Free Essay

Regional Geology of Kulonprogo

In:

Submitted By reynaradavin
Words 2856
Pages 12
ARTIKEL 1 :
Geologi Regional Kulonprogo
GEOLOGI REGIONAL
II.1. Geomorfologi Regional Menurut penelitian Van Bemmelen (1948), secara fisiografis Jawa Tengah dibagi menjadi 3 zona, yaitu :
1. Zona Jawa Tengah bagian utara yang merupakan Zona Lipatan
2. Zona Jawa Tengah bagian tengah yang merupakan Zona Depresi
3. Zona Jawa Tengah bagian selatan yang merupakan Zona Plato Berdasarkan letaknya, Kulon Progo merupakan bagian dari zona Jawa Tengah bagian selatan maka daerah Kulon Progo merupakan salah satu plato yang sangat luas yang terkenal dengan nama Plato Jonggrangan (Van Bemellen, 1948). Daerah ini merupakan daerah uplift yang memebentuk dome yang luas. Dome tersebut relatif berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 32 km yang melintang dari arah utara -selatan, sedangkan lebarnya sekitar 20 km pada arah barat - timur. Oleh Van Bemellen Dome tersebut diberi nama Oblong Dome. Berdasarkan relief dan genesanya, wilayah kabupaten Kulon Progo dibagi menjadi beberapa satuan geomorfologi antara lain, yaitu :
A. Satuan Pegunungan Kulon Progo
Satuan pegunungan Kulon Progo mempunyai ketinggian berkisar antara 100 – 1200 meter diatas permukaan laut dengan kemiringan lereng sebesar 150 – 160. Satuan Pegunungan Kulon Progo penyebarannya memanjang dari utara ke selatandan menempati bagian barat wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi kecamatan Kokap, Girimulyo dan Samigaluh. Daerah pegunungan Kulon Progoini sebagian besar digunakan sebagai kebun campuran, permukiman, sawah dan tegalan.
B. Satuan Perbukitan Sentolo
Satuan perbukitan Sentolo ini mempunyai penyebaran yang sempit danterpotong oleh kali Progo yang memisahkan wilayah Kabupaten Kulon Progo danKabupaten Bantul. Ketinggiannya berkisar antara 50 – 150 meter diatas permukaan air laut dengan besar kelerengan rata – rata 15 0. Di wilayah ini, satuan perbukitan Sentolo meliputi daerah Kecamatan Pengasih dan Sentolo.
C. Satuan Teras Progo
Satuan teras Progo terletak disebelah utara satuan perbukitan Sentolo dan disebelah timur satuan Pegunungan Kulon Progo, meliputi kecamatan Nanggulan dan Kali Bawang, terutama di wilayah tepi Kulon Progo
D. Satuan Dataran Alluvial
Satuan dataran alluvial penyebarannya memanjang dari barat ke timur, daerahnya meliputi kecamatan Temon, Wates, Panjatan, Galur dan sebagian Lendah. Daerahnya relatif landai sehingga sebagian besar diperuntukkan untuk pemukiman dan lahan persawahan.
E. Satuan Dataran Pantai
a. Subsatuan Gumuk Pasir
Subsatuan gumuk pasir ini memiliki penyebaran di sepanjang pantai selatan Yogyakarta, yaitu pantai Glagah dan Congot. Sungai yang bermuara di pantai selatan ini adalah kali Serang dan kali Progoyang membawa material berukuran besar dari hulu. Akibat dari proses pengangkutan dan pengikisan, batuan tersebut menjadi batuan berukuran pasir. Akibat dari gelombang laut dan aktivitas angin, material tersebut diendapkan di dataran pantai dan membentuk gumuk – gumuk pasir.
b. Subsatuan Dataran Alluvial Pantai
Subsatuan dataran alluvial pantai terletak di sebelah utara subsatuan gumuk pasir yang tersusun oleh material berukuran pasir halus yang berasal dari subsatuan gumuk pasir oleh kegiatan angin. Pada subsatuan ini tidak dijumpai gumuk - gumuk pasir sehingga digunakan untuk persawahan dan pemukiman penduduk.

II.2. Stratigrafi Regional
Menurut Sujanto dan Ruskamil (1975) daerah Kulon Progo merupakan tinggian yang dibatasi oleh tinggian dan rendahan Kebumen di bagian barat dan Yogyakarta di bagian timur, yang didasarkan pada pembagian tektofisiografi wilayah Jawa Tengah bagian selatan. Yang mencirikan tinggian Kulon Progo yaitu banyaknya gunung api purba yang timbul dan tumbuh di atas batuan paleogen, dan ditutupi oleh batuan karbonat dan napal yang berumur neogen.
Dalam stratigrafi regional mengenai daerah fieldtrip, dibahas umur batuan berdasarkan batuan penyusunnya, untuk itu perlu diketahui sistem umur batuan penyusun tersebut. Sistem tersebut antara lain :
1. Sistem eosen
Batuan yang menyusun sistem ini adalah batu pasir, lempung, napal, napal pasiran, batu gamping, serta banyak kandungan fosil foraminifera maupun moluska. Sistem eosen ini disebut “Nanggulan group”. Tipe dari sistem ini misalnya di desa Kalisongo, Nanggulan Kulon Progo, yang secara keseluruhannya tebalnya mencapai 300 m. Tipe ini dibagi lagi menjadi empat yaitu “Yogyakarta beds”, “Discoclyina”, “Axiena Beds” dan Napal Globirena, yang masing - masing sistem ini tersusun oleh batu pasir, napal, napal pasiran, lignit dan lempung. Di sebelah timur ”Nanggulan group” ini berkembang facies gamping yang kemudian dikenal sebagai gamping eosen yang mengandung fosil foraminifera, colenterata, dan moluska
2. Sistem oligosen – miosen
Sistem oligosen – miosen terjadi ketika kegiatan vulkanisme yang memuncak dari Gunung Menoreh, Gunung Gadjah, dan Gunung Ijo yang berupa letusan dan dikeluarkannya material – material piroklastik dari kecil sampai balok yang berdiameter lebih dari 2 meter. Kemudian material ini disebut formasi andesit tua, karena material vulkanik tersebut bersifat andesitik, dan terbentuk sebagai lava andesit dan tuff andesit. Sedang pada sistem eosen, diendapkan pada lingkungan laut dekat pantai yang kemudian mengalami pengangkatan dan perlipatan yang dilanjutkan dengan penyusutan air laut. Bila dari hal tersebut, maka sistem oligosen – miosen dengan formasi andesit tuanya tidak selaras dengan sistem eosen yang ada dibawahnya. Diperkirakan ketebalan istem ini 600 m. Formasi andesit tua ini membentuk daerah perbukitan dengan puncak – puncak miring.
3. Sistem miosen
Setelah pengendapan formasi andesit tua daerah ini mengalami penggenangan air laut, sehingga formasi ini ditutupi oleh formasi yang lebih muda secara tidak selaras. Fase pengendapan ini berkembang dengan batuan penyusunnya terdiri dari batu gamping reef, napal, tuff breksi, batu pasir, batu gamping globirena dan lignit yang kemudian disebut formasi jonggrangan, selain itu juga berkembang formasi sentolo yang formasinya terdiri dari batu gamping, napal dan batu gamping konglomeratan. Formasi Sentolo sering dijumpai kedudukannya diatas formasi Jonggrangan. Formasi Jonggrangan dan formasi Sentolo sama – sama banyak mengandung fosil foraminifera yang beumur burdigalian – miosen. Formasi – formasi tersebut memilik ipersebaran yang luas dan pada umumnya membentuk daerah perbukitan dengan puncak yang relative bulat. Diakhir kala pleistosen daerah ini mengalami pengangkatan dan pada kuarter terbentuk endapan fluviatil dan vulkanik dimana pembentukan tersebut berlangsung terus – menerus hingga sekarang yang letaknya tidak selaras diatas formasi yang terbentuk sebelumnya. Berdasarkan system umur yang ditentukan oleh penyusun batuan stratigrafi regional menurut Wartono Rahardjo dkk(1977), Wirahadikusumah (1989), dan Mac Donald dan partners (1984), daerah penelitian dapat dibagi menjadi 4 formasi, yaitu :
a. Formasi Nanggulan
Formasi Nanggulan mempunyai penyusun yang terdiri dari batu pasir, sisipan lignit, napal pasiran dan batu lempungan dengan konkresi limonit, batu gamping dan tuff, kaya akan fosil foraminifera dan moluska dengan ketebalan 300 m. berdasarkan penelitian tentang umur batuannya didapat umur formasi nanggulan sekitar eosen tengah sampai oligosen atas. Formasi ini tersingkap di daerah Kali Puru dan Kali Sogo di bagian timur Kali Progo. Formasi Nanggulan dibagi menjadi 3, yaitu
1. Axinea Beds
Formasi paling bawah dengan ketebalan lapisan sekitar 40 m, terdiri dari abut pasir, dan batu lempung dengan sisipan lignit yang semuanya berfasies litoral, axiena bed ini memiliki banyak fosil pelecypoda.
2. Yogyakarta beds
Formasi yang berada di atas axiena beds ini diendapkan secara selaras denagn ketebalan sekitar 60 m. terdiri dari batu lempung ynag mengkonkresi nodule, napal, batu lempung, dan batu pasir. Yogyakarta beds mengandung banyak fosil poraminifera besar dan gastropoda.
3. Discocyclina beds
Formasi paling atas ini juga diendapkan secara selaras diatas Yogyakarta beds denagn ketebalan sekitar 200m. Terdiri dari batu napal yang terinteklasi dengan batu gamping dan tuff vulakanik, kemudian terinterklasi lagi dnegan batuan arkose. Fosil yang terdapat pada discocyclina beds adalah discocyclina.
b. Formasi Andesit Tua
Formasi ini mempunyai batuan penyusun berupa breksi andesit, lapili tuff, tuff, breksi lapisi , Aglomerat, dan aliran lava serta batu pasir vulkanik yang tersingkap di daerah kulon progo. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras dengan formasi nanggulan dengan ketebalan 660 m. Diperkirakan formasi ini formasi ini berumur oligosen – miosen.
c. Formasi Jonggrangan
Formasi ini mempunyai batuan penyusun yang berupa tufa, napal, breksi, batu lempung dengan sisipan lignit didalamnya, sedangkan pada bagian atasnya terdiri dari batu gamping kelabu bioherm diselingi dengan napal dan batu gamping berlapis. Ketebalan formasi ini 2540 meter. Letak formasi ini tidak selaras dengan formasi andesit tua. Formasi jonggrangan ini diperkirakan berumur miosen. Fosil yang terdapat pada formasi ini ialah poraminifera, pelecypoda dan gastropoda.
d. Formasi Sentolo
Formasi Sentolo ini mempunyai batuan penyusun berupa batu pasir napalan dan batu gamping, dan pada bagian bawahnya terdiri dari napal tuffan. Ketebalan formasi ini sekitar 950 m. Letak formasi initak selaras dengan formasi jonggrangan. Formasi Sentolo ini berumur sekitar miosen bawah sampai pleistosen.
Sedang menurut Van Bemellen Pegunungan Kulon Progo dikelompokkan menjadi beberapa formasi berdasarkan batuan penyusunnya. Formasi tersebut dimulai dari yang paling tua yaitu sebagai berikut :
a. Formasi Nanggulan
Formasi Nanggulan mempunyai penyusun yang terdiri dari batu pasir, sisipan lignit, napal pasiran dan batu lempungan dengan konkresi limonit, batu gamping dan tuff, kaya akan fosil foraminifera dan moluska dengan ketebalan 300 m. berdasarkan penelitian tentang umur batuannya didapat umur formasi nanggulan sekitar eosen tengah sampai oligosen atas. Formasi ini tersingkap di daerah Kali Puru dan Kali Sogo di bagian timur Kali Progo. Formasi Nanggulan dibagi menjadi 3, yaitu
a. Axinea Beds
Formasi paling bawah dengan ketebalan lapisan sekitar 40 m, terdiri dari abut pasir, dan batu lempung dengan sisipan lignit yang semuanya berfasies litoral, axiena bed ini memiliki banyak fosil pelecypoda.
b. Yogyakarta beds
Formasi yang berada di atas axiena beds ini diendapkan secara selaras denagn ketebalan sekitar 60 m. terdiri dari batu lempung ynag mengkonkresi nodule, napal, batu lempung, dan batu pasir. Yogyakarta beds mengandung banyak fosil poraminifera besar dan gastropoda.
c. Discocyclina beds
Formasi paling atas ini juga diendapkan secara selaras diatas Yogyakarta beds denagn ketebalan sekitar 200m. Terdiri dari batu napal yang terinteklasi dengan batu gamping dan tuff vulakanik, kemudian terinterklasi lagi dnegan batuan arkose. Fosil yang terdapat pada discocyclina beds adalah discocyclina.
b. Formasi Andesit Tua
Formasi ini mempunyai batuan penyusun berupa breksi andesit, lapili tuff, tuff, breksi lapisi , Aglomerat, dan aliran lava serta batu pasir vulkanik yang tersingkap di daerah kulon progo. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras dengan formasi nanggulan dengan ketebalan 660 m. Diperkirakan formasi ini formasi ini berumur oligosen – miosen.
c. Formasi Jonggrangan
Formasi ini mempunyai batuan penyusun yang berupa tufa, napal, breksi, batu lempung dengan sisipan lignit didalamnya, sedangkan pada bagian atasnya terdiri dari batu gamping kelabu bioherm diselingi dengan napal dan batu gamping berlapis. Ketebalan formasi ini 2540 meter. Letak formasi ini tidak selaras dengan formasi andesit tua. Formasi jonggrangan ini diperkirakan berumur miosen. Fosil yang terdapat pada formasi ini ialah poraminifera, pelecypoda dan gastropoda.
d. Formasi Sentolo
Formasi Sentolo ini mempunyai batuan penyusun berupa batu pasir napalan dan batu gamping, dan pada bagian bawahnya terdiri dari napal tuffan. Ketebalan formasi ini sekitar 950 m. Letak formasi initak selaras dengan formasi jonggrangan. Formasi Sentolo ini berumur sekitar miosen bawah sampai pleistosen
e. Forasi Alluvial dan gumuk pasir
Formasi ini iendapan secara tidak selaras terhadap lapisan batuan yang umurnya lebih tua. Litologi formasi ini adalah batu apsr vulkanik merapi yang juga disebut formasi Yogyakarta. Endapan gumuk pasir terdiri dari pasir – pasir baik yang halus maupun yang kasar, sedangkan endapan alluvialnya terdiri dari batuan sediment yang berukuran pasir, kerikir, lanau dan lempung secara berselang – seling. Dari seluruh daerah Kulon Progo, pegunungan Kulon Progo sendiri termasuk dalam formasi Andesit tua. Formasi ini mempunyai litologi yang penyusunnya berupa breksi andesit, aglomerat, lapili, tuff, dan sisipan aliran lava andesit. Dari penelitian yang dilakukan Purmaningsih (1974) didapat beberapa fosil plankton seperti Globogerina Caperoensis bolii, Globigeria Yeguaensis” weinzeierl dan applin dan Globigerina Bulloides blow. Fosil tersebut menunjukka batuan berumur Oligosen atas. Karena berdasarkan hasil penelitian menunjukkan pada bagian terbawah gunung berumur eosin bawah, maka oleh Van bemellen andesit tua diperkirakan berumur oligosen atas sampai miosen bawah dengan ketebalan 660 m.
II.3. Struktur Geologi Regional
Struktur ini dapat dikenali dengan adanya kenampakan pegunungan yang dikelilingi oleh dataran alluvial. Secara umum struktur geologi yang bekerja adalah sebagai berikut :
1. Struktur Dome
Menurut Van Bemellen (1948), pegunungan Kulon Progo secara keseluruhan merupakan kubah lonjong yang mempunyai diameter 32 km mengarah NE – SW dan 20 km mengarah SE – NW. Puncak kubah lonjong ini berupa satu dataran yang luas disebut jonggrangan plateu. Kubah ini memanjang dari utara ke selatan dan terpotong dibagian utaranya oleh sesar yang berarah tenggara – barat laut dan tertimbun oleh dataran magelang, sehingga sering disebut oblong dome. Pemotongan ini menandai karakter tektonik dari zona selatan jawa menuju zona tengah jawa. Bentuk kubah tersebut adalah akibat selama pleistosen, di daerah mempunyai puncak yang relative datar dan sayap – sayap yang miring dan terjal. Dalam kompleks pegunungan Kulon Progo khususnya pada lower burdigalian terjadai penurunan cekungan sampai di bawah permukaan laut yang menyebabkan terbentuknya sinklin pada kaki selatan pegunungan Menoreh dan sesar dengan arah timur – barat yang memisahkan gunung Menoreh denagn vulkan gunung Gadjah. Pada akhir miosen daerah Kulon Progo merupakan dataran rendah dan pada puncak Menoreh membentang pegunungan sisa dengan ketinggian sekitar 400 m. secara keseluruhan kompleks pegunungan Kulon Progo terkubahkan selama pleistosen yang menyebabkan terbentuknya sesar radial yang memotong breksi gunung ijo dan Formasi Sentolo, serta sesar yang memotong batu gamping Jonggrangan. Pada bagian tenggara kubah terbentuk graben rendah.
2. Unconformity
Di daerah Kulon Progo terdapat kenampakan ketidakselarasan (disconformity)antar formasi penyusun Kulon Progo. Kenampakan telah dijelaskan dalam stratigrafi regional berupa formasi andesit tua yang diendapkan tidak selaras di atas formasi Nanggulan, formasi Jonggrangan diendapkan secara tidak selaras diatas formasi Andesit Tua, dan formasi Sentolo yang diendapkan secara tidak selaras diatas formasi Jonggrangan. sumber

Van Bemmelen, R.W..1970. The Geology of Indonesia, volume 1. A.Haque. Netherlands.

Geologi Regional Kulonprogo A. Geomorfologi Regional
Kulon Progo terletak pada bagian selatan Jawa Tengah. Pada Bagian selatan Jawa Tengah terdapat zona plato dan wilayah Kulon Progo dikenal sebagai Plato Jonggarangan(Van Bemmelen 1948).
Pada daerah ini terjadi uplift sehingga membentuk dome yang relative lonjong dengan diameter 32 km membentang dari arah timur laut kea rah barat daya, dan 20 km mengarah ke tenggara-baratdaya. Van Bemmelen member nama dome ini yaitu Oblong dome.
Beberapa satuan geomorfologi di Kulon Progo yaitu: 1. Satuan Pegunungan Kulon Progo
Sataun pegnunungan ini memiliki ketinggian antara 100-1200 mdpl dengan sudut kemiringan lereng berkisar 15o-16 o. satuan Pegunungan Kulonprogo terletak pada kecamatan Kokap, pada bagian barat Yogyakarta dan membentang dari arah utara ke selatan. 2. Satuan Perbukitan Sentolo
Satuan Perbukitan Sentolo memiliki ketinggian 50-150 mdpl dengan besar sudut kemiringan lereng 15o. Perbukitan ini terdapat pada daerah Kecamatan Pengasih dan terpotong oleh sungai Progo. 3. Satuan Teras Progo
Satuan ini terletak di sebelah utara Satuan Perbukitan Sentolo dan di sebelah timur Satuan Pegunungan Kulon Progo, lllebih tepatnnya pada Kecamatan Pengasih dan Sentolo. 4. Satuan Dataran Aluvial
Satuan yang relative landai ini terbentang dari arah barat ke timur, terletak pada Kecamatan Temon, Wates, Pajatan, Galur dan Lendah.

5. Satuan Dataran Pantai a. Subsatuan Gumuk Pasir
Satuan ini terbentang sepanjang Pantai Selatan Yogyakarta, yaitu pantai Glagah dan Congot. Pada satuan ini terdapat gumuk-gumuk pasir akibat adanya material yang terbawa oleh Sungai Progo dan Sungai Serang, lalu karena terbawa angin material berukuran pasir hasil transportasi kedua sungai tersebut membentuk gumuk-gumuk pasir. b. Subsatuan Alluvial Pantai Subsatuan ini terletak di sebelah utara subsatuan gumuk pasir dan merupakan daerah yang datar. Subsatuan ini memiliki material berukuran pasir halus dari trasnportasi material pada subsatuan gumuk pasir. B. Stratigrafi Regional
Daerah Pegunungan Kulon Progo terbagi menjadi empat formasi. Berikut ini formasi Pegunungan Kulon Progo berdasarkan umur dari tua ke muda menurut Van Bemmelen (1949, hal.598) yaitu: 1. Formasi Nanggulan
Merupakan formasi tertua di daerah Pegunungan Kulon Progo yaitu berumur eosen tengah-oligosen atas dan memiliki ketebalan 300m. Formasi ini tersusun atas batu pasir, sisipan lignit, napal pasiran dan batu lempungan, batu gamping dan tuff. Terdapat kandungan fosil yaitu: foraminifera dan moluska. a. Axinea Beds
Formasi ini meiliki ketebalan 40 m. Formasi ini tersusun dari batupasir, dan batulempung. Pada formasi ini banyak terdapat fosil Pelecypoda. b. Djokjakartae Beds
Formasi ini terbentuk selaras dengan Axinea Beds degan ketebalan sekitar 60m. Pada formasi ini banyak terdapat fosil, yaitu fosil foraminifera dan gastropoda. Formasi ini tersusun dari napal, batulempung dan batu pasir. c. Discocyclina Beds Formasi ini memiliki ketebalan sekitar 200m dan terbentuk selaras dengan Djogjakartae beds, tersusun dari batu napal yang terinterklasi dengan batu gamping dan tuff vulkanik, serta terinterklasi dengan batuan arkose (batu pasir dengan kandungan feldspar 25%). Selain itu, terdapat banyak fosil discocyclina. 2. Formasi Andesit Tua
Formasi ini berumur oligosen-miosen dengan ketebalan kurang lebih 660 m. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras dengan formasi Nanggulan. Formasi Andesit Tua tersusun dari breksi andesit,tuff, batulapili, aglomerat, dan batupasir vulkanik 3. Formasi Jonggrangan
Formasi ini diperkirakan berumur miosen, dengan ketebalan formasi hingga 2540 meter. Formasi Jonggrangan tersusun dari tuff, napal, breksi, batulempung dengan sisipan lignit, dan batu gamping bioherm pada bagian atas. Pada formasi Jonggrangan di temukan fosil foraminifera, pelecypoda dan gastropoda (penanda laut dangkal) Formasi ini tidak selaras dengan Formasi Andesit Tua 4. Formasi Sentolo
Formasi Sentolo berumur kira-kira miosen akhir-pleistosen dengan ketebalan ssekitar 950 meter. Formasi Sentolo tidak selaras dengan Formasi Jonggrangan. Formasi ini tersusu n dari batupasir, batu gamping dan napal tufan ada bagian bawahnya. 5. Formasi aluvial dan gumuk pasir
Formasi ini terendapkan secara tidak selaras dengan formasi yang lebih tua. Formasi ini tersusun dari batupasir vulkanik dari Gunung Merapi dan batuan sedimen yang berukuran lempung, lanau, pasir, dan kerikil.

C. Struktur Regional 1. Struktur Dome
Kulon Progo merupakan suatu wilayah yang dilingkupi oleh kubah lonjong dengan diameter 32 km membentang dari arah timur laut kea rah barat daya, dan 20 km mengarah ke tenggara-baratdaya. Pernyataan tersebut diunggakpakn oleh Van Bemmelen (1948). Kubah ini bernama Oblong dome dengan sayap-sayap yang cenderung curam dan terjal. Kubah yang membentang dari utara ke selatan ini terpotong oleh sesar yang mengarah dari tenggara ke barat laut. 2. Unconformity
Antar Formasi-formasi yang terbentuk di Kulon Progo terdapat ketidakselarasan yang tampak paa formasi berikut ini: * Formasi Andesit Tua dengan Formasi Nanggulan * Formasi Jonggrangan dengan Formasi Andesit Tua * Formasi Sentolo dengan Formasi Jonggrangan.

UPN "VETERAN" YOGYAKARTA

Similar Documents