Free Essay

Pengaruh Getaran Seluruh Tubuh Terhadap Nyeri Punggung Bawah

In:

Submitted By hudanul
Words 2653
Pages 11
JURNAL

HUBUNGAN PAPARAN GETARAN SELURUH TUBUH PADA TEMPAT DUDUK SOPIR DENGAN TINGKAT KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA SOPIR TRUK DI PT ALN SIDOARJO

Oleh :

MUHAMMAD HUDANUL HAKIM NIM. 100710077

UNIVERSITAS AIRLANGGA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT SURABAYA 2011

HUBUNGAN PAPARAN GETARAN SELURUH TUBUH PADA TEMPAT DUDUK SOPIR DENGAN TINGKAT KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA SOPIR TRUK DI PT ALN SIDOARJO
Muhammad Hudanul Hakim Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga One of the causes of Low Back Pain (LBP) is exposure whole body vibration(WBV). Truck drivers are at high risk of developing LBP. The objective of this study was to analyze the association between whole body vibration exposure and level of low back pain among truck drivers of PT ALN Sidoarjo. This was an observational study with cross sectional design. Data were collected by means of questionnaire for interviewing, measuring of vibration intensity and for observation truck. The research sample were 20 truck drivers rope drawn from the population by purposive sampling with criteria. Independents variables were age, duration of exposure, working hours per day, smoking habit, regular exercise, brand of truck, years of manufacture truck, and WBV. Dependent variable was LBP. The writer used the coefficient contingency (C) and correlation rank spearman(rs) to determine the strength of association between variables. The results showed that the majority of respondents age were 31-40 years (50%), duration of exposure were < 10 years(75%), did regular exercise (80%), had smoking habit (70%), brand of truck used Nissan CKA 12 BTX (85%), years of manufacture truck were 1997-1998(45%), all respondent were work >8 hours a day (100%), and measurements of WBV minimal were 0,6 m/s2 and maximal 5,4 m/s2. Mayority of WBV over constraint based on ISO 2631 using standard safety and health (95%). Whereas degree of LBP majority was medium(55%). Statistically, there was medium correlation between degree of LBP with WBV (rs=0,45) and age (C=0,363). Between WBV with brand of truck (C=0,446). Between WBV based on ISO 2631 using standard safety and health with LBP (C=0,271). It can be concluded that truck drivers are at risk developing of LBP. Therefore, it is suggested that company perform medical examination both preplacement and periodic to truck drivers, maintenance the existing truck and provide training of truck driver about occupational safety and health. PENDAHULUAN Getaran seluruh tubuh (whole body vibration) merupakan suatu gerakan mekanik yang ditransmisikan melalui permukaan kursi atau lantai. Getaran seluruh tubuh yang berasal dari alat berat ditransmisikan melalui tempat duduk operator ke tulang belakang. Getaran seluruh tubuh ini biasanya dialami oleh pengemudi kendaraan seperti bus, helikopter atau kapal. Biasanya frekuensi pada getaran jenis ini adalah sebesar 5-20 Hz (Emil Salim, 2002). Pada frekuensi antara 4 – 12 hertz getaran pada seluruh tubuh dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem otot dan tulang. Pada getaran seluruh tubuh, getaran akan diteruskan ke tulang dan sendi terutama sendi tulang belakang, getaran ini menyebabkan kerusakan pada sel tulang rawan dan kemudian akan terjadi peradangan pada tulang rawan yang bersangkutan. Setelah pemaparan yang berulang dan menahun getaran seluruh tubuh akan mengakibatkan kerusakan yang permanen pada sendi arhritis yang akhirnya menyebabkan keluhan nyeri punggung bawah atau low back pain (Siswanto, 1991). menurut Peter Vi (2000) Tarwaka, Solichul dan Lilik (2004) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan nyeri

punggung yaitu peregangan otot yang berlebihan, aktivitas berulang, sikap kerja tidak alamiah, faktor penyebab sekunder yang terdiri dari tekanan, getaran dan mikrolimat; kombinasi dari faktor penyebab yang lain, serta faktor individu yang berupa umur, jenis kelamin, masa kerja, jam kerja, istirahat, kebiasaan merokok, kesegaran jasmani, kekuatan fisik dan ukuran tubuh. Getaran yang merupakan salah satu faktor sekunder yang dapat menyebabkan nyeri punggung bawah atau low back pain merupakan faktor penyebab sekunder dominan yang dialami oleh sopir truk di PT ALN, Getaran yang diterima oleh para sopir merupakan getaran seluruh tubuh atau whole body vibration dimana getaran yang terjadi berasal dari akselerasi kendaraan yang merambat ke tempat duduk kemudi. Faktor pendukung besarnya getaran yang merambat ke tempat duduk kemudi selain bersumber dari akselerasi kendaraan juga dapat bersumber pada merk dari truk yang digunakan, tahun pembuatan truk, muatan yang dibawa oleh truk, kondisi mesin, kecepatan, kondisi jalan serta system suspensi truk. Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah yang dapat diambil adalah “Bagaimana hubungan paparan getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir terhadap tingkat nyeri punggung bawah pada sopir truk di PT ALN Sidoarjo?". METODE peneliti menggunakan metode observasi, untuk rancangan penelitiannya menggunakan cross sectional karena pengambilan data dilakukan pada saat itu juga. Populasi penelitian ini adalah semua sopir truk yang bekerja di ALN sebanyak 35 sopir truk. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan menggunakan kriteria inklusi yaitu pekerja dengan jenis kelamin laki-laki, bersedia dijadikan sampel penelitian, umur dari 20 sampai 65 tahun, masa kerja lebih atau sama dengan 1 tahun, Tidak menderita penyakit diabetes mellitus, hipertensi, penyakit ginjal, kelainan syaraf, kelainan tulang

belakang, dan obesitas, Sebelumnya tidak pernah bekerja yang bersifat mengangkut, mengangkat atau bekerja dalam keadaan yang postur tubuh yang jangga dan tidak pernah mengalami cidera punggung sehingga jumlah responden yang didapat adalah 20 orang. Variabel bebas berupa karakteristik responden yaitu umur, masa kerja, jam kerja, kebiasaan olahraga dan kebiasaan merokok; karakteristik truk yaitu merk truk dan tahun pembuatan truk; serta getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir. Sedangkan variabel terikat yaitu keluhan nyeri punggung bawah. Untuk melihat kuat hubungan antar variabel yang diteliti dengan cara membandingkan antara koefisien maksimal dengan skala data minimal nominal adalah menggunakan koefisien kontingensi sedangkan skala data ordinal dengan menggunakan korelasi rangking spearman. HASIL Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dapat diidentifikasi distribusi responden dalam penelitian paling banyak adalah 50% rentang umur 31-40 tahun, 75% bekerja <10 tahun, 100% bekerja >8 jam, 80% memiliki kebiasaan olahraga, dan 70% memiliki kebiasaan merokok. Untuk distribusi karakteristik truk mayoritas adalah merk truk menggunakan Nissan CKA 12 BTX (85%) dan 45% mempunyai tahun pembuatan pada rentang tahun 1997-1998. Besar getaran seluruh tubuh yang dihasilkan mayoritas terdapat pada rentang 0,6-2,2 m/s2. Jika besar getaran seluruh tubuh tersebut dibandingkan dengan standar ISO 2631 dengan batasan keselamatan dan kesehatan, 95% melebihi standar. Tingkat keluhan nyeri punggung bawah yang dirasakan sopir truk mayoritas pada tingkat keluhan sedang(55%). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan sedang antara merk truk dengan besar getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir(C=0,446) dan hubungan terbalik lemah antara tahun pembuatan truk

dengan besar getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir (rs= - 0,084). Berdasar hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan sedang antara umur dengan keluhan nyeri punggung bawah, hubungan lemah antara masa kerja (C=0,134), kebiasaan merokok (C=0,207) dan kebiasaan olahraga (C=0,188) dengan keluhan nyeri punggung bawah. Pada hubungan antara lama jam kerja dengan keluhan nyerio punggung bawah adalah konstan. Terdapat kuat hubungan sedang antara besar getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir dengan keluhan nyeri punggung bawah (rs=0,450) dan hubungan yang terjadi antara besar getaran seluruh tubuh berdasar ISO 2631 batasan keselamatan dan kesehatan dengan tingkat keluhan nyeri punggung bawah adalah sedang(C=0,271). PEMBAHASAN Hasil uji statistik yang dilakukan untuk menunjukkan kuat hubungan antara besar getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir dengan merk truk, menggunakan koefisien kontingensi adalah sedang (C = 0,446). Hal ini sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa setiap perusahaan pembuat truk mempunyai standar getaran yang berbeda-beda bahkan untuk satu pabrik pembuat truk dengan merk yang sama tetapi memiliki tipe yang berbeda juga mempunyai standar getaran yang berbeda. Dimana dalam hal komponen mesinnya berbeda dalam bentuk, ukuran, bahan dan suspensi yang berbeda-beda (Doan, 2000). Hasil uji statistik dengan menggunakan korelasi ranking spearman untuk mengetahui kuat hubungan antara merk truk dengan besar getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir yaitu sebesar -0,084. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kuat hubungan yang terjadi antara lamanya tahun pembuatan truk dengan getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir yang dihasilkan adalah berbanding terbalik. Artinya semakin lama tahun pembuatan truk maka besar getaran yang dihasilkan akan semakin besar, begitu juga sebaliknya jika

semakin baru tahun pembuatan truk maka besar getaran yang dihasilkan dapat semakin kecil. Hal ini sesuai dengan teori bahwa bahwa semakin tua truk maka getaran yang dihasilkan truk cenderung semakin besar. Hal ini karena struktur mesin atau roda dan komponen lain yang sudah mulai aus atau rusak oleh karena panas dan perputaran motor. Selain itu karena dudukan mesin mengeras sehingga getaran akan menjalar ke rangka dan pengendaranya. Bantalan peredam getaran yang mungkin mulai mengeras mengakibatkan fungsi dari peredam akan mulai berkurang (Slamet B, 2000). Selain dua variabel yang dijelaskan diatas terdapat variabel-variabel lain yang kemungkinan menambah besar getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir dan variabel- variabel ini merupakan hal yang tidak diteliti oleh peneliti tetapi merupakan faktor yang juga menambah besarnya getaran seluruh tubuh. Variabel tersebut adalah muatan yang dibawa oleh truk. Di PT ALN sendiri muatan yang dibawa adalah sekitar 40 ton. Pada muatan ini sebenarnya sudah melebihi batas yang dianjurkan oleh Ditjen Perhubungan Darat pada jalan kelas II dan kelas III.A yang dapat merusak jalan yang dilalui oleh truk. Muatan yang melebihi batas tersebut tentu sangat berisiko untuk menambah besarnya getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir dan menambah pula resiko untuk terkena nyeri punggung bawah. Variabel lain yang juga mempengaruhi besarnya getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir adalah sistem suspensi pada truk. Menurut Ratna (2005) fungsi utama sistem suspensi adalah untuk kenyamanan pengendaraan, selain untuk keselamatan juga untuk menciptakan keadaan tidak melelahkan bagi penumpang dan komponen kendaraan tidak cepat rusak. Kenyamanan dalam berkendara sangat dipengaruhi oleh baik tidaknya kinerja sistem suspensi. Di PT ALN sistem suspensi ini cukup diperhatikan oleh sopir truk, hanya saja pemeriksaan atau perawatan yang dilakukan tidak berkala,

hanya dilakukan ketika sistem suspensi tersebut benar-benar sudah rusak. Variabel lain yang juga mempengaruhi besar getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir adalah kecepatan dan kondisi jalan. Menurut Nugraheni (2002) getaran yang diterima kendaraan dipengaruhi juga oleh kecepatan kendaraan dan rapat gelombang permukaan jalan. Permukaan jalan yang tidak rata dapat memperbesar amplitudo getaran untuk suatu permukaan tertentu, kendaraan kecepatan tinggi pada mesinnya akan mengalami getaran dengan frekuensi yang lebih besar dibandingkan dengan mobil yang berkecepatan rendah dijalan yang sama. Di PT ALN jalan yang dilalui adalah melewati jalan tol dengan arah jalan tol waru sampai tanjung perak sehingga permukaan jalan yang dilalui cukup rata dan dapat memperkecil terjadinya getaran seluruh tubuh. Truk yang melewati jalan tol tentu akan melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi dan resiko untuk menambah besar getaran seluruh tubuh semakin kecil serta resiko terkena keluhan nyeri punggung bawah juga semakin kecil. Berdasarkan pada tabel 6.18, keluhan nyeri punggung yang paling banyak menyerang pada kelompok umur 31-40 tahun (50,0%), dan hasil koefisien kontingensi (C = 0,363) menunjukkan bahwa hubungan antara umur dengan tingkat keluhan nyeri punggung bawah adalah sedang. Menurut Tarwaka (2004) menyatakan bahwa pada rentang umur 25 – 65 tahun responden sopir truk memiliki faktor resiko yang tinggi untuk timbulnya keluhan nyeri punggung bawah. Hasil uji stastistik dengan menggunakan uji koefisien kontingensi untuk mengetahui kuat hubungan antara masa kerja responden dengan keluhan nyeri punggung bawah adalah lemah (C=0,134). Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dijelaskan oleh Atmosoehardjo (1994) tentang masa kerja yang sangat lama dapat menambah kemungkinan keluhan nyeri punggung bawah. Ketidaksesuaian hasil penelitian dengan teori tersebut kemungkinan dikarenakan jumlah responden yang bekerja

<10 tahun lebih banyak (75,%) dari pada responden yang bekerja > 10 tahun. hasil dari uji kuat hubungan yang dihasilkan adalah konstan antara getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir dengan nyeri punggung bawah. Hal ini karena semua responden bekerja lebih dari 8 jam(100%). Berdasarkan hasil uji koefisien kontingensi untuk mengetahui kuat hubungan antara tingkat keluhan nyeri punggung bawah dengan kebiasaan olahraga adalah lemah (C=0,207). Hasil ini tidak sesuai dengan teori yang telah dikemukan oleh oleh Dyah, E (2006) bahwa tingkat kesegaran tubuh yang rendah akan mempertinggi resiko terjadinya keluhan otot dan keluhan otot akan meningkat sejalan dengan bertambahnya aktifitas fisik. Hal ini kemungkinan disebabkan sopir truk tersebut walaupun melakukan olahraga tetap saja terkena keluhan nyeri punggung bawah. seperti terlihat pada responden terbanyak yang terkena nyeri punggung bawah adalah responden yang berolahraga pada tingkat keluhan sedang (40,0%). Berdasarkan hasil uji statistic dengan menggunakan uji koefisien kontingensi untuk mengetahui kuat hubungan antara kebiasaan merokok dengan tingkat keluhan nyeri punggung bawah adalah lemah (C=0,188). Menurut Tarwaka (2004) bahwa semakin tinggi frekuensi merokok seseorang maka semakin tinggi pula tingkat keluhan otot yang dirasakan. Kebiasaan merokok akan dapat menurunkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen menurun dan sebagai akibatnya tingkat kesegaran tubuh juga menurun. Apabila yang bersangkutan harus mengerjakan tugas yang menuntut pengerahan tenaga, maka akan mudah lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah, pembakaran karbohidrat terhambat, terjadi tumpukan asam laktat dan akhirnya timbul rasa nyeri otot, Ketidaksesuaian teori tersebut dikarenakan dari hasil penelitian jumlah rokok yang dikonsumsi dari responden yang merokok, lebih banyak responden yang mengkonsumsi rokok < 1 pack (64,3%).

Variabel yang juga berpengaruh pada tingkat keluhan nyeri punggung adalah pada sikap bekerja. Pekerjaan sebagai seorang sopir tentu duduk dalam posisi yang lama serta rentan untuk membengkokkan punggung. Selain itu rentan terhadap duduk dalam postur tubuh yang janggal. Menurut Peter Vi (2000) Tarwaka, Solichul dan Lilik (2004) Sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebakan posisi bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiah, misal pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk dan kepala terangkat. Hasil uji statistik dengan menggunakan korelasi rangking spearman untuk mengetahui kuat hubungan antara paparan getaran seluruh tubuh pada tempat duduk sopir dengan tingkat keluhan nyeri punggung bawah adalah sedang (0,450). Pada getaran seluruh tubuh, getaran akan diteruskan ke tulang dan sendi terutama sendi tulang belakang, getaran ini menyebabkan kerusakan pada sel tulang rawan dan kemudian akan terjadi peradangan pada tulang rawan yang bersangkutan. Setelah pemaparan yang berulang dan menahun getaran seluruh tubuh akan mengakibatkan kerusakan yang permanen pada sendi arhritis (Siswanto, 1991). Hasil pengukuran getaran jika dibandingkan dengan standar ISO 2631 pada batasan keselamatan dan kesehatan 95% melebihi standar. Menurut Siswanto (1991), getaran seluruh tubuh mempunyai beberapa efek terhadap tubuh yaitu dapat terjadi perubahan pada struktur tulang belakang (osteoarthritis), mengalami gangguan pencernaan (sekresi dan motilitas), mengalami gangguan pada kecepatan konduksi saraf (nerve conduction velocity), mengalami motion sickness (gangguan pada sistem keseimbangan), gangguan penglihatan, kerusakan pada sistem reproduksi wanita dan dapat terkena low back pain, terutama untuk sopir truk, bis dan crane.

KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya kuat hubungan antara paparan getaran seluruh tubuh dengan tingkat keluhan nyeri punggung bawah. Berdasarkan hasil pengukuran dibandingkan dengan ISO 2631 dengan standar batasan keselamatan dan kesehatan getaran seluruh tubuh yang terjadi pada truk adalah sebagian besar truk melebihi batas. Untuk kuat hubungan antara getaran berdasarkan ISO 2631 dengan standar batasan keselamatan dan kesehatan dengan tingkat keluhan tingkat keluhan nyeri punggung bawah yang dihasilkan adalah sedang. Maka sebaiknya perusahaan melakukan pemeriksaan kesehatan awal dan berkala untuk mengetahui kondisi kesehatan pekerjanya, melakukan pemantauan atau pengukuran getaran seluruh tubuh, Memberikan tempat duduk sopir yang lebih ergonomis, melakukan perawatan mesin yang berkala agar dapat mengurangi besar getaran yang terjadi, dan memberikan penyuluhan tentang kesehatan dan keselamatan kerja terutama dalam hal berkendara. DAFTAR PUSTAKA 1. Atmosoehardjo, S. 1994. Penerapan Ergonomi dalam rekayasa manusia mesin/peralatan. Forum Ilmu Kesehatan Masyarakat No. ISSN 02/5-1782. Th. XII, no 1-2, Januari-Juni 1994 2. Salim, E. 2002. Green Company. Jakarta : PT Astra Internasional Tbk 3. Siswanto, A. 1991. Vibrasi. Jawa Timur. Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja 4. Tarwaka, dkk. 2004.Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja Dan Produktivitas. Surakarta: Uniba Pres 5. Dyah, E., Sulaksmono, M., Santi, M. Dan Mahmudah. 2006. Efek Getaran pada Kesehatan Sopir Truk (Ginjal, Saluran Kencing Dan Tulang Belakang). Surabaya. Universitas Airlangga

6. Doan, S. 2000. Mesin Diesel Antara Mitos dan Fakta. http:/www.intisari.co.id (sitasi 7 Mei 2011) 7. Nurgraheni, NT. 2002. Analisis Getaran Pada Suspensi Mobil Untuk Menentukan Konstanta Pegas Yang Sesuai Dengan Kriteria Kenyamanan. Tugas Akhir. Surabaya : Institut Teknologi Sepuluh November

Similar Documents

Free Essay

Sistem Koordinasi

...BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Biologi merupakan ilmu pengetahuan alam yang berguna agar kita mengetahui tentang diri kita dan bumi yang kita huni. Salah satu ilmu biologi tentang diri kita yang harus kita ketahui yaitu  sistem koordinasi atau sistem pengatur tubuh makhluk hidup. Sistem koordinasi merupakan suatu sistem yang mengatur kerja semua sistem organ agar dapat bekerja secara serasi. Sistem koordinasi bekerja untuk menerima rangsangan, mengolahnya dan kemudian meneruskannya untuk menanggapi rangsangan. Di dalam tubuh manusia terdapat tiga perangkat pengatur kegiatan tubuh yaitu system koordinasi yang terdiri  dari saraf,  endokrin (hormon), dan pengindraan. Sistem saraf merupakan salah satu sistem koordinasi tubuh yang bekerja dengan cepat untuk menanggapi adanya perubahan lingkungan yang merangsangnya. Pengaturan sistem dilakukan oleh benang – benang saraf yang akan melaporkannya ke otak. Selain sistem saraf, terdapat sistem hormon yang mengendalikan sistem fisiologis tubuh seperti mengatur pertumbuhan dan perkembangan, metabolisme, keseimbangan internal, reproduksi, serta tingkah laku. Hormon bekerja jauh lebih lambat, tetapi teratur dan berurutan dalam jangka waktu yang lama. Pengangkutan hormon dilakukan melalui pembuluh darah. Sistem saraf berhubungan erat dengan alat indera manusia yang merupakan reseptor rangsang dari luar. System koordinasi pada manusia dan hewan perbedaan. Pada makalah ini akan dibahas satu persatu system koordinasi pada manusia...

Words: 7094 - Pages: 29

Free Essay

Pedang Ular Merah

...Pedang Ular Merah Karya : Kho Ping Hoo Djvu : Widodo & Dewi KZ Converter : Hendra & Dewi KZ Ebook pdf oleh : Dewi KZ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ http://dewi-kz.info/ http://cerita-silat.co.cc/ http://kang-zusi.info Jilid 01 Pegunungan tai hang san di perbatasan Mongolia merupakan daerah pegunungan yang amat luas dan di situ penuh dengan hutan-hutan liar yang jarang dikunjungi manusia. Di puncak bukit yang paling ujung yakni di bagian barat terdapat sebuah hutan yang benarbenar masih liar dan belum pernah ada manusia berani memasukinya. Hutan ini terkenal menjadi sarang binatang buas, terutama sekali banyak terdapat ular berbisa semacam ular yang berkulit merah dan tidak terdapat di lain bagian dunia akan tetapi yang banyak terdapat di hutan itu, membuat hutan itu dinamakan hutan ular merah. Pada suatu pagi yang sejuk dengan sinar matahari yang cerah terdengarlah suara nyaring dan merdu dari seorang anak perempuan berusia paling banyak enam tahun, anak itu mungil dan cantik sekali dengan sepasang matanya yang bening kocak dan dua kuncir rambutnya yang panjang dan hitam. Tiap kali ia menggerakkan kepalanya, kuncirnya itu menyabet ke kanan ke kiri dan kalau kuncirnya melewati pundak lalu jatuh bergantung di atas pundaknya ke depan, ia tampak lucu dan manis. Sambil memetik bunga-bunga hutan yang beraneka warna, anak ini bernyanyi dengan merdu. Akan tetapi sungguh mengherankan suaranya yang amat merdu itu bcrlawanan sekali dengan kata-kata nyanyiannya yang dapat...

Words: 126872 - Pages: 508

Free Essay

Green

...No. Nama Perguruan Tinggi AKADEMI AKUNTANSI PGRI JEMBER Nama Pengusul Sisda Rizqi Rindang Sari Program Kegiatan Judul Kegiatan 1 PKMK KUE TART CAENIS ( CANTIK, ENAK DAN EKONOMIS) BERBAHAN DASAR TAPE 2 AKADEMI FARMASI KEBANGSAAN Nensi MAKASSAR AKADEMI KEBIDANAN CITRA MEDIKA SURAKARTA AKADEMI KEBIDANAN GIRI SATRIA HUSADA AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDIKA SIDOARJO AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDIKA SIDOARJO AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDIKA SIDOARJO Putri Purnamasari PKMK LILIN SEHAT AROMA KURINDU PANCAKE GARCINIA MANGOSTANA ( PANCAKE KULIT MANGGIS ) 3 PKMK 4 Latifah Sulistyowati PKMK Pemanfaatan Potensi Jambu Mete secara Terpadu dan Pengolahannya sebagai Abon Karmelin (Karamel Bromelin) : Pelunak Aneka Jenis Daging Dari Limbah Nanas Yang Ramah Lingkungan, Higienis Dan Praktis PUDING“BALECI”( KERES) MAKANAN BERSERATANTI ASAM URAT 5 Achmad PKMK Zainunddin Zulfi 6 Dian Kartika Sari PKMK 7 Radita Sandia PKMK Selonot Sehat (S2) Diit untuk Penderita Diabetes 8 AKADEMI PEREKAM Agustina MEDIK & INFO KES Wulandari CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Anton Sulistya CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM Eka Mariyana MEDIK & INFO KES Safitri CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Ferlina Hastuti CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM Nindita Rin MEDIK & INFO KES Prasetyo D CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Sri Rahayu CITRA MEDIKA AKADEMI PERIKANAN YOGYAKARTA PKMK Kasubi Wingko Kaya Akan Karbohidrat...

Words: 159309 - Pages: 638