Free Essay

Kompensasi Pekerja Wanita

In:

Submitted By llluna
Words 2313
Pages 10
Kompensasi Pekerja Wanita:
Belenggu Budaya dan Stereotip

[pic]

Mata Kuliah: Manajemen Kompensasi

Disusun Oleh:
Luna Lady L (F0212066)

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2014

A. PENDAHULUAN

Kompensasi merupakan imbalan yang diberikan kepada setiap individu yang turut memberikan kontribusi dalam sistem produksi perusahaan (Riani, 2014). Kompensasi yang diberikan dalam bentuk finansial maupun nonfinansial sudah selayaknya diberikan kepada para karyawan dengan proporsi yang sesuai dengan performa kinerja yang mereka berikan. Keadilan dalam kompensasi bukan berarti memberikan jumlah kompensasi yang sama kepada seluruh karyawan, kembali lagi faktor performa dan kinerjalah yang menjadi faktor pertimbangan di sini.

Dalam era modern ini, wanita diperbolehkan untuk ikut turun tangan dalam membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya. Wanita yang pada awalnya hanya boleh berkontribusi dalam kerja reproduksi saja, kini mampu berkontribusi dalam kerja produksi (Ardiyan, 2012). Kemajuan sistem ini bukanlah tanpa alasan yang rasional, sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan pria dan wanita memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai hal termasuk dalam meraih karir yang cemerlang. Perkara keadilan dan kesetaraan ini bahkan telah diatur dalam konvensi internasional dan Undang-undang nasional Indonesia seperti dalam Convention on The Eliminations of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) yang selanjutnya diratifikasi ke dalam UU. No. 7 Tahun 1984 Pasal 11 sampai dengan Pasal 13 dan UU. No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM).

Meskipun sudah diatur dalam banyak konvensi dan aturan perundang-undangan yang lain, perbedaan tingkat kompensasi antara pria dan wanita masih saja terjadi, baik yang bersifat finansial maupun nonfinansial. Hal ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor seperti pengalaman, ukuran perusahaan, tanggung jawab kinerja, dan kontribusi dalam kinerja perusahaan. Kebanyakan dari faktor-faktor ini dipengaruhi oleh budaya dan stereotip yang melekat di masyarakat. Di Indonesia sendiri, dominasi dari kaum perempuan masih dianggap tabu di beberapa tempat, terutama di daerah yang menganut paham patrilinealisme.

B. KAJIAN LITERATUR

1. Kompensasi Finansial dan Nonfinansial

Seperti yang sudah disinggung pada bagian pendahuluan kompensasi merupakan segala bentuk imbalan yang diberikan kepada para karyawan perusahaan baik itu dalam bentuk pembayaran uang tunai (finansial) maupun yang berbentuk non-tunai (non-finansial). Kompensasi non-finansial sendiri tidak hanya meliputi tunjangan dan insentif semata tetapi juga mencakup kenyamanan lingkungan kerja serta keuntungan emosional yang diberikan pekerjaan terhadap karyawan (Mondy, 2008). Keuntungan emosional ini dipicu oleh penilaian subjektif pekerja terhadap pekerjaan yang dilakukannya. Misalnya ketika pekerja menyukai dan mencintai pekerjaan yang dimilikinya sekarang, maka pekerja tersebut akan cenderung melakukan semua tugas yang ada dalam pekerjaan itu dengan senang hati, hal ini dikarenakan pekerja tersebut dapat menikmati apa yang dia lakukan. Terkadang perasaan puas dan menikmati dalam proses maupun pencapaian kesuksesan dalam suatu pekerjaan tidak dapat digantikan dengan kompensasi finansial, sebesar apapun itu nilainya. Maka pekerjaan itu sendiri dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk kompensasi non-finansial (Mondy, 2008).

Dalam praktiknya, kompensasi harus diberikan secara adil kepada setiap karyawan. Pemberian kompensasi yang adil tidak dilakukan dengan memberikan jumlah kompensasi yang sama untuk setiap karyawan. Kompensasi yang diberikan perusahaan kepada karyawan sering kali ditentukan oleh beberapa faktor, seperti: skill yang diperlukan dalam pekerjaan, jenis usaha, ukuran perusahaan, lokasi perusahaan, laba perusahaan, penawaran dan permintaan kerja, sampai dengan perbedaan gender (Riani, 2014).

2. Budaya Paternalistik di Indonesia

Budaya paternalistik merupakan budaya yang menempatkan kaum laki-laki sebagai pusatnya dan kaum wanita sebagai subordinat dari kaum laki-laki (Arjani, 2007). Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang masih kental dengan nilai-nilai budaya dan adat istiadat dalam kehidupan bermasyarakatnya. Di Indonesia terdapat dua sistem kekerabatan yang dianut oleh mayoritas suku di Indonesia, yaitu sistem patrilineal dan matrilineal. Dari kedua sistem ini, sistem yang paling banyak dianut oleh suku-suku yang ada di Indonesia adalah sistem patrilineal yang mengambil sistem kekerabatan dari pihak Ayah. Budaya yang dibawa oleh sistem kekerabatan patrilineal disebut budaya paternalistik (Arjani, 2007).

3. Hak (Tunjangan Non-Finansial) bagi Pekerja Perempuan dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia

Dengan banyak digaungkannya tuntutan kesetaraan dan keadilan tingkat kompensasi antara pegawai pria dan pegawai perempuan, ditambah lagi dengan banyaknya konvensi dan peraturan perundang-perundangan lain yang mengatur akan hal ini, sudah selayaknya pegawai perempuan mendapatkan kesempatan kerja dan kompensasi yang setara dengan pegawai pria. Bahkan sebenarnya tanpa hal inipun, sebagai sesama warga negara, seperti yang tercantum dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, berhak memiliki hak dan martabat yang sama dan sederajat dalam mengatur kehidupan masing-masing (Ernawati, 2014).

Meskipun begitu, laki-laki dan perempuan diciptakan dengan berbeda. Ada beberapa kondisi khusus yang dialami perempuan yang tidak dialami oleh kaum pria. Dengan adanya kondisi khusus yang merupakan bagian kodrat dari perempuan, perusahaan mencoba memberikan beberapa toleransi dan kebijakan terkait dengan kondisi khusus ini. Kebijakan dan toleransi yang ada ini jika dilihat lebih dalam lagi merupakan pencerminan dari kompensasi nonfinansial yang diberikan kepada pekerja perempuan. Namun, pada praktiknya masih banyak hak dan kompensasi nonfinansial dari pekerja perempuan yang terabaiakan atau sengaja tidak diindahkan. Beberapa hak dan kompensasi pekerja perempuan yang diatur dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia antara lain:

a. Cuti Haid

Pegawai perempuan yang sedang melalui proses menstruasi berhak mengambil cuti pada hari pertama dan kedua, disertai dengan pemberitahuan kepada pihak manajemen perusahaan. Hal ini diatur dalam UU. No. 13 Tahun 2003 Pasal 81 (Ernawati, 2014).

b. Cuti Hamil dan Melahirkan

Pegawai perempuan yang sedang melalui proses melahirkan berhak beristirahat selama 1,5 bulan sebelum dan setelah melahirkan. Pegawai tersebut juga wajib memberitahukan hal ini kepada manajemen perusahaan selambat-lambatnya 1,5 bulan sebelum jadwal kelahiran yang ditentukan. Hal ini diatur dalam UU. No. 13 Tahun 2003 Pasal 82 (Ernawati, 2014).

c. Cuti Keguguran

Pekerja perempuan yang mengalami keguguran berhak beristirahat selama 1,5 bulan pascakeguguran dan/ atau sesuai dengan surat keterangan ahli kesehatan yang menanganinya. Perkara ini diatur dalam UU. No. 13 Tahun 2003 Pasal 82 ayat 2 (Ernawati, 2014).

d. Biaya Persalinan untuk Pekerja Wanita

e. Hak Menyusui dan/ atau Memerah ASI

Pekerja perempuan yang masih menyusui anaknya, berhak mendapatkan waktu untuk menyusui anaknya, atau paling tidak diizinkan untuk memerah ASInya. Hal ini diatur dalam UU. No. 13 Tahun 2003 Pasal 83 (Ernawati, 2014).

f. Hak Mendapatkan Fasilitas Khusus

Pekerja perempuan yang bekerja pada jam-jam ganjil antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00, berhak mendapatkan fasilitas khusus seperti penyediaan makanan dan minuman bergizi, penjaminan keamanan di lokasi kerja, dan transportasi antar jemput ke dan dari tempat kerja Hal ini diatur dalam UU. No. 13 Tahun 2003 Pasal 76 ayat 3 (Ernawati, 2014).

g. Larangan PHK terhadap Pekerja Perempuan

Perusahaan tidak boleh melakukan PHK terhadap pekerja perempuan yang berada dalam situasi: sedang menikah, hamil, atau melahirkan. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Permen 03/ Men/ 1989 (Ernawati, 2014).

C. PEMBAHASAN

Di era modern ini, banyak perempuan yang ikut turun tangan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Alasan ini menenunjukkan bahwa alasan utama dari mayoritas kaum perempuan untuk bekerja adalah untuk mengejar kepuasan karir maupun pendidika semata, melainkan karena tuntutan kebutuhan hidup. Hal ini menggambarkan bahwa motivasi kaum perempuan untuk bekerja, khususnya di Indonesia, belum terlalu kuat, terlebih lagi bagi mereka yang masih hidup di daerah pedesaan. Fenomena ini merupakan implikasi dari persepsi dan stigma yang telah terbangun dalam masyarakat bahwa tugas utama kaum perempuan adalah mengurus keluarga dan segala macam urusan rumah tangga, sehingga tidak perlu berkontribusi secara proaktif dalam kegiatan pemenuhan ekonomi keluarga. Masyarakat pemegang budaya paternalistik percaya bahwa hal-hal semabcam ini merupakan urusan kaum pria, sehingga tidak sepantasnya bahwa kaum perempuan terlibat secara dominan dalam kegiatan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2007, menunjukkan bahwa tingkat partisipasi kaum perempuan dalam lapangan kerja meningkat 2, 12 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kendati begitu, sebagian besar tenaga kerja perempuan terserap ke dalam bidang pertanian, perdagangan, serta sektor informal yang lainnya. Hasil ini sekaligus mencerminkan masih rendahnya jumlah kaum perempuan yang mampu mengenyam jenjang pendidikan lebih tinggi, mengingat untuk mampu memperoleh pekerjaan di sektor industri, pemerintahan, dan sektor yang bersifat lebih formal lainnya dibutuhkan standar pendidikan yang lebih tinggi jika dibanding dengan sektor pertanian dan perdagangan.

Gambar 1. Penduduk Perempuan Usia 15 Tahun ke Atas menurut Kegiatan Februari 2005-Februari 2007 (Sumber: Badan Pusat Statistik, 2007)

Arjani (2007), menemukan bahwa perbandingan jumlah antara perempuan dan laki-laki yang mampu menyelesaiakan pendidikan sampai dengan jenjang Strata 1 adalah 6,7% : 4,9%. Hal ini dipengaruhi budaya paternalistik yang masih kental pada masyarakat Indonesia yang memandang bahwa perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan yang tinggi, karena pada akhirnya kodrat perempuan adalah tinggal di rumah untuk mengurus urusan rumah tangga.

Untuk jumlah kompensasi pokok (finansial) yang diterima oleh pekerja perempuan yang bekerja dalam waktu penuh ternyata 23% lebih rendah jika dibanding dengan jumlah kompensasi yang diterima oleh pekerja pria yang bekerja dengan jumlah jam kerja yang sama (Adams et al., 2007). Hal ini dilatarbelakangi oleh perbedaan beban kerja yang diberikan oleh manajemen kepada pekerja perempuan dan pekerja pria, misalnya manajemen tidak akan menempatkan pekerja wanita pada sebuah tugas yang dianggap berbahaya memiliki risiko keamanan yang tinggi. Manajemen akan lebih memilih untuk menugaskan pekerja pria dengan meningkatkan jumlah kompensasi yang diterimanya, biaya ini dianggap lebih rendah jika dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan apabila terjadi kecelakaan kerja terhadap pekerja perempuan. Kasus lain lagi terjadi ketika manajemen harus menugaskan pekerja perempuan, khususnya yang sudah menikah, ke dalam suatu perjalanan bisnis. Karena kaum perempuan memiliki tanggung jawab untuk mengurus keluarganya, maka akan banyak pertimbangan yang harus dibuat ketika menugaskan mereka ke dalam suatu perjalanan bisnis, terutama yang mengharuskan mereka menetap dalam periode waktu yang lama. Oleh karena itu manajemen akan lebih sering menugaskan pekerja pria untuk melakukan perjalanan bisnis. Perkara kepercayaan dan tenggung jawab kerja inilah yang menimbulkan selisih kompensasi antara pekerja pria dan wanita.

Perbedaaan perlakuan juga terjadi antara kaum pria dan perempuan ketika mereka sudah menikah. Untuk kaum perempuan status perkawinan bisa menjadi faktor penentu dalam kemajuan karirnya. Hal ini bahkan sudah mulai terlihat sejak proses rekruitmen pekerja. Kebanyakan perusahaan saat ini lebih mengutamakan mencari pekerja perempuan dengan status lajang. Pekerja perempuan dengan status lajang juga memiliki kesempatan yang lebih terbuka untuk mendapatkan fasilitas tingkat pendidikan yang lebih tinggi atau bahkan mendapatkan promosi jabatan. Adams et al., (2007) menemukan bahwa rata-rata CEO dengan jenis kelamin perempuan berusia empat tahun lebih muda dan memiliki pengalaman kerja yang tiga tahun lebih sedikit dari CEO pria. Para CEO perempuan ini mayoritas bekerja pada bidang jasa maupun perdagangan dengan skala perusahaan yang lebih kecil jika dibanding dengan para CEO pria. Situasi yang berlawanan terjadi pada pekerja pria, ketika pekerja pria sudah menikah maka mereka justru akan sering mendapatkan tawaran promosi pekerjaan maupun jabatan. Khoreva (2011) berpendapat bahwa situasi ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa pria yang sudah menikah memiliki tugas sebagai kepala keluarga dan harus bertanggung jawab untuk menghidupi anggota keluarganya. Faktor ini juga disertai dengan asumsi bahwa pendapatan suami harus lebih tinggi dari istri karena pendapatan istri dianggap sebagai sumber pendapatan sekunder keluarga.

Sebagai salah satu perwujudan kompensasi nonfinansial bagi pekerja perempuan, pemerintah telah mengatur beberapa hak dan fasilitas khusus bagi pekerja perempuan yang seharusnya disediakan oleh perusahaan. Hak-hak istimewa pekerja perempuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan Indonesia antara lain:

a. Cuti haid b. Cuti hamil dan melahirkan c. Cuti keguguran d. Biaya persalinan untuk pekerja wanita

e. Hak menyusui dan/ atau memerah asi

f. Hak mendapatkan fasilitas khusus

g. Larangan PHK terhadap pekerja perempuan di bawah situasi tertentu

Hak-hak di atas bahkan dianjurkan oleh organisasi dunia (ILO) agar dipenuhi oleh perusahaaan demi menjamin kesejahteraan pekerja secara merata. Namun sayangnya terkadang perusahaan belum bisa memenuhi hak-hak ini secara penuh, misalnya saja seperti hak cuti haid dan hak mendapatkan fasilitas khusus yang masih sering dilalaikan oleh manajemen perusahaan. Di sisi lain, Ardiyan (2012) berpendapat bahwa kompensasi nonfinansial ini bisa memiliki dua mata pisau, di satu sisi memenuhi hak yang harus didapatkan pekerja perempuan tetapi di lain sisi dapat menghilangkan kesempatan pekerja perempuan untuk mendapatkan bentuk kompensasi lain yang juga diterima oleh pekerja pria. Asumsi yang menganggap bahwa perempuan merupakan subordinat dari laki-laki dan pendapatan istri merupakan sumber pendapatan keluarga memicu situasi ini. Kaum perempuan dianggap telah mendapatkan kompensasi nonfinansial dari perusahaan ditambah lagi masih menerima nafkah dari suaminya, maka dengan dasar pemikiran ini perusahaan memutuska untuk tidak perlu menambahkan kompensasi yang lain lagi bagi pekerja perempuan.

D. KESIMPULAN

Meskipun partisipasi kaum perempuan dalam lapangan pekerjaan telah meningkat seiring dengan perkembangan zaman tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa masih saja ada batasan-batasan yang terasa bagi kaum perempuan dalam mengembangkan karirnya. Batasan-batasan ini pada akhirnya menciptakan perbedaan perlakuan antara pekerja perempuan dan pekerja laki-laki yang berujung pada kesenjangan kompensasi antara keduanya. Kesenjangan ini dipicu juga oleh budaya dan pandangan yang berkembang dalam masyarakat yang menempatkan perempuan di tempat kedua setelah laki-laki. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri pula bahwa kaum perempuan memiliki keterbatasan kemampuan dalam memenuhi tugas-tugas tertentu yang bisa dilengkapi oleh kaum pria, sehingga pada akhirnya distribusi tanggung jawab dan beban kerja lebih banyak kepada pekerja pria.

DAFTAR PUSTAKA

Adams, Susans. et al. 2007. “Gender differences in CEO compensation: evidence from the USA. Women in Management Review, Vol. 22, Iss. 3, pp. 208-224.

Ardiyan. 2012. “Wanita Pekerja, antara Diskriminasi dalam Lingkungan Kerja dan Tanggung Jawab terhadap Rumah Tangga”. Ilmiah, Vol. 4, No. 2.

Arjani, Ni Luh. 2007. Feminisasi Kemiskinan dalam Kultur Patriarki: tidak diterbitkan.

Badan Pusat Statistik. 2007. Berita Resmi Statistik, No. 28, Edisi 5, Th. X. Jakarta: BPS.

Ernawati, Uci. 2014. “Hak Pekerja Perempuan dan Hukum yang Mengatur Perlindungannya”. Laporan Penelitian Pelanggaran Hak Buruh Perempuan dan Upaya Advokasi Buruh. TURC.

Hainam, Maria. 2014. Mengenal Sistem Kekerabatan Patrilineal dan Matrilineal [Online]. Tersedia: http://sosbud.kompasiana.com/2014/05/31/mengenal-sistem-kekerabatan-patrilineal-dan-matrilineal-661714.html [22 Desember 2014].

Khoreva, Violetta. 2011. “Gender pay gap and its perceptions”. Equality, Diversity, and Inclusion: An International Journal, Vol. 30, Iss. 3, pp. 233-248.

Mondy, R.W. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Kesepuluh (terjemahan). Jakarta: Penerbit Erlangga.

Riani, A.L. 2014. Perspektif Kompensasi Perusahaan, CEO, dan Karyawan. Surakarta: Yuma Pustaka.

Wikipedia. 2013. Patrilineal [online]. Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Patrilineal [22 Desember 2014].

Similar Documents

Free Essay

Walmart's Woman

...atau perkara adanya diskriminasi terhadap pekerja wanita di walmart. Mereka mengajukan perkara tersebut dengan alasan: 1. Mendapatkan bayaran yang lebih sedikit dibanding dengan pekerja laki-laki. 2. Pekerja wanita menerima promosi jabatan dalam jangka waktu yang lebih lama dibanding dengan pekerja laki-laki. Kasus ini baru muncul setelah 10 tahun lebih awal oleh 6 wanita amerika yang bekerja di 13 toko walmart. Mereka meminta perusahaan untuk membayarkan kompensasi yang mereka anggap belum erlalu adil akibat diskriminasi gender seperti yang diisukan. Beberapa para ahli menganalisis bahwa jika walmart mengiyakan kasus tersebut maka walmart akan menanggung kerugian yang sangat besar. Budaya perusahaan yang diterapkan yakni “Always Low Prices” sangatlah kuat. A 3 kepeercayaan dasar yang diterapkan perusahaan. Yang pertama adalah menghargai tiap individu. Yang kedua adalah melayani pelanggan . Dan yang ketiga adalah bekerja excellent. Untuk meraih ketiga tujuan atau prinsip dasar tersebut, maka didakanlah training mingguan bagi para manajer dan karyawan. Manajer mengajarkan kepada bawahannya dan terus melakukan upaya evaluasi terhadap kinerja karyawanagar tetap menaati 3 kepercayaan dasar yang dianut perusahaan. Dan karyawan yang menaati dan berkomitmen akan mendapatkan reward. Dengan adanya kasus tersebut, reputasi baik yang telah dibangun bertahun-tahun hancur. Pada july 2010, Internal audit menemukan pelanggaran terhadap hukum pekerja atau buruh setempat tentang waktu istirahat...

Words: 815 - Pages: 4

Free Essay

Chapter 12

...TUGAS RESUME CHAPTER 12, 14 DAN 15 MATA KULIAH MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA (KELAS H) KELOMPOK 9 Nama Anggota : Auliana Maharani Puteri / 041411231251 Rila Nickytha Dewi / 041411231252 Fakhrur Rizal / 041411231253 Eva Amelia Rasidahwati / 041411233001 Amira Nadia Sawitri / 041411233004 Anggy Haristya Octari / 041411233015 Aza Rosmala / 041411233032 Kurnia Pramadhani / 041411233038 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS AIRLANGGA 2015 CHAPTER 12 THE ORGANIZATIONAL REWARD SYSTEM DEFINING SYSTEM sistem reward organisasi terdiri dari jenis hadiah yang akan ditawarkan dan distribusi mereka. Imbalan organisasi mencakup semua jenis hadiah, baik intrinsik dan ekstrinsik, yang diterima sebagai hasil kerja oleh organisasi. Imbalan intrinsik yang internal untuk individu dan biasanya berasal dari keterlibatan dalam kegiatan atau tugas-tugas tertentu. Kepuasan kerja dan perasaan. Imbalan ekstrinsik secara langsung dikontrol dan didistribusikan oleh organisasi dan lebih nyata tha reward intrinsik. membayar dan manfaat rawat inap. RELATING REWARDS TO PERFORMANCE Pertimbangan untuk menentukan reward yang akan diberikan, jumlah prasyarat yang diinginkan telah diidentifikasi dan berlaku umum: * Kepercayaan dalam manajemen * Tidak adanya kendala kinerja * Supervisor terlatih dan manajer * Sistem pengukuran yang baik * Kemampuan untuk membayar * Clear perbedaan antara biaya hidup, senioritas, dan prestasi ...

Words: 1988 - Pages: 8

Free Essay

Grand Jean Company

...| PEMBAHASAN KASUS SPM | | GRAND JEAN COMPANY | Latar Belakang Grand Jean Company didirikan pada pertengahan abad ke-19. Perusahaan tersebut tetap bertahan menghadapi tahun-tahun penuh kesulitan dan pada tahun 1929 mengalami depresiasi besar akibat dari daya tahan pasar pada produk yang dominan tersebut-Jean Blue Denim. Gran Jean menguasai pasar dengan “wash-and-wear” , bell-bottom, dan jean flare, serta celana panjang kasual modern. Pada tahun 1989 perusahaan ini menjadi manufaktur pakaian terbesar didunia. Perusahaan tersebut menyediakan bermacam-macam baju dan pakaian jean untuk pria dan wanita dan celana panjang wanita dengan jenis yang lengkap. Produksi Perusahaan memiliki 25 manufaktur celana panjang. Kapasitas celana panjang bervariasi, tetapi rata-rata output yang dihasilkan 20.000 celana panjang per minggu. Dengan pengecualian dua atau tiga celana panjang yang diproduksi hanya jean blue denim, celana yang dihasilkan berbagai tipe celana panjang. Perusahaan meningkatkan kapasitas produksinya dengan kontrak manufaktur bebas. Sekarang ini ada 20 kontraktor membuat segala jenis celana panhang Grand Jean (digolongkan dalam jean blue denim). Tahun lalu kontraktor memproduksi satu-tiga jumlah penjualan celana oleh Grand Jean. Tom wicks, wakil direktur untuk operasi produksi memberikan pendapat perusahaan menggunakan kontraktor luar. “Sebagian besar kontraktor ini telah bekerja sama dengan kita selama lima tahun atau lebih. Beberapa dari mereka telah memberikan...

Words: 2134 - Pages: 9

Free Essay

Analisis Kasus Sumber Daya Manusia Pada Nike, Inc Di Indonesia

...TUGAS INDIVIDU MATA KULIAH ORGANISASI DAN SUMBER DAYA MANUSIA Analisis Kasus Sumber Daya Manusia Pada NIKE, Inc di Indonesia (Upah, Jam Kerja, Usia Pegawai, Uang Lembur, dan Pesangon) Oleh: Novina Eka S. P056111291.47 Dosen: Prof. Dr. Ir. Aida Vitayala S. Hubeis PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN DAN BISNIS SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012 OSDM – Studi Kasus NIKE - novinaekas DAFTAR ISI Halaman Daftar Isi ........................................................................................................... 2 BAB I. PENDAHULUAN ........................................................................... 3 I.1 Latar Belakang ............................................................................ 3 I.2 Tujuan Penulisan ......................................................................... 4 BAB II. LANDASAN TEORI ...................................................................... 5 II.1 Manajemen Sumber Daya Manusia ........................................... 5 II.2 Profil Perusahaan Nike, Inc ....................................................... 7 BAB III. PEMBAHASAN ............................................................................ 12 III.1 Penjabaran Kasus .................................................................... 12 III.2 Pembahasan ............................................................................. 15 III.3 Manajemen Sumber Daya...

Words: 5352 - Pages: 22

Free Essay

Summary Global War for Talent

...SUMMARY GLOBAL WAR FOR TALENT Disusun Oleh: Yesa Ardiansyah Perdana (1306357762) MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA 2014 Introduction Seiring perkembangan ekonomi global yang pesat dari tahun 2002-2007, pemimpin bisnis dan manajer sumber daya manusia mengkhawatirkan mengenai kompetisi internasional untuk talent yang semakin intens. Survei Global Tahunan PricewaterhouseCooper menunjukkan bahwa 89% CEO yang mengikuti survei menaruh ‘people agenda’ sebagai salah satu prioritas mereka. Saat ini, dengan krisis finansial global, perlambatan ekonomi, dan restrukturisasi massal, “talent” tetap menjadi agenda penting yang difokuskan pada achiever tertinggi. Survei yang baru-baru ini dilakukan oleh Hewitt (2008) menunjukkan bahwa meskipun perekonomian menurun; kebanyakan perusahaan masih berniat untuk fokus pada top talent, dengan hampir setengahnya berencana untuk menjaga atau meningkatkan biaya learning and development. The talent concept “War for talent” secara resmi diluncurkan pada tahun 1998 ketika McKinsey & Company mempublikasikan laporan yang menyatakan bahwa “talent yang lebih baik patut dipertarungkan”. Menurut McKinsey, talent adalah ... “keseluruhan kemampuan seseorang... kemampuan intrinsik, skill, pengetahuan, pengalaman, intelegensi, penilaian, sikap, karakter dan dorongan. Talent juga termasuk kemampuan untuk belajar dan berkembang”. Selain itu, bagi McKinsey talent juga mengacu pada “yang terbaik dan tercerdas”. Saat publikasinya...

Words: 958 - Pages: 4

Free Essay

Makalah

...MAKALAH HUMAN RESOURCE MANAGEMENT BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Menghadapi era globalisasi ini banyak orang yang meramalkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, dimana pada masa mendatang akan membawa tantangan dan kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi oleh masyarakat dan negara yang sedang membangun ini. Walaupun masa mendatang membawa tantangan dan kesulitan, suatu perusahaan tetap dituntut untuk efektif dalam pengelolaan perusahaannya, karena bila tidak demikian perusahaan itu tidak dapat bersaing dengan perusahaan lain atau tidak dapat mengikuti perubahan yang terjadi. Untuk menghadapi tantangan dan kesulitan tersebut maka aset perusahaan yang paling berharga adalah sumber daya manusianya. Sumber daya manusia ini berharga, bukan saja untuk tujuan perkembangan ekonomi, tetapi untuk segala aspek perkembangan kehidupan. Peranan dan tantangan manajemen sumber daya manusia terus berkembang dan semakin hari semakin bertambah banyak, beraneka ragam, rumit, fleksibel dan penting seiring dengan makin besarnya perusahaan, makin rumitnya tugas yang harus dikerjakan, makin besarnya dampak lingkungan serta dinamikanya, makin luas dan besar keterpaduannya dengan lingkungan dan makin besar ketidakpastian yang harus dihadapi perusahaan. Pada saat ini pentingnya peranan manajemen sumber daya manusia tercermin dari kebijaksanaan perusahaan untuk mengatur sumber daya manusianya. Sehingga dapat berperan besar dalam bekerja sama dan mendukung strategi perusahaan. ...

Words: 2889 - Pages: 12

Free Essay

Study Case

...yang sejahtera, adil, makmur, yang merata, baik materiil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. bahwa dalam pelaksanaan pembangunan nasional, tenaga kerja mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan; c. bahwa sesuai dengan peranan dan kedudukan tenaga kerja, diperlukan pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan peransertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan; d. bahwa perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan tanpa 1 diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha; e. bahwa beberapa undang-undang di bidang ketenagakerjaan dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan pembangunan ketenagakerjaan, oleh karena itu perlu dicabut dan/atau ditarik kembali; f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e perlu membentuk Undang-undang tentang Ketenagakerjaan. Mengingat : Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2), Pasal 27 ayat (2), Pasal 28, dan Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan persetujuan bersama antara DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DAN...

Words: 23193 - Pages: 93

Free Essay

Uujk

...masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, yang merata, baik materiil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. bahwa dalam pelaksanaan pembangunan nasional, tenaga kerja mempunyai peranan dan kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan; c. bahwa sesuai dengan peranan dan kedudukan tenaga kerja, diperlukan pembangunan ketenagakerjaan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja dan peran sertanya dalam pembangunan serta peningkatan perlindungan tenaga kerja dan keluarganya sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan; d. bahwa perlindungan terhadap tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja/buruh dan menjamin kesamaan kesempatan serta perlakuan tanpa diskriminasi atas dasar apapun untuk mewujudkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya dengan tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha; e. bahwa beberapa Undang-Undang di bidang ketenagakerjaan dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan tuntutan pembangunan ketenagakerjaan, oleh karena itu perlu dicabut dan/atau ditarik kembali; f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e perlu membentuk Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan. Mengingat: Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (2), Pasal 27 ayat (2), Pasal 28, dan Pasal 33 ayat (1) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan Persetujuan Bersama Antara: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DAN PRESIDEN REPUBLIK...

Words: 23604 - Pages: 95

Free Essay

Pengaruh Penggunaan Job Design Dan Rewards

...BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karyawan atau pekerja dalam sebuah perusahaan keberadaannya tidak bisa diabaikan dan ditawar-tawar dalam eksisnya sebuah perusahaan. Karyawan bisa diakatakan sebagai motor penggerak yang menjalankan kegiatan dalam sebuah perusahaan. Namun tentu saja motor penggerak ini membutuhkan pelumas guna melancarkan geraknya. Bicara mengenai menjalankan kegiatan dan kelancaran dalam penyelenggaraan kegiatan dalam sebuah perusahaan, hal ini sangat erat kaitannya dengan job design yang dianut oleh sebuah perusahaan yang bisa dikatakan sebagai aturan main dan tata cara yang telah dirancang perusahaan untuk kemudian dijalankan oleh segenap karyawan mereka sebagai penggerak dalam perusahaan. Kejelasan aturan main ini sangat penting sifatnya baik untuk perusahaan itu sendiri demi mencapai tujuannya, juga bermanfaat bagi karyawan karena akan memberikan mereka kejelasan mengenai bagaimana mereka bisa bekerja dan seharusnya bekerja, juga bagaimana mereka memahami betul penilaian perusahaan terhadap kinerja mereka akan didasarkan pada hal apa saja. Bukan hanya itu, pada akhirnya job design yang telah ditentukan sebuah perusahaan juga akan menjadi salah satu faktor penentu rewards yang kelak diberikan perusahaan terhadap karyawan mereka yang telah melakukan pekerjaan dengan baik dan memuaskan. Jika dijalankan dengan baik dan benar dan juga jika sesuai dengan kemampuan karyawan, tentu saja kebijakan job design dan rewards ini akan memberikan...

Words: 5309 - Pages: 22

Free Essay

Sistem Informasi Manajemen

...Aplikasi Bisnis Fungsional Sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi Dosen: Disusun oleh: Magister Akuntansi 2015 1. Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen (SIM) Konsep ini menuntut suatu kajian dari beberapa konsep atau gabungan konsep yang menjembatani konsep secara keseluruhan. Konsep tersebut meliputi: a) Konsep sistem Sistem berasal dari bahasa Latin systēma atau bahasa Yunani sustēma yang berarti suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi, atau energi. Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggerak. Menurut John Mc Manama (2012), sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efisien. Karekteristik Sistem Jogianto (2012) dalam bukunya mengemukakan sistem mempunyai karekteristik atau sifat-sifat tertentu, yakni : 1). Komponen Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. komponen-komponen sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem. setiap subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. 2). Batasan sistem. Batasan sistem (boundary)...

Words: 9697 - Pages: 39

Free Essay

Biografi Soekarno (Oleh Cindy Adams)

...Penyambung Lidah Rakyat Indonesia     BUNG KARNO BIOGR@PHY @S TOLD TO CINDY @D@MS                                   BAB I Alasan Menulis Bab ini ... CARA yang paling mudah untuk melukiskan tentang diri Sukarno ialah dengan menamakannya seorang  yang  maha‐pencinta.  Ia  mencintai  negerinya,  ia  mencintai  rakyatnya,  ia  mencintai  wanita,  ia  mencintai  seni dan melebihi daripada segala‐galanya ia cinta kepada dirinya sendiri.  Sukarno  adalah  seorang  manusia  perasaan.  Seorang  pengagum.  Ia  menarik  napas  panjang  apabila  menyaksikan pemandangan yang indah. Jiwanya bergetar memandangi matahari terbenam di Indonesia.  Ia menangis dikala menyanyikan lagu spirituil orang negro.  Orang mengatakan bahwa Presiden Republik Indonesia terlalu banyak memiliki darah seorang seniman.  "Akan  tetapi  aku  bersyukur  kepada  Yang  Maha  Pencipta,  karena  aku  dilahirkan  dengan  perasaan  halus  dan  darah  seni.  Kalau  tidak  demikian,  bagaimana  aku  bisa  menjadi  Pemimpin  Besar  Revolusi,  sebagairnana  105  juta  rakyat  menyebutku?  Kalau  tidak  demikian,  bagairnana  aku  bisa  memimpin  bangsaku  untuk  merebut  kembali  kemerdekaan  dan  hak‐asasinya,  setelah  tiga  setengah  abad  dibawah  penjajahan Belanda? Kalau tidak demikian bagaimana aku bisa mengobarkan suatu revolusi di tahun 1945  dan  menciptakan  suatu  Negara  Indonesia  yang  bersatu,  yang  terdiri  dari  pulau  Jawa,  Bali,  Sumatra,  Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan bagian lain dari Hindia Belanda...

Words: 75361 - Pages: 302

Free Essay

Agree

...DE_SUPERNOVA-_BintanG_jatuH SUPERNOVA Episode: Ksatria, Puteri, dan BintanG jatuH © 2000 Pee H Proof Reader Prof. Dr. Fuad Hassan Hernia wan Aksan Tata Letak Muhammad Roniyadi (thatkid20@yahoo.com) Desain Sampul Tepte (teple@imatrekkie.com) Foto Dissy Ekapramudita Penerbit Truedee Books X Patrakomala no. 57, Bandung 40113, Indonesia Tel/Fax. 62-22-4213691 http://www.truedee.com E-mail: Dooks@truedee.com Hotfine Customer Service: 081-22141015 Pre-press Polar Repro Bandung Percetakan Gpta Cekas Grafika - Bandung Osakanl : Februari 2001 /CefakanU -Maret 2001 hafalan IH : April 2001 Cetakan IV :Juni2001 **«anV ; November 2001 Katalog Dalam Terbitan i ¦fe^'S ^ Bi,Mn* BMK,un8: T»*, Books; 200. $&96257-0-X JudulEngkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal Hidup.Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam Cinta tak bermuara.Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara. Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian. Gerakmu tiada pasti. Namun aku terus di sini. Mencintaimu. Entah kenapa. (catatan di satu pagi buta di atas atap rumah tetangga) Sanksi Pelanggaran Pasat 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 6 tahun 1982 Tentanq Hak Cipta Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak 8p 100.000...

Words: 53406 - Pages: 214

Free Essay

Csr at Mercks

...“Disable doesn’t mean Unable” i|Page “Disable doesn’t mean Unable” DAFTAR ISI DAFTAR ISI ............................................................................................................ i DAFTAR TABEL .................................................................................................. iii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. iv KATA PENGANTAR ............................................................................................ v ABSTRAK ............................................................................................................. vi BAB I MUKADIMAH ........................................................................................... 1 Latar Belakang ............................................................................................... 2 Pengabaian Kaum Penyandang Cacat .................................................. 2 Penyandang Cacat dan Hukum yang Cacat.......................................... 5 Permasalahan ................................................................................................. 7 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 7 Signifikansi Penelitian ................................................................................... 7 Ruang Lingkup Penelitian ............................................................................. 8 Metode...

Words: 28399 - Pages: 114

Free Essay

360degree Feedback

...BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sangatlah memungkinkan bagi suatu perusahaan untuk dapat lebih meningkatkan sumber daya manusianya serta pemanfaatan sumber daya manusia untuk mendapatkan hasil dari pencapaian suatu tujuan. Pencapaian tujuan ini tidak selalu dapat berjalan dengan lancar. Karena itu pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kegiatan usaha, disamping memberikan hasil yang positif, juga dapat menimbulkan hasil yang merugikan. Dengan adanya pembagian kerja secara spesialisasi misalnya, akan memungkinkan terjadinya peningkatan hasil, baik kualitas maupun kuantitas. Kinerja kerja pegawai dalam bekerja dapat menurun. Hal ini disebabkan oleh kebosanan, kurangnya kesadaran arti pentingnya memahami manusia, serta adanya kecenderungan menganggap manusia sebagai mesin. Hal-hal mengenai sumber daya manusia seperti inilah yang memerlukan perhatian dan pemikiran yang sungguh-sungguh, agar diperoleh suatu cara yang terbaik dalam mengatasinya. Setiap perusahaan, baik perusahaan negara maupun perusahaan swasta, perusahaan besar maupun perusahaan kecil, akan selalu berusaha agar para karyawan yang dipekerjakan pada perusahaan tersebut memiliki kepuasan kerja yang tinggi. Kepuasan kerja karyawan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti lingkungan tempat karyawan tersebut bekerja, rekan kerja yang mendukung serta kenyamanan yang diberikan perusahaan kepada karyawannya. Dengan demikian...

Words: 17308 - Pages: 70