Free Essay

Case Bab Ii

In:

Submitted By riakrstna
Words 5375
Pages 22
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi Early Childhood Caries

Early Childhood Caries, atau juga dikenali sebagai nursing caries, baby bottle caries atau nursing bottle caries, adalah suatu bentuk agresif karies gigi yang merusak gigi insisivus desidui maxilla dalam beberapa bulan setelah erupsi. Secara umum ECC adalah suatu bentuk karies rampan yang berhubungan dengan pemberiansusu melalui botol atau ibu yang tidak benar.American Dental Association (ADA) mendefinisikan ECC sebagai hadirnyasatu atau lebih kerusakan gigi, kehilangan gigi (akibat karies) atau permukaan gigi yang ditambal pada gigi desidui anak usia prasekolah yaitu dari sejak lahir hingga 71 bulan. (American Dental Association)

2. Etiologi Early Childhood Caries

Etiologi ECC sama dengan karies pada umumnya yaitu multifaktorial, yang terjadi akibat interaksi faktor yang mempengaruhi aktivitas karies yaitu mikroorganisme, substrat, host (gigi dan saliva), dan waktu. (repository.usu.ac.id) 1. Host

Terjadinya karies gigi dipengaruhi oleh host yang rentan. Lapisan keras gigi terdiri dari enamel (lapisan paling luar) dan dentin. Proses karies dimulai dari lapisan luar, oleh karena itu enamel sangat menentukan terjadinya karies. Karies pada gigi desidui lebih cepat dibandingkan gigi permanen, hal ini terjadi karena gigi desidui mengandung lebih banyak bahan organik dan air, sedangkan jumlah mineral lebih sedikit dibandingkan gigi permanen dan ketebalan enamel gigi desidui hanya setengah dari gigi permanen. Selain itu, susunan kristal-kristal gigi desidui tidak sepadat gigi permanen, padahal susunan kristal ini turut menentukan resistensi enamel terhadap karies, sehingga dapat dikatakan gigi desidui lebih rentan terhadap karies dibanding gigi permanen. Karena kerentanan gigi terhadap karies banyak bergantung kepada lingkungannya, maka peran saliva sangat besar sekali. Saliva merupakan sistem pertahanan utama dari host terhadap karies. Saliva dapat menyingkirkan makanan dan bakteri dan menyediakan sistem buffer terhadap asam yang dihasilkan. Saliva juga berfungsi sebagai reservoir mineral untuk kalsium dan fosfat yang diperlukan untuk remineralisasi enamel gigi. (repository.usu.ac.id)

2. Mikroorganisme

Bakteri yang selalu dikaitan dengan ECC ialah Streptococcus mutans. Secara metabolik, bakteri ini mampu memproduksi asam dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan kemampuan lingkungan biofilm dibawah nilai pH kritis sehingga menghasilkan kerusakan enamel gigi. Streptococcus mutans mendiami kavitas oral setelah erupsi gigi pertama. (repository.usu.ac.id)

3. Waktu

Bakteri dalam plak memanfaatkan substrat untuk menghasilkan zat asam yang terus diproduksi selama mengonsumsi makanan kariogenik. Asam ini akan menyerang permukaan enamel selama 20 menit, hal ini umumnya disebut acid attack. Acid attack yang berulang dan berkepanjangan dapat menyebabkan kerusakan enamel secara terus menerus hingga membentuk sebuah kavitas. Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48 bulan. (repository.usu.ac.id)

4. Substrat

Substrat adalah campuran makanan halus dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari dan menempel pada gigi. Seringnya mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat terutama sukrosa cenderung mengalami kerusakan pada gigi. Gula adalah zat yang paling mudah berdifusi ke dalam lapisan plak yang terdapat pada permukaan gigi. Bakteri dalam plak, terutama Streptococcus mutans memanfaatkan nutrien ini untuk menghasilkan asam yang terus diproduksi selama memakan makanan kariogenik. Asam yang terbentuk akan menyebabkan penurunan pH. Jika pH turun dibawah 5,5 , maka hal ini dapat menyebabkan demineralisasi enamel. Meningkatnya konsumsi makanan kariogenik dapat menyebabkan kerusakan enamel yang berlanjut menghasilkan karies Plak dan asam yang dihasilkan oleh bakteri di dalamnya juga berimplikasi terhadap penyakit periodontal. (repository.usu.ac.id)

5. Perilaku diet

Diet merupakan makanan/minuman yang dikonsumsi setiap hari. Anak-anak cenderung lebih menyukai makanan manis-manis dan lengket yang bisa menyebabkan terjadinya karies gigi, terutama di lingkungan sekolah yang makanan dan minuman kariogeniknya bervariasi. Perilaku diet yang dikonsumsi sangat mempengaruhi pembentukan plak karena membantu proses perkembangbiakan mikroorganisme di dalam mulut. Perilaku diet yang menyebabkan karies dikarenakan beberapa faktor yang salah dalam aplikasinya. Faktor tersebut adalah jenis makanan/ minuman yang dikonsumsi, waktu, durasi , frekuensi, bentuk makanan yang dikonsumsi serta cara mengonsumsinya. (repository.usu.ac.id)

3. Klasifikasi Early Dental Caries

Eric Broderick et al, mengelompokkan kriteria dari early childhood caries menjadi:

1. Tipe I. Minimal

Lesi karies terdapat pada dua permukaan gigi rahang atas dan tidak terdapat pada permukaan gigi posterior.

2. Tipe 2 : Mild-Moderate • Lesi karies melibatkan gigi incisivus dan molar • Tampak pada anak usia 2-5 tahun. • Penyebabnya oleh kombinasi antara makanan kariogenik dan Oral hygiene yang buruk. • Jumlah gigi yang terkena tergantung pada banyaknya factor kariogenik.

[pic]

Gambar 2.1 : Tipe 2 Mild-Moderate ECC

3. Tipe 3: Moderate – Severe • Lesi karies pada permukaan labiolingual pada gigi insicivus maksila, • Lesi pada molar tergantung pada usia anak. • Tidak terdapat lesi pada incisivus bawah • Penyebabnya adalah lamanya penggunaan bottle feeding • Terjadi setelah erupsi gigi tetap pertama

[pic]

Gambar 2.2 : Tipe 3 Moderate Severe ECC

4. Tipe 4: Severe • Lesi karies hampir menyerang semua gigi, termasuk Incisive bawah

• Tampak pada anak usia 3-5 tahun

[pic]

Gambar 2.3: Tipe 3 Severe ECC

4. Tanda dan Gejala Klinis Early Childhood Caries

ECC pada tahap inisial terdapat lesi karies pada pemukaan halus mengenai gigi insisivus desidual maksila. Saat karies berkembang terlihat di permukaan oklusal molar pertama desidual maksila yang akhirnya menyebar ke gigi desidual yang lain kemudian menghancurkan pertumbuhan gigi desidual (Fajriani,2011).

Menurut literatur gambaran klinis ECC terdiri dari empat tahap yaitu:

1. Tahap Inisial

Tahap ini dikarakteristikkan dengan terlihatnya permukaan seperti kapur, lesi demineralisasi berwarna opak pada permukaan halus gigi desidual insisivus maksila. Hal ini terjadi saat anak berusia 10-20 bulan atau lebih muda. Suatu garis putih yang khas terlihat pada daerah servikal dari permukaan vestibular dan palatal gigi-gigi insisivus maksila (Fajriani,2011). Pada tahap ini, lesi reversibel tapi orang tua dan dokter yang pertama memeriksa mulut anak sering mengabaikan lesi tersebut. Lebih lanjut, lesi ini dapat didiagnosa hanya setelah seluruh gigi dikeringkan (Asfria,2009).

[pic]

Gambar 2.4, Early Childhood Caries tahap Inisial

Sumber: https://www.dental.umaryland.edu/ecc-conference/

2. Tahap Kedua Tahap ini terjadi saat usia anak sudah mencapai 16-24 bulan. Dentin dipengaruhi saat lesi putih pada insisivus berkembang pesat menyebabkan enamel rusak. Dentin terpapar dan terlihat lunak serta berwarna kuning. Molar desidual maksila terkena lesi inisial pada permukaan servikal, proksimal dan oklusal (Asfria,2009). Pada tahap ini, anak mulai mengeluh kalau giginya sensitif saat tersentuh makanan atau minuman yang dingin. Orang tua kadang-kadang memperhatikan perubahan warna pada gigi anak mereka dan mulai cemas. (Fajriani,2011) [pic] Gambar 2.5, Early Childhood Caries tahap Kedua Sumber:http://www.castlegatedental.com/patient-information/early-childhood-caries/

3. Tahap Ketiga Tahap ini terjadi saat usia anak 20-36 bulan. Lesi sudah luas pada salah satu insisivus maksila dan pulpa sudah teriritasi. Anak akan mengeluh sakit saat mengunyah dan menyikat gigi. Pada malam hari anak akan merasa kesakitan spontan. Pada tahap ini, molar desidual maksila pada tahap kedua sedangkan gigi molar desidui mandibula dan kaninus desidui maksila pada tahap inisial (Fajriani,2011) [pic] Gambar 2.6 , Early Childhood Caries tahap Ketiga Sumber:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23846/4/Chapter%20II.pdf

4. Tahap Keempat Tahap ini terjadi ketika anak sudah berusia 30-48 bulan. Mahkota gigi anterior maksila fraktur sebagai akibat dari rusaknya enamel dan dentin. Pada tahap ini insisivus desidui maksila biasanya sudah nekrosis dan molar desidui maksila berada pada tahap tiga. Molar kedua desidual dan kaninus desidui maksila serta molar pertama desidui mandibula pada tahap kedua. Anak sangat menderita, susah mengekspresikan rasa sakitnya, susah tidur, dan tidak mau makan (Fajriani,2011). [pic] Gambar 2.7, Early Childhood Caries tahap Keempat Sumber:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23846/4/Chapter%20II.pdf

5. Patogenesis Early Childhood Caries

Mekanisme Terjadinya Karies

Karies terjadi karena interaksi antara bakteri yang bersifat kariogenik, gigi (host), karbohidrat, waktu, serta saliva. Bakteri yang menempel pada permukaan bergula akan menghasilkan asam yang dapat melarutkan permukaan struktur gigi, seperti enamel, sehingga terjadi proses demineralisasi. Demineralisasi merupakan proses awal karies. (samaranayake: 261).

Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya dental plaque/biofilm di permukaan gigi. Plak/ biofilm merupakan kumpulan dari mikroba baik yang masih hidup atau sudah mati bersama dengan produk ekstraselulernya, serta senyawa terutama berasal dari saliva host (samaranayake: 261).

Apabila sisa makanan terus menumpuk maka karbohidrat terutama sukrosa akan disintesis oleh bakteri. Streptococcus mutans akan menghasilkan enzim glukosiltransferase (GTF), merubah sukrosa menjadi glukan yang bersifat lengket. Bakteri melakukan metabolisme untuk menghasilkan energi, dan ekskresinya adalah suatu Asam laktat dari proses glikolisis karbohidrat. Asam laktat dapat menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi (Suryawati, 2010). Asam yang dihasilkan bakteri akan mengakibatkan berbagai variasi karies pada gigi. Hal tersebut dipengaruhi oleh:

a. pH pada permukaan gigi yang dapat mempengaruhi perubahan metabolisme pada plak. b. adanya karbohidrat (glukosa, fruktosa, dan sukrosa) yang dapat menstimulasi proses metabolisme. Ketika ketersediaan karbohidrat hanya sedikit selama bakteri melakukan metabolisme, bakteri tidak dapat melakukan metabolisme secara maksimal. dengan demikian pH pada daerah permukaan gigi tersebut akan terus meningkat dan terjadilah proses remineralisasi. Demineralisasi dan remineralisasi terjadi secara dinamis pada permukaan gigi. Namun apabila terjadi ketidakseimbangan antara keduanya dapat terjadi karies, yakni jika demineralisasi lebih besar daripada remineralisasi. (samaranayake: 261).

Demineralisasi merupakan hilangnya sebagian atau seluruh mineral enamel karena larut dalam asam, semakin rendah pH maka akan meningkatkan ion hidrogen yang akan merusak hidroksiapatis (senyawa kalsium fosfat) enamel. Hidroksiapatit merupakan bahan anorganik, baik di enamel, dentin, maupun sementum yang memililiki presentasi yang tinggi dibanding bahan lainnya. Tanda awal demineralisasi ditandai dengan adanya suatu lesi putih (white spot). Pada tahap ini, proses terjadinya karies dapat dikembalikan. (samaranayake: 261).

Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang). Kavitasi baru timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Namun kadang-kadang begitu banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang makrokopis dapat dilihat. Pada karies dentin yang baru mulai terlihat hanya lapisan keempat (lapisan transparan, terdiri dari tulang dentin sklerotik, kemungkinan membentuk rintangan terhadap mikroorganisme dan enzimnya) dan lapisan kelima (lapisan opak/tidak tembus penglihatan, di dalam tubuli terdapat lemak yang mungkin merupakan gejala degenerasi cabang-cabang odontoblast). Baru setelah terjadi kavitasi, bakteri akan menembus tulang gigi. Pada proses karies yang amat dalam, tidak terdapat lapisan-lapisan tiga (lapisan demineralisasi, suatu daerah sempit, dimana dentin partibular diserang), lapisan empat dan lapisan lima. (samaranayake: 261).

Akumulasi plak pada permukaan gigi utuh dalam dua sampai tiga minggu menyebabkan terjadinya bercak putih. Waktu terjadinya bercak putih menjadi kavitasi tergantung pada umur, pada anak-anak 1,5 tahun dengan kisaran 6 bulan ke atas dan ke bawah, pada umur 15 tahun, 2 tahun dan pada umur 21-24 tahun, hampir tiga tahun. Tentu saja terdapat perbedaan individual. Sekarang ini karena banyak pemakaian flourida, kavitasi akan berjalan lebih lambat daripada dahulu. (samaranayake: 261).

Pada anak-anak, kerusakan berjalan lebih cepat dibanding orang tua, hal ini disebabkan:

1) Email gigi yang baru erupsi lebih mudah diserang selama belum selesai maturasi setelah erupsi (meneruskan mineralisasi dan pengambilan flourida) yang berlangsung terutama 1 tahun setelah erupsi. 2) Remineralisasi yang tidak memadai pada anak-anak, bukan karena perbedaan fisiologis, tetapi sebagai akibat pola makannya (sering makan makanan kecil) 3) Lebar tubuli pada anak-anak mungkin menyokong terjadinya sklerotisasi yang tidak memadai 4) Diet yang buruk dibandingkan dengan orang dewasa, pada anak-anak terdapat jumlah ludah dari kapasitas buffer yang lebih kecil, diperkuat oleh aktivitas proteolitik yang lebih besar di dalam mulut.

6. Talaksana untuk Early Childhood Caries

ECC disebut juga dengan nursing bottle caries, juga dikenal dengan nama seperti bottle caries, baby bottle syndrome, baby bottle decay merupakan bentukan dari rampant karies pada gigi sulung dari bayi atau anak-anak(2, 3, dan 4 tahun). Pada kebanyakan kasus, masalahnya biasanya ditemui pada bayi yang sering tertidur dengan botol bayi yang berisi susu atau air gula. Kondisi seperti ini juga bisa ditemui pada bayi yang meminum ASI yang memiliki kebiasaan minum ASI yang terlalu lama atau pada bayi yang menggunakan dot yang dicelupkan ke madu, gula, atau syrup.( Borutta A, Wagner M, Kneist S. Early Childhood Caries) Penurunan flow rate saliva selama tidur juga mengumpulkan larutan manis disekitar gigi, juga berakibat pada lingkungan kariogenik yang tinggi.Rampant karies juga bisa muncul pada gigi permanen pada usia remaja, karena seringnya mereka mengkonsumsi snack-snack yang bersifat kariogenik juga minuman yang manis diantara waktu makan.( Borutta A, Wagner M, Kneist S. Early Childhood Caries) 1. Perawatan Early Childhood Caries Perawatan terhadap ECC tergantung pada tingkat keparahan karies. Penentuan teknik perawatan ECC sangat ditentukan oleh diagnosa yang tepat. Pada gigi dengan karies yang telah mengenai saluran akar hendaknya dilakukan perawatan endodontik terlebih dahulu sebelum dilakukan penambalan, sedangkan pada gigi dengan karies yang belum mengenai pulpa dapat langsung dilakukan penambalan.( Borutta A, Wagner M, Kneist S. Early Childhood Caries) Perawatan endodontik yang dapat dilakukan antara lain pulp capping (direct atau indirect), pulpotomi (vital atau nonvital), pulpektomi (vital atau nonvital), pembuatan restorasi. Pembuatan restorasi dengan menggunakan bahan semen glass ionomer dan resin komposit, dengan pembuatan mahkota buatan seperti Compomer Strip Crowns, mahkota stainless steel.( Borutta A, Wagner M, Kneist S. Early Childhood Caries) 2. Pencegahan Tindakan pencegahan terhadap ECC harus dilakukan karena semakin parah karies maka semakin kompleks pula perawatan yang harus dilakukan sehingga memerlukan biaya yang tidak sedikit untuk dikeluarkan.( Borutta A, Wagner M, Kneist S. Early Childhood Caries)
Beberapa saran untuk mencegah karies ECC, meliputi : 1. Berikan nasihat pada orang tua anak agar membuat anak merasa tenang dan nyaman saat tidur, jangan memberikan dot botol yang berisi larutan gula (susu formula atau sari buah), biasakan berikan anak air putih dalam dot botol atau dot karet. 2. Usahakan jangan memasukkan gula, madu, atau yang mengandung larutan gula ke dalam dot botol. 3. Jangan membiarkan anak menghisap ASI secara kontinyu saat tidur, karena ASI juga dapat menyebabkan kerusakan gigi. Biasakan anak menghisap dot botol yang berisi air. 4. Jangan menambahkan gula yang berlebihan dalam makanan anak 5. Gunakan kain kasa yang dibasahi air atau kain tipis untuk membersihkan gigi dan gusi anak setelah makan atau minum yang mengandung gula atau karbohidrat. Ini akan membantu menghilangkan plak bakteri dan gula yang tumbuh dalam gigi dan gusi. 6. Jika air minum yang diminum setiap harinya tidak mengandung fluoride, maka suplemen fluoride atau perawatn fluoride seperti topikal aplikasi dan fissure sealant dapat diberikan. 7. Ajarkan kepada anak untuk membiasakan minum menggunakan gelas atau cangkir menjelang umurnya 1 tahun. Anak sebaiknya berhenti minum menggunakan dot botol setelah umurnya 1 tahun. 8. Berikan nasihat pada orang tua anak untuk segera mengunjungi dokter gigi, apabila tampak tanda kemerahan dan bengkak pada mulut anak atau bercak/spot hitam pada gigi anak.

Tatalaksana Berdasarkan Kasus

Dalam penatalaksanaan pasien anak-anak, usaha yang dilakukan adalah untuk mempertahankan baik gigi sulung maupun gigi permanen. Hal ini dikarenakan gigi sulung sangat penting dalam perkembangan lengkung geligi, mempertahankan hubungan oklusal yang normal dan berperan dalam perkembangan bicara anak. (Masarweh, dkk. 2013)

Saat dokter gigi dihadapkan pada kasus dimana harus melakukan pencabutan pada gigi sulung, maka akan dihadapkan pada banyak pertimbangan, terutama dalam menghindari kompilasi pada gigi permanen pengganti yang akan tumbuh. Terutama dalam mengganti space yang hilang akibat pencabutan dan menghindari adanya maloklusi. Pertimbangan menyeluruh harus dilakukan terhadap kesehatan gigi secara umum dan riwayat kesehatan gigi pasien sebelumnya. (Masarweh, dkk. 2013)

Pada kasus dengan masalah empat gigi anterior rahang atas tinggal sisa akar dapat dilakukan ekstraksi. Jika sisa akarnya telah goyang maka ekstraksi dapat dilakukan dengan anestesi topikal menggunakan chlor ethyl atau lainnya, tetapi jika belum goyang dan memang harus dilakukan ekstraksi maka pencabutan mungkin membutuhkan anestesi yang bekerja lebih kuat, dengan cara disuntikkan ke gusi.( (Masarweh, dkk. 2013)

Untuk kasus gigi C kanan dan kiri rahang atas yang terkena karies sirkuler lebih baik jika dicegah penyebarannya karena karies sirkuler merupakan awal dari ECC (Early Childhood Caries) yang nantinya akan menyebar secara sirkuler ke mahkota gigi yang lain dan menjadi lebih parah. Tetapi jika harus dirawat maka dapat ditumpat menggunakan compomer. Bahan compomer lebih kuat dibanding bahan GIC (Glass Ionomer Cement) karena kita juga perlu mempertimbangkan fungsi gigi C yang untuk mencabik makanan.( (Masarweh, dkk. 2013)

Selanjutnya untuk kasus gigi 55 65 75 dan 85 yang berlubang besar dapat dilakukan beberapa pilihan perawatan, tetapi karena di kasus hanya disebutkan berlubang besar saja maka perlu keterangan lebih lanjut serta lebih jelas agar dokter gigi dapat memberikan perawatan yang tepat pada pasien. Ada beberapa pilihan perawatan yang dapat dipertimbangkan untuk masalah ini, diantaranya:

1. Jika gigi tersebut tergolong karies kelas II pada bagian mesio-bukal dan oklusal maka perawatannya dapat dengan pembuatan restorasi SSC (Stainless Steel Crown) dengan pertimbangan: (a) karies gigi pada tiga permukaan atau lebih, (b) lebih kuat dari semua tumpatan, serta tahan lama dan tahan korosi, (b) prosedur mudah, cepat, dan tidak toksik seperti amalgam, (c) lebih murah daripada compomer.

2. Jika gigi tersebut tergolong karies kelas II pada bagian mesio-oklusal maka perawatannya dengan menggunakan compomer dengan pertimbangan: (a) hanya terkena pada 2 permukaan sehingga tidak perlu menggunakan SSC, (b) lebih kuat daripada GIC karena gigi 5 ini fungsinya adalah untuk mengunyah makanan sehingga beban kunyah oklusalnya berat, (c) dapat melepaskan flour dan tidak perlu pengetsaan, (d) diindikasikan untuk perawatan gigi sulung, (e) mudah, cepat, dan tidak toksik seperti amalgam.

3. Atau mungkin pada gigi yang berlubang besar ini dapat pula dilakukan tindakan perawatan pulpa konservatif yaitu pulpcapping dan pulpotomi. Pulp capping diindikasikan untuk gigi vital dan gigi dengan karies yang dalam (indirect) atau pada pulpa terbuka karena faktor mekanis, misalnya pada saat pengeboran (direct) menggunakan bahan kalsium hidroksida yang dapat merangsang pembentukan dentin sekunder atau jembatan dentin. Sedangkan pulpotomi diindikasikan untuk gigi vital dan pulpa terbuka yang lebih besar dari yang diindikasikan untuk perawatan pulp capping.

Terakhir untuk kasus gigi 64 dan 54 yang tinggal sisa akar dapat dilakukan tindakan ekstraksi jika gigi permanen sudah menunjukan tanda erupsi tetapi jika belum ada tanda erupsi maka dapat dibuatkan restorasi SSC (Stainless Steel Crown) dengan pertimbangan SSC lebih kuat dari semua tumpatan, tahan lama, dan tahan korosi. Mengapaka memilih SSC jika gigi masih harus dipertahankan? Karena mempertimbangkan bahwa gigi ini merupakan gigi yang mendapat beban kunyah besar.( (Masarweh, dkk. 2013)

Menggunakan restorasi SSC juga dapat dipertimbangkan jika keadaan pasien seperti: (a) Mahkota sebagian besar sudah rusak, (b) Molar primer sedang menjalani terapi pulpa, (c) Gigi hipoplastik, (d) Gigi mempunyai resiko tinggi karies. Dan pada kasus ini tertera setidaknya satu atau dua faktor untuk mendukung penggunaan restorasi SSC.( (Masarweh, dkk. 2013)

7. Dampak akibat Early Childhood Caries

Meskipun sebagian besar dapat dicegah dengan pemeriksaan awal, identifikasi faktor risiko individu, konseling orang tua dan pendidikan, dan inisiasi prosedur perawatan pencegahan seperti aplikasi fluoride topikal, sifat progresif penyakit gigi dengan cepat dapat mengurangi kesehatan umum dan kualitas hidup bagi bayi yang terkena, balita, dan anak-anak. Kesehatan mulut berarti lebih dari sekedar gigi sehat. (Msefer, 2006)

Kesehatan mulut mempengaruhi orang secara fisik dan psikologis, dan pengaruh bagaimana mereka tumbuh, terlihat, berbicara, mengunyah, rasa makanan, dan bersosialisasi, serta perasaan mereka kesejahteraan sosial. Kualitas anak-anak hidup dapat secara serius dipengaruhi oleh berat karies karena rasa sakit dan ketidaknyamanan yang dapat menyebabkan cacat, akut dan infeksi kronis, dan makan diubah dan kebiasaan, serta risiko rawat inap, biaya pengobatan yang tinggi, dan kehilangan hari sekolah dengan kemampuan konsekuen berkurang untuk belajar tidur. (Msefer, 2006)

Pada anak-anak yang paling kecil, ECC dikaitkan dengan pertumbuhan berkurang berat badan akibat konsumsi makanan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme dan pertumbuhan anak-anak berusia kurang dari 2 tahun. Karena sakit gigi dan infeksi mengubah kebiasaan makan dan tidur, asupan makanan, dan proses metabolisme. Gangguan tidur mempengaruhi produksi glucosteroid. Selain itu, ada penekanan hemoglobin dari eritrosit tertekan produksi. Kehilangan gigi awal yang disebabkan oleh kerusakan gigi telah dikaitkan dengan gagal tumbuh, perkembangan bicara terganggu, absen dari dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi di sekolah, dan mengurangi harga diri. (Msefer, 2006)

Penyakit mulut yang tidak diobati dapat memperburuk kondisi yang sudah rapuh banyak anak berkebutuhan khusus perawatan kesehatan karena prevalensi kondisi medis kronis seperti gangguan kejang atau gangguan emosional yang berat. Sebagai contoh, dapat mempersulit pengobatan organ dan transplantasi sumsum tulang (kadang-kadang mengakibatkan kematian); dapat mengakibatkan komplikasi parah (misalnya, pneumonia, infeksi saluran kemih, demam, dan infeksi umum dari seluruh tubuh); dan dapat menyebabkan infeksi katup jantung yang rusak (yang mengakibatkan kematian 50% dari waktu). (Msefer, 2006)

Kemungkinan mekanisme ketiga karies parah bagaimana diobati dengan pulpitis mempengaruhi pertumbuhan adalah pulpitis itu dan abses gigi kronis mempengaruhi pertumbuhan dengan menyebabkan peradangan kronis yang mempengaruhi jalur metabolisme di mana sitokin mempengaruhi eritropoiesis.( Msefer, 2006)

Salah satu prediktor terbaik dari karies di masa depan adalah karies sebelumnya pengalaman. Anak-anak di bawah usia 5 dengan riwayat karies gigi secara otomatis diklasifikasikan sebagai berisiko tinggi untuk pembusukan masa depan. Namun, tidak adanya karies tidak berguna prediktor risiko karies untuk bayi dan balita karena meskipun anak-anak ini berada pada risiko tinggi, ada mungkin belum cukup waktu untuk pengembangan lesi karies. Lesi white spot yang paling sering ditemukan pada permukaan halus enamel dekat dengan gingiva. Meskipun hanya beberapa studi telah meneliti pewarnaan pit dan fisura atau lesi white spot sebagai variabel risiko karies, lesi tersebut harus dianggap setara dengan karies ketika menentukan risiko karies pada anak-anak.( Msefer, 2006)

Ekstraksi gigi adalah pengobatan umum dan diperlukan untuk karies maju. Kehilangan dini gigi molar cenderung mengakibatkan masalah ortodontik masa depan. Oleh karena itu, anak-anak yang terkena ECC cenderung terus mengalami masalah kesehatan mulut untuk pengobatan yang sering finansial di luar jangkauan untuk orang tua mereka. Selanjutnya, karies pada awal tahun telah dikaitkan dengan karies pada akhir masa kanak-kanak.( Msefer, 2006)

[pic]

Gambar 2.8.Karies Rampan

Sumber: jurnal international dentistry vol.11, No 4

[pic]

Gambar 2.9 Tahap Kedua ECC.

Sumber : Msefer, 2006

8. Hubungan antara mengemil antara jam makan dan konsumsi susu botol dengan Early Childhood Caries

Karies gigi memiliki etiologi yang multi faktor dimana terjadi interaksi dari tiga faktor utama yang ada di dalam mulut, yaitu host (gigi), mikroorganisme (agen) dan substrat (diet kabohidrat) dan faktor keempat: waktu. (Reich. E, dkk. 1999).

Peranan diet dalam pembentukan karies merupakan hal yang penting untuk diketahui. Diet merupakan makanan/minuman yang dikonsumsi setiap hari. Anak-anak cenderung lebih menyukai makanan manis-manis dan lengket yang bisa menyebabkan terjadinya karies gigi. Perilaku diet yang dikonsumsi sangat mempengaruhi pembentukan plak karena membantu proses perkembangbiakan mikroorganisme di dalam mulut. Perilaku diet yang menyebabkan karies dikarenakan beberapa faktor yang salah dalam aplikasinya. Faktor tersebut adalah jenis makanan/ minuman yang dikonsumsi, waktu, durasi, frekuensi, bentuk makanan yang dikonsumsi serta cara mengonsumsinya. (Pintauli S, 2010)

Makanan yang mengandung karbohidrat merupakan makanan yang kariogen, namun tidak semua karbohidrat bersifat kariogen. Jumlah dan tipe karbohidrat dalam suatu makanan merupakan faktor yang menentukan efek makanan tersebut terhadap kesehatan gigi. (Ehrlich A, 1982).

[pic]

Tabel 2.1. Jenis karbohidrat berdasarkan tingkat kariogeniknya

Sumber:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37837/4/Chapter%20II

Simple carbohydrate, yang sering disebut fermentasi karbohidrat, lebih kariogenik dari pada karbohidrat kompleks. Sukrosa merupakan fermentasi karbohidrat yang paling kariogen. Walaupun gula lainnya tetap berbahaya, sukrosa merupakan gula yang paling banyak di konsumsi, sehingga merupakan penyebab karies yang utama. Sukrosa juga merupakan jenis karbohidrat yang merupakan media untuk pertumbuhan dan meningkatkan koloni bakteri Streptococcus mutans. Kabohidrat ini dapat dijumpai pada hampir semua makanan, terutama pada cemilan yang disukai anak-anak dapat seperti permen, coklat, kue-kue dan gula, selain itu dapat dijumpai juga pada susu formula. Karbohidrat kompleks, dalam bentuk zat pati di dalam buah dan sayuran, memiliki tingkat kariogenitas yang rendah. Hal ini disebabkan karena zat pati terlebih dahulu diuraikan menjadi gula monosakarida sebelum ia bisa dimanfaatkan oleh plak. ((Reich. E, dkk. 1999).

Konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula diantara jam makan berhubungan dengan peningkatan karies yang besar. Sesuai dengan penjelasan pada kurva Stephan bahwa konsumsi sukrosa akan meningkatkan aktivitas bakteri untuk memproduksi asam dan menurunkan pH rongga mulut dalam waktu 20 sampai 30 menit. Frekuensi konsumsi makanan dan minuman yang terlalu sering dapat menyebabkan buffer saliva tidak mempunyai kesempatan untuk menetralisir pH asam di rongga mulut sehingga proses demineralisasi menjadi dominan. Pada kasus kali ini, anak “ngemil” diantara jam makan, dan kebanyakan snack yang dimakan merupakan kariogenik sehingga zat asam yang dihasilkan bertambah. Bakteri Kariogenik (S. Mutans) akan merubah kabohidrat terutama sukrosa menjadi asam, asam akan merusak enamel yang kemudian menembus dentin. Acid attack yang terus berulang ini dapat menyebabkan kerusakan pada enamel, yang merupakan tahap pertama dalam inisiasi karies gigi. Semakin sering terjadi perubahan pH, maka semakin cepat pula proses karies terjadi. (Almushayt AS, 2009).

Bentuk fisik suatu makanan merupakan hal yang sangat penting dalam menginisiasi kerusakan gigi, tergantung pada jumlah waktu kontaknya makanan tersebut dengan permukaan gigi. Tingkat retensi makanan menggambarkan keadaan lengketnya suatu makanan. Hal ini menentukan seberapa lama makanan tersebut dapat dibersihkan di rongga mulut yang biasa disebut oral clearance time. Makanan dalam bentuk cair memiliki oral clearance time tercepat dan paling tidak berbahaya meskipun makanan ini mengandung persentase sukrosa yang tinggi. Makanan kering atau padat yang mengandung karbohidrat yang cenderung lengket ke gigi mungkin sangat kariogenik. Karena perlahan larut di dalam mulut, maka hal ini dapat menyebabkan Acid attack yang berkepanjangan. (Nizel Ae, 1974)

Lamanya konsumsi makanan dan minuman terutama jenis kariogenik perlu diperhatikan. Selama makanan atau minuman berada di rongga mulut, gigi akan terpapar zat asam dengan pH kritis. Kontak yang lama antara permukaan gigi dengan makanan/ minuman yang mengandung gula akan menyebabkan gigi terpapar zat asam lebih lama dan memberikan peluang lebih besar dalam proses perusakan enamel. (Rizal MF, 2012)

Selain itu cara mengkonsumsi makanan tersebut juga perlu diperhatikan selain dari waktunya, misal ini terjadi pada perpindahan konsumsi susu dari ASI menuju botol (dengan susu formula), karena anak enggan minum dengan susu botol. Salah satu trik orang tua adalah dengan menambahkan gula ke dalam susu formula sebagai pengganti rasa manis laktosa yang terdapat dalam ASI dan susu sapi. Dengan menambahkan gula, anak jadi mau meminum susu botolnya, namun hal ini sangat perlu diwaspadai karena pemberian gula pasir untuk seterusnya sangat mempengaruhi timbulnya kerusakan pada gigi. Kontak yang berkepanjangan antara permukaan gigi dengan cairan yang mengandung gula akan menimbulkan pola khas dari karies gigi, terutama pada gigi insisivus. (Maulani C, 2005)

Memberikan susu botol untuk membuat anak tidur merupakan kebiasaan yang sulit dihentikan. Selama menyusui, dot terletak di bagian palatal sehingga susu tergenang pada gigi atas yang dapat menyebabkan mikroorganisme dalam mulut menghasilkan asam disekeliling gigi. Karena aliran dan kapasitas netralisasi saliva yang berkurang saat tidur, maka demineralisasi menjadi proses yang dominan. Menggunakan botol merupakan predisposisi terhadap ECC karena dot yang menghambat akses saliva untuk gigi desidui maksila. Disisi lain, gigi insisivus mandibula dekat dengan kelenjar saliva utama dan terlindungi oleh permukaan lidah bagian depan. Hal ini menjadikan pola karies botol yang khas karena gigi insisivus mandibula yang relatif imun terhadap karies. anak yang tidak menggunakan botol. Pola karies di bagian anterior ini juga lebih tinggi pada anak yang menggunakan botol dibandingkan dengan anak yang tidak memakai botol. (Chin SY, 2012)

9. Epidemiologi Early Childhood Caries

Kesehatan gigi dan mulut yang baik merupakan komponen integral dari kesehatan umum yang baik. Meskipun untuk mendapatkan kesehatan mulut yang baik mencakup lebih dari hanya memiliki gigi yang sehat, namun masih banyak anak memiliki kesehatan mulut dan umum yang inadekuat karena mempunyai karies gigi yang aktif dan tidak terkontrol. Sampai saat ini, karies masih merupakan masalah kesehatan baik di negara maju maupun di negara-negara berkembang. Data yang diperoleh dari Bank WHO (2000) yang diperoleh dari enam wilayah WHO yaitu AFRO, AMRO, EMRO, EURO, SEARO dan WPRO menunjukkan bahwa rata-rata indeks pengalaman karies (DMFT) pada anak usia 12 tahun berkisar 2,4. Indeks karies di Indonesia sebagai salah satu negara SEARO (South East Asia Regional Offices) saat ini untuk kelompok usia yang sama berkisar 2,2 dimana indeks karies di negara berkembang lainnya adalah 1,2 sedangkan indeks target WHO untuk tahun 2010 adalah 1,0.2 Angka karies gigi pada anak di negara berkembang termasuk Indonesia masih tinggi, bahkan ada kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT, 2004), prevalensi karies di Indonesia mencapai 90,05% dan ini tergolong lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. (Msefer S. Importance of early diagnosis of Early Chlidhood Caries.)

Karies yang terjadi pada anak-anak di antara usia 0-71 bulan lebih dikenal sebagai Early Childhood Caries (ECC). Pada golongan anak-anak bawah usia 3 tahun, tanda-tanda karies pada permukaan halus gigi diindikasikan sebagai Severe Early Childhood Caries (S-ECC). Istilah ini menggantikan istilah Nursing Bottle Caries atau Baby Bottle Tooth Decay yang sering digunakan sebelumnya. ECC adalah bentuk karies rampan yang diterima oleh banyak ahli sebagai karies gigi sulung yang sering menyerang bayi dan anak-anak usia pra-sekolah. ECC berbeda dari bentuk-bentuk karies biasa pada gigi sulung dan gigi permanen mencakup waktu pembentukan, lokalisasi dan gambaran klinisnya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar 75% ECC ditemukan pada sekitar 8% anak usia 2 sampai 5 tahun. Dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, tingkat keparahan karies gigi pada anak usia pra-sekolah telah meningkat menjadi 28%. (Msefer S. Importance of early diagnosis of Early Chlidhood Caries.)

Prevalensi karies pada anak di negara-negara maju jauh berkurang dalam 50 tahun terakhir ini, namun prevalensi karies pada anak usia dini tetap meningkat. Telah disepakati bahwa ECC terjadi pada 3-45% dari anak-anak usia pra-sekolah sedangkan pada beberapa sub-populasi sosioekonomi di Amerika Serikat, ECC dijumpai pada 70-90% bayi dan anak usia pra-sekolah. Berdasarkan tingkat usia, prevalensi ECC cenderung meningkat. Tang et al (cit. McDonald) melakukan penelitian dengan cara pemeriksaan karies gigi terhadap anak pra-sekolah yang dipilih dari Program Bantuan Kesehatan Masyarakat di Arizona. Dari hasil penelitian tersebut, mereka menemukan karies pada 6,4% dari anak usia 1 tahun, 20% dari anak usia 2 tahun, 35% dari anak usia 3 tahun dan 49% dari anak usia 4 tahun.( Msefer S. Importance of early diagnosis of Early Chlidhood Caries.)

Studi epidemiologi menunjukkan bahwa kejadian karies sangat berbeda antara kelompok-kelompok penduduk, tetapi diet dipertimbangkan sebagai perbedaan utama antara kelompok-kelompok bangsa meskipun terdapat juga faktor genetik. Telah dibuktikan dari berbagai penelitian bahwa kandungan gula dalam diet merupakan penyebab utama terjadinya karies. Suku bangsa yang mengonsumsi gula secara berlebihan menunjukkan tingkat karies yang lebih tinggi dibandingkan dengan suku bangsa yang mengonsumsi gula dengan lebih rendah.( Msefer S. Importance of early diagnosis of Early Chlidhood Caries.)

Beberapa penelitian menemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi permen dan minuman yang manis dengan karies berkavitas. Holbrook et al (cit. Chankanka) meneliti faktor risiko karies pada 43 orang anak di awal usia 5 tahun dan pada 15 bulan berikutnya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa frekuensi asupan yang lebih besar dari permen dan makanan berkariogenik di antara jam makan dikaitkan dengan karies berkavitas. Tsai et al (cit. Chankanka) pula melakukan penelitian untuk melihat faktor etiologi karies berkavitas pada anak-anak usia 2 hingga 6 tahun. Mereka melaporkan bahwa karies berkavitas sangat terkait dengan konsumsi permen dan gula dalam regresi logistik multivariabel.( Msefer S. Importance of early diagnosis of Early Chlidhood Caries.)

Karies merupakan suatu penyakit yang bersifat multifaktorial dan memiliki hubungan yang erat dengan pola konsumsi makanan khususnya karbohidrat, maka dapat dikatakan bahwa pola diet juga dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya karies gigi di kalangan anak-anak. Hal ini dikarenakan meningkatnya konsumsi makanan yang berisiko karies akibat globalisasi pada makanan tersebut yang ditandai dengan adanya bermacam-macam jenis makanan dan minuman yang menjadi substrat bagi mikroflora plak. Pola diet ini dapat mencakup dari bahan makanan itu sendiri dan juga kebiasaan seseorang makan. Penelitian yang dilakukan oleh Dumalina Tanjung di Puskesmas Glugur Kota, Taman Kanak-Kanak Swasta Pertiwi dan Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal di Kecamatan Medan Barat, Kota Medan menunjukkan terdapatnya hubungan erat antara pola diet dan prevalensi ECC pada sampel anak usia 12-36 bulan. Tingginya angka prevalensi pada anak usia prasekolah ini menunjukkan anak dengan usia tersebut sangat rentan terserang karies, maka dengan ini penulis tertarik untuk melanjutkan penelitian tersebut untuk melihat hubungan antara ECC dengan pola diet pada anak-anak usia 12-36 bulan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode pencatatan perilaku diet anak untuk melihat konsumsi anak makan selama 7 hari yang kemudian dianalisis dengan kriteria tertentu serta menggunakan data sekunder yang diperoleh dari penelitian sebelumnya. Alasan dilakukan penelitian ini adalah karena belum pernahnya dilakukan penelitian dengan metode pencatatan perilaku diet anak, sedangkan alasan pemilihan tempat penelitian adalah agar memudahkan penelitian dilakukan karena sudah pernah dilakukan penelitian di Puskesmas dan Taman KanakKanak tersebut. Hasil yang diperoleh dari penelitian sebelum ini untuk perilaku diet hanya berdasarkan kuesioner yang mengandung pertanyaan yang bersifat tertutup untuk dijawab oleh responden, sedangkan melalui metode pencatatan perilaku diet ini, orang tua anak dapat menuliskan makanan yang dikonsumsi oleh anak mereka secara keseluruhan selama 7 hari sehingga diharapkan hasil analisis diet akan memperoleh hasil yang lebih bermakna.( Msefer S. Importance of early diagnosis of Early Chlidhood Caries.)

Similar Documents

Free Essay

Silabus

...FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA DEPARTEMEN MANAJEMEN SILABUS Manajemen Stratejik MGMT 11047 (3 SKS) Semester Gasal Tahun Akademik 2011/2012 A. Pengajar/Tim Pengajar Dosen: No. 1 2 3 4 5 6 7 Nama Sofjan Assauri/Galih Pandekar Rachmadi Agus Triono Fandis Ekyawan Rifelly Dewi Astuti/Avanti Fontana Alberto Daniel Hanani (Bhs. Inggris) Karto Adiwijaya Sisdjiatmo K. Widhaningrat (Bhs. Inggris) Asisten Dosen: No. Nama 1 Basuki M Mukhlish 2 Shanti Nurfianti Andin 3 Bagus Adi Luthfi 4 Astriani Widiastuti 5 Galdys Samosir 6 M. Irfan Syaebani 7 Yayah Cheriyah No. Telp 0818 154 355 0856 1098 170 0898 8105 172 0813 1546 8944 0819 0518 9563 0852 230 5522 109 0813 1073 4446 Alamat Email basukimukhlish@gmail.com shantiandin@gmail.com javidnama48@gmail.com astrianiachi@yahoo.com samosirgladys@gmail.com irfan.irf4n@yahoo.co.id yayahchan@gmail.com B. Deskripsi Mata Ajaran : Mata Ajar Manajemen Stratejik merupakan mata ajar wajib departemen yang memberikan pengertian dasar tentang manajemen stratejik dan model rencana stratejik (strategic planning model). Mata ajar ini memiliki bobot 3 SKS. Kuliah menekankan pada pemahaman dan kemampuan peserta dalam menjawab pertanyaan apa, mengapa, kapan, di mana, dan bagaimana manajemen stratejik dan model perencanaan stratejik dengan sistematika model perencanaan stratejik serta peralatan analisis yang umum digunakan. Sistematika penyusunan Rencana Stratejik meliputi (1) Penentuan Visi dan Misi; (2) Analisis Lingkungan Eksternal...

Words: 1454 - Pages: 6

Free Essay

Pattern Recogmition Program

...DENGAN METODE VEKTOR EIGEN LAPORAN KERJA PRAKTEK di DEPARTEMEN REKAYASA INDUSTRI DAN PERANGKAT LUNAK PT DIRGANTARA INDONESIA Oleh AHMAD ABDULLAH NIM : 13208106 PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO SEKOLAH TEKNIK ELEKTRO DAN INFORMATIKA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013 1 PERANCANGAN PROGRAM PATTERN RECOGNITION DENGAN METODE VEKTOR EIGEN Oleh : Ahmad Abdullah Laporan kerja praktek ini telah diterima dan disahkan sebagai persyaratan untuk memperoleh nilai MATA KULIAH EL4091 di PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO SEKOLAH TEKNIK ELEKTRO DAN INFORMATIKA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Bandung, Desember 2013 Disetujui oleh : Penanggung Jawab Mata Kuliah EL4091, Penanggung Jawab di Lokasi Kerja Praktek, Dr. Ir. Aciek Ida Wuryandari ii Ida Bagus Budiyanto, S.Kom, M.T. ABSTRAK PERANCANGAN PROGRAM PATTERN RECOGNITION DENGAN METODE VEKTOR EIGEN Oleh AHMAD ABDULLAH NIM : 13208106 PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO Program pengenalan dan identifikasi pola objek sudah menjadi teknologi penting dalam kehidupan sehari-hari yang dipakai di berbagai macam organisasi seperti pemerintah, industri, bisnis, institusi pendidikan dan lain sebagainya. Teknologi ini memiliki peran penting dalam sistem keamanan data dan proses produksi. Secara umum teknologi pengenalan objek belum berkembang secara pesat di Indonesia sedangkan variasi penggunaannya semakin meningkat dan dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada studi kasus ini wajah manusia diambil sebagai objek yang akan dikenali...

Words: 6391 - Pages: 26

Premium Essay

Planning

...Ministry of National Development Planning / National Development Planning Agency Indonesia’s Current Natural Disasters Update and Brief Presentation of IMDFF Operation Manual Dr. Max H. Pohan (pohan@bappenas.go.id) Deputy Minister for Regional Development and Local Autonomy, BAPPENAS, as Chairman of the Steering Committee of IMDFF-DR The Indonesian Multi Donor Fund Facility for Disaster Recovery (IMDFF-DR) Donor Coordination Meeting Jakarta, 15 November 2010 Current Update of Disasters in Indonesia 1. Disaster events since the beginning of October 2010, ranging from flash floods in the province of Wasior, West Papua in October 4, 2010, earthquake and tsunami in the Mentawai Islands of West Sumatra province on October 25, 2010, when the rehabilitation and reconstruction after earthquake in West Sumatra-30 September 2009 still underway, and the on-going eruption of Mount Merapi in Central Java and Yogyakarta until now. 2. These caused a large numbers of deaths, injured, missing and displaced persons; damages on public infrastructures, impediment on basic services and losses on livelihoods in the disaster affected areas NO 1 LOCATION Flash flood in Wasior, West Papua Province STATUS • Emergency response expired at 15 November 2010. • Assessment of damage and losses have been conducted, with the total damage and losses of Rp 280,58 billion. • Action Plan for the Rehabilitation and Reconstruction is under completion by Bappenas and BNPB. • The emergency response will be expired...

Words: 2305 - Pages: 10

Free Essay

Analisis Skripsi Sibis

...ANALISIS SKRIPSI RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI PEMBIAYAAN MUSYARAKAH (STUDI KASUS BMT AL MUNAWWARAH) (PENULIS: ENCEP ARIF, PEMBIMBING: ZAINUL ARHAM.M.Si) KELOMPOK 4 YULIANI (1113093000115) FARIDA NUR MARUHAWA (1113093000116) VIDYASARI MEGA PUTRI (1113093000117) SYAIFUL FALAH (1113093000131) ALDI ANGGIT PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI UIN SYARIF HIDAYATULLAH 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.2.1 Urgensi Pada paragraph ke 2 baris ke 6 yang isinya “ Dari hasil wawancara dengan bapak Sutanto Samidjan selaku marketing Operational pada BMT Al Munawwarah bahwa dilihat dari laporan keuangan tahun 2010 menunjukkan jumlah transaksi pembiayaan musyarakah mencapai 334 transaksi setiap harinya”. 1.2.2 Originalitas Pada paragraph ke 4 baris ke 2 yang isinya “Menurut Suherman dan Christiana (2010) pentingnya peranan sistem informasi dalam mempermudah proses transaksi PT.BRI (Persero) Cabang Unit Banjar. Menurut Wirianty, Arnan, Fahrudin (2010) pentingnya sistem informasi berbasis web untuk memudahkan anggota dalam regostrasi dan dapat melihat jumlah simpanan setiap saat. Menurut Kemal (2010) aplikasi mempermudah membuat laporan keuangan. 1.2 RUMUSAN MASALAH Bagaimana membangun sistem informasi pembiayaan pada transaksi peminjaman dengan akad musyarakah ? 1.3 BATASAN MASALAH 1. Kegiatan yang dilakukan bagian marketing 2. Kegiatan pengolahan dan...

Words: 1491 - Pages: 6

Free Essay

Printer

...sebagai hasil penulisan ilmiah bagi pelajar program pengajian siswazah diperingkat Sarjana dan Doktor Falsafah secara penyelidikan. Perbincangan dalam panduan ini keseluruhannya juga menggunakan perkataan “tesis” bagi maksud penulisan ilmiah untuk Projek Sarjana Muda (PSM), Laporan Projek Sarjana dan Disertasi Penyelidikan bagi pengajian secara mod campuran. Walau bagaimanapun, panduan ini tidak bermaksud untuk menyediakan semua gaya format bagi semua bentuk rujukan. Sekiranya gaya format khusus yang diperlukan tidak ada di dalam panduan ini, pelajar boleh merujuk kepada panduan penulisan ilmiah lain seperti “American Psychological Association Manual” edisi ke-6. Pusat Pengajian Siswazah Universiti Tun Hussein Onn Malaysia Mac 2011 ii PENGHARGAAN Pusat Pengajian Siswazah, Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) mengucapkan setinggi-tinggi terima kasih kepada staf yang telah menyumbangkan tenaga dan idea dalam...

Words: 10578 - Pages: 43

Free Essay

Syllabus

...Perubahan adalah suatu keniscayaan. Oleh karena itu mengelola perubahan adalah suatu keharusan. Di era dinamis seperti saat ini, interaksi dan korelasi langsung antara suatu entitas organisasi dan lingkungannnya berjalan dengan sangat cepat, bervariasi, dan bersifat multidimensif. Organisasi yang sukses biasanya diwarnai dan dicirikan oleh kemampuannya menempatkan diri di tengah-tengah dinamika lingkungan melalui kapasitasnya bermanuver terhadap tuntutan pergerakan dan pergeseran lingkungan internal-eksternalnya serta kemampunnya mengendalikan perubahan. Sebaliknya, organisasi yang gagal biasanya menghadapi kompleksitas sindrom eksistensialnya karena ketidakmampuan menjawab tuntutan dinbamika lingkungan melalui strategi pemosisian system organisasionalnya ke dalam system yang lebih besar. Tantangan eksistensial yang dihadapi oleh suatu entitas organisasi tidaklah sekedar berhenti pada upaya menciptakan dan menghadirkan Konsep Berorganisasi yang hebat saja, namun juga akan sangat terkait dengan upaya kontekstualisasi konsep tersebut untuk menjawab tantangan eksistensialnya. Persentuhan organisasi dengan isu-isu kontekstual yang sangat diamis itulah yang menyebabkan apakah suatu organisasi mampu bertahan hidup untuk jangka waktu panjang, atau akan segera mati dan hilang dari komunitas lingkungannya. Dalam tataran praksis, kebutuhan pengembangan organisasi sebagai syarat agar tetap eksis tidak terlepas dari kemampuan Manajemennya untuk mengelola setiap kebutuhan perubahan yang...

Words: 1659 - Pages: 7

Premium Essay

Betting Against Beta

...Betting Against Beta Andrea Frazzini and Lasse H. Pedersen* This draft: October 9, 2011 Abstract. We present a model with leverage and margin constraints that vary across investors and time. We find evidence consistent with each of the model’s five central predictions: (1) Since constrained investors bid up high-beta assets, high beta is associated with low alpha, as we find empirically for U.S. equities, 20 international equity markets, Treasury bonds, corporate bonds, and futures; (2) A betting-against-beta (BAB) factor, which is long leveraged lowbeta assets and short high-beta assets, produces significant positive risk-adjusted returns; (3) When funding constraints tighten, the return of the BAB factor is low; (4) Increased funding liquidity risk compresses betas toward one; (5) More constrained investors hold riskier assets. * Andrea Frazzini is at AQR Capital Management, Two Greenwich Plaza, Greenwich, CT 06830, e-mail: andrea.frazzini@aqr.com; web: http://www.econ.yale.edu/~af227/ . Lasse H. Pedersen is at New York University, AQR, NBER, and CEPR, 44 West Fourth Street, NY 10012-1126; e-mail: lpederse@stern.nyu.edu; web: http://www.stern.nyu.edu/~lpederse/. We thank Cliff Asness, Aaron Brown, John Campbell, Kent Daniel, Gene Fama, Nicolae Garleanu, John Heaton (discussant), Michael Katz, Owen Lamont, Michael Mendelson, Mark Mitchell, Matt Richardson, Tuomo Vuolteenaho and Robert Whitelaw for helpful comments and discussions as well as seminar participants...

Words: 29988 - Pages: 120

Free Essay

Case 2 Chapter 13 Sim

...Chapter 13 Case 2 Wyoming Medical Center, LosAngeles County, and Raymond James: EndPoint Security Gets Complicated (James A. O’Brien dan George M.Marakas, Information and Management Systems. 10th Edition. 2007. McGraw-Hill Irwin) Mata Kuliah Sistem Informasi Manajeman Dosen : Dr. Ir. Arif Imam Suroso, MSc Disusun Oleh: Dani Surahman P056111101.47 PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN DAN BISNIS SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 i DAFTAR ISI Halaman Daftar Isi......................................................................................................... i BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................... 1 I.1 Latar Belakang........................................................................... 1 I.2 Tujuan Penulisan ....................................................................... 2 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................. 3 II.1 Manajemen Keamanan Teknologi Infotmasi ............................. 3 II.2 Endpoint Security ..................................................................... 3 II.3 Enkripsi .................................................................................... 3 II.4 Data Loss Prevention ................................................................ 4 II.5 Firewalls................................................................................... 5 II.6 Virus .......................................

Words: 3448 - Pages: 14

Free Essay

How to Reduce Turnover Applebee

...STUDI KASUS HOW TO REDUCE TURN OVER [pic] Disusun oleh: Julius Dicky (NRP 03514014) Denny Sosiawan (NRP 03514015) William Gondo (NRP 03514016) Lydia Loahardjo (NRP 03514022) BATCH IX PEOPLE MANAGEMENT PROGRAM MAGISTER MANAGEMENT FAKULTAS EKONOMI UK PETRA SEPTEMBER 2014 BAB I. PENDAHULUAN Applebee’s International, Inc., adalah sebuah perusahaan Amerika yang mengembangkan, mewaralabakan dan mengoperasikan restoran waralaba Applebee's Neighborhood Grill and Bar. Pada September 2011, ada 2,010 restoran mengoperasikan sistem melebar di Amerika Serikat, satu teritorial Amerika Serikat dan 14 negara lainnya. Kantor utama perusahaan terletak di Kansas City, Missouri setelah pindah dari Lenexa, Kansas di September 2011. Konsep utama Applebee's terletak pada hidangan Amerika pada umumnya seperti salad, udang, ayam, pasta dan "riblets" (yang dikategorikan sebagai sajian khas Applebee's). Semua restoran Applebee's menampilkan sebuah area bar dan menyediakan minuman beralkohol (kecuali di lokasi yang dilarang oleh hukum setempat). Di Applebee, Taman Overland, Kansas. Manajer harus membagi pekerja per jam menjadi "A" pemain. 20 persen; B. tengah 60 persen; dan C. bawah 20 persen. Manajer Kemudian memenuhi syarat untuk jasa 80 persen. Praktek ini tidak biasa di industri restoran. Dimana manajer cenderung lebih khawatir tentang kepegawaian pergeseran berikutnya dari...

Words: 1047 - Pages: 5

Premium Essay

Big Mac

...FIN30014 Financial Risk Management Topic Outline, Reading and Tutorial Questions Semester 2, 2015 ------------------------------------------------- Topic 1: Introduction to Derivatives and Financial Risk Management ------------------------------------------------- Mechanics of Futures Markets Topic Outline * Financial risk management – an overview * The nature of derivatives and their uses for financial risk management * Futures exchanges and futures contracts * Over-the-counter markets and forward contracts * Uses of derivative contracts markets: Hedging, Speculation and Arbitrage * The mechanics of futures markets * opening and closing futures positions * the operation of margins on futures contracts * the role of the “Clearing House” * Futures contracts compared with forward contracts Essential Reading: Hull (2014) Chs. 1 & 2 Additional Reading: Viney, Ch 18, pp. 604 – 613; Ch 19, pp 636-648 Web Resources (Refer to the “External Links” tab on Blackboard) * Financial Pipeline: Derivatives Self-test Quiz Questions Hull Ch. 1: 1.2, 1.4, 1.7 Hull Ch. 2: 2.3, 2.4 (ignore tax questions), 2.5 Tutorial Questions Hull Ch. 1: 1.10, 1.11, 1.12, 1.18, 1.20, 1.21, 1.33 Hull Ch. 2: 2.10, 2.14, 2.16, 2.18, 2.25, 2.26, 2.28 Additional Questions 1. Suppose that on Jan. 4, 2011, an investor...

Words: 4895 - Pages: 20

Free Essay

Analisis Potensi Risiko

...ANALISIS PREDIKSI POTENSI RISIKO FRAUDULENT FINANCIAL STATEMENT MELALUI FRAUD SCORE MODEL (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur y ang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010) SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Disusun oleh : VIVA YUSTITIA RINI NIM. C2C008146 FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012 i ii PERSETUJUAN SKRIPSI Nama Penyusun Nomor Induk Mahasiswa Fakultas/Jurusan : Viva Yustitia Rini : C2C008078 : Ekonomika dan Bisnis / Akuntansi Judul Skripsi : ANALISIS PREDIKSI POTENSI RISIKO FRAUDULENT FINANCIAL STATEMENT MELALUI FRAUD SCORE MODEL (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 20082010) Dosen Pembimbing : Drs. H. Tarmizi Achmad, MBA, Ph.D, Akt. Semarang, 5 Juni 2012 Dosen pembimbing, (Drs. H. Tarmizi Achmad, MBA, Ph.D, Akt.) NIP . 19550418 198603 1001 ii iii PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN Nama Penyusun Nomor Induk Mahasiswa Fakultas/Jurusan : Viva Yustitia Rini : C2C008146 : Ekonomika dan Bisnis /Akuntansi Judul Usulan Skripsi : ANALISIS PREDIKSI POTENSI RISIKO FRAUDULENT FINANCIAL STATEMENT MELALUI FRAUD SCORE MODEL (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2008-2010) Telah dinyatakan lulus ujian pada tanggal 20 Juni 2012 Tim Penguji : 1. Drs. H. Tarmizi...

Words: 10403 - Pages: 42

Free Essay

Training and Development

...makalah ini. Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu, saya mengharapkan pembaca memberikan kritik dan sarannya yang terkait dengan makalah ini. Kritik yang membangun dari pembaca sangat saya harapkan untuk penyempurnaan pembuatan makalah ini. Tangerang, 25 Oktober 2014 Gilna Eka Pujiansyah i Daftar Isi Kata Pengantar ......................................................................................................................................... i Daftar Isi ................................................................................................................................................. ii Daftar Gambar ....................................................................................................................................... iii Bab I : Pendahuluan ................................................................................................................................ 1 1.1 Latar Belakang............................................................................................................................... 1 1.2 Rumusan Masalah...

Words: 5034 - Pages: 21

Free Essay

Analisa Efektivitas Atas Pemanfaatan Software Proses Bisnis “Aris 9.8” Dengan Pendekatan Lean Six Sigma Di Bpjs Ketenagakerjaan Untuk Peningkatan Kinerja Perusahaan

...……………………………………………………………….. iii Daftar Tabel ………………………………………………………………….. iv Daftar Lampiran ……………………………………………………………… v BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………… 1 1.1 Latar Belakang ………………………………………………… 1 1.2 Rumusan Masalah ……………………………………………... 6 1.3 Tujuan Penelitian ……………………………………………… 6 1.4 Manfaat Penelitian …………………………………………….. 7 BAB II KAJIAN LITERATUR …………………………………………… 8 2.1 Kerangka Teoritis ……………………………………………… 8 2.1.1 Sistem Informasi ………………………………………………. 8 2.1.2 Software ……………………………………………………….. 9 2.1.3 Pemanfaatan Teknologi Informasi …………………………….. 9 2.1.4 Proses Bisnis …………………………………………………... 9 2.1.5 Enterprise Resource Planning (ERP) System …………………. 10 2.1.6 Lean Six Sigma ………………………………………………... 10 2.1.7 Kinerja Perusahaan ……………………………………………. 11 i 2.1.8 Skala Likert 11 2.1.9 Metode Penelitian : Analisa Kuantitatif 12 2.2 Kerangka Pemikiran …………………………………………… 14 2.3 Kerangka Konsep ……………………………………………… 16 2.4 Hipotesis ……………………………………………………… 17 BAB III METODOLOGI PENELITIAN …………………………………. 19 3.1 Rancangan Penelitian ………………………………………….. 19 3.2 Definisi Operasional …………………………………………... 20 3.3 Populasi dan Sampel …………………………………………... 28 3.4 Instrumen Penelitian …………………………………………... 28 3.5 Metode Analisi Data …………………………………………... 33 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………… 42 ii DAFTAR GAMBAR 1.1.1 Aplikasi “ARIS 9.8” : Proses Bisnis ……………………………… 3 1.1.2 Hubungan antar Instrumen...

Words: 7402 - Pages: 30

Free Essay

Initial Public Offering

...BAB II NETSCAPE’S INITIAL PUBLIC OFFERING 2.1. Case Summary Pada tahun 1990-an, industi internet, perangkat lunak dan telekomunikasi sedang berkembang pesat, dan pada tahun 1994 mulcul lah suatu perusahaan yang bernama Netscape Communication Corporation. Kehadiran Netscape ternyata mendapat respon yang sangat baik dari pasar. Kemampuan Netscape dalam inovasi membawa “Netscape Navigator” menjadi peramban web terkenal dan paling banyak digunakan pada era 1990-an. Tingkat pertumbuhan Netscape pada tahun 1995 cukup signifikan, revenue Netscape per Juni 1995 meningkat 23,89% dari revenue yang diperoleh per Desember 1995. Kendati Netscape belum mampu menghasilkan profit, namun perkembangan Netscape bagus dan dperkirakan akan terus tumbuh. Untuk terus mengembangkan perusahaan, Netscape tentu saja membutuhkan dana segar yang dapat dijadikan modal. Saham preferen yang ada di Netscape pun dikonversi menjadi saham biasa. Hingga pada akhirnya pada bulan Agustus 1995 dikabarkan bahwa Netscape akan melakukan penerbitan saham perdana/ Innitial Public Offering (IPO). Keputusan Netscape untuk melakukan IPO atau menjadi perusahaan go public relatif cukup mengejutkan, mengingat kehadiran Netscape di industri baru berumur 16 bulan dan sampai pertengahan tahun 1995 Netscape belum menghasilkan profit. Padahal berdasarkan data IPO Market sejak tahun 1990 sampai dengan 1994, rata-rata perusahaan yang melakukan IPO telah berumur 6-7 tahun. Setelah keputusan Netscape akan melakukan IPO, perusahaan...

Words: 736 - Pages: 3

Free Essay

Paper

...Riba, Interest and Six Hadiths: Do We Have a Definition or a Conundrum? Dr. Mohammad Omar Farooq Associate Professor of Economics and Finance Upper Iowa University June 2006 [Draft; Feedback welcome] [pic]The Readers are highly encouraged to read another of my essays  "Islamic Law and the Use and Abuse of Hadith"  before this one to better follow and appreciate this essay.  NOTE for fellow Muslims: Because this topic involves what is haram (prohibited) and halal (permissible) in Islam, every Muslim MUST do his/her own due diligence and conscientiously reach own position/decision in regard to personal practice. In doing so regarding this matter or any other aspect of life, Muslims should seek guidance from the Qur'an and the Prophetic legacy.  Each hadith is properly referenced, but for internal reference within this essay, in the sequence presented, each hadith is numbered with # H-.  Some of the references in this essay are from secondary sources. As the draft takes it final shape, original sources would be gradually cited and replace the secondary source citations. [pic] "There is nothing prohibited except that which God prohibits ... To declare something permitted prohibited is like declaring something prohibited permitted." Ibn Qayyim[1] [pic] I. Introduction The Qur'an categorically prohibits riba. However...

Words: 15428 - Pages: 62