Free Essay

Spasial Tangerang

In:

Submitted By Geroge
Words 1711
Pages 7
Abstrak

Kota tidak akan pernah terlepas dari dinamika perubahan lahan dan permasalahan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang baik selalu dicerrminkan dengan pertumbuhan akan nilai ekonomi. Pertumbuhan nilai ekonomi yang tinggi seharusnya dapat dijadikan parameter bagi kesejahtraan masyarakat. Namun, dalam perkembangannya pertumbuhan nilai ekonmi masyarakat tidak selamanya menjadi cerminan dari kesejahtraan masyarakat. Hal ini sangat bergantung kepada sistem perekonomian yang dianut suatu kota. Jika suatu kota salah dalam membangun sistem perekonomiannya maka akan muncul ketidak merataan kesejahtraan di masyarakat.

Kata Kunci: Ekonomi, kesejahtraan, sistem

BAB I
PENDAHALUAN

1.1. Latar Belakang
Kota Tangerang Selatan merupakan kota yang mulai resmi berdiri pada tanggal 25 mei 2007. Kota ini memiliki visi “Kota Mandiri, Damai, Asri dan Sejahtera.” Kota dengan basis ekonomi pada sektor Pengangkutan dan Komunikasi. (PDRB Kota Tangsel 2009) memiliki pencapain pertumbuhan ekonomi rata rata mencapi 9,11% pertahun, dengan sektor basisnya yang mencapai 10,47% .
Dengan pencapaian tersebut maka, kota Tangerang Selatan dapat dikatakan berhasil dalam mengelola sistem perekonomian kota jika merujuk pada pertumbuhan rata rata ekonomi Indonesia yang baru mencapai 5,9% pertahun dengan sektor pengangkutan dan komunikasi yang mencapai 9,98%. (BPS 2013).
Namun, jika dilihat dari tingkat pengangguran terbuka kota tanggerang selatan sebesar 79.965 (11,98%) dengan tingkat penganguran terbuka Indonesia saat ini 6,25% maka, dapat dikatakan kota Tangerang Selatan tidak mampu menciptakan pemerataan kesejahtraan bagi masyarakatnya sendiri.
Berdasarkan keadaan tersebut maka, penulis menjadi tertarik untuk melihat bagaimana tingkat kesejahtraan masyarakat terhadap tatanan sistem perekonomian yang ada di Kota Tangerang Selatan, dan kenapa sektor pengangkutan dan komunikasi dapat menjadi basis ekonomi di Kota Tangerang selatan serta, bagaimana legislator dalam hal ini pemerintah mengelola sistem perekonomian yang telah ada tersebut.

1.2. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah: 1) Mengetahui tatanan sistem perekonomian yang terdapat di Kota Tangerang Selatan terhadap tingkat kesejahtraan masyarakat Kota Tangerang Selatan. 2) Untuk mengatahui faktor yang mendorong sektor pengangkutan dan komunikasi menjadi basis di Kota Tangerang Selatan.

1.3. Pertanyaan Penelitian
Adapun pertanyaan penlitian dari penulisan karya tulis ini adalah: 1) Bagaimana tatanan sistem perekonomian yang terdapat di Kota Tangerang Selatan terhadap tingkat kesejahtraan masyarakat Kota Tangerang Selatan? 2) Faktor apa yang mendorong sektor pengangkutan dan komunikasi menjadi basis di Kota Tangerang Selatan?

1.4. Lingkup Studi
Adapun lingkup studi dalam penelitian ini adalah sistem perekonomi kota Tangerang Selatan yang berdampak pada kesejahtraan masyarakat kota itu sendiri.

1.5. Wilayah Penelitian
Adapun wilayah penelitian ini adalah dearah yang berada dalam batas administrasi kota Tangerang Selatan, Banten.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. 2.6. Sistem Ekonomi
Sistem ekononomi adalah sistem yang mengatur kehidupan perekonomian suatu wilayah meliputi: produksi, konsumsi, dan distribusi. Berdasarkan transaksinya sistem ekonomi dapat dibagi menjadi 4, yaitu : sistem ekonomi tradisonal, sistem ekonomi terpusat, sistem ekonomi pasar, dan sistem ekonomi campuran.

1. Sistem Ekonomi Tradisonal
Sistem ini digunakan oleh masyarakat yang masih primitif atau tradisional, dimana segala pemenuhan kebutuhan masih dilakukan dengan cara barter atau tukar menukar barang dengan barang.

2. Sistem Ekonomi Terpusat
Ciri - ciri dari sistem ekonomi terpusat adalah: * Campur tangan pemerintah diusahakan sedikit mungkin * Diakuinya kah milik individu atau perseorangan * Dalam memcahkan persoalan ekonomi didasari atas prinsip - prinsip ekonomi pasar

3. Sistem Ekonomi Pasar Ciri - ciri dari sistem ekonomi pasar adalah : * Sumber - sumber produksi dikuasai oleh negara * Mak milik pribadi tidak diakui * Jalannya kegiatan dalam suatu perekonomian sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat * Semua kegiatan ekonomi diatur oleh pemerintah pusat * Kebijakan - kibujakan dalam perekonomian disusun dan dilaksanakan oleh negara
Berdasarkan ciri -ciri di atas dapat dikatakan bahwa sistem ekonomi pasar merupakan sistem ekonomi di mana seluruh kegiatan ekonomi diatur oleh pemerintah pusat.

4. Sistem Ekonomi Campuran
Ciri - ciri dari sistem ekonomi campuran adalah: * Kegiatan ekonomi sebagian dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan sebagian oleh swasta. * Sebagian besar transaksi ekonomi terjadi melalui mekanisme pasar, tetapi masih ada campur tangan pemerintah dengan berbagai kebijakan. * Ada persaingan, tetapi masih ada kontrol dari pemerintah

2.7. Basis Ekonomi
Basis ekonomi merupakan sektor ekonomi yang menjadi penunjang utama pada suatu wilayah atau region. Basis ekonomi sendiri biasa dihitung dengan beberapa pendekatan seperti shift share, location quotion dan value chain. Shift share adalah biasa digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah relatif terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi. Sedangkan pendekatan Location Quotient (LQ) biasa digunakan untuk melihat besar sektor lokal terhadap sektor ditingkat nasional. Untuk value chain, pendekatan ini biasa digunakan untuk melihat perkembangan dan perancangan ekonomi dalam RTRW dan penentuan kebijakan daerah lanjutan.
Rumus Shift Share:
PRij = Qtj0 ( YtY0-1)
PSij = Qtj0 (Qt tQt 0- YtY0)
DS ij = Qtj0(QtjtQtj0- Qt tQt 0)
Keterangan:
PRij = Pangsa Regional sektor i pada wilayah j
PSij = Proportional Shift ( Pergeseran Proporional ) Sektor ke-i pada wilayah j
DS ij = Different Shift ( Pergeseran yang berbeda ) sektor ke-i pada wilayah j
Y0 dan Yt = PDRB/ Jumlah Produksi kabupaten pada tahun 0 dan pada tahun t
Qtjt dan Qtj0 = PDRB/Jumlah Produksi sektor i kabupaten/kota j pada tahun 0 dan pada tahun t
Qt0 dan Qtt = PDRB/ Jumlah Produksi sektor i provinsi pada tahun 0 dan pada tahun t

Interpretasi Shift share
Shift share didapat dari penjumlahan nilai PS dan DS dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Kategori I (PS dan DS Positif), sektor dengan pertumbuhan sangat pesat 2. Kategori II (PS Negatif dan DS Positif), sektor dengan pertumbuhan cukup pesat 3. Kategori III (PS Positif dan DS Negatif), sektor dengan pertumbuhan kurang pesat 4. Kategori IV (PS dan DS Negatif), sektor dengan pertumbuhan lambat dan daya saing lemah Rumus LQ:

Keterangan et : jumlah tenaga kerja industri ‘A’ di daerah ‘X’ pada tahun t eT : jumlah total tenaga kerja di daerah ‘X’ pada tahun t
Et : jumlah tenaga kerja industri ‘A’ ditingkat nasional pada tahun t
ET : jumlah total tenaga kerja nasional pada tahun t
Interpretasi Hasil Perhitungan LQ * LQ = 1
Produksi lokal hanya cukup untuk kepentingan lokal. Sektor ini tidak dapat dikategorikan sebagai Basis Ekonomi * LQ > 1
Produksi lokal industri ini tidak dapat mencukupi kebutuhan local sehingga harus melakukan import (Non-Basis) * LQ < 1
Produksi lokal industru ini sudah dapat melampaui kebutuhan local sehingga dapat melakukan ekspor (Basis Ekonomi)

2.8. Kriteria Kesejahtraan Keluarga
Kriteria kesejahteraan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada kriteria kesejahtraan yang digunakan BKKBN. Berdasarkan kriteria yang dikeluarkan tersbut maka, kesejahtraan kelurga dapat dibagi ke dalam lima kategori, yaitu: kelurga prasejahtera, sejahtera Tahap I, Sejahtera Tahap II, Tahap III dan Tahap III plus dengan rincian sebagai berikut:

I. Keluarga Pra Sejahtera (Sering dikelompokkan sebagai “Sangat Misikin”)
Belum dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator yang meliputi : a. Indikator Ekonomi * Makan dua kali atau lebih sehari * Memiliki pakaian yang berbeda untuk aktivitas (misalnya di rumah, berkerja,sekolah dan bepergian) * Bagian terluas lantai rumah bukan dari tanah. b. Indikator Non-Ekonomi * Melaksanakan ibadah * Bila anak sakit dibawa ke sarana kesehatan

II. Kelurga Sejahtera I (Sering dikelompokkan sebagai “Miskin”)
Adalah keluaraga yang karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator a. Indikator Ekonomi * Paling kurang sekali seminggu keluarga makan daging atau ikan atau telor * Setahuan terakhir seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian baru * Luas lantai rumah paling kurang 8m untuk tiap penghuni b. Indikator Non-Ekonomi * Ibadah teratur * Sehat tiga bulan terakhir * Punya penghasilan tetap * Usia 10-60 tahun dapat baca tulis hurup * Usia 6-15 tahun bersekolah * Anak lebih dari 2 orang, ber-KB

III. Keluaraga Sejahtera II
Adalah keluaraga yang karena alasan ekonomi tidak dapat memenuhi salah satu atau lebih indikator meliputi : * Memiliki tabungan keluarga * Makan bersama sambil berkomunikasi * Mengikuti kegiatan masyarakat * Rekreasi bersama (6 bulan sekali) * Meningkatkan pengetahuan agama * Memperoleh berita dari surat kabar, radio, TV, dan majalah * Menggunakan sarana transporstasi

IV. Keluarga sejahtera III
Sudah dapat memenuhi beberapa indikator, meliputi: * Memiliki tabungan kelurga * Makan bersama sambil berkomunikasi * Mengikuti kegiatan masyarakat * Rekreasi bersama (6 bulan sekali) * Meningkatkan pengetahuan agama * Memperoleh berita dari surat kabar, radio, TV, dan majalah * Menggunakan sarana transporstasi Belum dapat memenuhi beberapa indikator. meliputi : * Aktif memberikan sumbangan material secara teratur * Aktif sebagai pengurus organisasi kemasyarakatan.

V. Keluarga sejahtera III plus
Sudah dapat memenuhi indikator meliputi : * Aktif memberikan sumbangan material secara teratur * Sebagi pengurus organisasi Kemasyarakatan.

BAB III
METODELOGI

2. 3.9. Alur Pikir
Adapun alur pikir yang dalam penulisan karya tulis ini adalah:
Sistem Ekonomi
Kota Tengaerang Selatan
Basis Ekonomi
Kota Tengaerang Selatan
Pengelolaan Pemerintah
Pertumbuhan Ekonomi
Kesejahtraan Masyarakat
Sistem Ekonomi
Kota Tengaerang Selatan
Basis Ekonomi
Kota Tengaerang Selatan
Pengelolaan Pemerintah
Pertumbuhan Ekonomi
Kesejahtraan Masyarakat

3.10. Langkah Penelitian
Adapun langkah kerja dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data 5 tahun terakhir, untuk kemudian dilakukan pembandingkan data dengan interpretasi peta keruangan, melakukan analisa dan sintesa yang kemudian digunakan untuk menarik kesimpulan.

BAB IV
PEMBAHASAN

3. 4.11. Lokasi Kota Tangerang Selatan

Berdasarkan lokasi kota Tangerang Selatan maka, dapat dilihat kota Tangerang Selatan berada disebelah kota Jakarta, Depok, Tangerang, kabupaten Tangerang. Kota ini dapat dikatakan memiliki lokasi yang strategis dikarenakan dapat dijadikan kota singgah sementara bagi masyarakat yang tinggal dan ingin menuju kota.

4.12. Pekerjaan Masyarakat

Dapat dilihat pekerjaan rata rata pekerjaan di masyarakat di kota Tangerang Selatan terlihat terpusat pada sektor industry dan perdagangan, hotel dan restoran.

4.13. Tatanan Sistem Ekonomi Kota Tangerang Selatan
Tatanan sistem ekonomi di kota Tangerang Selatan berpegang pada aspek kapitalis dan tidak mengembangkan nilai nilai yang terdapat di dalam kota. Jika jumlah pekerjaan dapat dilihat dengan jelas basis yang terdapat di dalam kota memiliki proporsi pekerjaan yang kecil ketimbang industry yang bukanlah basis perekonomian kota.

4.14. Basis Ekonomi Kota Sekitar

No | Kota Sekitar | Basis Kota | 1 | Depok | Industri | 2 | Jakarta | Keuangan, Persewaan dan Jasa | 3 | Tangerang | Industri | 4 | Kabupaten Tangerang | Industri |

BAB V
PENUTUP

4. 5.15. Kesimpulan
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan: 1) Tatanan sistem perekonomian yang terdapat di Kota Tangerang Selatan tidak memperthitungkan keadaan aspek sosial dan potensi SDM atau SDA di kota Tangerang Selatan sehingga menimbulkan kesenjangan pada tingkat kesejahtraan masyarakat di Kota Tangerang Selatan. 2) Faktor yang mendorong sektor pengangkutan dan komunikasi menjadi basis di Kota Tangerang Selatan adalah faktor lokasi, basis ekonomi kota sekitar, dan pekerjaan masyarakat Kota Tangerang Selatan.

Daftar pustaka

Kota Tangerang Selatan Dalam Angka, 2013, Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan.
PDRB Kota Tangerang Selatan, 2009, Badan Pengawas Keuangan Kota Tangerang Selatan
RPJMD Kota Tangerang Selatan, 2009, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.
Surat Keputusan Gubernur Banten Nomor 125.3/Kep.353-Huk/2007 http://tangselkota.bps.go.id/ http://www.tangerangselatankota.go.id/ http://www.bbc.co.uk http://www.bkkbn.go.id/ ‎

Similar Documents

Free Essay

Green

...No. Nama Perguruan Tinggi AKADEMI AKUNTANSI PGRI JEMBER Nama Pengusul Sisda Rizqi Rindang Sari Program Kegiatan Judul Kegiatan 1 PKMK KUE TART CAENIS ( CANTIK, ENAK DAN EKONOMIS) BERBAHAN DASAR TAPE 2 AKADEMI FARMASI KEBANGSAAN Nensi MAKASSAR AKADEMI KEBIDANAN CITRA MEDIKA SURAKARTA AKADEMI KEBIDANAN GIRI SATRIA HUSADA AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDIKA SIDOARJO AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDIKA SIDOARJO AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDIKA SIDOARJO Putri Purnamasari PKMK LILIN SEHAT AROMA KURINDU PANCAKE GARCINIA MANGOSTANA ( PANCAKE KULIT MANGGIS ) 3 PKMK 4 Latifah Sulistyowati PKMK Pemanfaatan Potensi Jambu Mete secara Terpadu dan Pengolahannya sebagai Abon Karmelin (Karamel Bromelin) : Pelunak Aneka Jenis Daging Dari Limbah Nanas Yang Ramah Lingkungan, Higienis Dan Praktis PUDING“BALECI”( KERES) MAKANAN BERSERATANTI ASAM URAT 5 Achmad PKMK Zainunddin Zulfi 6 Dian Kartika Sari PKMK 7 Radita Sandia PKMK Selonot Sehat (S2) Diit untuk Penderita Diabetes 8 AKADEMI PEREKAM Agustina MEDIK & INFO KES Wulandari CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Anton Sulistya CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM Eka Mariyana MEDIK & INFO KES Safitri CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Ferlina Hastuti CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM Nindita Rin MEDIK & INFO KES Prasetyo D CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Sri Rahayu CITRA MEDIKA AKADEMI PERIKANAN YOGYAKARTA PKMK Kasubi Wingko Kaya Akan Karbohidrat...

Words: 159309 - Pages: 638