keluarga
-- emper kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan
-- emper yang lain : untuk gudang dan dapur.

Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong.
Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir.
Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju, maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu, seperti : ander, dudur, brunjung, usuk peniyung, usuk ri-gereh, reng, blandar, pengeret, saka guru, saka penanggap, umpak, dan sebagainya.
Bahan bangunan rumah Jawa terbuat dari kayu jati. Arsitektur tradisional Jawa sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau manca negara. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa.
Arsitektur tradisional Jawa harus dilihat sebagai totalitas pernyataan hidup yang bertolak dari tata krama meletakkan diri, norma dan tata nilai manusia Jawa dengan segala kondisi alam lingkungannya. Arsitektur ini pada galibnya menampilkan karya “swadaya dalam kebersamaan” yang secara arif memanfaatkan setiap potensi dan sumber daya setempat serta menciptakan keselarasan yang harmonis antara “jagad cilik” (mikrokosmos) dan “jagad gedhe” (makrokosmos).
Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain – adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar. Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu, bagaikan payung yang terpancang terbuka. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas, bukan dinding pemikul. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas, wajar dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. Demikian pula bahan-bahan bangunannya, semua dibiarkan menunjukan watak aslinya. Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup handal terhadap gempa.
Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar, yang sangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh cocok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada di udara terbuka. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi), yaitu sebagai peneduh, penyaring debu, peredam angin dan suara, juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional.
Sumber utama untuk mengenal seni bangunan Jawa untuk untuk daerah Jawa Tengah adalah Kraton Surakarta dan Kraton Mangkunegaran. Juga peninggalan-peninggalan bangunan makam kuno serta masjid-masjid kuno seperti Masjid Demak, Masjid Kudus dengan menaranya yang bergaya khusus, Makam Demak, Makam Kadilangu, Makam Mengadeg, dll.
Di samping seni bangunan Jawa asli yang berupa bangunan rumah tempat tinggal, terdapat juga seni bangunan Jawa peninggalan dari jaman Sanjayawangça dan Syailendrawangça, semasa berkuasa di daerah Jawa Tengah. Bangunan semasa itu biasanya menggunakan bahan bangunan batu sungai, ada juga yang menggunakan batu merah, bahan kayu yang peninggalannya tidak kita jumpai lagi, tetapi kemungkinan dahulunya ada.
Fungsi bangunan-bangunan itu bermacam-macam : sebagai tempat pemujaan, tugu peringatan, tempat pemakaman, tempat bersemedi, dan sebagainya. Corak bangunan-bangunan agama itu ada yang agama Budha Mahayana, misalnya : Borobudur. Yang bercorak Trimurti, misalnya : Dieng. Sedangkan yang bercorak campuran dengan kepercayaan daerah setempat, misalnya : Candi Sukuh dan Çeta.

Bentuk Rumah Panggang-pe :
Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman, nasi dan lain-lainnya yang terdapat di tepi jalan. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda, tempat mobil / garasi, pabrik, dan sebagainya.
Bentuk Rumah Kampung :
Umumnya sebagai tempat tinggal, baik di kota maupun di desa dan di gunung-gunung. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat tinggal.
Bentuk Rumah Limasan :
Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi, memakai dudur. Kebanyakan untuk tempat tinggal. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi, serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom, kutuk ngambang, lambang gantung, trajumas, dan lain-lain. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal.
Bentuk Rumah Tajug :
Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing, soko guru dengan blandar-blandar tumpang sari, berdenah bujur sangkar, lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. Dipergunakan sebagai tempat suci, semisal : Masjid, tempat raja bertahta, makam. Tidak ada yang untuk tempat tinggal.
Bentuk Rumah Joglo :
Memiliki ciri; atap terdiri dari 4 buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari. Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal .

B. Arsitektur Modern ; yaitu seni bangunan yang ada di Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai corak campuran antara seni bangunan asli dengan pengaruh seni bangunan luar, atau campuran antara luar dengan luar atau asli luar. Paduan unsur seni bangunan yang satu dengan yang lain ini terutama terlihat pada konstruksi bangunannya, atau pada bentuk atapnya. Dari bagian yang mudah terlihat ini, misalnya pada atap, orang dapat mengenalnya dengan mudah bahwa bangunan itu unsur seninya perpaduan. Jenis bangunan yang termasuk arsitektur modern ini dapat berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah ibadah, gedung sekolah, gedung pertemuan, rumah makan, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, Masjid Kudus, yang selain berbentuk bangunan Jawa asli yaitu Tajug, juga memiliki menara yang berbentuk bale kul-kul seni budaya Bali, mempunyai pintu gerbang bergaya Persia. Kantor-kantor Pemerintahan peninggalan masa pemerintahan kolonial Belanda banyak yang memiliki pilar-pilar dengan Kapiteel Yonis, Doris atauKornilis.
Monumen-monumen yang termasuk Arsitektur Modern adalah ; Monumen Palagan Ambarawa, Monumen Diponegoro di Magelang, Monumen Tugu Muda di Semarang, dan lain-lainnya.

http://alexnova-alex.blogspot.com/2011/06/arsitektur-atau-seni-bangunan-yang.html

Poros Imajiner : Identitas Historis Kota Yogyakarta

peta konsep Jogja
Monumen penting Yogyakarta bukanlah bangunan monumental yang megah, melainkan poros historis filosofis Krapyak-Keraton-Tugu. Pada umumnya warga Yogyakarta sudah memahami maknanya, struktur kota memiliki filosofis simbolis yang berdasar pada garis imajiner Gunung Merapi-Tugu-Keraton – Panggung Krapyak-Laut Selatan (Parang Kusumo).Keraton Yogyakarta dikelilingi Beteng Baluwarti. Secara historis kultural, bangunan-bangunan itu berorientasi pada keberadaan keraton dan garis imajiner, baik di dalam maupun di luar beteng.Yogyakarta pada umumnya memiliki empat komponen utama. Bentuk seperti ini disebut caturgatra tunggal atau empat komponen dalam suatu kesatuan. Keempat komponen itu adalah keraton, masjid, alun-alun, dan pasar. Kawasan Jeron Beteng yang dikelilingi Beteng Baluwarti -artinya beteng pagar bata- mempunyai lima pintu gerbang yang disebut plengkung.
Nama-nama kampung di Jeron Beteng amat lekat dengan Keraton Yogyakarta. Nama-nama itu biasanya menunjuk pada nama abdi dalem keraton yang tinggal di situ. Banyak pusaka budaya dan pusaka alam yang berharga, seperti Keraton dan taman sari.Kelengkapan fisik, sarana, prasarana, estetik, etik, simbol, dan filosofis-religius eksistensinya mempunyai koherensi dengan berbagai rancangan sebagaimana fungsi dan maknanya. Ciri-ciri dan makna tersebut pada dasarnya melekat dalam elemen bangunan, ruang suatu bangunan, bangunan, kelompok bangunan, maupun lingkungannya.Yogyakarta sebagai kota yang mempunyai ciri khas dan keunikan, secara khusus mempunyai struktur bermakna filosofis-simbolis, yaitu berdasarkan garis imajiner (G. Merapi-Tugu- Keraton-Panggung Krapyak (Laut selatan ) . Garis poros di dalam tata rakit keraton tersebut konfigurasi fisiknya merupakan suatu bagian dari tata Kota Yogyakarta. Secara historis-kultural bangunan-bangunan yang ada berorientasi pada keberadaan keraton, yaitu berada di dalam benteng dan lingkungan sekitarnya, bangunan yang ada bercorak arsitektur jawa berupa joglo, limasan, kampung . Penggalian pusaka Jeron Beteng, di Yogyakarta sebagai pelestarian peninggalan budaya untuk memperluas makna keraton sebagai simbol penting dari peninggalan budaya Kesultanan Yogyakarta. Dari segi sejarah akan menarik lebih banyak wisatawan yang berkunjung di Indonesia . Proses interaksi sosial budaya masyarakat di dalam kota melahirkan kompleksitas produk budaya, baik budaya material (material culture) maupun budaya hidup (living culture) yang berupa pranata sosial, seni, adat-istiadat, etik, estetik, dan filosofis-religius. Wujud kompleksitas produk budaya pada satu sisi akan dijiwai dan sesuai dengan konteks, langgam, dan ikatan budayanya, di sisi lain juga memunculkan kemajemukan atau keragaman tinggalan budaya.

Poros panggung Krapyak-Kraton

Secara lengkap struktur tata rakit bangunan Keraton Yogyakarta membujur dari arah selatan (Panggung Krapyak) ke Keraton (arah utara) dihubungkan dengan jalan lurus (Jl DI Panjaitan, dahulu Jl Gebayanan) dan untuk ke dalam benteng keraton dihubungkan dengan Gerbang Nirboyo (Plengkung Gading)-Alun-alun selatan (Pungkuran) Siti Hinggil selatan (sejak 1955 sampai sekarang Sasono Hinggil Dwi Abad)-Regol Gadung Mlathi-Regol Magangan. Secara filosofis-simbolis tata rakit bangunan tersebut melambangkan perjalanan atau proses kehidupan manusia dari kandungan, lahir, sampai dengan aktivitas hidupnya (magang). Di sebelah utara Regol Magangan adalah Kedaton, yang mempunyai makna keberadaan manusia. Di sepanjang kiri-kanan jalan dari Krapyak ke Keraton dilengkapi pepohonan khas yang mempunyai makna tertentu, antara lain, asem, garam, jambu dersono, kweni, beringin dan sawo kecik. Vegetasi yang khas tersebut-terutama pohon sawo kecik-juga menjadi ciri bagi dalem-dalem bangsawan.Keraton dikelilingi oleh benteng baluwarti (bagian paling luar) dan cepuri (bagian dalam) atau mengelilingi dalem Kedaton. Untuk memasuki benteng Keraton ada 5 (lima) gerbang utama, yaitu Gerbang Nirbaya, Jagabaya, Jagasura, Tarunasura, dan Madyasura serta jejalur dan simpul-simpul jalan yang mendukung komunikasi dan transportasi antar kawasan. Kondisi lingkungan di kawasan selatan Keraton dan di dalam benteng saat ini masih menampakkan ciri-ciri yang serasi dengan keberadaan Keraton, proses perubahan dan perkembangan yang terjadi tidak secara drastis. Pola perkampungan tradisionl masih terlihat, kondisi tersebut memperkuat kekhasan toponim kampung yang masih ada keterkaitan dengan tata rakit Keraton.

Poros Siti Hinggil Keraton-Tugu Antara keraton dan tugu dihubungkan dengan jalan lurus (Jl Letjen Achmad Yani, dahulu Jl Margamulya, Jl Malioboro, Jl P Mangkubumi, dahulu Jl Margatama) yang membujur dari selatan ke arah utara. Di sepanjang jalan tersebut ada beberapa bangunan yang merupakan tinggalan struktur kota lama, antara lain: dalem Kepatihan (sekarang Kantor Gubernur) dan Pasar Beringharjo. Di samping itu, di dalam proses interaksi budaya dengan komunitas asing (Eropa) melahirkan keragaman produk budaya berupa bangunan-bangunan era-kolonial bercorak indis, antara lain: Gedung Agung, Vredeburg, Nilmij (sekarang Bank BNI), Hotel Garuda, dan Hotel Tugu. Di samping itu, juga komunitas pecinan di sekitar Pasar Beringharjo-Malioboro, antara lain: kawasan Ketandan, Gandekan, Bekalan, dan Pajeksan.
Secara historis-kultural dari Siti Hinggil (Keraton) raja (sultan) duduk (lenggah siniwoko) konsentrasi ke arah utara dari Alun-alun sampai dengan puncak Tugu. Jalan poros Siti Hinggil (Keraton) sampai dengan Tugu secara historis merupakan simbol kesempurnaan keberadaan raja di dalam proses kehidupannya yang dilandasi manembah kepada Yang Maha Tinggi serta satu tekad dengan rakyatnya (golong-gilik). Hal itu dilakukan setelah mampu melakukan transendensi tantangan hidup duniawi, yaitu manunggalnya raja-rakyat (makna beringin kurung di Alun-alun), tantangan ekonomi (dilambangkan dengan pasar), godaan kekuasaan (dilambangkan kepolisian), dan pengaruh asing (Benteng Vredeburg), (Brongtodiningrat, 1975).
Perlu diketahui, bahwa bentuk Tugu masa Sultan Hamengku Buwono I sampai VI melambangkan makna golong-gilik (satu tekad) antara raja-rakyat, yaitu bagian puncak bulatan (golong) dan bagian bawah berbentuk silindris (gilik). Tugu tersebut kemudian runtuh akibat adanya gempa bumi tektonik di Yogyakarta pada tanggal 10 Juni 1867, hal ini ditandai dengan surya sengkala Hargo Molah Dening Sanghyang Naga Bumi. Bentuk Tugu seperti sekarang adalah hasil renovasi masa Sultan Hamengkubuwono VII pada tahun 7 Sapar 1819 (3 Oktober 1889). Kondisi lingkungan saat ini-dilihat dari aktivitas-aktivitas masyarakat di kawasan itu-menampakan tarik menarik kepentingan antara aspek sosial, ekonomi, tata kota dan nilai kultural. Lingkungan yang menjadi tempat sarat beban dan tarik menarik kepentingan ini mengalami perubahan dan perkembangan yang cepat.
Poros Tugu-Keraton-Panggung Krapyak pada dasarnya merupakan kawasan urban yang mempunyai beberapa komponen yang signifikan bagi masyarakat. Secara historis kawasan tersebut juga merupakan kawasan yang tumbuh, berkembang, dan berinteraksi secara berkelanjutan. Di dalam konteks kekinian, bahwa kawasan urban tersebut dapat membangun gambaran (image) bagi masyarakat luas. Komponen kawasan yang dapat membangun citra maupun gambaran tersebut memiliki ciri khas dan keunikan, baik jejalur (paths), batas-batas wilayah (edges), segmen kawasan (districs), simpul (nodes), dan landmark (tanda fisik kawasan yang menonjol).
Nilai historis-kultural, filosofis, dan arsitektural “Poros Imajiner” tersebut merupakan identitas yang mempunyai karakter dan potensi. Keberadaan lingkungannya perlu terus dilindungi, oleh undang undang sehingga keberadaan poros dan produk budaya yang ada tetap “monumental” dan menjadi “daya-magnet” bagi Kota Yogyakarta. Penciptaan poros imajiner ini selaras dengan konsep Tri Angga (Parahyangan,Pawongan,Palemahan atau Hulu, Tengah, Hilir serta nilai Utama, Madya, Nisha). Secara simbolas filosofis poros imajiner ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablun min Allah), manusia dengan manusia (Hablunmin Annas) maupun manusia dengan alam termasuk lima anasir pembentuknya yakni api (dahana) dari gunung Merapi, tanah (bantala) dari bumi Yogyakarta dan air (tirta) dari laut Selatan, angin (maruto) dan akasa (either).
Adapun filosofi Panggung Krapyak ke Utara merupakan perjalanan manusia sejak dilahirkan dari rahim ibu, beranjak dewasa, menikah sampai melahirkan anak (Brotodiningrat 1978). Visualisasi dari filosofi ini diwujudkan dengan keberadaan kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak yang melambangkan benih manusia, pohon asem (tamarindus indica) dengan daun yang masih muda bernama sinom melambangkan gadis yang masih anom (muda) selalu nengsemaken (menarik hati) maka selalu disanjung yang divisualisasikan dengan pohon tanjung (mimusopselengi).
Di alun-alun selatan mengggambarkan manusia dewasa dan sudah wani (berani) meminang gadis karena sudah akilbaligh yang dilambangkan dengan pohon kweni (mangifera odoranta) dan pohon pakel. Masa muda yang mempunyai jangkauan jauh ke depan divisualisasikan dengan pagar ringin kurung alun-alun selatan yang seperti busur panah. Masa depan dan jangkauan para kaum muda dilambangkan panah yang dilepas dari busurnya.Sampai di Sitihinggil selatan pohon yang ditanam pelem cempora (mangifera indica) yang berbunga putih dan pohon soka (ixora coccinea) yang berbunga merah yang menggambarkan bercampurnya benih laki-laki (dilambangkan warna putih) dan benih perempuan (dilambangkan warna merah). Di halaman Kamandhungan menggambarkan benih di dalam kandungan dengan vegetasi pohon pelem (mangifera indica) yang bermakna gelem (kemauan bersama), pohon jambu dersono (eugenia malaccensis) yang bermakna kaderesan sihing sasama dan pohon kepel (stelechocarpus burahol) yang bermakna kempel, bersatunya benih karena kemauan bersama didasari saling mengasihi.
Melalui Regol Gadhung Mlathi sampailah di Kemagangan yang bermakna bayi telah lahir dan magang menjadi manusia dewasa. Sebaliknya dari tugu pal putih ke arah selatan merupakan perjalanan manusia menghadap Sang Khalik. Golong gilig melambangkan bersatunya cipta, rasa dan karsa dilandasi kesucian hati (warna putih) melalui Margotomo (jalan menuju keutamaan) ke selatan melalui Malioboro (memakai obor atau pedoman ilmu yang diajarkan para wali), terus ke selatan melalui Margomulyo (jalan menuju kemuliaan), kemudian melalui Pangurakan (mengusir nafsu yang negatif). Sepanjang jalan Margotomo, Malioboro dan Margomulyo ditanam pohon asem (tamarindus indica) yang bermakna sengsem atau menarik dan pohon gayam (inocarpus edulis) yang bermakna ayom atau teduh.(Srt Bid.II PPI)

Kraton Kasultanan Yogyakarta

Kraton Yogyakarta didirikan pada tahun 1756 oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengkubu Buwono I) sebagai pusat kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada mulanya, lokasi Kraton sekarang ini merupakan daerah rawa yang bernama Umbul Pacethokan, yang kemudian dibangun menjadi sebuah pesanggrahan Ayodya.Sebagaimana bangunan kraton pada kerajaan-kerajaan Jawa umumnya, Kraton Yogyakarta dibangun menghadap ke utara. Bangunan terluar berupa benteng kraton yang dibuat dari batubata merah dengan ketebalan sekitar 4 meter. Benteng ini melingkari kraton sepanjang 4 kilometer persegi, dan membentuk segi empat dengan beberapa gerbang utama (regol). Susunan bangunan Kraton Yogyakarta berturut-turut dari utara ke selatan : Alun-alun utara (termasuk Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran), Kemandungan Lor (utara) atau Keben, Sri Manganti, Kraton sebagai bangunan induk, Kemagangan, Kemandungan Kidul (selatan), dan terakhir pada Alun-alun Selatan.

Pada jaman kerajaan, Alun-alun Utara digunakan untuk mengumpulkan prajurit dan rakyat, disamping digunakan untuk upacara-upacara adat seperti Grebeg, Sekaten, dan lain-lain. Keberadaan Alun-alun ini melambangkan menunggalnya raja dengan rakyat dalam membangun kerajaan. Di tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin yang melambangkan bahwa Sultan adalah pelindung dan pengayom rakyatnya. Pada bangunan Pagelaran dan Siti Hinggil terdapat adegan pisowanan (persidangan) para pejabat kerajaan dengan Sultan. Para pejabat kerajaan duduk di bangunan Pagelaran, sedangkan tempat duduk Sultan terletak pada bangsal Manguntur Tangkir yang terletak di bangunan Siti Hinggil. Di belakang bangsal Manguntur Tangkir, terdapat bangsal Witana, yaitu tempat untuk menyimpan lambang-lambang kebesaran kerajaan yang digunakan dalam upacara.
Bangunan kedua dari kraton bernama Keben atau Kemandungan lor. Bangunan utamanya bernama bangsal Ponconiti, yaitu bangsal pengadilan khususnya yang berkenaan dengan lima perkara besar yang diancam hukuman mati. Sekarang ini, pada bangunan ini terdapat kantor Tepas Pariwisata Kraton. Pada bagian ini terdapat bangsal Trajumas di sebelah kiri dan bangsal Sri Manganti di sebelah kanan. Pada bangsal Trajumas terdapat berbagai peralatan upacara tradisional, sedangkan pada bangsal Sri Manganti terdapat berbagai acara kesenian seperti tari-tarian klasik, karawitan, dan wayang kulit.

Bangsal Sri Manganti dahulu merupakan tempat Sultan menanti dan menerima tamu-tamu agung. Sri Manganti sendiri berarti Raja menanti. Setelah bangsal Sri Manganti, terdapat regol Donopratopo, yaitu sebuah gerbang yang menghubungkan halaman Sri Manganti dengan halaman inti kraton. Gerbang ini dijaga oleh patung Dwarapala dan Gupala.Keduanya diberi nama, masing-masing, Cingkarabala dan Balaupata yang melambangkan kepribadian mulia manusia untuk selalu menggemakan kebaikkan dan melarang perbuatan yang jahat.Pada bangunan ini kraton, terdapat beberapa bangsal. Bangsal Purnaretna, yaitu tempat Sultan bekerja, letaknya bersebelahan dengan bangunan bertingkat yang diberi nama Panti Sumbaga. Bangunan ini merupakan perpustakaan pribadi Sultan. Pada bagian lainnya terdapat Gedong Kuning, yaitu istana tempat tinggal Sultan, yang letaknya bersebelahan dengan Traju Tresna, yaitu tempat Sultan menanyakan kesanggupan putra-putrinya yang akan menikah. Di bagian lain dari inti kraton terdapat bangsal Kencono, yaitu tempat upacara penobatan Sultan dan para pangeran. Di samping itu, bangsal ini kadang kala digunakan untuk menerima tamu-tamu agung yang berhubungan dengan Kasultanan. Di sebelah barat bangsal Kencono, sekarang ini terdapat museum Sri Sultan HB XI. Di balik bangsal Kencono, terdapat bangsal Prabayeksa, yaitu tempat penyimpanan pusaka-pusaka kraton.
Bangsal ini menjadi bagian paling sakral dari seluruh lingkungan bangunan kraton. Bagian lainnya adalah bangsal Manis, yaitu tempat perjamuan atau pesta, dan Gedong Patehan, yaitu tempat untuk menyiapkan minuman. Kompleks Kraton Yogyakarta setiap hari dibuka untuk masyarakat umum mulai dari pukul 07.30-13.00, kecuali pada hari Jumat ali sampai dengan 11.00 WIB http://goblokku.wordpress.com/2008/10/24/poros-imajiner-identitas-historis-kota-yogyakarta/ MAKNA FILOSOFIS JOGLO
Berdasarkan pada pandangan hidup orang Jawa bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari pengaruh alam semesta, atau dalam lingkup yang lebih terbatas adalah dari pengaruh lingkungan sekitarnya, maka keberadaan rumah bagi orang Jawa harus mempertimbangkan hubungan tersebut. Joglo sebagai salah satu simbol kebudayaan masyarakat Jawa, merupakan media perantara untuk menyatu dengan Tuhan (kekuatan Ilahi) sebagai tujuan akhir kehidupan (sangkan paraning dumadi), berdasar pada kedudukan manusia sebagai seorang individu, anggota keluarga dan anggota masyarakat. Nilai filosofis Joglo merepresentasikan etika Jawa yang menuntut setiap orang Jawa untuk memiliki sikap batin yang tepat, melakukan tindakan yang tepat, mengetahui tempat yang tepat (dapat menempatkan diri) dan memiliki pengertian yang tepat dalam kehidupan.

[pic]

a. Rumah bagi individu Jawa
Sebagai personifikasi penghuninya, rumah harus dapat menggambarkan kondisi atau tujuan hidup yang ingin dicapai oleh penghuninya. Rumah Jawa dihadapkan pada pilihan empat arah mata angin, yang biasanya hanya menghadap ke arah utara atau selatan. Tiap arah mata angin menurut kepercayaan juga dijaga oleh dewa, yaitu:
- arah timur oleh Sang Hyang Maha Dewa, dengan sinar putih berarti sumber kehidupan atau pelindung umat manusia, merupakan lambang kewibawaan yang dibutuhkan oleh para raja.
- Arah barat oleh Sang Hyang Yamadipati, dengan sinar kuning berarti kematian, merupakan lambang kebinasaan atau malapetaka.
- Arah utara oleh Sang Hyang Wisnu, dengan sinar hitam berarti penolong segala kesulitan hidup baik lahir maupun batin, merupakan lambang yang cerah, ceria dan penuh harapan.
- Arah selatan oleh Sang Hyang Brahma, dengan sinar merah berarti kekuatan, merupakan lambang keperkasaan, ketangguhan terhadap bencana yang akan menimpanya.
Rumah bagi individu Jawa sangat penting untuk menunjukkan bahwa seseorang memiliki kontrol teritorial, yang selanjutnya akan mendefinisikan keberadaan dan statusnya. Sebuah rumah merupakan bentuk eksistensi bagi pemiliknya. Sehingga rumah Jawa sebagai personifikasi penghuninya juga ditunjukkan melalui dimensi antropometrik yang mengacu pada dimensi tubuh penghuni, yaitu kepala rumah tangga.
Rumah merupakan pelindung dari kekacauan dan kesialan yang berada di luar rumah. Hal ini ditunjukkan oleh keberadaan sumur yang letaknya berdekatan dengan regol. Seseorang akan membasuh kakinya ketika masuk rumah untuk melepaskan emosi dan kesialan yang mungkin menempel pada tubuhnya di jalanan. Di rumahlah orang menemukan ketenteraman terlindung dari dunia luar yang merupakan sumber kekacauan.

b. Rumah bagi keluarga Jawa
Rumah bagi keluarga Jawa mempunyai nilai tersendiri, yaitu sebagai suatu bentuk pengakuan umum bahwa keluarga tersebut telah memiliki kehidupan yang mapan. Ini menegaskan kondisi ideal bagi orang Jawa yaitu memiliki rumah tangga sendiri.
Kepemilikan terhadap rumah dan tanah merupakan hal yang selalu lebih utama dari pada kepemilikan terhadap benda-benda lainnya.
Meskipun konstruksi rumah Jawa memungkinkan untuk dibongkar-pasang, namun kecenderungan dalam praktik sehari-hari adalah membiarkan sebagian besar pintu dan jendelanya dalam keadaan tertutup sehingga menjadi gelap. Kondisi ini menghindari kekurangan-kekurangan dalam rumah terlihat dari luar oleh orang lain. Selain itu juga untuk memberikan privasi dan kebebasan bagi keluarga yang menghuni.
Peran utama rumah adalah sebagai tempat menetap, melanjutkan keturunan serta menopang kehidupan sebuah keluarga. Seringkali di depan senthong (kamar) dapat dipasang foto-foto leluhur sebagai simbol kesinambungan keturunan.
Secara khusus, senthong tengah berfungsi sebagai kuil kemakmuran keluarga dalam kaitannya dengan kedudukannya sebagai titik penghubung antara rumah, sawah dan dunia nenek moyang melindungi keduanya.

c. Joglo dalam kehidupan masyarakat Jawa
Ukuran dan bentuk rumah merupakan lambang kedudukan sosial keluarga yang menempatinya dalam suatu masyarakat. Hanya kaum bangsawan saja yang awalnya diperbolehkan memiliki Joglo. Untuk orang desa pada umumnya menggunakan bentuk Srotongan atau Trojongan. Yang membedakan Joglo dengan tipologi rumah Jawa lainnya adalah konstruksi atapnya yang memiliki brunjung lebih menjulang tinggi sekaligus lebih pendek dengan susunan tumpang sari, yaitu yang ditopang oleh empat tiang utama yang disebut saka guru. Bagian saka guru dan tumpang sari biasanya sarat dengan ukiran, baik yang rumit maupun yang sederhana. Material yang digunakan oleh Joglo juga lebih banyak dan biasanya menggunakan kayu jati, akibatnya harga Joglo lebih mahal dari tipologi rumah Jawa lainnya. Jadi Joglo menjadi simbol bahwa pemiliknya termasuk dalam strata sosial atas.
[pic]Pertunjukan-pertunjukan seni yang diadakan oleh tuan rumah di pendhapa untuk khalayak umum, mempertegas stratifikasi sosial yang berlaku juga menjadi bentuk ekspansi kewenangan tuan rumah terhadap lingkungan sekitarnya. Pendhapa juga digunakan bagi kaum lelaki untuk bersosialisasi sehingga kemudian mempertegas bahkan membentuk nilai-nilai kemasyarakatan.
Sebagai personifikasi dari penghuninya, bagian-bagian Joglo (peninggian lantai-dinding-atap) dapat dianalogikan secara fisik menurut bagian-bagian tubuh manusia (kaki-badan-kepala) dan secara non-fisik menurut perjalanan hidupnya (lahir-hidup-mati).
Sehingga kemudian nilai-nilai filosofis yang dimiliki oleh orang Jawa juga dapat diterapkan sebagai nilai-nilai filosofis Joglo sebagai rumah Jawa. Nilai-nilai kosmologi yang dipercaya dan diwariskan oleh orang Jawa melalui mitos, terepresentasikan pada rumah Jawa. Dimensi atap yang dominan menunjukkan bahwa orang Jawa mengutamakan bagian kepala dan isinya (pikiran dan ide) karena dengan kemampuan akal pikirnya akan dapat membawa manusia untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum mati untuk menemui Tuhan.
[pic]Yang dimaksud dengan interior Joglo adalah tatanan secara keseluruhan segala sesuatu yang berada di bawah lingkup struktur Joglo. Pada gambar di atas ditandai oleh daerah yang berwarna hijau.
Karena secara non-fisik area tersebut dapat dianalogikan sebagai ‘hidup’, maka nilai filosofis interior Joglo dapat dianalogikan pula sebagai nilai filosofis kehidupan bagi orang Jawa. Sehingga nilai filosofis interior Joglo merepresentasikan suatu usaha dalam mencapai kesempurnaan hidup untuk mempersiapkan diri menuju kepada Tuhan. Usaha mencapai kesempurnaan hidup tersebut adalah melalui etika Jawa.

http://augiedyani.blogspot.com/2009/11/makna-filosofis-joglo.html

Similar Documents

Free Essay

Mirota Batik

...BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN A. Sejarah Umum Mirota Batik Yogyakarta Sebelum memasuki gerai Mirota Batik, pengunjung akan melihat lapaklapak pedagang kerajinan, batik, dan makanan di bagian depannya. Itulah ciri khas pertama dari gerai kerajinan yang bisa disebut terbesar di Yogyakarta. Berbeda dengan gerai lain yang melarang pedagang lain berjualan di area mereka, maka tidak demikian dengan Mirota Batik yang justru berusaha menciptakan suasana menjadi lebih semarak. Apalagi suasana tersebut ditambah dengan atmosfer budaya Jawa di dalamnya. Oleh karena itu, pengunjung kian bertambah dan bahkan berjejal saat liburan akhir pekan, atau musim liburan lainnya. Mirota Batik yang dibuka pada tahun 1980, awalnya berkonsep sebagai Malioboro Baru sebagai pasar kecil dengan beberapa kios atau stand. Saat itu, pusat perbelanjaan Malioboro yang ramai masih berada di sekitar toko Ramai di bagian utara, sehingga Malioboro Baru relatif masih sepi. Hamzah sendiri mulai memperkenalkan Mirota Batik hanya dengan menyewa tiga stand yang diisi dengan produk batik dan kerajinan. Usaha ini lambat laun berkembang, Hamzah pun memperbanyak stand yang disewanya. Begitu seterusnya hingga akhirnya Mirota Batik semakin berkibar hingga sekarang. 64 Nama Mirota Batik diadopsi dari nama usaha toko makanan dan minuman yang dimiliki orang tua Hamzah pada tahun 1950-an. Namanya adalah Mirota, yang merupakan kependekan dari Minuman, Roti, dan Tawar. Kala itu, berada di Kotabaru dan khusus menjual...

Words: 1126 - Pages: 5

Free Essay

Laporan Liberisasi

...1|ASC FISIP UI Laporan Penelitian ASEAN Study Center Universitas Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Makmur Keliat, Ph.D Asra Virgianita, MA Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D Agus Catur Aryanto Putro, S.Sos 2013 2|ASC FISIP UI KATA PENGANTAR Laporan penelitian ini merupakan hasil penelitian tentang Tenaga Kerja Terampil Indonesia dan Liberalisasi Jasa ASEAN yang dilakukan oleh ASEAN Study Center Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Tema penelitian ini menjadi tema penting mengingat urgensinya untuk menata kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Penelitian ini mengkaji kondisi delapan sektor yang telah disepakati di dalam Mutual Recognition Arrangement atau Mutual Recognition Agreement Framework. Analisis dirancang untuk: (1) mendapatkan gambaran mengenai nilai strategis berbagai sektor jasa yang disepakati di dalam ASEAN MRA dan MRA Framework; (2) memetakan daya saing pekerja terampil Indonesia di berbagai sektor tersebut; (3) mengidentifikasi tantangan-tantangan yang akan muncul berkaitan dengan liberalisasi sektor jasa ASEAN di masing-masing sektor jasa. Dengan kajian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pada pembuatan kebijakan berkaitan dengan liberalisasi sektor jasa ASEAN dengan tentu saja menempatkan kepentingan nasional Indonesia sebagai pertimbangan...

Words: 37778 - Pages: 152

Free Essay

Gambaran Umum Kota Surabaya Dan Jalan Tol

...BAB II Gambaran Umum Kajian Penelitian II. 1. Gambaran Umum Kota Surabaya II.1.1. Kondisi Geografis Kota Surabaya Wilayah kota Surabaya terletak pada koordinat 07( 21’ 00” Lintang Selatan dan 112( 36’ 00” sampai 112( 54’ 00” Bujur Timur. Batas-batas yang berbatasan dengan wilayah kota Surabaya adalah sebagai berikut : ▪ Sebelah Barat : Kabupaten Gresik ▪ Sebelah Timur : Selat Madura ▪ Sebelah Utara : Selat Madura ▪ Sebelah Selatan : Kabupaten Sidoarjo Secara umum topografi wilayah kota Surabaya berada di dataran rendah dengan ketinggian 0 sampai 50 mdpl. Sebagian besar (81,01 %) dari wilayah tersebut merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0 sampai 10 mdpl yang menyebar di bagian pusat kota, bagian Timur, bagian Utara dan bagian Selatan, bahkan pada daerah pantai ketinggiannya berkisar antara 1 sampai 3 mdpl dan sebagiannya lagi berada di bawah permukaan laut (tergenang pada saat air laut pasang). Hanya sebagian kecil saja wilayah kota (20 %) berada di bagian Barat kota yang merupakan daerah perbukitan rendah dengan ketinggian antara 10 sampai 50 mdpl. Keseluruhan luas wilayah kota Surabaya 326,36 km2 yang terbagi dalam lima wilayah dengan 31 Kecamatan dan 163 Kelurahan, sedangkan data administratif wilayah studi adalah sebagai berikut: Tabel II. 1 Data Administratif Wilayah Studi |No |Kecamatan |Jumlah Kelurahan |Luas Wilayah (km2) | |1 ...

Words: 7622 - Pages: 31

Free Essay

Best Practices Pada Implementasi Data Center

...Perancangan dan Perencanaan Data Center Dengan Mengacu kepada Best Practices PAPER INDIVIDU TOPIK-TOPIK LANJUTAN SISTEM INFORMASI Oleh M. RAESSAL DANANG S. 1301023525 09PAZ / 09 [pic] Binus University Jakarta 2013 Abstrak Perkembangan teknologi informasi yang demikian pesat telah mempengaruhi cara berkomunikasi sebuah organisasi. Kegunaan data center adalah sebagai tempat operasi infrastruktur jaringan yang mengakomodasi penggunaan infrastruktur untuk pertukaran data digital baik suara, teks, gambar, maupun multimedia melalui jaringan. Paper ilmiah ini ditulis untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai perancangan data center yang paling baik yang sudah diimplementasikan didalam praktik bisnis yang ada. Metodologi yang digunakan dalam penulisan paper ilmiah ini adalah dengan menggunakan referensi dari buku dan jurnal ilmiah sebagai dasar penulisan. Hasil yang ingin dicapai dari penulisan paper ilmiah ini adalah informasi yang ada didalam paper ilmiah ini diharapkan dijadikan acuan dan memberikan alternatif didalam perancangan dan perencanaan pembuatan data center bagi perusahaan. Melihat keadaan yang ada saat ini tentang pembuatan data center yang dilakukan, masih terdapat banyak aspek – aspek penting yang kurang diperhatikan seperti pemilihan lokasi pembangunan, perancangan layout data center, pemilihan hardware dan yang lainnya. Dengan mengidentifikasi kelemahan – kelemahan yang ditemukan...

Words: 5693 - Pages: 23

Free Essay

Green

...PKMK Zainunddin Zulfi 6 Dian Kartika Sari PKMK 7 Radita Sandia PKMK Selonot Sehat (S2) Diit untuk Penderita Diabetes 8 AKADEMI PEREKAM Agustina MEDIK & INFO KES Wulandari CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Anton Sulistya CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM Eka Mariyana MEDIK & INFO KES Safitri CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Ferlina Hastuti CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM Nindita Rin MEDIK & INFO KES Prasetyo D CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Sri Rahayu CITRA MEDIKA AKADEMI PERIKANAN YOGYAKARTA PKMK Kasubi Wingko Kaya Akan Karbohidrat yang Menyehatkan 9 PKMK Pemanfaatan Limbah Kayu Sebagai Bahan Utama Membuat Sangkar Burung Sekaligus Mengurangi Pemanasan Global Di Klaten Jawa Tengah Bolu Kulit Pisang Sebagai Peluang Usaha Mahasiswa APIKES Citra Medika Surakarta 10 PKMK 11 PKMK Tempe Lamtoro Kaya Gizi Sebagai Lauk 12 PKMK Rainbow Casava Nugget Alternatif Makanan Kaya Serat dan Gizi 13...

Words: 159309 - Pages: 638

Free Essay

Biografi Soekarno (Oleh Cindy Adams)

...Ia menangis dikala menyanyikan lagu spirituil orang negro.  Orang mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia terlalu banyak memiliki darah seorang seniman.  "Akan  tetapi  aku  bersyukur  kepada  Yang  Maha  Pencipta,  karena  aku  dilahirkan  dengan  perasaan  halus  dan  darah  seni.  Kalau  tidak  demikian,  bagaimana  aku  bisa  menjadi  Pemimpin  Besar  Revolusi,  sebagairnana  105  juta  rakyat  menyebutku?  Kalau  tidak  demikian,  bagairnana  aku  bisa  memimpin  bangsaku  untuk  merebut  kembali  kemerdekaan  dan  hak‐asasinya,  setelah  tiga  setengah  abad  dibawah  penjajahan Belanda? Kalau tidak demikian bagaimana aku bisa mengobarkan suatu revolusi di tahun 1945  dan  menciptakan  suatu  Negara  Indonesia  yang  bersatu,  yang  terdiri  dari  pulau  Jawa,  Bali,  Sumatra,  Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan bagian lain dari Hindia Belanda?  Irama  suatu‐revolusi  adalah  menjebol  dan  membangun.  Pernbangunan  menghendaki  jiwa  seorang  arsitek. Dan di dalam jiwa arsitek terdapatlah unsur‐unsur perasaan dan jiwa seni. Kepandaian memimpin  suatu  revolusi  hanya  dapat  dicapai  dengan  rnencari  ilham  dalam  segala  sesuatu  yang  dilihat.  Dapatkah  orang  memperoleh  ilham  dalam  sesuatu,  bilamana...

Words: 75361 - Pages: 302

Premium Essay

Adhi

...PT ADHI KARYA (Persero) Tbk PT ADHI KARYA (Persero) Tbk DAN ENTITAS ANAK Daftar Isi AND SUBSIDIARIES Halaman/ Page Surat Pernyataan Direksi Table of Contents Directors’ Statement Letter Laporan Auditor Independen Independent Auditors’ Report Laporan Keuangan Konsolidasian Untuk Tahun-tahun yang Berakhir pada Tanggal 31 Desember 2012 dan 2011, serta Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian pada Tanggal 1 Januari 2011/ 31 Desember 2010 Consolidated Financial Statements For the Years Ended December 31, 2012 and 2011, and Consolidated Financial Position as of January 1, 2011/ December 31, 2010 Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian 1 Consolidated Statements of Financial Position Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasian 3 Consolidated Statements of Comprehensive Income Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian 4 Consolidated Statements of Changes in Equity Laporan Arus Kas Konsolidasian 5 Consolidated Statements of Cash Flows Catatan Atas Laporan Keuangan Konsolidasian 6 Notes to the Consolidated Financial Statements R-1/079.AGA-S/4.1/2011 PT ADHI KARYA (Persero) Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN PT ADHI KARYA (Persero) Tbk AND SUBSIDIARIES CONSOLIDATED STATEMENTS OF FINANCIAL POSITION Per 31 Desember 2012 dan 2011 Serta 1 Januari 2011/31 Desember 2010 (Dalam Rupiah Penuh) As of December 31, 2012 , 2011 January 1, 2011/December 31, 2010 (In Full...

Words: 67677 - Pages: 271