Free Essay

Chemical Oxygen Demand Fluctuations Studies on Some Points Disposal in North Wenang Village and South Wenang Village Into the Bay of Manado

In: Science

Submitted By tarigan
Words 4216
Pages 17
ARTIKEL PENELITIAN

OUTREACH PROGRAM KEGIATAN I-MHERE UNSRAT
BANTUAN PENYELESAIAN STUDI (STUDENT GRANT)
TAHUN 2010

STUDI FLUKTUASI KEBUTUHAN OKSIGEN KIMIAWI PADA BEBERAPA SALURAN PEMBUANGAN DI KELURAHAN WENANG UTARA DAN KELURAHAN WENANG SELATAN YANG BERMUARA
KE TELUK MANADO

Oleh :
Mustika Kelana Tarigan/99 053 188

ABSTRAC
Mustika Kelana Tarigan. 99 053 188. Chemical Oxygen Demand Fluctuations Studies On Some Points Disposal in North Wenang Village and South Wenang Village into the Bay of Manado. Under the direction of Ir. James J.H. Paulus, M. Si and Sandra O. Tilaar, S.Pi., M.Sc.

All of organisms need oxygen no exception organisms that live in the water. Aquatic life like fish, get the oxygen in the form of dissolved oxygen. In the absence of dissolved oxygen at certain levels many kinds of aquatic organisms will not survive in the water. Many aquatic organisms can not survive even be dead in an already polluted waters is not caused by contaminants toxicity directly, but can occur due to lack of oxygen because oxygen is used in the process of destruction of contaminants, both biological and chemical reactions. Bay of Manado is the waters that interact with the activities on the mainland, where all the waste from the mainland, both originating from urban settlements as well as those sourced from the industrial area of trade, restaurants and hotels will go into drainage channels and brought to shore. Waste in coastal waters and marine ecosystems will dissolve in water, there is a sink to the bottom and are concentrated into sediment. Waste materials in the aquatic environment will decompose through oxidation reactions, in which oxygen is required in this process. Oxygen demand in the waters, to determine how far the level of environmental pollution has occurred, one way to be taken for that purpose is to do a Test Chemical oxygen demand (COD). Activity around the central city of Manado in particular North and South Wenang, different in daylight and at night. Both of circumstances are believed to be an impact on the amount of waste water in drains, so that the necessary monitoring of COD at the time of day and night. Testing and COD analysis is done over several stages by using the Standard Method of Public Health Laboratories of North Sulawesi Province. From the analysis results can be seen how far the content of COD, temperature, salinity, and pH, in the waters in the North Wenang Coastal and Coastal Waters of South Wenang The results obtained in the sewer and Coast of North Wenang highest level content of COD at station 3 for the night (127.016 mg / l) and lowest at station 1 for the day (7.629 mg / l). COD content of sewer and coast of South Wenang highest level at Station 2 for the night (72.047 mg / l) and lowest level at Stasiun 3 for the day (0.192 mg / l). Fluctuations of COD content that occur at both locations tended to increase at night, thus the strong suspicion that there has been an increase in the amount of wastewater entering the Bay of Manado from both locations.

I. PENDAHULUAN
Latar Belakang Pembangunan yang terus berkembang, teknologi dan pertambahan populasi Kota Manado terus meningkat tidak terkecuali Kelurahan Wenang Utara dan Wenang Selatan sebagai salah satu daerah yang padat penduduk dan menjadi pusat perkembangan Kota Manado. Kota Manado sebagai kota pantai terus berupaya mendapatkan kesejahteraan hidup yang lebih baik, namun di sisi lain perlu diwaspadai dampaknya terhadap lingkungan hidup karena buangan sisa-sisa dari aktivitas penduduk dan perdagangan di Kelurahan Wenang Utara dan Wenang Selatan akan masuk melalui sungai atau saluran pembuangan dan bermuara di Teluk Manado. Bahan buangan yang belum diolah terlebih dahulu tersebut, jika masuk di perairan akan berdampak pada penurunan kualitas air di Teluk Manado yang artinya kondisi perairan tidak sesuai lagi untuk peruntukannya, karena di dalamnya sudah terdiri dari berbagai bahan pencemar baik yang mudah larut, dalam bentuk suspensi, ataupun dalam bentuk sampah-sampah plastik. Bahan-bahan buangan (limbah) ketika masuk di perairan laut, secara alami akan mengalami proses penguraian melalui proses biologi oleh mikroba dan secara reaksi kimia melalui proses pemutusan ikatan-ikatan senyawa kimia. Kedua proses yang terjadi secara alami ini, membutuhkan oksigen. Kebutuhan oksigen akan meningkat bila bahan buangan yang masuk di perairan laut juga mengalami peningkatan, sehingga dengan tinginya kebutuhan oksigen kimiawi di perairan dapat diketahui seberapa jauh tingkat pencemaran yang telah terjadi di lingkungan perairan. Salah satu cara yang ditempuh untuk maksud tersebut adalah dengan melihat gambaran kebutuhan oksigen dalam proses reaksi kimia melalui Uji Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK) atau kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di Kelurahan Wenang Utara dan Wenang Selatan yang masuk melalui saluran pembuangan ke Teluk Manado. Aktivitas penduduk di Kota Manado khususnya Kelurahan Wenang Utara dan Wenang Selatan berbeda pada siang hari dan malam hari. Dua kondisi berbeda ini diduga akan memberikan pengaruh pada jumlah limbah yang masuk ke saluran-saluran pembuangan dan bermuara ke Teluk Manado, sehingga perlu pemantauan KOK pada waktu siang dan malam hari Pengelolaan bahan buangan di Kelurahan Wenang Utara dan Wenang Selatan akan menjadi lebih baik jika diikuti dengan peningkatan kesadaran masyarakat dan para pengelola industri perdagangan tentang kebersihan lingkungan. Peran aktif dari pemerintah termasuk para akademisi yang turut memegang peran penting dalam upaya mengontrol bahan-bahan buangan yang masuk ke Teluk Manado demi menjaga Teluk Manado tetap dalam kondisi yang baik sesuai dengan peruntukannya.

Tujuan Penelitian
1. Mengetahui tingkat Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK) pada saluran pembuangan dan Pantai Kelurahan Wenang Utara dan Wenang Selatan yang bermuara keTeluk Manado melalui Uji KOK serta pengukuran suhu, salinitas dan pH.
2. Mengetahui fluktuasi tingkat Kebutuhan Oksigen Kimiawi (KOK) pada saluran pembuangan dan Pantai Kelurahan Wenang Utara dan Wenang Selatan untuk waktu siang dan malam hari

Manfaat
1. Sebagai bahan informasi dalam melakukan studi kajian tentang pencemaran laut
2. Melihat seberapa jauh tingkat pencemaran melalui uji KOK yang terjadi di Pantai kelurahan Wenang Utara dan Wenang Selatan

II. METODOLOGI PENELITIAN
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi pengambilan sampel kandungan KOK dilakukan pada dua lokasi yaitu Pantai Wenang Utara dan Pantai Wenang Selatan. Kedua lokasi penelitian dapat dilihat pada gambar peta lokasi penelitian (gambar 1), di bawah ini.

Setiap lokasi ditentukan 3 titik stasiun pengambilan sampel. Titik Stasiun 1 berada di saluran pembuangan utama kedua lokasi untuk mewakili air buangan dari sisa aktivitas penduduk di darat. Titik-titik pengulangan pada setiap stasiun dilakukan sebanyak 3 kali yang dianggap homongen. Titik Stasiun 2 berada di daerah pertemuan mulut saluran pembuangan utama dengan tepi laut untuk mewakili pertemuan air buangan sisa aktivitas dari darat dengan pantai di kedua lokasi, sedangkan untuk Titik Stasiun 3 berada di daerah pantai di kedua lokasi, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2a dan 2b, di bawah ini.

Gambar 2a. Sketsa Titik Lokasi pengambilan Sampel saluran pembuangan dan pantai di Wenang Utara

Pengambilan sampel dilakukan pada waktu siang hari mulai pukul 12.00 WITA untuk lokasi Pantai Wenang Utara dan pukul 13.00 untuk lokasi Pantai Wenang Selatan. Sedangkan pada malam hari dilakukan pada pukul 24.00 WITA untuk lokasi Pantai Wenang Utara dan pukul 01.00 WITA untuk Pantai Wenang Selatan. Penelitian dimulai pada bulan September 2007 sampai dengan bulan Februari 2008. Kurun waktu penelitian ini mencakup : kegiatan persiapan penyediaan bahan dan alat pengambilan sampel dan survei lokasi pada bulan september, penyiapan alat dan bahan untuk pengukuran kandungan KOK di Laboratorium Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara pada bulan Oktober, selanjutnya pengambilan sampel siang dan malam hari kedua lokasi dilakukan pada bulan November selanjutnya langsung dibawa untuk proses pengukuran kandungan KOK di Laboratorium Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara. Kegiatan analisis dan pengolahan data dilakukan di Laboratorium Toksikologi dan Farmasitika Laut Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi.
2. Teknik Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dilakukan terhadap sampel air yang berada di permukaan. Pengambilan sampel menggunakan model sampling manual, di mana sampel yang diambil dianggap mewakili kualitas air di lokasi penelitian (Anonimous, 1969). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan botol sampel yang bersih dan steril. Botol sampel kapasitas 600 ml dimasukkan di bawah permukaan air dengan mulut botol yang mengarah terhadap arah datangnya arus air untuk Titik Stasiun 1 dan 2 (pertemuan mulut saluran pembuangan dengan tepi laut). Botol ditutup di dalam badan air setelah gelembung udara tidak terdapat lagi di dalam botol sampel. Penentuan titik pengambilan sampel pada kolom air bertujuan agar pada saat pengambilan sampel, benda yang terapung di permukaan air dan endapan yang mungkin tergerus dari dasar titik pengambilan sampel tidak ikut terambil. Untuk pengambilan sampel Titik Stasiun 3, botol sampel dimasukkan ke dalam badan air laut. Ketika gelembung udara tidak ada lagi dibotol sampel yang telah terisi air sampel, botol sampel ditutup di dalam badan air (sebelum diangkat ke permukaan).
Pada setiap titik pengambilan sampel dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali pengulangan dengan perlakuan pada waktu siang dan malam hari. Pada siang hari pengambilan sampel dimulai pada pukul 12.00 siang dan pada malam hari di mulai pada pukul 24.00. Bersamaan dengan pengambilan sampel dilakukan pengukuran parameter suhu pada tiap-tiap titik dan pengulangan secara langsung di lapangan untuk siang hari maupun malam hari. Sampel yang diambil dimasukkan ke dalam coolbox agar sampel tidak rusak oleh sinar matahari atau suhu yang tinggi dengan mempertahankan suhu pada 4oC sehingga kualitas sampel dapat bertahan hingga 4 – 8 hari masa pengukuran (American Public Health Association, 1995). Botol-botol sampel yang berisi air sampel ini selanjutnya dibawa ke Laboratorium Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara untuk diadakan pengukuran
3. Analisis KOK Pengujian dan analisis KOK dikerjakan melalui beberapa tahapan dengan menggunakan Metode Standart Nasional Indonesia di Laboratorium Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara. Persiapan yang dilakukan meliputi : penyiapan tabung reaksi yang sudah berisi reagen (sudah dikemas dalam 1 tabung, diproduksi oleh HACH) yang terdiri dari : H2SO4 pekat, Kalium bichromat, dan Indikator Feroin. Selanjutnya siapkan sampel yang telah diambil dalam botol sampel, kocok botol sampel dan pipet 2 ml aquades menggunakan pipet seukuran 10 ml dan masukkan ke dalam tabung reagen sebagai blanko. Kemudian pipet 2 ml sampel dari botol sampel dan masukkan ke dalam tabung reagen.
Pemanasan larutan uji dilakukan pada COD reactor dengan suhu 1500C selama 2 jam. Setelah itu, dinginkan larutan uji tersebut pada suhu kamar selama 20 menit dan dikocok, tahapan berikutnya pembacaan pada spektofotometer.
Siapkan Spektrofotometer UV-VIS pada pembacaan KOK dengan panjang gelombang 600 nm dan aktifkan program pembacaan tersebut pada komputer. Untuk menentukan titik kandungan nol masukkan blanko ke dalam kuvet dan tempatkan dalam kompartemen sampel, tutup pintu kompartemen sampel. Masukkan larutan uji ke dalam kuvet dan tempatkan dalam kompartemen sampel kemudian baca kandungan KOK dalam mg/l yang tertera di komputer. Langkah-langkah pengujian dapat dilihat pada gambar 3.

4. Pengukuran Suhu, pH dan Salinitas Untuk pengukuran Salinitas digunakan conductivity meter yaitu dengan cara mengatur pembacaan untuk salinitas serta mencelupkan tangkai besi conductivity meter pada botol sampel kemudian dibaca hasil yang tertera pada tabel monitor. Sedangkan untuk pengukuran pH pembacaan diatur pada pembacaan pH dan dibaca hasilnya. Untuk mengembalikan pembacaan pada titik nol, tangkai conductivity meter dicelupkan pada larutan aquades. Pengukuran suhu langsung dilakukan di lapangan pada setiap titik pengambilan sampel.
5. Analisis Data Untuk memudahkan memahami kandungan KOK, suhu, salinitas, dan pH pada kedua lokasi penelitian, maka hasil data pengukuran sampel kandungan KOK dari laboratorium Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara diolah dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik di Laboratorium Toksikologi dan Farmasitika laut. Hasil pengukuran KOK pada setiap titik yang diadakan pengulangan sebanyak tiga kali, diambil nilai rata-rata dan disajikan dalam bentuk grafik. Selanjutnya, grafik pengukuran siang dan malam hari digabung menjadi satu agar dapat dilihat flukstuasi kandungan KOK-nya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Kandungan KOK Saluran Pembuangan dan Pantai di Wenang Utara Kandungan KOK untuk air buangan sisa-sisa aktivitas penduduk di Kelurahan Wenang Utara terhadap perairan pantai sekitar lokasi, dapat dilihat pada gambar 4, di bawah ini.

Gambar 4. Grafik Fluktuasi Kandungan KOK di Wenang Utara Pada Siang dan Malam Hari

Perbandingan nilai tertinggi dan terendah untuk nilai kandungan rata-rata KOK saluran pembuangan dan pantai di Wenang Utara diantaranya : tertinggi berada di Titik Stasiun 3 pada waktu pengambilan sampel malam hari (127,016 mg/l) dan terendah di Titik Stasiun 1 pada waktu pengambilan sampel siang hari (7,629 mg/l).
Pengukuran kandungan KOK pada saluran pembuangan dan pantai di Wenang Utara menunjukkan bahwa kandungan KOK di Titik Stasiun 1 hingga Titik Stasiun 3 cukup tinggi dibandingkan dengan Lokasi Wenang Selatan (gambar 4). Nilai KOK yang tinggi tersebut, karena seperti yang dinyatakan oleh Wardhana (1995) bahwa kebutuhan oksigen kimia merupakan jumlah oskigen yang diperlukan agar bahan yang ada di dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia. Bahan buangan tersebut termasuk zat anorganik yang dapat dioksidasi maupun zat organik yang telah dioksidasi (Mahida, 1992)
Pada Titik Stasiun 1, kandungan KOK menunjukkan nilai yang paling rendah dari ketiga titik lokasi. Keadaan ini mengindikasikan bahwa bahan buangan yang berasal dari saluran pembuangan masih rendah.
Pada Titik Stasiun 2, kandungan KOK mengalami peningkatan dibandingkan dengan KOK pada Titik Stasiun 1. Peningkatan KOK ini terjadi karena terperangkapnya bahan buangan (limbah) pada pertemuan perairan laut dengan mulut saluran pembuangan (tempat masuknya air buangan ke perairan pantai), sehingga jumlah buangan limbah yang harus dioksidasi akan semakin tinggi. Meningkatnya KOK pada Titik Stasiun 2 karena masuknya limbah ke lingkungan perairan mengakibatkan terganggunya keseimbangan antara substansi yang masuk ke perairan dan proses dekomposisinya (Ruyitno, 1991).
Pada Titik Stasiun 3 (perairan laut) memiliki nilai kandungan KOK tertinggi dari dua titik lainnya. Tingginya nilai kandungan KOK pada Titik Stasiun 3, karena daya larut oksigen di dalam air laut lebih rendah daripada di dalam air tawar serta banyaknya buangan yang terperangkap di Titik Stasiun 3. Kandungan KOK yang terlihat sangat signifikan (cenderung meningkat) ini terjadi sesuai dengan yang dinyatakan Supriharyono (2000) bahwa apabila bahan buangan organik cukup banyak di perairan kemungkinan bisa terjadi deplesi oksigen atau terjadinya pengurangan oksigen akibat digunakannya oksigen dalam mengoksidasi bahan-bahan buangan yang masuk di lingkungan perairan Pengukuran KOK saluran pembuangan dan Pantai Wenang Utara bila ditinjau berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup : No. 03/MENKLH/II/1991 tentang baku mutu limbah cair (lihat lampiran 6), bahwa pada Titik Stasiun 1, masih di bawah nilai ambang batas baku mutu untuk golongan air limbah. Titik Stasiun 2 siang hari (26,223 mg/l) masih di bawah nilai ambang batas baku mutu limbah cair akan tetapi karena terjadinya peningkatan kandungan KOK pada malam hari menjadi 56,255 mg/l, sehingga pada Titik Stasiun 2 malam hari telah melampaui nilai ambang batas golongan baku mutu air limbah I (40 mg/l). Titik Stasiun 3, berdasarkan nilai baku mutu air limbah, telah melampaui nilai ambang batas baku mutu air limbah golongan II (100 mg/l).

2. Kandungan KOK Saluran Pembuangan dan Pantai di Wenang Selatan Kandungan KOK dari air buangan sisa-sisa aktivitas penduduk di Kelurahan Wenang Selatan terhadap perairan sekitar lokasi dapat diliihat pada gambar 5, di bawah ini.

Gambar 5. Grafik Fluktuasi Kandungan KOK di Pantai Wenang Selatan pada Siang dan Malam Hari

Berbeda dengan Lokasi Wenang Utara bahwa pada lokasi Pantai Wenang Selatan kandungan KOK tertinggi berada pada Titik Stasiun 2, di mana nilai kandungan KOK tertinggi berada di Titik Stasiun 2 untuk pengambilan sampel malam hari (72,047 mg/l) dan terendah di Titik Stasiun 1 untuk pengambilan sampel siang hari (0,192 mg/l). Tingginya kandungan KOK pada Titik Stasiun 2 diduga karena terperangkapnya bahan buangan baik yang organik maupun yang anorganik yang teroksidasi, di mana bahan buangan tersebut mengurai dan sebagian mengendap di dasar perairan. Millero dan Sohn (1992) menyatakan bahwa bahan organik yang berasal dari daratan akan mengalami pengendapan di dasar perairan ketika bercampur dengan salinitas yang lebih tinggi serta kelarutan oksigen berkurang dengan naiknya suhu dan salinitas. Kandungan KOK pada Titik Stasiun 1 menunjukkan nilai yang lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai kandungan KOK di Titik Stasiun 2. Kandungan KOK yang lebih rendah di Titik Stasiun 1, mengindikasikan bahwa sumber limbah yang berasal dari saluran pembuangan masih sangat rendah. Titik Stasiun 3 yang merupakan daerah laut menunjukkan kandungan KOK yang lebih rendah dari dua titik sebelumnya. Penurunan kandungan KOK pada Titik Stasiun 3 disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : (1) Perairan tersebut termasuk perairan yang terbuka yang sangat memungkin untuk pertukaran gas (gas exchange). Deplesi oksigen ataupun kurangnya ketersedian oksigen dapat saja terjadi, terutama pada perairan yang tergenang, namun Portmann (1972) dalam Supriharyono (2000), menyatakan bahwa kondisi deplesi oksigen bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan di perairan terbuka karena perairaan laut yang terbuka secara alamiah kaya akan oksigen. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Johnson (1979) yang menyatakan bahwa sedikit kasus terjadinya deplesi oksigen di perairan laut terbuka karena limbah domestik, terutama limbah cair. Pengukuran KOK saluran pembuangan dan Pantai Wenang Selatan yang merupakan perairan terbuka bila ditinjau berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 03/MENKLH/II/1991, tentang baku mutu limbah cair, maka pada Titik Stasiun 1 dan Titik Stasiun 3 masih di bawah nilai ambang batas untuk baku mutu limbah cair. Titik Stasiun 2 menunjukkan bahwa kandungan KOK-nya telah melampaui nilai ambang batas baku mutu limbah cair untuk golongan I, baik pada waktu siang ataupun malam hari.
3. Fluktuasi Kandungan KOK Siang dan Malam Hari Fluktuasi kandungan KOK dari siang hingga malam hari diketahui cenderung meningkat untuk kedua lokasi. Nilai kandungan KOK yang cenderung meningkat dari siang hingga malam hari dipengaruhi oleh banyaknya bahan buangan yang masuk ke saluran pembuangan yang memasuki pantai Wenang Utara dan Wenang Selatan, baik yang organik maupun yang anorganik. Bahan buangan yang masuk ke perairan akan mengalami degradasi (pembusukan) di mana pada proses ini membutuhkan O2. Wardhana (1995) menyatakan Air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah karena oksigen yang terlarut di dalam air digunakan dalam reaksi kimia untuk mengurai bahan buangan organik maupun anorganik. Semakin banyak bahan buangan organik maupun anorganik yang ada di dalam air, maka kebutuhan oksigen akan meningkat. Berdasarkan grafik nilai kandungan KOK saluran pembuangan dan pantai Wenang Utara kecenderungan peningkatan KOK di masing-masing titik lokasi pengambilan sampel pada umumnya mengalami kecenderungan peningkatan. Peningkatan KOK pada setiap titik stasiun bervariasi, di mana hampir terjadi peningkatan dua kali lipat kandungan KOK untuk Titik stasiun 1 dan 2, namun pada Titik Stasiun 3 fluktuasi yang terjadi lebih kecil. Tingginya Fluktuasi kandungan KOK di Titik Stasiun 1 dan 2 menggambarkan adanya peningkatan jumlah air buangan yang masuk ke saluran pembuangan di Pantai Wenang Utara. Untuk hasil pengukuran nilai kandungan KOK saluran pembuangan dan pantai di Wenang Selatan kecenderungan peningkatan KOK di masing-masing titik lokasi pengambilan sampel juga bervariasi pada malam hari. Pada Titik Stasiun 1 peningkatan nilai Kandungan KOK bertambah hingga empat kali. Pada Titik Stasiun 2 peningkatan nilai KOK meskipun pada titik ini merupakan titik yang paling tinggi nilai KOK-nya, fluktuasi yang terjadi cukup kecil. Tingginya Fluktuasi kandungan KOK di Titik Stasiun 1, menggambarkan adanya peningkatan jumlah air buangan yang masuk ke saluran pembuangan di Pantai Wenang Selatan. Fluktuasi kandungan KOK selain dipengaruhi faktor-faktor di atas dapat juga dipengaruhi oleh kedalaman. Kedalaman suatu perairan juga dapat menjadi pembatas kelarutan oksigen yang ada pada kolom air biasanya kelarutan oksigen lebih tinggi di bagian atas kolom air daripada bagian bawah kolom air (dasar perairan). Kelarutan oksigen tersebar 20-50% di seluruh kolom air, tetapi tergantung pada kedalaman air dan lokasi pycnoclines (perubahan yang cepat dalam air dengan kedalaman dan kepadatan ) dapat terjadi pada 10-80% dari kolom air. Misalnya, dalam kolom air 10 meter, kelarutan oksigen dapat mencapai hingga 2 meter di bawah permukaan (Kiel Fjord dalam Anonimous, 2005)

Gambar 6. Grafik Penurunan kejenuhan oksigen ke anoxia, diukur pada malam hari oleh Kiel Fjord, Jerman. pada kedalaman = 5 m, (Anonimous, 2005)

4. Parameter Suhu, Salinitas, dan pH Pengukuran parameter suhu di pantai Wenang Utara dan Wenang Selatan berkisar antara (27-32)oC. Rata-rata pengukuran suhu pada kedua lokasi (gambar 7a dan 7b), tertinggi berada di lokasi pantai Wenang Utara pada Titik Stasiun 2 di mana di titik ini cukup dangkal dan langsung mendapat penyinaran dari matahari. Suhu suatu perairan dipengaruhi oleh radiasi matahari; posisi matahari; letak geografis; musim; kondisi awan; serta proses interaksi antara air dan udara, seperti alih panas (heat), penguapan dan hembusan angin (Dahuri dkk, 2001). Suhu yang tinggi pada Titik Stasiun 2 lokasi pantai Wenang Utara (gambar 8a) telah melewati kisaran suhu di perairan alami sesuai dengan yang dinyatakan Nontji (1987) bahwa kisaran suhu pada permukaan laut di perairan nusantara adalah 28-310C yang diperkuat lagi oleh Gross (1990) bahwa suhu rata-rata permukaan laut adalah 30oC.

(a) (b)

Gambar 7. (a) Grafik Fluktuasi Suhu saluran pembuangan dan pantai di Wenang Utara pada siang dan malam hari, (b) Grafik Fluktuasi Suhu saluran pembuangan dan pantai di Wenang Selatan pada siang dan malam hari

Selain faktor-faktor alami yang mempengaruhi peningkatan suhu, fluktuasi suhu dapat juga dipengaruhi oleh ketidakseimbangan perairan akibat masuknya bahan buangan ke perairan. Ruyitno (1991) menyatakan bahwa Keseimbangan antara substansi yang masuk ke perairan dan proses dekomposisinya terganggu akibat masuknya limbah ke lingkungan perairan. Kenaikan suhu biasanya meningkat akibat keracunan pencemar kimia dalam air (Sastrawijaya,1991).
Pengukuran salinitas pada lokasi Wenang Utara dan Wenang Selatan Untuk hasil pengukuran salinitas yang didapatkan di lokasi perairan Pantai Wenang Utara bervariasi (0.7 - 32.3)o/oo (gambar 8a dan 8b). Pada Titik Stasiun 1 (lebih tawar) dan Titik Stasiun 2 (pertemuan air tawar dan air laut) di kedua lokasi terlihat jelas bahwa ada kecendrungan penurunan salinitas pada sampling siang dan malam hari. Penurunan salinitas ini mengindikasikan bahwa kemungkinan masuknya air buangan dari darat yang bersifat tawar ke perairan laut (pengenceran terjadi karena masuknya air tawar/air buangan dari saluran pembuangan).

(a) (b)

Gambar 8. (a) Grafik Fluktuasi Salinitas saluran pembuangan dan pantai di Wenang Utara, (b) Grafik Fluktuasi Salinitas saluran pembuangan dan pantai di Wenang Selatan
Hubungan antara salinitas dan kelarutan oksigen sesuai dengan yang dinyatakan sebelumnya oleh Mahida (1992), bahwa daya larut oksigen lebih rendah di dalam air laut dibandingkan dengan daya larutnya di dalam air tawar. Namun demikian lautan juga dapat melarutkan bahan-bahan buangan sehingga kandungannya menjadi menurun, terutama di laut dalam, di mana kehidupan laut dalam juga terbukti lebih sedikit terpengaruh daripada laut dangkal (Darmono, 2001).
Hasil pengukuran nilai pH pada kedua lokasi didapatkan variasi antara (6.19 – 8.12) di mana paling basa berada Titik Stasiun 3 lokasi pantai Wenang Utara (gambar 9a) dan paling asam berada di Titik Stasiun 1 lokasi pantai Wenang Selatan (gambar 9b) .

(a) (b)
Gambar 9. (a) Grafik Fluktuasi pH saluran pembuangan dan pantai di Wenang Utara, (b) Grafik Fluktuasi pH saluran pembuangan dan pantai di Wenang Selatan

kondisi ini menunjukkan bahwa adanya buangan sisa-sisa aktivitas di kedua lokasi dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya pencemaran, sesuai yang dinyatakan oleh Sastrawijaya (1991), bahwa pada umumnya jika pH air itu kurang dari 7 dan lebih dari 8,5 harus hati-hati, karena mungkin ada pencemaran. Lebih lanjut dikemukakan oleh Sastrawijaya (1991), air mempunyai pH antara 6.7 sampai 8,6 mendukung populasi ikan, dalam jangkauan pH itu pertumbuhan dan pembiakan ikan tidak terganggu tetapi ada ikan yang mampu hidup antara pH 5 sampai 9. Pada umumnya parameter salinitas, densitas dan suhu merupakan tiga serangkai sifat pokok air laut (primary properties of sea water, atau Physico-chemical properties of sea water) yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain, di mana peningkatan suhu dan penurunan suhu akan meningkatkan densitas. Pada saat menurunkan salinitas dari 34o/oo menjadi 20o/oo biasanya diikuti dengan penurunan pH, khususnya bila pengenceran berasal dari air tawar alami (Wibisono, 2005).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada bulan September 2007– Februari 2008 di perairan Teluk Manado khususnya Pantai Wenang Utara dan Wenang Selatan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan di antaranya :
1. Saluran pembuangan dan pantai Wenang Utara memiliki kandungan KOK tertinggi berada di Titik Stasiun 3 malam hari (127,016 mg/l) dan terendah di Titik Stasiun 1 siang hari (7,629 mg/l).
2. Saluran pembuangan dan Pantai Wenang Selatan memiliki kandungan KOK tertinggi berada di Titik Stasiun 2 malam hari (72,047 mg/l) dan terendah di Titik Stasiun 1 siang hari (0,192 mg/l).
3. Fluktuasi Kandungan KOK terjadi peningkatan (cenderung meningkat) mulai dari siang hari sampai malam hari.
2. Saran
Dari serangkaian kegiatan penelitian dan analisis data yang dilakukan, penulis ingin mengemukakan rekomendasi ke depan dengan melakukan penelitian yang lebih lanjut tentang kandungan KOK dari hasil buangan aktivitas masyarakat Kota Manado melalui saluran pembuangan yang masuk ke perairan Teluk Manado dan melihat dampaknya terhadap biota-biota air yang ada didalamnya.
V. DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 1990. Petunjuk Pemeriksaan Air Buangan dan Air Kolam Renang. Departemen Kesehatan RI. Pusat Laboratorium Kesehatan.

Darmono 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran ; Hubungannya dengan Toksikologi Senyawa Logam. UIP, Jakarta. 176 hal

Gross, M. G. 1990. Oceanography, A View of Earth. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey.

Mahida, U. N. 1992. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. C.V Rajawali, Jakarta
Millero, F. J., and M. L. Sohn. 1992. Chemical oceanography. CRC Press, Boca Raton. 53

Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta

Public Health Association. 1995. Wastewater Sampling, Preservation, and Analysis Methods. http://www.norweco.com/html/lab/test_methods/5220bfp.htm
23 maret 2010

Ruyitno, M. 1991. Pengantar Praktikum Bakteri Penunjuk Pencemaran. LIPI Jakarta

Sastrawijaya, Tresna. A., 1991. Pencemaran Lingkungan. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Supriharyono. 2000. Pelesarian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 248 hal.

Wibisono, M. S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Penerbit Grasindo, Jakarta.

Wisnu Arya Wardhana. 2001. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit. Andi Offset, Yogyakarta. 284 hal.

Similar Documents

Free Essay

French Village

...new province. Many of them settled on the ruins of abandoned Acadian villages where many Acadians had settled their families. After the destruction of the “Pointe-Saint-Anne” village in the winter of 1759 by Lieutenant Moses Hazen and a group of rangers, where he was only able to capture three of its families, many of the Acadians were able to flee the village. Some of these Acadians fled west and settled near the Malecite village of Ekoupahag. Afterwards, many other Acadians started to settle nearby, and some settled at what became French Village. One of the pioneers of the French Village was Jacques Daniel Godin who was the grandchild of Gabriel Godin who was one of the founders of the Acadian village of “Pointe-Saint-Anne”.1 The French Village was situated about seventeen kilometres from what became the City of Fredericton, and is now part of Kingsclear.2 There are stills ruins of what seems to be an old church that burned to the ground, and also an old cemetery where we can find Acadian tombstones mixed with those of the Loyalists’.3 1. G. Alain and M. Basque: "Une présence qui s’affirme-La communauté acadienne et francophone de Fredericton, Nouveau-Brunswick" (Moncton, Les éditions de la francophonie, 2003), 75-77. 2. Retrieved online on April 2nd, 2012 from: http://archives.gnb.ca/Exhibits/Communities/Details.aspx?culture=en-CA&community=1378 3. Beyea, Andrew Sherwood. The History of French Village submitted to the Kings County Record where it was printed in......

Words: 2540 - Pages: 11

Free Essay

Environmental Studies

...Environmental Studies For Undergraduate Courses Erach Bharucha Textbook for Environmental Studies For Undergraduate Courses of all Branches of Higher Education Erach Bharucha for University Grants Commission Natural Resources i Preliminary Pages.p65 1 4/9/2004, 5:06 PM Credits Principal author and editor – Erach Bharucha Unit 1 – Erach Bharucha Unit 2 – Erach Bharucha, Behafrid Patel Unit 3 – Erach Bharucha Unit 4 – Erach Bharucha Unit 5 – Shamita Kumar Unit 6 – Erach Bharucha, Shalini Nair, Behafrid Patel Unit 7 – Erach Bharucha, Shalini Nair, Behafrid Patel Unit 8 – Erach Bharucha, Shambhvi Joshi Case Studies – Prasanna Kolte Co-ordination and compilation – Behafrid Patel Textbook Design – Narendra Kulkarni (Mudra), Sushma Durve Manuscript review and editing – Chinmaya Dunster, Behafrid Patel Artists – Sushma Durve and Anagha Deshpande CD ROM – Jaya Rai and Prasanna Kolte © Copyright Text – Erach Bharucha/ UGC, 2004. Photographs – Erach Bharucha Drawings – Bharati Vidyapeeth Institute of Environment Education and Research All rights reserved. Distributed by University Grants Commission, New Delhi. 2004. ii Environmental Studies for Undergraduate Courses Preliminary Pages.p65 2 4/9/2004, 5:06 PM Vision The importance of Environmental Studies cannot be disputed. The need for sustainable development is a key to the future of mankind. The degradation of our environment is linked to continuing problems of pollution,......

Words: 125061 - Pages: 501

Free Essay

Village Charter

...Charter Village of Lennon 1 INDEX CHAPTER I II III IV V VI VII VIII IX BOUNDARIES ………..……………………………. POWERS IN GENERAL ……..………………….… PLAN OF GOVERNMENT ……..……………….… REGISTRATION, NOMINATION ...…..…………. RECALL …..…...…………………………………… ORDINANCES …….. ………………………………. INITIATIVE AND REFERENDUM ……..……….. CONTRACTS ……..………………………………… GENEREAL FINANCE, VILLAGE BUDGET AND FUNDS …….………………………………….. GENERAL ASSESSMENTS AND TAXATION …. STREETS AND SIDEWALKS …………………….. FRANCHISES ………………………………………. PLANNING AND PLATS ………………………….. MAINTENANCE OF VILLAGE UTILITIES ……. INTERIM LEGISLATION ………………………… MISCELLANEOUS ………………………………… SUBMISSION AND ELECTION ………………….. PAGE 1 2 6 13 19 20 22 25 26 29 33 34 35 36 37 38 40 X XI XII XIII XIV XV XVI XVII 2 CHAPTER I BOUNDARIES The Village of Lennon shall include those portions of Sections 24 and 25, Town 7 North, Range 4 East, Venice Township, Shiawassee County, Michigan, and those portions of Sections 19 and 30, Town 7 North, Range 5 East, Clayton Township, and Genesee County, Michigan, described as follows: The Northeast one-quarter (NE ¼) of Section 25, T7N, R4E, Venice Township, Shiawassee County, Michigan, and all that part of the NW ¼, Section 25, T7N, R4E, Venice Township, Shiawassee County, Lying North of Lytle Road and East of the Centerline Of the Ganssley Drain. The Southeast one-quarter (SE ¼) and all that part Of the Southwest one-quarter (SW ¼) lying East of The Centerline of Ganssley Drain and the South one-half (S ½)...

Words: 15276 - Pages: 62

Free Essay

Little Village

...Introduction South Lawndale (Little Village) is located on the west side of the city of Chicago, lllinois, Is one of the 77 well defined Chicago community areas. History After the great Chicago fire of October 1871, many residents of Chicago were looking to move away from the crowded city. Areas on the city’s outskirts were quickly being developed, even as the ashes and rubble from the great fire were still being cleared. In 1871, Chicago real estate investors wanted to build an affluent subdivision in the suburban area west of Chicago, choosing an area just short of the Chicago city limits. The original subdivision was bound by Twenty-second Street, Twenty-sixty Street, Hamlin Avenue and Homan Avenue. Investors decided to built all homes to be constructed of brick, ranging from $2,500 to $8,500. ( Chicago Littles Village) By the turn of the 20th century, the west side of Chicago would become the largest industrial section of the city, and as a result, the more affluent residents began to move away from the Little Village area. They would eventually be replaced by immigrants, mostly of Eastern European extraction, from Czech Republican, Poland, Germany, and Hungary. Fast forwarding to the early 1960’s, Little Village began showing some troubling signs of change. Many of the community’s residents were moving farther west to the Czech-dominated suburbs of Cicero and Berwyn. This was largely due to fear based on the rapid changes just north of Little Village......

Words: 1737 - Pages: 7

Premium Essay

Alpine Village Case Study

...Financial Forecasting: Riverview Community Hospital Alpine Village Clinic is a small walk-in clinic located next to the primary ski area of Alpine Village, a winter resort close to Aspen, Colorado. The clinic specializes in treating injuries sustained while skiing. It is owned and operated by two physicians: James Peterson, an orthopedist, and Amanda Cook, an internist (Gapenski and Pink, 2009). The clinic has an outside accountant who takes care of payroll matters, but Dr. Cook does all the other financial work for the clinic. However, to help in that task, the clinic recently hired a part-time MBA student, Doug Washington. First Bank of Aspen is the primary lender of Alpine Village and due to a forecasted reduction in bank deposits, First Bank has asked each of its commercial loan customers for an estimate of its borrowing requirements for the first half of 2010 (Gapenski and Pink, 2009). Dr. Cook asked Doug to come up with an estimate of the clinic’s line-of-credit requirements to submit at the meeting. A line of credit is a short-term loan agreement by which a bank agrees to lend a business some specified maximum amount. The business can borrow against the credit line at any time it is in force, which typically is no longer than one year. When a line expires, it will have to be renegotiated if it is still needed. The amount borrowed on the line, or some lesser amount, can be repaid at any time, but any amount outstanding must be repaid at expiration (Gapenski and Pink,......

Words: 947 - Pages: 4

Free Essay

Village of Cannibals

...Throughout history there has always been social gaps. These are seen by rural and urban populations, and the upper and lower classes. In France in the nineteenth century, this was prevalent throughout the country’s provinces. The people spoke different dialects of French and they did not really identify together as a whole. The people were separated by both class and location through oppression and progress. Hautefaye was a small village in France that was filled with agrarian peasants. It also had some aristocrats who mingled amongst the population without worry. This was controversial because the urban bourgeoisie did not socialize with the urban poor. The nobility that lived in Hautefaye had owned their property for generations. The rural village, like most villages in France, liked to host fairs where the peasants gathered in economic and social activity. The fairs were supervised by government supplied gendarmes. Fairs were known for their violence. Men took part in fairs and they drank alcohol, which was the main festive beverage. For this reason, the alcohol sometimes got the best of the men and fights were common throughout the fairgrounds. Young boys got to follow their fathers around and learn the ways of a man. The economic activity that went on at fairs was stimulating to the community and helpful to those who took part. Propaganda became a key source in swaying the masses. The bourgeoisie used it to portray the nobility as bad and arrogant. Our textbook......

Words: 1314 - Pages: 6

Free Essay

Studi Fluktuasi Kebutuhan Oksigen Kimiawi Pada Beberapa Saluran Pembuangan Di Kelurahan Wenang Utara Dan Kelurahan Wenang Selatan Yang Bermuara Ke Teluk Manado

...2010 STUDI FLUKTUASI KEBUTUHAN OKSIGEN KIMIAWI PADA BEBERAPA SALURAN PEMBUANGAN DI KELURAHAN WENANG UTARA DAN KELURAHAN WENANG SELATAN YANG BERMUARA KE TELUK MANADO Oleh : Mustika Kelana Tarigan/99 053 188 Program Studi Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado 2010 Dibiayai Dana Hibah Kompetisi I-MHERE melalui Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Nomor 0147/023.04.2/XXVII/2010 Tanggal 31 Desember 2009 Tahun Anggaran 2010 Satuan Kerja Universitas Sam Ratulangi Kementerian Pendidikan Nasioanal ABSTRAC Mustika Kelana Tarigan. 99 053 188. Chemical Oxygen Demand Fluctuations Studies On Some Points Disposal in North Wenang Village and South Wenang Village into the Bay of Manado. Under the direction of Ir. James J.H. Paulus, M. Si and Sandra O. Tilaar, S.Pi., M.Sc. All of organisms need oxygen no exception organisms that live in the water. Aquatic life like fish, get the oxygen in the form of dissolved oxygen. In the absence of dissolved oxygen at certain levels many kinds of aquatic organisms will not survive in the water. Many aquatic organisms can not survive even be dead in an already polluted waters is not caused by contaminants toxicity directly, but can occur due to lack of oxygen because oxygen is used in the process of destruction of contaminants, both biological and chemical reactions. Bay of Manado is the waters that interact with the activities on the mainland, where all the waste from......

Words: 4330 - Pages: 18

Premium Essay

Ten Thousand Villages

...Ten Thousand Villages Marketing Analysis Ten Thousand Villages Marketing Analysis Opportunities Ten Thousand Villages (TTV) is the only location in Cincinnati, a city with a population of 331,280 people. This presents some distinct opportunities. First, it provides a sufficient population base to sustain the business. The primary market, “cultural creative” people, account for approximately 19 thousand individuals (based on the percentages provided). Since the store served 10,880 customers throughout the first year, there is an opportunity to reach an additional eight thousand people. Based on the rate of increase in demand for socially responsible products across North America, this number could even be larger. Second, TTV is located in O’Bryonville, which has more drive-by traffic than foot traffic. So, a second opportunity exists for TTV; to move to a location with significantly more foot traffic, like Hyde Park, in order to reach the additional people. A final opportunity is to record the information about consumers that visit the store. They are already inquiring how customers heard about the store and if they were a repeat customer, there is an opportunity to find out more about, and potentially expand the target market by simply recording the information and analyzing the results. Threats Cincinnati has four other businesses with similar products to TTV: Pier 1 Imports, Cost Plus World Market, Z Gallerie, and From the Ridiculous to the Sublime. These......

Words: 1166 - Pages: 5

Premium Essay

Village Volvo

...1) Describe Village Volvo’s service package. ->The service package is defined as a bundle of goods and services with information that is provided in some environment. This bundle consists of five features. There are supporting facility, facilitating goods, information, explicit services and implicit services. First, the volvo’s supporting facility consist of a new building that has four work bays in addition to and office, waiting area, and storage room. It is the physical resources that must be in place before a service can be offered. And the facilitating goods consist of television set, comfortable chairs, coffee, a soft drink vending machine, magazines, and the local newspaper. It is the material purchased or consumed by the buyer, or the items provided by the customer. And village volvo maintains a continuing file on each vehicle it services. This history can help the mechanic to diagnose problems and also provides a convenient record if a vehicle is returned for warranty service on an earlier repair. It is volvo’s information. It is available from the customer or provider to enable efficient and customized service. And all small worn out parts that have been replaced are put in a clean box inside the car. It is the explicit services. Customers can observe by the sense. Finally it is implicit services. Customers have worry free after get repair. 2) How are the distinctive characteristics of a service firm illustrated by Village Volvo? ->First, volvo is......

Words: 521 - Pages: 3

Premium Essay

The China Cancer Villages

...The China Cancer Villages Shuiman Di Introduction In the modern world, cancer has become a common ailment and cause of death for millions of people worldwide, but it is frightening when human settlements are identified with the disease due to the high magnitude at which it strikes the populations. Cancer villages may appear like any other human settlements and people go on with their daily lives as if life was just in its normal state. However, upon scrutiny, these villages have striking characteristics that lead towards the indication that life in these areas may not be normal. In some of these villages, the water from rivers and wells is polluted to the extent that people have to rely on bottled drinking water. In others, some sections that are close to major sources of pollution have been vacated, while other areas are no longer agriculturally productive. In some of these villages, the villagers have turned to dumping garbage into ponds or rivers that are considered ruined by pollution. The level of pollution around the cancer villages has been so rampant that crops die off, fish, shrimp and other water creatures vanish from the rivers, animals become infertile or deformed and children suffer extensively from respiratory diseases. Most of China’s cancer villages have been turned into death pots by the effects of industrial pollution that have increased since 1990s. Therefore, the emergence of China’s cancer villages can be attributed to the rampant......

Words: 3002 - Pages: 13

Premium Essay

A Fire in the Global Village

...A Fire in the Global Village: Teaching Ethical Reasoning and Stakeholder Interests Utilizing Tobacco Lucien J. Dhooge Sue and John Staton Professor of Law Journal of Legal Studies Education Volume 29, Issue 1, pages 95–125, Winter / Spring 2012 [T]is a plague, a mischief, a violent purger of goods, lands, health; hellish, devilish and damned tobacco, the ruin and overthrow of body and soul.( Richard Burton, The Anatomy of Melancholy (1621), quoted in Philip J. Hilts, Smokescreen 185 (1996)) I. Introduction Tobacco has been an agricultural staple from the time of the first recorded European encounter with the plant in the fifteenth century.2 The pervasive nature of its cultivation and consumption has made tobacco one of the most profitable crops in world agricultural history.3 World production is estimated at thirteen billion pounds annually, originating in more than one hundred countries.4 This production has flourished, in part, due to the demand for cigarettes, the leading form of tobacco consumed in the global marketplace. The World Health Organization (WHO) has estimated that 1.2 billion people over the age of fifteen are regular cigarette smokers.5 In developed countries, 35 percent of men and 22 percent of women smoke cigarettes on a regular basis.6 In developing countries, 50 percent of men and 9 percent of women smoke cigarettes on a regular basis.7 Globally, smokers consume 5.5 trillion cigarettes every year, which translates into a consumption rate of one......

Words: 4238 - Pages: 17

Free Essay

Salem Village

...In Salem Village in 1692, Betty Parris, age 9, and her cousin Abigail Williams, age 11, the daughter and niece (respectively) of the Reverend Samuel Parris, began to have fits described as "beyond the power of Epileptic Fits or natural disease to effect" by John Hale, minister in nearby Beverly.[13] The girls screamed, threw things about the room, uttered strange sounds, crawled under furniture, and contorted themselves into peculiar positions, according to the eyewitness account of Rev. Deodat Lawson, a former minister in the town. The girls complained of being pinched and pricked with pins. A doctor, historically assumed to be William Griggs, could find no physical evidence of any ailment. Other young women in the village began to exhibit similar behaviors. When Lawson preached in the Salem Village meetinghouse, he was interrupted several times by outbursts of the afflicted.[14] The first three people accused and arrested for allegedly afflicting Betty Parris, Abigail Williams, 12-year-old Ann Putnam, Jr., and Elizabeth Hubbard were Sarah Good, Sarah Osborne, and Tituba.[15] Sarah Good was homeless and known to beg for food or shelter from neighbors. Sarah Osborne had sex with her indentured servant and rarely attended church meetings. Tituba, as a slave of a different ethnicity than the Puritans, was an obvious target for accusations. All of these outcast women fit the description of the "usual suspects" for witchcraft accusations, and no one stood up for them. These......

Words: 795 - Pages: 4

Premium Essay

Village Volvo

...  2 1. Village Volvo`s service package would include: Supporting facility: Butler Building with four work bays, an office and waiting area Facilitating goods: Replacement auto parts Information: CCVD, test drives, diagnostics, vehicle problem discussion Explicit services: Smooth – running automobile after performed services Implicit services: Worry –free auto repair, safety. 2. Village Volvo provides comfortable atmosphere for its customers (well equipped waiting room), complimentary additional services such as vacuuming which increase value of services received. They have also split their services between routine maintenance and general repairs in order to meet the time requirements of their customers. They will only bill what they estimate without the customer’s prior approval and they return all worn parts so the customer knows the services were performed. 3. Village Volvo currently operates in a business to consumer (B2C) environment where the customer is considered and is active in the entire service process. If Village Volvo was to run its repair operations more like a factory (which I don’t suggest), the consumer would just fill out a form as to what was wrong with the vehicle and Village Volvo would fix the problem and deliver the repaired car. Under this format they would be able to actually work on cars for a greater part of the day as they would no longer need to spend time interacting with the customer. Village Volvo would......

Words: 719 - Pages: 3

Premium Essay

The Village

...The Village Movie synopsis Peoples’ perceptions can change how we ourselves view the world and what’s going on in it. Making sure we understand perception vs reality will help us think critically and see things both subjectively and objectively. Covington is a 19th century town in the middle of the woods comprised of town elders, chiefly Edward Walker, and their families. In the woods that surround the town, there live creatures who are not named and with whom the townsfolk have had dealings in the past, while not shown; a deal of a sort has been worked out between the creatures and the village with the understanding that the villagers will not venture past the safe points and the creatures will not breach these points from their side either. A young man of the town dies of an as yet unknown disease that a few members think may have been treatable if he just had the medicine. Lucius Hunt appeals to the village elders to let him travel beyond their safe border to the towns past in order to get medicine to ensure this does not happen again, and possibly to heal the mental illness of Noah. Lucius is quickly denied the request. Lucius is approached by Kitty in hopes that they will marry, but Lucius is in love with Kitty’s sister Ivy, who is blind, but can “see” auras around certain people. Noah is in love with Ivy and presents her with berries of “the bad colour” (red, which is not allowed in the town, as it’s feared to bring out the monsters). Lucius determines that if the......

Words: 1218 - Pages: 5

Free Essay

My Village

...Describe a village you know well I was born and have grown up in the country in a small village beside a beautiful river. My village is surrounded in a hedge of green bamboos. Most of the houses in the village are built of brick and have red tiled roofs. In the middle of the village there is an old pagoda with high trees around it. On the first and fifteenth days of the lunar month, the villagers often go to the pagoda to give offerings to The God of Agriculture. On the right of the village flows quietly a clear and blue river. When I was young, I used to swim in the river with my friends. How can I forget the wonderful time on this river fishing or rowing a boat with my boyhood friends! On the left of the village lies the village green where village meetings are often held by village officials. On this ground covered with soft grass we used to fly kites on windy autumnal evenings. The majority of villages live on agriculture. They get rich thanks to their fertile rice-fields and their diligence. Harvest time is certainly the busiest and the merriest time of the year. During the harvest, the villagers often get up very early in the morning. They cheerfully go to their rice-fields to harvest the bumper crop – the fruit of many months of hard work. My villagers are very friendly and helpful. They are willing to offer mutual help in any case and always get on with one another harmoniously. My village is rather small indeed but I like it very much because I......

Words: 304 - Pages: 2