Free Essay

Midnight Sun

In: Novels

Submitted By gsellymonica
Words 78164
Pages 313
MIDNIGHT SUN
Edward's Story

Stephenie Meyer

2

Daftar Isi
1. Pandangan Pertama 2. Buku yang Terbuka 3. Fenomena 4. Penglihatan 5. Undangan 6. Golongan Darah 7. Melody 8. Hantu 9. Port Angeles 10. Teori 11. Interogasi 12. Kesulitan

3

1. P a n d a n g a n P e r t a m a
Inilah saat dimana aku berharap bisa tidur. Sekolah. Atau, penyiksaan lebih tepatnya? Seandainya ada jal an lain menebus dosa-dosaku. Kejenuhan ini selalu sulit diatasi; setiap hari terasa lebih monoton dari sebelumny a. M u n g k i n b a g i k u i n i l a h ‘t i d u r ‘ j i k a d i d e f i n i s i k a n s e b a gai bentuk berdiam diri disela aktivitas harian. Aku menatap rekahan di pojok kafetaria, membayang kan bentuk-bentuk abstrak. Itu salah satu cara memelank an suara-suara riuh di kepalaku. Beratus suara ini membuatku mati kebosanan. Jika menyangut pikiran manusia, aku telah mendeng ar segalanya, dan lagi, hingga ratusan kali. Hari ini, se mua tercurah pada sebuah peristiwa sepele, kedatangan s eorang murid pindahan. Tidak terlalu sulit menyimpulka n pikiran-pikiran itu sekaligus. Aku telah melihat sosok nya berulang-ulang, dari pikiran ke pikiran, dari segala sudut. Cuma perempuan biasa. Kegemparan akibat kedata ngannya mudah ditebakµsama seperti menunjukan benda berkilau pada anak kecil. Setengah laki-laki hidung bela ng bahkan sudah ingin bermeseraan dengannya, hanya kar ena ia anak baru. Aku mesti lebih keras mengacuhkan me reka. Hanya empat suara yang coba kuredam demi kesopan an dan bukannya karena tak suka: milik keluargaku, yang terbiasa tanpa privasi disekitarku hingga tak perduli lag i. Aku coba menjaga ruang pribadi mereka sebisanya. Be rusaha tidak mendengarkan, kalau itu mungkin. Berupaya sekuatnya, tapi tetap saja...aku tahu. Rosalie sedang memikirkan, seperti biasa, tentang d irinya. Dia mendapati pantulan dirinya di kaca mata sese 4

orang, dan puas pada kesempurnaannya. Pemikiran Rosali e agak dangkal. Tidak banyak kejutan. Emmet masih menggerutu gara-gara kalah bertarung dengan Jasper tadi malam. Butuh segala kesabarannya ya ng pendek untuk bisa tahan hingga sekolah usai untuk me ngajak Jasper tanding ulang. Aku tidak pernah terganggu dengan pikiran-pikiran Emmet. Dia jarang memikirkan se suatu tanpa diucapkan keras-keras atau langsung dikerja kan. Aku lebih merasa bersalah membaca pikiran yang la innya karena sebetulnya ingin disembunyikan. Jika pikir an Rosalie dangkal, maka Emmet selaksa danau tak berba yang, sangat jelas. Sedang Jasper...menderita. Aku mesti menahan agar tidak mendesah. Edward. Alice memanggil, dan langsung menarik per hatianku. Itu seperti memanggil namaku keras-keras. Aku sedi kit lega namaku telah ketinggalan jamanµbiasanya menje ngkelkan tiap ada orang memikirkan nama Edward yang l ain, otomatis menoleh... Ini aku tidak menoleh. Alice dan aku cukup mahir b erbincang seperti ini. Jarang yang memergoki. Mataku m asih tetap memandangi rekahan itu. Bagaimana, apa dia masih bertahan? Tanya Alice pa daku. Aku sedikit merengut, hanya perubahan kecil di sud ut bibir. Tidak ada artinya bagi yang lain. Mungkin dian ggap eksrepresi jemu. Alice langsung siaga. Kulihat pikirannya mengawasi Jasper lewat penglihatannya. Apa ada bahaya? Dia memb aca lagi, sekilas kedepan, mencari tahu sumber kegusara nku.

5

Aku menoleh sedikit kekiri, seakan sedang memperh atikan deretan bata di dinding, mendengus pelan, dan ke mbali ke kanan, pada celah di pojok. Hanya Alice yang t ahu aku sedang menggeleng. Dia kembali tenang. beritahu aku jika kondisinya m emburuk. Hanya mataku yang bergerak, keatas ke langit-langit , dan kembali kebawah. terima kasih sudah mengawasinya. Aku lega tidak perlu menjawabnya keras-keras. Apa yang mesti kukatakan? 'dengan senang hati'? Jujur saja t idak begitu. Aku sangat terganggung mendengar pergulat an Jasper. Apa perlu bereksperimen seperti ini? Bukanny a lebih aman mengakui bahwa ia tidak akan mampu meng atasi rasa hausnya seperti kami, dan jangan terlalu mema ksanya. Mengapa harus bermain-main dengan bencana? Ini sudah dua minggu sejak terakhir berburu. Tidak terlalu sulit buat kami berempat. Agak tidak nyaman kad ang-kadangµjika ada manusia berjalan terlampau dekat, a tau jika angin bertiup ke arah yang salah. Tapi manusia jarang mendekat. Insting mereka memberitahu apa yang t idak dimengerti kesadaran mereka: bahwa kami berbahay a. Jasper sedang sangat berbahaya saat ini. Tiba-tiba, seorang perempuan berhenti di meja sebel ah, mengobrol dengan temannya. Dia menggoyang rambut pirang pendeknya, dan menelisipkan jemarinya. Pemanas ruangan meniup aromanya ke arah kami. Aku telah terbia sa dengan efeknyaµperasaan terbakar yang meninju tengg orokan, hasrat lapar di perut, otot-otot yang menegang, dan liur yang menetes deras. Semuanya normal, biasanya mudah diatasi. Tapi sek arang, ketika mengawasi Jasper, jadi lebih sulit. Godaan

6

nya lebih besar, dua kali lipat. Rasa haus ganda, bukan c uma dahagaku. Jasper membiarkan imajinasinya berkeliaran. Dia me nggambarkannya dengan jelasµ membayangkan dirinya ba ngkit dari samping Alice dan berdiri di samping gadis it u. Membayangkan mencondongkan tubuhnya, seakan ingin membisikan sesuatu, lalu membiarkan bibirnya menyentu h lengkung tenggorokannya. Membayangkan denyut nadi yang mengalir dibalik kulit tipis itu terasa hangat di bib irnya. Aku menendang kursinya. Dia terkejut dan menatapku sebentar, kemudian tert unduk. Aku mendengar perasaan malu dan peperangan di kepalanya. Sori. gerutu Jasper. Aku mengangkat bahu. Alice berbisik m Aku bisa melihatnya. Kau tidak akan melakukan apapun. enghiburnya.

Aku coba tidak meringis agar tidak membongkar keg usaran Alice. Kami harus bekerja sama, aku dan Alice. I ni tidak mudah, mendengar suara-suara atau melihat mas a depan. Itu adalah keanehan bagi kami yang sudah aneh. Kami saling menjaga rahasia. Bisa sedikit membantu jika kau pandang mereka seb agai manusia. Saran Alice, nadanya yang tinggi mengalu Nam n bagai musik, terlalu cepat untuk telinga manusia.

anya Whitney. Dia memiliki adik perempuan kecil yang d ia puja. Ibunya mengundang Esme di pesta kebun, kau in gat? Aku tahu siapa dia. gerutu Jasper. Dia berpaling ke salah satu jendela kecil di bawah langit-langit. Nada gus arnya mengakhiri pembicaraan. Dia harus berburu nanti malam. Sangat ceroboh men gambil resiko seperti ini, coba menguji kekuatannya, unt

7

uk membangun daya tahannya. Jasper sebaiknya menerim a saja batasannya dan bertindak semampunya. Kebiasaan lamanya tidak cocok dengan gaya hidup kami; tidak seha rusnya memaksakan diri. Alice mendesah dan berdiri, mengambil nampan mak annya“yang sekedar properti“ dan berlalu sendirian. Dia tahu kapan Jasper merasa cukup. Kendati Rosalie dan Em met lebih mencolok kedekatannya, adalah Alice dan Jasp er yang lebih saling memahami. Edward Cullen. Secara reflek aku menoleh begitu namaku dipanggil, walau tidak benar-benar diucap, hanya dipikirkan. Kemudian, selama sepersekian detik mataku terpaku pada sepasang mata lebar manusia, berwarna coklat muda , pada wajah pucat yang menyerupai hati. Aku mengenali nya, meskipun belum melihatnya sendiri. Wajahnya hamp ir ada di seluruh kepala orang-orang. Si murid baru, Isa bella Swan. Putri kepala polisi kota ini, yang terdampar karena soal perwalian. Bella. Dia mengoreksi yang mema nggilnya dengan nama lengkap... Aku berpaling darinya, bosan. Pada detik itu juga a ku sadar bukan dia yang memikirkan namaku. Tentu saja dia sudah jatuh cinta pada keluarga Cull en, kudengar pikiran tadi berlanjut. Kukenali 'suaranya', Jessica Stanley belum cukup lama sejak ia menggangguku dengan perbincangan di kepalanya. Betapa melegakan ket ika akhirnya ketergila-gilaannya berakhir. Biasanya mus tahil meloloskan diri dari lamunan konyolnya yang tak a da habisnya. Aku harap, ketika itu, bisa menjelaskan pad anya apa yang sebenarnya terjadi jika bibirku, dan seder etan gigi dibaliknya, berada dekat di telinganya. Itu aka n menghentikan fantasi- fantasinya yang menjengkelkan.

8

Memikirkan bagaimana reaksinya hampir membuatku ters enyum. Sedikit lemak akan lebih baik buatnya, Jessica mela njutkan. Dia bahkan tidak cakep. Entah kenapa Eric selalu menatapnya...atau Mike. Dia mengernyit dipikirannya ketika menyebut nama yang terakhir. Pujaan barunya, Mike Newton yang popule r, yang jelas-jelas cuek. Namun rupanya, bersikap sebali knya pada si murid baru. Lagi-lagi seperti anak kecil ya ng melihat benda berkilau. Ini membuat Jessica gusar, m eskipun tetap bersikap ramah dengan menjelaskan perihal keluarga Cullen. Murid baru itu pasti menanyakan kami. Semua orang ikut memperhatikanku, sambil lalu Jess ica puas dengan dirinya. Betapa beruntungnya Bella seke las denganku di dua mata pelajaran...pasti Mike akan ber tanya padaku apa yang diaAku berusaha menghalau pembicaraan tolol itu, sebe lum membuatku gila. Jessica Stanley sedang mengupas kebobrokan keluar ga Cullen ke si Swan anak baru itu. met untuk mengalihkan perhatian. Dia tertawa geli. Kuharap kisahnya menarik, pikirn ya . Kurang imajinatif, sebetulnya. Cuma skandal-skand al kuno. Tidak ada bagian horornya. Sedikit mengecewak an. Dan si murid baru? Apa dia juga kecewa? Aku mencari tahu pikiran si murid baru ini, Bella, t entang cerita-cerita Jessica. Apa pendapatnya ketika mel ihat keluarga aneh, berkulit putih-kapur, yang diasingka n ini? Itu tanggung jawabku buat mengetahui reaksinya. A ku bertindak sebagai pengawas itu istilah yang peling m aku berbisik ke Em

9

endekati bagi keluargaku. Untuk melindungi kami. Jika s eseorang curiga, aku bisa memberi peringatan awal dan mundur teratur. Itu sempat terjadiµbeberapa manusia den gan imajinasi berlebihan mengaggap kami mirip dengan k arakter di buku atau film. Biasanya tebakan mereka sala h, tapi lebih baik menyingkir daripada mengambil resik o. Jarang ada yang menebak dengan tepat. Kami tidak me mberi mereka kesempatan untuk menguji hipotesisnya. K ami langsung menghilang, dan sekedar jadi kenangan bur uk... Aku tidak mendengar apa-apa, meskipun telah menyi mak disebelah monolog internal Jessica yang berhambura n tak karuan. Seperti tidak ada orang. Sangat ganjil, apa dia telah pindah? Sepertinya belum, Jessica masih berbin cang dengannya. Aku mendongak memastikan, sedikit her an. Memastikan 'pendengaran' ekstrakuµini belum pernah dilakukan. Kembali, pandanganku terpaku pada mata leba r coklat yang sama. Dia masih duduk disitu, sedang meli rik kesini, sesuatu yang wajar, sementara Jessica meneru skan gosipnya. Memikirkan tentang kami, itu juga wajar. Tapi aku tidak mendengar bisikanpun. Rona hangat merah muncul di pipinya ketika menund uk, malu kedapatan mencuri pandang. Untung Jasper tida k melihat. Sulit dibayangkan bagaimana reaksinya jika m elihat rona merah itu. Perasaannya tampak jelas di mimiknya, sejelas ada t orehan huruf di keningnya: terkejut, begitu mendapati ta nda-tanda perbedaan antara kaumnya dengan kami; penas aran, setelah mendengar dongeng Jessica; dan sesuatu ya ng lain...takjub? Itu bukan yang pertama. Kami terlihat i ndah bagi mereka, mangsa alami kami. Kemudian, malu s etelah terpergok sedang memperhatikan diriku.

10

Tetap saja, meskipun tampak jelas pada matanya yan g anehµaneh, karena terlihat begitu dalam; mata coklat b iasanya datarµaku tidak mendengar apapun kecuali kehen ingan. Tidak ada sama sekali. Sejenak aku merasa tidak nyaman. Ini sesuatu yang belum pernah kujumpai. Apa ada ya ng aneh denganku hari ini? Aku merasa baik-baik saja. K hawatir, aku mencoba lebih keras. Suara-suara yang sebelumnya kujauhkan mendadak b erteriak di kepalaku. ...kira-kira apa musik kesukaannya...mungkin aku bi sa menyinggung CD baru itu...Mike Newton sedang berpi kir, dua meja disebalahnyaµmemperhatikan Bella Swan. Coba lihat bagaimana dia menatapnya... Eric Yorkie berpikir tak senang, juga masih sekitaran perempuan itu. ...benar-benar memuakan. Kau pikir dia itu terkenal atau bagaimana, bahkan Edward Cullen, menatapnya... La uren Mallory sangat cemburu hingga wajahnya bisa-bisa menghijau. Dan Jessica, memamerkan teman barunya. Me nggelikan... sindiran terus bermuntahan dari pikirannya. ...sepertinya semua orang sudah menanyakan hal itu ke dia. Tapi aku ingin ngobrol dengannya. Aku mesti me mikirkan pertanyaan baru. Renung Asley Downing. ...mungkin ia akan ada di kelas bahasa Spanyolku... June Richardson berharap. ...banyak yang mesti dikerjakan nanti malam! Trigo nometri, dan tes bahasa Inggris. Kuharap ibuku... Angela Weber, gadis pendiam. Piki rannya paling ramah. Satu-satunya di meja yang tidak ter obsesi pada si Bella. Aku dapat mendengar semuanya, tiap hal sepele yan g terlintas di benak mereka. Tapi tidak dari murid baru dengan mata memperdaya itu.

11

Dan, tentu saja, aku bisa mendengar apa yang dibica rakannya ke Jessica. Tidak perlu membaca pikiran untuk mendengar suara lirihnya dengan jelas. Cowok berambut coklat kemererahan itu siapa? aku dengar ia bertanya, mengerling dari sudut matanya, dan buru-buru menghindar ketika tahu aku masih menatapnya. Jika aku berharap suaranya bisa membantu menemuk an pikirannya, yang hilang entah dimana, aku kecewa. Bi asanya, pikiran orang-orang memiliki suara yang sama de ngan aslinya. Tapi nada pelan dan pemalu ini terdengar a sing, tidak ada diantara ratusan pikiran yang bersautan d i seantero kafetaria. Aku yakin itu. Suaranya benar-bena r baru. Oh, selamat, idiot! Pikir Jessica sebelum menjawab pertanyaannya. Itu Edward. Dia tampan, tentu saja, tapi jangan buang-buang waktu. Dia tidak berkencan. Kelihat annya tak satupun perempuan disini cukup cantik baginy a. Dia mendengus. Aku memutar kepala menyembunyikan senyum. Dia t idak tahu betapa beruntungnya mereka tidak memenuhi se leraku. Dibalik kegetiran itu, muncul dorongan aneh, sesuat u yang tidak kupahami. Ini ada hubungannya dengan piki ran-pikiran tersembunyi Jessica...aku merasakan desakan aneh untuk turun tangan, melindungi Bella Swan ini dari kesinisan Jessica. Sungguh perasaan yang aneh. Coba me nemukan motifasi dibaliknya, aku mempelajari murid bar u itu sekali lagi. Mungkin sekedar insting terpendam untuk melindung giµyang kuat pada yang lemah. Perempuan ini kelihatan l ebih rapuh dibanding yang lainnya. Kulitnya begitu tipis dan trasparan hingga sulit dibayangkan mampu melindun ginya dari dunia luar. Aku bisa melihat darahnya berden

12

yut melewati pembuluhnya, dibawah membrannya yang pu cat dan jernih... tapi sebaiknya tidak berkonsentrasi pad a hal itu. Aku sudah cukup baik dengan pilihan hidupku, tapi sama hausnya dengan Jasper. Tidak ada untungnya m engundang godaan. Ada kerut samar diantara alisnya yang tidak ia sada ri. Benar-benar menjengkelkan! Aku bisa melihat denga n jelas bagaimana ia tersiksa disana, berbincang dengan orang asing, jadi pusat perhatian. Aku bisa merasakan pe rasaan malunya dari caranya menahan pundak-lemahnya. Curiga, seakan menunggu datangnya penolakan. Tapi teta p saja aku cuma bisa menilai. Cuma melihat. Cuma memb ayangkan. Tidak ada kecuali keheningan dari mahluk yan g tidak istimewa ini. Aku tidak mendengar apa-apa. Kena pa? Ayo pergi. Rosalie berbisik, memecah perhatianku. Aku berpaling lega. Aku tidak ingin gagal lagiµitu membuat kesal. Dan aku tidak ingin tertarik pada pikiran nya yang tersembunyi hanya karena tersembunyi dariku. Tak ada keraguan, ketika mampu menembus pikirannyaµd an aku akan mencari caraµpasti sama sempit dan dangkal nya seperti manusia lainnya. Tidak sepadan dengan usaha nya. Jadi, apa murid baru itu takut? tanya Emmet, dia m asih menunggu jawaban pertanyaan tadi. Aku angkat bahu. Dan ia tidak terlalu tertarik untuk bertanya lebih jauh. Begitu juga denganku. Kami bangkit dari meja dan berjalan keluar kafetari a. Emmet, Rosalie, dan Jasper berakting sebagai senior ; mereka pergi ke kelas mereka. Peranku lebih muda. Ak u menuju kelas biologi, bersiap untuk bosan. Tidak mung

13

kin bagi Mr. Banner, yang kecerdasannya rata-rata, meny inggung topik yang mengejutkan seseorang yang memega ng dua gelar kedokteran. Di kelas, aku duduk di kursiku dan mengambil buku biologiµsatu lagi peralatan kamuflase lainnya; aku sudah menguasai semua isinya. Aku satu-satunya yang duduk se ndirian. Manusia tidak cukup cerdas untuk tahu mereka t akut, tapi insting bertahannya cukup untuk membuat mer eka menyingkir. Ruangan mulai terisi setelah istirahat selesai. Aku bersandar di kursi dan menunggu waktu berlalu. Lagi, ak u berharap bisa tidur. Karena mungkin aku akan memikirkan tentang dia. K etika Angela Weber masuk bersama murid baru itu, nama nya memicu perhatian. Bella kelihatannya sepemalu diriku. Pasti hari ini b erat buat dia. Aku harap bisa mengucapkan sesuatu...tapi mungkin akan kedengaran bodoh... Yes! Pikir Mike Newton, menggeser duduknya untuk melihat gadis itu. Masih saja, dari tempat Bella Swan, tidak ada apa-a pa. Ruang kosong dimana isi pikirannya seharusnya mem buatku jengkel. Dia mendekat, melintasi gangku menuju meja guru. Gadis malang; satu-satunya tempat kosong cuma di sampi ngku. Kubersihkan bagian mejanya, menyingkirkan bukubukuku. Aku ragu ia akan nyaman. Dia mengambil satu s emester penuhµdi kelas ini, paling tidak. Mungkin, deng an duduk disampingnya, aku bisa memecahkan rahasianya ...bukannya aku butuh posisi dekat sebelumnya...juga bu kannya akan menemukan hal yang menarik... Bella Swan berjalan melintasi hembusan pemanas ru angan yang bertiup ke arahku. Aromanya langsung mengh

14

antamku dengan keras, seperti pendobrak yang tak kenal ampun. Tidak ada gambaran kekejian yang mampu mendes kripsikan dorongan yang tiba-tiba melandaku. Dalam sekejap, aku tidak lagi mendekai seperti man usia; tidak ada lagi jejak kemanusiaan yang tersisa. Aku adalah pemangsa. Dia buruanku. Tidak ada yang lebih penting selain itu. Tidak ada ruangan penuh saksiµdi pikiranku mereka telah jadi korban yang tak terelakan. Misteri pikirannya telah lenyap. Tidak ada artinya. Sebentar lagi ia tidak a kan memikirkannya. Aku adalah vampir, dan dia memiliki darah paling m anis yang pernah kucium selama delapan puluh tahun. Aku tidak pernah membayangkan aroma manis senik mat ini betul-betul ada. Jika aku pernah tahu, aku telah memburunya sejak lama. Akan kususuri bumi mencarinya. Bisa kubayangkan sedapnya... Rasa haus membakar kerongkonganku seperti tinju a pi. Mulutku hambar dan kering. Liur yang menetes deras tidak mampu mengusirnya. Perutku melilit oleh lapar aki bat haus. Otot-ototku menegang siap terlontar. Satu detik belum lagi lewat. Dia masih pada langkah yang sama ketika angin bertiup. Setelah kakinya menjeja k, matanya melirikku, gerakan yang maksudnya diam-dia m. Pandangannya bertemu, dan kulihat bayangan diriku terpantul pada cermin lebar matanya. Wajah syok yang k ulihat menyelamatkan nyawanya seketika itu juga. Dia tidak membuatnya lebih mudah. Ketika mengkaji ekspresiku, darah mengalir ke pipinya, mengubah warnan ya sangat menggiurkan. Aromanya sesuatu yang baru di o takku. Tidak mungkin melewatinya begitu saja. Pikirank u pun mengamuk, memberontak, tak karuan.

15

Langkahnya lebih cepat, seakan tahu saatnya untuk l ari. Ketergesaan membuatnya kikukµdia tersandung, ham pir menubruk kursi depanku. Rapuh, lemah. Bahkan lebih untuk ukuran manusia. Aku berupaya fokus pada pantulan wajah di matany a, wajah yang langsung kukenali. Monster dalam dirikuµ sosok yang kukalahkan lewat kerja keras dan kedisiplina n puluhan tahun. Betapa mudahnya sekarang muncul! Aroma manis itu berputar di sekelilingku. Mencabik pikiranku, dan hampir membuatku bertindak. Jangan! Tanganku mencengkram ujung meja, menahanku teta p duduk. Kayunya tidak cukup keras. Serat kayunya lanta k jadi bubuk, meninggalkan bentuk jari terpahat dibalik meja. Hilangkan bukti. Itu aturan dasar. Aku cepat-cepat memipis dengan ujung jari, meninggalkan coakan dan ser buk di lantai. Kusingkirkan dengan kaki. Hilangkan bukti. Korban yang tidak terelakan... Aku tahu akan tiba waktunya. Gadis itu akan duduk di sampingku. Dan aku harus membunuhnya. Penonton tak bersalah di kelas ini, delapan belas m urid dan seorang guru, akan menyaksikannya. Kubuang jauh pikiran itu. Bahkan saat kondisiku leb ih buruk, aku tidak sekeji ini. Aku belum pernah membu nuh orang tidak bersalah. Tidak selama delapan puluh ta hun. Dan sekarang aku merencanakan pembantaian dua pu luh orang sekaligus. Sosok monster itu membuatku muak. Sebagian diriku gemetar, sebagian lagi menyusun re ncana. Jika kubunuh gadis itu duluan, aku cuma punya wakt u lima belas detik sebelum seisi ruangan panik. Mungkin

16

sedikit lebih lama, jika mereka tidak menyadari yang sed ang kulakukan. Dia sendiri tidak punya waktu untuk men jerit atau kesakitan; aku tidak akan membunuhnya denga n kejam. Cuma itu yang bisa kuberi pada monster dalam diriku, darahnya yang menggiurkan. Tapi kemudian aku mesti mencegah mereka lari. Tid ak ada masalah dengan jendela, terlalu tinggi dan kecil untuk dilewati. Hanya pintuµhalangi dan mereka terperan gkap. Sedikit lebih sulit menghabisi mereka ketika panik dan berhamburan. Bukan tidak mungkin, tapi terlalu beri sik. Akan ada banyak jeritan. Seseorang akan mendengar. ..dan terpaksa membunuh lebih banyak lagi. Dan darahnya akan mendingin. Aromanya menghantamku, menutup kerongkonganku dengan rasa sakit... Maka saksinya lebih dulu. Aku memetakan di kepalaku. Aku di tengah ruangan, di deretan terbelakang. Kuhabisi dulu sisi kanan. Bisa k upatahkan empat atau lima leher perdetik, begitu taksira nku. Tidak akan terlalu ribut. Mereka beruntung; tidak m enyadari yang terjadi. Kemudian berputar di depan lalu menghabisi sisi sebelah kiri. Itu akan makan waktu, pali ng tidak, lima detik untuk menghabisi seisi ruangan. Cukup lama bagi Bella Swan menyaksikan, sekilas, a pa yang akan menimpanya. Cukup lama untuk ngeri. Cuku p lama, jika syok tidak membuatnya membeku, untuk me mbuatnya menjerit. Satu jeritan halus yang tidak akan m emanggil siapa-siapa. Kutarik napas panjang. Aromanya bagai api yang ber pacu di pembuluh darahku yang kering, membakar keluar dari jantungku, dan menghabiskan setiap sisi baik dalam diriku.

17

Dia baru saja membelok. Dalam beberapa detik, dia akan duduk dekatku. Monster di kepalaku tersenyum. Seseorang menutup bukunya dengan keras. Aku tidak melihat siapa manusia terkutuk itu. Tapi gerakannya men girim gelombang kenormalan. Udara bersih terhembus ke mukaku. Dalam satu detik yang singkat, pikiranku kembali je rnih. Dalam detik yang berharga itu, aku melihat dua waj ah bersebelahan. Satu adalah diriku, atau lebih cocok: monster berma ta merah yang telah membunuh banyak orang. Membenark an pembunuhan itu. Algojo para pembunuh yang membunu h sesamanya, para monster yang tidak terlalu berbahaya. Itu memang berlagak seperti Tuhan; kuakui ituµmemutus kan siapa yang pantas dihukum mati. Cuma itu pembelaan lemahku. Aku telah merasakan darah manusia, tapi hanya secara harafiah. Semua korbanku, tidak lebih manusia da ripada ku. Wajah yang lain adalah Calisle. Tidak ada kemiripan diantara keduanya. Bagai teran g dan langit gelap. Tak ada alasan untuk mirip. Carlisle bukan ayah bio logisku. Kami tak memiliki ciri-ciri serupa. Kesamaan w arna kulit cuma kekhasan untuk mahluk seperti kami; set iap vampir memiliki kulit pucat sedingin es. Kesamaan w arna mata adalah hal yang lainµcermin dari gaya hidup b ersama. Tetap saja, walau tanpa kemiripan dasar, wajahku te lah mencerminkan dirinya, sampai tingkat tertentu, setel ah tujuh puluh tahun berhasil mengikuti pilihan hidupny a. Penampakanku tidak berubah, tapi sepertinya kebijaka nnya telah membentuk diriku. Kasihnya terlihat pada ben tuk mulutku. Kesabarannya terlihat pada alisku.

18

Semua itu kini tergantikan oleh sosok monster. Dala m sekejap, tidak ada yang tersisa dari jejak penciptaku, guruku, ayahku dalam segalanya. Mataku akan semerah i blis; segala kemiripan akan lenyap selamanya. Dalam pikiranku, mata lembut Carlisle tidak mengha kimi. Aku tahu ia akan memaafkan tindakan mengerikank u. Karena dia menyayangiku. Karena pikirnya aku lebih baik dari itu. Dan ia akan tetap menyayangiku, bahkan s etelah kutunjukan dia salah. Bella Swan duduk di sebelahku, gerakannya canggun gµagak takut? Bau darahnya mengembang dalam gumpala n awan yang tidak dapat ditolak lagi. Akan kubuktikan ayahku salah. Kenyataan ini sama menyakitkannya dengan api yang membakar kerongkongan ku. Aku menjauh darinyaµmemberontak dari monster yan g ingin segera menerjangnya. Kenapa dia harus datang? Kenapa dia harus hidup? Kenapa dia harus merusak setiti k kedamaian dari ke tak-hidupanku? Mengapa penggangg u ini dilahirkan? Dia akan menghancurkanku! Aku membuang muka. Tiba-tiba kebencian meliputik u. Siapa mahluk ini? Kenapa aku, kenapa sekarang? Ke napa aku mesti kehilangan segalanya hanya karena ia keb etulan memilih tinggal di kota ini? Kenapa ia harus datang kesini! Aku tidak mau menjadi monster! Aku tidak mau mem bunuh seisi kelas ini! Aku tak ingin kehilangan segala y ang berhasil kuraih lewat pengorbanan dan penyangkalan seumur hidup! Aku tidak mau. Dan dia tidak bisa memaksaku.

19

Bau adalah masalahnya, bau mengundang darahnya. J ika ada cara melawannya...jika saja sapuan angin segar menjernihkan pikiranku. Tiba-tiba Bella Swan menggerai rambut panjangnya yang berwarna mahoni kesampingku. Apa dia gila? Itu sama dengan menyemangati sang m onster! Menggodanya. Tidak ada lagi hembusan yang bisa mengusir wangin ya. Sebentar lagi semua akan hilang. Tidak, tak ada lagi angin yang membantu. Tapi, aku tidak harus bernapas. Kuhentikan aliran udara di paru-paruku; sedikit leg a, tapi masih jauh dari aman. Aku masih memiliki ingata n aromanya, rasanya di belakang lidahku. Aku tidak mam pu menahannya terlalu lama. Tapi mungkin bisa untuk sa tu jam. Satu jam. Cukup untuk keluar dari ruangan penuh korban ini. Korban yang tidak seharusnya jadi korban. Ji ka aku bisa mehannya selama satu jam. Ini tidak nyaman, tidak bernapas. Tubuhku tidak me merlukan oksigen, tapi itu berlawanan dengan instingku. Aku mengandalkan penciuman lebih dari indra lainnya ke tika tertekan. Jadi penuntun ketika berburu. Itu adalah a larm awal ketika muncul bahaya. Aku belum pernah mene mui situasi yang sangat berbahaya, tapi kewaspadaan ka mi melebihi manusia. Tidak nyaman, namun dapat diatasi. Lebih dapat dit ahan daripada mencium baunya tanpa menenggelamkan gi giku pada kulitnya yang tipis, tembus pandang, menggiur kan, dan kemudian merasakan basahnya, hangatnya, deny utµ Satu jam! Hanya satu jam. Aku tidak boleh memikir kan itu.

20

Gadis itu membiarkan rambutnya melewati bahu. Ak u tidak bisa melihat wajahnya, untuk membaca emosinya lewat mata jernihnya yang dalam. Apa itu alasannya men ggerai rambut? Menyembunyikan matanya dariku? Karena takut? Malu? Untuk menyimpan rahasianya? Namun kejengkelan karena tidak mampu membaca pi kirannya tidak sebanding dengan kebutuhanµdan kebenci anµyang melanda kini. Betapa bencinya aku pada wanita lemah kekanakan disampingku ini. Membencinya dengan segenap rasa, sebesar seluruh tekadku, kecintaanku pada keluaragaku, anganku untuk menjadi lebih baik... Membe ncinya. Membenci bagaimana ia membuatku seperti iniµit u sedikit membantu. Ya, kemarahanku tadi masih kurang, tapi itu membantu. Jadi sebaiknya fokus pada emosiku ag ar tidak membayangkan mencicipi dia... Benci dan marah. Gusar. Apa satu jam akan lewat? Dan ketika satu jam berakhir... ia akan meninggalka n ruangan. Lalu apa yang kulakukan? Aku bisa memperkenalkan diri. Hai, namaku Edward Cullen. Boleh kutemani ke kelas berikutnya? Dia akan mau. Itu sesuatu yang sopan. Meskipun tak ut, ia akan mengikuti. Cukup mudah menyesatkannya. Ba tas luar hutan tidak jauh dari parkiran. Aku bisa beralas an ketinggalan buku di mobil... Apakah ada yang menyadari aku bersamanya? Sekara ng hujan, seperti biasa, dua orang bermantel berjalan di parkiran tidak akan mencurigakan. Kecuali aku bukan satu-satunya yang seharian ini m emperhatikan dirinyaµmeskipun tidak seorangpun sewasp ada diriku. Mike Newton, terkecuali, dia cukup penasara n dengan kegelisahan Bellaµdia tidak nyaman di dekatk u, seperti yang lainnya, sebelum aromanya merusak segal anya. Mike Newton akan tahu jika dia pergi denganku.

21

Jika mampu satu jam, bisakah dua jam? Kusentak ras a terbakar yang perih ini. Dia akan pulang ke rumah kosong. Sherif Swan beke rja seharian. Aku tahu rumahnya, seperti kutau setiap ru mah disini. Rumahnya di pinggir hutan. Tanpa tetangga. Bahkan jika sempat berteriak, yang sangat mustahil, tida k akan ada yang mendengar. Itu cara yang lebih bertanggung jawab. Aku tahan p uluhan tahun tanpa darah manusia. Jika menahan napas, a ku bisa tahan dua jam. Dan saat ia sendirian, tidak ada o rang lain yang terluka. Dan tidak perlu terburu-buru men ikmatinya, monster di kepalaku setuju. Meskipun aku membenci dirinya, aku tahu itu tidak beralasan. Aku tahu yang kubenci sebenarnya adalah diri ku sendiri. Dan aku akan lebih membenci kami berdua ke tika ia mati. Kulewati menit demi menit dengan cara iniµmembay angkan cara terbaik membunuhnya. Tapi aku menghindari bayangan saat mengeksekusinya. Itu terlalu berlebihan. Aku bisa kalah dan membunuh semuanya sekarang juga. Maka aku membuat strategi, tidak lebih. Dengan begitu s atu jam akan berhasil kulalui. Di penghujung, dia mencuri pandang lewat celah ra mbutnya. Kebencian mendalam langsung menusukku ketik a pandangan kami bertemuµmelihatnya di pantulan matan ya yang ketakutan. Darah memerah di pipinya, dan aku s udah akan bergerak. Tapi bel berbunyi. Selamat karena belµKlise. Kami berdua sama-sama selamat. Dia, dari kematian. Aku, wal au hanya menunda, dari perubahan menjadi mahluk menge rikan yang menjijikan. Aku tidak berjalan sepelan semestinya ketika melun cur keluar. Mungkin mereka akan curiga ada yang tidak b

22

eres dengan gerakanku. Tapi tidak ada yang memperhatik an. Semua masih berkutat pada gadis yang telah dikutuk mati satu jam lagi. Aku bersembunyi dalam mobil. Sebenarnya aku tidak suka bersembunyi. Terlalu pen gecut. Tapi ini pengecualian. Aku sedang tidak tahan dekat-dekat manusia. Berkon senstrasi untuk tidak mebunuh satu orang membuatku ing in melampiaskannya ke orang lain. Betapa sia-sia. Jika menyerah pada sang monster, sama saja kalah. Kunyalakan CD yang biasanya menenangkan. Tapi ef eknya cuma sedikit. Yang kubutuhkan adalah udara bersi h, basah, dan dingin, yang mengalir bersama rintik hujan . Meskipun dapat mengingat bau darah Bella Swan denga n jelas, menghirup udara segar sama seperti membilas or gan tubuhku dari infeksi. Kini aku kembali waras. Aku bisa berpikir. Dapat be rtarung lagi, melawan apa yang kutentang. Aku tidak perlu ke rumahnya. Tidak perlu membunuh nya. Jelas, aku mahluk rasional, dan punya pilihan. Sela lu ada pilihan. Itu tidak kurasakan ketika di kelas...tapi sekarang s udah jauh darinya. Mungkin, jika menjauh dengan sanga t, sangat hati-hati, hidupku tidak perlu berubah. Semua bisa berjalan seperti keinginanku. Kenapa membiarkan p engganggu-menggiurkan tak-berharga merusaknya? Tidak perlu mengecewakan ayahku. Tidak perlu mem buat ibuku tertekan, khawatir...terluka. Ya, itu akan mel ukai ibu angkatku. Dan Esme begitu penuh cinta, halus, dan lembut. Menyebabkan seseorang seperti Esme terluka tidak bisa dimaafkan. Sungguh ironis tadi aku ingin melindunginya dari si ndiran Jessica Stanley yang tidak berbahaya. Aku adalah

23

orang terakhir yang akan jadi pelindung Isabella Swan. Aku adalah ancamannya paling berbahaya. Dimana Alice? Apa dia belum melihatku membunuh s i Swan dalam beragam cara? Kenapa dia tidak membantuµ mengehentikan atau menolong membereskan bukti-bukti, apapunlah? Apa dia terlalu terlena mengawasi bahaya dar i Jasper, hingga melewati kemungkinan yang lebih menge rikan? Apa aku sekuat yang dia pikirkan? Apa aku tidak akan menyentuh gadis itu? Sepertinya itu tidak benar. Alice pasti sedang berko nsenstrasi pada Jasper. Aku mencari posisinya, ke bangungan kecil kelas ba hasa Inggris. Tidak sulit menemukan 'suaranya' yang san gat kukenal. Tebakanku betul. Segenap pikirannya tercur ah pada Jasper, mengawasi secara ketat pilihan-pilihan k ecil tiap menitnya. Aku beraharap bisa minta saranya, tapi di sisi lain, aku lega ia tidak mengetahui apa yang mampu kulakukan. Bahwa ia tidak menyadari pembantaian yang kupertimban gkan tadi. Terasa hal lain membakarkuµrasa malu. Aku tidak in gin yang lain tahu. Jika bisa menghindar dari Bella Swan, jika mampu b ertahan tidak membunuhnyaµ bahkan ketika memikirkann ya, monster dalam diriku menggeliat dan menggeretakan gigi frustasiµmaka tidak ada yang perlu tahu. Jika aku m enjauh dari baunya... Tidak ada alasan untuk tidak mencoba. Pilih yang b enar. Coba menjadi apa yang Carlisle pikirkan tentang di riku. Jam terakhir sekolah hampir selesai. Kuputuskan me njalankan rencana itu. Lebih baik daripada menunggu di parkiran, bisa saja ia lewat dan merusak niatku. Lagi, ku

24

rasakan kebencian yang tak adil pada gadis itu. Aku ben ci karena ia hampir mengalahkanku. Bisa saja ia mengub ahku menjadi sesuatu yang kukutuk. Aku bergegasµsedikit terlalu cepat, tapi tidak ada y ang melihatµmelintasi parkiran menuju ruang Tata Usah a. Tidak mungkin berjumpa dengan Bella Swan disana. D ia mesti dihindari layaknya wabah menular. Di dalam cuma ada seorang pegawai, yang memang i ngin kutemui. Dia tidak menyadari kedatanganku. Mrs. Cope? Perempuan yang rambutnya dicat merah itu mendong ak dan matanya melebar. Selalu saja lengah. Sesuatu yan g tidak mereka pahami, tak perduli berapa kalipun berte mu salah satu dari kami. Oh, dia kaget, agak gugup. Dia merapihkan t-shirtn ya. Konyol, pikirnya pada dirinya. Dia cukup muda untu k jadi anakku. Terlalu muda untuk memandangnya seperti itu... Halo, Edward. Ada yang bisa dibantu? bulu matan ya bergoyang dibalik kacamatanya yang tebal. Risih. Tapi aku tahu caranya untuk mempesona ketik a dibutuhkan. Mudah, mengingat aku bisa membaca pikir an sekaligus isyarat tubuhnya. Aku bersandar kedepan, menatapnya seakan sedang menyelami mata coklatnya yang datar. Pikirannya sudah tidak karu-karuan. Ini akan mudah. Saya ingin minta tolong dengan jadwal saya, sehalus mungkin agar tidak menakutinya. Detak jantungnya makin cepat. Tentu, Edward. Apa yang bisa saya bantu? terlalu m uda, terlalu muda, dia merapalnya berulang-ulang. Sala h, tentu saja. Aku lebih tua dari kakeknya. Tapi berdasar tanggal di SIM, dia betul. kataku

25

Kira-kira apa saya bisa menukar jam pelajaran biolo gi saya? Dengan kelas senior mungkin? Apa ada masalah dengan Mr. Banner? Bukan itu, saya sudah pernah mempelajarai materiny a... Pada waktu di Alaska, ya... bibir tipisnya mengkeru t ketika mempertimbangkan ini. Mereka lebih pantas kuli ah. Banyak guru yang mengeluh. Nilainya sempurna, tida k pernah ragu di kelas, tidak pernah salah ketika ujianµs eakan selalu menemukan cara menyontek. Mr. Varner leb ih memilih percaya mereka mencontek daripada berangga pan ada murid yang lebih pintar darinya... aku yakin ibu nya mengajari mereka di rumah... ebih dari duapuluh lima orangµ Saya tidak akan menyulitkan di kelas. Tentu saja tidak. Keluarga Cullen tidak akan begitu. Saya tahu itu, Edward. Tapi tidak ada cukup kursi... Kalau begitu bisa saya batalkan kelasnya? Saya bisa belajar sendiri. Membatalkan pelajaran biologi? mulutnya terngaga. Itu gila. Apa susahnya duduk manis di mata pelajaran ya ng sudah dikuasai? Pasti ada masalah dengan Mr. Banne r. Apa perlu nanti kubicarakan dengan Bob? ak akan cukup untuk lulus. Saya akan mengejarnya tahun depan. Mungkin kamu perlu ijin dulu dari orang tuamu. Pintu membuka di belakang, tapi siapapun itu tidak memikirkan diriku, jadi kuacuhkan. Aku mencondongkan tubuh lebih dekat, dan kubuka mataku lebih lebar. Akan lebih baik jika keemasan daripada hitam. Kelegamannya membuat orang takut, sebagaimana mestinya. Nilaimu tid Sayangnya, Edward, se mua kelas sudah penuh. Para guru tidak ingin kelasnya l

26

Please, Mrs. Cope?

kubuat suranya semerdu mungki

nµitu dapat sangat membujuk. Apa tidak ada kelas apapun yang bisa saya tukar? P asti ada kelas kosong lain? Kelas biologi itu tidak mung kin satu-satunya... Aku tersenyum, berhati-hati agar tidak memperlihat kan gigiku terlalu lebar dan membuatnya takut. Jantungnya berdetak lebih kencang. Terlalu muda, d ia mengingatkan dirinya dengan galau. lihat jikaµ Satu detik lebih dari cukup untuk mengubah segalan ya: suasana di dalam ruangan, tujuanku kesini, alasanku mencondongkan tubuh ke perempuan ini... semuanya leny ap. Satu detik yang dibutuhkan Samantha Wells untuk m embuka pintu dan menaruh laporan di rak, lalu keluar la gi. Satu detik yang dibutuhkan bagi hembusan angin dari pintu melabrakku. Satu detik yang kubutuhkan untuk men yadari mengapa pikiran orang pertama tadi tidak mengga nggu. Aku menoleh, meskipun tidak perlu. Aku menoleh pe lan, berjuang agar otot-ototku tidak memberontak. Bella Swan sedang berdiri dekat pintu. Secarik kert as ditangannya. Matanya melebar ketika mendapati tatap an ganas dan tak manusiawiku. Bau darahnya memenuhi ruang kecil hangat ini. Ker ongokonganku membara. Monster itu kembali menatapku dari matanya, topeng iblis. Tanganku bersiap di meja. Tak perlu melihat untuk menjangkau kepala Mrs. Cope dan membenturkannya ke m eja hingga membunuhnya. Dua nyawa, daripada duapuluh. Cukup adil. Mungkin saya bis a bicara dengan Bobµmaksud saya Mr. Banner. Akan saya

27

Sang monster menuggu gelisah, lapar, ingin cepat-c epat menyelesaikannya. Tapi selalu ada pilihanµpasti ad a. Kuhentikan napasku, dan menampilkan wajah Carlisl e di depan mataku. Aku berbalik ke Mrs. Cope, dan 'men dengar' kekagetannya melihat perubahan ekspresiku. Dia mundur, tapi ketakutannya tidak terucap. Menggunakan segala daya yang kulatih puluhan tahu n menyangkal diri, aku berkata sehalus mungkin. Ada cu kup udara di paru-paru untuk bicara sekali lagi, dengan cepat. Kalau begitu lupakan saja. Aku tahu ini tidak mung kin. terima kasih banyak atas bantuannya. Aku cepat-cepat keluar, berusaha tidak merasakan k ehangatan darah gadis itu saat melewatinya. Aku tidak berhenti sampai tiba di mobil, berjalan te rlalu cepat. Kebanyakan sudah pada pulang, tidak terlalu banyak saksi. Aku mendengar suara D.J. Garret, melihat, kemudian mengabaikannya... Darimana datangnya si Edwardµseperti muncul begit u saja... mulai lagi, membayangkan yang aneh-aneh. Mo m selalu bilang... Ketika menyelinap kedalam mobil, semua sudah disi tu. Aku berusaha mengatur napas, tapi justru terengah m encari udara segar seperti habis tercekik. Edward? Alice bertanya, suaranya waspada. Aku cu Emmet mendesak khawati ma menggeleng. Apa yang terjadi padamu? r. Pikirannya teralihkan, sementara, dari kenyataan bahw a Jasper sedang tidak mood untuk pertandingan ulang. Bukannya menjawab, aku buru-buru memundurkan m obil. Aku mesti cepat-cepat meninggalkan parkiran sebel um Bella Swan datang. Bagiku dia setan yang menghantui

28

ku... Aku menginjak pedal gas dalam-dalam. Kecepatank u sudah empat puluh mil sebelum keluar parkiran. Di jal an, aku mencapai tujuh puluh sebelum tiba di kelokan. Tanpa menoleh, aku tahu Emmet, Rosalie, dan Jaspe r menatap Alice. Dia cuma angkat bahu. Dia tidak dapat melihat yang lalu, hanya masa depan. Dia mengeceknya sekarang. Kami sama-sama mengol ah penglihatannya. Dan sama- sama terkejut. Kamu akan pergi? dia berbisik sedih. Yang lain men atapku. Apa aku begitu? aku mendesis lewat sela-sela gigi. Dia melihatnya kalau begitu, begitu aku mengambil keputusan, dan pilihan lainnya yang jauh lebih kelam. Oh! Bella Swan, mati. Mataku, merah terang oleh darah segar. Pencarian oleh penduduk. Penantian kami sebelum semua aman dan memulai lagi dari awal... Oh! Alice kaget lagi. gambarannya jadi lebih detai l. Aku melihat bagian dalam rumah Sherif Swan untuk pe rtama kalinya. Melihat Bella di dapurnya yang kecil den gan lemari kuning. Dia memunggungi ku ketika aku meny elinap dari balik bayangan...merasakan aromanya menunt unku... Stop! Sori, rangan. Penglihatannya berubah lagi. Jalanan kosong malammalam, pepohonan berselimut salju di sisinya, berlalu ce pat dua ratus mil perjam. Aku akan merindukanmu, berapa singkat kau pergi. andang prihatin. ujar Alice, Tak perduli se Emmet dan Rosalie bertukar p aku mengerang, tidak tahan lagi. bisiknya, matanya melebar. Sang monster kegi

29

Kami hampir sampai di belokan jalan masuk ke ruma h. Turunkan kami disini, ilnya mendecit berhenti. Emmet, Rosalie, dan Jasper turun tanpa komentar; d ia akan minta penjelasan Alice setelah ini. Alice menyen tuh pundakku. Kau akan mengambil jalan yang benar. ucapnya pela Dia satu-s n. Bukan penglihatan kali inisebuah perintah. ga. Iya. kataku, setuju hanya pada bagian terakhir. Kemudian ia turun. Alisnya bertaut gelisah. Mereka masuk ke hutan, menghilang sebelum aku memutar mobil. Aku melaju cepat ke arah kota. Dan aku tahu pengli hatan Alice akan berganti dari kegelapan malam menjadi siang. Begitu menginjak sembilan puluh mil perjam menu ju Forks, aku tidak yakin dengan tujuanku. Berpamitan d engan ayahku? Atau menyerah pada monster dalam dirik u? Mobilku melaju kencang diatas aspal. pinta Alice. Kau sebaiknya memberitahu Carlisle sendiri. Aku mengangguk, dan mob

atunya keluarga Charlie Swan. Itu akan membunuhnya ju

30

2. Buku Terbuka
Aku berbaring diatas tumpukan salju, membuat ceku ngan disekitar tubuhku. Kulitku mendingin menyesuaikan udara sekitar. Sebutir es jatuh ke kulitku seperti beledu. Langit diatasku cerah, bertabur bintang, sebagian b ependar biru, sebagian kuning. Kerlip-kerlip itu begitu megah dihadapan kegelapan malamµpemandangan luarbias a. Sangat cantik. Atau mungkin lebih tepat disebut indah . Seharusnya, jika aku benar-benar dapat melihatnya. Ini tidak jadi lebih baik. Enam hari sudah lewat, en am hari besembunyi di hutan belantara teritori keluarga Denali. Tapi aku belum juga mendapati kebebasan sejak pertama kali mencium aroma gadis itu. Ketika menatap ke langit, seakan ada penghalang an tara mataku dan keindahannya. Penghalangnya adalah ses osok wajah, wajah manusia biasa yang tidak istimewa, ta pi aku tidak bisa mengusirnya. Aku mendengar suara pikiran mendekat sebelum suar a langkahnya. Bunyi gerakannya hanya berupa gesekan h alus. Aku tidak kaget Tanya membututi kesini. Aku tahu b eberapa hari ini ia ingin bicara denganku, menunggu hin gga yakin pada pilihan katanya. Dia muncul enam puluh yard didepanku, mendarat de ngan bertelanjang kaki di atas batu hitam dan menyeimba ngkan tubuhnya. Kulit Tanya keperakan dibawah cahaya malam. Ramb ut pirang ikal panjangnya berpendar pucat, hampir pink s eperti strawberi. Matanya yang kuning madu berkilat saa t menatapku, yang setengah terpendam dibawah salju. Bi birnya yang penuh tertarik halus membentuk senyuman.

31

Sangat cantik. Jika aku benar-benar bisa melihatny a. Aku mendesah. Dia membungkuk ke ujung batu, ujung jari menyentu h permukaannya, badannya bergelung. Cannonball. Dia membatin. Dia melentingkan dirinya keatas; tubuhnya menjadi bayangan gelap saat bersalto dengan anggun diantaraku d an bintang-bintang. Dia melipat tubuhnya seperti bola sa at menubruk dengan keras tumpukan salju disampingku. Salju langsung berhamburan seperti badai. Langit di atasku menggelap dan aku tertimbun dibawah kelembutan lapisan salju. Aku mendesah lagi, tapi tidak bangkit. Kegelapan in i tidak menyakitkan juga tidak membantu pandanganku. Aku masih melihat wajah yang sama. Edward? Salju beterbangan lagi saat Tanya pelan-pelan meng gali. Dia mengusap sisa-sisa salju dari wajahku yang tid ak bergerak, dia tidak benar-benar bertemu pandang deng an tatapanku yang kosong. Sory, dia berbisik. Cuma bercanda. Mulutnya bergerak turun. Aku tahu. Itu lucu, kok.

Menurut Irina dan Katie sebaiknya aku membiarkan mu sendirian. Pikir mereka aku mengganggumu. Sama sekali tidak. u. Kau akan pulang, iya kan? pikirnya. Aku belum... sepenuhnya... memutuskan itu. Tapi kau tidak akan tinggal disini. Pikirannya kini muram, sedih. Tidak. Sepertinya tidak akan...membantu. gis. Itu salahku, iya kan? Dia merin aku meyakinkan dia. Sebaliknya, aku yang bersikap tidak sopan µsangat kasar. Maafkan ak

32

Tentu saja bukan. aku berbohong. Tidak usah bersikap sopan. Aku tersenyum. Aku membuatmu tidak nyaman, sesalnya. Tidak. Sebelah alisnya terangkat, ekspresinya sangat tidak percaya hingga aku terpaksa tertawa. Satu tawa singkat, diikuti desahan. Oke. Aku akui. Sedikit. Dia ikut mendesah, lalu menumpangkan dagunya ke t angan. Perasaannya kecewa. Kau beribu kali lebih indah dari bintang-bintang, T anya. Tentu saja, kau menyadari itu. Jangan biarkan keb ebalanku melemahkan kepercayaan dirimu. eli jika dia sampai begitu. Aku tidak biasa ditolak. hnya terangkat cemberut. Itu pasti. Aku setuju, sambil coba menghalau pikira n dia saat ribuan penaklukannya berkelebat. Kebanyakan Tanya memilih manusiaµpopulasi mereka lebih banyak sa lah satu alasannya, dengan tambahan kehangatan serta ke lembutan mereka. Dan selalu berhasrat tinggi, pastinya. Dasar Succubus, a. Yang asli. Tidak seperti Carlisle, Tanya dan saudarinya menem ukan nurani mereka belakangan. Pada akhirnya, ketertari kan mereka pada pria lah yang mencegah mereka menjadi pembunuh. Sekarang para pria yang mereka cintai...hidup . Saat kau datang kesini, ira... Tanya berkata pelan, Aku k godaku, berharap bisa mengalihkan kelebat ingatannya. Dia menyeringai, menampakan giginy dia menggerutu, bibir bawa aku sedikit g

33

Aku tahu apa yang dia pikir kemarin. Dan seharusny a aku sudah menerka itu sebelum kesini. Tapi kemarin ak u sedang tidak bisa berpikir sehat. Kau mengira aku berubah pikiran. Iya. dia memberengut. Aku menyesal membuatmu berharap, Tanya. Aku tida k bermaksudµaku tidak berpikir. Hanya saja aku pergi de ngan... buru-buru. Kurasa kau tidak akan memberitahu alasannya, ka n...? Aku bangkit duduk dan merangkul kakiku, bersikap menghindar. Aku tidak ingin membicarakan itu. Tanya, Irina, dan Kate sangat baik menjalani piliha n hidup mereka. Bahkan lebih baik, dalam beberapa hal, daripada Carlisle. Terlepas dari kedekatannya yang sable ng dengan mereka yang seharusnyaµdan pernahµmenjadi mangsanya, mereka tidak pernah membuat kesalahan. Aku terlalu malu mengakui kelemahanku pada Tanya. Masalah perempuan? maksud. Dia terdiam. Pikirannya beralih ke dugaan lain, dia coba mengurai maksud jawabanku. Sedikitpun tidak mendekati. Sudah lah, Tanya. Dia diam lagi, masih menebak-nebak. Kuacuhkan dia , dan sia-sia mengagumi bintang. Akhirnya ia menyerah. Pikirannya mendesak ke hal lain. Kau akan kemana, Edward, jika kau pergi? Kembali ke Carlisle? Sepertinya tidak. Desisku. aku memberitahu. Satu saja petunjuk? pohonnya. dia menebak, mengacuhkan kee Tidak seperti yang kau nggananku. Aku tertawa hambar.

34

Akan kemana aku? Aku tidak dapat menemukan satu tempatpun di dunia ini yang menarik. Tidak ada yang ing in aku kunjungi. Karena, tidak perduli kemanapun, aku ti dak akan pergi kesituµaku hanya lari dari. Aku benci itu. Sejak kapan aku jadi pengecut? Tanya merangkulkan tangannya yang gemulai ke pun dakku. Aku bergeming, tapi tidak menampik. Dia tidak b ermaksud lebih dari sekedar bersahabat. Sebagian besar. Menurutku kau akan kembali. katanya, suaranya me Ta nyisakan sedikit logat Rusia yang telah lama hilang. u. Kau pasti akan menghadapinya. Kau selalu begitu. Pikirannya sejalan dengan ucapannya. Aku coba me mposisikan diri seperti yang ia gambarkan. Bagian yang selalu menghadapi apapun. Ada baiknya memandang dirik u seperti itu lagi. Aku tidak pernah meragukan keteguha nku, kemampuanku menghadapi kesulitan, sebelum kejadi an mengerikan di kelas biologi kemarin. Kucium pipinya, dan cepat-cepat menarik kepalaku k etika ia memalingkan wajah ke arahku. Mulutnya member engut. Dia tersenyum kering. Terima kasih, Tanya. Aku butuh mendengar itu. Pikirannya menggerutu. Sama-sama, kukira. Kuhara p kau bisa lebih masuk akal, Edward. Maaf, Tanya. Kau tahu kau terlalu baik untukku. Ak u hanya... belum menemukan yang kucari. Kalau begitu, jika kau pergi sebelum kita bertemu l agi...Sampai ketemu lagi, Edward. Sampai ketemu lagi. pada saat mengucapkannya, aku ter bisa melihatnya. Aku bisa melihat diriku pergi. Punya cu kup kekuatan untuk kembali ke tempat yang kuingini. ima kasih lagi, Tanya.

k perduli apapun itu...atau siapapun...yang menghantuim

35

Dia bangkit berdiri dengan anggun, kemudian lari p ergi, membelah hamparan salju dengan sangat cepat hing ga kakinya tidak terbenam pada kelembutannya; ia tidak meninggalkan jejak di salju. Dia tidak menoleh ke belak ang. Penolakanku mengganggunya lebih dari yang ia kir a. Dia tidak ingin menemuiku lagi sebelum aku pergi. Mulutku merengut menyesal. Aku tidak suka menyak iti Tanya, meskipun perasaannya tidak dalam, tidak terla lu murni, dan juga bukan sesuatu yang bisa kubalas. Tap i tetap saja itu membuatku kurang gentleman. Kutumpangkan daguku ke lutut dan memandangi bint ang lagi, meskipun tiba-tiba aku tidak sabar untuk pulan g. Aku tahu Alice pasti melihatku datang, dan segera me mberitahu yang lain. Ini akan membuat mereka gembiraµ Carlisle dan Esme terutama. Tapi kupandangi bintang-bi ntang itu lebih lama, coba melihat melampaui wajah di b enakku. Diantara diriku dan kerlip di langit, sepasang m ata coklat-muda yang membingungkan itu menatapku, kel ihatan bertanya-tanya apa arti keputusan ini baginya. Te ntu saja, aku tidak tahu pasti apa arti tatapan misteriusn ya. Bahkan dalam bayanganku, aku tidak dapat mendenga r pikirannya. Mata Bella Swan terus bertanya-tanya, teta p menghalangi bintang. Dengan helaan berat aku menyera h, kemudian berdiri. Jika berlari, aku akan tiba di mobil Carlisle kurang dari satu jam... Dalam ketergesaan menemui keluargakuµdan keingin an menjadi seorang Edward yang menghadapi apapunµaku berlari kencang melintasi padang salju dibawah temaram bintang, tanpa meninggalkan jejak. Semua akan baik-baik saja, Alice menarik napas. Ta tapannya kosong, tangan Jasper memegang sikunya, menu ntun dia saat rombongan kami berjalan rapat melintasi k afetaria. Rosalie dan Emmet mempin di depan. Emmet ter

36

lihat konyol dengan gaya bodyguardnya seakan sedang di daerah musuh. Rose terlihat khawatir juga, tapi lebih pa da kesal. Tentu saja iya. inggal di rumah. Perbuahan mendadak dari pagi yang normal, bahkan menyenangkanµtadi malam turun salju, dan Emmet serta Jasper tidak terlalu memanfaatkan lamunanku untuk mem bombardirku dengan bola salju; ketika bosan dengan kea cuhanku, mereka saling menyerang sendiriµkewaspadaan berlebihan ini terlihat lucu jika saja tidak menjengkelka n. Dia belum datang, tapi dari arahnya nanti...ia tidak akan melawan angin jika kita duduk di tempat biasa. Tentu saja kita akan duduk di tempat biasa. Hentika n, Alice. Kau membuatku kesal. Aku baik-baik saja. Dia mengerjap saat Jasper menuntun duduk. Matanya kembali fokus. Hmm, gumamnya, terkejut. Sepertinya kau betul. Tentu saja iya. aku memberengut. aku menggerutu. Kelakukan mereka menggelikan. Jika tidak yakin bisa mengatasi, aku akan t

Aku tidak suka jadi pusat kerisauan. Tiba-tiba aku b ersimpati pada Jasper, teringat bagaimana selama ini ka mi sangat protektif. Dia bertemu pandang denganku, dan menyeringai. Mengganggu, bukan? Aku mendesis padanya. Apa baru minggu lalu ruangan ini terlihat sangat me mbosankan? Sehingga rasanya hampir seperti tidur, koma , saat berada disini? Hari ini syarafku tegang. Inderaku waspada penuh; kupantau setiap suara, setiap penglihata n, setiap gerakan udara yang menyentuh kulitku, setiap p ikiran. Terutama pikiran. Hanya satu indra yang kumatik

37

an, tak ingin kupakai. Penciuman, tentu saja. Aku tidak bernapas. Aku mengharapkan nama keluarga Cullen lebih serin g disebut di pikiran-pikiran yang keluwati. Seharian aku menunggu, mencari apapun yang diceritakan si anak baru Bella Swan. Coba melihat gosip barunya. Tapi tidak ada apa-apa. Tidak ada yang menyadari kehadiran lima vampi r di kafetaria, sama seperti sebelum anak perempuan itu datang. Beberapa manusia masih memikirkan gadis itu, m asih dengan pikiran yang sama dengan minggu lalu. Buka nnya bosan, aku malah terkesima. Apa dia tidak mengatakan apapun tentang diriku? Mustahil dia tidak menyadari tatapan gelap-ku yang mengancam. Aku melihatnya bereaksi. Sudah pasti aku m embuatnya takut. Aku cukup yakin ia akan cerita ke sese orang, mungkin sedikit dibumbui agar lebih baik. Menam bah tanda-tanda ancaman yang lain. Kemudian, ia juga dengar aku minta pindah kelas bi ologi. Dia pasti menebak, setelah melihat ekspresiku, ba hwa dia penyebabnya. Anak perempuan normal pasti akan bertanya kemana-mana, membandingkan pengalaman, men cari kesamaan yang dapat menjelaskan sikapku hingga di a tidak merasa sendirian. Manusia cenderung ingin bersi kap normal, diterima. Membaur dengan lingkungannya, s eperti sekawanan domba. Kebutuhan seperti itu biasanya kuat pada masa-masa remaja. Tidak terkecuali pada Gadi s itu tentunya. Tapi tidak satupun memperhatikan kami, di meja ka mi biasanya. Bella pasti sangat pemalu, jika sampai tida k cerita ke siapapun. Barangkali pada ayahnya, mungkin itu orang terdekatnya...meskipun tampaknya tidak begit u, mengingat dia tidak menghabiskan hidupnya bersama a yahnya sebelum ini. Kemungkinan ia lebih dekat dengan

38

ibunya. Tetap saja, aku mesti berpapasan dengan Chief S wan secepatnya dan mendengar pikirannya. Ada yang baru? tanya Jasper. Tidak ada. Dia...pasti tidak cerita apa-apa. menaikan alis kaget. Mungkin kau tidak semengerikan yang kau kira, met terkekeh, a daripada itu. Aku mendelik. Sudah tahu kenapa...? kesunyian benak gadis itu. Kita sudah membahas itu. Aku tidak tahu. Dia akan masuk. Alice berbisik. Badanku kaku. Cob a bersikap seperti manusia. Manusia, ya? tanya Emmet. Dia mengangkat tinju kanannya, membalik telapak ta ngannya hingga memperlihatkan bola salju yang ia sembu nyikan di genggamannya. Tentu saja tidak meleleh. Dia meremas hingga mengeras menjadi bongkahan es. Matany a mengincar Jasper, tapi aku tahu kemana pikirannya. Ke Alice, tentu saja. Ketika tiba-tiba esnya meluncur ke Ali ce, dia menepis santai dengan kibasan jari. Bongkahan e s itu terlempar melintasi ruangan, terlalu cepat untuk di ikuti mata manusia, lalu menghantam tembok hingga berh amburan. Temboknya rengkah. Orang-orang disekitarnya memeloti pecahan es yang berserakan di lantai, saling lirik mencari biang onarnya. Mereka tidak mencari terlalu jauh. Tidak ada yang menol eh kesini. Sangat manusia, Emmet. Rosalie menegur mesra. Ke napa tidak sekalian kau tinju temboknya hingga runtuh? Terlihat lebih impresif jika kau yang melakukannya, sayang. Dia masih penasaran dengan Em Berani taruhan aku bisa lebih menakuti di Semua

39

Aku pura-pura memperhatikan, tersenyum kecil seak an menikmati gurauan mereka. Aku berusaha tidak melih at ke gadis itu. Tapi kesanalah pendengaranku sepenuhny a. Aku bisa mendengar ketidaksabaran Jessica pada si murid baru, yang sepertinya sedang melamun, berdiri kak u di antrian. Kulihat, lewat pikiran Jessica, pipi Bella S wan bersemu merah muda oleh darah. Aku menarik napas pendek, siap-siap menahan napas jika aromanya sampai ke dekatku. Mike Newton bersama dua gadis itu. Aku mendegar dua suaranya, pikiran dan verbal, ketika bertanya ke Jes sica ada apa dengan gadis itu. Aku tidak suka dengan jal an pikirannya, yang merasa teracuhkan oleh lamunan si g adis. Tidak apa-apa. Bella menjawab dengan suara lirih, sangat jernih. Kedengarannya seperti dering bel diantara dengung samar di seantero kafetaria. Tapi itu lebih kare na aku sedang menyimaknya dengan keras. Hari ini aku minum soda saja, ari maju mengikuti antrian. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik. Di a sedang memandangi lantai, berangsur darah menghilang dari wajahnya. Aku cepat-cepat membuang muka, ke Emm et, yang tertawa melihat seringai panik di wajahku. Kau terlihat sakit, bro. Aku mengatur mimikku agar terlihat santai. Di telingaku Jessica berteriak heran dengan selera makan gadis itu. Kau tidak lapar? s Sebenarnya, aku merasa sedikit tidak enak badan. uaranya memelan, tapi masih sangat jelas. Kenapa itu menggangguku, rasa prihatin yang tiba-ti ba muncul dari pikiran Mike Newton? Memang kenapa jik dia melanjutkan semb

40

a pikirannya terlalu protektif? Bukan urusanku jika Mike Newton bersikap berlebihan ke dia. Mungkin seperti itu j uga sikap yang lain. Bukankah minggu lalu, secara nalur i, aku juga ingin melindungi dia? Sebelum ingin membun uhnya... Tapi apa gadis itu sakit? Sulit menilainyaµdia terlihat sangat lembut dengan kulitnya yang jernih menerawang... kemudian kusadari a ku ikut khawatir, sama seperti anak tolol itu, dan kupaks a untuk tidak memikirkan kesehatannya. Bagaimanapun juga, aku tidak suka memantau dia le wat pikiran Mike. Aku pindah ke Jessica, memperhatikan ketiganya memilih meja. Untung mereka duduk di tempat biasa, di salah satu meja terdepan. Tidak melawan angin, seperti janji Alice. Alice menyikutku. Dia akan melihat kesini, bersikap manusia. Aku mengatupkan gigi rapat-rapat dibalik seringai s enyumku. Tenang, Edward. akan berakhir. Tunggu saja, gerutuku. Kau mesti belajar melupakan sesuat Emmet tertawa. sindir Emmet. Terus terang. Palin g ujung-ujungnya kau membunuh satu orang. Dunia tidak

u. Seperti diriku. Keabadian adalah waktu yang panjang untuk menyesali kesalahan. Seketika itu juga, Alice melempar es yang ia sembu nyikan ke muka Emmet. Dia mengerjap, kaget, dan menye ringai waspada. Kau yang mulai duluan, Emmet mencondongkan tubu h ke seberang meja lalu mengibaskan rambutnya yang me ngerak beku. Air beterbangan, setengah cair setengah be ku.

41

Aduh!

keluh Rose. Dia dan Alice menyingkir dari se

mburan hujan Emmet. Alice tertawa, dan kami semua kembali menikmati c anda ini. Aku bisa melihat di pikiran Alice bagaimana ia mengarsiteki momen sempurna ini. Dan aku tahu sang ga dis ituµ aku mesti berhenti berpikiran begitu, seakan dia satu-satunya perempuan di duniaµbahwa Bella sedang me mperhatikan kami tertawa dan bercanda, terlihat bahagia dan normal, seideal lukisan Norman Rockwell. Alice terus tertawa, dan mengangkat nampannya seb a g a i p e r i s a i . S a n g g a d i s µ B e l l a µp a s t i m a s i h m e n o n t o n . ...memandangi keluarga Cullen lagi, seseorang mem batin, menarik perhatianku. Otomatis aku menoleh keara h panggilan yang tak disengaja itu, segera mengenali sua ranya sebelum pandanganku sampaiµaku sering mendenga rnya hari ini. Tapi mataku sedikit melewati Jessica, dan tertumbu k pada tatapan dalam gadis itu. Dia cepat-cepat menundu k, bersembunyi dibalik rambutnya. Apa yang dia pikirkan? Rasa frustasi ini makin lama makin menjadi, bukanya menghilang. Aku mencobaµtidak terlalu yakin karena belum pernah melakukanyaµ menyeli diki dengan pikiranku pada kesunyian di sekeliling gadis itu. Pendengaran ekstraku selalu muncul alami, tanpa di minta; aku tidak pernah mengupayakannya. Tapi aku berk onsentrasi sekarang, coba menembus penghalang apapun disekelilingnya. Tidak ada apa-apa selain hening. Ada apa sih dengan Bella? Batin Jessica, sejalan de ngan frustasiku. Edward Cullen menatapmu, dia berbisik di telinga s i Swan, sambil cekikikan. Tidak ada nada sinis atau cem buru. Jessica kelihatannya pandai sok bersahabat.

42

Aku mendengarkan, terlalu tertarik, pada responnya. Dia tidak kelihatan marah, iya kan? begitu. Pertanyaan itu membingungkan Jessica. Aku melihat wajahku di benaknya ketika ia mengecek ekspresiku, tapi aku tidak menatapnya. Aku masih berkonsentrasi pada ga dis itu, coba mendengar sesuatu. Hal itu kelihatannya ti dak membantu sema sekali. Tidak. jawab Jess, dan aku tahu dia berharap bisa b erkata iyaµbagaimana tatapanku sangat mengganggu pikir an diaµmeskipun tidak ada tanda-tanda hal itu di suarany a. Apakah seharusnya dia marah? Sepertinya dia tidak suka padaku, gadis itu kembali berbisik, menelungkupkan kepala di tangan seakan tiba-t iba letih. Aku coba memahami gerakannya, tapi cuma bis a menebak. Mungkin dia memang letih. Keluarga Cullen tidak menyukai siapapun, meyakinkan dia. n siapa-siapa. utu. Tapi dia masih memandangimu. Sudah jangan dilihat lagi, hinya. Jessica terkekeh, melakukan apa yang diminta. Gadis itu tidak mengalihkan pandangan dari mejanya selama sisa istirahat. Sepertinya µsepertinya tentu saja, aku tidak bisa yakinµhal itu disengaja. Kelihatannya seb etulnya ia ingin melihatku. Badannya menggeser sedikit, dagunya hampir menoleh, tapi kemudian ia tahan, mengh gadis itu mendesis kesal, mengangkat kepalanya untuk memastikan Jessica mematu Jessica Well, mereka memang tidak memedulika dia balik berbi sik. Jadi dia menyadari reaksi liarku kemarin. Tentu saja

mereka selalu begitu. Pikirannya mengger

43

ela napas panjang, dan menatap ke siapapun di mejanya y ang sedang bicara. Kuacuhkan sebagian besar pikiran di meja itu, karen a tidak berkaitan dengan dia. Mike Newton merencanakan perang salju sepulang sekolah, tidak sadar telah turun h ujan. Butir- butir halus yang meyalang ke atap telah ber ubah menjadi rintik. Apa dia tidak mendengar perubahan nya? Terdengar nyaring kalau buatku. Ketika jam istirahat selesai, aku masih tetap duduk. Manusia-manusia itu mulai keluar. Tanpa sadar aku mem bedakan langkah kakinya dari yang lain, seperti ada yan g penting atau aneh dari bunyinya. Benar-benar bodoh. Keluargaku juga belum beranjak. Mereka menunggu keputusanku. Apa aku akan pergi ke kelas, duduk disamping si ga dis, dimana bisa kucium bau darahnya yang bukan main k uatnya itu dan merasakan kehangatan nadinya di kulitku? Apa aku cukup kuat untuk tahan? Atau, cukup satu hari s aja? Aku...rasa tidak apa-apa, ini. Tapi Alice tahu betul bagaimana sebuah keputusan d apat cepat berubah. Kenapa mesti memaksakan diri, Edward? protes Jasp er. Meski berusaha tidak merasa puas melihat ganti aku yang lemah, kedengarannya ia sedikit merasa begitu, han ya sedikit. Pulang lah. Jangan buru-buru. Kenapa mesti dibesar-besarkan? u, ih cepat tahu lebih baik. Emmet tidak setuj Pilihannya apa dia akan membunuhnya atau tidak. Leb Alice berkata ragu, Kau t elah memutuskan. Aku pikir kau akan melewati satu jam

44

Aku belum ingin pindah lagi, s, Emmet. Akhirnya.

Rosalie memprotes.

A

ku tidak mau mengulang lagi dari awal. Kita hampir lulu Aku juga tersiksa pada pilihannya. Aku ingin, sanga t ingin, menatap kedepan ketimbang lari lagi. Tapi aku j uga tidak mau memaksakan diri. Minggu lalu suatu kesal ahan bagi Jasper menahan haus terlalu lama; apa ini juga akan menjadi kesalahan sia-sia seperti itu. Aku tidak mau membuat keluargaku terusir. Mereka tidak akan berterima kasih jika itu sampai terjadi. Tapi aku ingin masuk ke kelas bilogiku. Harus diak ui aku ingin melihat wajahnya lagi. Akhirnya, alasan itu yang membuatku mengambil keputusan. Penasaran. Aku m arah pada diriku sendiri karena meladeninya. Bukankah a ku sudah bertekad untuk tidak membiarkan kesunyian pik iran gadis itu membuatku terlalu penasaran padanya? Tet ap saja, disinilah aku, amat terlalu ingin tahu. Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan. Pikirannya te rtutup, tapi matanya sangat terbuka. Mungkin aku bisa m embacanya lewat situ. Tidak, Rose, kupikir betul-betul akan baik-baik saja , Alice meyakinkan. Ini...makin tegas. Aku sembilan 93 persen yakin tidak akan ada kejadian buruk jika dia mas uk kelas. asti. Apa rasa penasaran cukup untuk membuat Bella Swa n tetap hidup? Emmet betul, tampaknyaµkenapa tidak cepat-cepat d iselesaikan? Akan kuhadapi godaan itu. Ayo masuk kelas, perintahku, beranjak dari meja. A ku menjauh dari mereka tanpa menoleh kebelakang. Bisa dia mengerling penasaran, bertanya-tanya apa yang merubah pikiranku sehingga penglihatannya lebih p

45

kudengar kecemasan Alice, kecaman Jasper, persetujuan Emmet, dan kejengkelan Rosalie membuntutiku. Aku belum terlambat. Mr. Banner masih sibuk memp ersiapkan percobaan hari ini. Gadis itu telah duduk di m ejanyaµdi meja kami. Wajahnya menunduk lagi, sibuk me ncoret- coret buku catatannya. Aku memperhatikan yang dia gambar saat mendekat, penasaran pada hal sepele bua h pikirannya. Tapi tidak ada maknanya. Hanya gambar li ngkaran-lingkaran acak. Barangkali dia tidak memperhati kan bentuknya, tapi sedang memikirkan hal lain? Aku menarik kursiku sedikit berisik, membiarkan ka kinya menggesek lantai; manusia merasa lebih nyaman ke tika mendengar bunyi yang mengawali kehadiran seseora ng. Aku tahu dia mendengar; dia tidak mendongak, tapi tangannya melewatkan satu lingkaran, membuat gambarny a tidak imbang. Kenapa dia tidak mendongak? Mungkin ia takut. Kal i ini aku mesti memberi kesan yang lebih baik. Membuat nya berpikir telah membayangkan yang bukan-bukan sebe lumnya. Halo, kataku dengan suara pelan, yang biasanya me mbuat manusia lebih nyaman, menyunggingkan senyum so pan tanpa memperlihatkan gigi. Dia mendongak, mata-lebar coklatnya terkejutµhamp ir bingungµdan penuh tanya. Itu adalah tatapan sama yan g menghalangi pandanganku selama satu minggu kemarin. Saat memandang mata-coklat-anehnya yang dalam, a k u s a d a r k e b e n c i a n i t u µk e b e n c i a n p a d a g a d i s i n i y a n g e n t ah bagaimana layak mendapatkannya hanya karena hidup µlangsung sirna. Tanpa bernapas, tanpa merasakan aroma nya, sulit dibayangkan seseorang serapuh ini pantas dibe nci.

46

Pipinya merona, tidak berkata apa-apa. Aku terus menatap kedalam matanya, mencari dasarn ya, dan coba mengacuhkan rona kulitnya yang mengundan g. Aku punya cukup persediaan udara untuk bicara seperl unya. Namaku Edward Cullen, bicaraan. sapaku, meskipun aku tahu dia sudah tahu. Itu hanya cara sopan untuk memulai pem Aku belum sempat memperkenalkan diri mingg u lalu. Kau pasti Bella Swan. Dia terlihat bingungµmuncul kerut kecil diantara ma tanya. Butuh setengah detik lebih lama untuk dia menjaw ab. B-bagaimana kau tahu namaku? suaranya gugup. Aku pasti benar-benar menakutinya. Ini membuatku merasa bersalah; dia begitu lemah. Aku tertawa sopanµit u suara yang kutau membuat manusia rileks. Lagi, aku be rhat-hati dengan gigiku. Oh, kurasa semua orang tahu namamu. ang membosankan ini. datanganmu. Dia mengerutkan dahi, seakan itu membuatnya tidak senang. Kurasa, bagi orang sepemalu dia, perhatian adal ah hal yang tidak mengenakan. Kebanyakan manusia mera sa sebaliknya. Kendati tidak mau terlalu menonjol, saat bersamaan mereka mencari perhatian. Bukan. u Bella? Kau mau dipanggil Isabella? tanyaku heran, bingun g kemana arah pertanyaannya. Aku tidak mengerti. Jelasjelas dia meralatnya berulang kali. Apa manusia memang serumit ini tanpa bantuan suara mentalnya? katanya, Maksudku, kenapa kau memanggilk pasti dia bar u menyadari dirinya menjadi pusat perhatian di tempat y Seluruh kota telah menantikan ke dia balik bertanya,

47

Tidak, aku lebih suka Bella,

jawabnya, menggeraka Tapi kupi

n kepalanya sedikit. Dari sikapnyaµjika aku benar memb acanyaµdia tersiksa antara malu dan bingung. kir Charlieµmaksudku ayahkuµpasti memanggilku Isabell a dibelakangkuµpasti itulah yang diketahui orang-orang disini. Oh, kulitnya bersemu jadi merah muda. ujarku konyol, cepat-cepat membuang muka.

Aku baru sadar maksudnya: aku kelepasan bicaraµce roboh. Jika saja tidak menguping pembicaraan orang seh arian kemarin, aku akan memanggil dia dengan nama leng kap, seperti yang lainnya. Dia menyadari perbedaan itu. Aku merasa geram. Dia sangat cepat menebak kelala ianku. Cukup tajam, terutama untuk seseorang yang seme stinya takut ketika berada didekatku. Tapi aku punya masalah yang lebih besar dari seked ar kecurigaan yang tersembunyi di pikirannya. Aku kehabisan udara. Jika ingin bicara lagi, aku har us mengambil napas. Akan sulit menghindari percakapan. Sial baginya, se meja denganku berarti menjadi rekan selab-ku, dan kami mesti berpasangan hari ini. Akan terlihat anehµdan sang at tidak sopanµjika mengacuhkannya selama mengerjakan tugas berdua. Itu akan membuat dia lebih curiga, lebih t akut... Aku menjauh sebisanya tanpa harus menggeser dudu kku, menjulurkan kepala kesamping. Aku memberanikan diri, mengunci otot-ototku, dan menghirup cepat dalamdalam lewat mulut. Ahh! Sangat Sakit. Bahkan tanpa mencium baunya, aku bi sa merasakan aromanya di lidahku. Kerongkonganku terb akar hebat lagi. Gejolaknya sama kuatnya dengan minggu lalu.

48

Aku mengatupkan gigi rapat-rapat sambil berusaha menguasai diri. Mulai. perintah Mr. Banner. Dibutuhkan setiap titik pengendalian-diri yang kupe roleh selama tujuh-puluh tahun kerja-keras hanya untuk t ersenyum dan menoleh ke gadis itu, yang sedang menund uk memandangi meja. Kau duluan, partner? aku menawarkan. Dia menatapku. Seketika itu juga ekspresinya berub ah kosong, matanya lebar. Apa ada yang ganjil dengan ek spresiku? Apa dia ketakutan lagi? Dia tidak bilang apa-a pa. Atau aku bisa memulainya kalau kau mau? ata pelan. Tidak. katanya, dan wajahnya berubah dari putih ja Aku akan memulainya. di merah muda lagi. aku berk

Aku memilih memperhatikan peralatan yang ada di m eja, sebuah mikroskop, sekotak slide, daripada mengawas i darahnya mengalir di balik kulitnya yang jernih. Aku m engambil satu napas cepat lagi, melalui sela gigi, dan m enjengit ketika rasanya membuat tenggorokanku perih. Profase. sebutnya setelah pengamatan singkat. Dia sudah akan mengganti slide-nya, meskipun tadi hampir ti dak menelitinya. Boleh aku melihatnya? secara reflekµhal yang bodo h, seakan aku satu spesies dengannyaµaku menggapai me nghentikan tangannya. Selama sedetik, kehangatan kulitn ya membakar kulitku. Rasanya seperti tersengat listrikµt entunya jauh lebih panas dari sekedar sembilan-puluh-de lapan-koma-enam derajat. Panasnya membakar cepat dari tangan ke lengan. Ia buru-buru menarik tangannya.

49

Maaf,

gumamku lewat sela gigi. Aku butuh sesuatu

untuk dilihat. Kuambil mikroskopnya dan kuteliti sebent ar. Dia benar. Profase, aku setuju. Aku masih belum siap menoleh ke dia. Bernapas cep at lewat gertak gigi sambil mengabaikan dahaga yang me mbakar. Aku berkonsentrasi pada satu tugas sederhana, menulis pada lembar kerja, dan kemudian mengganti slid e yang baru. Apa yang dia pikirkan sekarang? Apa rasanya bagi d ia, saat menyentuh tanganku? Kulitku pasti sedingin esµ menjijikan. Tidak heran dia diam. Aku menatap sekilas slide-nya. Anafase, aku berkata sendiri saat akan menulis. Boleh kulihat? tanyanya. Aku menatapnya, terkejut karena dia bersungguh-su ngguh. Tangannya mengulur ke mikroskop. Dia tidak terl ihat takut. Apa dia benar-benar mengira jawabanku sala h? Aku tidak bisa menahan senyum ketika melihat waja hnya saat menyodorkan mikroskop ke dia. Dia melihat ke lensa dengan sangsi, dan langsung ke cewa. Sudut mulutnya bergerak turun. Slide tiga? dia meminta, dengan mata masih di mikr oskop, tapi mengulurkan tangan. Aku menaruh slide keti ga ke tangannya, tidak membiarkan kulitku menyentuhny a kali ini. Duduk disampingnya serasa duduk disamping l ampu pijar. Tubuhku pelan-pelan menghangat. Dia tidak terlalu lama melihat. Interfase, katanya d atarµmungkin berusaha terlalu keras agar terdengar sepe rti ituµkemudian mendorong mikroskopnya ke arahku. Di a tidak menyentuh kertas kerjanya, menungguku yang me nulis. Aku meneliti ulangµdia benar lagi.

50

Kami berhasil selesai dengan cara ini, bicara satu k ata bergantian dan tidak bertemu pandang. Kami yang pe rtama selesaiµlainnya tampak kesulitan. Mike Newton su lit berkonsentrasiµdia berusaha mengawasi Bella dan aku . Aku harap dia tetap tinggal dimanapun dia pergi ke marin, batin Mike, sambil menatapku sebal. Aku tidak ta hu para anak cowok kesal padaku. Ini perkembangan baru , sejak kedatangan gadis ini sepertinya. Bahkan lebih me nariknya, aku menemukanµdalam kekagetankuµkekesalan serupa pada mereka. Kulihat lagi gadis itu, terpesona pada besarnya mal apetaka, kehebohan, serta kerusakan yang ditimbulkan pa da hidupku, tak perduli betapa normal, dan tidak mengan camnya sosok dia bagiku. Itu bukannya aku tidak melihat apa yang Mike lihat. Bisa dibilang dia cukup cantik...dalam cara yang tidak b iasa. Lebih baik dari sekedar manis, wajahnya menarik. Tidak cukup simetrisµdagunya yang kecil tidak imbang d engan tulang pipinya yang lebar; pewarnaannya ekstrimµ kulitnya yang terang dengan rambutnya yang gelap terlih at kontras; dan ada matanya, yang penuh rahasia... Sepasang mata yang mendadak sepertinya menatapku bosan. Aku menatap balik, coba menerka satu dari segala r ahasia dirinya. Kau memakai lensa kontak, ya? ya. Pertanyaan yang aneh. Oh, atamu. gumamnya. Tidak. aku hampir tersenyum pada ide mempertajam penglihatan-ku. kupikir ada yang berbeda dengan m dia tiba-tiba bertan

51

Mendadak moodku lenyap saat menyadari hari ini bu kan cuma aku yang berusaha mengorek keterangan. Aku mengangkat bahu, bahuku kaku, dan berpaling k e depan kelas. Tentu saja ada yang berubah pada mataku. Untuk per siapan hari ini, godaan hari ini, aku menghabiskan sepan jang akhir pekan dengan berburu, memuaskan dahagaku s ebanyak mungkin, agak kebanyakan sepertinya. Aku mene nggelamkan diriku dengan darah binatang banyak-banya k. Bukannya itu akan banyak berguna jika dibanding aro ma menggiurkan yang menguar dari kulitnya. Minggu lal u, mataku hitam karena haus. Sekarang, tubuhku dibanjir i darah, mataku berubah hangat keemasan. Kuning terang akibat usaha berlebihan memuaskan dahaga. Kelepasan bicara lagi. Jika tahu maksudnya, aku aka n menjawab iya. Dua tahun aku di sekolahan ini, dia satu-satunya ya ng memperhatikanku dengan cukup teliti untuk menyadar i perubahan warnah mataku. Yang lainnya, saat terpesona dengan keluargaku, cenderung buru-buru berpaling saat k ami balas menatap. Mereka bersembunyi minder, secara n aluri mengacuhkan detail sosok kami agar jangan terlalu mengerti. Acuh adalah berkah bagi pikiran manusia. Kenapa harus gadis ini yang melihat terlalu banyak? Mr. Banner mendekati meja kami. Dengan lega aku menghirup napas dari udara bersih yang dibawanya sebel um bercampur dengan aroma gadis ini. Jadi, Edward, akan mikroskop? Bella. spontan aku meralat. Sebenarnya dia mengid entifikasi tiga dari lima slide ini. ujarnya, meneliti jawaban kami, tida kkah kau pikir Isabella perlu diberi kesempatan menggun

52

Pikiran Mr. Banner berubah skeptis saat menoleh ke sang gadis. elumnya? Aku memperhatikan, tertarik, saat dia tersenyum, te rlihat sedikit malu Yeah. Ini mengejutkan dia. Percobaan hari ini adalah mate ri yang dia ambil dari kelas khusus. Dia mengangguk-ang guk ke gadis itu. x? Ya. Ternyata untuk ukuran manusia dia termasuk pintar. Ini tidak mengejutkan. Well, ya. Ucap Mr. Banner, sambil mengerutkan mulutn dia berputar Agar yang lainnya Kupikir kalian cocok menjadi partner. Apa kau masuk kelas khusus di Phoeni Tidak dengan akar bawang merah. Whitefish Blastula? Mr. Banner menyelidik. Apa kau pernah melakukan percobaan ini seb

dan menjauh sambil bergumam pelan, dapat kesempatan untuk belajar,

Aku ragu gadis itu bisa

mendengarnya. Dia kembali menggambar lingkaran. Dua kali salah dalam satu jam. Sangat memalukan. Meski benar-benar tidak tahu apa yang dia pikirkanµsebe rapa besar ketakutannya, seberapa besar kecurigaannyaµ aku harus meninggalkan kesan yang lebih baik. Sayang sekali turun salju, ya kan? kataku, mengula ng pembicaraan ringan yang telah kudengar ratusan kali hari ini. Topik sederhana yang membosankan. Tentang cu acaµselalu aman. Dia menatapku dengan ekspresi ragu yang terlihat je las di matanyaµreaksi tidak wajar untuk ucapanku yang wajar. Tidak juga. jawabnya, mengejutkanku lagi. Aku kembali mengarahkan pembicaraan ke topik sep ele. Dia berasal dari kota yang cuacanya hangatµkulitny a menunjukan itu, disamping kejujurannyaµdan cuaca din

53

gin pasti membuat dia tidak nyaman. Sentuhan esku pasti membuatnya begitu... Kau tidak suka dingin. Atau basah. aku menebak. mu dia menambahkan.

Forks pasti bukan tempat menyenangkan bagimu. mbahkan. Mungkin sebaiknya kau kembali ke asalmu.

ngkin sebaiknya kau tidak datang kesini, aku ingin mena Rasanya aku tidak terlalu yakin menginginkan hal it u. Aku akan selalu ingat aroma darahnyaµapa ada jamina n aku tidak akan mengikuti dia kesana? Disamping itu, ji ka ia pergi, pikirannya akan selamanya jadi misteri. Tek a teki yang akan terus mengganggu. Kau tak tahu bagaimana rasanya. Itu membuatku ingin bertanya lagi. Lalu kenapa kau datang kesini. tanyaku, yang seger a sadar kedengarannya terlalu ingin tahu, tidak santai se perti percakapan biasa. Tidak sopan, terlalu menyelidik. Jawabannya...rumit. Mata lebarnya mengerjap, tidak menambahkan apa-a pa lagi. Itu membuatku hampir meledak penasaranµrasa p enasaran itu membakar sama panasnya dengan dahaga di t enggorokanku. Sebetulnya, aku merasa sedikit lebih mud ah untuk bernapas; godaan itu lebih bisa ditahan setelah terbiasa. Rasanya aku bisa mengerti. elama aku nekat menanyakannnya. Pandangannya menunduk lagi. Ini membatku tidak sa bar. Aku ingin menyentuh dagunya dan mengangkat wajah nya agar bisa membaca matanya. Tapi itu terlalu bodohµ berbahayaµuntuk menyentuh kulitnya lagi. aku memaksa. Mungkin sikap sopan dapat membuat dia menjawab pertanyaanku s dia berkata pelan, nadanya dingin. Jawabannya tidak seperti yang kuharap.

54

Mendadak ia mendongak. Rasanya lega bisa melihat emosi di matanya lagi. dia bicara cepat, buru-buru. Ibuku menikah lagi. Ah, ini sangat manusia, mudah dipahami. Kesedihan tampak di matanya dan memunculkan kerut diantara alisn ya. Itu tidak terdengar terlalu rumit. kataku. Suaraku h alus tanpa perlu dibuat-buat. Kesedihan dia anehnya me mbuatku merasa tidak berdaya, berharap bisa melakukan sesuatu untuk membuatnya merasa lebih baik. Dorongan yang aneh. Kapan itu terjadi? dia mengeluh panjangµlebih dari m September lalu. menyapu wajahku. Dan kau tidak menyukainya. g lebih banyak. Tidak, Phil baik. jawabnya, membetulkan asumsiku. Muncul seberkas senyum di ujung bibirnya yang penuh. Terlalu muda barangkali, tapi cukup baik. Ini tidak cocok dengan skenario yang kubangun. Kenapa kau tidak tinggal bersama mereka? mencampuri. Yang harus kuakui, memang begitu. Phil sering bepergian. Dia pemain bola. m. Aku ikut tersenyum. Aku bukan sedang ingin membu at dia nyaman. Aku hanya ingin membalas senyumanyaµu ntuk memancing lebih banyak. Apakah dia terkenal? il yang mana... aku melihat ke bundelan dafta r nama pemain profesional di kepalaku, mengira-ngira Ph berkas seny umnya makin tampak; pilihan karirnya membuat dia kagu aku bert anya lagi, suaraku kelewat penasaran. Terdengar terlalu aku menerka, memancin

endesah. Kutahan napasku ketika kehatangatan napasnya

55

Barangkali tidak. Dia bukan pemain andal. tersenyum, -pindah.

lagi-lagi

Benar-benar liga kecil. Dia sering berpindah

Daftar pemain di kepalaku langsung ganti, dan tabul asi perkiraan yang baru segera muncul tidak sampai sede tik kemudian. Pada saat bersamaan, aku membayangkan s kenario baru. Dan ibumu mengirimmu ke sini supaya ia bisa beper gian dengannya. kataku. Membuat asumsi kelihatannya l ebih mudah untuk memancingnya cerita daripada bertany a. Dan berhasil lagi. Dagunya terangkat, ekspresinya me ndadak datar. Tidak, dia tidak mengirimku ke sini. ia, meskipun aku tidak tahu kenapa. au. Aku tidak tahu maksudnya, atau alasan dibalik nada bicaranya. Aku benar-benar tidak paham. Jadi aku menyerah. Dia benar-benar tidak masuk aka l. Dia tidak seperti kebanyakan manusia. Mungkin bukan hanya keheningan pikiran dan semerbak darahnya yang ti dak umum dari dia. Aku tak mengerti. n Phil. aku mengakui, sebal telah kalah. Mula-mula dia tinggal denganku, tapi dia merinduka dia menjelaskan pelan- pelan, nadanya makin say Ini membuatnya tidak bahagia... jadi u di tiap katanya, katanya, suara nya berubah tajam. Tebakanku sepertinya menyinggung d Aku sendiri yang m

kuputuskan sudah waktunya menghabiskan waktu yang le bih berkualitas bersama Charlie. Kerut tipis diantara matanya makin dalam. Tapi sekarang kau tidak bahagia, gumamku. Aku tid ak bisa berhenti menebak keras- keras, berharap mendapa t reaksi darinya. Kali ini, ternyata tidak terlalu keliru.

56

Terus?

ujarnya, seakan tidak ada lagi yang bisa dip

ertimbangkan. Aku menatap matanya, merasa akhirnya berhasil mel ihat kedalam hatinya. Dalam satu kata itu dia menempatk an dirinya di tempat paling bawah dalam prioritas hidup nya. Tidak seperti manusia lainnya, kebutuhannya sendir i ditempatkan paling dasar. Dia lebih mementingkan orang lain. Saat melihat hal ini, misteri dibalik pikirannya yan g sunyi mulai sedikit terungkap. Itu tidak adil. tanggapku ringan. Aku mengangkat b ahu, coba terlihat santai, sambil menyembunyikan keingi n tauanku yang makin besar. Dia tertawa dingin. Tidakkah ada yang pernah memb eritahumu? Hidup tidak adil. Aku ingin ikut tertawa, meskipun sama tidak merasa gembira. Aku tahu sedikit tentang hidup yang tidak adil. Aku yakin pernah mendengarnya disuatu tempat sebelum ini. Dia menatapku balik, terlihat bingung lagi. Matanya mengerjap sesaat, dan kembali menatapku lagi. Ya sudah, itu saja. dia memberitahu. Tapi aku belum mau menyudahi pembicaraan ini. Du a kerut V diantara matanya, sisa kesenduannya, menggan gguku. Aku ingin menghapusnya dengan ujung jariku. Ta pi, tentu saja, aku tidak dapat menyentuhnya. Itu sangat tidak aman. Kau pandai berpura-pura. aku berkata pelan, masih Tapi aku beran mempertimbangkan hipotesa selanjutnya. tkan pada orang lain. Dia mengerutkan muka, matanya menyipit dan mulut nya mencebik kesamping, lalu ia membuang muka kedepa

i bertaruh kau lebih menderita daripada yang kau perliha

57

n. Dia tidak suka saat tebakanku benar. Dia bukan martir biasaµia tidak ingin orang lain tahu penderitaannya. Apa aku salah? Badannya bergerak gelisah, tapi pura-pura tidak me ndengar. Itu membuatku tersenyum. Kenapa ini penting buatmu? uang muka. Pertanyaan yang bagus. aku akui, lebih pada diriku sendiri daripada menjawabnya. Ketajamannya lebih baik daripadakuµdia langsung melihat ke inti masalah sement ara aku berpusing di pinggiran, menebak asal-asalan. De tail kehidupan manusia seharusnya tidak penting buatku. Suatu kesalahan untuk peduli dengan isi pikirannya. Sela in melindungi keluargaku dari kecurigaan, problem manu sia tidak penting. Aku tidak biasa kalah dalam hal intuisi. Aku terlalu mengandalkan pendengaran ekstrakuµkelihatannya aku ti dak sepeka seperti yang kupikir. Dia mengeluh sambil masih memandang kesal ke dep an kelas. Ekspresi frustasinya terlihat lucu. Semua situa si ini, pembicaraan ini, lucu. Belum pernah ada orang ya ng berada dalam situasi seberbahaya ini dariku kecuali g adis kecil iniµkapan saja, kalau aku terlena, aku bisa me nghirup lewat hidung dan menyerangnya sebelum bisa ku cegahµdan dia kesal karena aku belum menjawab pertany aannya. Apa aku mengganggumu. tanpa sebab. Dia bermaksud mengerling sekilas, tapi tatapannya t erperangkap pandanganku. Tidak juga. Dia memberitahu. Aku lebih kesal pada diriku sendiri. Ekspresiku sangat mudah ditebakµibuku s elalu menyebutku buku yang terbuka. tanyaku, sambil tersenyum Kurasa tidak, tuntutnya, masih memb

58

Keningnya mengerut, menggerutu. Aku menatapnya terheran-heran. Alasan dia kesal ka rena menurutnya aku melihat dirinya terlalu mudah. Sung guh aneh. Aku belum pernah berusaha sekeras ini untuk bisa memahami seseorang selama hidupkuµatau lebih tep atnya eksistensiku, hidup bukan istilah yang tepat. Aku t idak bisa disebut hidup. Kebalikannya, bantahku, merasa aneh... khawatir, s Aku malah eakan ada bahaya tersembunyi yang tidak bisa kulihat. T iba-tiba aku berada di tubir jurang, gelisah. sulit menebakmu. Kalau begitu kau pasti sangat pintar membaca sifat orang. dia menebak, membuat asumsinya sendiri, yang la aku mengiyakan. gi-lagi, tepat sasaran. Biasanya. Aku tersenyum lebar, membiarkan mulutku tertarik k ebelakang untuk memperlihatkan kilatan barisan gigi taj am dibaliknya. Itu kelakukan bodoh. Tapi entah kenapa aku sangat i ngin memberi peringatan pada gadis itu. Badannya duduk lebih dekat dari sebelumnya, tanpa sadar bergeser selam a pembicaraan tadi. Semua isyarat kecil yang biasanya m enakuti manusia kelihatannya tidak berlaku pada gadis i ni. Kenapa dia tidak juga lari ketakutan dariku dengan d ihantui teror mengerikan? Tentunya dia cukup melihat si si gelapku untuk menyadari bahayanya, sejeli sebagaima na dia kelihatanya. Aku tidak bisa melihat apa peringatanku menimbulk an efek. Mr Banner baru saja menyuruh semua untuk tena ng, dan gadis itu langsung berpaling dariku. Dia terlihat lega karena teralihkan, jadi mungkin secara tidak sadar dia mengerti. Aku harap dia begitu.

59

Aku menyadari muncul kekaguman dalam diriku, mes kipun sudah coba kuusir. Aku tidak boleh mendapati Bell a Swan menarik. Aku tidak akan sanggup menahan dirik u. Tapi belum apa-apa aku sudah tidak sabar ingin bicara dengannya. Aku ingin tahu lebih banyak tentang ibunya, kehidupannya sebelum kesini, hubungan dia dengan ayah nya. Semua hal sepele yang akan mengungkap kepribadia nnya. Tapi setiap detik yang kuhabiskan bersamanya adal ah suatu kesalahan, resiko yang tidak semestinya dia tan ggung. Tidak sadar, tiba-tiba ia mengibas rambutnya tepat pada saat aku mengambil napas. Gelombang pekat aroman ya langsung memukul belakang tenggorokanku. Ini sama dengan waktu pertama kaliµseperti bola pe nghancur. Kesakitan akibat api yang membakar dahagaku membuatku pusing. Aku harus mencengkram meja lagi ag ar tetap duduk. Kali ini aku lebih bisa mengontrolnya. M inimal aku tidak merusak apa-apa. Monster dalam diriku menggeram, tapi tidak menikmati kesakitanku. Dia terika t kencang. Paling tidak untuk saat ini. Aku berhenti bernapas, dan menjauh sebisanya dari gadis itu. Tidak, aku tidak boleh mendapati dia menarik. Sema kin menarik dia bagiku, semakin besar kemungkinan aku akan membunuhnya. Aku sudah membuat dua kesalahan k ecil hari ini. Apa aku akan membuat yang ketiga, yang ti dak kecil? Begitu bel berbunyi, aku langsung cepat-cepat kelua rµmungkin menghancurkan segala kesan baik yang tadi a ku bangun. Lagi, di luar aku menghirup dalam-dalam uda ra segar yang lembab seakan itu ramuan penyembuh. Aku pergi sejauh mungkin dari gadis itu. Emmet menunggu di

60

depan kelas Spanyol. Dia melihat ekspresi liarku sekila s. Bagaimana tadi? Dia membatin khawatir. Tidak ada yang mati. dari kelas, kukira... Dalam perjalanan masuk kelas, aku melihat ingatann ya barusan, melihat keluar lewat pintu yang terbuka dari kelas sebelumnya: Alice berjalan panik dengan wajah ko song melintasi lapangan menuju gedung kelas biologi. Ta di ia ingin ikut mengejar, tapi kemudian memutuskan unt uk tinggal. Jika Alice butuh bantuan, ia akan bilang... Aku menutup mataku ngeri sekaligus jijik saat tiba di kursi. u. Memang tidak. Dia meyakinkan aku. Tidak ada yang mati, iya kan? Iya. desisku lewat sela gigi. Kali ini. Mungkin lain kali akan lebih mudah. Tentu. Atau, mungkin kau akan membunuhnya. Dia mengang kat bahu. Kau bukan orang pertama yang mengacau. Tida k akan ada yang menuduhmu teledor. Kadang memang ada orang yang baunya terlalu nikmat. Aku kagum kau bisa m enahannya selama ini. Itu tidak menolong, Emmet. Aku menentang penerimaannya pada ide bahwa aku d apat membunuh gadis itu, seakan itu hal yang tidak terel akan. Apa dia yang salah jika baunya menggiurkan? Aku tahu ketika itu terjadi padaku maka..., Emmet t erkenang, membawaku kembali ke lima puluh tahun yang lalu, ke sebuah jalan pedesaan. Waktu itu petang, hampir Aku tidak sadar tadi itu segitu dekat. Tadi aku bisikk tidak berniat akan... aku tidak tahu seburuk itu, aku bergumam. Kurasa itu berita baik. Saat aku melihat Alice kabur

61

malam. Seorang wanita paruh baya sedang mengangkat cu ciannya dari seutas tali yang membentang diantara dua p ohon apel. Aroma apel menggantung kuat di udaraµmasa panan telah selesai dan sisa-sisa buah yang rusak berser akan di tanah, dari luka di kulitnya menguar bau kental yang pekat. Aroma segar rumput yang baru dipotong men jadi latar. Harmonis. Emmet sedang menyusuri jalan itu, baru kembali setelah dimintai tolong Rosalie. Langit keu nguan diatasnya, jingga di sebalah barat pepohonan. Dia sudah akan membelok di ujung jalan dan tidak ada alasan untuk mengingat sore itu, kecuali kemudian angin malam menerbangkan sprei putih yang baru akan diambil dan me ngehembuskan aroma perempuan itu ke wajah Emmet. Ah, aku menggeram pelan. Seakan ingatanku masih belum cukup. Aku tahu. Tidak sampai setengah detik. Aku bahkan tidak berpikir untuk menahannya. Ingatannya jadi terlalu gamblang untuk ditahan. Aku langsung terlonjak, gigiku terkatup sangat rapa t hinga bisa memotong besi. Esta bien, Edward? tanya Senora Goff, terkejut den gan gerakan mendadakku. Aku bisa melihat wajahku di pi kirannya, dan aku tahu aku terlihat jauh dari baik-baik s aja. Me perdona, bisikku, sambil segera menuju pintu. pi Emmetµpor favor, puedas tu ayuda a tu hermano? las. Tentu saja. Aku dengar Emmet menjawab. Dan dia s udah mengikutiku. Dia mengikutiku menjauh dari kelas, hingga berhasi l mengejar dan memegang pundakku.

nta Senora Goff pada Emmet, tanpa menahanku keluar ke

62

Aku menampiknya dengan kekuatan yang tidak perl u. Itu akan meremukan tulang lengan manusia, dan telapa k tangannya sekaligus. Sori, Edward. Aku tahu. aku menghirup panjang, membersihkan ke dia bertanya, berusaha tid pala dan paru-paruku. Apa seburuk seperti itu? an tidak terlalu berhasil. Lebih parah, Emmet, lebih parah. Mungkin... Tidak, tidak akan lebih baik jika aku melupakannya. Kembali ke kelas, Emmet. Aku ingin sendirian. Dia meninggalkanku tanpa berkomentar atau berpiki r, cepat-cepat menjauh. Ia akan mengatakan ke guru Span yol kami bahwa aku sakit, atau bolos, atau aku ini seora ng vampir berbahaya yang lepas kendali. Apa alasan dia penting? Mungkin aku tidak akan kembali. Mungkin aku harus pergi. Aku ke mobil lagi, menunggu hingga sekolah usai. B ersembunyi. Lagi. Aku seharusnya menggunakan waktuku untuk menga mbil keputusan atau coba memantapkan diri. Tapi, sepert i seorang pecandu, aku justru menyapu gumaman-gumama n pikiran yang ada didalam kelas. Suara-suara yang sang at kukenal muncul, tapi aku tidak sedang tertarik mende ngarkan penglihatan Alice atau keluhan Rosalie. Cukup mudah menemukan Jessica, tapi gadis itu sedang tidak be samanya. Jadi aku terus mencari. Pikiran Mike Newton m enarik perhatianku, dan akhirnya aku menemukan lokasi gadis itu. Di kelas olahraga bersama Mike Newton. Dia k esal, karena tadi aku bicara dengan gadis itu di kelas bi Dia terhenyak. ak memikirkan aroma dan rasanya saat menanyakan itu, d

63

ologi. Dia sedang mengejar tanggapannya saat menyinggu ng topik itu... Aku belum pernah melihat dia benar-benar bicara de ngan siapapun sebelumnya. Tentu saja ia akan melihat B ella menarik. Aku tidak suka caranya menatap Bella. Tap i Bella tidak kelihatan terlalu bersemangat. Apa katanya tadi? 'aku bertanya-tanya apa yang terjadi padanya senin lalu.' Kira-kira seperti itu. Kedengarannya dia tidak tak ut. Pembicaraannya paling-paling tidak penting... Dia terus berpikir negatif seperti itu, senang denga n ide bahwa Bella kelihatannya tidak terlalu tertarik den gan pembicaraan denganku tadi. Ini menggangguku lebih dari semestinya, jadi aku berhenti mendengarkan. Aku menyalakan CD musik rock, menyalakan keras-k eras hingga suara-suara lainnya tenggelam. Aku harus be rkonsentrasi penuh pada musiknya untuk mencegahku ke mbali melayari pikiran Mike Newton, untuk mengintai ga dis polos itu... Aku mencuri-curi beberapa kali, setelah hampir satu jam. Bukan mengintai, aku coba meyakinkan diriku. Han ya bersiap-siap. Aku ingin tahu kapan tepatnya ia akan k eluar dari ruang olahraga, ketika akan tiba di parkiran. Aku tidak mau kaget. Saat murid-murid mulai keluar dari ruang olahraga, aku keluar dari mobil, tidak yakin kenapa. Diluar hujan rintik-rintikµkuacuhkan saat mulai membasahi rambutku. Apa aku ingin dia melihatku ada di sini? Apa aku be rharap ia akan datang bicara padaku? Apa yang kulakuka n? Meskipun terus meyakinkan diri untuk kembali ke m obil, karena sikap tidak bertanggung jawab ini, aku teta p tidak bergerak. Aku melipat tangan di dada dan bernap as sangat pelan ketika melihat dia berjalan ke arahku. S

64

udut bibirnya turun. Dia tidak melihatku. Beberapa kali dia melihat ke awan sambil meringis, seakan mereka men yinggung perasaannya. Aku merasa kecewa ia sampai di mobil sebelum mele watiku. Apa memangnya dia akan bicara denganku? Apa a ku akan bicara denganya? Dia masuk ke dalam truk Chevy merah kusam, si bon gsor karatan yang umurnya lebih tua dari ayahnya. Aku memperhatikan dia menyalakan truknyaµmesin tua itu me nderum lebih keras dari kendaran-kendaran lain di parkir anµdan kemudian menjurkan tangannya kearah penghanga t. Udara dingin pasti membuatnya tidak nyamanµdia tida k suka. Dia menyisir rambutnya dengan jari, mengarahka n ke penghangat seakan sedang mengeringkan rambut. Ak u membayangkan bagaimana baunya di dalam sana, dan se gera membuang jauh- jauh pikiran itu. Dia melihat sekitar sebelum mundur, dan akhirnya m elihat ke arahku. Dia menatapku balik hanya setengah de tik, dan bisa kulihat di matanya ia terkejut sebelum kem udian berpaling dan memundurkan truknya. Tapi kemudia n mendecit berhenti lagi, belakang truknya hampir menye nggol Toyota Corolla milik Erin Teague. Dia menatap kaca spionnya, mulutnya menganga nge ri. Ketika mobil lain lewat, ia mengecek spionnya dua ka li sebelum pelan-pelan keluar dari tempat parkir, sangat hati-hati hingga membuatku geli. Mungkin di pikirannya dia itu berbahaya saat mengendarai truk jompo itu. Bayangan seorang Bella Swan berbahaya bagi orang lain, tak perduli apapun yang dikendarainya, membuatku tertawa saat dia melintas, memandang lurus kedepan.

65

3. Fenomena
Aku tidak haus, tapi kuputuskan untuk tetap berburu . Sedikit pencegahan, meski aku tahu tetap tidak akan cu kup. Carlisle ikut menemani; kami belum sempat bicara b erdua sejak aku kembali. Saat berlari menembus kegelap an hutan, ia mengingat kembali ucapan perpisahan satu minggu lalu. Edward? Aku harus pergi, Carlisle. Aku harus pergi sekarang juga. Apa yang terjadi. Tidak ada. Belum. Tapi akan terjadi, jika aku tingga l. Dia menggapai tanganku, tapi aku menjauh. Dan bis a kurasakan betapa itu menyakiti perasaannya. Aku tidak mengerti. Apa kau pernah...apa ada masa dimana... Kulihat diriku menarik napas panjang, melihat kilat liar di mataku melalui tatapannya yang prihatin. Pernahkah ada orang yang baunya lebih mengundang bagimu dari yang lain? Sangat sangat mengundang? Oh. Saat tahu dia mengerti, wajahku tertunduk malu. Di a menjangkau untuk menyentuhku, tak perduli aku coba menghindar lagi, dan memegang pundakku. Lakukan apa yang harus kau lakukan untuk menahan nya. Aku akan merindukanmu. Ini, bawa mobilku. Ini leb ih cepat. Sekarang dia bertanya-tanya, apa waktu itu ia melak ukan hal yang tepat dengan mengirimku pergi. Khawatir

66

telah menyakiti perasaanku karena kurang percaya padak u. Tidak. bisikku sambil lari. Memang itu yang kubutu hkan. Jika kau memintaku tetap tinggal, sangat mungkin aku akan mengkhianati kepercayaan itu. Aku sangat sedih kau menderita, Edward. Tapi kau h arus melakukan apa yang kau bisa untuk menjaga putri C hief Swan tetap hidup. Bahkan jika harus meninggalkan kami lagi. Aku tahu, aku tahu. Lantas kenapa kau kembali? Kau tahu betapa bahagi anya aku melihat dirimu lagi, tapi jika ini terlalu suli t... Aku tidak suka jadi pengecut, elambatµhampir berlari normal. Tapi itu lebih baik daripada membahayakan dia. Dia akan pergi dalam satu atau dua tahun lagi. Kau betul, aku tahu itu. Sebetulnya perkataan Carli sle justru membuatku lebih ingin tinggal. Gadis itu akan pergi satu atau dua tahun lagi... Carlisle berhenti dan aku ikut berhenti; dia memper hatikan ekspresiku. Tapi kau tidak akan pergi, iya kan? Aku tidak menjawab. Apa karena harga diri, Edward? Tidak ada yang mem alukan dalamµ Bukan, bukan karena harga diri yang membuatku tin ggal. Tidak kali ini. Apa karena tidak ada tempat yang bisa kau tuju? Aku tertawa pendek. Tidak. Hal itu tidak akan meng hentikanku, jika aku bisa membuat diriku pergi. aku mengaku. Kami m

67

Tentu kami akan ikut, jika itu yang kau butuhkan. K au hanya perlu minta. Kau selalu ikut pindah tanpa meng eluh buat yang lain. Mereka tidak akan kesal. Aku mengangkat sebelah alisku. Dia tertawa. Iya, Rosalie mungkin, tapi di berhutan g padamu. Bagaimanapun juga, jauh lebih baik kita pergi sekarang, sebelum ada insiden, daripada nanti, setelah a da korban jiwa. Iya, pada akhirnya candanya lenyap. Aku mengacuhkan kata-katanya. aku menyetujui. Suaraku parau. Seharusnya aku pergi. Tapi kau tidak akan pergi? Aku mendesah. Apa yang menahanmu disini, Edward? Aku tidak bisa menangkap maksudmu...akal. Aku tidak tahu apa bisa menjelaskannya. bahkan ke diriku sendiri. Itu tidak masuk Dia menilai ekspresiku. Tidak, aku tidak mengerti. Tapi aku akan mengharga i privasimu, jika itu kemauanmu. Terima kasih. Kau terlalu baik, mengingat bagaiman a aku tidak pernah memberikan privasi ke siapapun. si itu, iya kan? Kita masing-masing punya kebiasaannya sendiri. Dia tertawa lagi. Ayo? Dia baru saja mencium bau sekawanan rusa. Tapi sa ngat sulit untuk bersemangat, bahkan dengan buruan yan g paling baik, jika baunya tidak lagi lagi mengundang se lera. Saat ini, dengan ingatan darah gadis itu, bau rusa j adi terasa menjijikan. Aku mendesah. Ayo, Aku mengikuti, meskipun tahu bahwa menelan darah lagi tidak akan terlalu menolong. den gan satu pengecualian. Dan aku sedang berusaha mengata

68

Kami mengambil posisi berburu, badan membungkuk dengan cakar didepan, membiarkan baunya yang tidak me ngundang menuntun kami mendekat tanpa suara. Cuaca mulai dingin ketika kami pulang. Salju yang mencair telah membeku; lapisan kaca tipis menyelimuti s egalanyaµtiap ujung cemara, tiap daun pakis, tiap batang rumput, semua tertutup es. Sementara Carlisle berganti baju untuk shift pagi di rumah sakit, aku tinggal di tepi sungai, menunggu matah ari terbit. Perutku kembung karena kebanyakan darah. Ta pi tetap tidak akan ada artinya jika duduk disamping gad is itu lagi. Dingin dan mematung sama seperti batu yang kududu ki, aku mengamati air gelap yang mengalir diantara ping gir sungai yang licin, menatap dasarnya. Carlisle benar. Aku seharusnya meninggalkan Forks. Mereka bisa mengatur alibinya. Sekolah asrama di Erop a. Mengunjungi saudara jauh. Gejolak remaja yang kabur dari rumah. Apapun itu tidak penting. Tidak akan ada ya ng bertanya lebih jauh. Hanya selama satu atau dua tahun, dan gadis itu aka n menghilang. Dia akan melanjutkan hidupnyaµdia akan memiliki kehidupan untuk dijalani. Dia akan pergi kulia h, menua, memulai karir, mungkin menikah dengan seseo r a n g . A k u b i s a m e m b a y a n g k a n n y a µm e l i h a t g a d i s i t u m e n g enakan gaun putih dan berjalan dengan iringan musik, le ngannya mengait ke lengan ayahnya. Sungguh ganjil, rasa sakit yang diakibatkan gambar an itu. Aku tidak bisa mengerti. Apa aku cemburu karena dia memiliki masa depan yang tak bisa kumiliki? Itu tida k masuk akal. Setiap manusia di sekitarku memiliki masa depan serupaµkehidupanµdan aku jarang iri pada mereka.

69

Aku harus meninggalkan dia demi masa depannya. B erhenti membahayakan kehidupannya. Itu hal yang benar untuk dilakukan. Carlisle selalu memilih jalan yang bena r. Aku harus mendengarkan dia. Matahari terbit dibalik awan. Sinar redup berkilaua n dari tiap-tiap permukaan kaca yang membeku. Satu hari lagi, aku memutuskan. Aku akan menemui dia satu hari lagi. Aku bisa mengatasinya. Mungkin aku akan memberitahu kepergianku, agar cerita yang berkemb ang meyakinkan. Ini akan sulit; belum apa-apa keenggananku sudah m encari-cari alasan untuk tinggalµ untuk menundanya dua atau tiga hari lagi, atau empat... tapi aku akan melakuka n hal yang tepat. Aku tahu aku bisa mempercayai nasihat Carlisle. Dan aku juga tahu aku terlalu bias untuk memb uat keputusan yang tepat sendirian. Sangat terlalu bias. Sebarapa banyak keengganan ini berasal dari obsesi penasaran, dan berapa banyak yang d ari rasa haus yang tidak terpuaskan? Aku masuk kedalam untuk ganti pakain untuk sekola h. Alice sedang menungguku, duduk di anak tangga ter atas di lantai tiga. Kau akan pergi lagi. dia cemberut padaku. Aku men desah dan menangguk. Kali ini aku tidak bisa melihat kemana pergimu. Aku belum tahu kemana tujuanku, Aku ingin kau tinggal. Aku menggeleng. Mungkin Jazz dan aku bisa ikut denganmu? Mereka lebih membutuhkan kalian berdua saat aku ti dak disini. Dan pikirkan bagaimana Esme. Apa kau ingin membawa pergi setengah keluarganya sekaligus? bisikku.

70

Kau akan membuatnya sedih. Aku tahu. Maka itu kau harus tinggal. Itu tidak sama dengan jika ada kau disini, kau tahu itu. Ya. Tapi aku harus melakukan apa yang benar. Ada banyak jalan yang benar, dan banyak jalan yang salah, bukankah begitu? Selama sekejapan mata ia larut dalam salah satu pen glihatannya yang aneh; aku mengamati bersamanya saat g ambaran kabur itu berkedip-kedip dan berputar. Aku meli hat diriku bercampur dengan bayangan aneh yang tidak d apat kukenaliµbentuknya samar dan tidak jelas. Kemudia n, tiba-tiba kulitku berkilauan dibawah sinar matahari di tengah padang rumput kecil. Ini tempat yang aku tahu. A da sesuatu disana bersamaku, tapi, lagi, sangat kabur. Ti dak cukup jelas untuk dikenali. Gambaran itu bergoyanggoyang kemudian menghilang seraya jutaan pilihan masa depan yang lain berkelebat kilat. Aku tidak bisa menangkap sebagaian besar dari itu, aku memberitahunya saat penglihatannya memudar. Aku juga. Masa depanmu berganti-ganti sangat cepat hingga aku tidak bisa mengikutinya. Menurutku, meskipu n... Dia berhenti, dan menyisipkan di pikirannya simpan an penglihatan lainnya yang cukup banyak. Semuanya ser upaµkabur dan tidak jelas. Menurutku sesuatu ada yang berubah, kannya dengan suara verbal. Hidupmu kelihatannya sedang tiba di persimpangan j alan. Aku tertawa muram. Kau pasti sadar bukan, kau jadi kedengaran seperti seorang gypsy gadungan di karnaval? Dia menjulurkan lidah mungilnya padaku. dia mengucap

71

Bagaimana dengan hari ini? Suaraku mendadak gelis ah. Aku tidak melihat kau membunuh siap-siapa hari in i, dia meyakinkan aku. Thanks, Alice. Cepat ganti baju. Aku tidak akan mengatakan apa-ap aµbiar kau sendiri yang memberitahu mereka saat kau sia p. Dia berdiri dan meloncat mundur menuruni tangga, p undaknya terkulai. Aku akan merindukanmu. Sungguh. Ya, aku juga akan sangat merindukannya. Itu adalah perjalanan yang sepi. Jasper tahu Alice s edang kecewa terhadap sesuatu, tapi juga tahu jika dia m emang ingin membicarakan hal itu dia pasti sudah menyi nggungnya. Sedang Emmet dan Rosalie sudah lupa denga n sekitarnya, lagi-lagi sedang tenggelam dalam dunia me reka sendiri, saling memandang dengan tatapan mesraµag ak risih melihatnya. Kami cukup sadar bagaimana sangat saling jatuh cintanya mereka. Mungkin cuma aku yang ka dang sinis karena satu-satunya yang masih sendirian. Ad a hari-hari dimana terasa lebih berat saat hidup bersama dengan tiga pasangan yang sempurna. Ini adalah salah sa tunya. Mungkin mereka akan lebih bahagia tanpa aku. Meng ingat aku sekarang sudah seperti kakek-kakek, temperam ental dan gampang marah. Tentu saja, pertama yang kulakukan saat tiba di sek olah adalah mencari gadis itu. Hanya mempersiapkan diri . Yup, betul. Memalukan bagaimana duniaku tiba-tiba terlihat tid ak ada isinya kecuali diaµseluruh eksistensiku jadi berp usat disekeliling gadis itu.

72

Sebetulnya cukup mudah dipahami; setelah delapan puluh tahun menjalani hal yang sama setiap hari dan seti ap malam, satu perubahan kecil pasti akan jadi titik perh atian. Dia belum datang. Tapi betulkah itu gelegar mesin t ruknya dikejauhan. Aku bersandar ke mobil menunggu. A lice menemani. Yang lain langsung masuk ke kelas. Mere ka bosan dengan kegundahankuµterlalu sulit untuk bisa memahami ada manusia yang dapat mengganggu pikiranku begitu lama, tidak perduli betapa nikmat aromanya. Kendaraan gadis itu muncul dengan lambat, matanya berkonsentrasi keras ke jalan dan tangannya mencengkra m erat roda kemudi. Dia kelihatan mencemaskan sesuatu. Aku segera tahu kemudian, menyadari bahwa setiap manu sia menampakan mimik serupa hari ini. Jalanan licin kar ena es, dan mereka berusaha mengemudi lebih hati-hati. Aku lihat dia benar- benar serius menanggapi hal itu. Tampaknya sejalan dengan karakter yang berhasil ku pelajari. Aku menambahkan ini ke daftar singkatku: dia adalah orang yang serius, orang yang bertanggung jawab. Mobilnya diparkir tidak jauh, tapi dia belum menya dari aku disini, mengamati dia. Aku membayangkan apa y ang akan dia lakukan ketika sadar? Tersipu lalu pergi? I tu tebakan pertamaku. Tapi mungkin ia akan menatap bal ik. Mungkin akan datang bicara padaku. Aku mengambil napas panjang, mengisi paru-paru, s ekedar berjaga-jaga. Dia keluar dari truk dengan hati-hati, mengecek pij akannya yang licin dulu. Dia tidak mendongak, dan itu m embuatku frustasi. Mungkin sebaiknya aku kesana bicara dengan dia... Tidak, itu salah.

73

Bukannya ke kelas, dia justru ke belakang truknya, sambil berpegangan pada sisi truknya dengan cara mengg elikan, tidak yakin dengan langkahnya. Itu membuatku te rsenyum, dan bisa kurasakan mata Alice menatapku. Aku mengabaikan apa yang ia pikirkanµaku sedang menikmati menonton gadis itu saat mengecek rantai saljunya. Dia b enar-benar kelihatan hampir jatuh, kakinya selalu terple set. Padahal yang lain tidak mengalami kesulitanµapa di a parkir di tempat yang paling licin? Dia terdiam, melihat kebawah dengan ekspresi aneh. Tatapannya...lembut? Seakan ada sesuatu pada bannya ya ng membuat dia...emosional? Lagi, rasa penasaran membakar seperti dahaga. Seak an aku harus mengetahui apa yang dia pikirkanµseakan ti dak ada lagi yang berarti. Aku akan bicara ke dia. Lagipula dia kelihatan butu h bantuan, paling tidak sampai meninggalkan parkiran ya ng licin. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin. Dia tidak s uka salju, jadi pasti tidak akan suka dengan tangan puca tku yang dingin. Aku seharusnya pakai sarung tanganµ TIDAK! Alice berteriak panik. Ototku mengejang dan langsung mengamati pikirann ya, ketakutan pertamaku adalah aku telah membuat keput usan yang salah dan ia melihatku melakukan kekejian it u. Tapi ternyata tidak ada hubungannya denganku. Tyler Crowley kelihatan terlalu ngebut saat belok k e parkiran. Pilihan itu membuat mobilnya meluncur sepa njang permukaan es... Penglihatan itu datang setengah detik sebelum kejad ian. Mobil van Tyler telah tiba di kelokan saat aku masi h memperhatikan kejadian yang membuat Alice membelal ak ngeri.

74

Tidak, penglihatan ini tidak ada kaitannya denganku , namun juga segalanya berkaitan denganku, karena Van Tylerµban mobilnya kini melintasi permukaan es menuju ke arah yang paling burukµakan berputar-putar dan terge lincir sepanjang parkiran menabrak gadis yang tanpa diu ndang telah menjadi pusat duniaku. Bahkan tanpa kemampuan Alice sangat mudah memba ca lintasan kendaraan itu, yang meluncur diluar kendali Tyler. Gadis itu, berdiri tepat di tempat yang salah, di bel akang truknya. Ia mendongak, bingung karena mendengar suara lengkingan bising. Dia melihat tepat kedalam mata ku yang membelalak ngeri, dan kemudian menoleh untuk melihat kematiannya mendekat. Jangan dia! Kata-kata itu berteriak dalam kepalaku seakan berasal dari orang lain. Masih terkunci dalam pik iran Alice, aku melihat penglihatannya mendadak beruba h, tapi aku tidak punya waktu menunggu hasilnya. Aku langsung bergerak kilat melintasi parkiran, mel emparkan diriku diantara van yang tergelincir dan sang g adis yang membeku. Aku bergerak sangat cepat hingga se muanya kelihatan kabur kecuali fokus tujuanku. Dia tida k melihatkuµtidak ada mata manusia yang sanggup mengi kuti kecepatankuµmasih terkejut memandangi benda gela p besar yang akan segera menggilas badannya ke belakan g truk Aku menangkap pingganggnya, menubruk terlalu cep at daripada seharusnya. Dalam sepersekian detik diantar a waktu aku merenggut tubuh rampingnya dari jalur kema tian, dan waktu dimana aku menjatuhkan diri ke tanah de ngan dia di pelukanku, aku jadi bisa merasakan dengan j elas kerapuhan tubuhnya.

75

Ketika mendengar kepalanya membentur permukaan e s, tubuhku serasa membeku. Tapi aku tidak punya satu detik pun untuk memastik an keadaannya. Aku dengar van itu sudah di belakang ka mi berdua, menderak begitu menyenggol bemper besi tru k gadis itu. Van itu kemudian berubah arah, menuju arah nya lagiµseakan dia itu magnet. Umpatan yang belum pernah kuucapkan dihadapan se orang perempuan terselip diantara gigiku. Aku telah berbuat terlalu banyak. Saat hampir saja meloncat tinggi untuk menghindari dia dari bahaya, aku menyadari kesalahan itu. Tapi itu tetap tidak menghentik anku melakukan yang lain, sekaligus juga tidak menyang kal akibatnyaµbukan saja resiko bagiku, tapi juga bagi s eluruh keluargaku. Terekspos. Dan serangan ke-dua ini tidak membantu. Tidak aka n kubiarkan van ini berhasil menghancurkan dia. Aku menaruh dia lalu mengulurkan tangan, menangk ap van itu sebelum menyentuhnya. Daya dorongnya memb antingku mundur ke mobil sebelah. Bisa kurasakan sisi m obilnya di belakang bahu. Van itu bergetar, kemudian ter ayun. Dua ban sampingnya terangkat. Jika kulepas tanganku, salah satu ban itu akan jatuh menimpa kaki gadis itu. Oh, demi orang-orang kudus, kapan malapetakanya s elesai? Apa lagi yang akan salah? Aku tidak mungkin be gini terus, mengangkat van di udara sampai bantuan data ng. Juga tidak mungkin melemparnyaµada supirnya yang mesti dipertimbangkan, pikirannya panik. Sambil mengggeram dalam perut, kusorong van itu s edikit. Saat mau jatuh, kutangkap bawahnya dengan tang an kanan, sedang tangan kiri merangkul pinggang gadis i

76

tu dan menariknya keluar dari bawah mobil. Badannya lu nglai saat kugeser hingga kakinya aman dan merapat ke s isikuµapa dia sadarkan diri? Seberapa besar luka yang k utimbulkan gara- gara penyelamatan ceroboh tadi? Kulepas van itu setelah dia aman. Jendelanya pecah berantakan saat terbanting jatuh. Aku tahu situasiku terp ojok. Seberapa banyak yang dia lihat? Apa ada saksi yan g lain? Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya jadi kekhawat iran yang paling besar. Tapi aku terlalu cemas hingga tidak memikirkan anc aman itu. Aku terlalu panik telah melukai dia dalam usa ha melindunginya. Terlalu takut mendapati dirinya sedek at ini, mengetahui dapat saja menghirup baunya. Terlalu menyadari kehangatan tubuhnya yang lembut menyentuh t ubuhkuµbahkan dengan penghalang jaket masih terasa ke hangatannya... Ketakutan itu adalah yang terbesar. Saat teriakan orang-orang mendekat, aku memeriksa wajahny a, melihat apa dia sadarµberharap-ngeri dia tidak berdar ah. Matanya terbuka. syok. Bella? aja? Iya tidak apa-apa. ra linglung. Aku sangat lega mendengar suaranya. Aku menarik n apas lewat sela gigi, dan tidak keberatan dengan rasa ter bakar di tenggorokan yang menyertainya. Justru bisa dib ilang aku menyambutnya. Dia berusaha untuk duduk, tapi aku belum siap mele pasnya. Entah bagaimana aku merasa...lebih aman? Lebih baik, paling tidak, masih memegangi dia di sisiku. Hati-hati, aku memperingatkan. Kurasa kepalamu te rbentur cukup keras. dia menjawab spontan dengan sua Aku bertanya khawatir. Apa kau baik-baik s

77

Tidak ada bau darah segarµuntung sajaµtapi ini tida k menyingkirkan kemungkinan luka dalam. Aku mendadak jadi cemas ingin segera membawanya ke Carlisle, memeri ksanya dengan peralatan lengkap. Aduh. keluhnya, nadanya terkejut saat menyadari ak aku sudah sedikit lega hing u benar tentang kepalanya. Itulah yang kupikirkan. a geli. Bagaimana bisa... suaranya perlahan menghilang, m atanya mengerjap bingung. Bagaimana kau bisa sampai disini secepat itu? Kelegaan berubah masam, rasa humor lenyap. Dia m elihat terlalu banyak. Kini, saat gadis ini kelihatan baik-baik saja, kecem asan terhadap keluargaku jadi nyata. Aku berdiri di sebelahmu, Bella. in jadi ragu dengan apa yang benar. Dia berusaha duduk lagi. Kali ini kuijinkan. Aku bu tuh mengambil napas agar bisa memainkan peran dengan benar. Aku butuh menjauh dari kehangatan darah pada tu buhnya agar tidak terkombinasi dengan aromanya hingga membuatku kewalahan. Aku menjauh sejauh mungkin di r uang sempit diantara himpitan dua kendaraan ini. Dia mendongak menatapku. Aku menatap balik. Berp aling duluan adalah kesalahan yang dibuat oleh seorang pembohong amatir, dan aku bukan amatiran. Ekpresiku le mbut, bersahabat... Sepertinya itu membingungkan dia. I tu bagus. Kini orang-orang mulai merubung. Kebanyakan para murid. Mereka saling mendesak maju untuk menonton. Di mana-mana terdengar teriakan dan pekik kaget pikiran. K aku tahu dari peng alaman, jika sangat yakin saat berbohong, maka orang la ga bisa melihat kelucuan ekspresinya. Aku hampir tertaw

78

uamati pikiran-pikiran itu sekilas untuk memastikan tida k ada yang curiga, dan kemudian kuredupkan suaranya un tuk berkonsentrasi hanya pada si gadis. Dia teralihkan oleh kegemparan orang-orang. Dia me lihat ke sekeliling, ekspresinya masih syok. Dia berusah a untuk berdiri. Aku pegang pundaknya untuk menahannya. Coba jangan berdiri dulu. dia kelihatannya baik-bai k saja, tapi apa dia boleh menggerakan leher? Lagi, aku berharap ada Carlisle. Tahunan mempelajari teori kedokt eran tidak sebanding dengan berabad-abad praktek secara langsung. Tapi dingin, dia mengeluh. Dia hampir terbunuh dua kali berturutan dan nyaris luka parah satu kali, namun dingin yang ia risaukan. Kek ehan pendek sempat terselip dari gigiku sebelum kembali ingat situasinya tidak lucu. Bella mengerjap, dan kemudian matanya fokus ke wa jahku. m lagi. Dia melirik ke tempatku tadi, meski sekarang tidak ada yang bisa dilihat kecuali mobil Tyler. belah mobilmu. Tidak. Aku melihatmu. u. Bella, aku sedang berdiri disampingmu, dan aku men arikmu. Aku menatapnya lekat-lekat kedalam mata lebarnya, berusaha meyakinkan dia untuk menerima versikuµsatu-s atunya versi rasional yang ada. Rahangnya mengeras. Tidak. dia ngotot; suaranya seperti anak k ecil ketika sedang keras kepala. Dagunya terangkat maj Kau ada di se Kau ada disebelah sana. Hal itu membuatku masa

79

Aku berusaha tetap tenang, tidak panik. Jika aku bis a menenangkannya sebentar, mencuri waktu untuk menghi langkan bukti... aku bisa meruntuhkan ceritanya dengan menyalahkan kepalanya yang terluka. Kumohon, Bella, aku berkata dengan suara sungguhsungguh. Mendadak aku ingin dia mempercayai diriku. Sa ngat ingin, bukan hanya karena insiden ini. Hasrat yang konyol. Apa gunanya membuat dia memparcayai aku? Kenapa? dia bertanya, masih ngotot. Percayalah padaku, nti? Membuatku marah harus berbohong lagi padanya, ket ika aku berharap bahwa entah bagaimana aku layak mend apatkan kepercayaan dia. Jadi, saat menjawabnya, nadak u ketus. Baik. Baik. dia mengulangi dengan nada ketus sama. Ketika usaha penyelamatan mulai dilakukanµpara or ang dewasa datang, pihak berwajib ditelepon, suara siren e di kejauhanµaku berusaha mengabaikan gadis itu dan m eletakan hal yang terpenting pada tempatnya. Aku menca ri ke setiap benak di parkiran, para saksi dan orang-oran g yang baru datang, dan tidak menemukan hal yang berba haya. Beberapa ada yang terkejut melihat aku disamping Bella, tapi semuanya terpecahkanµ karena tidak ada lagi kemungkinan pemecahan yang lainµbahwa mereka hanya t idak menyadari aku berdiri di samping gadis itu sebelum nya. Hanya dia yang tidak mau menerima penjelasan yang mudah, tapi dia bukan saksi yang akan dianggap layak. D ia ketakutan, trauma, belum ditambah benturan di kepala nya. Kemungkinan agak syok. Akan lebih mudah untuk m aku memohon. Mau kah kau berjanji akan menjelaskan semuanya na

80

embalikan ceritanya, bukan kah begitu? Tidak akan ada y ang percaya pada cerita seperti itu ketika banyak penont on justru bersaksi sebaliknya... Aku mengernyit ketika menangkap pikiran Rosalie, J asper, dan Emmet, yang baru saja datang. Aku mesti mem bayar mahal nanti malam. Aku ingin meratakan bekas penyok pada mobil cokla t yang terhantam pundakku, tapi dia terlalu dekat. Aku m esti menunggu sampai gadis itu teralihkan. Sangat menjengkelkan harus menungguµbanyak mata menatapkuµsaat orang-orang berusaha menggeser vannya. Aku mungkin saja membantu mereka, agar lebih cepat, ta pi aku sudah cukup terlibat masalah. Lagipula gadis ini matanya tajam. Akhirnya, mereka berhasil menggeser van nya cukup jauh hingga tim medis bisa mendatangi kami d engan tandu. Sesosok pria beruban yang tidak asing mendekatiku. Hey, Edward, Brett Warner menyapa. Dia seorang p erawat. Aku mengenalnya cukup baik dari rumah sakit. I ni suatu keberuntunganµsatu-satunya keberuntungan hari iniµdia yang pertama kali tiba. Dalam pikirannya ia tida k curiga. Apa kau baik-baik saja, kid? Perfect, Brett. Aku tidak kena apa-apa. Tapi seperti nya Bella mengalami gegar otak. Kepalanya terbentur cu kup keras ketika aku mendorongnya... Brett ganti mengarahkan perhatiannya pada si gadis, yang menatapku sengit merasa dikhianati. Oh, iya betul. Dia seorang martir pendiamµdia lebih memilih menderita diam- diam. Dia tidak langsung membantah ceritaku. Itu membua tku lebih rileks. Petugas medis berikutnya memaksa agar aku juga dir awat, tapi tidak sulit menolak mereka. Aku berjanji akan

81

membiarkan ayahku sendiri yang memeriksa, dan dia setu ju. Dengan kebanyakan manusia, bicara dengan nada mey akinkan sudah lebih dari cukup. Buat kebanyakan manusi a, bukan untuk gadis ini. Apa dia cocok dengan satupun ciri-ciri normal? Saat mereka mengenakan penyangga leh er ke diaµdan mukanya langsung merah padam karena mal uµaku menggunakan momen itu untuk diam-diam membetu lkan lekukan di mobil coklat dengan belakang kaki. Hany a saudara-saudaraku yang melihat, dan aku bisa mendeng ar pikiran Emmet berjanji akan membereskan sisanya kal au ada yang terlewat. Aku bersyukur atas bantuannyaµdan lebih bersyukur lagi bahwa Emmet, paling tidak, telah memaafkan piliha n berbahayakuµaku merasa lebih tenang saat naik kedepa n ambulance, disamping Brett. Kepala polisi datang sebelum Bella dinaikan ke amb ulance. Meskipun tidak terucap, kepanikan pikirannya meng alahkan semua pikiran lain disekitarnya. Sangat cemas d an merasa bersalah, gelombang besar perasaan itu membu atnya pilu saat melihat anak perempuan satu-satunya diat as tandu. Rintihan dia sampai padaku, menggema makin dala m. Saat Alice memberi peringatan bahwa membunuh putri Chief Swan juga akan membunuhnya, dia tidak melebih-l ebihkan. Kepalaku tertunduk merasa bersalah. Bella! terluka. Kata-kata Bella tidak terlalu menenangkan ayahnya. Dia bertanya ke petugas medis terdekat menuntut inform asi lebih banyak. Dia berteriak panik. keluhnya. Aku tidak Aku baik-baik saja CharµDad.

82

Baru setelah mendengarnya bicara, mengucapkan sat u kalimat utuh selain panik, aku menyadari bahwa kecem asan dia bukannya tidak terucap. Aku hanya... tidak bisa mendengar ada kata-katanya yang jelas. Hmm. Charlie Swan tidak sependiam putrinya, tapi a ku bisa melihat darimana Bella mendapatkannya. Menarik . Aku belum pernah menghabiskan terlalu banyak wakt u disekitar chief Swan. Aku selalu menganggapnya berpi kiran lambanµbaru sekarang aku sadar bahwa cuma aku y ang menganggap dia lamban. Pikirannya sebagian tersem bunyi, bukannya kosong. Aku cuma bisa menangkap satu nada, sedang sisa harmoni lainnya... Aku ingin mendengar lebih banyak, siapa tahu miste ri kecil baru ini bisa membawaku menemukan kunci rahas ia gadis itu. Tapi sebentar lagi Bella akan dimasukan ke ambulance. Cukup sulit menjauhkan diri dari misteri yang telah membuatku terobsesi. Tapi sekarang ada yang lebih penti ngµuntuk menilai kejadian tadi dari berbagai sudut. Aku mesti mendengarkan, untuk memastikan kami tidak dalam bahaya hingga harus cepat-cepat pergi. Aku harus konsen trasi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pikiran-pik iran yang ada di ambulance. Sejauh yang bisa mereka kat akan, tidak ada luka serius pada gadis ini. Dan Bella ma sih bertahan pada cerita yang kuajukan, sejauh ini. Ketika tiba di rumah sakit, prioritas pertama adalah mencari Carlisle. Aku cepat-cepat menghambur dari pint u depan, tapi aku juga tidak bisa melepas Bella dari pen gawasan; aku mengawasi dia lewat pikiran tim medis.

83

Cukup mudah menemukan pikiran ayahku. Dia ada di dalam kantornya yang kecil, seorang diriµkeberuntungan kedua di hari sial ini. Carlisle. Dia mendengarku mendekat tak sabar, dan segera wa spada begitu melihat wajahku. Dia langsung terlonjak be rdiri. Wajahnya pucat. Dia bertumpu keatas meja kayu w alnut nya yang rapih sambil menatapku nanar. Edwardµkau tidakµ Tidak, tidak, bukan itu. Dia langsung menghela napas lega. Tentu saja. Maaf aku berpikiran yang tidak-tidak. Matamu, tentu saja, aku seharusnya tahu... dia menyadari mataku yang masih kee masan. Dia terluka Carlisle, mungkin tidak serius, tapiµ Apa yang terjadi? Gara-gara mobil bodoh itu. Dia ada di tempat yang s alah pada waktu yang salah. Tapi aku tidak bisa membiar kannyaµmembiarkan mobil itu meremukan diaµ Coba ulangi, aku tidak mengerti. Bagaimana kau ter libat? Sebuah mobil van tergelincir diatas es, aku berbisi k ngeri. Aku menatap dinding di belakangnya saat bicar a. Bukannya menjejali dengan bingkai ijasah, dia mengga ntung satu lukisan cat minyak sederhanaµsalah satu luki san favoritnya, karya seorang pelukis bernama Hassam. Dia tidak jauh di depannya. Alice sempat melihat itu. Ta pi tidak cukup waktu untuk melakukan apapun kecuali la ri melintasi parkiran dan menyelamatkan dia. Tidak ada yang memperhatikan... kecuali dia. Aku juga mesti meng hentikan Van itu, tapi lagi, tidak ada yang melihat...kec uali dia. Aku...aku minta maaf Carlisle. Aku tidak berma ksud membahayakan kita.

84

Dia mengitari meja dan memegang pundakku. Kau melakukan hal yang benar. Dan itu tidak mudah bagimu. Aku bangga padamu Edward. Aku kembali sanggup menatap matanya. a sesuatu...yang salah denganku. Itu tidak penting. Jika kita harus pergi, kita pergi. Apa yang sudah ia katakan ke orang- orang? Aku menggeleng, sedikit frustasi. Belum? Dia menyetujui versi ceritakuµtapi dia mengharapka n penjelasan. dian ini. Kepalanya terbenturµwell, aku yang melakukannya, a ku buru-buru melanjutkan. Aku menjatuhkan dia ke aspal agak keras. Kelihatan nya tidak apa-apa, tapi... jadi tidak cukup untuk mendes kreditkan dia. Aku merasa seperti orang rendahan hanya dengan me ngatakannya. Carlisle mendengar kesan itu pada suaraku. Barangk ali tidak perlu. Kita tunggu saja apa yang terjadi, mari? Sepertinya aku punya pasien yang harus diperiksa. Kumohon, derainya. Ekspresi Carlisle terlihat lebih cerah. Dia merapihk an rambut putihnyaµsedikit lebih terang dari mata emasn yaµdan tertawa. Ini merupakan hari yang menarik bagimu bukan? Dia membatin. Aku bisa melihat ironinya, dan itu menggeliti k, paling tidak bagi dia. Tadi aku berlaku sebaliknya dar i peranku semestinya. Entah kapan, pada sekejapan semb rono tadi, ketika bergerak kilat melintasi parkiran, aku Ujarku. Aku sangat khawatir telah menci Alisnya mengerut, mempertimbangkan keja Belum ada. Dia tahu ad

85

bertransformasi dari seorang pembunuh menjadi penolong . Aku tertawa bersama Carlisle, mengingat aku pernah yakin bahwa Bella tidak akan pernah membutuhkan perlin dungan dari bahaya apapun lebih dari aku. Ada kegetiran pada tawaku karena hal itu masih sepenuhnya betul. Aku menunggu sendirian di kantor Carlisleµmasa pe nantian yang paling lama yang pernah kurasakanµmenden garkan semua pikiran di rumah sakit. Tyler Crowley, si pengemudi van, kelihatannya terlu ka lebih serius. Perhatian perawat beralih ke dia, sement ara Bella menunggu giliran dirontgen. Carlisle tidak tur un tangan, dia mempercayai diagnosa asistennya bahwa s i gadis hanya luka ringan. Itu tidak terlalu membuatku l ega, tapi aku tahu Carlisle benar. Sekali melihat wajahn ya, Bella akan langsung ingat padaku, pada fakta bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan keluargaku. Itu aka n membuatnya cerita kemana-mana. Kini ia punya lawan bicara yang cukup bersemangat. Tyler merasa sangat bersalah, dan tidak bisa berhenti me ngungkapkan penyesalannya. Aku bisa melihat ekspresi B ella melalui mata Tyler. Sangat jelas gadis itu berharap dia berhenti. Bisa-bisanya Tyler tidak melihat hal itu? Kemudian tiba saat yang membuatku tegang. Tyler b ertanya bagaimana ia bisa menyingkir dari jalan. Aku menunggu, tidak bernapas. Ia ragu-ragu. Mmm... aku mendengar dia menggumam. Kemudian d Edward iam cukup lama hingga Tyler menduga pertanyaannya tel ah membuat bingung. Akhirnya ia melanjutkan. menarikku dari jalan. Aku menghela napas. Tapi kemudian napasku membu ru. Aku belum pernah mendengar dia mengucapkan namak u. Aku suka pada cara dia mengucapkannyaµbahkan hany

86

a dengan mendengarnya melalui pikiran Tyler. Aku ingin mendengarnya sendiri... Edward Cullen, dia berkata, ketika Tyler tidak men yadari siapa yang dia maksud. Tiba-tiba aku sudah di de pan pintu, tanganku pada gagang pintu. Hasrat untuk ber temu dengan dia berkembang makin kuat. Aku harus men gingatkan diriku sendiri untuk berhati- hati. Dia berdiri disebelahku. Cullen? bersumpah... Huh, itu aneh. Aku tidak melihat dia. aku Wow, kurasa kejadiannya berlangsung cepa

t sekali. Apa dia baik-baik saja? Sepertinya begitu. Dia ada disini entah dimana, tapi mereka tidak membawa dia dengan tandu. Aku melihat tatapan menimbang pada wajahnya, kec urigaan menggantung di matanya, tapi perubahan kecil p ada ekspresinya tidak dilihat Tyler. Dia cantik, dia sedang berpikir, baru menyadari piki rannya. Bahkan ketika acak- acakan begini. Bukan tipeku , tapi tetap saja... aku harus mengajaknya kencan. Untuk membayar hari ini... Dalam sekejap aku sudah berada di koridor, setenga h jalan menuju UGD, tanpa berpikir apa yang sedang kul akukan. Untungnya, seorang perawat masuk duluanµGilir an Bella untuk dirontgen. Aku bersembunyi di pojokan, b erusaha menguasai diri saat ia didorong dengan kursi rod a. Aku tidak perduli jika menurut Tyler dia cantik. Se mua bisa melihat hal itu. Tidak ada alasan bagiku untuk merasa...bagaiman yang kurasakan? Terganggu? Atau, ma rah kah yang lebih tepat? Tidak masuk akal. Aku diam selama mungkin, tapi ketidaksabaran-ku y ang akhirnya menang. Aku mengambil jalan memutar ke r uang rontgen. Tapi dia sudah dibawa balik lagi ke UGD.

87

Namun aku sempat mencuri lihat hasil rontgennya saat si perawat pergi. Aku jauh lebih tenang. Kepalanya baik-baik saja. A ku tidak melukainya, tidak terlalu. Carlisle memergokik u. Kau kelihatan jauh lebih baik, dia berkomentar. Aku hanya melihat lurus kedepan. Kami tidak sendir ian, koridor penuh dengan perawat dan pengunjung. Ah, iya. Carlisle memasang hasil rontgennya ke ligh tboard, tapi aku tidak perlu melihat dua kali. Kurasa beg itu. Dia baik-baik saja. Kerja bagus, Edward. Nada persetujuan dari ayahku membuat reaksiku cam pur aduk. Aku seharusnya senang, namun aku tahu ia tida k akan setuju dengan apa yang akan kulakukan, paling ti dak jika tahu motivasiku sebenarnya... Kurasa aku akan bicara dengannyaµsebelum dia bert emu dengan mu, akin curiga. aku menggumam dibalik napas. Bersika p normal, seperti tidak terjadi apa-apa. Agar dia tidak m semuanya alasan yang bisa diterima. Ide bagus. Hmm... Carlisle mengangguk-angguk sendirian, masih mema ndangi hasil rontgennya. annya. Coba lihat bekas-bekas memar ini! Berapa kali dulu ibunya menjatuhkan dia? Carlisle tertawa sendiri pada leluconnya. Aku mulai berpikir gadis itu betul-betul punya nasi b sial. Selalu berada di tempat yang salah dan waktu yan g salah. Forks tentunya tempat yang salah bagi dia, dengan k au disini. Aku terdiam Sudah sana. Jangan buat dia curiga. Ak u akan menyusul sebentar lagi. Aku melirik untuk melihat apa yang menarik perhati

88

Aku cepat-cepat pergi, merasa bersalah. Mungkin ak u memang pembohong besar hingga bisa mengelabui Carli sle. Ketika sampai di UGD, Tyler terlihat masih terus m enggumakan peyesalan. Gadis itu berusaha mengabaikann ya dengan pura-pura tidur. Matanya tertutup, tapi napasn ya tidak teratur, dan sesekali jarinya bergerak tidak sab ar. Aku menatap wajahnya lama-lama. Ini terakhir kalin ya aku akan melihat dia. Kenyataan itu memicu rasa nyer i di dadaku. Apa alasannya karena aku tidak suka mening galkan misteri yang tidak terpecahkan? Tapi sepertinya i tu tidak cukup menjelaskan. Akhirnya aku menarik napas dalam-dalam dan mende kat. Ketika Tyler melihatku, ia sudah akan bicara, tapi a ku memberi isyrat agar dia tetap tenang. Apa dia tidur? aku bergumam pelan. Mata Bella tiba-tiba terbuka dan melihat ke arahku. Matanya sesaat melebar, kemudian menyipit dengan tatap an marah dan curiga. Aku ingat punya peran yang harus kumainkan, jadi aku tersenyum seakan tidak ada kejadian apa-apa pagi iniµselain luka di kepalanya dan imajinasin ya yang berlebihan. Hai, Edward, eru. sapa Tyler. Aku sangat menyesalµ Tidak ada darah, tidak s Aku mengangkat tanganku. erlalu lebar pada leluconku. Ternyata mudah mengabaikan Tyler, yang terbaring t idak jauh dariku dengan darah segar pada lukanya. Aku t idak pernah memahami bagaimana Carlisle melakukannya µtidak mengindahkan darah pasiennya selama merawat m

aku berkata masam. Tanpa berpikir, aku tersenyum t

89

ereka. Bukan kah godaan yang terus menerus akan membu at pikiran kacau, sangat bahaya...? Tapi sekarang... Aku bisa mengerti. Jika kau sangat-sangat fokus pada hal lai n, godaan itu jadi tidak ada artinya. Bahkan darah segar Tyler pada kepalanya yang terba lut perban jadi tidak berarti apa- apa dihadapan Bella. Aku menjaga jarak darinya, duduk di ujung tempat t idur Tyler. Jadi, apa kata mereka? aku bertanya padanya. Aku baik-baik saj Bibir bawahnya sedikit mencebik. sa kau tidak ditandu seperti kami? Ketidaksabarannya membuatku tersenyum lagi. Aku bisa mendengar suara Carlisle di koridor. Itu cuma soal siapa yang kau kenal, tai. kanmu. Aku menatap reaksinya baik-baik saat ayahku masu k. Matanya membesar dan mulutnya benar-benar terngang a. Aku mengerang dalam hati. Tentu saja dia melihat ke miripan kami. Jadi, Miss Swan, bagaimana perasanmu? Carlisle be rtanya. Dia punya sikap yang menyejukan disamping keb aikan hatinya. Para pasiennya biasanya langsung merasa tenang. Tapi aku tidak bisa mengatakan bagaimana penga ruhnya pada gadis ini. Aku baik-baik saja, dia berkata pelan. Hasil rontgenmu baik. Apa ke Aku tidak apa-apa, jaw Carlisle menyematkan hasil rontgennya ke lightboar d disamping tempat tidur. palamu sakit? Kata Edward kau terbentur cukup keras. Dia mengeluh, dan berkata, gerling kesal padaku. abnya lagi, kali ini agak tidak sabaran. Kemudian ia men aku berkata san Tapi jangan khawatir, aku datang untuk menyelamat

a. Tapi mereka tidak mengijinkanku pergi. Bagaimana bi

90

Carlisle mendekat dan tangannya meraba ringan kep alanya sampai menemukan benjolan dibawah rambutnya. Aku terkejut dengan gelombang emosi yang tiba-tiba melandaku. Aku telah melihat Carlisle merawat manusia ribuan kali. Bertahun-tahun lalu, aku bahkan membantunyaµmes ki dalam situasi yang tidak melibatkan darah. Jadi bukan hal baru melihat bagaimana dia berinteraksi dengan gadi s itu seakan dia sendiri juga manusia. Aku kadang iri pa da penguasaan dirinya, tapi itu berbeda dengan emosi ya ng kurasakan sekarang. Yang kuiri lebih dari sekedar pe nguasaan dirinya. Aku iri pada pada perbedaan Carlisle dan akuµbahwa ia dapat menyentuh gadis itu dengan lem but, tanpa takut, mengetahui ia tidak akan menyakitinya. .. Bella mengernyit, dan aku mengejang di tempat. Unt uk sesaat aku mesti berkonsentrasi untuk membuat postur tubuhku rileks. Sakit? tanya Carlisle. Tidak juga, Sesaat dagunya tersentak.

Satu lagi kepingan karakter gadis itu terungkap; dia berani. Dia tidak suka menunjukan kelemahannya. Kemungkinan ia adalah mahluk paling rapuh yang pe rnah kutemui, dan ia tidak ingin terlihat lemah. Aku sed ikit terkekeh. Kembali dia mengerling kesal. Well, ujar Carlisle. Ayahmu ada di ruang tungguµk au bisa pulang dengannya sekarang. Tapi kembali lah jik a kau merasa pusing atau penglihatanmu tergganggu. Ayahnya disini? Aku menyapu pikiran-pikiran yang ada di ruang tunggu. Tapi aku tidak bisa menemukan sua ra mentalnya sebelum Bella kembali bicara, wajahnya gel isah.

91

Bolehkah aku kembali ke sekolah? Mungkin kau bisa istirahat dulu hari ini, enyarankan. Matanya kembali menuduhku, pergi ke sekolah? Bersikap normal, jangan mencurigakan...abaikan ras anya saat ia menatap kedalam mataku... Harus ada orang yang menyebarkan kabar baik bahw a kita selamat, kataku. Carlisle mengoreksi, Hampir sebagian Sebetulnya, Carlisle m Apa dia boleh

besar murid ada di ruang tunggu. Kali ini aku sudah mengantisipasi reaksinyaµenggan mendapat perhatian. Dan dia tidak mengecewakan. Oh tidak, gan tangan. Aku senang akhirnya bisa menebaknya dengan betul. Aku mulai bisa memahami dia... Apa kau ingin tetap tinggal disini? Tanya Carlisle. Tidak, tidak! dia buru-buru menolak, mengayunkan kakinya ke samping dan merosot turun ingin berdiri. Dia tersandung kedepan, hilang keseimbangan, lalu jatuh ke pelukan Carlisle. Carlisle menangkapnya kemudian meny eimbangkan dia. Lagi, rasa iri itu melanda diriku. Aku baik-baik saja, a terlihat di pipinya. Tentu saja itu tidak mengganggu Carlisle. Dia mema stikan Bella berdiri seimbang, kemudian melepaskan peg anggannya. Minum Tylenol untuk mengurangi rasa sakitnya, memberitahu. Sakitnya tidak separah itu kok. Carlisle tersenyum saat menandatangani surat ketera ngannya. Kedengarannya kau sangat beruntung. Dia ujarnya cepat. Rona merah mud dia mengerang dan menutup wajahnya den

92

Dia memutar wajahnya pelan untuk menatapku taja m. ku. Oh, baik kalau begitu, Carlisle cepat-cepat mengiya kan, sama mendengar seperti yang kudengar pada suarany a. Dia tidak menganggap kecurigaannya sebagai imajinas i belaka. Belum. Kupasrahkan padamu, Carlisle berkata dalam hati. A tasi dengan cara yang menurutmu paling baik. Terima kasih banyak, aku berbisik, pelan dan cepat. Aku kahwat katanya p Tidak ada manusia yang bisa mendengarku. Bibir Carlisl e bergerak sedikit mendengar gerundelanku. ir kau harus tinggal bersama kami lebih lama, kibatkan goresan pecahan kaca. Well, aku yang cari gara-gara, jadi cukup adil jika aku sendiri yang harus menghadapinya. Mendadak Bella menghampiriku, tidak berhenti hing ga cukup dekat. Membuatku tidak nyaman. Aku ingat tadi sempat berharap ia akan menghampiriku... Ini seperti me mperolok harapanku. Bisa aku bicara denganmu sebentar? daku. Kehangatan napasnya menyapu wajahku dan aku agak terhuyung selangkah. Daya mengundang-selera-nya tidak berkurang sedikitpun. Setiap kali berada di dekatku, dia memicu setiap jengkal instingku yang paling kuno. Liur mengalir di mulutku, dan tubuhku berhasrat untuk menerj angµuntuk merenggut dia dengan tanganku sebelum mema tahkan lehernya dengan satu gigitan. Pikiranku lebih kuat dari tubuhku, tapi hampir saja. Ayahmu menunggumu, ku terkatup rapat. aku mengingatkan dia, rahang dia berbisik pa Beruntung karena Edward kebetulan berdiri disebelah

ada Tyler begitu mulai memeriksa luka- lukanya yang dia

93

Dia memandang sekilas ke Carlisle dan Tyler. Tyler sama sekali tidak memperhatikan, tapi Carlisle mengawa si tiap tarikan napasku. Hati-hati, Edward. Aku ingin bicara denganmu berdua, jika kau tidak k eberatan, dia memaksa setengah berbisik. Aku ingin mengatakan sangat keberatan, tapi aku ta hu aku harus melakukan ini pada akhirnya. Maka sebaikn ya kulakukan saat ini juga. Emosiku campur aduk saat menurutinya keluar ruang an, mendengarkan langkahnya terhuyung-huyung di belak angku, berusaha mengejar. Aku punya pertunjukan yang mesti kupentaskan. Aku tahu peran yang akan kumainkan µkarakterku sebagai tok oh antagonis. Aku akan berbohong, mengejek, dan kejam. Hal itu bertolak belakang dengan setiap dorongan ha tikuµdorongan hati manusia yang selama puluhan tahun i ni kupegang. Aku belum pernah menginginkan untuk laya k dipercaya lebih daripada saat ini, ketika aku harus me nghancurkan setiap kemungkinan itu. Lebih buruk lagi, ini akan menjadi ingatan terakhir dia tentang aku. Ini adalah adegan perpisahan dariku. Aku berbalik ke dia. Kau mau apa sih? aku bertanya dengan suara dingin. Dia terkesiap karena sikap permusuhanku. Matanya berubah penuh tanya, ekspresi yang selama ini menghant uiku... Kau berhutang penjelasan padaku, dia berkata denga n suara pelan; wajah gadingnya memucat. Sangat sulit mempertahankan suaraku agar tetap kas ar. Aku menyelamatkan hidupmu µaku tidak berhutang ap a-apa padamu.

94

Dia tersentak. Seperti terbakar oleh asam mengetahu i perkataanku telah menyakiti dia. Kau sudah janji, kau bicarakan. engan kepalaku. Dia marah sekarang, dan itu jadi lebih mudah. Mata ku bertemu dengan tatapan tajamnya, membuat wajahku m akin garang. Apa yang kau inginkan dariku, Bella? Aku ingin tahu yang sebenarnya. Aku ingin tahu ala san kenapa aku harus berbohong untukmu. Apa yang dia inginkan cukup adilµmembuatku frusta si harus menyangkalnya. Apa menurutmu yang terjadi? m. Kata-katanya kemudian berhamburan cepat. Yang ku tau adalah kau sama sekali tidak ada didekatkuµTyler ju ga tidak melihatmu, jadi jangan katakan kepalaku terben tur terlalu keras. Mobil van itu semestinya telah mengha ncurkan kita berduaµtapi nyatanya tidak, dan tanganmu meninggalkan bekas lekukan di mobil ituµkau juga menin ggalkan bekas yang sama di mobil satunya, dan kau tidak terluka sama sekaliµjuga mobil itu seharusnya menghanc urkan kakiku, tapi kau mengangkatnya... rahang dan matanya berkaca-kaca. Aku menatapnya, ekspresiku mengejek, meskipun ya ng sebenarnya kurasakan adalah kagum; dia melihat semu anya. Kau pikir aku mengangkat van itu dari atas tubuhm u? aku bertanya dengan nada menyindir. Dia mengangguk tegas. Ia mengatupkan aku hampir menggera dia berbisik. Tak ada yang salah d Bella, kepalamu terbentur, kau tidak tahu apa yang Dagunya terangkat.

95

Suaraku makin mengejek. percaya itu, kau tahu.

Tidak akan ada yang akan

Dia berusaha menahan marah. Kemudian ia bicara la mbat penuh pertimbangan pada tiap katanya. kan memberitahu siapa-siapa. Dia bersungguh-sungguhµaku bisa melihat dalam ma tanya. Meski marah dan terkhianati, dia akan menepati j anjinya. Kenapa?! Perasaan syok itu menghancurkan ekspresiku selama setengah detik, lalu aku kembali menguasai diri lagi. Lalu kenapa kau mempermasalahkannya? Ini penting buatku, aku bertan A ya pada dia sambil mempertahankan suaraku tetap tajam. dia menjawab penuh tekanan. ku tidak suka berbohongµjadi sebaiknya ada alasan yang baik kenapa aku melakukannya. Dia memintaku untuk mempercayai dia. Sama seperti aku menginginkan dia percaya padaku. Tapi ini adalah ba tasan yang tidak bisa kulewati. Suaraku tetap dingin. Terima kasih. u. Kau tak akan menyerah, kan? Tidak. Kalau begitu... aku tidak bisa memberitahu dia bah kan jika aku mau...dan aku tidak mau. Lebih baik dia me ngarang-ngarang daripada mengetahui siapa diriku, karen a tidak ada yang lebih buruk dari yang sebenarnyaµaku a dalah mimpi buruk, langsung dari dunia horor. Kuharap kau menikmati kekecewaanmu. Kami saling menatap marah. Namun amarahnya justr u terlihat menggemaskan. Seperti geraman anak kucing, l Tidak bisakah kau berterima kasih saja dan melupakannya? ucapnya. Kemudian ia diam, menungg Aku tidak a

96

embut dan tidak berbahaya, tidak sadar pada kerapuhann ya sendiri. Wajahnya memerah. Ia menggertakan gigi lag i. Dan kenapa kau bahkan perduli? Lagi-lagi pertanyaannya tidak terduga. Aku tidak m enyiapkan jawaban untuk ini. Aku kehilangan pegangan p ada peranku. Topeng diwajahku terlepas, dan kukatakan padanyaµ untuk kali iniµyang sebenarnya. Aku tidak tahu. Aku mengingat wajahnya untuk terakhir kaliµmasih dengan raut marah, darah belum memudar dari pipinyaµd an kemudian aku berbalik meninggalkan dia.

97

4. Penglihatan
Aku kembali ke sekolah. Ini pilihan tepat yang seha rusnya dilakukan, bertindak wajar dan tidak menarik per hatian. Hampir semua murid telah kembali ke kelas juga. Ti nggal Tyler, Bella dan beberapa orangµyang sepertinya menggunakan kesempatan untuk bolosµtetap absen. Harusnya tidak sulit melakukan sesuatu yang benar. Tapi sesiangan ini aku justru harus berjuang keras agar t idak ikutan bolosµhanya karena ingin menemui gadis itu lagi. Seperti penguntit. Penguntit yang terobsesi. Vampir penguntit yang terobsesi. Sekolah jadi mustahil dijalani, jauh lebih membosan kan dari minggu lalu. Seperti koma. Seakan warna-warni pada bata, pepohonan, langit, wajah-wajah disekitarku ja di luntur... Aku cuma memandangi rekahan di tembok. Sebetulnya ada sesuatu yang lain yang juga harus di lakukan...tapi tidak kulakukan. Tentu saja sesuatu itu ju ga bisa dibilang keliru. Tapi tergantung dari sisi mana m elihatnya. Jika dari perspektif anggota keluarga Cullenµbukan sekedar vampire, tapi seorang Cullen, seseorang yang me miliki keluarga, sesuatu yang langka bagi kaum kamiµtin dakan yang paling tepat seharusnya seperti ini: Aku terkejut melihatmu masuk, Edward. Kudengar k au terlibat dalam insiden mengerikan tadi pagi. Iya, Mr. Banner, tapi saya cukup beruntung. yum ramah. Bella dan Tyler juga begitu. Bagaimana keadaan mereka? Tersen Saya tidak terluka sama sekali... saya harap

98

Tyler baik-baik saja...hanya lecet-lecet terkena pec ahan kaca. Tapi saya agak khawatir pada Bella. tkan dahi prihatin. mengeru Dia mengalami gegar otak. Saya deng

ar pikirannya jadi agak kacauµbahkan sempat berhalusin asi. Para dokter sangat cemas... Itu yang seharusnya kulakukan demi keluargaku. Ta pi... Aku terkejut melihatmu masuk, Edward. Kudengar k au terlibat dalam insiden mengerikan tadi pagi. Saya tidak terluka. n. Tanpa senyum. Mr. Banner mengganti tumpuan kakinya tidak nyama Apa kau tahu bagaimana keadaan Tyler Crowley dan B Aku mengangkat bahu. Mr. Banner mendehem, Saya tidak tahu. Mmm,Ya sudah... Tatapan di ella Swan? Katanya mereka terluka...

nginku membuat suaranya tegang. Dia cepat-cepat kembali ke depan kelas dan memulai pelajarannya. Itu perbuatan yang sangat keliru. Hanya saja sangat...sangat tidak ksatria mendiskred itkan gadis itu di belakangnya, terutama ketika ia memb uktikan lebih dapat dipercaya daripada yang kubayangka n. Dia tidak mengkhianatiku dengan melanggar janjinya, meskipun punya cukup alasan untuk itu. Apa aku akan me ngkhianati dia ketika ia tidak melakukan apa-apa selain menjaga rahasiaku? Aku mengalami pembicaraan serupa dengan Mrs. Gof fµhanya saja dalam bahasa Spanyolµdan Emmet memperh atikanku. Aku harap kau punya penjalasan yang baik untuk kej adian hari ini. Rose sudah siap perang. Aku memutar bola mataku tanpa melihat dia. Sebetulnya aku menemukan penjelasan yang sempurn a. Misalkan saja aku tidak mencegah van itu meremukan

99

dia...aku merasa kecut memikirkannya. Tapi seandainya dia dibiarkan, jika dia terluka dan mengeluarkan darah, cairan merah kental berceceran, menggenang di aspal, ba u darah segar menguar pekat di udara... Aku gemetar, tapi bukan cuma karena ngeri. Sebagia n diriku meremang penuh hasrat. Tidak, aku tidak akan s anggup melihat darahnya tanpa mengekspos keluargaku d engan lebih mengerikan. Alasan itu terdengar sempurna...tapi tidak akan kug unakan. Terlalu memalukan. Dan aku tidak berpikir kesit u sampai jauh setelah kejadian. Hati-hati pada Jasper, Emmet melanjutkan, tidak me ngindahkan lamunanku. Dia tidak semarah itu...tapi ia su dah menetapkan niatnya. Aku tahu apa yang ia maksud, dan dalam sekejap rua ngan di sekelilingku tenggelam. Amarahku memuncak sed emikian hebat hingga kabut merah mengaburkan pandanga nku. Aku hampir tersedak kedalamnya. SSSTT, EDWARD! KUASAI DIRIMU! Emmet meneria kiku di kepalanya. Tangannya memegang pundakku, mena hanku tetap duduk sebelum aku terloncat berdiri. Dia jar ang menggunakan seluruh kekuatannyaµsangat jarang dib utuhkan, mengingat ia jauh lebih kuat dari vampir manap un yang pernah kami temuiµtapi ia menggunakan kekuata n penuh sekarang. Dia mencengkram bahuku, bukannya m enekan kebawah. Jika dia menekan kebawah, kursiku aka n hancur berantakan. TENANG! Perintahnya galak. Aku berusaha menenangkan diri, tapi sulit. Amarah terlanjur membara di kepalaku. Jasper tidak akan bertindak sebelum kita bicara. Ka u dalam kesulitan besar.

100

Aku menarik napas panjang. Baru kemudian Emmet melepaskan cengkramannya. Aku mengecek ke sekeliling ruangan. Tapi konforont asi tadi berlangsung sangat singkat dan tanpa suara sehi ngga hanya beberapa orang di belakang Emmet yang men yadarinya. Mereka tidak tahu apa alasannya, dan cuma m engangkat bahu. Keluarga Cullen memang anehµsemua or ang sudah tahu itu. Sialan, Edward, kau berantakan, Emmet menambahka n. Ada nada simpati pada suaranya. Gigit saja aku, aku menggerutu dibalik napas. Kude ngar dia terkekeh pelan. Emmet bukan pendendam, dan aku seharusnya lebih bersyukur pada sikap santainya. Tapi aku melihat niat Ja sper dianggap Emmet cukup masuk akal. Ia sempat memp ertimbangkan kalau mungkin saja itu jalan yang terbaik. Amarahku pelan-pelan kembali mendidih, hampir tid ak terkontrol. Ya, Emmet lebih kuat dariku, tapi ia belu m pernah menang melawanku dalam adu tanding. Dia men uduh aku curang. Tapi mendengar pikiran adalah bagian dariku, sama seperti kekuatan besar yang menjadi bagian dari dia. Dalam pertarungan kami seimbang. Pertarungan? Apa akan kesana pada akhirnya? Apa a ku akan bertarung melawan keluargaku hanya karena seor ang manusia yang tidak terlalu kukenal? Aku mempertimbangkannya sebentar, memikirkan ba gaimana tubuh gadis itu terasa begitu rapuh dalam peluk anku jika dibandingkan dengan kekuatan Jasper, Rose, da n Emmet µyang diluar akal sehat sangat kuat dan cepat, mesin pembunuh alami... Ya, aku akan bertarung demi di a. Melawan keluargaku. Aku gemetar.

101

Tapi tidak adil meninggalkan dia tanpa perlindunga n, padahal aku yang menyebabkannya berada dalam bahay a. Aku tidak bisa menang sendirian. Tidak jika melawa n mereka bertiga. Kira-kira siapa yang berada di pihakku nanti. Carlisle, pastinya. Ia tidak akan melawan siapa-siap a, tapi ia akan menentang rencana Rose dan Jasper. Mun gkin itu cukup. Kita lihat nanti... Esme, aku ragu. Dia tidak akan menentang aku juga, dan dia tidak suka berbeda pendapat dengan Carlisle, tap i ia akan lebih menjaga keluarganya tetap utuh. Prioritas pertamanya mungkin bukan keadilan, melainkan aku. Jika Carlisle adalah roh keluarga kami, maka Esme adalah hat inya. Dia memberi kami seorang pemimpin yang pantasi diikuti; dia membuat kesetiaan itu menjadi perwujudan d ari rasa sayang. Kami semua saling menyayangi µbahkan dibalik kemarahanku pada Jasper dan Rose, dan rencanak u untuk melawan mereka demi menyelamatkan gadis itu, aku tahu aku menyayangi mereka. Alice...aku tidak tahu. Mungkin tergantung apa yang ia lihat. Mungkin dia akan memihak yang menang. Jadi, aku akan melakukan ini tanpa bantuan. Aku bu kan tandingan mereka, tapi tidak akan kubiarkan gadis it u terluka gara-gara aku. Mungkin solusinya dia harus dil arikan... Amarahku sedikit mereda karena humor gelap yang t ahu-tahu terlintas. Aku bisa membayangkan bagaimana re aksi kikuk gadis itu saat aku menculiknya. Tentu saja ak u jarang menebak reaksi dia dengan tepatµtapi apa lagi r eaksinya selain ngeri? Aku belum terlalu yakin bagaimana mengatasi ituµm enculik dia. Aku tidak akan tahan berdekatan terlalu lam

102

a. Barangkali cukup mengantar ke ibunya. Tapi itupun be lum tentu aman baginya. Dan juga bagiku, aku menyadari tiba-tiba. Jika aku tidak sengaja membunuhnya... aku tidak yakin seberapa b esar akan menyakitiku, tapi pasti tidak karuan dan sanga t. Waktu cepat berlalu selama aku mempertimbangkan berbagai kemungkinan: perrtengkaran yang menunggu di rumah, perseteruan dengan keluargaku, lamanya aku haru s pergi setelah itu... Well, aku tidak bisa lagi mengeluh hari-hariku sang at monoton. Gadis itu telah merubah segalanya. Setelah bel, Emmet dan aku berjalan dalam diam me nuju mobil. Dia mengkawatirkan aku sekaligus Rosalie. Dia tahu di pihak mana ia akan memilih jika terjadi pers elisihan, dan itu mengganggunya. Yang lain sudah menunggu di mobil, juga diam. Kam i berlima duduk ditengah kesunyian. Cuma aku yang bisa mendegar teriakan-teriakan. Idiot! Tolol! Dasar orang gila! Brengsek! Egois, ora ng bodoh yang tidak bertanggung jawab! Rosalie terus m enumpahkan makiannya keras-keras. Suara yang lainnya j adi terbenam, tapi kuabaikan sebisanya. Emmet betul tentang Jasper. Dia sangat yakin denga n niatnya. Alice risau, mengkhawatirkan Jasper, membolak bali k kilasan gambar masa depan. Tidak perduli dari arah ma na Jasper mendatangi gadis itu, Alice selalu melihatku m enghalangi Jasper. Menarik... tidak ada Rosalie atau Em met di penglihatannya. Jadi Jasper berencana kerja sendi rian. Itu membuatnya jadi lebih imbang. Jasper adalah yang terbaik, petarung yang paling be rpengalaman diantara kami. Keuntunganku terletak pada

103

kemampuanku mendengar gerakannya sebelum dia melaku kannya. Aku belum pernah bertarung sungguhan melawan Em met atau Jasperµbiasanya hanya bercanda dan bermain-m ain. Aku merasa mual pada pikiran akan mencoba benar-b enar menyakiti Jasper... Tidak, tidak begitu. Hanya menghalangi dia. Cuma i tu. Aku berkonsentrasi pada Alice, mengingat-ingat ber agam variasai serangan Jasper. Kemudian penglihatannya bergeser, bergerak menjauh dari rumah Bella. Aku mence gat Jasper duluan. Hentikan, Edward! Tidak boleh terjadi seperti itu. Aku tidak akan membiarkan. Aku mengacuhkannya. Aku tetap memperhatikan pen glihatannya. Dia mulai mencari lebih jauh kedepan, pada kemung kinan-kemungkinan yang tidak pasti dan masih kabur. Se muanya samar dan berbayang gelap. Selama perjalanan sampai ke rumah, kesunyian itu ti dak berubah. Aku parkir di garasi disamping rumah; Mer cedes Carlisle sudah disitu, disebelah jeep besar Emmet, M3 milik Rose, dan Vanquishku. Aku lega Carlisle sudah pulangµkeheningan ini akan segera meledak, dan aku ing in Carlisle ada ketika itu terjadi. Kami langsung menuju ke ruang makan. Tentu saja ruangan ini tidak pernah digunakan sebag aimana mestinya. Tapi tetap dilengkapi dengan meja mah oni oval panjang beserta kursi-kursinyaµkami sangat teli ti untuk meletakan setiap detail properi pada tempatnya. Carlisle sering menggunakannya sebagai ruang pertemuan . Dalam sebuah kelompok yang memiliki kekuatan super

104

dan kepribadian berbeda, kadang perlu mendiskusikan se suatu hal secara tenang dan beradab. Aku merasa hal itu tidak akan banyak berguna hari i ni. Carlisle duduk di tempat biasanya, di ujung meja se belah timur. Esme di sebelahnya tangan mereka saling be rpegangan diatas meja. Mata Esme menatapku, keemasannya yang dalam men atapku prihatin. Tinggallah. Hanya itu yang dia pikirkan. Aku harap aku bisa bisa tersenyum pada perempuan yang telah menjadi ibuku ini, tapi aku sedang tidak cuku p tenang sekarang. Aku duduk disamping Carlisle. Esme mengulurkan ta ngan satunya untuk menyentuh pundakku. Dia belum terl alu mengerti apa yang terjadi; dia hanya risau padaku. Carlisle lebih peka untuk bisa meraba apa yang seda ng terjadi. Mulutnya terkatup rapat dan keningnya berke rut. Ekspresinya terlihat terlalu tua untuk wajah mudany a. Saat semua duduk, garis demarkasi telah dibuat. Rosalie duduk tepat di seberang Carlisle, di ujung meja satunya. Dia memelototiku, sama sekali tidak melih at ke arah lain. Emmet duduk disampingnya, wajah dan pikirannya m asam. Jasper ragu-ragu, dan kemudian berdiri bersandar pa da tembok di belakang Rosalie. Dia telah mengambil kep utusan, tidak perduli apapun hasil diskusi ini. Gigiku la ngsung terkunci. Alice yang terakhir datang, dan matanya fokus pada hal yang sangat jauhµmasa depan, yang masih terlalu kab ur untuk digunakan. Tanpa terlalu perduli dia duduk disa

105

mping Esme. Dia meremas-remas kepalanya seakan kepal anya sakit. Jasper mengejang gugup dan mempertimbangk an untuk mendekat, tapi dia tetap diam ditempat. Aku mengambil napas panjang. Aku yang harus mem ulai iniµaku harus bicara duluan. Maafkan aku, aku berkata sambil melihat pertama-ta Aku tidak ma ke Rosalie, lalu ke Jasper, dan ke Emmet.

bermaksud membahayakan kalian semua. Itu sangat cerob oh. Aku akan bertanggung jawab penuh atas tindakan geg abahku. Rosalie menatap curiga. nnya? Tidak dengan cara yang kau maksud, menata suaraku tetap tenang dan terkendali. aku berusaha Aku bersedi Apa yang kau maksud deng an 'bertanggung jawab penuh'? Apa kau akan membereska

a untuk pergi saat ini juga, jika itu bisa mempebaiki kea daan. Jika aku percaya gadis itu akan aman, jika aku per caya tidak satupun dari kalian akan menyentuhnya, aku mengultimatum dalam kepalaku. Tidak, Esme berbisik. Tidak, Edward. Hanya beberapa tahun. Kau tidak bisa ke Aku menepuk tangannya. Esme ada benarnya,

ujar Emmet.

mana-mana sekarang. Itu adalah kebalikannya dari memb antu. Kita harus tahu apa yang dipikirkan orang-orang. Kita lebih membutuhkan hal itu sekarang daripada sebelu mnya. Alice akan mengetahui apapun yang penting. ak sependapat. Carlisle menggeleng. Aku rasa Emmet benar, Edwar d. Gadis itu akan lebih berniat bicara jika kau menghila ng. Kita semuanya pergi, atau tidak satupun. aku tid

106

Dia tidak akan bicara. erucap duluan.

aku buru-buru menyanggah.

Rose sedang siap-siap meledak, dan aku ingin fakta ini t Kau tidak tahu isi pikirannya, n aku. Yang sebatas ini aku tahu. Alice, dukung aku. Alice menatap letih. Rose dan Jasper. Tidak, dia tidak bisa melihat masa depan ituµtidak ketika Rosalie dan Jasper telah menetapkan pilihannya u ntuk bertindak. Brak! Rosalie menggebrak meja keras-keras. Kita ti dak boleh memberi kesempatan pada manusia untuk buka mulut. Carlisle, kau harus melihatnya seperti itu. Bahka n jika diputuskan semuanya pergi, tidak aman meninggal kan cerita dibelakang kita. Kita hidup dengan cara yang sangat berbeda dari kaum kita yang lainnyaµkau tahu ada kelompok- kelompok yang dengan senang hati akan meng hukum kita. Kita harus lebih berhati-hati dibanding yang lainnya! Kita pernah meninggalkan rumor dibelakang kita seb elum ini, aku mengingatkan dia. Hanya rumor dan kecurigaan, Edward. Bukan saksi mata dan bukti! Itu bukti! aku mencibir. Tapi Jasper mengangguk, matanya keras. Roseµ Carlisle mulai. Biar kuselesaikan, Carlisle. Kita tidak perlu repot-r epot. Gadis itu terbentur kepalanya hari ini. Jadi mungki n lukanya jauh lebih serius dari kelihatannya. engangkat bahu. Rosalie m Setiap manusia pergi tidur dengan kemu Aku tidak bisa melihat apa yan Dia melirik ke g akan terjadi jika kita mengabaikan ini. Carlisle mengingatka

ngkinan tidak akan pernah bangun lagi. Kelompok lain b

107

erharap kita membereskan sendiri masalah kita. Secara t eknis, itu jadi tugas Edward, tapi dia tidak akan sanggup . Kau tahu aku cukup bisa mengontrol diri. Aku tidak ak an meninggalkan bukti. Ya, Rosalie, kita semua tahu bagaimana mahirnya ka u sebagai pembunuh, Edward, tolong, aku menggeram. Carlisle berusaha melerai. Kemudia Dia balas mendesis marah. n ia menoleh ke Rosalie. Rosalie, aku mengabaikan tindakanmu di Rochester karena aku merasa kau berhak dengan keadilanmu. Orang -orang yang kau bunuh telah berbuat keji padamu. Tapi i ni lain. Bella Swan tidak bersalah. Ini bukan masalah pribadi, Carlisle, a lewat sela giginya. Rosalie berkat Ini untuk melindungi kita semua.

Ada keheningan singkat saat Carlisle menimbang ke putusannya. Saat ia mengangguk, mata Rosalie menyala n yalang. Rosalie seharusnya sudah bisa mengira. Bahkan j ika aku tidak mampu membaca pikiran Carlisle, aku tetap bisa menebak sikapnya. Carlisle tidak pernah kompromi. Aku tahu maksudmu baik, Rosalie, tapi...aku sangat ingin keluargaku tetap layak untuk dilindungi. Dalam ke jadian tertentu...saat tidak sengaja atau karena lepas ko ntrol, adalah bagian yang dapat dimaklumi dari diri kita. Itulah kebiasaannya untuk memasukan dirinya dalam kont eks jamak, meskipun dia sendiri tidak pernah lepas kontr ol. Untuk membunuh anak tak berdosa dengan darah ding in adalah sesuatu yang lain. Aku percaya pada resiko ya ng ia akibatkan, terlepas ia akan bicara atau tidak, tetap i hal itu tidak sebanding dengan resiko yang lebih besar. Jika kita membuat pengecualian untuk melindungi diri, k ita membahayakan sesuatu yang jauh lebih penting. Kita beresiko kehilangan jati diri kita.

108

Aku mengontrol ekspresiku hati-hati. Tidak ada gun anya menyeringai. Atau bertepuk tangan, seperti yang se betulnya aku inginkan. Rosalie memberengut. an dengan lembut. Itu cuma bertanggung jawab. Carlisle membenark Itu namanya tidak berperasaan,

Setiap kehidupan itu berharga. Semua akan baik-baik saja, Rose,D Carlisle melanjutkan, Apakah kita

Rosalie mendesah panjang dan cemberut. Emmet me mbelai punggungnya. Pertanyaannya, akan pindah? Jangan, Rosalie mengerang. Kita baru saja meneta Car p. Aku tidak mau mengulang sekolah lagi! Kau masih bisa memakai usiamu yang sekarang, lisle memberi saran. Dan harus pindah lagi secepat itu? Carlisle mengangkat bahu. Aku suka disini! Sangat jarang ada matahari, kita h ampir bisa hidup normal. Well, kita tidak harus memutuskan itu sekarang. Kit a bisa menunggu sambil melihat jika itu diperlukan. Edw ard kelihatannya cukup yakin gadis itu tidak akan bicar a. Rosalie mendengus. Tapi aku tidak lagi khawatir pada Rose. Tidak perdu li bagaimana marahnya ia padaku, ia bisa menerima kepu tusan Carlisle. Pembicaraan mereka telah beranjak ke ha l sepele. Namun Jasper tetap tidak bergerak. Aku mengerti alasannya. Sebelum dia bertemu Alic e, dia hidup di medan perang, panggung tanpa belas kasi han. Dia tahu konsekuensi dari melanggar aturan kaum k Dia menimpali. ia menyemangati dengan suara pelan.

109

amiµdia pernah melihat sendiri hasil akhirnya yang meng erikan. Sejak tadi ia tidak mencoba menenangkan Rosalie de ngan kelebihannya, tapi juga tidak membuat Rosalie tam bah gusar. Sejak awal ia menyisihkan dirinya dari diskus i iniµsama sekali mengabaikan. Jasper, kataku. Kami bertemu pandang, ekspresinya datar. Dia tidak akan membayar atas kesalahanku. Aku tida k akan membiarkan itu. Berarti dia mengambil keuntungan dari situ? Seharu snya dia tadi mati, Edward. Aku hanya meluruskannya. Aku mengulangi kata-kataku, memberi tekanan pada tiap katanya. Aku tidak akan membiarkan hal itu. Dia agak terkejut. Dia tidak mengharapkan iniµdia t idak membayangkan aku akan bertindak menghentikan dia . Dia menggeleng satu kali. Aku tidak akan membiark an Alice dalam bahaya, bahkan bahaya kecil. Kau tidak merasakan ke siapapun seperti yang kurasakan pada dia, Edward. Dan kau tidak pernah melalui hidup seperti yang pernah kulalui, tak perduli kau bisa melihat ingatanku at au tidak. Kau tidak mengerti. Aku tidak memperdebatkan hal itu, Jasper. Tapi biar kuberitahu sekali lagi, aku tidak akan membiarkan kau m enyakiti Bella Swan. Kami saling menatapµtidak mendelik, tapi saling me nilai. Aku merasakan dia menyerap mood disekelilingku, mengecek kesungguhanku. Jazz, Alice memotong. Tidak usah repot-repot mengatakan kau Dia mempertahankan tatapannya sebentar, kemudian beralih ke Alice.

110

bisa menjaga diri, Alice. Aku sudah tahu itu. Tapi aku t etap perlu µ Bukan itu yang ingin aku katakan, Aku ingin minta tolong padamu. Alice menyela. Aku melihat pikiran Ali

ce, dan mulutku terlongo. Aku menatap dia, syok. Samarsamar aku menyadari, semua mataµselain Alice dan Jaspe rµkini beralih menatapku cemas. Aku tahu kau mencintaiku. terima kasih. Tapi aku a kan sangat menghargai jika kau tidak membunuh Bella. P ertama, Edward sangat serius dan aku tidak ingin kalian bertarung. Kedua, Bella temanku. Paling tidak dia akan menjadi temanku. Gambaran itu sejernih kaca di kepalanya: Alice, ter senyum, dengan tangan putih- dinginnya merangkul pund ak rapuh-hangat gadis itu. Dan Bella juga tersenyum, tan gannya merangkul pinggang Alice. Penglihatannya sangat jelas; hanya waktunya yang ti dak pasti. Tapi...Alice... Jasper tergagap. Aku tidak sanggup menoleh untuk melihat ekspresinya. Aku tidak sanggup m emalingkan perhatianku dari gambaran dalam kepala Alic e. Suatu saat aku akan menyayangi dia, Jazz. Aku akan kesal padamu jika kau tidak membiarkan dia. Aku masih terpatri pada pikiran Alice. Aku melihat penglihatan itu berkelip-kelip saat keputusan Jasper bim bang dihadapan permintaannya yang tidak terduga. Ah, dia mendesahµkebimbangan Jasper membuat pan Kau lihat? Bella tidak a dangan baru muncul lebih jelas.

kan bicara. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Dari caranya menyebut nama gadis itu...seakan mere ka berdua telah menjadi sahabat dekat... Alice, aku tersedeak. Apa...ini...?

111

Aku kan sudah bilang sesuatu ada yang berubah. Ak u tidak tahu Edward. tapi kemudian tiba-tiba rahangnya terkunci, dan aku bisa melihat ada sesuatu yang lain. Di a berusaha tidak memikiran hal itu; dia tiba-tiba fokus s angat keras pada Jasper, meskipun Jasper sedang terlalu kaget untuk membuat keputusan lain. Alice biasanya melakukan ini jika ingin menyembun yikan sesuatu dariku. Apa, Alice? Apa yang kau sembunyikan? Aku mendengar Emmet menggerutu. Dia selalu frust asi saat Alice dan aku bicara seperti ini. Dia menggelengkan kepalanya, berusaha tidak memb iarkan aku masuk. Apa tentang gadis itu? Bella? Dia menggertakan giginya berkonsentrasi, tapi saat aku menyebut nama Bella, pegangannya terlepas sebentar . Hanya sepersekian detik, tapi itu lebih dari cukup. TIDAK! Edward! Aku berteriak. Kursiku terbanting ke lantai Carlisle ikut berdiri, tangannya di pundakk Alice membisik. Tiap menit kau m , dan aku terlonjak berdiri. u. Aku hampir tidak menyadari keberadaannya. Itu makin nyata, akin yakin. Tinggal ada dua jalan bagi dia. Yang satu at au yang lainnya, Edward. Aku bisa melihat apa yang dia lihat... tapi aku tidak bisa menerima hal itu. Tidak, kataku lagi; tidak ada keyakinan pada penya ngkalanku. Kakiku lemas. Aku berpegangan pada meja. Akankah seseorang memberitahu apa yang sedang ter jadi? Protes Emmet. Aku harus pergi, kan Emmet. Aku berbisik pada Alice, mengabai aku menuntut. Apa tentang

112

Edward, kita sudah membahas itu, ras-keras.

Emmet berkata ke

Itu justru akan membuat gadis itu bicara. Lag

ipula, jika kau pergi, kita tidak akan tahu secara pasti a pa dia bicara atau tidak. Kau harus tinggal dan mengatas i hal ini. Aku tidak melihat kau pergi, Edward, . Alice member itahu. Aku tidak tahu apa kau akan pernah sanggup pergi coba pikirkan, dia menambahkan dalam hati. Bayangka Aku bisa melihat apa yang dia maksud. Ya, bayanga n tidak akan pernah melihat gadis itu lagi akan...menyak itkan. Tapi itu juga penting. Aku tidak bisa menyetujui pilihan lainnya. Aku tidak sepenuhnya yakin dengan Jasp er, Edward, Alice melanjutkan. Jika kau pergi, jika Jasp er pikir dia membahayakan kita... Aku tidak mendengar itu, aku menyanggah, masih se tengah sadar dengan kehadiran yang lain. Jasper ragu-ra gu. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang akan menyaki ti Alice. Tidak saat ini. Apa kau akan mempertaruhkan hidup nya, meninggalkan dia sendirian? Kenapa kau melakukan ini padaku? Kepalaku jatuh ke tangan. Aku bukan pelindung Bella. Tidak mungkin begitu. Apa penglihatan Alice bisa menjamin itu? Aku juga mencintai dia. Akan. Itu mungkin tidak sa ma, tapi aku juga ingin dia bersamaku. Mencintai dia, juga? bisikku tidak percaya. Dia mendesah. Kau benar-benar buta, Edward. Apa k au tidak bisa melihat kemana tujuanmu? Apa kau tidak bi sa melihat dimana kau sekarang? Hal itu lebih tidak tere lakan daripada matahari terbit dari timur. Lihat apa yan g kulihat... Aku mengerang. n kau pergi.

113

Aku menggeleng-geleng ngeri.

Tidak.

aku berusaha Aku tida

mengusir penglihatan yang ia coba perlihatkan. erubah nya. Kau bisa mencobanya, Oh, ayo lah! Perhatikan,

k harus mengikuti jalan itu. Aku akan pergi. Aku akan m ujar dia dengan nada skeptis. Alice melihat d dia mem

Emmet mengeluh. Rose berbisik padanya.

ia jatuh cinta pada manusia! Itu sangat Edward! buat suara tersumbat. Aku jarang mendengar dia begitu. Apa?

Emmet terkejut. Kemudian tawanya pecah.

Ap

a itu yang sedang terjadi? dia tertawa lagi. ebat, Edward.

Keputusan h

Aku merasakan tangannya di pundakku, dan aku men episnya masih dengan kepala kosong. Aku sama sekali ti dak memperhatikan dia. Jatuh cinta pada manusia? suara terkesima. Jatuh cinta padanya? Apa yang kau lihat, Alice? Tepatnya, ut. Alice menoleh ke dia; aku tetap menatap kosong ke sisi wajahnya. Semuanya tergantung apa dia cukup kuat atau tidak. Apakah ia akan membunuhnya sendiri, µAlice ganti mend elik padakuµ yang akan membuatku benar-benar marah, E dward, belum lagi bagaimana dampaknya bagimuµ dia me nghadap ke Jasper lagi, atau, dia akan menjadi salah sat u dari kita suatu saat nanti. Seseorang menarik napas syok; aku tidak mencari si apa orangnya. Itu tidak akan terjadi! duanya! aku berteriak lagi. Tidak ke Jasper menunt Esme mengulangi dengan Pada gadis yang ia selamatkan hari ini?

114

Alice kelihatannya tidak mendengar. Tidak satupun yang kelihatannya mendengar. Seisi ruangan sunyi. Aku menatap Alice, dan semua menatap ke arahku. A ku bisa melihat ekspresi ngeri pada wajahku dari lima su dut berbeda. Setelah beberapa lama, Carlisle mendesah. Well, ini...jadi rumit. Betul itu, Emmet sependapat. Suaranya masih hampi r tertawa. Aku percaya Emmet telah menemukan lelucon dari kehancuran hidupku. Aku rasa rencananya akan tetap sama, ata penuh pertimbangan. ti gadis itu. Aku membeku. Tidak ada, Tidak! Jasper berkata pelan. Aku setuju dengan hal itu. Jika Alice melihat hanya ada dua jalanµ suaraku bukan berupa teriakan, atau geraman Tidak! , atau raung putus-asa, tapi gabungan ketiganya. Carlisle berk Kita akan tinggal, dan menungg

u. Tampaknya sudah jelas, tidak akan ada yang...menyaki

Aku harus pergi, lari dari keributan pikiran mereka µkemuakan Rosalie, lelucon Emmet, kesabaran tanpa bata s Carlisle... Yang lebih parah: keyakinan Alice. Keyakinan Jaspe r terhadap keyakinan itu. Dan yang paling parah: Esme... bahagia. Aku menghambur keluar ruangan. Esme menyentuh le nganku saat aku lewat, tapi aku tidak menyadari hal itu. Aku sudah lebih dulu berlari sebelum keluar dari ru mah. Aku mencapai sungai dengan satu loncatan, dan lan gsung berpacu menembus hutan. Hujan mulai turun lagi, turun sangat deras hingga aku basah kuyup dalam sekeja p. Aku menyukai kepekatan lapisan air iniµ membentuk t

115

embok pembatas antara diriku dengan dunia luar. Menye mbunyikan diriku, membiarkan aku seorang diri. Aku terus berlari kearah timur, melintasi pegununga n tanpa mengurangi kecepatan, sampai aku melihat cahay a lampu kota Seattle di kejauhan. Aku berhenti sebelum sampai ke batas peradaban manusia. Tersembunyi di balik hujan, seorang diri, akhirnya aku bisa memaksa diriku untuk melihat apa yang telah ku perbuatµbagaimana aku telah memutilasi masa depannya. Pertama, penglihatan Alice dan gadis itu saling mer angkulµkepercayaan dan persahabatan tergambar dengan jelas pada gambar itu. Mata coklat-lebar Bella tidak lagi bertanya-tanya dalam dalam penglihatan ini, tapi tetap p enuh rahasiaµpada saat ini, mereka kelihatan bahagia. Di a tidak menjauhkan diri dari tangan dingin Alice. Apa itu artinya? Seberapa banyak yang ia tahu? Dal am momen di masa depan itu, apa yang ia pikir tentang a ku? Kemudian gambaran lagi, kurang lebih sama, namun kini dalam corak horor. Alice dan Bella, tangan mereka masih saling merangkul bersahabat. Tapi kini tidak ada p erbedaan diantara tangan merekaµkeduanya putih, sehalu s pualam, sekeras baja. Mata lebar Bella tidak lagi cokla t. Iris matanya secara mengejutkan merah terang. Keraha siaan dalam matanya sangat sulit diuraiµmenerima atau s edih? Mustahil untuk ditebak. Wajahnya dingin dan abad i. Aku gemetar. Aku tidak dapat menahan pertanyaan y ang mirip tapi berbeda ini: apa itu artinya? Dan apa yan g dia pikir tentang aku saat ini? Aku bisa menjawab pertanyaan yang terakhir. Jika a ku memaksa dia menjalani setengah-hidup hampa ini kare

116

na kelemahan dan keegoisanku, sudah pasti ia akan memb enciku. Tapi ada satu lagi gambar yang jauh lebih mengerik anµlebih buruk dari apapun yang pernah ada di kepalaku. Kedua mataku, berwarna merah terang karena darah manusia, mata seorang monster. Tubuh rusak Bella dalam pelukanku, sepucat kapas, kering, tak bernyawa. Itu sang at kongkrit, sangat jelas. Aku tidak tahan melihatnya. Tidak mampu menanggu ngnya. Aku coba mengusirnya dari benakku, mencoba mel ihat ke hal lain, apa saja. Mencoba melihat lagi ekspresi pada wajah hidupnya yang sebelum ini telah menghalangi pandanganku. Semua tetap tidak ada gunanya. Penglihatan kelam Alice memenuhi kepalaku, dan pe rasaanku menggeliat menderita. Sementara itu, monster d alam diriku meluap gembira, bersorak girang pada kemun gkinan kesuksesannya. Hal itu membuatku muak. Ini tidak boleh dibiarkan. Pasti ada jalan untuk men gelakan masa depan itu. Aku tidak akan membiarkan pen glihatan Alice mengarahkan aku. Aku bisa memilih jalan yang berbeda. Selalu ada pilihan. Harus ada.

117

5. Undangan
Sekolah. Bukan lagi penyiksaan, sekarang murni ner aka. Penyiksaan dan api...ya, aku memperoleh keduanya. Sekarang aku melakukan segalanya dengan benar. Se muanya sempurna. Tidak ada yang bisa mengeluh aku mel alaikan tanggung jawabku. Untuk menyenangkan Esme dan melindungi lainnya, aku tetap tinggal di Forks. Aku kembali pada keseharian ku. Aku berburu tidak lebih sering dari yang lain. Setiap hari masuk sekolah dan pura-pura menjadi manusia. Setia p hari mendengarkan jika muncul gosip baru tentang kelu arga Cullenµtidak pernah ada yang baru. Gadis itu tidak pernah membicarakan kecurigaannya. Dia hanya mengula ng-ulang cerita yang samaµaku berdiri disampingnya dan kemudian menarik diaµsampai para penanyanya bosan da n berhenti bertanya-tanya. Tidak ada bahaya. Tindakan g egabahku tidak menyakiti siapapun. Kecuali aku sendiri. Aku bertekad untuk mengubah masa depan. Bukan tu gas mudah, tapi pilihan lainnya tidak bisa kuterima. Menurut Alice aku tidak akan sanggup menjauh dari gadis itu. Akan kubuktikan dia salah. Kupikir hari pertama akan menjadi yang paling sulit . Pada penghujung hari aku menyadari itu salah. Miris rasanya akan melukai perasaan gadis itu. Aku menghibur diri dengan memikirkan rasa sakit dia tidak l ebih dari sekedar cubitanµcuma penolakan kecilµdibandi ng rasa sakitku. Bella adalah manusia. Ia tahu aku sesua tu yang lain Sesuatu yang salah. Sesuatu yang mengerika n. Ia akan merasa lega daripada terluka kalau aku menga baikan dia dan menganggapnya tidak ada.

118

Halo, Edward,

dia menyapaku pada hari pertama pel

ajaran biologi. Suaranya ramah, berbeda seratus delapan puluh derajat dari terakhir kali kami bicara. Mengapa? Apa arti dari perubahan ini? Apa dia melu pakannya? Memutuskan itu semua cuma imajinasinya? Mu ngkinkah ia memaafkan aku karena tidak menepati janjik u? Pertanyaan-pertanyaan itu membakar tenggorokanku seperti dahaga. Mungkin satu kali saja melihat kedalam matanya. Cu ma untuk melihat siapa tahu bisa menemukan jawabannya disana... Tidak. Bahkan itu tidak boleh. Tidak jika aku ingin mengubah masa depan. Aku menggeser daguku seinci ke arahnya tanpa berp aling dari depan kelas. Aku mengangguk sekali, kemudia n kembali memandang lurus kedepan. Dia tidak bicara lagi padaku. Sorenya, usai sekolah, aku langsung berlari ke Seatt le seperti yang kulakukan kemarin. Keperihanku sedikit lebih baik saat sedang terbang diatas tanah, mengubah se kelilingku menjadi bayangan hijau kabur. Berlari seperti ini sekarang menjadi kebiasaan haria n. Apa aku mencintai dia? Aku rasa tidak. Belum. Baga imanapun juga penglihatan Alice terus mengangguku. Ak u bisa melihat betapa mudahnya untuk jatuh cinta pada B ella. Itu sama persis seperti jatuh: tanpa daya. Berjuang untuk tidak mencintai dia justru kebalikannya dari jatuh µseperti mengangkat tubuhku naik ke puncak terjal, seje ngkal demi sejengkal, begitu meletihkan seakan cuma ke kuatan manusia yang kupunya.

119

Lebih dari satu bulan telah lewat. Dan setiap hari j ustru makin sulit. Ini tidak masuk akal. Aku selalu menu nggu kapan bisa melaluinya, untuk bisa berjalan lebih m udah. Tapi itu tidak kunjung terjadi. Mungkin ini yang d imaksud Alice ketika mengatakan aku tidak akan sanggup menjauh dari gadis itu. Dia sudah melihat akumulasi sak itku, dan bukannya berkurang. Tapi aku bisa menahan sa kit. Aku tidak akan menghancurkan masa depan Bella. Ji ka ditakdirkan mencintai dia, bukankah menghindari dia adalah hal minimal yang bisa kulakukan? Tapi menghindari dia adalah batasan yang mampu ku tanggung. Aku bisa berlagak mengabaikan dia, tidak pern ah melihat ke arahnya. Aku bisa berlagak dia tidak mena rik perhatianku. Tapi hanya sebatas itu, hanya berlagak, bukan yang sebenarnya. Aku selalu memperhatikan setiap tarikan napasnya, setiap kata yang ia ucap. Aku membagi penyiksaanku me njadi empat kategori. Dua yang pertama sudah tidak asing. Aroma dan kes unyian-mental dia. Atau, bisa dibilangµuntuk meletakan tanggung jawab pada diriku, seperti yang semestinyaµras a haus dan penasaranku. Yang pertama adalah yang paling pokok. Aku tidak pernah bernapas selama pelajaran biologi. Tentu saja ada pengecualianµsaat harus menjawab pertanyaan, atau sesu atu yang seperti itu, aku butuh mengambil napas untuk b icara. Setiap kali, efeknya sama seperti hari pertamaµter bakar, haus, dan kebengisan yang ingin meloncat keluar. Pada saat seperti itu sangat sulit untuk berpikiran wara s. Dan, sama seperti di hari pertama, monster dalam diri ku sudah siap dengan giginya, begitu dekat dengan perm ukaan...

120

Sedang penasaran adalah yang paling konstan dari p enyiksaanku. Pertanyaan ini terus mengahantui: Apa yan g sedang ia pikirkan sekarang? Saat kudengar dia mendes ah pelan. Saat tanpa sadar memilin rambutnya. Saat menj atuhkan bukunya lebih keras dari biasanya. Saat terburuburu masuk kelas terlambat. Saat mengetuk-ngetukan kak inya tidak sabaran ke lantai. Tiap gerakan yang tertangkap ujung mataku adalah misteri yang menjengkelkan. Ketika ia bicara ke murid l ain, aku menganalisa tiap kata dan intonasinya. Apa dia mengutarakan pikirannya, atau sekedar mengatakan yang sebaiknya dikatakan? Kedengarannya ia lebih sering men gutarakan apa yang diharapkan lawan bicaranya. Ini men gingatkan aku pada keluargaku dan keseharaian palsu ka miµkami melakukannya jauh lebih baik dari dia. Kecuali kalau penangkapanku itu salah, dan hanya bayanganku sa ja. Kenapa juga dia harus pura-pura? Dia bagian dari me rekaµmanusia remaja. Mike Newton secara mengejutkan masuk dalam bagia n penyiksaanku. Siapa sangka manusia-kebanyakan yang membosankan seperti dia bisa jadi sangat mengesalkan? Kalau mau adil, aku seharusnya berterima kasih pada boc ah itu. Dia membuat gadis itu terus bicara. Aku banyak b elajar tentang dia dari situµaku masih terus melengkapi daftarku. Tapi sebaliknya, bantuan Mike justru membuat ku makin jengkel. Aku tidak ingin Mike menjadi orang y ang memecahkan rahasia gadis itu. Aku yang ingin melak ukannya. Untung Mike tidak pernah menyadari pertanda kecil yang kadang muncul pada bahasa tubuhnya. Dia membent uk sosok Bella yang tidak nyataµseorang perempuan seu mum dirinya. Dia tidak memperhatikan ketidak-egoisan d an keberanian yang membedakan Bella dari manusia lain.

121

Dia tidak mendengar kedewasaan-abnormal pikirannya sa at ia bicara. Dia tidak menyadari ketika Bella membicara kan ibunya, dia kedengaran lebih seperti orang tua memb icarakan anaknya daripada sebaliknyaµpenuh sayang, mur ah hati, kagum, dan cenderung protektif. Bocah itu tidak mendengar kesabaran pada suaranya ketika ia pura-pura t ertarik pada segala macam ceritanya, dan tidak menilai k ebaikan hati dibalik kesabarannya itu. Dari percakapan gadis itu dengan Mike, aku berhasil menambahkan satu sifat yang paling penting kedalam daf tarku, yang paling menonjol, sangat sederhana namun jar ang kujumpai: Bella orang baik. Sifat yang lainnya cuma penjabaran dari ituµbaik hati, tidak cari perhatian, tidak egois, penyayang, dan beraniµdia benar-benar orang baik . Bagaimanapun juga penemuan bermanfaat ini tidak melunakan sikapku pada si bocah. Sikap posesifnya terha dap Bellaµseolah Bella akan jadi miliknyaµmemancing k emarahanku, hampir sebesar yang diakibatkan segala fant asinya tentang Bella. Seiring berjalannya waktu ia juga l ebih percaya diri. Karena tampaknya Bella lebih memilih dia ketimbang cowok lain yang ia anggap sainganµTyler Crowley, Eric Yorkie, dan bahkan, kadang-kadang, dirik u. Secara rutin ia selalu duduk di sisi mejanya sebelu m kelas dimulai, mengajaknya ngobrol, tersemengati mel ihat senyumannya. Hanya senyum sopan, aku mengatakan pada diriku sendiri. Tiap kali aku selalu menghibur diri dengan membayangkan menapuk wajahnya hingga terlemp ar ke tembok... itu tidak akan terlalu fatal... Mike jarang menganggapku sebagai saingan. Setelah insiden waktu itu, dia sempat khawatir Bella dan aku jad i lebih dekat, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sebelu

122

mnya dia selalu terganggu dengan tatapanku yang selalu tertuju pada Bella. Tapi kini aku sama mengabaikannya s eperti yang lain, dan itu membuat Mike puas. Apa yang sedang ia pikirkan? Apa dia menyukai per hatian Mike? Dan, akhirnya, hal terakhir dari siksaanku, yang pal ing menyakitkan: sikap acuh Bella. Sama seperti aku me ngacuhkan dia, dia mengacuhkan aku. Dia tidak pernah m engajakku bicara lagi. Yang bisa kuketahui, dia tidak pe rnah memikirkan aku sama sekali. Ini bisa membuatku gilaµatau bahkan mematahkan te kadku untuk merubah masa depan. Kecuali kadang ia men atapku dengan tatapan yang sama seperti dulu. Aku tidak melihatnya sendiri. Aku melarang diriku untuk melihat k e dia. Tapi Alice selalu memberi peringatan ketika ia ak an menoleh ke arah kami; yang lain masih khawatir pada gadis itu. Itu sedikit mengurangi rasa sakit, mengetahui kadan g ia memandangiku dari jauh. Tentu saja, bisa jadi dia c uma sedang mengira-ngira mahluk mengerikan apa aku in i. Bella sebentar lagi akan melihat ke Edward. Bersika p wajar, kata Alice pada suatu selasa di bulan Maret. Se mua segera membuat gerak-gerik kecil dan mengganti tu mpuan layaknya manusia; tidak bergerak sama sekaliµbek uµadalah ciri kaum kami. Aku menghitung seberapa sering dia melihat ke arah ku. Itu membuatku senang, meskipun seharusnya tidak, b ahwa frekuensinya tidak berkurang sama sekali. Aku tida k tahu apa artinya, tapi membuatku merasa jauh lebih ba ik. Alice mendesah. Aku harap...

123

Jangan ikut campur, Alice, . Itu tidak akan terjadi.

tukasku dari balik napas

Dia cemberut. Alice sangat penasaran ingin mewuju dkan mimpi-persahabatannya dengan Bella. Dalam cara y ang aneh, dia merindukan perempuan yang tidak ia kenal. Aku akui, kau lebih baik dari yang kukira. Kau mem buat masa depan itu menjadi kabur dan kacau lagi. Semo ga kau senang. Itu sangat masuk akal buatku. Dia mendengus. Aku berusaha membuatnya diam. Aku sedang tidak i ngin ngobrol. Moodku sedang jelekµlebih tegang dari ya ng mereka lihat. Hanya Jasper yang menyadari. Dia mem baca luapan pancaran stres dariku dengan kemampuan uni knya, yang bisa merasa dan mempengaruhi mood orang la in. Namun dia tidak mengerti alasan dibalik mood itu, da nµ karena setiap hari moodku memang selalu burukµdia mengabaikannya. Hari ini akan sulit. Lebih sulit dari kemarin. Selalu begitu polanya. Mike Newton, bocah menjengkelkan yang tidak bole h kuanggap sebagai saingan, berencana mengajak Bella k encan. Sebentar lagi akan ada pesta dansa musim semi. Kal i ini pihak perempuan yang memilih pasangannya. Dan M ike sangat berharap Bella akan mengajak dia. Tapi Bella masih belum mengajaknya, dan ini menggoyahkan keperc ayaan dirinya. Posisinya terjepitµaku menikmati kegusar an dia lebih dari semestinyaµkarena Jessica Stanley suda h mengajak dia duluan. Dia tidak mau menjawab ya, kar ena masih berharap Bella memilih dia (menjadi bukti ke menangan atas para pesaingnya), tapi ia juga segan menj awab tidak, takut berakhir tidak mendapatkan keduanya.

124

Jessica sendiri tersinggung dengan keraguan Mike. I a bisa menebak alasan dibaliknya, dan ia jadi menjelek-j elekkan Bella di pikirannya. Lagi, instingku membuatku ingin meletakan diri diantara pikiran marah Jessica dan Bella. Aku memahami insting itu lebih baik sekarang, ta pi justru jadi lebih menjengkelkan karena tidak bisa mel akukan apa-apa. Tidak kusangka bisa sampai sejauh ini! Bisa-bisany a aku sampai ingin terlibat dalam drama picisan yang se belumnya sempat kuhina-hina ini. Mike sedang memberanikan diri saat berjalan bersa ma Bella ke kelas biologi. Aku mendengarkan pergolakan batinya saat menunggu mereka masuk. Bocah itu lembek. Dia sengaja cuma menunggu, takut ketertarikannya diket ahui Bella sebelum ia menunjukan tanda-tanda akan meng ajaknya. Dia tidak ingin terlihat lemah hingga ditolak. D ia lebih memilih Bella duluan yang mulai. Pengecut. Dia duduk di ujung meja lagi, merasa nyaman denga n kebiasaan itu. Aku membayangkan bagaimana suaranya jika badannya membentur tembok hingga tulang- tulangn ya remuk. Jadi, i. sim semi. Bagus, dong, Bella langsung menjawab dengan penu h semangat. Sulit untuk tidak tersenyum saat Mike akhir nya menyerap nada itu. Dia mengharapkan tanggapan yan g negatif. Kau akan bersenang-senang dengan Jessica. Well... d Dia berjuang mencari lanjutan yang tepat. ia memberanikan diri lagi. ikirkan. kata Mike ke gadis itu. Matanya menatap lanta Jessica memintaku pergi dengannya ke pesta dansa mu

ia ragu-ragu, dan hampir secara kecut mundur. Kemudian Aku bilang padanya akan kup

125

Kenapa kau bilang begitu?

Nadanya tidak setuju, ta

pi ada secuil kelegaan juga. Apa itu artinya? Kemarahan yang muncul tiba-tiba membuat tanganku mengepal. Mike tidak mendengar kelegaan itu. Wajahnya merah padamµpanasnya langsung terasa, ini seperti undanganµd an ia melihat ke lantai lagi. Aku bertanya-tanya jika...well, jika kau mungkin pu nya rencana untuk mengajakku. nya dengan lebih jelas. Gadis itu mungkin akan menjawab 'ya' pada Mike, at au mungkin 'tidak'. Tapi, apapun itu, suatu saat nanti, ia akan berkata ya pada seseorang. Dia menyenangkan dan menawan. Para pria-manusia sangat menyadari hal itu. E ntah ia akan memilih diantara orang-orang menyedihkan ini, atau menunggu sampai pergi dari Forks, akan datang hari dimana ia akan berkata ya. Aku melihat hidupnya dengan sangat jelasµkuliah, k arir...percintaan, pernikahan. Aku melihat dia dalam gan dengan ayahnya lagi, bergaun putih gading, wajahnya ber semu bahagia saat berjalan dengan iringan simfoni Wagn er. Luka yang kurasakan melebihi segalanya. Manusia b iasa pasti akan mati menanggung sakit seperti iniµmerek a tidak akan bisa hidup. Dan bukan cuma sakit, tapi sekaligus amarah yang s angat. Amarah ini menuntut pelampiasan sekarang juga. Me skipun bocah ini bukan yang akan dijawab ya oleh Bella, tanganku gatal ingin meremukan tengkoraknya, menjadik an dia sebagai contoh bagi siapapun yang ingin mendekat i Bella. Bella ragu-ragu. Dalam sedetik keraguan itu, aku melihat masa depan

126

Aku tidak memahami perasaan iniµcampuran dari ras a sakit, amarah, hasrat, dan putus asa. Aku belum pernah merasakan sebelumnya; aku tidak bisa menamakannya. Mike, menurutku kau harus bilang ya padanya, Bell a menjawab dengan suara lembut. Harapan Mike runtuh. Dalam kesempatan berbeda aku akan menikmatinya, tapi aku sedang bingung dengan perasaan menyakitkan iniµda n menyesali dampaknya padaku. Alice benar. Aku tidak c ukup kuat. Saat ini, Alice akan mengamati bagaimana masa dep an akan berputar dan berubah- ubah. Apa ini akan membu atnya senang? Apa kau sudah mengajak seseorang? Mike bertanya dengan kesal terpendam. Dia mendelik padaku, curiga un tuk pertama kalinya selama berminggu-minggu ini. Aku s adar telah mengkhianati tekadku sendiri; kepalaku sediki t miring kearah Bella. Rasa iri liar dalam pikiran Mikeµiri pada siapapun yang dipilih gadis iniµmendadak memberi nama pada emo si-tak-bernamaku. Aku cemburu. Tidak, di suaranya. gadis itu berkata dengan sedikit jejak humor Aku tidak akan datang ke pesta dansa.

Melebihi segala penyesalan dan marah, aku merasa l ega pada jawabannya. Saat itu juga aku mulai mempertim bangakan saingan-sainganku yang lain. Kenapa tidak? Mike bertanya dengan agak kasar. Ak u tersinggung mendengar Mike menggunakan nada seperti itu ke dia. Aku menahan geramanku. Aku akan pergi ke Seattle sabtu itu, jawabnya. Penasaranku tidak sehebat sebelumnyaµkini saat aku telah berniat untuk mencari jawaban pertanyaan itu. Aku akan segera tahu alasannya sebentar lagi.

127

Suara Mike berubah membujuk. pergi lain kali? Maaf, tidak bisa. ak baik.

Tidak bisa kah kau Jadi sebaik

Bella kini agak ketus.

nya kau tidak membuat Jess menunggu lebih lamaµitu tid Kepeduliannya pada Jessica mengipasi api cemburuk u. Perjalanan ke Seattle jelas-jelas cuma alasan untuk m engelakµapa penolakannya murni karena loyalitas dia pa da temannya? Dia jauh lebih dari tidak-egois jika begit u. Apa sebetulnya dia berharap bisa berkata ya? Atau, ap a keduanya bukan? Jangan-jangan dia tertarik dengan ora ng lain? Ya, kau benar, gumam Mike, sangat terpukul hingga aku hampir merasa kasihan. Hampir. Di menjatuhkan pandangannya dari si gadis, menghe ntikan pandanganku ke wajah Bella dalam pikirannya. Hal itu tidak boleh terjadi. Maka untuk pertama kalinya dalam sebulan, aku men oleh untuk membaca sendiri wajahnya. Rasanya sangat le ga membiarkan diriku melakukan ini, seperti tarikan nap as di permukaan pada penyelam yang kehabisan oksigen. Matanya tertutup, dua tangannya menekan kedua sisi wajahnya. Bahunya terkulai galau. Dia menggeleng sanga t pelan, seolah ingin mengusir sesuatu dari pikirannya. Frustasi. Menarik. Suara Mr. Banner membangunkan dia dari lamunan. Matanya pelan-pelan membuka. Dan ia langsung melihat kearahku, mungkin merasakan tatapanku. Dia menatap ke dalam mataku dengan ekspresi penuh tanya yang sama de ngan yang menghantuiku selama ini. Aku tidak merasa menyesal, bersalah, atau marah da lam detik ini. Aku tahu segala perasaan itu akan datang

128

lagi, tapi untuk saat ini aku dimabukan oleh kegugupan yang aneh. Seakan aku telah menang, dan bukannya kalah. Dia tidak membuang muka, meskipun aku menatapny a dengan keingintauan yang tidak pantas, sia-sia mencob a membaca pikirannya melalui mata coklat mudanya. Mat anya penuh pertanyaan daripada jawaban. Aku bisa melihat pantulan mataku sendiri. Dua mata ku hitam karena haus. Hampir dua minggu sejak terakhir kali berburu; ini bukan hari yang aman bagi keruntuhan niatku. Tapi sepertinya kegelapan mataku tidak menakuti dia. Ia masih tidak membuang muka, hingga kemudian se mburat halus merah muda meronai pipinya. Apa yang sedang ia pikirkan? Aku hampir menanyakan itu keras-keras, tapi kemud ian Mr. Banner memanggil namaku. Aku memilih jawaban yang benar dari pikirannya sambil menoleh sekilas. Aku menarik napas cepat. Siklus Krebs. Rasa haus menghanguskan tenggorokankuµmengenca ngkan otot-ototku dan memenuhi mulutku dengan liur. A ku memejam, berusaha berkonsentrasi menghalau hasrat a kan darahnya yang mengamuk dalam diriku. Monster itu jauh lebih kuat dari sebelumnya. Monst er itu sedang berlonjak gembira. Dia merengkuh dua pili han masa depan yang membuat posisinya imbang, kesemp atan sama besar yang selama ini ia idam-idamkan dengan licik. Pilihan ketiga yang coba kubangun dengan kekuata n niat semata telah runtuhµdihancurkan oleh kecemburua n sepeleµdan monster itu hampir mencapai tujuannya. Penyesalan dan rasa bersalah terbakar bersama daha ga. Jika aku punya kemampuan memproduksi air mata, ma taku pasti sudah berlinangan sekarang. Apa yang telah kulakukan?

129

Mengetahui telah kalah, sudah tidak ada lagi alasan untuk menahan apa yang kuinginkan; aku kembali meman dangi gadis itu lagi. Dia bersembunyi dibalik rambutnya, tapi aku bisa m elihat melalui celah rambutnya bagaimana pipinya kini b erwarna merah terang. Sang monster menyukai itu. Dia tidak membalas tatapanku lagi, tapi jarinya me milin rambut gelapnya dengan gugup. Jari tangannya yan g lembut, pergelangan tangannya yang rapuhµkeduanya s angat ringkih, bahkan hanya dengan hembusan napas bisa kupatahkan. Tidak, tidak, tidak. Aku tidak bisa melakukan ini. D ia terlalu rapuh, terlalu baik, terlalu berharga untuk me nerima takdir ini. Aku tidak mengijinkan kehidupanku m enghancurkan hidupannya. Tapi aku juga tidak bisa menjauh dari dia. Alice bet ul tentang itu. Monster dalam diriku mendesesis frustasi saat aku bimbang. Selama terombang-ambing, satu jam singkatku bersa ma dia berlalu cepat. Bel berbunyi, dan ia mengumpulka n barang-barangnya tanpa menengok. Ini membuatku kece wa, tapi tidak mungkin berharap sebaliknya. Caraku mem perlakukan dia sejak insiden itu tidak termaafkan. Bella? kataku tanpa bisa kucegah. Tekadku sudah te rcabik-cabik. Dia bimbang sebelum melihat ke arahku; saat menol eh ekspresinya hati-hati, curiga. Aku mengingatkan dirik u sendiri bahwa ia sangat berhak untuk tidak percaya pa daku. Bahwa seharusnya begitu.

130

Dia menunggu, tapi aku hanya memandanginya, mem baca wajahnya. Aku menarik napas pendek, melawan rasa hausku. Apa? ku lagi? dia akhirnya bertanya. Apa kau bicara dengan ada bagian pada kekesalannya, yang seperti ket

ika marah, justru terlihat menggemaskan. Itu membuatku ingin tersenyum. Aku tidak begitu yakin bagaimana menjawabnya. Ap a aku bicara dengan dia lagi, dalam pengertian yang ia m aksud? Tidak. Tidak jika aku bisa menghindarinya. Aku aka n berusaha menghindarinya. Tidak, tidak juga, aku memberitahu dia. Dia menutup mata, yang membuatku frustasi. Ini me motong jalurku membaca perasaannya. Dia mengambil na pas panjang tanpa membuka mata. Rahangnya terkunci. Matanya masih tertutup saat bicara. Tentu ini bukan kebiasaan manusia normal. Kenapa dia melakukannya? Lalu apa maumu, Edward? Mendengar namaku diucapkan oleh bibirnya, berdam pak aneh pada tubuhku. Jika aku punya detak jantung, pa stilah berdetak lebih cepat. Tapi bagaimana menjawabnya? Apa adanya, aku memutuskan. Aku akan berkata apa adanya mulai sekarang. Aku tidak mau tidak-dipercaya ol eh dia, bahkan jika untuk mendapat kepercayaannya adal ah mustahil. Aku minta maaf. l yang sepele. itu adalah hal yang paling jujur. S ayangnya aku cuma bisa minta maaf dengan aman atas ha Aku tahu sikapku sangat kasar. Tapi lebih baik seperti itu, sungguh.

131

Akan lebih baik bagi dia jika aku terus bersikap kas ar. Apa aku bisa? Matanya membuka, ekspresinya masih hati-hati. Aku tidak tahu apa maksudmu. Aku coba memberi peringatan sebatas yang kubisa. Lebih baik kita tidak berteman. tentu dia menyadari peringatan itu. Dia perempuan c erdas. Percayalah. Matanya menyipit. Aku ingat pernah mengatakan itu sebelumnyaµtepat sebelum melanggarnya. Aku mengernyi t saat dia menggertakan gigiµjelas dia juga masih ingat. Sayang sekali kau tidak menyadarinya sejak awal, jarnya marah. begini. Aku memandangnya syok. Apa yang ia ketahui tenta ng penyesalanku? Menyesal? Menyesal kenapa? tanyaku menuntut. Karena tidak membiarkan van bodoh itu menimpaku! dia meledak marah. Aku membeku, bingung. Bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? Menyelema tkan nyawanya adalah satu-satunya pilihan tepat yang ku lakukan sejak bertemu dia. Satu-satunya yang tidak mem buatku malu. Satu dan hanya satu-satunya yang membuat ku lega telah 'hidup'. Aku terus berjuang agar dia tetap hidup sejak pertama mencium aromanya. Bisa-bisanya dia berpikir seperti itu padaku. Berani-beraninya dia mempe rtanyakan satu-satunya perbuatan baikku diantara semua kekacauan ini. Kau pikir aku menyesal telah menyelamatkanmu? Aku tahu kau merasa begitu, etus. Kesinisannya atas maksud baikku membuatku mengg elegak marah. Kau tidak tahu apa-apa. dia menjawab dengan k u Jadi kau tidak perlu repot-repot menyesal

132

Betapa ruwetnya cara kerja pikirannya! Dia pasti ti dak berpikir dengan cara yang sama seperti manusia man apun. Pasti itu penjelasan dibalik kesunyian-mentalnya. Dia sama sekali berbeda. Dia membuang muka dan menggertakan gigi lagi. Pip inya merona, kali ini karena marah. Dia menumpuk bukubukunya dengan kasar, menyambarnya, lalu berjalan ke p intu tanpa menoleh ke arahku. Bahkan saat kesal seperti ini, mustahil tidak menga nggap ekspresi marahnya sedikit menghibur. Langkahnya kaku, tanpa terlalu memperhatikan jalan , dan kakinya tersangkut ujung pintu. Dia tersandung da n semua bukunya jatuh berantakan. Bukannya memunguti barang- barangnya, dia hanya berdiri mematung, bahkan tidak melihat kebawah, seakan tidak yakin buku-buku itu pantas diambil. Aku berusaha tidak tertawa. Tidak ada yang memperhatikan aku; aku segera ke si sinya, mengumpulkan semua buku-bukunya sebelum ia me lihat kebawah. Dia membungkuk, melihatku, dan kemudian membeku . Kuserahkan buku-bukunya, sambil kupastikan kulit din ginku tidak menyentuhnya. Terima kasih, n. Nada bicaranya mengembalikan kemarahanku. Sama-sama, kataku sama dinginnya. Dia bangkit berdiri lalu langsung pergi ke kelas ber ikutnya tanpa menoleh. Aku memperhatikan sampai sosok nya hilang. Pelajaran bahasa Spanyol berjalan kabur. Mrs. Goff tidak menggubris kelinglungan-ku µdia tahu bahasa Span yolku jauh lebih fasih dibanding dia, karena itu ia memb jawabnya dingi

133

eri banyak kelonggaranµmembuatku bebas untuk berpiki r. Jadi, aku tidak bisa mengabaikan gadis itu. Hal itu sudah pasti. Tapi apa artinya aku tidak punya pilihan sel ain menghancurkan dia? Itu tidak mungkin satu-satunya masa depan yang tersisa. Pasti ada pilihan lain, yang leb ih manusiawi. Aku berusaha memikirkan suatu cara... Aku tidak terlalu memperhatikan Emmet sampai jam pelajaran hampir selesai. Dia penasaranµEmmet tidak ter lalu pandai membaca mood orang lain, tapi ia bisa melih at perubahan nyata pada diriku. Dia bertanya-tanya apa y ang terjadi. Dia berupaya keras mendefinisikan perubaha nnya. Dan akhirnya memutuskan bahwa aku terlihat penu h harapan. Penuh harapan? Apa seperti itu kelihatannya dari luar? Aku mempertimbangkan ide akan harapan selama ber jalan ke mobil. Kira-kira seharusnya aku berharap apa? Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk memperti mbangan hal itu. Sesensitif seperti biasanya, suara nama Bella di kepala...saingankuµharus kuakuiµmenarik perha tianku. Eric dan Tyler, telah mendengarµdengan puas sek aliµatas kegagalan Mike. Mereka berdua sedang mempers iapkan langkah mereka sendiri. Eric telah mengambil posisi duluan. Dia menyandar ke truk Bella agar dia tidak bisa menghindar. Kelas Tyle r keluar agak telat, dan ia mesti buru-buru sebelum terla mbat mengejar Bella. Yang ini aku harus lihat. Tunggu yang lain disini, oke? aku menggumam pada Emmet. Matanya curiga, tapi ia cuma mengangkat bahu d an mengangguk. Anak ini mulai gila. Dia membatin, geli dengan permintaan anehku.

134

Aku melihat Bella keluar dari gimnasium. Aku menu nggu di tempat yang tidak kelihatan. Saat ia mulai mend ekati sergapan Eric, baru aku jalan, mengatur langkahku agar nanti bisa lewat di waktu yang pas. Aku memperhatikan bagaimana ia terkejut melihat b ocah itu disamping truknya. Dia terhenti sebentar, kemu dian rileks lagi dan meneruskan langkahnya. Hai, Eric, ia menyapa dengan suara ramah. Tiba-tiba aku jadi gelisah. Bagaimana jika bocah ce king dengan kulit bermasalah ini, entah bagaimana, meny enangkan hatinya? Eric menyaut dengan terlalu keras, Ada apa? Hai, Bella. Gad is itu sepertinya tidak menyadari kegugupan Eric. Dengan santai ia membuka pintu truknya t anpa melihat ke wajah cemas bocah itu. Mmm, aku cuma bertanya-tanya...maukah kau pergi ke pesta dansa musim semi bersamaku? r. Dia akhirnya menoleh. Apa dia terkejut, bingung, at au senang? Eric tidak sanggup menatapnya, jadi aku tida k bisa melihat wajahnya di pikiran dia. Kupikir perempuanlah yang mengajak, agak bingung. Iya, sih, dia mengakui malu-malu. Bocah memelas ini tidak semenjengkelkan Mike New ton, tapi aku baru bisa bersimpati padanya setelah Bella menjawab dia dengan lembut. terima kasih untuk ajakann ya, tapi aku akan pergi ke Seattle hari itu. Dia telah mendengar hal itu, tapi tetap saja ia mera sa kecewa. Oh ya sudah, gumamnya. Dia hampir tidak berani m Mungkin lain kali. engangkat matanya. dia terdengar suaranya bergeta

135

Tentu, uka itu.

dia menjawab sopan. Kemudian ia menggigit

bibirnya, seakan menyesal telah memberi harapan. Aku s Eric melangkah lemas, menuju ke arah berlawanan d ari mobilnya. Yang ia pikirkan cuma pergi. Aku melewati Bella tepat pada saat itu, dan menden gar desah leganya. Aku tertawa. Dia menoleh mendengar suaraku, tapi aku memandan g lurus kedepan, berusaha menahan bibirku agar tidak te rsenyum girang. Tyler terlihat masih jauh, tergesa-gesa mengejar Be lla. Dia lebih berani dan lebih yakin dibanding dua pesai ngnya. Selama ini ia belum mendekati Bella hanya karen a menghormati Mike, yang telah lebih dulu melakukan pe ndekatan. Aku ingin dia berhasil mengejar Bella karena dua al asan. Jikaµseperti yang sudah kusangkaµsemua perhatian ini sangat mengganggu Bella, aku ingin menonton reaksi nya. Tapi, jika ternyata tidak mengganguµjika memang a jakan Tyler yang ia tungguµmaka aku ingin mengetahui h al itu. Aku benar-benar menilai Tyler sebagai pesaingku, m eskipun tahu itu keliru. Bagiku dia biasa-biasa saja, me mbosankan, dan tidak ada istimewanya sama sekali. Tapi memangnya aku tahu selera Bella? Barangkali dia suka d engan cowok yang biasa-biasa saja... Aku mengernyit pada pikiran itu. Aku tidak mungkin bisa biasa-biasa saja. Bodohnya aku ikut-ikutan bersaing mengejar perhatian Bella. Bagaimana mungkin dia perdul i pada monster? Dia terlalu baik bagi seorang monster. Aku sebaiknya membiarkan dia pulang, tapi rasa pen asaranku yang absurd menahanku melakukan sesuatu yang

136

benar. Lagi. lagipula, bagaimana jika Tyler kehilangan k esempatan, dan justru menghubungi nanti saat aku tidak bisa mendengar hasilnya? Aku cepat-cepat memundurkan Volvoku, mendului dia dan menghalangi truknya. Emmet dan yang lain dalam perjalanan. Emmet sedan g menggambarkan tingkah anehku. Mereka berjalan pelan -pelan, memperhatikan aku, mencari tahu apa yang sedan g kulakukan. Aku memperhatikan gadis itu dari kaca spion. Dia m endelik ke belakang mobilku. Kelihatannya ia seperti ber harap sedang mengendarai tank dan bukannya truk Chevy karatan. Tyler buru-buru mengambil mobil dan berhasil mengantri di belakangnya, bersyukur pada tindakanku ya ng tidak biasa. Dia melambai ke gadis itu, berusaha men arik perhatiannya, tapi gadis itu tidak melihat. Dia menu nggu sebentar, kemudian keluar dari mobil, menghampiri sisi penumpang truk gadis itu. Dia mengetuk kacanya. Gadis itu terlonjak, kemudian menatap Tyler bingun g. Setelah beberapa saat, ia menurunkan jendelanya seca ra manual, kelihatannya sedikit macet. Sori, Tyler, katanya dengan suara kesal. Mobil Cul len menghalangiku. Dia mengucapkan nama keluargaku dengan suara taja mµdia masih marah padaku. Iya, aku tahu, nya. jebak disini. Seringainya agak sombong. Aku senang melihat wajahnya berubah pucat setelah menyadari niat Tyler. Maukah kau mengajakku ke pesta dansa musim semi? dia bertanya penuh keyakinan. ujarnya, tidak terpengaruh oleh mood Aku hanya ingin menanyakan sesuatu selagi kita ter

137

Aku akan pergi ke luar kota, Tyler, gak ketus. Iya, Mike sudah cerita. Lantas, kenapaµ

dia menjawab a

dia menatap Tyler tajam. Aku pikir kau hanya ingin me Sor Aku

Dia mengangkat bahu. nolaknya secara halus.

Matanya berkilat kesal, tapi kemudian meredup. i, Tyler. Dia tidak terdengar menyesal sama sekali. benar-benar akan pergi ke luar kota.

Dia menerima alasan itu, dan keyakinannya masih ti dak tergoyahkan. Oke, tidak apa- apa. Masih ada prom. Dia kembali ke mobilnya. Keputusanku tepat untuk tidak melewatkan hal ini. Ekspresi kesal di wajahnya benar-benar layak untuk dilihat. Itu memberitahu apa yang seharusnya tidak kuca ri tahuµbahwa ia tidak tertarik pada bocah-bocah itu. Juga, ekspresinya adalah hal terlucu yang pernah ak u lihat. Saat keluargaku sampai ke mobil, mereka bingung m elihat perubahanku, yang sedang tertawa sendirian dan b ukannya bersungut jengkel seperti biasanya. Apa yang lucu? Emmet ingin tahu. Aku cuma menggeleng sambil tertawa lagi karena me lihat Bella menderumkan mesin mobilnya dengan marah. Dia kelihatannya berharap sedang mengendarai tank lagi. Ayo pergi! Rosalie mendesis tidak sabaran. Berhent i bertingkah seperti orang idiot. Itu kalau kau bisa. Ucapannya tidak mengganggukuµaku terlalu terhibur . Tapi aku menuruti yang dia minta. Tidak ada yang bicara padaku selama perjalanan. Se mentara aku terus tertawa-tawa kecil sendirian gara-gara teringat wajahnya.

138

Saat tiba di jalan sepiµmenginjak gas dalam-dalam mumpung tidak ada saksiµAlice merusak moodku. Jadi boleh sekarang aku bicara pada Bella? dia lang sung bertanya begitu saja, tanpa basa-basi. Tidak. Aku langsung marah. Tidak adil! Apa yang kutunggu? Aku belum memutuskan apa-apa, Alice. Terserah. Di dalam kepalanya, dua takdir Bella menjadi jelas lagi. Apa gunanya berkenalan dengan dia? murung. i. Aku membelok tajam pada kecepatan sembilan puluh mil perjam, dan kemudian mendecit berhenti, tepat beber apa inchi sebelum tembok garasi. Selamat menikmati jogingmu, ku berburu. Yang lain baru akan berburu besok, tapi aku tidak s anggup untuk haus sekarang. Pada akhirnya aku minum terlalu banyakµbeberapa r usa besar dan satu beruang hitam. Aku cukup beruntung bisa menemukan mereka di awal musim seperti ini. Aku k ekenyangan hingga tidak nyaman. Tapi kenapa masih bel um juga cukup? Kenapa aroma dia harus lebih kuat dari y ang lain? Ini aku berburu untuk persiapan besok. Tapi saat sel esai berburu, dan masih berjam-jam lagi sebelum mataha ri terbit, aku tahu besok terlalu lama. Rasa gugup kembali melandaku saat menyadari aku a kan mencari gadis itu sekarang juga. sindir Rosalie culas s aat aku keluar dari mobil. Tapi hari ini aku tidak lari. A Alice sekejap ragu. Aku mendadak dia mengaku Jika aku hanya akan membunuhnya? Kau ada benarnya,

139

Aku berdebat dengan diriku sendiri selama perjalana n, tapi sisi culasku yang menang. Aku melanjutkan rencanaku. Monster dalam diriku g elisah namun sudah terikat kencang. Aku akan menjaga j arak. Aku cuma ingin tahu dimana dia. Aku hanya ingin melihat wajahnya. Ini sudah lewat tengah malam. Rumah Bella gelap da n sepi. Truknya diparkir di pinggir jalan, mobil polisi a yahnya di depan rumah. Tidak ada pikiran yang terbangu n di sekeliling rumahnya. Aku mengawasi rumahnya dari balik kepekatan hutan yang menghampar di seberang jala n. Pintu depan pasti terkunciµbukan masalah, tapi aku ti dak mau meninggalkan bukti dengan merusak pintunya. J adi aku akan mencoba jendela atas dulu. Jarang ada oran g yang repot-repot menguncinya. Aku berlari menyebrang jalan, lalu meloncat keatas rumahnya tidak sampai setengah detik. Aku bergelantung an pada kusen jendela. Aku mengintip lewat kaca, dan na pasku terhenti. Ini kamarnya. Aku bisa melihat dia di tempat tidurn ya yang kecil. Selimutnya di lantai, dan spreinya berant akan disekitar kakinya. Kemudian tiba-tiba ia bergerak g elisah dan melempar satu tangannya keatas kepala. Tidur nya tidak bersuara, paling tidak hari ini. Apa ia merasak an ada bahaya? Batinku menyuruhku untuk pergi saat dia bergerak g elisah lagi. Apa bedanya aku dengan tukang ngintip? Tid ak ada bedanya. Bahkan aku jauh, jauh lebih buruk. Aku mengendurkan pegangan jariku, sudah akan turu n, tapi sebelum itu aku ingin mengamati dulu lagi wajah nya sebentar.

140

Wajahnya tidak tenang. Sedikit kerutan terlihat dian tara alisnya. Ujung bibirnya turun. Bibirnya bergerak-ge rak, kemudian terbuka. Oke, mom, durnya. Rasa penasaran langsung membakarku, mengalahkan kejijikan pada apa yang sedang kulakukan. Daya pikat un gkapan pikirannya yang terucap tanpa-sadar mustahil unt uk dilawan. Aku coba membuka jendelanya, ternyata tidak terku nci, hanya saja agak macet karena jarang dibuka. Kudoro ng pelan-pelan, berjengit tiap kali menimbulkan suara. A ku mesti mencari oli untuk lain kali... Lain kali? Aku menggelengkan kepala, lagi-lagi mer asa jijik dengan diriku. Aku menyelinap tanpa suara mel alui jendela yang terbuka separuh. Kamarnya kecilµberantakan tapi tidak kotor. Buku-b uku berserakan di lantai disamping tempat tidur, kepingkeping CD bertebaran di dekat tapenya yang murahan, da n diatas tapenya terdapat kotak tempat asesoris. Tumpuk an-tumpukan kertas berhamburan disekitar komputer yan g seharusnya sudah dimuseumkan. Sepatu-sepatunya ditar uh begitu saja di lantai kayu. Aku sangat ingin membaca judul-judul bukunya dan CD-CD musiknya, tapi aku sudah berjanji untuk menjaga jarak. Jadi aku cuma duduk di kursi goyang di pojok kam ar. Apa betul aku pernah berpikir penampilannya biasabiasa saja? Aku mengingat lagi saat hari pertama, dan ke muakanku pada bocah-bocah yang langsung tertarik pada nya. Tapi sekarang, jika kuingat lagi wajahnya di pikira n mereka, aku tidak mengerti kenapa aku tidak lansung m enilai dia cantik. Padahal jelas-jelas wajahnya cantik. dia menggumam pelan. Bella bicara di ti

141

Saat iniµdengan rambut gelap berantakan diseputar wajah pucatnya, memakai kaos oblong usang dengan cela na panjang katun lusuh, roman rileks pulas, dan bibirnya yang penuh sedikit merekahµdia membuatku terpesona. Dia tidak bicara. Barangkali mimpinya sudah selesai . Aku menatap wajahnya sambil berusaha mencari jala n lain selain dua pilihan masa depan yang ada. Apa pilih anku cuma tinggal mencoba pergi lagi? Yang lain sudah tidak bisa membantah lagi sekaran g. Kepergianku tidak akan membahayakan siapa-siapa. Ti dak akan ada yang curiga. Tidak akan ada yang mengkait - kaitkan dengan insiden kemarin. Aku sebimbang tadi siang, dan semua kelihatannya mustahil. Aku tidak mungkin menyaingi bocah-bocah manusia itu, entah ada yang membuat dia tertarik atau tidak. Aku seorang monster. Bagaimana mungkin ia akan melihatku sebagai sosok yang lain? Jika dia tahu siapa diriku sebe narnya, itu akan membuatnya ngeri ketakutan. Sama sepe rti para korban dalam film horor, ia akan lari gemetar pe nuh teror. Aku ingat hari pertamanya di kelas biologi...itu ada lah reaksi yang paling tepat dari dia. Sungguh konyol me mbayangkan bahwa jika saja aku yang mengajak dia ke p esta dansa, mungkin ia akan membatalkan rencananya ke Seattle dan setuju pergi denganku. Bukan aku yang dia t akdirkan untuk dijawab ya. Melainkan orang lain, seseor ang yang hangat dan manusia. Dan bahkanµsuatu saat nan ti, ketika kata ya terucapµaku tidak boleh memburu pria itu dan membunuhnya. Bella pantas mendapatkannya, sia papun itu. Dia layak mendapatkan kebahagiaan dan rasa sayang dari siapapun pilihannya.

142

Aku berhutang itu padanya; aku tidak bisa lagi pura -pura hampir mencintai gadis ini. Bagamanapun, tidak ad a pengaruhnya kalau aku pergi, karena Bella tidak akan pernah melihatku dengan cara yang seperti kuharapkan. Dia tidak akan pernah melihatku sebagai sosok yang pant as dicintai. Tidak akan pernah. Bisakah jantung beku yang telah mati patah? Rasany a jantungku bisa. Edward, . Apa dia terbangun, melihatku disini? Dia kelihatany a pulas, namun suaranya sangat jernih... Dia mendesah pelan, kemudian bergerak gelisah lagi , berguling kesampingµmasih pulas dan bermimpi. Edward, u. Bisakah jantung beku yang sudah mati kembali berd etak? Sepertinya punyaku bisa. Tinggal lah, jangan pergi. Dia memimpikan aku, dan itu bukan mimpi buruk. Di a menginginkan aku tinggal bersamanya, disana di mimpi nya. Aku berjuang mencari istilah dari perasaan yang me mbanjiri diriku, tapi aku tidak punya istilah yang cukup kuat untuk mengartikannya. Selama beberapa lama, aku t enggelam, berenang-renang di dalamnya. Ketika muncul ke permukaan, aku bukan lagi orang yang sama. Hari-hariku tidak berujung, malam gelap tanpa akhir . Selalu tengah malam bagiku. Jadi bagaimana mungkin dia mendesah. Jangan pergi. Tolong... dia bergumam lembut. Dia memimpikan ak ucap Bella. Aku membeku, memperhatikan matanya yang tertutup

143

matahari bisa terbit sekarang, di tengah tengah-malamk u? Pada hari dimana aku menjadi vampir, menukar jiwa dan kefanaanku dengan keabadian, dalam proses transfor masi yang menyiksa, aku benar-benar telah membeku. Ba danku menjadi sesuatu yang menyerupai batu daripada da ging, kekal dan tidak berubah. Kepribadianku juga ikut membekuµyang aku suka dan tidak suka, mood dan hasara tku; semua membeku. Hal yang sama juga terjadi pada yang lainnya. Kami semua membeku. Batu hidup. Ketika kemudian terjadi per ubahan pada kita, itu langka dan merupakan sesuatu yang permanen. Aku melihatnya terjadi pada Carlisle, dan sep uluh tahun kemudian pada Rosalie. Perasaan cinta merub ah mereka dalam cara yang kekal, cara yang tidak akan p ernah pudar. Sudah lebih dari 80 tahun Carlisle menemuk an Esme, dan tetap saja dia masih menatap Esme dengan tatapan yang sama seperti saat menemukan cinta pertama nya. Dan akan selamanya begitu bagi mereka. Akan selalu seperti itu juga bagiku. Aku akan selalu mencintai gadis rapuh ini, untuk selama eksistensiku yan g tak terbatas. Aku memandangi wajahnya yang terlelap, merasakan perasaan cintaku menetap pada tiap sel di tubuh beku-k u. Dia tidur lebih nyaman sekarang. Sebaris senyum pa da bibirnya. Aku akan selalu mengawasi dia seperti ini. Aku mencintai dia, jadi aku akan berusaha menjadi kuat untuk bisa meninggalkan dia. Aku tahu aku tidak se kuat itu sekarang. Akan kuupayakan. Tapi barangkali akh irnya aku akan cukup kuat untuk mengelakan masa depan nya dengan cara lain.

144

Alice hanya melihat dua takdir bagi Bella. Kini aku memahami keduanya. Mencintai dia bukan berarti membuatku tidak akan membunuhnya, jika aku sampai membuat kesalahan. Namun begitu aku tidak bisa merasakan monster itu sekarang, tidak bisa menemukan dimanapun dalam diriku. Barangkali cinta telah membungkam dia selamanya. Jika aku membunuh Bella sekarang, itu bukan disengaja, hany a ketidak sengajaan yang mengerikan. Aku akan sangat hati-hati. Aku tidak akan pernah m engendurkan kewaspadaannku. Aku akan selalu mengontr ol tiap tarikan napasku. Aku akan selalu menjaga jarak. Aku tidak akan pernah membuat kesalahan. Aku akhirnya memahami takdir yang kedua. Selama i ni aku tidak habis pikir dengan penglihatan ituµapa yang terjadi hingga dia akhirnya menjadi tahanan keabadian s eperti diriku ini? Sekarangµdibutakan kerinduan pada ga dis iniµaku bisa mengerti, bagaimana aku, dengan keegoi san yang tidak termaafkan, meminta tolong ayahku untuk melakukannya. Meminta padanya untuk mengenyahkan ji wa gadis ini agar aku bisa mendapatkan dia selamanya. Dia berhak mendapatkan yang lebih baik. Tapi aku melihat masa depan yang lain, satu benang tipis yang mungkin bisa kulewati, jika dapat menjaga ke seimbangan. Apa aku sanggup? Bersamanya dan membiarkan dia menjadi manusia? Secara sengaja aku mengambil napas dalam-dalam, membiarkan aromanya membakar diriku. Kamarnya pekat dengan wangi tubuhnya; bau tubuhnya menempel di setia p permukaan. Kepalaku seperti tenggelam, tapi kulawan pusing itu. Jika berniat menjalin hubungan dengan dia, a

145

ku harus membiasakan diri dengan ini. Aku mengambil n apas lagi, napas yang membakar. Aku memperhatikan dia tidur hingga matahari terbit dibalik awan timur, menyusun rencana dan terus bernapa s dalam-dalam. Aku baru tiba di rumah setelah yang lain sudah bera ngkat sekolah. Aku cepat-cepat ganti baju, menghindari t atapan penuh tanya Esme. Dia melihat binar samar di waj ahku. Dia merasa cemas sekaligus lega. Kesenduan panja ngku membuatnya sedih, dan ia lega karena sepertinya te lah berakhir. Aku berlari ke sekolah, sampai beberapa detik sebel um saudaraku. Mereka tidak menoleh, meskipun Alice pa sti telah memberitahu aku akan disini, di kerimbunan hut an dekat parkiran. Aku menunggu sampai tidak ada yang melihat, kemudian berjalan santai dari balik pepohonan ke parkiran. Aku mendengar truk Bella menderu keras di beloka n. Aku berhenti di belakang sebuah suburban, di posisi a ku bisa mengamati tanpa kelihatan. Dia masuk ke parkiran, mendelik ke Volvoku selama beberapa saat sebelum mengambil tempat parkir di ujung yang paling jauh. Dahinya mengerut. Rasaya aneh mengingat dia sepertinya masih marah padaku, dan dengan alasan yang baik pula. Aku ingin menertawakan diriku sendiriµatau menend ang sekalian. Semua gagasanku jadi tidak ada artinya jik a ternyata dia tidak tertarik padaku. Mimpinya tadi mala m bisa tentang sesuatu yang lain. Aku benar-benar bodoh dan tidak tahu diri. Well, jauh lebih baik buat dia jika dia tidak tertari k padaku. Itu tidak akan menghentikanku mengejar dia, t

146

api aku akan memberinya peringatan bahaya. Aku berhuta ng itu padanya. Aku berjalan tanpa suara, memikirkan cara yang pal ing baik buat mendekatinya. Dia membuatnya jadi mudah. Kunci truknya terlepas dari genggaman saat ia keluar, dan terjatuh ke dalam kub angan. Dia membungkuk, tapi aku duluan, mengambilnya se belum tangannya harus menyentuh air dingin. Aku bersandar ke truknya sementara dia terkejut da n berdiri. Bagaimana kau melakukan itu? dia masih marah. Aku menyerahkan kuncinya. Melakukan apa? Dia mengulurkan tangan, dan aku menaruh kuncinya di telapak tangannya. Aku mengambil napas panjang, me nghirup aromanya. Muncul tiba-tiba. Bella, bukan salahku jika kau tidak pernah memperh atikan sekelilingmu. dia tidak lihat? Apa dia mendengar bagaimana aku mengucapkan nam anya dengan penuh perasaan? Dia mendelik padaku, tidak menghargai gurauanku. Jantungnya berdetak lebih cepatµ Karena marah? Takut? Setelah beberapa saat ia menunduk. Kenapa kemarin kau membuat kemacetan? dia bertan ya tanpa melihat mataku. Kupikir kau seharusnya berpura-pura aku tidak ada, bukannya membuatku kesal setengah mati. Masih sangat marah. Butuh sedikit kerja keras agar bisa berbaikan dengannya. Aku ingat dengan niatku untu k jujur... aku sedikit bergurau. Apa ada yang tanyanya sebal. Iya,

147

Itu demi Tyler, bukan aku. Aku harus memberi dia k esempatan. Kauµ Kemudian aku tertawa. Aku tidak bisa menah dia terengah, terlalu marah untuk meneruskan annya, memikirkan ekspresi Bella kemarin. kata-katanya. Itu diaµekspresi yang sama. Aku menahan tawaku. Dia sudah cukup marah. Dan aku tidak pura-pura kau tidak ada, aku melanju tkan perkataanku tadi. Lebih baik menggodanya dengan s antai seperti ini. Dia tidak akan mengerti jika kutunjuka n perasaanku yang sebenarnya. Aku akan menakuti dia. A ku harus meredam perasaanku, menjaga agar tetap keliha tan cuek... Jadi kau memang berusaha membuatku kesal setenga h mati? Mengingat van Tyer tidak melakukan tugasnya? Luapan marah langsung melandaku seketika itu juga. Apa dia sungguh-sungguh mempercayai itu? Tidak rasional bagiku untuk merasa terhinaµdia tida k tahu transformasi yang terjadi tadi malam. Tapi tetap s aja aku marah. Bella, kau benar-benar sinting, Tukasku marah. Mu kanya merah. Kemudian ia berbalik dan pergi. Aku langs ung menyesal. Aku tidak berhak marah. Tunggu, aku memohon. Dia tidak berhenti, jadi aku mengejarnya. Maafkan aku, sikapku tadi itu kasar. Aku tidak bila ng itu tidak benar, µtidak masuk akal membayangkan aka n menyakiti diaµ tapi tetap saja itu kasar. Kenapa kau tidak meninggalkanku sendirian? Percayalah, aku ingin mengatakannya. Aku sudah me ncobanya. Oiya, dan juga, aku benar-benar jatuh cinta pa damu. Santai.

148

Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi kau mengahalan giku. wa. Apa kau berpkepribadian ganda? Dia bertanya. Pasti kelihatannya seperti itu. Moodku tidak jelas, begitu banyak emosi melandaku. Kau melakukannya lagi, Dia mendesah. an? Aku bertanya-tanya, jika seminggu setelah sabtu de pan... semiµ aku mendapati ekspresi syok di wajahnya, dan har Kau tahu, hari pesta dansa musim Dia memotongku, akhirnya kembali menatapku. Ap Biarkan aku menyelesaikannya. us menahan tawa lagi. a kau mencoba melucu? Ya. Dia menunggu diam. Giginya menggigit bibir bawah nya yang lembut. Pemandangan itu mengalihkan aku selama sedetik. A neh, reaksi yang ganjil menggeliat dari inti kemanusiaan ku yang terlupakan. Aku mengusirnya agar dapat terus m emainkan peranku. Kudengar kau akan pergi ke Seattle hari itu, dan ak u bertanya-tanya kalau-kalau kau butuh tumpangan? rencananya, lebih baik ikut sekalian. Dia menatapku kosong. Apa? berdua dalam Apa kau butuh tumpangan ke Seattle? Aku menawarkan. Aku menyadari, daripada hanya menanyakan Baik lah. Apa yang ingin kau tanyak sebuah kejadian terlintas di benakku dan aku terta

mobil bersamanyaµ tenggorokanku terbakar hanya dengan memikirkannya. Aku mengambil napas dalam-dalam. Bias akan. Dengan siapa? i. Denganku tentu saja, aku menjawab pelan. matanya melebar dan penuh tanya lag

149

Kenapa? Apa sebegitu mengejutkannya bahwa aku ingin mene mani dia? Pasti dia mengartikan yang terburuk dari tinda kanku yang lalu. Well, aku menjawab sesantai mungkin, Aku berenca na pergi ke Seattle dalam beberapa minggu kedepan, dan jujur saja, aku tidak yakin apa trukmu sanggup kesana. kelihatannya lebih aman menggodanya daripada menjawa b serius. Trukku baik-baik saja, terima kasih banyak atas per hatianmu, dia menyahut dengan keterkejutan yang sama. Dia mulai jalan lagi. Aku menyamakan langkahku. Dia tidak menjawab tidak, jadi kumanfaatkan celah i tu. Apa dia akan berkata tidak? Apa yang akan kulakuka n jika begitu? Tapi apa trukmu bisa sampai dengan satu kali isi be nsin? Kupikir itu bukan urusanmu, Dia menggerutu. Itu masih bukan tidak. Dan jantungnya berdetak lebi h cepat lagi, napasnya bahkan lebih cepat. Penyia-nyian sumber daya yang tidak dapat diperbah arui adalah urusan semua orang. Jujur saja, Edward, aku tidak mengerti denganmu. K upikir kau tidak mau berteman denganku. Hatiku bergetar ketika ia mengucapkan namaku. Bagaimana bisa bersikap cuek dan jujur sekaligus? Well, jauh lebih penting untuk jujur. Terutama pada saat ini. Aku bilang akan lebih baik jika kita tidak berteman, bukannya aku tidak mau jadi temanmu. Oh, terima kasih, itu menjelaskan segalanya, rkata sinis. dia be

150

Dia berhenti, dibawah atap kafetaria, dan bertemu p andang denganku lagi. Detak jantungnya tidak beraturan. Apa dia takut? Aku memilih kalimatku hati-hati. Tidak, aku tidak b isa meninggalkan dia, tapi mungkin dia cukup cerdas unt uk meninggalkan aku, sebelum terlambat. Akan lebih...bijaksana jika kau tidak berteman deng anku. melihat kedalam mata coklat-mudanya yang dalam, Tapi a kalimat itu ter aku tidak mampu mempertahankan sikap cuek-ku. ku lelah berusaha menjauh darimu, Bella. ucap dengan terlalu banyak perasaan. Napasnya terhenti, dan sedetik kemudian kembali. It u membuatku cemas. Seberapa besar aku menakuti dia? W ell, aku akan segera tahu. Maukah kau pergi ke Seattle denganku? ar sangat keras. Ya. Dia berkata ya pada ku. Kemudian kesadaran menghantamku. Seberapa besar dia harus membayar ini? Kau benar-benar harus menjauhi aku, aku memperin gatkan dia. Apa dia mendengarku? Apa dia akan berhasil melarikan diri dari ancamanku? Apa aku bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya dariku? Santai... aku meneriaki diriku sendiri. mu di kelas. Aku harus berkonsentrasi menahan diri agar jangan sampai lari dan terbang. Sampai kete aku bertany a apa adanya. Dia mengangguk. Jantungnya berdebar-deb

151

6. Golongan Darah
Aku mengikuti Bella seharian melalui pikiran orang -orang disekitarnya, aku hampir tidak sadar dengan sekel ilingku sendiri. Tapi aku menghindari Mike Newton, aku sudah tidak tahan lagi dengan khayalannya. Dan juga tidak lewat Jes sica Stanley, kesinisannya pada Bella membuatku marah, dan itu berbahaya bagi gadis picik itu. Angela Weber pil ihan yang bagus ketika matanya tersedia; dia bersahabat µkepalanya tempat yang nyaman. Tapi seringnya, para gu ru. Mereka menyediakan pandangan yang paling baik. Aku terkejut, melihat betapa seringnya dia tersandu ngµtersandung pada rekahan di trotoar, stray books, dan, paling sering, kakinya sendiri. Teman-temannya menilai Bella orang yang kikuk. Aku mempertimbangkan hal itu. Memang benar, dia sering kesulitan berdiri dengan baik. Aku ingat ia tersan dung meja pada hari pertama dulu, terpleset-pleset diata s es, tersandung ujung pintu kemarin... aneh sekali, mer eka betul. Dia orang yang kikuk. Entah kenapa ini begitu lucu untukku, tapi aku terg elak selama perjalanan dari kelas sejarah ke kelas Inggri s. Orang-orang melihatku khawatir. Bagaimana bisa aku t idak menyadari ini sebelumnya? Mungkin karena ada ses uatu yang anggun ketika ia sedang diam, caranya memega ng kepala, bentuk lengkung lehernya... Tapi, tidak ada yang anggun darinya sekarang. Mr. Varner melihat bagaimana ujung sepatunya tersandung ka rpet hingga dia jatuh ke kursinya. Aku tergelak lagi. Waktu berjalan lamban selama menunggu untuk bisa melihat dia langsung. Dan akhirnya, bel berbunyi. Aku c 152

epat-cepat menuju kafetaria untuk menempati tempatku. Aku yang pertama kali sampai. Aku memilih meja yang b iasanya kosong, dan akan tetap begitu dengan aku disini. Saat keluargaku melihat aku duduk sendirian di tem pat yang baru, mereka tidak kaget. Alice pasti telah mem beritahu mereka. Rosalie lewat tanpa menoleh. Idiot. Hubunganku dengan Rosalie tidak pernah baikµaku s udah membuatnya kesal dari pertama dulu dia mendengar ku bicara, dan selanjutnya makin parahµtapi beberapa ha ri ini kelihatannya dia jadi jauh lebih sensitif. Aku men ghela napas. Rosalie selalu menganggap segalanya tentan g dia. Jasper setengah senyum padaku saat lewat. Semoga sukses, pikirnya setengah hati. Emmet memutar bola matanya dan menggeleng-gelen g. Dia sudah gila, kasihan kau nak. Alice berseri-seri, giginya berkilauan terlalu terang . Boleh aku bicara dengan Bella sekarang?? Jangan ikut campur, dengusku dari balik napas. Wa jahnya meredup, tapi kemudian berseri lagi. Baik. Semau mu saja. Toh, saatnya akan tiba juga. Aku menghela napa s lagi. Jangan lupa tentang eksperimen biologi hari ini, dia mengingatkan. Aku mengangguk. Tidak, aku tidak lupa it u. Sambil menunggu Bella datang, aku mengikuti dia le wat mata seorang murid yang ada di belakang dia dan Jes sica. Jessica sedang sibuk berceloteh tentang pesta dans

153

a yang akan datang, tapi Bella sama sekali tidak menang gapi. Bukan berarti Jessica memberinya kesempatan. Tepat saat Bella masuk, matanya langsung tertuju ke meja tempat keluargaku duduk. Dia memperhatikan seben tar, kemudian keningnya berkerut dan matanya jatuh mem andang ke lantai. Dia tidak menyadari aku ada disini. Dia terlihat sangat...sedih. Seketika muncul dorong an kuat untuk bangun dan pergi ke sisinya, untuk menena ngkan dia. Hanya saja, aku tidak tahu apa yang bisa mem buatnya nyaman. Karena, aku sama sekali tidak tidak tah u apa yang membuatnya sedih begitu. Jessica terus meng oceh tentang pesta dansa. Apa dia sedih karena tidak bis a ikut? Kelihatannya bukan karena itu... Tapi, itu bisa diatasi, jika memang itu maunya. Dia membeli sebotol limun untuk makan siang, tidak lebih. Apa itu baik? Bukannya dia butuh lebih banyak nu trisi dari sekedar itu? Aku tidak terlalu paham pola diet manusia. Manusia betul-betul sangat rapuh! Ada jutaan maca m hal yang mesti dikhawatirkan... Edward Cullen sedang menatapmu lagi, ar Jessica bicara. hari ini? Aku berterima kasih pada Jessicaµmeskipun dia jauh lebih sewot sekarangµkarena Bella langsung mendongak dan padangannya mencari-cari hingga akhirnya bertemu d enganku. Sekarang tidak ada lagi jejak kesedihan di wajahnya . Aku membiarkan diriku berharap bahwa dia sedih karen a dipikirnya aku sudah pulang, dan harapan itu membuat ku tersenyum. Aku memberi isyarat dengan jariku untuk mengajaknya bergabung denganku. Dia terlihat kaget sek aku mendeng Kira-kira kenapa dia duduk sendirian

154

ali, dan itu membuatku tambah ingin menggodanya. Jadi, aku mengedip. Dan dia terlongo. Apa yang dia maksud kau? tanya Jessica kasar. Mungkin dia butuh bantuan dengan PR biologinya, awabnya pelan dan ragu-ragu. Mmm, aku sebaiknya kesana untuk mencari tahu apa maunya. Itu satu lagi jawaban ya. Meski lantainya rata, dia tersandung dua kali sebelu m sampai ke mejaku. Sungguh, bagaimana bisa aku melew ati hal ini sebelumnya? Sepertinya aku terlalu memperha tikan pikirannya yang tak bersuara... Apa lagi yang kule watkan? Tetap jujur, tetap santai, aku mengulang-ulang dala m hati. Dia berhenti di belakang kursi di seberangku, raguragu. Aku mengambil napas dalam- dalam, kali ini melal ui hidung, bukan lewat mulut. Rasakan apinya, pikirku kering. Kenapa kau tidak duduk denganku hari ini? padanya. Dia menarik kursi dan duduk, menatapku beberapa s aat. Dia terlihat gugup, tapi dari sikapnya, lagi-lagi itu jawaban ya. Aku menunggu dia bicara. Butuh beberapa saat, tapi akhirnya dia berkata, tidak seperti biasanya. Well... Aku bimbang. Mengingat aku toh bakal ke n eraka juga, jadi kenapa tidak sekalian saja. Ugh, kenapa aku mesti mengatakan itu? Tapi sudahl ah, paling tidak aku jujur. Dan siapa tahu dia mendengar peringatan tersembunyiku. Mungkin ia akan sadar harus bangun dan pergi secepatnya... Ini pintaku j

155

Dia tidak berdiri. Dia menatapku, menunggu, seakan kalimatku belum selesai. Kau tahu, aku sama sekali tidak mengerti apa maksu dmu, nyum. Aku tahu. Sangat sulit mengabaikan pikiran-pikiran yang mene riakiku dari balik punggungnyaµdan lagipula aku juga in gin mengganti topik. Kurasa teman-temanmu marah padaku karena telah m enculikmu. Nampaknya itu tidak membuatnya risau. Mer Ak eka akan baik-baik saja. Aku mungkin saja tidak akan mengembalikanmu. u sama sekali tidak tahu apa sedang berusaha jujur, atau sedang menggodanya. Berada di dekatnya membuatku suli t menggunakan akal sehat. Bella menelan ludah. Aku tertawa melihat ekspresinya. . Tidak. Kau tampak cemas harusnya ini tidak lucu... Harusnya dia khawatir. dia tidak pandai berbohong; sama sekali tida Terkejut, sebetulny Aku lelah b aku menjag ujarnya akhirnya.. Itu sangat melegakan. Aku terse

k menolong saat suaranya bergetar. Sudah kubilang,

a... apa yang menyebabkan ini semua? aku mengingatkan dia. erusaha menjauh darimu. Jadi aku menyerah.

a senyumku dengan susah payah. Tidak mungkin bisa berj alan seperti iniµbersikap jujur sekaligus santai di waktu bersamaan. Menyerah? dia mengulangi, heran. Iyaµmenyerah berusaha bersikap baik. ya, menyerah untuk bersikap santai. rjadi sebagaimana mestinya. Dan, tampakn Sekarang aku akan

melakukan apa yang kumau, dan membiarkan semuanya te Itu cukup jujur. Biarkan di

156

a melihat keegoisanku. Biarkan itu memperingatkan dia j uga. Lagi-lagi kau membuatku bingung. Aku cukup egois untuk merasa lega atas hal itu. Aku selalu berkata terlalu banyak kalau sedang bica ra denganmuµitu salah satu masalahnya. Jangan khawatir, Aku mengandalkan itu. Jadi, terus terang, apakah sekarang kita berteman? Aku mempertimbangkan itu sebentar. Itu belum cukup. Atau tidak, gumamnya malu. Well, kurasa kita bisa mencobanya. Apa dia pikir aku tidak menyukai dia sebesar itu? Aku tersenyum. kmu. Aku menunggu responnyaµberharap akhirnya dia men dengar peringatanku dan mengerti, tapi membayangkan k alau mungkin saja aku mati jika dia pergi. Betapa dramat isnya. Aku jadi berubah seperti kebanyakan manusia lain nya. Jantungnya berdebar lebih cepat. begitu. Ya, karena kau tidak mendengarkan. nnya dengan bersungguh- sungguh. iku. Ah, tapi apa aku akan tetap tinggal diam, jika dia m encobanya? Aku mengataka Aku masih menunggu Kau sering bilang Tapi kuperingatkan kau, aku bukan teman yang baik untu Teman... aku mengulangi. Aku tidak terlalu menyukai kedengarannya. Masalah yang ja Aku tak men uh lebih sederhana dibanding masalah lainnya. dia meyakinkan aku. gerti satupun ucapanmu. Bagus. Maka dia akan tinggal.

kau mempercayainya. Kalau pintar, kau akan menghindar

157

Matanya menyipit. ualitasku cukup jelas.

Kurasa penilaianmu atas intelekt

Aku kurang yakin apa maksudnya, tapi aku tersenyu m minta maaf, menebak mungkin aku telah menyinggungn ya secara tidak sengaja. Jadi, katanya pelan. Selama aku adalah...orang yan g tidak pintar, kita akan berteman? Kedengarannya masuk akal. Dia menunduk, menatap lekat-lekat botol limun di t angannya. Rasa penasaran itu kembali menyiksaku. Apa yang sedang kau pikirkan? Rasanya lega akhirn ya bisa mengucapkan pertanyaan itu keras-keras. Kami bertemu pandang, dan napasnya bertambah cep at sementara pipinya merona merah muda. Aku menarik n apas, merasakannya di udara. Aku sedang mencoba menebak siapa sebenarnya kau ini. Aku menahan senyum di wajahku, mengunci mimikku seperti itu, sementara panik merayapi tubuhku. Tentu saja ia sedang memikirkan hal itu. Dia tidak bodoh. Tidak mungkin berharap dia tidak menyadari sesu atu yang ada di depan matanya. Sudah menemukan sesuatu? ungkin. Tidak terlalu. akunya. Apa teorimu? Aku terkekeh lega, Aku bertanya sesantai m

Tidak mungkin lebih buruk dari yang sebenarnya, ti dak perduli apapun dugaannya. Pipinya jadi merah terang , dan ia tidak mengatakan apa-apa. Aku bisa merasakan k ehangatan dari rona pipinya di udara. Aku coba menggunakan nada membujuk. Itu selalu b erhasil dengan manusia normal.

158

Maukah kau memberitahuku? Aku tersenyum menyem angati. Dia menggeleng. Terlalu memalukan. Ugh... Tidak tahu adalah yang paling buruk dari apa pun. Kenapa tebakannya membuat dia malu? Aku tidak ta han tidak tahu begini. Itu sangat memusingkan, kau tahu. Keluhanku sepertinya berefek sesuatu padanya. Mata nya berkilat dan kata-katanya mengalir lebih cepat dari biasanya. Tidak, aku tidak bisa membayangkan kenapa itu har us memusingkanµhanya karena seseorang menolak mencer itakan apa yang mereka pikirkan, meskipun mereka terus menerus melontarkan komentar misterius untuk membuat mu terjaga semalaman dan memikirkan apa sebenarnya m aksudnya...nah, kenapa itu memusingkan? Aku mengerutkan dahi, kesal karena menyadari dia b etul. Aku tidak adil. Dia melanjutkan. Terlebih lagi, katakan saja orang itu juga melakukan hal-hal anehµ mulai dari menyelamat kan nyawamu dari keadaan mustahil pada suatu hari, sam pai memperlakukanmu seperti orang asing keesokan harin ya, dan dia tak pernah menjelaskan apa-apa, bahkan sete lah berjanji akan melakukannya. Itu, juga, akan sangat ti dak memusingkan. Itu ucapan dia yang paling panjang yang pernah kud engar. Dan itu menambah daftar kepribadiannya yang kub uat. Kau ini pemarah, ya? Aku tidak suka standar ganda. Tentu saja ia punya cukup alasan untuk marah. Aku menatap Bella, bertanya-tanya bagaimana mung kin aku bisa melakukan sesuatu yang benar buat dia, sam

159

pai kemudian teriakan pikiran Mike mengalihkan perhati anku. Dia sangat marah hingga membuatku tertawa geli. Apa? Tanyanya. Pacarmu sepertinya mengira aku bersikap tidak sopa n padamuµdia sedang mempertimbangkan untuk melerai p ertengkaran kita atau tidak. Aku sangat ingin melihatny tukasnya de a melakukan itu. Aku tertawa lagi. Aku tidak tahu siapa yang kau maksud, ngan suara dingin. ke. Tidak. Aku pernah bilang, kebanyakan orang mudah ditebak. Kecuali aku, tentu saja. Ya. Kecuali kau. Apa dia harus menjadi pengecualia n atas segalanya? Bukannya lebih adilµmengingat segala yang mesti kuahadapi saat iniµjika paling tidak aku bisa mendengar isi pikirannya? Apa permintaan itu terlalu ba nyak? Aku bertanya-tanya, kenapa bisa begitu? Aku menatap kedalam matanya, mencoba lagi... Dia membuang muka. Dia membuka botol limunnya d an meminumnya. Pandangannya ke meja. Apa kau tidak lapar? Tanyaku. Tidak. Kau? Tidak, aku tidak lapar, nggu. Boleh minta tolong? Matanya menatapku lagi. Apa yang ia inginkan dariku? Apa ia akan menuntut kebenaran yang tidak bisa kuberikanµkebenaran yang kuh arap tidak akan pernah dia ketahui? aku jelas tidak lapar. Dia menatap ke meja. Bibirnya merengut. Aku menu Dia melihat ke meja kosong diantara kami. Lagi pula, aku yakin kau salah.

Aku sangat menikmati mendengar dia menyangkal Mi

160

Tertantung apa yang kau inginkan? Tidak susah kok, lagi penasaran. Kira-kira... Dia menatap ke botol limun, mengitari Maukah kau memberitahu mulut botolnya dengan jarinya, Dia berjanji. Aku menunggu, lagi-

ku dulu sebelum lain kali memutuskan untuk mengabaika n aku, demi kebaikanku sendiri? Jadi aku bisa siap-siap. Dia ingin diperingatkan dulu? Berarti, diabaikan ole hku adalah sesuatu yang tidak menyenangkan... Aku ters enyum. Kedengarannya adil. Terima kasih, kelegaanku sendiri. Lalu apa aku juga boleh minta satu jawaban sebagai gantinya? tanyaku penuh harap. Satu, dia mengijinkan. Jangan yang itu. Ceritakan padaku satu teori. Wajahnya merona lagi. njawab satu. Sedang kau sendiri melanggar janjimu. t balik. Dan itu tepat mengenaiku. Satu teori sajaµaku tidak akan tertawa. Pasti kau bakal tertawa. cu tentang itu. Sekali lagi aku mencoba membujuknya. Aku menatap lekat-lekat kedalam matanyaµsesuatu yang mudah dilaku kan, dengan matanya yang begitu dalamµdan berbisik, ease? Dia mengedip, dan wajahnya berubah kosong. Well, itu bukan reaksi yang kuharapkan. Mmm, apa? tanyanya, terlihat pusing. Pl Dia kelihatannya sangat ya kin, meski aku tidak bisa membayangkan sesuatu yang lu Dia mendeba Kau tidak memberi syarat, kau sudah janji untuk me jawabnya sambil mendongak menatapk u. Wajahnya begitu lega hingga aku ingin tertawa karena

161

Ada apa dengan dia? Tapi aku tidak akan menyerah. Ceritakan satu teori, sedikit saja. nku. Terkejut dan puas, ternyata berhasil... Ehh, well, digigit laba-laba yang mengandung radio aktif? Cerita komik? Pantas saja dia pikir aku bakal tert awa. Itu tidak terlalu kreatif. menyembunyikan kelegaanku. Ya maaf, cuma itu yang kupunya. Dia agak tersinggung. Dan itu membuatku lebih sena ng. Aku bisa menggodanya lagi. Mendekatipun tidak. Tidak ada laba-laba? Tidak ada. Tidak ada radioaktif? Tidak. Sial, keluhnya. Kryptonite juga tidak melemahkanku. K Aku cepat-cepat mengalihkanµsebelum dia bertanya tentang gigitan. ero. Kau seharusnya tidak boleh ketawa, ingat? enyum dan menutup mulut. Nanti juga aku tahu. Dan ketika dia tahu, ia akan lari. Kuharap kau tidak mencobanya. Nnada menggodaku s epenuhnya lenyap. Karena...? Aku behutang kejujuran padanya. Tetap saja, aku be rusaha tersenyum, agar tidak tidak kedengaran menganca Aku ters emudian aku tertawa, karena dia pikir aku adalah superh Aku mencibirnya, berusaha Aku memohon de ngan suara halus, memperhatankan matanya dalam tatapa

162

m.

Bagaimana kalau aku bukan seorang superhero? Bagai Matanya melebar dan bibirnya sedikit membuka. Oh,

mana kalau aku orang jahatnya? ujarnya. Dan sedetik kemudian, Aku mengerti.

Dia akhirnya mendengar peringatanku. Benarkah? tanyaku, menyembunyikan penderitaanku. Kau berbahaya? berdetak kian cepat. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Apa ini kesemp atan terakhirku bersamanya? Apa dia akan segera lari? M asih sempatkah untuk mengatakan bahwa aku mencintai d ia sebelum ia pergi? Atau itu akan lebih membikin dia ta kut? Tapi tidak jahat, bisiknya sambil menggeleng. Tida Tidak, a k terpancar ketakutan dari matanya yang jernih. ku tidak percaya kau jahat. Aku menarik napas. Kau salah. Tentu saja aku jahat. Bukannya sekarang aku sedang bersorak gembira, karena dia salah menilaiku? Jika aku orang baik, aku akan menjauh darinya. Aku mengulurkan tangan ke meja, menjangkau tutup botol limunnya sebagai alasan. Dia tidak bereaksi denga n gerakan tiba-tiba ini. Dia benar-benar tidak takut pada ku. Belum. Aku memutar tutup botolnya seperti gasing, memper hatikan itu, bukannya dia. Pikiranku buntu. Lari, Bella, lari. Aku tidak sanggup mengucapkanny a keras-keras. Namun tiba-tiba dia terloncat. t, Kita bakal terlamba ujarnya saat aku mulai khawatir µentah bagaimanaµia Aku tidak ikut pelajaran hari ini. Kenapa? Napasnya memburu, dan jantungnya

bisa mendengar peringatan di kepalaku.

163

Karena aku tidak mau membunuhmu. mbolos itu menyehatkan.

Sekali-kali me

Lebih tepatnya, jauh lebih baik bagi manusia jika se orang vampir membolos di hari ketika darah manusia tum pah. Hari ini Mr. Banner akan menguji golongan darah. T adi pagi Alice sudah membolos duluan. Well, aku akan masuk, Itu tidak mengejutkan. Dia orang yang bertanggung jawabµselalu melakukan sesuatu yang benar. Aku, kebalikannya. Kalau begitu sampai ketemu lagi. jawabku sesantai mungkin sambil melihat ke bawah, ke tutup botol yang k uputar. Dan, ngomong-ngomong, aku memujamu...dalam c ara yang menakutkan dan membahayakan. Dia ragu-ragu, dan aku sempat berharap ia akan me milih untuk tetap tinggal bersamaku. Tapi bel berbunyi d an ia cepat-cepat pergi. Kutunggu dia sampai keluar, kemudian kusimpan tut up botol tadi ke sakuµsebuah kenang-kenangan dari pemb icaraan yang sangat menyenangkan iniµdan berjalan men embus hujan ke mobil. Aku menyalakan CD musik kesukaanku, DebussyµCD yang sama dengan yang kudengarkan di hari pertama itu. Tapi aku tidak mendengarkannya terlalu lama. Alunan na da yang lain mengalir di kepalaku, penggalan lagu yang menyenangkan dan menggugahku. Jadi, kumatikan CDnya dan ganti mendengarkan musik di kepalaku, memainkan p enggalannya sampai berhasil mengembangkannya jadi sat u harmonisasi lengkap. Secara naluri, jari-jariku menari di udara memainkan tuts-tuts piano kasat mata. Komposisi lagunya hampir lengkap ketika aku menan gkap gelombang kerisauan-batin yang mendalam. Aku mencari sumber suaranya.

164

Apa dia akan pingsan? Apa yang mesti kulakukan? M ike membatin panik. Beberapa ratus meter dari tempatku, Mike Newton m eletakan tubuh lunglai Bella ke trotoar. Dia merosot tak berdaya ke semen dingin. Matanya tertutup, kulitnya sep ucat mayat. Aku hampir menendang pintu mobilku. Bella?! Teriakku. Tidak ada perubahan di wajah pucatnya saat aku me neriakan namanya. Sekujur tubuhku mendingin melebihi es. Dengan marah aku menyelidiki pikiran Mike, yang t erkejut sekaligus jengkel melihatku. Dan dia hanya memi kirkan kemarahannya hingga aku tidak tahu apa yang terj adi pada Bella. Jika dia sampai menyakiti Bella, aku aka n membinasakannya. Apa yang terjadiµapa dia sakit? Aku menuntut jawa ban sambil berusaha fokus pada pikiran si bocah. Rasany a menjengkelkan harus berjalan dengan langkah manusia. Harusnya tadi aku datang diam-diam. Kemudian, aku mendengar detak jantung dan napasn ya yang datar. Saat aku mendekat, dia memejamkan mata nya lebih rapat. Itu meringankan kepanikanku. Aku melihat sekelebatan ingatan di pikiran Mike, se kelumit gambaran dari kelas Biologi. Kepala Bella terku lai di meja kami berdua, kulit gadingnya berubah hijau. Setetes cairan kental merah di kertas putih... Tes golongan darah. Aku langsung berhenti di tempat, menahan napasku. Aromanya aku sudah biasa, tapi darah segar adalah sama sekali lain.

165

Kurasa dia pingsan, us marah. dak menusuk jarinya.

ujar Mike dengan cemas sekalig

Aku tidak tahu apa yang terjadi, dia bahkan ti

Kelegaan langsung melandaku, aku bernapas lagi, m erasakan udara disekelilingku. Ah, aku bisa mencium set itik darah dari bekas tusukan Mike Newton. Di waktu lal u, mungkin itu akan mengundang seleraku. Aku berlutut disamping Bella sementara Mike menun ggu di dekatku, marah karena campur tanganku. Bella. Kau bisa mendengarku? Tidak, erangnya. Pergi sana. Kelegaan itu begitu luar biasa hingga aku tertawa. Dia baik-baik saja. Aku mau membawanya ke UKS, ia tak bisa berjalan lebih jauh lagi. Aku yang akan mengantarnya. Kau bisa kembali ke k elas, kataku mengusirnya. Mike menggertakan gigi. Aku malas berdebat dengan bocah satu ini. Berdebar-debar dan takut, setengah bersyukur dan c emas, mengingat bahayanya jika menyentuh dia, dengan l embut aku mengangkat Bella dan membopongnya di lenga nku. Aku menyentuh hanya bajunya, menjaga jarak tubuh nya sejauh mungkin. Aku melangkah cepat- cepat untuk menyelamatkan diaµmenjauh dariku, dengan kata lain. Matanya terbuka, bingung. Turunkan aku, emahannya. Aku hampir tidak mendengar protes Mike di belakan gku. tuntutnya dengan suara lemahµmalu, ditebak dari ekspresinya. Dia tidak suka menunjukan kel Tida k. Aku yang seharusnya melakukannya. sergah Mike. Tapi d

166

Kau tampak kacau, perut yang lemah. Turunkan aku,

kataku sambil menyeringai karen

a tidak ada yang salah padanya selain kepala pusing dan ujarnya. Bibirnya putih. Bisakah leb

Jadi kau pingsan karena melihat darah? ya. Dan bahkan bukan darahmu sendiri, an. Seringaiku makin lebar.

ih ironis lagi? Dia menutup mata dan mengatupkan bibirn aku menambahk

Kami sampai di depan TU. Pintunya sedikit terbuka. Aku membukanya dengan kaki agar bisa lewat. Ms. Cope terloncat kaget. Oh, ya ampun, dia tereng ah saat memeriksa gadis kelabu di tanganku ini. Dia pingsan di kelas biologi, aku menerangkan, seb elum imajinasinya terlalu jauh. Ms. Cope buru-buru mem buka pintu ke ruang UKS. Mata Bella terbuka lagi, meng awasinya. Aku mendengar pikiran takjub Mrs. Hammond, juru rawat keibuan yang ada di UKS, saat aku masuk dan membaringkan Bella ke sebuah tempat tidur yang sudah l usuh. Begitu Bella tidak lagi di tanganku, aku langsung menjauh ke tembok. Tubuhku terlalu bersemangat, terlal u berhasrat. Otot-ototku tegang. Dan liurku mengalir der as. Dia sangat hangat dan harum. Di hanya sedikit lemah, ond. ologi. Dia mengangguk mengerti sekarang. yang pingsan. tu itu. Berbaringlah sebentar, sayang. ata menenangkan. Aku tahu, jawab Bella. Mrs. Hammond berk Nanti juga sembuh. Selalu saja ada Aku menahan tawa. Pastilah Bella yang sa aku meyakinkan Mrs. Hamm Mereka sedang mengetes golongan darah di kelas Bi

Apa ini sering terjadi? sang perawat bertanya.

167

Kadang-kadang,

Bella mengakui. K

Aku berusaha menyamarkan tawaku dengan batuk. Itu mengalihkan perhatian Mrs. Hammond padaku. au boleh kembali ke kelas sekarang. Aku menatap langsung ke matanya dan berbohong de ngan keyakinan sempurna. ngangguk. Itu berhasil dengan baik padanya. Kenapa kalau den gan Bella jadi sulit? Aku akan mengambilkan kompres untukmu, sayang. Mrs. Hammond merasa tidak nyaman setelah menatap mat akuµsebagaimana manusia seharusnyaµdan pergi keluar r uangan. Kau betul. Bella mengerang, menutup matanya. Yang dia maksud apa? Dan pikiranku langsung meng arah ke kesimpulan yang terburuk: dia menerima peringat anku. Biasanya begitu. ng apa? Membolos itu sehat, desahnya. Ah, lega lagi. Kemudian dia terdiam, hanya bernapas pelan-pelan. Bibirnya mulai berubah merah muda. Komposisi bibirnya terlihat tidak imbang, bibir bawahnya sedikit lebih penu h dibanding bibir atasnya. Dan memandangi bibirnya me mbuatku merasa aneh. Membuatku ingin mendekat, yang mana bukan ide yang bagus. Tadi kau sempat membuatku takut. Aku coba memul Kuki ai pembicaraan agar bisa mendengar suaranya lagi. tan. Ha ha, ucapnya tidak terhibur. Aku berusaha kedengaran bangga; Tapi kali ini tenta sepertinya tidak terlalu meyakinkan. Aku disuruh menemaninya. Hmmm... Apa iya... Ah sudahlah. Mrs. Hammond me

ra Newton sedang menyeret mayatmu untuk dikubur di hu

168

Jujur sajaµaku pernah melihat mayat dengan kondisi lebih baik. uhmu. marah. Aku langsung berang mendengarnya, namun cepat-ce pat kutahan. Kepeduliannya pasti lebih karena kasihan. Dia baik hati. Cuma itu. Dia sangat membenciku. ang begitu. Kau tidak mungkin tahu pasti. Aku lihat wajahnya, makanya aku tahu. Itu mungkin ada benarnya, dengan membaca wajahnya cukup untuk me narik kesimpulan seperti itu. Segala latihan selama ini d engan Bella menajamkan kemampuanku membaca ekspresi manusia. Bagaimana kau bisa menemukanku? Kukira kau memb olos. Wajahnya terlihat lebih baikµwarna kehijauan tela Aku sedang di dalam mobil, mendengarkan CD. Ekspresinya sedikit berubah, seakan entah bagaiman a jawaban biasaku membuatnya terkejut. Dia menutup matanya lagi ketika Mrs. Hammond kem bali dengan membawa kompresan es. Pakai ini, sayang, di kening Bella. perawat itu menaruh kompresnya jawab Bella. Ia bangkit Kau kelihatan jauh lebih baik. h lenyap dari balik kulitnya yang bening. Aku senang jika Mike mem Itu betul. Hampir saja aku membalas pembun desahnya. Berani taruhan dia pasti Dan aku memang hampir begitu.

Kasihan Mike,

Kurasa aku baik-baik saja,

duduk sembari menyingkirkan kompresannya. Bukan keju tan. Dia tidak suka dapat perhatian. Tangan keriput Mrs. Hammond menahan Bella agar k embali berbaring, tapi kemudian Ms. Cope membuka pint u dan masuk. Bersama kedatangannya tercium juga bau d arah segar, cuma bau ringan.

169

Di belakang Ms. Cope, Mike Newton masih marah se kali, berharap bocah yang baru saja ia tuntun adalah gad is yang ada disini bersamaku. Kita kedatangan satu lagi, ngin cepat-cepat menyingkir. Ini, katanya cepat, mengembalikan kompresnya ke Aku tidak memerlukannya. Mrs. Hammond. ujar Ms. Cope. Bella buru-buru melompat turun dari tempat tidur, i

Mike menggerutu saat dia setengah menyeret Lee St evens melewati pintu. Darah masih menetes dari tangan Lee yang sedang memegangi wajahnya, menetes turun ke lengannya. Oh, tidak. Ini tandaku untuk pergiµdan kelihatanny Ayo keluar dari sini, Bella. a buat Bella juga.

Dia menatapku dengan pandangan bingung. Percayalahµayo. Dia memutar dan menangkap pintunya sebelum tertut up, buru-buru keluar dari UKS. Aku mengikuti tepat di b elakangnya. Kibasan rambutnya sempat membelai tangank u... Dia menoleh melihatku, masih dengan mata lebarny a. Kau benar-benar menuruti perkataanku. tama. Hidung mungilnya mengerut. ah. Aku menatapnya heran. darah. Well, aku bisaµitulah yang membuatku mual. Baunya seperti karat...dan garam. Wajahku membeku, melongo. Apa dia betul-betul manusia? Dia terlihat seperti m anusia. Dia terasa lembut bagi manusia. Baunya seperti manusiaµwell, jauh lebih baik sebetulnya. Tingkahnya se Manusia tidak bisa mencium Ini yang per Aku mencium bau dar

170

perti manusia...kira-kira begitu. Tapi dia tidak berpikir layaknya manusia, atau bereaksi seperti itu. Memang, apa lagi pilihannya selain manusia? Kenapa? tanyanya penasaran. Bukan apa-apa. Kemudian Mike Newton datang menyela, masuk deng an pikiran marah besar. Kau kelihatan lebih baik, ujarnya kasar pada Bella. Tanganku mengejang, ingin memberinya pelajaran. A ku harus hati-hati, atau aku akan betul-betul membunuh bocah menjengkelkan ini. Jauhkan tanganmu, ng bicara padaku. Sudah tidak berdarah lagi, han marah. agi. Itu bagus sekali. Kupikir aku akan kehilangan satu j am penuh bersamanya, tapi justru dapat tambahan waktu. Aku jadi merasa tamak, orang kikir yang mendambakan s etiap tambahan waktu. Kurasa betul... kan ini? Ke pantai? Ah, mereka punya rencana. Aku membeku ditempat k arena marah. Tenang, itu cuma tamasya bersama. Aku sud ah melihat rencana ini di pikiran murid-murid lainnya. B ukan cuma mereka berdua. Tapi aku masih juga geram. A ku menyandar ke komputer, tidak bergerak, berusaha men gendalikan diriku. Tentu saja, aku kan sudah bilang akan ikut, ya pada Mike. Jadi dia berkata ya padanya juga. Cemburu langsung membakarku, lebih menyakitkan d aripada haus. jawabn gumam mike. Jadi kau akan pergi pe jawab Mike sambil mena Apa kau akan kembali ke kelas? katanya. Sesaat kupikir dia seda

Apa kau bercanda? Aku hanya akan kembali kesini l

171

Bukan, itu cuma tamasya bersama, aku berusaha mey akinkan diriku. Dia hanya menghabiskan waktu bersama t eman-temannya. Tidak lebih. Kita akan kumpul di toko ayahku jam sepuluh. si Cullen TIDAK diundang. Aku akan datang. Kalau begitu sampai ketemu lagi di gimnasium. Sampai nanti, balasnya. Mike berjalan ogah-ogahan kembali ke kelas. Pikira nnya penuh kemarahan. Apa yang Bella lihat dari orang a neh itu? Tentu saja dia memang kaya. Menurut perempua n- perempuan dia itu keren, tapi menurutku tidak. Terlal u...terlalu sempurna. Berani taruhan ayahnya pasti melak ukan eksperimen operasi plastik pada mereka semua. Itul ah kenapa semuanya putih sekali dan cantik. Itu tidak wa jar. Dan tatapannya agak...menakutkan. Kadang, saat dia menatapku, berani sumpah ia seperti ingin membunuhku.. . dasar orang aneh... Mike tidak sepenuhnya keliru. Gimnasium, Bella mengulang pelan. Mengerang. Aku menatapnya, dan ia terlihat sedih akan suatu la gi. Aku tidak yakin apa penyebabnya, tapi jelas dia tida k ingin pergi ke kelas berikutnya bersama Mike. Dan aku sangat setuju pada hal itu. Aku mendekat ke sisinya, lalu menunduk ke wajahny a, merasakan hangat kulitnya menjalar ke bibirku. Aku ti dak berani untuk bernapas. Aku bisa mengaturnya, bisikku pada dia. Duduklah dan perlihatkan wajah pucatmu. Dia melakukan apa yang kuminta, duduk di salah sat u kursi lipat dan menyandarkan badannya ke tembok, sem entara, di belakangku, Ms. Cope keluar dari dalam UKS menuju mejanya. Dengan mata yang tertutup, Bella kelih Dan

172

atan seperti pingsan lagi. Rona wajahnya belum kembali seperti semula. Aku menoleh ke Ms. Cope. Semoga Bella memperhati kan, pikirku sinis. Seperti inilah manusia semestinya ber eaksi. Ms. Cope? juk lagi. Bulu matanya mengedip-ngedip tak sadar, dan jantun gnya berdetak cepat. Terlalu muda, kendalikan dirimu! Ya? Ini menarik. Ketika detak jantung Shelly Cope berta mbah cepat, itu karena dia mendapati diriku menarik sec ara fisik, bukan karena takut. Aku sudah terbiasa mengh adapi reaksi seperti itu dari para manusia-perempuan...t api aku tidak pernah mempertimbangkan penjelasan itu k etika detak jantung Bella memburu. Aku cukup suka itu. Terlalu suka, sebetulnya. Aku t ersenyum, dan napas Ms. Cope makin memburu. Setelah ini Bella ada pelajaran olahraga, dan sepert inya kondisinya belum pulih benar. Sebetulnya saya berp ikir untuk mengantarnya pulang sekarang. Apa saya bisa minta tolong dimintakan ijin buatnya? Aku menatap keda lam matanya yang dangkal, menikmati bagaimana hal ini mengalutkan pikirannya. Jangan-jangan, mungkinkah Bel la...? Mrs. Cope harus menelan ludah dulu sebelum menja wab. Apa kau butuh ijin juga, Edward? Tidak, Mrs. Goff tidak akan keberatan. Aku tidak terlalu memperhatikannya sekarang. Aku s edang mempertimbangkan kemungkinan terbaru ini. Hmmm...Aku ingin percaya bahwa Bella mendapatiku menarik seperti menurut manusia lainnya, tapi kapan Bel kataku dengan menggunakan suara membu

173

la pernah berpikiran sama seperti manusia lainnya? Aku tidak boleh terlalu berharap. Oke, kalau begitu semuanya beres. Kau merasa lebih baik, Bella? bihkan. Apa kau bisa berjalan, atau perlu kugendong lagi? alanµdia tidak mau terlihat lemah. Aku jalan saja, jawabnya. Betul lagi. Aku mulai lebih baik dalam hal ini. Dia bangkit berdiri, ragu-ragu sebentar seperti seda ng mengecek keseimbangannya. Aku menahan pintu untuk nya, dan kami berjalan menembus hujan. Aku memperhatikan bagaimana dia menengadahkan w ajahnya menghadap rintik-rintik hujan dengan mata tertu tup, sebaris senyum di bibirnya. Apa yang sedang ia piki rkan? Tindakannya terlihat ganjil, dan aku langsung men yadari penyebabnya. Perempuan normal tidak akan menen tang hujan seperti itu; mereka biasanya memakai makeu p, bahkan disini di kota hujan seperti Forks. Bella tidak pernah memakai makeup, dan memang se baiknya tidak. Industri kosmetik memperoleh jutaan dola r tiap tahunnya dari para wanita yang berusaha mendapat kan kulit seperti dia. Terima kasih. Dia tersenyum padaku. Lumayan juga bisa bolos kelas olahraga. Aku memandang ke seberang kampus, bertanya-tanya bagaimana caranya memperpanjang waktu bersamanya. engan senang hati, gar berharap. Ah, harapannya menyenangkan. Dia ingin aku yang b ersamanya, bukan Mike Newton. Dan aku ingin berkata y jawabku. Dia terden Jadi apa kau ikut? Maksudku, sabtu ini? D t anyaku geli melihat aktingnya. Dia pasti lebih memilih j Bella mengangguk lemahµsedikit dilebih-le

174

a. Tapi ada banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Sala h satunya, matahari akan bersinar cerah sabtu ini... Sebenarnya kalian akan pergi kemana? Aku berusah a terdengar acuh, seakan tidak terlalu berarti. Mike sem pat menyebut pantai. Tidak mungkin menghindari sinar m atahari disana. La Push, ke First Beach. Sial. Well, kalau begitu mustahil. Bagaimanapun, Emmet bakal marah jika aku membat alkan rencana kami. Aku meliriknya, tersenyum kecut. ku rasa aku tidak diundang. Dia mendesah, lebih dulu menyerah. mengundangmu. Sudahlah, sebaiknya kita jangan terlalu mendesak M ike lagi minggu ini. Kita tidak ingin membuat dia marah, kan? Aku sebetulnya memikirkan diriku sendiri yang lep as kendali pada Mike yang malang, dan sangat menikmati bayangannya. Mike-schmike, uh. Tanpa memikirkan tindakanku, aku menangkap belak ang mantelnya. Dia tersentak berhenti. Memangnya kau mau pergi kemana? Aku hampir mar ah karena dia meninggalkanku. Aku masih belum puas be rsama dengannya. Dia tidak bisa pergi, jangan dulu. Pulang, jawabnya bingung, tidak mengerti kenapa it u membuatku kesal. Apa tadi kau tidak dengar aku berjanji mengantarmu pulang dengan selamat? Pikirmu aku akan membiarkanmu mengemudi dengan kondisi seperti ini? Aku tahu dia tid ak akan suka ituµpandanganku yang menilai dia lemah. T api aku juga butuh latihan untuk perjalanan ke Seattle. katanya lagi-lagi dengan nada penol akan. Aku tersenyum lebar. Kemudian dia berjalan menja Aku baru saja A

175

Untuk melihat, apa aku sanggup menahan diri saat berdu a saja dengannya di ruang tertutup. Perjalanan yang ini cukup singkat untuk latihan. Kondisi seperti apa? protesnya. ana? Akan kuminta Alice mengantarnya sepulang sekolah nanti. Dengan hati-hati aku menariknya mundur ke mobil ku. Aku mesti hati-hati karena berjalan maju saja sudah cukup sulit buatnya. Lepaskan! Protesnya sambil memutar badan dan ham pir tersandung. Aku mengulurkan satu tangan, tapi dia s udah berhasil menyeimbangkan diri sebelum pertolongan ku dibutuhkan. Tidak seharusnya aku mencari-cari alasan untuk menyentuhnya. Itu membuatku teringat pada reaksi Ms. Cope, tapi a ku menundanya untuk kupikirkan nanti. Ada banyak hal y ang mesti dipertimbangkan menyangkut soal itu. Kulepaskan dia sesampainya di samping mobil, dan i a tersandung pintunya. Aku harusnya lebih hati-hati lagi melihat keseimbangannya yang seperti itu... Kau kasar sekali! Pintunya tidak dikunci. Aku masuk ke sisi pengemudi dan menyalakan mesin nya. Dia tetap ngotot berdiri diluar meski hujan mulai d eras dan aku tahu dia tidak suka dingin dan basah. Ramb ut tebalnya nya mulai basah kuyup, lebih gelap hingga n yaris hitam. Aku sangat mampu menyetir sendiri ke rumah! Tentu saja dia bisaµhanya saja aku yang tidak sangg up membiarkannya pergi. Aku menurunkan jendela dan mencondongkan badan kearahnya. Masuklah, Bella. Matanya menyipit, dan teba Lalu trukku bagaim

176

kanku dia sedang menimbang-nimbang apa akan lari saja atau tidak. Aku tinggal menyeretmu lagi, yadari aku serius. Sesaat dia berdiri kaku, tapi kemudian membuka pin tu dan masuk. Air menetes-netes dari rambutnya, sepatu bootsnya mendecit basah. Ini benar-benar tidak perlu, ucapnya dingin. Sepert inya ada nada malu dibalik kejengkelannya. Aku menyalakan penghangat agar dia merasa lebih n yaman, dan menyetel musik dengan suara pelan sebagai b ackground. Aku mengemudikan mobilku keluar parkiran, sambil memperhatikan dia dari ujung mataku. Bibir bawa hnya sedikit maju dengan ekspresi keras kepala. Aku me mperhatikannya baik-baik, mempelajari bagaimana dampa knya pada perasaanku... mengingat kembali reaksi Ms. C ope... Tahu-tahu dia melihat ke arah tapeku dan tersenyu m, matanya melebar. Tidak terlalu, Clair de Lune? Tanyanya. Ibuku sering menyetel mus Aku memperhatikan Pecinta musik klasik? Kau tahu Debussy? jawabnya. ik klasikµaku cuma tahu yang kusuka. Ini juga salah satu kesukaanku. hujan di luar, mempertimbangkan hal itu. Ternyata aku p unya kesamaan dengan gadis ini. Sebelumnya aku berpiki r bahwa kami berdua bertolak belakang dalam segala hal. Dia terlihat lebih santai, memperhatikan hujan dilua r sepertiku. Aku menggunakan kesempatan ini untuk bere ksperimen dengan bernapas. Aku menarik napas hati-hati lewat hidung. Pekat. Kucengkram roda kemudi lebih kencang. Hujan mem buat aromanya lebih harum. Aku tidak pernah berpikir bi kataku sungguh-sungg uh, menikmati ekspresi tersiksa di wajahnya saat ia men

177

sa seperti itu. Sial, tiba-tiba jadi membayangkan bagaim ana rasanya. Aku berusaha menelan rasa terbakar di teng gorokanku, memikirkan hal lain. Ibumu seperti apa? tapi lebih cantik. an. Aku bertanya untuk mengalihkan Dia sangat mirip denganku, dia melanjutk perhatian. Bella tersenyum.

Aku ragu itu.

Terlalu banyak Charlie dalam diriku, Aku juga ragu itu.

Ibuku punya sifat lebih terbuka, dan lebih berani. Dia tidak terlalu bertanggung jawab dan agak eksent

rik, dan dia juru masak yang sangat payah. Dia teman ba ikku. Suaranya berubah sayu; keningnya mengerut.

Lagi, dia terdengar lebih seperti orangtua ketimban g anak. Aku berhenti di depan rumahnya, terlambat untuk kh awatir darimana mana aku bisa tahu rumahnya. Tidak, ini tidak akan terlalu mencurigakan di kota kecil seperti in i, apalagi dengan ayahnya yang kepala polisi... Berapa umurmu, Bella? Dia pasti lebih tua dari pen ampilannya. Mungkin dia terlambat masuk sekolah, atau pernah tinggal kelas...kalau itu sepertinya tidak. Tujuh belas. Kau tidak kelihatan seperti berumur tujuh belas. a tertawa. Kenapa? Ibuku selalu bilang aku terlahir dengan umur 35 tah un dan makin mendekati paruh baya tiap tahunnya. ertawa lagi, dan mendesah. i orang dewasanya. Itu menjelaskan beberapa hal. Aku bisa melihatnya s ekarang...bagaimana seorang ibu yang tidak terlalu berta nggung jawab menjelaskan kedewasaannya Bella. Dia har Dia t Well, harus ada yang menjad Di

178

us dewasa lebih cepat, untuk menjadi pengawas. Itulah k enapa dia tidak suka diurusµdia merasa itu tugasnya. Kau sendiri tidak kelihatan seperti murid SMA, kat anya, membuyarkan lamunanku. Aku menyeringai. Dari s egala yang kutangkap tentang dia, dia menangkap lebih b anyak tentang diriku. Aku buru-buru mengganti topik. Jadi kenapa ibumu menikah dengan Phil? Dia ragu sejenak sebelum menjawab. Ibuku...dia san gat muda untuk umurnya. Kurasa Phil membuatnya meras a lebih muda lagi. Dalam beberapa hal, ibuku tergila-gil a padanya. Dia menggeleng dengan tatapan senyum. Apa kau setuju? Apa itu penting? Aku ingin dia bahagia...dan Phill l ah yang ia mau. Ketidak egoisan tanggapannya mungkin akan mengej utkan aku, kecuali bahwa hal itu sangat cocok dengan ke pribadiannya yang telah kupelajari. Kau baik sekali...aku jadi berpikir... Apa? Apa dia juga akan bersikap sama denganmu? Tidak p erduli siapapun pilihanmu? Itu pertanyaan konyol, dan aku tidak bisa membuat suaraku tetap santai saat menanyakannya. Sungguh bodoh mempertimbangkan ada orang tua yang akan merestui ana knya denganku. Lebih bodoh lagi berpikir bahwa Bella m au memilihku. Aku...aku rasa begitu, jawabnya terbata-bata, mung lan kin karena tatapanku. Takut... Atau tertarik? Tapi dia lah yang jadi orangtua. Jadi agak beda, jutnya. Aku tersenyum kecut. a terlalu menyeramkan. Berarti dilarang jika orangny

179

Dia menyeringai padaku. n?

Apa maksudmu menyeramk

an? Banyak tindikan di wajah dan tatoo di sekujur bada Kurasa itu salah satu definisinya. h dari mengerikan kalau buatku. Lantas apa definnisimu? Dia selalu menanyakan pertanyaan yang keliru. Atau lebih bisa dibilang pertanyaan yang tepat. Sesuatu yang tidak ingin kujawab, dalam kondisi apapun. Menurutmu apa aku bisa menyeramkan? anya sambil berusaha tersenyum. Dia mempertimbangkan dulu sebelum menjawabnya d engan nada serius. Hmmm...kupikir kau bisa, kalau mau. Aku juga serius. k. Aku jadi lebih mudah tersenyum. Aku tidak berpikir dia sepenuhnya jujur, tapi dia juga tidak sepenuhnya boh ong. Paling tidak dia tidak terlalu takut hingga ingin pe rgi. Aku bertanya-tanya bagaimana perasaannya jika kub eritahu bahwa dia sedang bicara dengan seorang vampir. Aku buru-buru membuang bayangan itu. Jadi, apakah sekarang kau mau cerita tentang keluar gamu? Pasti jauh lebih menarik daripada ceritaku. Lebih menakutkan, paling tidak. Apa yang ingin kau ketahui? Aku bertanya waspada. Keluarga Cullen mengadopsimu? Ya. Dia bimbang sebentar, kemudian bicara dengan suar a pelan. Apa yang terjadi dengan orangtuamu? Ini tidak terlalu sulit; bahkan aku tidak perlu berbo hong. Mereka sudah lama meninggal. Apa sekarang kau takut padaku? Tida Dia langsung menjawab, kali ini tanpa dipikir. tanyaku pad Definisi yang jau

180

Oh, maaf, u.

gumamnya, jelas khawatir telah melukaik

Dia mengkhawatirkan aku. Aku tidak terlalu ingat mereka, Dan kau menyayangi mereka? Aku tersenyum. Ya. Aku tidak bisa membayangkan d ua orang yang lebih baik. Kau sangat beruntung. Aku tahu. Dalam kondisi itu, soal orangtuaku, kebe runtunganku tidak bisa diingkari. Dan saudara-saudaramu? Jika aku membiarkannya bertanya lebih jauh, aku te rpaksa berbohong. Aku melirik ke jam, kecewa karena ka rena waktuku dengan dia hampir habis. Saudara-saudaraku, Jasper dan Rosalie, akan kesal j ika harus berdiri di tengah hujan menungguku. Oh, iya, sori, sepertinya kau harus pergi. Dia tidak bergerak. Dia tidak ingin cepat-cepat bera khir juga. Aku sangat, sangat suka itu. Dan kau mungkin juga ingin trukmu kembali sebelu m ayahmu pulang, jadi kau tidak perlu cerita tentang ins iden di kelas biologi tadi. Aku menyeringai teringat bag aimana dia merasa malu tadi dalam gendonganku. Aku yakin dia sudah dengar. Tidak ada rahasia di Fo rks. Dia menyebut nama kota Forks dengan nada sebal ya Aku tertawa mendengar ungkapannya. Tidak ada rah asia, tentu saja. Selamat bersenang-senang di pantai. A ku melihat ke hujan yang turun deras, tahu cuaca seperti ini tidak akan berlangsung lama, dan beraharapµlebih da ri biasanyaµbahwa cuaca akan seperti ini terus. Cuaca n ng kentara. aku meyakinkannya. Sejak lama Carlisle dan Esme sudah jadi orangtuaku.

181

ya bagus untuk berjemur.

Paling tidak akan begitu pada Perasaan kha

hari sabtu. Dia akan menikmati itu. Apa aku akan bertemu dengamu besok? watir di nadanya membuatku senang. Tidak. Emmet dan aku memulai akhir pekan lebih aw al. Sekarang aku marah pada diriku sendiri karena telah membuat rencana itu. Aku bisa membatalkannya...tapi de ngan kondisi seperti ini, tidak ada lagi istilah terlalu ba nyak berburu. Dan keluargaku sudah cukup khawatir den gan tingkahku tanpa perlu kutunjukan betapa obsesifnya aku sekarang. Apa yang kalian lakukan? Itu juga bagus. Kami mau hiking ke Goat Rocks Wilderness, sebelah selatan Rainier. eruang. Oh. Kalau begitu selamat besenang-senang. gi membuatku senang. Saat memandangnya, aku merasa menderita pada piki ran akan berpisah dengannya walau hanya untuk sebenta r. Dia terlalu lembut dan rapuh. Rasanya terlalu ceroboh untuk melepasnya dari pengawasanku. Apapun bisa terjad i padanya. Dan tetap saja, hal yang paling buruk yang m ungkin terjadi, adalah hal yang diakibatkan jika bersama denganku. Maukah kau melakukan sesuatu untukku akhir pekan ini? ai. Tanyaku serius. Dia mengangguk, matanya melebar dan bertanya-tanya pada kesungguhanku. Buat tetap sant Dia men gatakannya setengah hati. Ketidak semangatannya lagi-la Emmet sangat bernafsu dengan musim b tanyanya, kedengarannya tidak terlalu senang dengan rencanaku.

182

Jangan tersinggung, tapi kau sepertinya tipe orang y ang menarik bahaya seperti magnet. Jadi...cobalah untuk tidak jatuh ke laut atau terlindas apapun, oke? Aku tersenyum sebentar, berharap dia tidak melihat kesedihan di mataku. Kuharap keadaan dia jauh lebih bai k saat jauh dariku, tidak perduli apa yang akan terjadi p adanya disana. Lari, Bella, lari. Aku terlalu mencintaimu, demi keb aikanmu dan aku. Dia tersinggung dengan ucapanku. n, Akan kuusahaka ucapnya ketus sambil mendelik marah kemudian melon

cat keluar kebawah guyuran hujan dan membanting pintu nya keras-keras. Mirip kucing marah yang berpikir dirinya adalah see kor macan. Aku membuka telapak tanganku, melirik kunci yang ada di genggamanku, yang baru saja kuambil dari kanton g jaketnya, kemudian sambil tersenyum melihat dia berja lan menjauh.

183

7. Melody
Aku masih harus menunggu dulu setelah sampai di s ekolah. Jam pelajaran terakhir belum selesai. Itu bagus, karena ada yang mesti kupikirkan, dan aku butuh waktu s endirian. Aromanya masih tertinggal di dalam mobil. Aku me mbiarkan jendelanya tetap tertutup, membiarkan aromany a menyerangku, berusaha membiasakan diri dengan kuatn ya api yang membakar tenggorokanku. Daya tarik. Itu hal yang rumit untuk direnungkan. Ada begitu ba nyak sisi. Ada begitu banyak arti dan tingkatan. Tidak s ama dengan cinta, tapi berhubungan erat dengan itu. Aku sama sekali tidak tahu jika Bella tertarik padak u. (Mungkinkah kesunyian pikirannya akan terus membua tku makin frustasi sampai akhirnya membuatku gila? Ata u, apa ada batasannya yang pada akhirnya akan kucapai?) Aku coba membandingkan respon fisiknya Bella den gan respon fisiknya orang-orang lain, seperti Ms. Cope d an Jessica Stanley. Tapi, pebandingannya tidak meyakink an. Ciri-ciri yang samaµperubahan detak jantung dan ira ma napasµjuga bisa merupakan ciri dari rasa takut, syok, atau cemas. Lagipula, juga tidak cocok jika Bella sampai membayangkan jenis- jenis imajinasi yang biasa dipikirk an Jessica. Bagaimanapun, Bella sangat tahu ada sesuatu yang salah dengan diriku, walau tidak tahu apa tepatnya. Dia pernah menyentuh kulitku yang dingin, kemudian me narik tangannya begitu merasakan dinginnya. Tapi tetap saja... Aku mengingat lagi segala fantasi yang biasanya me njengkelkanku, tapi kini menggantinya dengan membayan gkan Bella di posisi Jessica... 184

Napasku makin memburu, api merayap membakar ten ggorokanku. Bagaimana jika Bellalah yang sedang membayangkan bagaimana tanganku memeluk tubuh rapuhnya? Merasakan dirinya ditarik lebih rapat ke pelukanku, dan kemudian b agaimana aku memegang dagunya dengan jari-jariku? Me nyingkap rambut gelapnya yang menutupi wajah meronan ya dengan tanganku, menyelipkannya ke balik telinga? M enelusuri bibirnya yang penuh dengan ujung jariku? Men dekatkan wajahku padanya, dimana aku bisa merasakan k ehangatan napasnya di mulutku? Lebih dekat lagi... Tapi kemudian aku menyentakan diri dari bayangan i tu, mengetahui, seperti yang kuketahui ketika Jessica me mbayangkan hal ini, apa yang akan terjadi jika aku sede kat itu dengannya. Ketertarikan itu bagai buah simalakama, karena aku sudah terlanjur terlalu tertarik pada Bella dengan cara y ang paling buruk. Apa aku menginginkan Bella tertarik padaku, sepert i seorang perempuan pada pria? Itu pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang benar ad alah: apa sebaiknya aku menginginkan Bella untuk tertar ik padaku seperti itu? Dan jawabannya adalah tidak. Kar ena aku bukan pria-manusia, itu tidak adil buatnya. Dengan segenap raga, aku mendambakan bisa menjad i manusia, supaya bisa merengkuhnya dalam pelukanku ta npa harus membahayakan nyawanya. Supaya aku bebas me mbayangkan apa saja dalam fantasiku. Fantasi yang tidak perlu berakhir dengan darahnya di tanganku, dan mataku yang menyala merah oleh darahnya. Pengejaranku padanya tidak masuk akal. Hubungan s eperti apa yang bisa kutawarkan ke dia jika aku tidak bi sa menanggung resiko menyentuhnya?

185

Aku menunduk dan menutup mukaku dengan tangan. Lebih membingungkan lagi karena aku belum pernah merasa semanusia ini seumur hidupkuµbahkan tidak ketik a masih manusia, selama yang bisa kuingat. Ketika itu, p ikiranku dipenuhi dengan kebanggaan seorang prajurit. P erang besar menghiasai seluruh masa remajaku. Dan aku baru jalan sembilan bulan dari ulang tahunku yang ke-18 ketika wabah influensa merebak... Ingatan yang kumiliki selama menjadi manusia sangat kabur, ingatan suram yan g makin kabur tiap dekadenya. Yang paling kuingat adala h ibuku, dan kurasakan kepedihan purba ketika menginga t wajahnya. Samar-samar aku ingat bagaimana dia sangat membenci keinginanku menjadi prajurit. Dia berdoa setia p malam agar 'perang yang mengerikan' itu cepat berakhi r... Selain hal itu, tidak ada lagi kenangan indah yang b isa kuingat. Selain cinta ibuku, tidak ada lagi cinta yang membuatku ingin tetap tinggal... Ini sama sekali baru untukku. Aku tidak punya peng alaman yang bisa kubandingkan. Cintaku pada Bella awal nya murni, tapi kini mulai keruh. Aku sangat ingin bisa menyentuhnya. Apa dia merasakan hal yang sama? Itu tidak penting, aku berusaha meyakinkan diriku s endiri. Aku memandangi tanganku yang putih, membenci ke kerasannya, dinginnya, kekuatannya yang tidak normal... Kemudian aku terloncat ketika tiba-tiba pintu belak ang terbuka. Wah, kau tidak sadar aku datang. Ini pertama kaliny a, batin Emmet ketika ia menyelinap masuk ke mobil. Be rani taruhan Mrs. Goff pasti mengira kau pakai narkoba, kau kelihatan aneh belakangan ini. Darimana saja kau ta di?

186

Aku tadi...memberi pertolongan. Hah? Aku terkekeh. gitulah. Itu membuatnya makin bingung, tapi kemudian ia me ngambil napas dan mendapati aromanya di mobil. Oh... gadis itu lagi? Aku menyeringai. Perkembangannya makin aneh. Kau tahu sendiri... Dia menghirup lagi. n, iya kan? Suara geraman langsung keluar dari mulutku sebelu m kata-katanya berakhir. Respon spontan. Tenang, Edward, aku cuma komentar. Yang lain kemudian datang. Rosalie langsung menya dari aromanya dan memelototiku. Marahnya masih belum reda. Entah apa masalahnya, yang bisa kudengar cuma ce laannya. Aku juga tidak suka dengan reaksi Jasper. Seperti E mmet, dia menyadari aroma Bella cukup mengundang sele ra. Tapi efeknya bagi mereka tidak sampai sepersekian d ari yang kurasakan. Tetap saja, aku kesal darahnya teras a manis untuk mereka. Jasper masih sulit mengendalikan diri... Alice menyelinap ke sisiku dengan tangan terbuka m eminta kunci truk Bella. Aku cuma melihat aku melakukannya, -samar seperti kebiasaannya. Kau harus menerangkan alasannya. Ini bukan berartiµ Aku tahu, aku tahu. Aku akan menunggu. Tidak akan lama lagi. Aku mendesah dan menyerahkan kuncinya. katanya samar Hmmm, baunya memang lumaya Menggotong orang sakit, pokoknya be

187

Aku mengikuti dia ke rumah Bella. Hujan turun sang at deras, begitu lebat hingga mungkin Bella tidak akan m endengar raungan mesin truknya. Aku melihat ke jendela nya, tapi dia tidak melihat keluar. Mungkin dia tidak dis itu. Tidak ada pikiran yang bisa didengar. Membuatku m urung tidak bisa mendengar apa-apa untuk mengecek kea daanyaµuntuk memastikan dia senang, atau paling tidak aman. Alice masuk ke kursi belakang dan kami kembali ke rumah. Jalanan kosong, jadi cuma butuh beberapa menit. Kami sama-sama masuk ke rumah, lalu sibuk dengan kegi atan masing-masing. Emmet dan Jasper meneruskan permainan caturnya y ang rumit, menggabungkan empat papan catur jadi satuµ memanjang sepanjang tembok belakangµdengan aturan ru mit yang mereka buat sendiri. Mereka tidak mengijinkan aku ikut main; cuma tinggal Alice yang mau bermain den ganku. Dia kini sibuk dengan komputernya, dekat Emmet da n Jasper. Aku bisa mendengar monitornya menyala. Alice sedang mengerjakan proyek fashionnya untuk pakaian Ro salie. Tapi Rosalie tidak menemaninya hari ini. Padahal biasanya dia berdiri di belakang Alice, memberi saran po tongan dan warna sembari jari Alice menari di layar sent uhnya yang sangat sensitif (Carlisle dan aku mesti meng utak-atik sistemnya, agar layarnya bisa merespon temper atur dingin kami). Sebagai gantinya, Rosalie meringkuk dengan marah yang terpendam di sofa, mengganti-ganti c hanel TV layar datar di depannya denga kecepatan dua p uluh chanel pedetik tanpa henti. Bisa kudengar dia sedan g berusaha memutuskan, apa sebaiknya ke garasi saja, un tuk menyetel mesin BMWnya lagi.

188

Esme di lantai atas, sedang bersenandung di depan r encana bangunan yang baru ia rancang. Alice menjulurkan kepalanya ke balik tembok sebent ar untuk memberitahu Jasper langkah Emmet berikutnyaµ Emmet duduk di lantai memunggunginya. Sementara itu J asper menjaga ekspresinya tetap datar saat ia memakan R atu andalan Emmet. Dan aku, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hingga membuatku malu, duduk di depan grand piano ind ah yang ada di seberang pintu masuk. Jari-jariku mengalir lembut mencoba nadanya. Setel annya masih sempurna. Diatas, Esme menghentikan peker jaannya, menelengkan kepalanya ke samping. Aku mulai memainkan baris pertama dari alunan nad a yang tadi mendatangiku sewaktu di mobil, merasa sena ng karena terdengar jauh lebih baik dari yang kubayangk an. Edward bermain lagi, pikir Esme gembira. Senyum l ebar muncul di wajahnya. Dia bangkit dari meja dan berj alan tanpa suara menuju tangga. Aku menambahkan harmonisasi baru, membiarkan me lodi utamanya mengalir. Esme mendesah bahagia, duduk di anak tangga palin g atas, dan menyandarkan kepalanya pada pegangan tang ga. Lagu baru. Sudah lama sekali. Alunan yang indah. Kubiarkan melodinya mengalir ke arah yang baru, m engikutinya dengan alunan bass. Edward menciptakan lagu lagi? Batin Rosalie, dan d ia menggertakan giginya dengan sengit. Tepat pada saat itu, dia kelepasan, dan aku bisa me mbaca alasan utama kemarahannya. Aku bisa melihat ken apa belakangan ini ia memusuhiku, kenapa membunuh Isa

189

bella Swan tidak mengganggunya sama sekali. Pada Rosa lie, selalu tentang kesombongan. Musikku terhenti, dan aku sudah tertawa sebelum bi sa kutahan, gelak tawa yang sudah pecah sebelum tangan ku sempat menutup mulut. Rosalie memelotiku, matanya nyalang marah besar. Emmet dan Jasper ikut menoleh, dan bisa kudenar ke bingungan Esme. Dia secepat kilat turun, menatap aku da n Rosalie bergantian. Jangan berhenti, Edward. h suasana sempet tegang. Aku mulai main lagi, kembali memunggungi Rosalie sembari berusaha keras menahan seringaiku. Rosalie sen diri sudah bangkit berdiri dan berjalan keluar, lebih pad a marah daripada malu. Tapi, tentu saja cukup malu. Kalau kau sampai buka mulut, aku akan memburumu seperti anjing. Aku tertawa lagi. Ada apa, Rose? Emmet memanggilnya. Rosalie tidak menengok. Dia terus saja berjalan kesal ke garasi, kemu dian menggeliat masuk ke bawah mobilnya seakan mau m engubur diri dibawah situ. Tentang apa itu tadi? Emmet bertanya padaku. Aku sama sekali tidak tahu. menggerutu frustasi. Teruskan lagunya, aru saja terhenti. Aku mengabulkan permintaannya. Esme pindah ke be lakangku, meletakan tangannya keatas pundakku. Lagunya mulai terbentuk, tapi belum lengkap. Aku mencoba-coba bridgenya, tapi entah kenapa tidak pas. Lagu yang cantik. Apa sudah ada judulnya? sme. tanya E Esme mendesak lagi. Tanganku b Aku berbohong. Emmet Esme menyemangati setela

190

Belum. Apa cerita dibaliknya? tanyanya dengan senyum. Ini membuatnya sangat senang, dan aku jadi merasa bersalah telah menelantarkan musikku begitu lama. Itu sangat ego is. Ini lagu...nina bobo, kukira. t selanjutnya, hidup begitu saja. Lagu nina bobo, iri. Ada cerita dibalik melodi ini, dan saat melihatnya, alunan berikutnya muncul begitu saja. Ceritanya tentang seorang gadis yang terlelap di sebuah ranjang sempit; be rambut gelap, tebal, dan acak-acakan bagai ganggang lau t terhampar di atas bantal... Alice beranjak duduk di sebelahku. Dengan suara ri ngan bagai tiupan genta, ia menyenandungkan alunan nad a dua oktaf lebih tinggi dari melodiku. Aku suka, bisiknya. Tapi bagaimana jika begini. Aku menambahkan baitnya ke dalam harmoniµjari-ja riku kini menari di sepanjang tutsnya untuk menyatukan potongan-potongan itu jadi satuµmenggubahnya sedikit, membawanya ke melodi yang lain... Dia menangkap suasananya, dan ikut bernyanyi. Ya, sempurna, bahuku. Tapi aku bisa melihat bagian akhirnya. Dengan suar a Alice meliuk tinggi dan membawanya ke tempat lain, a ku bisa melihat bagaimana seharusnya akhir lagu ini. Ka rena sang gadis-tidur telah sempurna sebagaimana adany a, perubahan apapun akan salah. Alunan nadanya kemudian melayang menuju kenyata an itu, melambat dan semakin lambat. Suara Alice pun ik kataku mengomentari. Esme meremas Esme mengulangi pada dirinya send Akhirnya aku bisa men emukan bridgenya. Dengan mudah lalu menghantar ke bai

191

ut turun, berubah khidmat, seperti alunan nada yang diku mandangkan di bawah gema lengkung katedral. Kumainkan nada terakhir, dan kemudian aku menund ukkan kepala ke atas tuts piano. Esme mengelus rambutk u. Semua akan baik-baik saja, Edward. Akan ada jalan ke luar yang terbaik. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan, anakku. Takdir berhutang padamu. Terima kasih, Aku tertawa ironis. Kau, diantara siapapun di dunia ini, barangkali adal ah yang paling siap menghadapi kesulitan ini. Kau adala h yang terbaik dan paling cemerlang diantara kami semua nya. Aku mendesah. Setiap ibu punya pikiran yang sama t entang anak mereka. Esme masih sangat gembira karena setelah sekian la ma akhirnya ada yang bisa menyentuh hatiku, tak perduli betapa besar kemungkinannya akan berakhir tragis. Sebel um ini dia mengira aku akan selamanya sendirian... Dia pasti mencintaimu, pikirnya tiba-tiba, mengejut kan aku dengan arah pikirannya. Jika dia gadis yang cem erlang. Dia tersenyum. Tapi tidak bisa kubayangkan ada orang yang begitu lambannya hingga tidak menyadari bet apa menariknya dirimu. Hentikan, Mom, kau membuatku tersipu, yata menghiburku. Alice tertawa dan memainkan sepenggal lagu and Soul. Heart aku tersenyum dan menyelesaikan melodinya y Chopsticks. godaku den gan canda. Perkataannya, meski terdengar mustahil, tern bisikku, berharap bisa mempercayain ya. Cinta tidak selalu datang dalam kemasan yang umum.

ang sederhana bersamanya. Kemudian aku menyenangkan hatinya dengan memainkan

192

Dia tertawa geli, kemudian mengehela napas. da Rose, an cerita. Tidak. Dia menggelitik telingaku dengan jarinya. Jaga sikapmu, Alice, anya bersikap sopan. Tapi aku ingin tahu. Esme mengingatkan. ujarnya.

Kuhar

ap kau mau memberitahu apa yang tadi kau tertawakan pa Tapi aku bisa melihat kau tidak bakal

Edward h

Aku tertawa mendengar rengekannya. Kemudian aku berkata, Ini, Esme, dan mulai memainkan lagu kesukaan nya, sebuah lagu yang kudedikasikan untuk rasa cinta ya ng kutangkap diantara Esme dan Carlisle selama ini. Terima kasih, sayang. Dia meremas pundakku lagi. Aku tidak perlu berkonsentrasi untuk memainkan lag u yang sudah sering kumainkan ini. Sebagai gantinya, ak u memikirkan Rosalie, yang masih menderita memikirkan aibnya di garasi, dan aku menyeringai sendiri. Karena aku baru saja bisa merasakan cemburu itu se perti apa, aku jadi sedikit merasa kasihan padanya. Rasa nya sangat tidak mengenakan. Tentu saja, kecemburuanny a beribu-ribu kali lebih dangkal dibanding kecemburuank u. Kecemburuan dia lebih mirip dengan kisah serigala da n tiga babi. Aku membayangkan, mungkinkah kehidupan dan kepr ibadian Rosalie akan berbeda seandainya dia tidak selalu menjadi yang paling cantik. Apa dia akan lebih bahagia j ika kecantikan tidak selalu menjadi andalannya? Tidak t erlalu egosentris? Lebih murah hati? Well, sepertinya sia-sia. Yang terjadi, sudah terjadi , dan dia selalu menjadi yang paling cantik. Bahkan keti ka masih manusia, dia selalu jadi pusat perhatian. Bukan nya dia keberatan, sebaliknya, dia justru menyukai perha

193

tian itu lebih dari segalanya. Dan itu tidak berubah seiri ng transformasinya jadi seperti sekarang. Maka tidak terlalu mengejutkanµmengingat kebutuha nnya itu bisa dianggap sebagai sifat bawaanµdia merasa tersinggung ketika aku, sejak pertama kali bertemu, tida k memuja kecantikannya seperti yang ia harap semua pri a memujanya. Tapi itu bukan berarti dia mendambakan ak u dalam konteks romansaµjauh dari itu. Walau bagaimana pun, baginya itu tetap menjengkelkan bahwa aku tidak m enginginkan dirinya. Dia terbiasa diinginkan. Kasusnya berbeda dengan Jasper dan Carlisleµmerek a berdua sudah lebih dulu jatuh cinta. Sedang aku, tidak berhubungan dengan siapapun, dan tetap saja bergeming. Kupikir kebencian lama itu telah terkubur, bahwa di a telah lama melewatinya. Dan, dia memang sudah lupa...sampai hari ketika ak hirnya aku menemukan seseorang yang kecantikannya me nyentuhku dengan cara yang tidak ia dapatkan. Rosalie beranggapan bahwa jika aku tidak mengangg ap kecantikannya pantas dipuja, maka jelas tidak ada kec antikan di bumi ini yang akan sanggup menjangkauku. Di a sudah mulai uring-uringan sejak saat aku menyelamatk an Bella. Dia sudah menebak, dengan ketajaman intuisi p erempuannya, pada ketertarikanku yang tidak kusadari. Rosalie sangat-sangat tersinggung bahwa aku bisa m enemukan seorang manusia biasa yang kuanggap lebih me narik dibanding dirinya. Aku menahan dorongan untuk tertawa lagi. Meskipun sebetulnya sedikit mengesalkan juga, meli hat bagaimana penilaiannya tentang Bella. Rosalie sungg uh-sungguh berpikir gadis itu biasa-biasa saja. Bagaiman a mungkin dia bisa mempercayai itu? Itu sangat tidak ma suk akal buatku. Buah dari cemburu, pasti itu.

194

Oh!

Alice tiba-tiba berkata.

Jasper, coba tebak?

Aku melihat apa yang barusan ia lihat, dan tanganku langsung membeku di satu nada. Apa, Alice? tanya Jasper. Minggu depan Peter dan Charlotte akan datang meng unjungi kita! Mereka akan lewat di sekitaran sini, bukan kah itu menyenangkan? Ada apa, Edward? angan di bahuku. Peter dan Charlotte akan datang ke Forks? desis pada Alice. Dia memutar bola matanya ke aku. rd. Ini bukan kunjungan pertamanya. Gigiku langsung menggertak. Ini kunjungan pertama nya sejak Bella datang, dan darahnya yang manis bukan c uma mengundang seleraku. Alice mengerutkan dahi melihat ekspresiku. tidak pernah berburu disini. Kau tahu itu. Tapi vampir yang bisa dibilang saudara Jasper dan v ampir kecil pasangannya berbeda dengan kami; mereka b erburu seperti vampir kebanyakan. Mereka tidak bisa dip ercaya dengan adanya Bella. Kapan? tanyaku. Alice cemberut tidak suka, tapi memberitahu apa ya ng kubutuhkan. Senin pagi. Tidak akan ada yang akan me nyakiti Bella. Itu betul, aku sependapat, dan kemudian bangkit be rdiri. Kau siap, Emmet? Kupikir kita akan pergi besok pagi? Kita akan kembali minggu malam. Terserah padamu kapan perginya. Oke. Aku pamit dulu dengan Rosalie. Mereka Tenanglah, Edwa Aku men tanya Esme saat merasakan keteg

195

Tentu. an singkat.

Dengan suasana hati Rosalie sekarang, itu ak

Otakmu benar-benar terganggu, Edward, batinnya ke tika berjalan menuju pintu belakang. Sepertinya aku memang begitu. Mainkan lagu baru itu untuk ku, sekali lagi, sme. Kalau kau memang suka, aku setuju, meski sedikit b imbang mengikuti alunannya menuju akhir yang tak terel akanµakhir yang membuatku sakit dengan cara yang tidak lazim. Aku merenung sejenak, kemudian mengeluarkan tu tup botol dari kantongku dan meletakannya diatas piano. Itu agak menolongµsedikit kenang-kenangan dari jawaba n 'ya' darinya. Aku mengangguk pada diriku dan memulai lagunya. Esme dan Alice bertukar pandang, tapi tidak satupu n bertanya. Bukankah pernah ada yang bilang, jangan bermain-m ain dengan makananmu? Aku meneriaki Emmet. Oh, hei Edward! Dia berteriak balik, menyeringai d an melambai. Beruang itu memanfaatkan kelengahannya d engan menyapukan cakar besarnya ke dada Emmet. Cakar tajamnya merobek baju Emmet, dan mendecit menggaruk kulit Emmet. Beruang itu melenguh keras. Oh sial, Rose yang memberikan baju ini! Emmet mengaum balik pada beruang marah itu. Aku menghela napas dan duduk dengan nyaman diata s sebuah batu besar. Ini tidak akan makan waktu lama. Emmet sudah hampir selesai. Dia memberi kesempat an pada beruang itu untuk menyambar kepalanya dengan ayunan cakarnya lagi, tertawa saat sambaran itu terpenta l dan membuat beruang itu mundur kaget. Beruang itu me pinta E

196

raung dan juga Emmet meraung dari balik tawanya. Kemu dian ia melontarkan dirinya ke arah beruang itu, yang m enjulang jauh lebih tinggi dari Emmet saat beruang itu b erdiri, dan mereka berdua jatuh ke tanah saling bergumul , membuat pohon cemara besar tumbang bersama mereka. Geraman beruang itu terhenti seiring bunyi tegukan. Beberapa menit kemudian, Emmet sudah berjalan ke arahku. Bajunya rusak, robek- robek dan belepotan darah , lengket oleh getah, dan tertutup bulu-bulu. Rambut ika l gelapnya tidak lebih baik. Ada seringai lebar di wajahn ya. Yang satu ini lumayan kuat. Saat dia mencakar, aku hampir bisa merasakannya. Kau seperti anak kecil, Emmet. Dia memperhatikan kemejaku yang rapih dan bersih. Bukannya tadi kau sedang mengikuti seekor singa gunung ? Memang iya. Hanya saja aku tidak makan seperti ora ng barbar. Emmet tertawa dengan tawanya yang menggelegar. Kuharap mereka lebih kuat. Akan lebih menyenangkan. Tidak ada yang pernah bilang kau harus berkelahi d engan makananmu. Ya, tapi dengan siapa lagi aku harus berkelahi? Kau dan Alice curang, Rose tidak akan pernah mau rambutnya berantakan, dan Esme selalu marah jika Jasper dan aku m ulai serius. Hidup itu memang sulit, iya kan? Emmet menyeringai padaku, agak merubah tumpuan badannya hingga mendadak ia sudah dalam posisi siap me nyerang. Ayolah Edward. Matikan itu sebentar dan bertarungl ah secara adil.

197

Ini tidak bisa dimatikan, menangkalmu? renung Emmet.

aku mengingatkan dia.

Kira-kira apa yang telah dilakukan gadis itu untuk Barangkali dia bisa memberiku sedikit petunjuk. Humorku langsung lenyap. menggeram lewat sela gigiku. Huu...sensitif... Aku mendesah. Emmet datang duduk disampingku. Sori. Aku tahu kau sedang melalaui masa sulit. Aku benar-benar berusaha untuk tidak terlalu kurang ajar, ta pi itu pembawaan alamiku sama seperti bakatmu... Dia menunggu aku menertawakan leluconnya, dan ke mudian mengerutkan muka. Selalu saja serius. Apa yang mengganggumu sekaran g? Memikirkan tentang dia. Well, mencemaskan lebih t epatnya. Apa yang perlu dicemaskan? Kau ada disini. tawa keras-keras. Aku mengacuhkan leluconnya lagi, tapi menjawab pe rtanyaannya. Apa kau pernah memikirkan bagaimana rap uhnya mereka itu? Betapa banyaknya hal buruk yang mun gkin terjadi pada manusia? Tidak terlalu. Tapi aku bisa menangkap maksudmu. Dulu aku sama sekali bukan tandingan beruang itu, ya ka n? Beruang, aku memberungut, menambahkan lagi satu ketakutan di daftarku. Benar- benar kebetulan, bukan, se andainya ada beruang kesasar ke kota. Dan tentu saja ak an langsung menuju Bella. Emmet terkekeh. Kau kedengaran seperti orang gila. Coba bayangkan sebentar bahwa Rosalie adalah man usia, Emmet. Dan mungkin saja ia bertemu beruang...ata Dia ter Jangan dekati dia. Aku

198

u tersambar petir...atau jatuh dari tangga...atau jatuh sa kitµkena wabah! kata-kata itu berhamburan tidak karua Banjir, gemp n. Rasanya lega sudah mengeluarkannyaµhal itu membusu k dalam diriku sepanjang akhir pekan ini. a, dan badai! Ugh! Kapan terakhir kau menonton berita? Apa kau pernah melihat hal-hal seperti itu menimpa mere ka? Perampokan dan pembunuhan... Gigi-gigiku langsung menggertak, mendadak sangat murka hingga tidak bisa be rnapas, memikirkan bagaimana ada manusia lain yang aka n melukainya. Woo...woo...! Tahan disitu, boy. Dia hidup di Fork s, ingat? Paling banter dia akan kehujanan. kat bahu. Aku rasa dia punya masalah serius dengan kesialan, Emmet. Sungguh. Coba lihat bukti-buktinya. Dari segala tempat yang bisa ia datangi, dia berakhir di kota dimana populasi vampirnya cukup besar. Ya, tapi kita vegetarian. Jadi bukannya itu beruntun g? Dengan aroma seperti dia? Jelas itu sial. Dan kemud ian, lebih sial lagi, bagaimana baunya bagiku. elik pada tanganku, membencinya lagi. Kecuali bahwa kau memiliki kontrol diri melebihi si apapun kecuali Carlisle. Lagi-lagi beruntung. Mobil van waktu itu? Itu tidak sengaja. Kau harusnya melihat bagaimana van itu mengejarny a, Em, lagi dan lagi. Berani sumpah, seakan dia punya d aya tarik seperti magnet. Tapi kau ada disana. Itu beruntung. Betul begitu? Bukankah itu hal paling sial yang mun gkin manusia terimaµmendapati seorang vampir jatuh cin ta padanya? Aku mend Dia mengang

199

Emmet mempertimbangkan hal itu sejenak. Dia memb ayangkan gadis itu di kepalanya, dan menemukan sosokn ya tidak menarik. Jujur saja, aku tidak mengerti bagaima na kau bisa tertarik padanya. Well, aku juga tidak bisa meliat ada yang menarik d ari Rosalie, kataku kasar. Jujur saja, dia terlalu mengan ggap dirinya yang paling cantik dan tidak bisa melihat a da perempuan cantik lain. Emmet terkekeh. u... Aku tidak tahu apa masalah dia, Emmet. Aku berboh ong dengan seringai lebar. Kemudian aku melihat niatnya tepat pada waktunya untuk bereaksi. Dia coba menjatuhk an aku dari atas batu, dan terdengar suara pecahan keras saat batu besar itu retak. Curang. Emmet menggerundel. Aku menunggu dia mencoba lagi, tapi pikirannya ber alih ke hal lain. Dia sedang membayangkan wajah Bella l agi, tapi kini wajahnya jauh lebih putih dan matanya mer ah terang... Tidak, kataku dengan suara tercekik. Itu menyelesaikan segala kecemasanmu, kan? Kau ju ga tidak akan tergoda untuk membunuhnya lagi. Bukanka h itu solusi yang paling baik? Untukku? Atau untuknya? Untukmu, jawabnya mudah. Nada suaranya menamba Jawaban yang salah. hkan tentu saja. Aku tertawa datar. Rosalie iya. Dia mendesah. Kami berdua tahu Rosalie akan melak ukan apa saja, menyerahkan apa saja, jika itu bisa memb Aku sama sekali tidak keberatan. Apa kau akan bilang bahwa dia it

200

uatnya menjadi manusia lagi. Bahkan menyerahkan Emme t. Ya, Rosalie pasti keberatan. Aku tidak bisa... Aku tidak boleh... Aku tidak ingin menghancurkan hidup Bella. Bukankah kau juga akan mer asa begitu, jika itu adalah Rosalie? Emmet merenungkan itu sebentar. Kau betul-betul... mencintai dia? Aku bahkan tidak bisa menggambarkannya, Emmet. T iba-tiba saja, Gadis ini segala- galanya bagiku. Bagiku t idak ada artinya lagi seisi dunia ini jika tanpa dia. Tapi kau tidak mau merubahnya? Dia tidak akan hid up selamanya, Edward. Aku tahu itu, lalu rapuh. Percayalahµitu juga aku tahu. Emmet bukan orang yang bijaksana, dan pembicaraa n serius bukan keahliannya. Dia berjuang keras sekaran g, sangat ingin untuk tidak kurang ajar. Apa kau bahkan bisa menyentuhnya? Maksudku, jika kau mencintainya...bukankah kau ingin, well menyentuhn ya... Emmet dan Rosalie mengungkapkan cinta mereka lew at kedekatan fisik yang intens. Dia tidak bisa mengerti b agaimana seseorang bisa mencintai tanpa aspek itu. Aku menghela napas. kirkan hal itu, Emmet. Wow, lantas apa pilihanmu, dong? Aku tidak tahu, bisikku. Aku sedang mencari cara u ntuk...untuk meninggalkan dia. Hanya saja aku tidak men gerti bagaimana caranya untuk menjauh... Aku bahkan tidak berani memi erangku. Dan, seperti yang kau bilang, dia kedengarannya ter

201

Dengan kepuasan mendalam, mendadak aku sadar, ke putusanku untuk tinggal adalah tepatµpaling tidak untuk sekarang, dengan berkunjungnya Peter dan Charlotte. Bel la lebih aman dengan adanya aku di dekat dia, dari pada jika aku pergi. Untuk sementara, aku bisa jadi pelindung nya, dengan tanda kutip. Pikiran itu membuatku gelisah; aku tidak sabar ingi n segera kembali agar bisa cepat- cepat memainkan peran itu selama mungkin. Emmet menyadari perubahan ekspresiku. Kau sedang memikirkan apa? Sekarang ini, aku mengakuinya agak malu-malu, Ak u ingin cepat-cepat kembali ke Forks dan melihat keadaa nnya. Aku tidak tahu apa sanggup bertahan sampai mingg u malam. Waduh-waduh! Kau tidak boleh pulang lebih cepat. Biarkan Rosalie tenang dulu. Tolonglah! Demi aku. Iya, akan kucoba, kataku ragu. Alice akan m Emmet menepuk handphone di sakuku.

enelepon jika ada tanda-tanda yang akan membuatmu ken a serangan jantung. Dia sama tergila-gilanya pada gadis ini seperti kau. Aku meringis pada hal itu. Baiklah. Tapi aku tidak akan tinggal sampai lewat hari minggu. Lagi pula, tidak ada gunanya cepat-cepat pulangµma tahari akan cerah. Alice bilang kita akan libur sampai ha ri rabu. Aku menggeleng tegas. Peter dan Charlotte bisa menjaga sikap mereka. Aku tidak perduli, Emmet. Dengan keberuntungan se perti Bella, dia akan berkeliaran di hutan di waktu yang salah danµ aku langsung membuang jauh-jauh pikiran itu

202

.

Peter tidak terlalu baik dengan pengendalian dirinya. Emmet mendesah. Betul-betul mirip orang gila. Bella sedang tidur pulas saat aku memanjat jendela

Aku akan pulang hari minggu.

kamarnya pada senin dini hari. Kali ini aku ingat untuk membawa pelumas, dan jendelanya bisa terbuka lancar ta npa suara. Bisa kulihat dari rambutnya yang tergerai halus di a tas bantalnya, tidurnya lebih tenang dari terakhir aku ke sini. Tangannya terlipat disamping pipi seperti anak kec il, dan mulutnya sedikit terbuka. Aku bisa mendengar na pasnya bergerak pelan keluar dan masuk diantara bibirny a. Sungguh sangat lega bisa berada disini lagi, bisa me lihatnya lagi. Aku sadar bahwa aku tidak akan benar-ben ar tenang kecuali kalau itu masalahnya. Tidak ada yang t erasa betul saat jauh darinya. Meski begitu, juga bukan berarti segalanya benar saat aku bersamanya. Aku menghela napas, membiarkan rasa haus membak ar tenggorokanku. Aku sudah lama tidak merasakannya. Waktu yang terbuang tanpa merasakan itu, termasuk goda annya, membuat sensainya jadi lebih kuat lagi sekarang. Sangat lebih buruk, sampai-sampai aku takut untuk jongk ok di samping tempat tidurnya agar bisa membaca judul buku-bukunya. Aku ingin tahu cerita-cerita di kepalany a. Tapi aku lebih takut untuk melakukan itu ketimbang t akut dengan hausku. Aku takut jika sedekat itu, aku akan tergoda untuk lebih mendekat lagi... Bibirnya terlihat sangat lembut dan hangat. Aku bis a membayangkan menyentuhnya dengan ujung jariku. Men yentuhnya lembut... Jelas itu kesalahan yang harus dihindari.

203

Mataku terus memandangi wajahnya, memperhatikan jika ada yang berubah. Manusia selalu berubah tiap wakt uµaku sedih memikirkan telah melewatkan sesuatu... Dia kelihatan...lelah. Seakan tidak cukup tidur sela ma akhir pekan ini. Apa tadi malam dia punya janji deng an seseorang? Aku tersenyum kecut, merasakan bagaimana hal itu membuatku kesal. Memang kenapa kalau dia punya janji? Aku tidak memiliki dia. Dia bukan milikku. Tidak, dia bukan milikkuµdan aku murung lagi. Salah satu tangannya bergerak, dan aku menyadari a da bekas lecet di telapak tangannya. Dia terluka? Walau sadar lukanya cuma lecet kecil, itu tetap menggangguku. Kuperhatikan lokasinya, dia pasti jatuh. Itu alasan yang paling masuk akal. Aku merasa jauh lebih tenang karena tidak mesti sel amanya bertanya-tanya tentang misteri kecil ini. Kami te man sekarangµatau, paling tidak, berusaha menjadi tema n. Aku bisa menanyakan akhir pekannyaµtentang perjalan annya ke pantai, dan apapun yang ia kerjakan malamnya hingga membuatnya kelihatan letih. Aku bisa bertanya ap a yang terjadi pada tangannya. Dan aku bisa sedikit terta wa saat tebakanku betul. Aku tersenyum saat bertanya-tanya apakah kemarin i a terjatuh ke laut atau tidak. Kira- kira apa dia menikma ti tamasyanya. Apakah dia sempat memikirkan aku. Apak ah dia merindukan aku, bahkan jika itu cuma sepersekian persen dari kerinduanku padanya. Aku berusaha membayangkan dia dibawah sinar mata hari di pantai. Gambaran itu tidak lengkap karena aku se ndiri belum pernah ke pantai La Push. Aku cuma tahu da ri foto...

204

Aku merasa agak gelisah saat mengingat alasanku ti dak pernah ke pantai indah itu, yang lokasinya cuma beb erapa menit jika berlari dari rumahku. Bella menghabisk an waktu di La Pushµtempat terlarang bagiku, sesuai den gan perjanjian. Sebuah tempat dimana beberapa tetua ma sih ingat dengan cerita tentang keluarga Cullen. Ingat da n mempercayainya. Sebuah tempat dimana rahasia kami d iketahui... Aku menggeleng. Tidak ada yang perlu dicemaskan t entang itu. Suku Quileutes juga sama terikatnya dengan perjanjian itu. Bahkan jika Bella secara tidak sengaja be rjumpa dengan para tetua itu, mereka tidak akan bilang a pa-apa. Dan kenapa juga topik itu disinggung? Kenapa ju ga Bella mau mengutarakan rasa penasarannya disana? Ti dakµsuku Quileutes mungkin satu-satunya hal yang tidak perlu dikhawatirkan. Aku marah pada matahari saat sudah mulai terbit. It u mengingatkan bahwa aku tidak bisa memuaskan rasa pe nasaranku sampai beberapa hari kedepan. Kenapa mataha ri harus bersinar sekarang? Dengan menghela napas aku keluar lewat jendela seb elum terlalu terang. Aku berniat untuk menunggu di keri mbunan hutan dekat rumahnya untuk melihatnya berangka t sekolah. Tapi, sesampainya di pepohonan, aku terkejut menemukan jejak aromanya di jalan setapak di dalam hut an. Aku cepat-cepat mengikutinya, penasaran, dan berub ah jadi cemas saat jejaknya masuk lebih dalam ke tengah hutan. Apa yang Bella lakukan diluar sini? Jejaknya tiba-tiba berhenti begitu saja. Sepertinya dia berjalan keluar dari jalan setapak, menuju ke semak pakis-pakisan, dimana dia menyentuh sebatang pohon tu mbang. Barangkali duduk disitu...

205

Aku duduk di tempat ia duduk, dan memandang ke se keliling. Yang bisa ia lihat hanya rerimbunan pakis dan pohon-pohon besar. Saat itu mungkin hujanµaromanya ag ak tersapu, tidak terlalu menempel di pohon. Kenapa Bella datang kesini dan duduk sendirianµdan dia sendirian, tidak salah lagiµdi tengah-tengah hutan k elam yang basah? Itu tidak masuk akal, dan, berbeda dengan penasara nku yang tadi, aku tidak mungkin menyinggungnya saat b ertemu dengan dia. Jadi, Bella, tadi aku mengikuti baumu kedalam huta n setelah sebelumnya keluar dari kamarmu dimana aku m emperhatikanmu tidur... Ya, hal itu bisa memecahkan sua sana. Selamanya aku tidak akan pernah tahu apa yang dia pikir dan lakukan disini. Selamanya. Dan itu membuat gi giku gemertak frustasi. Lebih parahnya, ini jauh lebih m irip dengan skenario yang kubahas dengan EmmetµBella berkeliaran sendirian di tengah hutan, dimana baunya ak an mengundang siapapun yang punya kemampuan melacak seperti... Aku mengerang. Bukan cuma nasibnya yang sial, dia juga mengundang kesialan menghampiri dirinyanya. Well, untuk sementara waktu dia punya pelindung. A ku akan menjaganya, selama yang bisa benarkan. Tiba-tiba aku berharap Peter dan Charlotte bisa ting gal lebih lama lagi.

206

8. Hantu
Aku tidak terlalu sering menemui tamu Jasper di du a hari kedatangannya ke Forks. Aku hanya pulang semata -mata agar Esme tidak khawatir. Sudah begitu, keberadaanku sekarang lebih mirip se perti hantu daripada vampir. Aku menunggu, tersembunyi dibalik bayangan, dan membuntuti obyek obsesiku. Aku mengawasi dan mendengarkan dia dari pikiran orang-oran g yang begitu beruntung karena bisa berjalan bersamanya dibawah sinar matahari, yang sesekali secara tidak senga ja menyentuh tangannya saat berjalan. Dia tidak pernah bereaksi dengan sentuhan seperti itu; tangan mereka sam a hangatnya dengan tangan dia. Keterpaksaan membolos begini tidak pernah semenyi ksa ini sebelumnya. Tapi matahari kelihatannya membuat dia bahagia, jadi aku tidak terlalu kesal. Apapun yang m embuatnya senang aku ikut senang. Senin pagi, aku menguping pembicaraan yang berpot ensi merusak kepercayaan diriku dan membuat hariku jad i lebih parah. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, ber ita baik lah yang kudapat. Aku sedikit menaruh hormat pada Mike Newton; dia tidak menyerah begitu saja dan terpuruk. Dia jauh lebih berani dari yang kukira. Dia akan mencobanya lagi. Bella tiba di sekolah lebih awal. Dia terlihat sangat menikmati pancaran matahari, duduk di salah satu kursi piknik yang jarang dipakai sembari menunggu bel pertam a berbunyi. Sinar matahari membuat rambutnya kelihatan berbeda, memancarkan semburat merah yang tidak kuliha t sebelumnya. Mike menemukan dia disana, dan merasa senang pad a keberuntungannya. 207

Rasanya menyakitkan hanya bisa menonton, tak berd aya, terpenjara dibalik bayang- bayang hutan. Bella menyapanya dengan semangat yang cukup mem buat Mike girang, dan yang sebaliknya terjadi padaku. Betul kan, dia menyukaiku. Dia tidak akan tersenyu m seperti itu jika dia tidak suka. Berani taruhan, Sebetu lnya dia ingin pergi ke pesta dansa bersamaku. Kira-kira apa yang begitu penting di Seattle... Mike menyadari perubahan di rambut Bella. t merahnya. Aku secara tidak sengaja mencabut batang pohon pal em muda disampingku saat melihat Mike meraih sejumput rambut Bella dengan tangannya. Hanya dibawah sinar matahari, katanya. Dengan puas aku melihat bagaimana Bella agak men arik diri menjauh ketika Mike mengembalikan rambutnya ke belakang telinga. Butuh beberapa saat bagi Mike untuk mengembalikan keberaniannya lagi, menghabiskan beberapa saat dengan obrolan ringan. Bella mengingatkan tentang esay yang mesti dikump ulkan pada hari rabu. Dari ekspresi puas samar di wajah nya, sepertinya tugasnya sudah selesai. Sedang Mike sam a sekali lupa. Dasar esai sialan! Akhirnya ia sampai ke pokok pembicaraanµgigiku te rkatup sangat rapat hingga bisa mengikis batu granit. Ta pi kemudian dia tidak sanggup menanyakannya begitu saj a. Kurasa aku harus mengerjakan esaiku malam ini. Pa dahal aku ingin mengajakmu kencan. Aku tid ak pernah menyadari sebelumnya µrambutmu ada sembura

208

Oh,

ujar Bella. Sejenak hening.

Oh? Apa itu artinya? Apa dia akan berkata ya? Tung guµsepertinya aku belum benar- benar bertanya. Mike menelan ludah. Well, kita bisa pergi makan malam atau apa...dan ak u bisa mengerjakan esaiku nanti. Geblekµitu juga bukan pertanyaan. Mike... Pedih dan marah akibat cemburu, terasa berkali-kali lipat lebih besar dari minggu lalu. Aku mematahkan satu batang pohon lagi. Aku sangat ingin terbang kesana, sec epat kilat hingga tak ada yang bisa melihat, dan merengg utnyaµuntuk menculik Bella dari bocah yang saat ini beg itu kubenci hingga bisa saja aku membunuhnya detik ini juga dan menikmatinya. Apa dia akan menjawab ya padanya? Aku pikir itu bukan ide yang bagus. Aku bernapas lagi. tubuhku bisa kembali rileks. Sepertinya Seattle memang cuma alasan. Aku seharu snya tidak bertanya. Apa yang kupikirkan? Berani taruha n pasti gara-gara si aneh Cullen itu... Kenapa? tanya Mike dengan marah terpendam. Kurasa... Bella bimbang. Kalau kau sampai cerita-c erita apa yang akan kuberitahu ini ke orang lain, dengan senang hati aku akan memukulimu sampai matiµ Aku tergelak mendengar ancaman kematian keluar da ri mulutnya. Seekor burung cericit terhenyak kaget dan l angsung terbang kabur. Tapi kurasa itu akan membuat Jessica patah hati. Jessica? Hmm. Pikirannya kini saling tumpan tindih. Yang benar saja, Mike, kau ini buta ya? Apa? Tapi... Oh. Oke. Sepertinya... Jadi...

209

Tidak seharusnya Bella berharap orang lain sepeka dia. Tapi, memang, hal itu sebetulnya sangat kentara. De ngan segala kerepotan yang Mike persiapkan untuk meng ajak Bella kencan, apa dia pernah membayangkan bahwa tidak akan sesulit itu jika menghadapi Jessica? Pasti kar ena egois, yang membuat dia buta dengan sekelilingnya. Sedang Bella begitu tidak egois, dia melihat segalanya. Jessica. Hmm. Wow. Hmm. hindar. Waktunya masuk kelas, dan aku tidak boleh terlamb at lagi. Sejak itu pikiran Mike sudah tidak bisa kuandalkan lagi. Saat berulang kali membayangkan Jessica di kepala nya, dia merasa lebih suka pada ide bahwa Jessica tertar ik pada dirinya. Buatnya itu pilihan kedua, tidak sebaik jika itu adalah Bella. Kurasa dia cukup manis. Badannya lumayan. Burung yang sudah di tangan... Kemudian dia lenyap, sibuk dengan fantasinya, sevu lgar fantasinya tentang Bella, tapi kini lebih membuatku jijik dari pada marah. Dia tidak layak mendapatkan gadis manapun; baginya mereka hampir bisa ditukar-tukar. Seb isa mungkin aku menjauhi pikirannya. Ketika Bella sudah hilang dari pandangan, aku dudu k bersandar pada batang pohon Madone besar, berloncata n dari pikiran ke pikiran, mengikuti Bella terus, dan sen ang jika ada Angela Weber di dekatnya. Kuharap ada sat u cara untuk bisa berterima kasih pada gadis itu karena s udah menjadi teman yang baik buat Bella. Aku merasa le bih baik tahu Bella punya satu orang yang layak disebut teman. Oh, Dia tidak bisa berka ta-kata. Bella memanfaatkan kebingungan itu untuk meng

210

Aku mengamati wajah Bella dari sisi manapun yang tersedia, dan dia terlihat sedih lagi. Ini mengejutkankuµ kupikir cuaca cerah cukup membuatnya tersenyum. Pada saat jam makan siang, dia berkali-kali melirik ke meja k eluargaku yang kosong. Dan itu membuatku berdebar-deb ar, memberiku harapan. Barangkali dia merindukanku jug a. Dia berencana untuk jalan-jalan bersama teman-tema n perempuannyaµotomatis aku juga merencanakan pengint ainku sendiriµtapi kemudian rencana mereka tertunda kar ena Mike mengajak Jessica kencan. Jadi, aku langsung saja pergi ke rumah Bella, menyi siri hutan di sekelilingnya untuk memastikan tidak ada b ahaya. Aku tahu Jasper sudah mewanti-wanti 'saudaranya ' agar menghindari pemukiman, tapi aku tidak mau ambil resiko. Peter dan Charlotte memang tidak berniat cari ga ra-gara dengan keluarga kami, tapi niat selalu berubah-u bah tiap waktu... Oke, aku memang berlebihan. Aku tahu itu. Seakan dia tahu aku sedang mengawasi, seakan dia merasa kasihan dengan penderitaanku karena tidak bisa melihatnya, Bella keluar ke halaman setelah berjam-jam di dalam. Dia membawa sebuah buku tebal dan selimut. Diam-diam aku memanjat ke dahan pohon paling ting gi agar lebih bisa leluasa melihatnya. Dia menggelar selimutnya ke atas rerumputan yang l embab dan berbaring menelungkup. Kemudian ia mulai m embalik-balik bukunya, yang kelihatannya sudah sering d ibaca, seakan sedang mencari halaman terakhir yang diba ca. Aku membaca lewat pundaknya. Ahµlagi-lagi klasik. Dia penggemar Austen. Dia membaca dengan cepat sambil menyilangkan per gelangan kakinya di udara. Aku sedang mengawasi bagai

211

mana sinar matahari dan tiupan angin memainkan rambut nya saat tiba-tiba badannya kaku, tangannya membeku di satu halaman. Yang bisa kulihat dia sudah sampai ke bab ketiga saat tiba-tiba jarinya mengambil setumpuk halama n berikutnya, dan membukanya dengan kasar. Aku sempat melihat judul halamannya, Mansfield Pa rk. Dia memulai cerita yang baru µbukunya kumpulan kar ya Jane Austen. Aku bertanya-tanya kenapa mendadak ce ritanya diganti. Tidak beberapa lama, dia menutup bukunya dengan k esal. Dengan wajah sengit ia singkirkan bukunya dan ber guling menelentang. Dia menghela napas panjang, seakan sedang menenangkan diri, menarik lengan bajunya keata s, dan memejamkan mata. Aku mengingat- ngingat novel itu, tapi tidak bisa menemukan sesuatu yang dapat memb uatnya kesal. Satu misteri lagi. Aku mendesah. Dia berbaring diam, hanya sekali membuat gerakan s aat menyingkap rambutnya, membuangnya keatas kepalaµ aliran sungai coklat kemerahan. Setelah itu dia tidak ber gerak lagi. Napasnya lambat. Aku coba mendengarkan suara-sua ra dari rumah terdekat sampai sejauh mungkin. Dua sendok makan tepung...secangkir susu... Ayolah ! Pakai saja yang ada! Yang merah, atau biru...atau mungkin aku sebaiknya memakai sesuatu yang lebih kasual... Tidak ada siapa-siapa di dekat sini. Aku meloncat t urun, mendarat tanpa suara pada ujung kakiku. Ini sangat-sangat salah, sangat beresiko. Aku ingat bagaimana aku sering menghakimi tindakan-tindakan Em met yang tanpa dipikir panjang dulu dan bagaimana Jasp er yang kurang disiplinµdan sekarang secara sadar aku m engabaikan segala aturan itu sedemikian parahnya hingga

212

membuat penyelewengan mereka jadi tidak ada artinya. B iasanya aku selalu jadi yang paling bertanggung jawab. Aku menghela napas dalam-dalam, kemudian menyeli nap maju kebawah sinar matahari. Aku berusaha tidak melihat tubuhku yang terpapar c ahaya matahari. Sudah cukup buruk bagaimana kulitku se perti batu dan tidak wajar saat di balik keremangan; aku tidak mau melihatnya saat aku dan Bella bersebelahan di bawah sinar matahari. Jurang perbedaan diantara kami su dah cukup besar, sudah cukup menyakitan tanpa harus dit ambah gambaran ini di kepalaku. Tapi aku tidak bisa mengabaikan kilauan pelangi ya ng memantul di kulitnya saat aku mendekat. Rahangku te rkunci ketika melihat pemandangan itu. Bisakah aku lebi h aneh lagi? Aku membayangkan betapa ngerinya dia sea ndainya tiba-tiba matanya terbuka... Aku sudah mau mundur lagi, tapi kemudian ia mengg umam, menahanku di tempat. Mmm... Mmm... Tidak terlalu ada artinya. Well, aku akan menunggu sebentar. Dengan hati-hati aku mengambil bukunya, mengulur kan tangan sambil menahan napas saat mendekat, sekedar jaga-jaga. Aku bernapas lagi ketika sudah kembali menja uh beberapa meter. Bisa kurasakan bagaimana sinar mata hari dan udara terbuka berpengaruh pada aromanya. Pana s membuat aroma tubuhnya jadi lebih manis. Tenggoroka nku pun terbakar oleh hasrat yang besar, apinya membara dahsyat karena aku sudah terlalu lama tidak bertemu den gannya. Aku diam sebentar untuk menguasai diri, dan kemud ianµmemaksakan diri untuk bernapas lewat hidungµkubuk a bukunya. Dia mulai dengan cerita pertama... Aku memb

213

alik- balik halamannya sampai ke judul bab tiga, Sense a nd Sensibility, mencari sesuatu yang berpotensi membuat nya marah dalam karya Jane Austen yang sopan ini. Saat secara otomatis mataku tertuju pada namakuµpa da halaman inilah untuk pertama kalinya tokoh Edward F errars diperkenalkanµBella bicara lagi. Mmm. Edward, desahnya. Kali ini aku tidak khawatir dia terbangun. Suaranya hanya bisikan pelan yang muram, bukan teriak ketakutan sebagaimana mestinya jika dia memang melihatku. Perasaan gembira bergumul dengan kebencian dalam diriku. Paling tidak dia masih memimpikan aku. Edmund. Ahh. Terlalu...dekat... Edmund? Ha! Dia sama sekali tidak memimpikan aku, akhirny a aku sadar. Rasa benci pada diriku menguat. Dia memim pikan tokoh-tokoh fiksi. Sia-sia sudah kesombonganku. Aku mengembalikan bukunya, dan kembali menyelin ap kebalik bayangan hutanµke tempatku semestinya. Siang pun berlalu. Aku mengawasi dengan perasaan tak berdaya ketika matahari pelan- pelan terbenam di ufu k dan bayangan sore merayap menuju arahnya. Aku ingin menghalaunya, tapi kegelapan tidak mungkin dielakan; b ayang sore pun mengambilnya. Ketika cahaya menghilang , kulitnya terlihat terlalu pucatµseperti hantu. Rambutny a kembali gelap, hampir hitam dihadapan wajahnya. Itu hal yang mengerikan untuk dilihatµseperti meny aksikan penglihatan Alice menjadi nyata. Suara detak ja ntung Bella adalah satu-satunya yang menentramkan, sua ra yang menjadikan momen ini tidak seperti mimpi buru k. Aku lega ketika ayahnya pulang. Bisa kudengar sedikit suara pikirannya saat dia mel aju hampir sampai di rumah. Beberapa gerutuan samar...s

214

esuatu tentang pekerjaannya tadi. Harapan bercampur de ngan laparµsepertinya dia tidak sabar untuk makan mala m. Tapi pikirannya tidak terlalu banyak bicara, aku tida k terlalu yakin tebakanku betul; aku cuma menangkap int inya. Kira-kira seperti apa pikiran ibunyaµkombinasi gen etik seperti apa yang membuat Bella sangat unik. Dia terbangun, bangkit duduk saat mendengar mobil ayahnya menepi. Dia memandang ke sekeliling, terlihat b ingung dengan kegelapan yang tidak disangkanya. Untuk sesaat, matanya melihat kearah kegelapan tempatku berse mbunyi, tapi dia langsung mengerjap melihat kearah lai n. Charlie? tanyanya pelan, masih sambil mengamati p epohonan di disekeliling halamannya. Pintu mobil ayahnya dibanting tertutup, dan ia meli hat ke arah suaranya. Dia cepat- cepat berdiri dan memb ereskan barang-barangnya, menoleh sekali lagi ke arah k egelapan hutan. Aku pindah ke pepohonan yang lebih dekat dengan j endela dapur untuk mendengarkan malam mereka. Ternyat a menarik membandingkan perkataan Charlie dengan isi p ikirannya. Kecintaan dan kepedulian dia pada putri satusatunya sangat besar, namun ucapan-ucapannya selalu pe ndek dan santai. Lebih seringnya mereka cuma duduk dia m dengan nyaman. Kudengar ia mengungkapkan rencananya untuk pergi ke Port Angeles besok, dan aku merancang rencanaku sen diri saat mendengarkannya. Jasper tidak memperingatkan teman- temannya untuk menjauhi Port Angeles. Meski aku tahu mereka baru saja berburu belum lama ini dan tidak berniat untuk berburu disekitar rumah kami, aku akan tet ap mengawasi Bella. Hanya untuk jaga-jaga. Lagipula, se

215

lalu ada mahluk seperti kami di luar sana. Dan, juga ada semua bahaya yang mungkin saja menimpa manusia, yang sebelumnya tidak pernah kupertimbangkan. Kudengar ia cemas besok mesti meninggalkan ayahn ya untuk menyiapkan makan malam sendiri. Aku tersenyu m pada hal ini karena membuktikan teorikuµya, dia seora ng pengasuh. Setelah itu aku pergi. Aku akan kembali lagi setelah dia tidur. Aku tidak akan melanggar privasinya seperti seoran g pengintip. Aku disini untuk melindunginya, bukan untu k mengambil kesempatan sebagaimana Mike mungkin aka n melakukannya jika ia setangkas aku. Aku tidak akan m emperlakukannya dengan tidak sopan. Rumahku kosong s aat aku kembali, yang mana baik-baik saja untukku. Aku tidak rindu dengan segala pikiran mereka yang memperta nyakan kewarasanku. Emmet meninggalkan catatan yang ditempel di tiang dekat tangga. Pertandingan bola di lapangan Rainierµayo ikut! Ple ase? Aku menemukan pena dan menuliskan kata Sori diba wah permohonannya. Biar bagaimanapun, teamnya telah l engkap tanpa kehadiranku. Aku pergi ke lahan berburu terdekat, menyantap mah luk kecil lemah yang baunya tidak sebaik manusia yang b iasa memburunya, dan kemudian berganti baju sebelum la ri kembali ke Forks. Tidur Bella tidak nyenyak malam ini. Selimutnya be rantakan. Wajahnya kadang gelisah, kadang sedih. Aku b ertanya-tanya, mimpi buruk apa yang menghantuinya...ta pi kemudian sadar, mungkin sebaiknya aku tidak usah ta hu.

216

Ketika bicara, seringkali ia berkomat-kamit mengelu hkan tentang Forks dengan suara murung. Hanya sekali, ketika ia mendesahkan kata, Kembali, tangannya membal ik terbuka µsebuah sikap memohon. Bisakah aku berhara p bahwa mungkin saja ia sedang memimpikan aku. Hari sekolah berikutnya, hari terakhir matahari mem enjarakanku, kurang lebih sama dengan sebelumnya. Bah kan Bella kelihatan lebih murung dari kemarin. Aku jadi bertanya-tanya, apa dia akan membatalkan janjinyaµkeli hatannya dia sedang tidak mood. Tapi, sebagai Bella, pasti ia akan memilih kesenang an temannya diatas kepentingan sendiri. Ia mengenakan blus biru tua hari ini. Warna itu san gat sempurna dengan kulitnya, membuatnya terlihat sepe rti krim susu segar. Sekolah usai, dan Jessica setuju untuk menjemput y ang lainnyaµAngela juga ikut, membuatku bersyukur. Maka aku pulang ke rumah untuk mengambil mobil. Peter dan Charlotte masih ada. Dan kuputuskan untuk me mberi kesempatan bagi Bella dan teman-temannya untuk berangkat satu jam lebih dulu. Aku tidak akan tahan men gikuti di belakang mereka, menyetir di batas kecepatan n ormalµmemikirkannya saja sudah ngeri. Aku masuk lewat dapur, mengangguk samar pada sap aan Emmet dan Esme saat melewati semuanya di ruang ta mu, dan langsung menuju ke piano. Ugh, dia kembali. Tentu saja itu Rosalie. Ah, Edward. Aku tidak suka melihatnya begitu mend erita. Kegirangan Esme tergantikan oleh cemas. Dia suda h semestinya cemas. Kisah cinta yang ia idam-idamkan u ntukku semakin nyata akan berbalik jadi tragedi. Selamat bersenang-senang di Port Angeles nanti mal am, pikir Alice dengan riang

217

Beritahu aku kalau sudah boleh bicara dengan Bella. Kau benar-benar payah. Aku tidak percaya kau mele wati pertandingan tadi malam hanya untuk mengawasi ses eorang tidur, gerutu Emmet. Jasper mengacuhkanku bahkan saat lagu yang kumai nkan terdengar lebih ribut dari yang kumau. Itu lagu lam a, dengan tema yang umum: ketidak sabaran. Jasper seda ng berpamitan dengan teman-temannya, yang memandangi ku dengan penasaran. Mahluk yang aneh, pikir Charlotte, si gadis yang se mungil Alice dengan rambut pirang keperakan. Padahal d ia sangat normal dan sopan saat terakhir kali kami berte mu. Pikiran Peter kurang lebih serupa dengannya, sepert i biasanya. Pasti gara-gara binatang-binatang itu. Tidak minum darah manusia akhirnya membuat mereka gila juga, begit u kesimpulan dia. Rambutnya sepirang Charlotte, dan ha mpir sama panjangnya. Mereka berdua sangat miripµkecu ali tingginya, karena dia hampir setinggi Jasperµpada pe nampilan dan pemikiran. Pasangan yang sangat cocok. Setelah beberapa saat, semuanyaµkecuali Esmeµberh enti memikirkan aku. Dan aku mulai bermain dengan nad a-nada lembut agar tidak menarik perhatian. Aku tidak memperhatikan mereka lagi selama bebera pa lama, membiarkan musiknya mengalihkanku dari kegel isahan. Rasanya sulit menghilangkan Bella dari pandanga n dan pikiranku. Aku hanya kembali memperhatikan pemb icaraan mereka ketika Peter dan Charlotte sudah hampir pergi. Kalau kau bertemu Maria lagi, hawatir. kata Jasper sedikit k Katakan padanya aku harap dia baik-baik saja.

218

Maria adalah vampir yang telah menciptakan Jasper dan PeterµJasper diciptakan di pertengahan abad sembila n belas, sedang Peter baru belakangan, pada tahun 1940a n. Maria pernah sekali mencari Jasper pada saat kami di Calgary. Itu adalah kunjungan yang luarbiasa µkami haru s cepat-cepat pindah. Jasper memintanya dengan sopan a gar ia menjauhi dirinya. Kurasa itu tidak akan segera terjadi, jawab Peter sa mbil tertawaµtidak disangkal lagi Maria berbahaya, dan tidak ada banyak cinta diantara dia dan Peter sebelumny a. Peter cuma dimanfaatkan sepeninggal Jasper. Jasper s elalu menjadi favorit Maria; dia menganggapnya detail s epele saat pernah sekali berencana membunuh Jasper. pi mungkin saja aku akan bertemu dengannya. Kemudian mereka bersalaman, siap-siap untuk pergi. Kuhentikan laguku di tengah- tengah, dan dengan tergesa -gesa berdiri. Charlotte, Peter, salamku sambil mengangguk. ujar Menyenangkan bertemu lagi denganmu, Edward, gan anggukan. Dasar orang gila, umpat Emmet padaku. Idiot, Rosal ie memikirkan hal yang sama. Kasihan, itu Esme. Dan Alice, dengan suara mencibir, mereka akan lang sung ke timur, menuju Seattle. Tidak mendekati Port Ang eles. Dia memperlihatkan bukti penglihatannya. Aku pura-pura tidak mendengar. Alasanku sudah cuk up lemah. Setelah di dalam mobil, aku merasa lebih tenang; de ngung mantap suara mesin yang telah di tune-up oleh Ro salieµtahun lalu, saat moodnya lebih baikµterdengar men yenangkan. Rasanya lega bisa di jalan lagi, mengetahui s Ta

Charlotte basa-basi. Sementara Peter cuma menjawab den

219

etiap mil yang kulewati membawaku semakin dekat denga n Bella.

220

9. Port Angeles
Masih terlalu terang bagiku untuk berkendaraan di d alam kota saat tiba di Port Angeles; matahari masih terl alu tinggi diatas. Dan, meski jendelaku sangat gelap, tid ak ada alasan untuk mengambil resiko. Mengambil resiko lebih, lebih tepatnya. Aku sangat yakin mampu menemukan pikiran Jessica dari jauhµpikiran dia lebih keras ketimbang Angela. Sete lah menemukan Jessica, aku akan menemukan Angela. Ke mudian, ketika makin gelap, aku bisa mendekat. Untuk s aat ini, aku keluar dari jalan utama untuk menunggu di d aerah pinggir kota yang tampaknya jarang dilewati oran g. Aku tahu kira-kira ke arah mana harus mencariµhan ya ada satu tempat untuk mencari gaun di Port Angeles. Tidak terlalu lama, setelah menemukan Jessica, yang sed ang memutar- mutar badannya di depan tiga bidang cermi n, aku bisa melihat Bella lewat pikirannya. Bella sedang memuji gaun panjang hitam yang ia kenakan. Bella masih kelihatan kesal. Ha ha. Angela betulµT yler cuma membual. Tapi aku tidak mengerti kenapa dia sekesal itu. Paling tidak dia tahu dia punya kencan cada ngan untuk pesta prom. Bagaimana jika Mike tidak menik mati pesta dansa besok, dan ia tidak mengajakku kencan lagi? Bagaimana jika dia mengajak Bella ke pesta prom? Apa Bella akan mengajak Mike ke pesta dansa jika aku ti dak mengajaknya duluan? Apakah menurut Mike dia lebih cantik ketimbang aku? Apakah dia pikir dirinya lebih ca ntik dibanding aku? Kurasa aku lebih suka yang biru. Sesuai dengan war na matamu.

221

Jessica tersenyum palsu pada Bella, sementara mata nya memperhatikan dengan curiga. Apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya? Atau y ang ia inginkan aku terlihat seperti sapi di hari sabtu na nti? Belum-belum aku sudah lelah mendengarkan Jessica. Aku mencari Angela di dekat situ µah, tapi Angela sedan g ganti baju, dan aku langsung cepat-cepat keluar dari k epalanya untuk memberi dia privasi. Well, tidak ada sesuatu yang akan menimpa Bella se lama dia di department store. Biarkan saja mereka belanj a dan kemudian mencari mereka lagi saat sudah selesai. Tidak akan lama lagi gelapµawan mulai berarak kembali, bertiup dari arah barat. Aku hanya bisa menangkap keleb atannya melalui sela-sela daun, tapi bisa kulihat awan-a wan itu akan mempercepat matahari tenggelam. Aku mena nti-nantikannya dengan tidak sabar. Besok aku akan bisa duduk disamping Bella lagi, memonopoli perhatiannya di jam makan siang lagi. Aku bisa menanyakan segala perta nyaan yang selama ini kusimpan... Jadi, ia kesal dengan kepongahan Tyler. Aku bisa m elihat itu di kepala Tylerµbahwa dia bersungguh-sunggu h ketika menyinggung tentang prom, bahwa ia menegaska n niatnya. Aku mengingat kembali ekspresi Bella siang i tuµtidak percaya dan marahµdan aku tergelak. Kira-kira apa yang akan ia katakan pada Tyler tentang ini. Aku tid ak akan melewatkan kesempatan melihat reaksi Bella. Waktu berjalan lambat selama menunggu gelap datan g. Secara berkala aku mengecek Jessica; suara mentalnya paling mudah ditemukan. Tapi aku tidak suka berlama-la ma disitu. Aku melihat dimana mereka berencana untuk makan. Pasti sudah gelap ketika waktunya makan malam..

222

.mungkin aku akan secara tidak sengaja makan di restora n yang sama. Kusentuh handphone di kantongku, mempertimbangk an untuk mengajak Alice keluar makan... Dia akan suka i tu, tapi dia juga pasti akan minta bicara dengan Bella. A ku belum yakin aku siap untuk melibatkan Bella lebih ja uh kedalam duniaku. Bukannya satu vampir saja sudah m erepotkan? Aku kembali mengecek Jessica lagi. Dia sedang mem ikirkan tentang perhiasannya, minta pendapat Angela. Mungkin sebaiknya aku mengembalikan kalungnya. Aku sudah punya satu di rumah yang sepertinya juga coc ok, dan aku sudah membelanjakan uangku lebih dari seha rusnya... rkan? Aku tidak masalah kembali ke toko. Tapi bagaimana jika nanti Bella mencari-cari kita? Apa ini? Bella tidak bersama mereka? Aku memperh atikan lewat mata Jessica, kemudian ganti ke Angela. Me reka di trotoar di depan deretan toko-toko, baru saja bal ik arah. Bella tidak kelihatan dimana-mana. Siapa yang peduli dengan Bella? Pikir Jess tidak sa baran, sebelum menjawab pertanyaan Angela. Dia baik-b aik saja. Kita masih punya banyak waktu sebelum ke rest oran, bahkan jika kita kembali dulu. Lagipula, kurasa di a sedang ingin sendirian. Aku menangkap sekelebatan ga ujar Angela. Kuharap Bella mbaran toko buku yang Jess pikir tempat tujuan Bella. Ayo cepat kalau begitu, tidak beranggapan kami menelantarkan dia. Dia baik pad aku selama di mobil tadi... Dia benar-benar orang yang menyenangkan. Tapi kelihatannya dia agak murung sehari an ini. Aku bertanya-tanya, apa karena Edward Cullen? B Ibuku pasti akan marah besar. Apa yang kupiki

223

erani taruhan, itulah alasannya kenapa ia menanyakan te ntang keluarganya... Seharusnya aku lebih memperhatikan. Apa saja yang sudah kulewatkan? Bella berkeliaran sendirian. Dan tadi dia menanyakan tentang aku? Angela sedang memperhatikan Jessica sekarangµJess ica sedang mengoceh tentang si bodoh Mikeµdan aku tida k mendapatkan info lebih banyak dari dia. Aku menilai sekelilingku. Sebentar lagi matahari di belakang awan. Jika aku tetap berada di sisi barat, dima na gedung-gedung akan menghalangi sinar matahari yang mulai redup... Aku mulai cemas begitu menyetir melewati jalanan s epi menuju pusat kota. Ini sesuatu yang tidak kuperhitun gkanµBella memisahkan diriµdan aku tidak tahu bagaima na caranya menemukan dia. Aku harusnya mempertimbang kan hal ini. Aku tahu seluk-beluk Port Angeles; mobilku langsun g menuju ke toko buku yang ada di pikiran Jessica, berh arap pencarianku singkat, tapi sekaligus sangsi ini akan berjalan dengan mudah. Mana pernah Bella membuatnya j adi mudah? Tentu saja tokonya kosong, kecuali seorang perempu an berbaju aneh dibelakang konter. Ini bukan tempat yan g bagi Bella menarikµterlalu hipies untuk orang seperti dia. Aku bertanya-tanya, apa dia bahkan repot-repot mau masuk? Ada sebidang lahan yang terhalang matahari, bisa u ntuk tempatku parkir... Juga ada jalur gelap yang langsu ng menuju ke toko itu. Aku seharusnya tidak melakukann ya, berkeliaran ketika matahari masih bersinar itu tidak aman. Bagaimana jika ada mobil lewat yang memantulkan cahaya matahari di waktu yang salah?

224

Tapi aku tidak tahu lagi bagaimana caranya mencari Bella! Aku parkir dan langsung keluar, tetap berada dibali k bayang-bayang. Aku melangkah cepat-cepat menuju tok o itu, ada sedikit sisa aroma Bella di udara. Dia sempat kesini, di trotoar, tapi tidak ada tanda-tanda aromanya d i dalam toko. Selamat datang! Ada yang bisa saya bantuµ njaga toko itu, tapi aku sudah keluar lagi. Aku mengikuti bau Bella sejauh bayangan gedung-ge dung, berhenti ketika tiba di tubir cahaya matahari. Betapa tidak berdayanya akuµterpenjara oleh seberk as sinar yang melintang di trotar di depanku. Terkungku ng. Aku cuma bisa menebak dia terus jalan menuju ke ut ara. Tidak terlalu banyak yang bisa dilihat disana. Apa d ia tersesat? Well, kemungkinan itu tidak terlalu mengher ankan. Aku kembali ke mobil dan menyusuri jalanan itu pel an-pelan, mencari-cari dia. Aku keluar tiap menemukan s isi gelap yang terhalang matahari, tapi hanya sempat sat u kali menangkap aromanya, dan arahnya membingungkan aku. Dia berencana mau kemana? Aku bolak-balik antara toko buku dan restoran bebe rapa kali, berharap melihatnya di jalanan. Jessica dan A ngela sudah sampai di restoran, berusaha memutuskan ap a akan langsung memesan atau menunggu Bella dulu. Jess ica memaksa untuk memesan secepatnya. Aku mulai berga nti-ganti melihat ke pikiran orang-orang asing, mencari lewat mata mereka. Pastilah seseorang sempat melihat di a di suatu tempat. Makin lama dia hilang aku semakin waswas dibuatny a. Tidak pernah terpikir sebelumnya betapa sulitnya men sapa pe

225

cari dia. Seperti sekarang, dia hilang dari pengawasank u, dan keluar dari jalur normal orang-orang. Aku tidak s uka ini. Awan-awan mulai berkumpul di horizon. Beberapa m enit lagi, aku akan bebas mencarinya di luar. Kalau suda h begitu tidak akan memakan waktu lama. Sinar matahari lah yang membuatku tak berdaya. Hanya beberapa menit l agi, kemudian keuntungan akan berada di pihakku lagi da n manusia lah yang tidak berdaya. Pikiran satu ke pikiran lainnya. Ada begitu banyak pikiran-pikiran sepele. ...kurasa anakku telinganya infeksi lagi... Apakah enam-empat-kosong atau enam-kosong-empa t...? Terlambat lagi. Aku mesti memberitahunya... Ini dia datang! Aha! Itu dia wajahnya. Akhirnya seseorang menyadari di a! Kelegaanku hanya berlangsung sepersekian detik, ka rena kemudian aku membaca lebih jauh pikiran pria yang memandang penuh nafsu ke wajahnya di tengah keremang an. Itu pikiran orang asing, tapi tidak sepenuhnya asing . Dulu aku pernah memburu orang- orang dengan pikiran seperti ini. TIDAK! teriakku, dan geraman panjang keluar dari t enggorokanku. Kakiku menginjak pedal gas dalam-dalam, tapi kemana tujuanku? Aku cuma tahu kira-kira lokasi pikirannya, tapi tida k tahu pasti persisnya. Sesuatu, pasti ada sesuatuµnama jalan, plang toko, sesuatu dalam pandangannya yang bisa menunjukan keberadaannya. Tapi Bella tenggelam di bali k bayang-bayang, dan mata pria itu hanya fokus ke ekspr esi takut Bellaµmenikmati ketakutannya.

226

Wajah Bella jadi buram di pikirannya, terselimuti i ngatan wajah-wajah lainnya. Bella bukan korban pertama nya. Suara geramanku menggetarkan kaca mobil, tapi tida k mengalihkan perhatianku. Tidak ada jendela-jendela di tembok di belakang Be lla. Di sekitar daerah industri, jauh dari lokasi pertokoa n yang ramai. Mobilku mendecit membelok di pertigaan. Pada saat pengemudi lain membunyikan klakson, suarany a sudah jauh di belakangku. Coba lihat bagaimana dia gemetaran! Orang itu terk ekeh. Ekspresi ngerilah yang ia cariµbagian yang ia nik mati. Pergi dariku. jeritan. Jangan seperti itu manis. Pria itu menoleh ke suara tawa kasar yang berasal d ari jurusan lain. Keributan itu membuatnya marahµdiam, Jeff! batinnyaµtapi dia senang melihat Bella menjengit k aget. Itu membuatnya bergairah. Dia membayangkan baga imana Bella akan memohon-mohon... Aku tidak menyadari masih ada tambahan satu orang lagi sampai mendengar suara tawanya menyusul si Jeff ta di. Aku pindah ke pikiran orang itu, putus asa mencari s esuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Dia melangkah ke a rah Bella, melenturkan tangannya. Pikiran dua orang itu tidak sebusuk yang pertama. Mereka tidak menyadari seberapa jauh orang yang merek a panggil Lonnie itu akan berbuat. Mereka asal mengikut i Lonnie. Mereka dijanjikan akan bersenang-senang... Satu dari mereka memandang ke ujung jalan dengan gugupµdia tidak ingin kepergok sedang melecehkan seora Suara Bella rendah dan tenang, bukan

227

ng perempuanµdan itu memberi tahu apa yang kubutuhkan . Aku mengenali perempatan yang ia lihat. Aku langsung menerabas lampu merah, memotong dia ntara celah sempit diantara dua mobil yang melintas. Bu nyi klakson nyaring di belakangku. Teleponku bergetar di kantong. Tidak kugubris. Lonnie maju pelan-pelan ke arah Bella, sengaja mem bikin tegangµsaat-saat penuh teror membangunkan minat nya. Dia menunggu Bella menjerit, siap-siap untuk meni kmatinya. Tapi Bella mengunci rahangnya rapat-rapat. Orang i tu terkejutµdia berharap Bella akan mencoba untuk lari. Terkejut dan agak kecewa. Dia suka jika harus mengejar mangsanya, ketegangan dari berburu. Yang ini pemberani. Barangkali lebih baik...akan le bih ada perlawanan. Aku tinggal satu blok lagi. Monster itu bisa menden gar raungan mesinku, tapi tidak mempedulikannya, dia te rlalu memperhatikan korbannya. Aku ingin melihat bagaimana dia menikmati perburu an ketika dialah mangsanya. Aku ingin melihat bagaiman a pendapatnya tentang gaya berburuku. Di bagian lain dalam kepalaku, aku sudah mendata b erbagai bentuk siksaan yang pernah kusaksikan selama m asa perang dulu, mencari yang paling menyakitkan. Dia h arus menderita atas hal ini. Dia harus betul-betul tersiks a. Yang lainnya hanya akan mati karena ikut membantu. Tapi si monster bernama Lonnie ini tidak akan mati sece pat itu. Dia akan memohon-mohon, tapi tidak akan seger a kukabulkan. Dia ada di tengah jalan, menyudutkan Bella. Dengan ngebut aku membelok di pojokan hingga mob iku terbanting kesamping. Lampu sorotku menerangi mer

228

eka, membuat mereka terloncat kaget. Aku bisa saja men erjang si pemimpinnya, tapi kematian itu akan terlalu ce pat. Aku langsung membanting kemudi hingga mobilku be rputar dan berbalik arah, dengan begitu pintu penumpang nya lebih dekat dengan posisi Bella. Aku segera membuk anya, dan ia sudah lari menuju mobilku. Cepat masuk, Apa-apan ini? Aku tahu ini ide yang buruk! Dia tidak sendirian. Harus kah aku lari? Sepertinya aku mau muntah... Tanpa ragu-ragu Bella meloncat masuk, membanting pintu di belakangnya. Dan kemudian ia menatapku dengan pandangan palin g percaya yang pernah kulihat, dan segala rencana kejiku langsung runtuh. Butuh waktu tidak sampai sedetik untuk menyadari b ahwa aku tidak akan sanggup meninggalkan dia sendirian di mobil sementara aku memberi perhitungan dengan emp at orang tadi. Apa yang akan kukatakan padanya, jangan melihat? Ha! Kapan dia pernah menuruti yang kuminta? Kapan dia pernah melakukan tindakan yang aman? Mungkinkah aku menggiring mereka pergi, menjauh dari Bella, dan meninggalkan dia sendirian disini? Hamp ir tidak mungkin ada penjahat lain yang berkeliaran di P ort Angeles malam ini, tapi yang pertama tadi juga hamp ir tidak mungkin! Seperti magnet, dia menarik segala ba haya menuju ke arahnya. Dia tidak boleh lepas dari peng awasanku. Sepertinya, sebagian ekspresi Bella mirip dengan pa ra penjahat tadi saat aku membawanya pergi begitu cepat , ternganga bingung. Dia tidak menyadari kebimbanganku teriakku setengah menggeram.

229

yang sekejap tadi. Dia akan mengira sedari awal rencana nya memang akan melarikan diri. Aku bahkan tidak sanggup menerjang mereka. Itu ak an membuat dia ngeri. Keinginanku untuk membunuh mon ster itu begitu hebatnya hingga mendengingkan telingaku dan mengaburkan penglihatanku, dan sampai terasa di lid ahku. Otot-ototku menegang, memohon untuk segera dila mpiaskan. Aku harus membunuhnya. Aku akan mengulitin ya pelan-pelan, sedikit demi sedikit, kulit dari dagingny a, daging dari tulangnya... Kecuali bahwa sang gadisµsat u-satunya gadis di dunia iniµsedang mencengkram kursin ya dengan dua tangan, menatap ke arahku. Matanya masi h lebar dan sepenuhnya percaya. Balas dendam mesti men unggu. Pakai sabuk pengamanmu, perintahku. Suaraku kasar , sarat kebencian dan haus darah. Bukan haus darah yang biasanya. Aku tidak sudi menodai diriku dengan memasu kan bagian dari monster itu ke badanku. Bella memasang sabuk pengamannya, berjengit ketik a mendengar suaranya. Bunyi kecil seperti itu membuatn ya terloncat, namun dia bergeming saat aku membawanya pergi dengan ngebut, melanggar semua rambu lalu lintas. Bisa kurasakan pandangannya padaku. Anehnya, dia kelihatan tenang. Bagiku itu tidak mas uk akalµtidak dengan apa yang baru saja dialami. Apa kau baik-baik saja? tanyanya dengan suara bera t karena tertekan dan takut. Dia ingin tahu apa aku baik-baik saja? Aku memikirkan pertanyaannya selama sepersekian d etik, tidak cukup lama baginya untuk menyadari kebimba nganku. Baik-baik saja kah aku? Tidak,aku menyadari. Nadaku menggelegak marah.

230

Aku membawanya ke jalanan sepi, tempatku menung gu tadi. Sekarang gelap gulita. Rerimbunan pohon di pin ggir jalan. Aku sangat murka hingga tubuhku membeku di tempa t, sepenuhnya tidak bergerak. Tangan dinginku yang terk unci, gatal ingin meremukkan penyerang gadis ini, untuk mencincangnya kecil-kecil hingga badannya tidak mungki n dikenali... Tapi itu berarti meninggalkannya sendirian disini, t idak terlindungi di tengah kegelapan. Bella? tanyaku dari sela-sela gigi. Ya? jawabnya dengan suara parau. Dia berdeham pel an. Apa kau baik-baik saja? Itu betul-betul hal yang pa ling penting. Prioritas pertama. Pembalasan adalah hal y ang kedua. Aku tahu itu, tapi badanku begitu dipenuhi a marah hingga membuatku sulit untuk berpikir. Iya. Suaranya masih pekatµkarena takut, tidak salah lagi. Dengan demikian aku tidak bisa meninggalkannya. Bahkan seandainya dia tidak selalu berada dalam ba haya karena alasan yang tidak masuk akalµkarena leluco n tidak bertanggung jawab untuk mempermainkan diriku µ, bahkan jika aku bisa yakin dia akan sepenuhnya baikbaik saja selama aku tidak ada, aku tetap tidak akan me mbiarkannya sendirian di tengah kegelapan. Dia pasti sangat ketakutan. Namun tetap saja, aku tidak sedang dalam kondisi y ang sanggup untuk menenangkan diaµbahkan itu jika aku tahu bagaimana cara menenangkan dia, yang aku tidak ta hu. Pasti dia merasakan hawa kekejaman keluar dariku. I tu pasti kentara sekali. Aku akan semakin membuatnya ta kut jika tidak sanggup mendinginkan nafsu membunuh ya ng mendidih dalam diriku.

231

Aku mesti memikikirkan sesuatu yang lain. Tolong alihkan perhatianku, Maaf, apa? Hampir aku tidak sanggup menjelaskan yang kumaks ud. Coba ceritakan sesuatu yang sepele sampai aku tena ng. Rahangku masih terkatup rapat. Hanya karena dia me mbutuhkan aku, aku tetap bertahan di mobil. Aku masih bisa mendengar pikiran orang itu, kecewa dan marah... A ku tahu dimana menemukannya... Kupejamkan mata, berharap tidak bisa menemukanny a. Mmm... dia ragu-raguµsepertinya berusaha memaha Aku ingin melindas Tyler Crowley bes Dia mengatakannya seakan it mi permintaanku. pohonku padanya.

ok sebelum masuk sekolah? u sebuah pertanyaan.

Yaµinilah yang kubutuhkan. Tentu saja Bella akan m engatakan sesuatu yang tidak kukira. Seperti sebelumny a, ancaman yang keluar dari bibirnya begitu menggelikan . Jika aku tidak sedang terbakar oleh nafsu membunuh, p asti aku sudah tertawa. Kenapa? tukasku, memaksanya untuk bicara lagi. Dia memberitahu semua orang bahwa ia akan mengaj akku ke pesta prom, suaranya diliputi kegeraman seperti Entah dia gila atau dia masi tambahnya dengan na kucing-manis, khas dirinya.

h mencoba menebus kesalahannya karena hampir membun uhku tempo...well, kau pasti ingat, da datar. Dan dia pikir pesta prom cara yang tepat. Jadi

setelah kuhitung-hitung, kalau aku membahayakan hidup nya, berarti kedudukan kami seri, dan dia tidak perlu ter us-menerus memperbaiki hubungan. Aku tidak butuh mus uh dan barangkali Lauren akan bersikap biasa kalau Tyle r menjauhiki. Meski begitu aku mungkin perlu menghanc

232

urkan mobil Sentranya. pertimbangan,

Dia melanjutkan, kali ini penuh

kalau tidak punya mobil, berarti dia tidak

bisa mengajak siapa-siapa ke prom... Rasanya menyenangkan, sekali-kali melihat di sala h. Kegigihan Tyler tidak ada hubungannya dengan inside n waktu itu. Bella tidak menyadari daya tarik dirinya di mata bocah-bocah di seantero sekolahan. Dan apa dia jug a tidak melihat efek daya tariknya padaku? Ah, itu manjur. Ketidak wajaran proses berpikirnya selalu mengasyikan. Aku mulai bisa mengendalikan diri, untuk memikirkan selain balas dendam dan penyiksaan... Aku sudah mendengar tentang itu, a. Kau sudah mendengarnya? pun jadi lebih marah. h, dia tidak akan bisa ke prom. Kuharap, entah bagaimana, aku bisa minta dia terus bicara tentang mengancam dan melukai tanpa harus keden garan gila. Dia tidak bisa memilih cara lain yang lebih b aik untuk menenangkan diriku. Dan perkataannyaµungkap an sarkasme dan hiperbolanyaµpengingat yang kubutuhka n di saat seperti ini. Aku menghela napas dan membuka mata. Lebih baik? tanyanya takut-takut. Tidak terlalu. Tidak, aku lebih tenang, tapi tidak lebih baik. Itu k arena aku sadar tidak dapat membunuh monster bernama Lonnie itu, padahal aku masih menginginkannya hampir melebihi segalanya di dunia. Hampir. Satu-satunya yang saat ini kubutuhkan melebihi kei nginan membunuhku adalah gadis ini. Meski aku tidak bi sa mendapatkan dia, dan hanya bisa memimpikannya saja, tanyanya heran. Suaranya Jika dia lumpuh dari leher kebawa kataku padanya. Dia berhenti bicara. Padahal aku butuh dia meneruskanny

233

berhasil mencegahku untuk berkeliaran sebagai seoerang pembunuh nanti malam. Bella layak mendapatkan lebih dari sekedar seorang pembunuh. Aku menghabiskan tujuh dekade berusaha menjadi le bih dari ituµapapun selain seorang pembunuh. Dan tujuh dekade itu tetap tidak membuatku layak atas gadis yang duduk disampingku ini. Dan jika aku kembali ke kehidup an ituµkehidupan seorang pembunuhµ bahkan jika cuma u ntuk sehari, sudah pasti akan membuat gadis ini berada d iluar jangkauanku selamanya. Bahkan jika aku tidak mem inum darahnyaµbahkan jika aku tidak meninggalkan bukti merah menyala di matakuµakankah dia melihat perbedaan nya? Aku berusaha untuk bisa jadi lebih pantas. Aku tahu , itu tujuan yang mustahil, tapi aku tetap akan berusaha. Apa yang terjadi? bisiknya. Napasnya memenuhi penciumanku, dan aku diingatka n kenapa aku tidak mungkin layak baginya. Setelah semu a kejadian ini, bahkan dengan segala perasaan sayangku padanya...dia masih membuatku meneteskan liur. Aku akan mengatakan sejujur yang kubisa. Aku huta ng itu padanya. Kadang-kadang aku punya masalah dengan emosiku, Bella. Aku menatap keluar, ke kegelapan malam, berhara p dia mendengar kengerian yang terkandung dalam perkat aanku, tapi sekaligus berharap dia tidak mendengarnya. Seringkali dia tidak mendengarnya. Lari, Bella, lari. Tin ggal, Bella, tinggal. Tapi tidak akan menolong bila aku Hanya memikirkannya hampir m Se berbalik dan memburu...

embuatku keluar dari mobil. Aku menarik napas dalam-da lam, membiarkan aromanya membakar tenggorokanku. tidaknya itu yang coba kukatakan pada diriku sendiri.

234

Oh. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Seberapa banyak yang ia dengar? Aku melirik diam-diam, tapi wajahnya ti dak ketebak. Kosong karena syok, barangkali. Paling tid ak dia tidak menjerit. Belum. Selama beberapa waktu kami diam. Aku berperang d engan diriku sendiri, berusaha menjadi apa yang seharus nya. Sesuatu yang tidak aku bisa. Jessica dan Angela pasti khawatir, ucapnya pelan. S uaranya sangat tenang. Aku tidak yakin bagaimana dia bi sa begitu. Apa saking syoknya? Atau, barangkali kejadia n malam ini belum mengendap dalam pikirannya. harusnya menemui mereka, ucapnya lagi. Aku se

Apa dia ingin menjauh dariku? Atau dia cuma tidak ingin teman-temannya mencemaskan dia? Tanpa berkata apa-apa aku menyalakan mobil dan me ngantarnya. Semakin dekat ke kota, semakin sulit untuk bertahan pada tujuanku. Aku begitu dekat dengan berand alan itu... Jika itu mustahilµjika memang tidak mungkin menda patkan, atau pantas, atas gadis ini µmaka apa alasannya membiarkan orang itu tidak dihukum? Tentu aku bisa me mbolehkan diriku jika kondisinya seperti itu... Tidak. Aku tidak menyerah. Belum. Aku terlalu men giginkan Bella untuk menyerah. Kami sudah tiba di resto ran sebelum sempat menyelesaikan pikiranku. Jessica da n Angela sudah selesai makan. Sekarang keduanya benarbenar mencemaskan Bella. Mereka sudah mau mulai menc arinya, menuju jalanan yang gelap. Ini bukan malam yang tepat bagi mereka untuk berke liaranµ Bagaimana kau bisa tahu dimana...? Pertanyaan Bell a yang tidak selesai menyelaku, dan aku sadar lagi-lagi t

235

elah bertindak ceroboh. Aku terlalu sibuk dengan pikiran ku hingga lupa bertanya dimana dia mesti bertemu denga n teman-temannya. Tapi, alih-alih mencecarku dengan pertanyaan, Bell a cuma menggeleng dan setengah tersenyum. Apa itu maksudnya? Well, aku tidak punya waktu untuk memikirkan pene rimaan anehnya atas pengetahuan anehku. Aku membuka pintuku. Apa yang kau lakukan? get. Tidak membiarkan kau lepas dari pengawasanku. Tid ak membiarkan diriku sendirian malam ini. Dengan uruta n seperti itu. Mengajakmu makan malam. Baiklah ini akan menarik. Sepertinya akan sangat be rbeda dengan bayangan akan mengajak Alice dan pura-pu ra secara tidak sengaja memilih restoran yang sama. Dan kini, disinilah aku, bisa dibilang kencan dengannya. Han ya saja ini tidak masuk hitungan, karena aku tidak memb erinya kesempatan untuk menolak. Dia sudah setengah membuka pintunya sebelum aku memutar lewat depanµbiasanya aku tidak sefrustasi ini s aat harus bergerak secara wajarµdan bukannya menunggu ku untuk membukakan pintu. Apa ini karena dia tidak ter biasa diperlakukan seperti seorang perempuan terhormat, atau karena dia tidak menganggapku sebagai seorang laki -laki terhormat? Aku menunggunya menyusulku, yang makin waswas s aat teman-temannya mulai masuk ke lorong gelap. Cepat hentikan Jessica dan Angela sebelum aku haru s mencari mereka juga, perintahku cepat-cepat. Kurasa aku tidak akan sanggup menahan diriku kalau bertemu be tanyanya, kedengarannya ka

236

randalan-berandalan itu lagi. p kuat untuk itu.

Tidak, aku tidak akan cuku

Dia gemetar, tapi kemudian cepat-cepat menguasai d iri. Dia mengejar mereka kemudian berteriak, la! mbaikan tangan kearah mereka. Bella! Oh, dia aman! Pikir Angela lega. Setelat ini? Jessica menggerutu sendiri, tapi juga b ersyukur karena Bella baik-baik saja. Ini membuatku sedikit lebih menyukai dia. Mereka buru-buru kembali, dan kemudian terhenti, s yok, ketika melihatku disampingnya. Eh-oh! Pikiran Jessica kalang kabut. Tidak mungki n! Edward Cullen? Apa Bella pergi sendirian untuk me ncari dia? Tapi kenapa Bella menanyakan kepergian mere ka keluar kota jika Bella tahu dia ada disini... Aku mena ngkap sekelebatan ekspresi malu-malu Bella ketika mena nyakan Angela apakah keluargaku sering absen dari seko lah. Tidak, Bella tidak mungkin tahu. Pikir Angela kemu dian. Pikiran Jessica beralih dari terkejut jadi curiga. Be lla menutup-nutupi sesuatu dariku. Aku tersesat. Dan kemudian aku berpapasan dengan Edward, ujar Bella sambil menunjuk kearahku. Nadanya luar biasa normal, seakan itu sepenuhnya yang terjadi. Pikirannya pasti syok. Itu satu-satunya penjelasan k enapa dia begitu tenang. Bolehkah aku bergabung dengan kalian? tanyaku ber sikap sopan; aku tahu mereka sudah makan. Ya ampun, dia keren banget! Batin Jessica. Mendada k pikirannya tidak karuan. Angela juga tidak terlalu ber beda. Coba tadi tidak makan duluan. Wow. Tapi. Wow. N Jess! Ange dengan suara keras. Mereka menoleh, dan Bella mela

237

ah, kenapa juga aku tidak bisa melakukan seperti itu pad a Bella? Eh...tentu saja, Jessica setuju. Mmm, sebetulnya, Bella, dia mengakui. Angela mengerutkan dahi. Sori. Apa? Diam! Protes Jessica dalam hati. Bella mengangkat bahu dengan santai. Begitu tenang . Pasti memang syok. lapar. Kurasa kau tetap butuh makan sesuatu. Aku tidak se pendapat. Dia membutuhkan gula di aliran darahnyaµmes ki begini saja sudah terasa manis, pikirku masam. Sebent ar lagi serangan syoknya akan muncul ke permukaan, dan perut kosong tidak akan membantu. Dia mudah pingsan, b erdasar pengalaman yang lalu. Teman-temannya tidak berada dalam bahaya jika mer eka langsung pulang. Bukan mereka yang dikuntit oleh b ahaya. Lagipula aku lebih memilih berdua saja dengan Bell aµselama dia tidak keberatan. Apakah kalian keberatan jika nanti aku saja yang me ngantar Bella pulang? a bisa merespon. nggu dia makan. Eh, tidak masalah, kurasa... ia inginkan. Aku tidak mau pergi...tapi barangkali Bella menging inkan Edward untuk dirinya sendiri. Siapa yang tidak ak an begitu? batin Jess. Pada saat bersamaan, dia melihat Bella mengedip. Bella mengedip? Jessica menatap kelat-l ekat pada Bella, mencari tanda- tanda bahwa inilah yang tanyaku pada Jessica sebelum Bell Dengan begitu kalian tidak perlu menu Tidak apa- apaµlagi pula aku tidak

kami sudah makan ketika menunggu tadi,

238

Oke,

ujar Angela cepat, ingin segera menyingkir jik Sampai ketemu besok, Bella...Edwa

a memang itu yang Bella mau. Dan kelihatannya memang itulah yang dia mau. rd. Angela berjuang mengucapkan namaku dengan nada s

antai. Kemudian ia menyambar tangan Jessica dan menye retnya pergi. Aku harus mencari cara untuk berterima kasih pada Angela. Mobil Jessica berada tidak jauh, diparkir dibawah l ampu jalan. Bella mengawasi mereka dengan seksamaµse dikit kerut prihatin terlihat diantara matanyaµsampai me reka masuk ke mobil. Jadi dia pasti sepenuhnya sadar ata s bahaya yang menimpanya tadi. Jessica melambai saat p ergi, dan Bella melambai balik. Baru setelah mobilnya le nyap, ia menarik napas dalam-dalam dan menoleh ke arah ku. Jujur saja aku tidak lapar, katanya padaku. Kenapa dia harus menunggu mereka pergi baru bicar a? Mungkinkah dia betul-betul ingin berduaan saja denga nkuµbahkan sekarang, setelah menyaksikan nafsu membu nuhku? Entah itu masalahnya atau bukan, dia perlu makan s esuatu. Kalau begitu, hibur aku. untuknya. Aku berjalan di sisinya menuju ke tempat penerima tamu. Bella kelihatannya masih menutup diri. Aku ingin menyentuh tangannya, keningnya, untuk mengecek suhu b adannya. Tapi tangan dinginku hanya akan ditolaknya, se perti yang lalu. Ya ampun, pikiran penerima tamu itu menyelinap ke dalam kesadaranku. Oh, ya ampun. Kubukakan pintu restoran

239

Sepertinya ini malam keberuntunganku. Atau, aku ha nya menyadarinya lebih karena sangat berharap bahwa Be lla akan memandangku seperti itu? Kami selalu terlihat menarik bagi mangsa kami. Aku belum pernah terlalu me mikirkan tentang itu sebelumnya. Biasanya µkecuali pad a orang-orang seperti Ms. Cope dan Jessica Stanley, yan g berusaha keras menumpulkan ketakutannyaµrasa takut l angsung melanda setelah daya tarik awal... Meja untuk dua orang? a tamu itu tidak juga bicara. Oh, eh, iya. Selamat datang di La Bella Italia. ! Suaranya! ebak-nebak. Barangkali dia sepupunya. Gadis ini tidak mungkin adiknya, mereka sama sekali tidak mirip. Tapi keluarga, pasti itu. Dia tidak mungkin berkencan dengannya. Mata manusia memang kabur; Mereka sama sekali ti dak melihat dengan jelas. Bagaimana bisa perempuan pic ik ini menilai daya tarik fisikkuµperangkap bagi mangsa ku µbegitu menarik, namun tidak dapat melihat kesempur naan yang lembut pada gadis di sampingku ini? Well, lebih baik tidak usah mengambil resiko, batin penerima tamu itu saat membawa kami ke sebuah meja di tengah ruangan yang paling ramai. Bisakah aku memberik an nomer teleponku selama ada gadis itu...? Aku mengambil selembar uang dari kantongku. Oran g-orang jadi sangat kooperatif jika uang dilibatkan. Tanpa ambil pusing, Bella sudah duduk di meja yang ditunjuk. Aku menggeleng, dan dia jadi ragu, menelengk an kepala penasaran. Ya, dia akan sangat penasaran mala m ini. Keramaian bukan tempat yang cocok untuk pembic araan seperti itu. Silahkan ikuti saya. Hmm Pikirannya sedang men kataku pelan ketika penerim

240

Barangkali ada tempat yang lebih pribadi?

pintaku

pada si penerima tamu sembari menyodorkan uangku. Mat anya melebar terkejut, kemudian menyipit saat tangannya mengambil uang tip itu. Tentu saja. Dia mengintip uang itu saat mengantar kami memuta ri dinding pemisah. Lima puluh dolar untuk meja yang lebih baik? Dia j uga kaya. Itu masuk akalµberani taruhan pasti harga jake tnya lebih mahal dari gajiku. Sialan. Kenapa juga dia ma u tempat yang lebih privasi bersama gadis ini? Dia menawari kami sebuah bilik di pojokan yang sep i, dimana tidak ada orang yang akan melihat kamiµuntuk melihat reaksi Bella atas apapun yang akan kusampaikan. Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan dia tanyakan n anti. Atau, apa yang akan kuceritakan. Seberapa banyak yang bisa ia tebak? Apa penjelasan dari kejadian tadi, yang ia ceritkan pada dirinya sendir i? Bagaimana kalau disini? tanya penerima tamu itu. Sempurna, kataku dengan perasaan terganggu karena sikap tidak sopannya pada Bella. Aku tersenyum lebar-le bar ke dia, menunjukan seluruh baris gigiku. Biar dia lih at siapa diriku sebenarnya. Wow. Mmm...pelayan kalian akan segera datang. Di a tidak mungkin nyata. Ini pasti mimpi. Barangkali gadis itu akan hilang...mungkin aku akan menulis nomer telepo nku di piringnya memakai saos... Dia berlalu dengan lan gkah sempoyongan. Aneh. Dia masih tidak takut. Aku jadi ingat Emmet pernah menggodaku di kafetaria beberapa waktu lalu. Be rani taruhan aku bisa menakuti dia lebih dari itu. Apa aku kehilangan kemampuanku yang satu itu?

241

Seharusnya kau tidak melakukan itu pada orang-oran g, Bella menyela pikiranku dengan nada tidak setuju. Ti dak adil. Aku memperhatikan ekspresinya. Yang dia maksud a pa? Aku tidak menakut-nakuti perempuan tadi, meski itu yang kuinginkan. Melakukan apa? Membuat mereka terpesona seperti ituµbarangkali se karang dia sedang sesak napas di dapur. Hmm. Bella hampir betul. Penerima tamu itu bisa di bilang setengah linglung saat ini, menggambarkan penila iannya yang keliru tentang diriku pada temannya yang pe layan. Oh, yang benar saja, tidak langsung menjawab. si orang terhadapmu. Aku membuat orang terpesona? Itu istilah yang men arik untuk mendeskripsikannya. Cukup akurat untuk mala m ini. Aku bertanya-tanya, kenapa berbeda dengan... Kau tidak menyadarinya? ercaya. ahnya? Apa aku membuatmu terpesona? riknya kembali. Tapi, sebelum aku sempat menyesalinya, dia sudah menjawab, . Aku membuat dia terpesona. Jantungku yang mati membusung oleh harapan yang l ebih besar dari apapun yang pernah kurasakan. Halo, sapa seseorang. Seorang pelayan memperkenal kan dirinya. Pikirannya nyaring sekali, dan lebih ekplisi t dari penerima tamu tadi, tapi kukecilkan volumenya. A sering kali. Dan pipinya bersemu merah muda Aku langsung meng ucapkannya begitu saja, dan sudah terlambat untuk mena tanya Bella masih tidak p Kau pikir orang bisa jadi seperti itu dengan mud Bella mencemoohku ketika aku Kau pasti tahu bagaimana reak

242

lih-alih mendengarkan, aku menatap wajah Bella, melihat darahnya mengalir dibawah kulitnya. Kuabaikan bagaima na itu membakar tenggorokanku, perhatianku lebih tertuj u bagaimana itu membuat terang wajah pucatnya, bagaim ana itu melenyapkan cream pada kulitnya... Si pelayan masih menunggu pesananku. Ah, dia mint a pesanan minum kami. Aku tidak peduli dan terus saja memandangi Bella. Akhirnya si pelayan dengan enggan g anti menoleh ke Bella. Boleh saya minta coke? ersetujuan. Dua coke, aku meralat. Hausµrasa haus manusiaµad alah tanda-tanda syok. Akan kupastikan dia punya cukup gula dari soda pada sistem pencernaan tubuhnya. Meski begitu dia terlihat sehat. Lebih dari sehat ba hkan. Dia terlihat bercahaya. A pa ? tanyanyaµsepertinya bertanya-tanya kenapa ak u memperhatikan dia. Samar- samar aku sadar pelayan it u telah pergi. Bagaimana perasaanmu? k-baik saja. Kau tidak merasa pusing, sakit, kedinginan? Sekarang dia bahkan jadi lebih bingung. egitu? Well, sebetulnya aku menunggumu syok. mau diperhatikan. Butuh semenit baginya untuk menjawab. Matanya be rubah agak tidak fokus. Kadang- kadang dia terlihat sepe rti itu, ketika aku tersenyum padanya. Apakah dia...terp esona? Aku sangat ingin mempercayai itu. Aku seteng ah tersenyum, menantikan sangkalannya. Dia tidak akan Haruskah b tanyaku. Aku bai Dia mengerjap, terkejut oleh pertanyaanku. tanya Bella, seakan minta p

243

Kurasa itu tidak akan terjadi. Aku selalu bisa meng uasai diri jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, jawabnya, sedikit kehabisan napas. Berarti, apa dia sering mengalami kejadian-kejadian buruk? Apa hidupnya selalu penuh resiko seperti ini? Sama, ujarku. Aku akan merasa lebih baik jika kau sudah cukup mengkonsumsi minuman atau makanan yang manis-manis. Si pelayan kembali dengan membawa dua coke dan s ekeranjang roti. Dia menaruhnya didepanku, dan menany akan pesananku sambil berusaha menatap mataku. Aku me mberi tanda agar dia seharusnya melayani Bella, dan kem bali mengecilkan volume suara pikirannya. Isi pikiranny a vulgar. Mmm... amur ravioli. Dan anda? Aku tidak pesan apa-apa. Bella membuat ekspresi datar. Hmm. Dia pasti meny adari bahwa aku tidak pernah makan. Dia menyadari sem uanya. Dan aku selalu lupa untuk berhati-hati di depanny a. Aku menunggu hingga kami sendirian lagi. Minumlah, aku memaksa. Aku terkejut ketika ia langsung menurut. Dia minum sampai gelasnya kosong, jadi kudorong gelas kedua pada nya. Dahiku sedikit mengerut. Haus, atau syok? Dia minum lagi sedikit, kemudian sempat menggigil. Kau kedinginan? Ini cuma karena cokenya, . tapi dia gemetar lagi, bib irnya ikut menggigil seakan giginya akan menggemeretak Bella melirik sekilas ke menu. Aku pesan j Si pelayan cepat-cepat berpaling padaku.

244

Blus cantik yang ia pakai terlihat terlalu tipis untu k bisa melindungi tubuhnya; blus itu menggantung sepert i kulit kedua, hampir serapuh kulit aslinya. Dia terlihat sangat lemah, sangat manusia. Punya. i mobil Jessica. Kucopot jaketku, berharap suhu tubuhku tidak terlal u berpengaruh. Seharusnya akan lebih menyenangkan jika bisa menawarinya jaket yang hangat. Dia menatapku, pip inya merona lagi. Apa yang sedang ia pikirkan sekarang? Kuserahkan jaketku ke seberang meja, dan ia langsu ng memakainya, kemudian menggigil lagi. Ya, akan lebih baik jika hangat. Terima kasih, ujarnya. Dia mengambil napas dalamdalam, lalu menarik lengan jaketnya yang kepanjangan sa mpai tangannya muncul. Dia mengambil napas dalam-dala m lagi. Apakah kejadian tadi akhirnya mengendap juga? War na kulitnya masih bagus; kulitnya terlihat seperti susu d an mawar, jika dipadankan dengan warna biru-tua blusny a. Warna biru itu terlihat indah di kulitmu, nya. Dia kelihatan baik-baik saja, tapi tidak perlu menga mbil resiko. Kudorong keranjang roti itu ke arahnya. Sungguh, merasa syok. Seharusnya kau syokµorang normal akan begitu. Kau bahkan tidak terlihat gemetaran. Aku menatapnya, menol ak pendapatnya, bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa jad i normal, kemudian sangsi jika aku memang ingin dia sep erti itu. dia menolak, menebak niatku. Aku tidak pujiku. Se kedar bersikap sopan. Dia tersipu, menambah indah efek Kau tidak punya jaket? Ohµketinggalan d Dia mencari-cari bingung.

245

Aku merasa sangat aman denganmu, udapatkan.

ujarnya dengan

tatapan penuh percaya. Rasa percaya yang tidak pantas k Instingnya sangat keliruµbertolak belakang. Pasti it u masalahnya. Dia tidak mengenali bahaya seperti orang normal lainnya. Sikapnya bertolak belakang. Alih-alih la ri, dia tinggal, mendekati apa yang seharusnya membuat dia takut... Bagaimana caranya aku bisa melindungi dia dariku k etika tidak ada satupun dari kita yang menginginkannya? Ini lebih rumit dari yang kubayangkan, gumamku. Bisa kulihat dia berusaha mencerna perkataanku. Da n aku bertanya-tanya apa hasilnya. Dia mengambil secuil roti dan mulai memakannya tanpa sepenuhnya sadar deng an tindakannya. Dia mengunyah sebentar, lalu menelengk an kepala penuh pertimbangan. Biasanya suasana hatimu lebih baik ketika warna ma tamu terang, ujarnya dengan nada santai. Apa? Pengamatannya membuatku terkesima.

Kau selalu lebih pemarah ketika matamu berwarna hi tamµtadi kupikir matamu berubah kelam. Aku punya teori tentang itu. Jadi dia telah punya penjelasan sendiri. Tentu saja dia begitu. Aku jadi khawatir, seberapa dekat pada kebe naran. Teori lagi? Hmm-mm. Dia mengunyah satu gigitan lagi, benar-b enar tidak sadar, seakan tidak sedang membahas tentang monster pada si monster sendiri. Kuharap kau lebih kreatif kali ini... uh. kataku bohong. Yang sesungguhnya, kuharap dia salahµmeleset sangat ja Atau kamu masih mengutip dari buku-buku komik?

246

Well, tidak, aku tidak mendapatkannya dari komik, jawabnya agak malu. ya sendiri, Dan? tanyaku dari sela gigi. Tentu dia tidak akan bicara setenang ini jika mau te riak. Saat dia bimbang sambil menggigit bibirnya, si pela yan datang membawa pesanannya. Aku tidak terlalu mem perhatikan pelayan itu saat ia meletakan piringnya di de pan Bella dan bertanya padaku apa aku butuh sesuatu. Aku menolak, tapi minta tambahan soda. Pelayan itu tidak menyadari gelas Bella yang sudah kosong. Kemudia n dia mengambilnya, dan pergi. Apa katamu tadi? bisikku penasaran setelah kami su dah berdua lagi. Aku akan menceritakannya di mobil, annya di tengah orang banyak. n tiba- tiba. Ada syaratnya? Aku begitu tegang hingga hampir me nggeramkan kata-katanya. Tentu saja aku punya beberapa pertanyaan. Tidak masalah. u. Pertanyaan-pertanyaannya mungkin cukup memberik u petunjuk kemana arah pikirannya. Tapi bagaimana aku mesti menjawabnya? Dengan kebohongan yang bertanggun g jawab? Atau aku mesti mengelak? Atau tidak menjawab nya sama sekali? Kami duduk diam saat si pelayan mengisi kembali so danya. Well, ayo mulai, kataku dengan rahang terkunci ket ika si pelayan sudah pergi. Aku mengiyakan dengan suara para Kalau... jawabnya pelan dia menambahka . Ah, ini pasti buruk. Dia tidak mau membicarakan tebak Tapi aku juga tidak menduga-dugan

247

Kenapa kau berada di Port Angeles? Itu pertanyaan yang terlalu mudahµbuat dia. Itu sam a sekali tidak mengungkapkan isi pikirannya, sedang jaw abanku, jika yang sebenarnya, akan mengungkapkan terla lu banyak. Biar dia mengungkapkan sesuatu dulu. Berikutnya, Berikutnya, sergahku. kataku lagi. Tapi itu yang paling mudah, Dia frustasi dengan penolakanku. Dia berpaling, me natap makanannya. Pelan-pelan, sambil berpikir keras, d ia menggigit dan mengunyah rotinya dengan penuh perti mbangan. Dia menelannya dengan bantuan soda, dan akhi rnya menatapku. Matanya menyipit curiga. Oke, kalau begitu, katanya. Katakan saja, secara hi potesis tentu saja, seseorang... bisa mengetahui apa yan g dipikirkan orang lain, membaca pikiran, kau tahuµdeng an beberapa pengecualian. Bisa saja lebih parah dari ini. Ini menjelaskan senyum kecil di mobil tadi. Daya ta ngkapnya cepat. Belum pernah ada orang yang bisa mene bak kemampuanku, kecuali Carlisle. Itu jadi agak jelas k arena pada awalnya aku menjawab semua isi pikirannya s eakan dia mengucapkannya padaku. Dia mengerti duluan, sebelum aku... Pertanyaannya tidak terlalu buruk. Dia sudah lebih dulu tahu ada yang tidak beres dengan diriku, jadi ini ti dak seburuk sebelumnya. Membaca pikiran, bagaimanapu n, bukan termasuk ciri-ciri vampir. Aku akan mengikuti hipotesisnya. Hanya satu pengecualian, is. Dia menahan senyumµpersetujuan samarku membuatn ya senang. koreksiku. Secara hipotes

248

Baik kalau begitu, dengan satu pengecualian. Bagai mana cara kejranya? Apa saja batasan-batasannya? Bagai mana bisa... seseorang... menemukan orang lain pada saa t yang tepat? Bagaimana kau bisa tahu dia sedang dalam kesulitan? Secara hipotesis? Tentu saja. Well, Bibirnya mengejang, mata coklat bening Kalau.. seseorang itu... nya berharap penasaran. aku ragu-ragu. Sebut saja dia Joe. Dia menawarkan.

Aku jadi tersenyum melihat semangatnya. Apa dia b etul-betul berpikir bahwa yang sebenarnya adalah sesuat u yang baik? Apa tidak pernah terpikir, jika rahasiaku se suatu yang menyenangkan, buat apa selama ini merahasia kannya dari dia? Ya sudah. akhirnya aku setuju. Kalau Joe memerhat Aku meng ikan, pemilihan waktnya tak perlu setepat itu. mana hampir terlambatnya aku tadi.

geleng, menahan untuk tidak gemetar pada pikiran bagai Hanya kau yang bisa mendapat masalah di kota sekecil ini. Kau bisa membuat angka tindak kriminal meningkat untuk kurun waktu satu dekade, kau tahu itu. Sudut bibirnya turun, dan ia memberengut. ang membicarakan kasus secara hipotesis, Aku tertawa melihat kekesalannya. Bibirnya, kulitnya... Terlihat sangat lembut. Aku in gin menyentuhnya. Aku ingin menyentuh sudut birbirnya dengan ujung jariku dan mengembalikan senyumannya. M ustahil. Kulitku akan menjijikan buat dia. Betul juga, e? kataku kembali pada pembicaraan, sebel Bisakah kita memanggilmu Jasmin um aku jadi tertekan. Kita sed

249

Dia mencondongkan tubuhnya di atas meja ke arahku , segala humor dan kesal hilang dari matanya. Bagaimana kau bisa tahu? tanyanya dengan suara re ndah dan tajam. Haruskah aku memberitahu yang sebenar nya? Dan, jika iya, seberapa banyak? Aku ingin menceritakannya ke dia. Aku ingin meras a pantas atas kepercayaan yang masih kulihat dari wajah nya. Kau tahu, kau bisa mempercayaiku, g ada di atas meja. Segera kutarik tangankuµbenci membayangkan bagai mana reaksinya atas kulit dinginku yang seperti batuµda n dia menjatuhkan tangannya. Aku tahu aku bisa memperyai dia untuk menjaga rah asiaku; dia sangat bisa dipercaya. Tapi aku tidak percay a dia tidak akan takut. Dia sebaiknya takut. Kebenaranny a adalah horor. Aku tak tahu apakah aku masih punya pilihan, guma mku. Aku ingat pernah sekali menggodanya dengan meny ebut dia 'tak pernah memperhatikan sekelilingnya.' Dan waktu itu aku membuatnya tersinggungµjika aku menilai ekspresinya dengan benar. Well, paling tidak aku bisa m eluruskan kesalahan persepsi itu. eliti daripada yang kukira. ewatkan apapun. Kupikir kau selalu benar. Biasanya begitu. Dia tersenyum meledekku. Biasanya aku tahu apa yang kulaku Aku salahµkau lebih t Mungkin dia tidak sadar, tap bisiknya. Dan ia mengulurkan tagan seakan ingin menyentuh tanganku yan

i aku baru saja memberinya banyak pujian. Dia tidak mel

kan. Biasanya aku selalu yakin dengan langkahku. Tapi s ekarang semuanya kacau dan tak terkendali.

250

Tetap saja, aku tidak mau menukarnya. Aku tidak m au kehidupan yang masuk akal. Tidak jika kekacauan ber arti bisa bersama Bella. Aku juga salah menilaimu mengenai suatu hal. melanjutkan untuk meluruskan poin yang lain. Aku Kau buka

n daya tarik terdahadap kecelakaanµpenggolongan itu tid ak cukup luas. Kau daya tarik terhadap masalah. Kalau a da sesuatu yang berbahaya dalam radius sepuluh mil. Ma salah itu selalu bisa menemukanmu. mua ini? Wajah Bella berubah serius lagi. Dan kau menempat kanmu dirimu sendiri dalam kategori itu? Ketimbang pertanyaan lain, kejujuran sangat pentin g untuk menjawab pertanyaan ini. Tak salah lagi. Matanya sedikit menyipitµkini bukan curiga, tapi an ehnya prihatin. Dia mengulurkan tangannya ke atas meja lagi, pelan dan penuh pertimbangan. Aku sedikit menarik tanganku, tapi dia mengabaikannya, bersikeras untuk me nyentuhku. Aku menahan napasµbukan karena aromanya, tapi karena takut. Takut kulitku akan membuatnya muak. Takut dia akan lari. Ujung jarinya menyentuh ringan punggung tanganku. Kehangatan sentuhannya yang lembut tidak seperti yang pernah kurasakan selama ini. Ini hampir murni menyenan gkan. Mungkin saja akan begitu jika tanpa ketakutanku. Aku memperhatikan wajahnya saat dia merasakan tan gan dinginku yang membeku, masih dengan tidak bernapa s. Secercah senyum muncul di sudut bibirnya. Terima kasih. ekat miliknya. Dia balas menatapku dengan tatapan l Sudah dua kali kau menyelamatkanku. Kenapa harus dia? A pa yang sudah ia lakukan sampai pantas mendapatkan se

251

Jari-jarinya yang lembut tetap tinggal di tanganku s eakan telah menemukan tempat yang menyenangkan. Aku menjawabnya setenang yang kubisa, yang ketiga kali, oke? Jangan ada Dia cemberut, tapi mengangguk.

Kutarik tanganku dari bawah tangannya. Meski sentu hannya begitu menyenangkan, aku tidak mau menunggu s ampai batas toleransinya yang ajaib habis, dan berubah j adi penolakan. Kemudian kusembunyikan tanganku di ba wah meja. Aku membaca matanya; meski pikirannya sunyi, aku bisa merasakan pancaran percaya sekaligus kagum dari si tu. Saat itu juga aku sadar aku ingin menjawab semua pe rtanyaannya. Bukan karena aku berhutang padanya. Buka n karena aku ingin dia percaya padaku. Aku ingin dia mengenalku. Aku membuntutimu ke Port Angeles. Kata-kata itu k eluar begitu cepat tanpa sempat kuedit. Aku tahu bahaya dari kejujuranku, resiko yang kuambil. Kapan saja, keten angannya yang ganjil ini bisa pecah jadi histeris. Namun , itu justru mendorongku untuk bicara lebih cepat lagi. Aku tak pernah menjaga seseorang sebelumnya, dan ini lebih merepotkan dari yang kusangka. Tapi barangkal i itu hanya karena itu adalah kau. Orang normal sepertin ya bisa melewati satu hari tanpa mengalami begitu banya k bencana... Aku mengamatinya, menunggu. Dia tersenyum. Sudut bibirnya terangkat keatas, dan mata coklatnya menghangat. Aku baru saja mengaku mem buntuti dia, dan dia tersenyum. Pernahkah kau berpikir mungin takdir telah memilih ku sejak pertama, pada insiden van itu, dan kau malah m encampurinya? tanyanya kemudian.

252

Itu bukan yang pertama,

sanggahku sambil menundu

k, menatap taplak meja yang berwarna merah marun. Bah uku terkulai malu. Pertahananku mulai runtuh, kebenaran terus saja mengalir dengan ceroboh. Takdir pertama kali memilihmu ketika aku bertemu denganmu. Itu betul, dan itu membuatku marah. Aku telah mem posisikan diriku bagai pisau guillotine dalam hidupnya. Itu sama seperti dia telah divonis mati oleh takdir kejam yang tidak adil. Danµsejak kelemahan tekadku akhirnya t erbuktiµtakdir itu melanjutkan usahanya untuk mengekse kusi dia. Aku membayangkan wujud takdir ituµsiluman rubah betina bengis yang pencemburu dan pendendam. Aku ingin ada seseorang yang bertanggung jawabµag ar ada seseorang yang bisa kulawan. Seseorang untuk dih ancurkan agar Bella bisa kembali aman. Bella sangat diam; napasnya semakin cepat. Aku mendongak melihatnya, sadar akhirnya akan seg era melihat ekpresi takut di wajahnya. Bukankah aku bar u saja mengakui telah hampir membunuhnya? Lebih dekat dari sekedar van yang seinchi lagi hampir melindasnya. Tapi tetap saja, anehnya, wajahnya tetap tenang. Matany a masih menatapku lekat-lekat, namun kali ini dengan tat apan prihatin. Kau ingat? Dia pasti ingat. Ya, jawabnya tenang. Matanya yang dalam, sepenuh nya sadar. Dia tahu. Dia tahu aku pernah berniat untuk membunuhnya. Lalu, dimana jeritannya? Tapi toh sekarang kau tetap duduk di sini. pertanyakan sikapnya yang bertolak belakang. Ya, di sinilah aku duduk... berkat dirimu. Eksoresi nya berubah, jadi penasaran, dan dengan mudahnya langs Aku mem

253

ung mengganti topik,

karena, entah bagaimana, kau tahu

bagaimana menemukanku hari ini... Dengan sia-sia, sekali lagi aku berusaha menembus pikirannya, mencoba mati-matian untuk memahami. Itu ti dak masuk logika berpikirku. Bagaimana bisa dia peduli dengan yang lainnya, ketika kebenarannya yang mengerik an telah terungkap? Dia menunggu penasaran. Kulitnya pucatµyang mema ng aslinya begitu, tapi tetap saja membuatku khawatir. Makan malamnya masih tetap tidak tersentuh. Jika cerita ku diteruskan, dia akan butuh tambahan tenaga saat syok nya pecah. Aku pun mengajukan syaratku. ra. Dia mengolahnya selama sepersekian detik, lalu cep at-cepat menyendok dan mengunyah raviolinya. Dia terli hat lebih penasaran dari yang ditunjukan matanya. Mengikuti jejakmu lebih sulit daripada seharusnya. Akhirnya aku meneruskan certaku. menemukannya. Aku mengamati wajahnya baik-baik saat mengatakan nya. Inilah saatnya kengerian dia akan muncul. Menebak reaksinya dengan betul adalah satu hal, menyaksikannya terjadi adalah kesulitan yang lain. Dia tidak bergerak, matanya lebar. Rahangku sendiri terkunci rapat saat menunggu detik-detik dia akan panik. Tapi dia hanya mengerjap satu kali, menelan keras-k eras, dan cepat-cepat mengambil satu suapan lagi ke mul utnya. Dia ingin aku meneruskan. Aku mengikuti Jessica, lanjutku sambil memperhati kan setiap kata-kataku meresap. Biasanya, setelah per nah mendengar pikiran seseorang, aku bisa dengan mudah Kau makan, aku bica

254

Dengan tidak hati-hatiµ aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menambahkan, µseperti kataku, hanya kau ya ng bisa mendapat masalah di Port Angeles. Sadarkah dia bahwa jarang orang punya pengalaman hampir mati seper ti dia. Atau, apa menurutnya dia itu normal- normal saj a? Dia jauh dari normal dibanding orang-orang yang pern ah kutemui. Awalnya aku tidak memperhatikan ketika ka u pergi sendirian. Lalu, ketika aku menyadari kau tidak bersamanya lagi, aku pergi mencarimu di toko buku yang kulihat dalam pikirannya. Aku tahu kau tidak masuk ke s ana, dan kau pergi ke arah selatan... dan aku tahu kau to h harus kembali. Jadi, aku hanya menunggumu, sambil se cara acak membaca pikiran orang-orang di jalanµ melihat apakah ada yang memperhatikanmu sehingga aku tahu di mana kau berada. Aku tak punya alasan untuk khawatir... tapi anehnya aku toh khawatir juga. Napasku memburu saat ingat kepanikan itu. Bersama derasnya udara yang masuk, napasnya membakar tenggoro kanku. Dan itu membuatku lega. Itu adalah rasa sakit ya ng menandakan dia masih hidup. Selama aku masih meras a terbakar, berarti dia aman. Aku mulai bermobil berputar-putar, masih sambil... mendengarkan. Kuharap kata- kataku terdengar masuk ak Matahari akhirnya terbena al. Ini pasti membingungkan. an kaki. Dan laluµ Saat ingatan itu kembaliµsejernih seperti sedang me ngalaminya lagiµkurasakan napsu membunuh kembali me mbilas tubuhku, mengunci tubuhku jadi es. Aku mau orang itu mati. Aku butuh dia mati. Rahang ku terkatup rapat saat berkonsentrasi untuk bisa tetap du duk. Bella masih membutuhkanku. Itulah yang paling pen ting.

m, dan aku nyaris keluar dan mengikutimu dengan berjal

255

Lalu apa? ng lebar.

bisiknya dengan mata coklat gelapnya ya ujarku da Aku

Aku mendengar apa yang mereka pikirkan, melihat wajahmu dalam pikirannya.

ri sela gigi, tidak sanggup untuk tidak menggeram.

Dorongan untuk membunuh itu begitu kuat, aku ham pir tidak kuat menahannya. Aku masih tahu pasti dimana keberadaan orang itu. Pikiran-pikiran busuknya menghisa p di kegelapan malam, menarikku ke arahnya... Aku menutup wajahku. Ekspresiku pasti seperti mon ster, pemburu, dan pembunuh. Dengan mata tertutup, aku membayangkan wajah Bella supaya bisa mengendalikan di ri. Fokus hanya pada wajahnya, kelembutan tulang-tulan g tubuhnya, lapisan tipis kulitnya yang pucatµseperti ba lutan sutra di atas permukaan kaca, sangat lembut dan m udah pecah. Dia terlalu rapuh untuk dunia ini. Dia butuh seorang pelindung. Dan, melalui takdir yang salah kapra h, aku satu-satunya yang paling memungkinkan untuk me ngisi posisi itu. Aku coba menjelaskan reaksiku yang keji supaya dia mengerti. Sulit... sulit sekaliµkau tak bisa membayangkan bet apa sulitnyaµhanya pergi menyelamatkanmu, dan membia rkan mereka... tetap hidup, bisikku. Aku bisa saja memb iarkanmu pergi dengan Jessica dan Angela, tapi aku taku t kalau kau meninggalkanku sendirian, aku akan pergi me ncari mereka. Untuk kedua kalinya malam ini, aku mengakui niatk u untuk membunuh. Paling tidak yang satu ini bisa diper tanggung jawabkan. Dia masih saja diam saat aku berusaha mengendalika n diri. Aku mendengarkan detak jantungnya; iramanya se

256

mpat tidak teratur, tapi makin lama makin lambat sampai akhirnya tenang lagi. Napasnya juga tenang dan teratur. Aku sendiri sudah hampir lepas kendali. Aku mesti cepat-cepat mengantarnya pulang sebelum... Apakah setelah itu aku akan membunuh mereka? Apa kah aku akan menjadi pembunuh lagi setelah kini dia me mpercayaiku? Adakah cara untuk menghentikanku? Dia janji akan memberitahu teorinya ketika kami se ndirian. Maukah aku mendengarnya? Aku penasaran, tapi jangan-jangan konsekuensinya justru jadi lebih buruk ke timbang tidak tahu. Dalam batas tertentu, dia sudah cukup banyak mende ngar kebenaran yang sanggup dia terima dalam satu mala m. Aku menatapnya lagi, dan wajahnya lebih pucat dari sebelumnya, tapi tenang. Kau sudah siap pulang? Aku siap untuk pulang. tanyaku. Sepertinya dia memilih kata

-katanya dengan hati-hati, seakan jawaban sederhana 'ya' tidak sepenuhnya mengungkapkan apa yang ingin ia katak an. Benar-benar membuat frustasi. Pelayan itu kembali. Dia mendengar pernyataan Bell a saat sedang lewat di bilik sebelah. Dia membayangkan apa lagi yang bisa ditawarkan padaku. Dan aku ingin me ngusir sebagian tawaran itu yang terlanjur terdengar ole h pikiranku. Jadi bagaimana? tanyan pelayan itu padaku. Kami mau bayar, terima kasih, h terus menatap Bella. Napas pelayan itu memburu, dan sesaat diaµmeminja m istilah Bellaµterpesona oleh suaraku. jawabku sambil masi

257

Seketika itu juga, saat mendengar bagaimana suarak u kedengarannya di kepala pelayan itu, aku jadi menyada ri kenapa malam ini aku bisa menarik begitu banyak keka gumanµtidak diiringi oleh takut seperti biasanya. Alasannya karena Bella. Berusaha mati-matian jadi aman buat dia, jadi lebih tidak menakutkan, jadi manusia , membuatku kehilangan tajiku. Kini manusia hanya meli hat indahnya saja karena iner-hororku telah kutahan. Aku mendongak, melihat ke si pelayan, menunggu di a menguasai diri. Sekarang jadi sedikit lucu, setelah me ngerti alasannya. T-tentu, ujarnya terbata-bata. Ini dia. Dia menyerahkan folder berisi tagihan. Di benaknya dia memikirkan secarik kertas yang ia selipkan di bawah resi. Secarik kertas dengan nama dan nomer telepon diri nya. Ya, ini cukup lucu. Aku menyelipkan uangku tanpa membuka foldernya d an langsung kukembalikan. Dengan begitu dia tidak perlu repot-repot menunggu telepon yang tak akan pernah data ng. Simpan saja kembaliannya. Kuharap tipsnya yang be sar bisa mengobati kekecewaan pelayan itu. Aku berdiri, dan Bella cepat-cepat mengikuti. Aku i ngin menawarkan tanganku, tapi kupikir itu akan memaks akan keberuntunganku sedikit terlalu jauh untuk satu ma lam. Aku mengucapkan terima kasih pada si pelayan tanp a mengalihkan pandangan dari Bella. Kami berjalan menuju pintu keluar; aku berjalan di sampingnya sedekat yang aku berani. Cukup dekat hingga kehangatan tubuhnya terasa seperti sentuhan langsung pa da sisi kiri tubuhku. Saat dia melewatiku yang sedang m enahan pintu restoran untuknya, dia menghela napas pela

258

n. Itu membuatku bertanya-tanya, penyesalan apa yang m embuatnya sedih. Aku menatap ke dalam matanya, sudah ingin bertanya, ketika tiba-tiba ia menunduk, kelihatan malu. Itu membuatku lebih penasaran lagi, tapi juga sega n untuk bertanya. Keheningan diantara kami berlanjut sa mpai saat aku membukakan pintu mobil buat dia dan mas uk. Aku menyalakan pemanasµhawa hangat memenuhi ka bin mobilku; mobil yang dingin pasti membuatnya tidak nyaman. Dia bersidekap di balik jaketku, secercah senyu m pada bibirnya. Aku menunggu, menunda pembicaraan sampai lampulampu di pinggir jalan memudar. Itu membuatku merasa s emakin berdua saja dengannya. Apa itu langkah yang tepat? Kini, saat hanya fokus padanya, mobilku terlihat sangat kecil. Aromanya bergel ung-gelung didalam kabin bersama dengan hembusan dari pemanas, bergolak dan menguat. Aromanya tumbuh jadi k ekuatan tersendiri yang lebih besar, seperti entitas lain di dalam mobil. Sebuah kehadiran yang membutuhkan pen gakuan. Pasti begitu; aku terbakar. Meski begitu rasa terbak ar ini bisa kuterima. Sangat pantas untukku. Aku sudah d iberikan sangat banyak malam iniµlebih dari yang kuhara pkan. Dan, disinilah dia, masih ingin berada di sisiku. A ku berhutang sesuatu atas hal ini. Sebuah pengorbanan. Perasaan terbakar. Ugh, seandainya saja aku bisa menahan hanya sebata s itu; cuma terbakar, tidak lebih. Tapi yang terjadi; liur telah membanjiri mulutku, dan otot-ototku menegang, se akan aku sedang berburu... Aku harus menghindari pikiran seperti itu. Dan sepe rtinya aku tahu apa yang bisa mengalihkan perhatianku.

259

Sekarang, lepas kendali.

kataku ragu, takut rasa terbakar ini jadi Giliranmu.

260

10. Teori
Boleh aku bertanya satu hal lagi? Bukannya menjaw

ab pertanyaanku, dia justru mau bertanya lagi. Aku sudah terpojok, cemas menunggu yang terburuk. Namun, aku cukup tergoda juga untuk bisa memperlama s ituasi ini; dengan Bella bersamaku, atas kemauannya sen diri. Aku mendesah atas dilema ini, kemudian mengiyaka n, Satu saja. Well... dia ragu sejenak, seperti sedang mempertim Katamu ka

bangkan pertanyaan mana yang mau diungkap.

u tahu aku tidak masuk ke toko buku itu, dan aku pergi k e selatan. Aku hanya bertanya-tanya, bagaimana kau men getahuinya. Aku menatap ke luar jendela. Ini dia, satu pertanyaa n lagi yang akan mengungkap tidak satupun darinya, tapi terlalu banyak dariku. Kupikir kita telah melewati tahap pura-pura, bisa mengelak tanpa perlu bersusah payah. Well, dia mau aku bicara apa adanya. Bagaimanapun juga, pembicaraan ini tidak akan berakhir dengan baik. Baiklah kalau begitu, uti aroma tubuhmu. Aku ingin melihat wajahnya, tapi terlalu takut deng an apa yang akan kulihat. Aku hanya mendengarkan napa snya, yang makin cepat lalu kembali teratur. Setelah beberapa saat, dia sudah bicara lagi. Suaran ya jauh lebih tenang dari yang kuharapkan, enjawab satu pertanyaan yang tadi... ia juga sedang mengulur-ulur waktu. Yang mana? 261 . kau belum m ujarku akhirnya. Aku mengik tukasn ya dengan nada kecewa. Betapa ironis. Dengan mudah ia

Aku menoleh ke arahnya sambil mengerutkan dahi. D

Bagaimana caranyaµmembaca pikiran? Dia mengulan g pertanyaan di resotran tadi. Bisakah kau membaca pikiran siapa saja, di mana sa ja? Bagaimana kau melakukannya? Apakah keluargamu ya ng lain bisa...? Dia berhenti, tersipu lagi. Itu lebih dari satu pertanyaan. Dia hanya menatapku, menunggu jawabannya. Sudahlah, kenapa tidak sekalian saja kuceritakan? T oh dia sudah bisa menebak sebagian ceritanya. Lagi pula ini topik yang jauh lebih mudah ketimbang perkara besar nya. Tidak, hanya aku yang bisa. Dan aku tak bisa mende ngar siapa saja, di mana saja. Aku harus cukup dekat den gan orang itu. Semakin aku mengenal suara seseorang, m eski jauh pun aku bisa mendengar mereka. Tapi tetap saj a, tak lebih dari beberapa mil. Aku coba mencari cara untuk menggambarkannya sup aya dia bisa mengerti. Sebuah analogi yang bisa memban tu. Kurang lebih seperti berada di ruangan besar penuh orang, semua bicara serentak. Hanya suara senandungµsu ara-suara dengungan di latar belakang. Setelah fokus pad a satu suara, barulah apa yang mereka pikirkan menjadi j elas. Kebanyakan aku mendengarkan semuanyaµdan itu bi sa sangat mengganggu. Kemudian lebih mudah untuk terli hat normal, µaku meringisµ ketika aku sedang tidak senga ja menjawab isi pikiran seseorang dan bukannya apa yan g dikatakannya. Menurutmu kenapa kau tidak bisa mendengarku? Dia bertanya-tanya. Aku memberinya kebenaran dan analogi lain, aku ti dak tahu. Satu-satunya dugaanku, mungkin jalan pikiran mu berbeda dengan yang lainnya. Dengan kata lain, misa

262

lnya pikiranmu ada di gelombang AM, sementara aku han ya bisa menangkap gelombang FM. Aku sadar dia pasti tidak akan suka analogi itu. Dan aku tersenyum membayangkannya. Dia tidak akan mengec ewakan tebakanku. Pikiranku tidak berjalan dengan benar? engan suara tinggi. Ah, ironi lagi. Akulah yang mendengar suara-suara dalam pikiranku , tapi justru kau yang khawatir dirimu aneh. Aku tertaw a. Dia mengerti hal yang kecil-kecil, namun terbalik me mahami gambaran besarnya. Selalu saja instingnya keliru ... Dia menggigit bibirnya, kerut diantara matanya sem akin dalam. Jangan khawatir, aku meyakinkan. Itu cuma teori... Dan ada teori lain yang lebih penting untuk didiskusikan . Teorinya dia. Dan aku tidak sabar ingin cepat-cepat dis elesaikan. Makin mengulur-ulur waktu justru membuat m akin tersiksa. Yang mengingatkan aku, sekarang giliranmu, ujarku dengan perasaan ambigu, antara waswas dengan enggan. Dia mengambil napas dalam-dalam, masih sambil me nggigit bibirµaku khawatir dia akan melukai dirinya sen diri. Dia menatap kedalam mataku, wajahnya gelish. Bukankah sekarang kita sudah melewati tahap menge lak? desakku halus. Dia menunduk, bergulat dengan pikirannya. Tiba-tib a, dia mengejang dan matanya membalalak ngeri. Untuk p ertama kali, ekspresi wajahnya ketakutan. Napasnya tertahan. Gila! Maksudmu aku aneh? protesnya d

263

Aku kalang-kabut. Apa yang dia lihat? Bagaimana a ku menakutinya? Kemudian dia berteriak panik, n mobilnya! Kenapa? aku sama sekali tidak mengerti. Kau melaju seratus mil per jam! jeritnya padaku. Di a melihat keluar jendela dengan tatapan ngeri. Hal sepele begini, cuma karena ngebut, membuat dia teriak ketakutan? Aku memutar bola mataku. lla. Apa kau mencoba membunuh kita berdua? masih dengan suara tinggi dan tajam. Kita tidak akan kenapa-kenapa. Dia menghirup napas dalam-dalam, kemudian pelanpelan bicara dengan lebih tenang. Kenapa, kau terburu-buru seperti ini? Aku selalu mengemudi seperti ini. Aku bertemu pandangan dengannya, dan terhibur ole h ekspresi syok dia. Jangan alihkan pandanganmu dari jalan! agi. Aku belum pernah kenapa-kenapa, Bellaµaku bahkan belum pernah ditilang. Aku tersenyum lebar dan menunju Radar k keningku. Itu jadi lebih menggelikanµbisa melucu tent ang sesuatu yang rahasia dan ganjil dengan Bella. pendeteksi alami, Sangat lucu, marah. kataku. sindirnya dengan nada takut daripada teriaknya l sergahnya Tenang, Be Pelanka

Charlie polisi, kau tidak lupa, kan? Aku dibesark

an untuk mematuhi aturan lalu lintas. Lagi pula, kalau k au menerjang pohon dan membuat kita berdua cedera, bar angkali kau masih bisa selamat. Barangkali, kataku mengiyakan dan tertawa sebenta r. Ya, nasib kamu berdua akan sedikit berbeda jika terja

264

di apa-apa. Wajar dia takut, meski dengan kelihaianku m engemudi... Tapi kau tidak. Sambil menghela napas aku menurunkan kecepatan. Puas? Dia mengamati spedometernya. Hampir. Apa ini masih terlalu cepat? mudi pelan-pelan, urun beberapa garis lagi. Kau bilang ini pelan? protesnya. Sudah cukup menngomentari cara mengemudiku, kat aku tidak sabar. Sudah berapa kali dia mengelak pertany aanku? Tiga kali? Empat? Apa spekulasi dia semanakutka n itu? Aku harus tahuµsecepatnya. n teori terakhirmu. Dia menggigit bibirnya lagi, ekspresinya berubah w aswas. Aku tidak bakal tertawa. ara hanya karena malu. Aku lebih khawatir kau bakal marah padaku, ya. Kupaksakan suaraku untuk tetap tenang. kah? Kurang-lebih, ya. Dia menunduk, menolak menatap mataku. Beberapa d etik telah lewat. Katakan saja. Suaranya sangat pelan. mulainya. Kenapa kau tidak mulai dari awal... annya saat di restoran tadi. Katamu kesimpulanmu tidak muncul begitu saja. Tidak. Dia kembali diam lagi. Aku ingat ucap Aku tak tahu bagaimana me bisikn Seburuk itu Suaraku melunak. Aku tida k ingin dia jadi tertekan. Kuharap alasan dia enggan bic Aku masih menantika Aku tidak suka menge

gumamku, tapi membiarkan jarumnya t

265

Aku mengira-ngira sesuatu yang mungkin menginspir asi dia. Apa yang memicunyaµ Buku? Film? Aku mestinya mengecek koleksi bukunya. Aku tidak menyangka jika novelnya Bram Stroker atau Annie Rice a da diantara tumpukan buku-buku dia... Tidak, semuanya berawal hari sabtu, di pantai. Ini lebih mengejutkan lagi. Gosip tentang kami belu m pernah menyimpang seaneh itu µatau setepat itu. Apa ada rumor baru yang kulewatkan? Bella melirik dan meli hat kekagetan di wajahku. Aku bertemu teman lama keluargakuµJacob Black. ia melanjutkan. ak aku masih bayi. Jacob Blackµnama itu asing, namun mengingatkan pa da sesuatu... pada suatu masa jauh ke belakang... Aku m enatap keluar, mencari-cari dalam ingatanku, berusaha m enemukan hubungannya. Ayahnya salah satu tetua suku Quileute, lah lagi. Ini benar-benar buruk. Bella tahu yang sebenarnya. Mendadak pikiranku jadi tidak karuan, pada saat ber samaan, jalanan di depan membelok. Badanku kaku karen a meranaµmematung, tidak bergerak, kecuali sedikit gera kan otomatis untuk membelokkan kemudi. Bella tahu yang sebenarnya. Tapi..., jika dia sudah tahu sejak kemarin sabtu..., berarti semalaman ini dia sudah tahu... Dan tetap saja... Kami jalan-jalan, dia melanjutkan. Dan dia menceri takan beberapa legenda tuaµkurasa dia mencoba menakut -nakuitiku. Dia menceritakan salah satunya... tambahnya. Jacob Black. Ephraim Black. Keturunannya, tidak sa D Ayahnya dan Charlie telah berteman sej

266

Dia berhenti sebentar, tapi sudah tidak ada gunanya ragu-ragu; aku sudah tahu apa yang akan ia katakan. Sat u-satunya misteri yang tersisa adalah mengapa ia masih disini denganku? Lanjutkan... Dia menghembuskan napas, ucapannya lebih sekedar bisikan, tentang vampir. Aku berjengit mendengarnya, namun segera bisa men guasai diri. Entah bagaimana, itu jauh lebih parah ketim bang ketimbang tahu kalau dia tahu; mendengar dia meng ucapkan kata itu. Dan kau langsung teringat padaku? Tidak. Dia... menyebut keluargamu. Sungguh ironis, justru keturunan Ephraim sendiri la h yang telah melanggar sumpah yang ia buat. Cucunya se ndiri, atau barangkali cicitnya. Berapa tahun sudah bers elang? Tujuh puluh tahun? Seharusnya aku sadar bahwa bukan para tetua, yang percaya dengan legenda itu, yang mesti diwaspadai. Tap i, tentu saja, adalah generasi mudanyaµyang telah diperi ngatkan, tapi dipikirnya itu cuma kisah takhayul yang bi sa ditertawakan. Dan disitulah letak bahaya yang sebena rnya. Itu artinya sekarang aku bebas untuk membantai suk u kecil itu, dan aku tidak keberatan. Ephraim dan para p elindungnya telah lama mati... Dia hanya mengaggap itu takhayul yang konyol, r Bella tiba-tiba. Suaranya kini jadi waswas. ermaksud supaya aku berpikir yang bukan-bukan. Lewat sudut mataku, aku melihat dia meremas-remas tangannya gelisah. uja Dia tidak b

267

Itu salahku, aku. Kenapa?

ucapnya kemudian setelah diam sejenak Aku yang memaksanya bercerita pad

. Ia tertunduk malu.

Sekarang tidak sulit untuk menjaga suarak

u tetap tenang. Yang terburuk telah lewat. Selama kami berdua terus bicara tentang asal-usul teori dia, maka tid ak perlu membahas bagaimana kelanjutannya. Lauren mengatakan sesuatu tentang kauµdia mencob a memprovokasiku. Wajahnya merengut saat mengingatny a. Pikiranku sedikit teralihkan, membayangkan bagaiman a Bella bisa terprovokasi oleh gunjingan tentang diriku.. . Dan seorang cowok yang lebih tua dari suku itu bilang kalau keluargamu tidak datang ke reservasi. Hanya saja, sepertinya ada maksud lain di balik perkataannya. Jadi a ku memancing Jacob pergi berduaan denganku, untuk me mancingnya agar mau cerita. Kepalanya tertunduk lebih dalam lagi, ekspresinya t erlihat...bersalah. Aku berpaling dan tergelak. Dia merasa bersalah? A pa coba yang telah dia lakukan sampai dia merasa tercel a sedemikian rupa? Memancing bagaimana? Aku mencoba merayunyaµdan ternyata hasilnya lebih baik dari yang kuduga. Suaranya berubah ragu saat meng ingat kesuksesannya itu. Aku bisa membayangkanµmengingat daya tariknya di mata para lelaki, dan ketidak sadaran dia atas hal ituµja di betapa luas biasanya dia ketika mencoba untuk mengel uarkan pesonanya. Aku jadi merasa kasihan pada bocah l ugu yang telah menjadi korban daya pikatnya yang luar b iasa itu. Kalau saja aku melihatnya... Dan aku tertawa memb ayangkannya. Andai saja aku bisa mendengar reaksi boca

268

h itu, menyaksikan penaklukannya secara langsung. ng malang.

Dan

kau menuduhku membuat orang terpesonaµJacob Black ya Ternyata aku tidak terlalu marah kepada sumber keb ocoran rahasiaku, tidak seperti yang kukira akan kurasak an. Bocah itu tidak tahu apa-apa. Dan bagaimana mungki n ada pria yang bisa menolak kemauan gadis ini? Aku jus tru bersimpati pada bocah itu, Bella sama sekali tidak ta hu bagaimana dampaknya terhadap pikiran Jacob Black y ang malang itu. Aku merasakan wajah Bella yang tersipu menghangat kan udara diantara kami. Aku melirik ke arahnya, dia se dang memandang ke luar jendela. Dia tidak bicara lagi. Lalu, apa yang kau lakukan? ya kembali ke cerita horor. Aku mencari keterangan di internet. Betapa praktisnya. u yakin? Tidak, jawabnya. Tidak ada yang cocok. Kebanyaka Dia diam lagi. Aku mendengar gig n konyol. Kemudian... inya terkatup rapat. Apa? desakku. Apa yang dia temukan? Apa yang me kuputu mbuat mimpi buruk ini jadi masuk akal buat dia? Ada jeda sejenak, dan kemudian ia berbisik, skan itu tidak penting. Syok membekukan pikiranku selama sepersekian deti k. Kemudian semuanya jadi jelas. Kenapa tadi ia menyur uh teman-temannya pergi ketimbang pulang bersama mere ka. Kenapa ia kembali masuk kedalam mobilku dan bukan nya lari ketakutan mencari polisi... Reaksinya selalu salahµselalu sangat salah. Dia men arik bahaya ke arahnya. Dia mengundangnya. Dan, apakah hasilnya membuatm tanyaku pelan. Waktun

269

Itu tidak penting?

Aku hampir menggeram karena m

arah. Bagaimana caranya aku bisa melindungi seseorang yang sangat...sangat...sangat tidak ingin dilindungi? Tidak, jawabnya dengan suara yang begitu lembut. Tidak penting bagiku apa pun kau ini. Dia sungguh tidak masuk akal. Kau tidak peduli kalau aku monster? Kalau aku buka n manusia? Tidak. Aku mulai mempertanyakan, apa kondisi psikisnya b enar-benar stabil. Barangkali aku bisa mengatur agar ia mendapat pera watan yang terbaik... Carlisle pasti punya koneksi dokte r yang terbaik, terapis yang paling andal. Barangkali ses uatu bisa dilakukan untuk menyembuhkan apapun yang sa lah dari dirinya, apapun itu yang jadi penyebab hingga i a bisa duduk dengan tenang di samping seorang vampir. Aku akan selalu mengawasi selama dia dirawat, seperti c ara biasanya, dan mengunjunginya sesering yang diboleh kan... Kau marah, akan apa-apa. Kata-katanya itu...seakan dengan menyembunyikan p endapat absurdnya itu akan bisa menolong kerumitan ini. Tidak. Lebih baik aku tahu apa yang kau pikirkanµb ahkan meskipun pikiranmu itu tidak waras. Jadi aku salah lagi? g. Bukan itu maksudku! u tidak penting'! Dia menahan napas. Gigiku terkatup rapat lagi. Aku benar? 'it ulangku dengan nada pedas. Kini nadanya sedikit menantan keluhnya. Seharusnya aku tidak mengat

Apakah itu penting? balasku.

270

Tidak juga. emang penasaran.

Suaranya sudah tenang lagi.

Tapi aku m

Tidak juga. Itu tidak penting. Dia tidak peduli. Dia tahu aku bukan manusia, seorang monster, dan hal itu tid ak penting buatnya. Disamping mencemaskan kewarasannya, aku mulai m erasakan sebungkah harapan. Tapi aku segera membuangn ya jauh-jauh. Apa yang membuatmu penasaran? Berapa umurmu? Jawabanku sudah otomatis dan mendarah daging, uh belas. Dan sudah berapa lama kau berumur tujuh belas? Aku mencoba untuk tidak tersenyum saat mendengar nada protesnya. Oke. Cukup lama. Mendadak dia jadi bersemangat. Dia tersenyum tuj Tidak ada lagi rah asia yang tersisa, cuma detail- detail kecil.

padaku. Ketika aku menatap balik, lagi-lagi dengan pera saan cemas dengan kondisi mentalnya, senyumannya justr u makin lebar. Aku cuma meringis. Jangan tertawa. Dia mewanti-wanti. Tapi bagaimana kau bisa keluar di siang hari? g baru. Mitos. Bagaimanapun juga aku te

rtawa. Sepertinya riset dia tidak menemukan sesuatu yan Terbakar matahari? Mitos. Tidur di peti mati? Mitos. Tidur sudah bukan lagi jadi bagian hidupku sejak la maµtidak hingga beberapa malam terakhir saat aku meng awasi Bella bermimpi... Aku tidak bisa tidur, gumamku, menjawab pertanyaa nnya terus terang. Dia terdiam sejenak.

271

Sama sekali? Tidak pernah. Aku menghela napas. Kupandangi mata coklatnya yang dalam, dan aku jad i rindu untuk tidur. Bukan untuk melarikan diri dari bos an, seperti sebelumnya, tapi lebih karena untuk bisa ber mimpi. Barangkali, jika aku bisa tidur, jika aku bisa ber mimpi, maka untuk beberapa saat aku bisa tinggal di dun ia dimana aku dan Bella bisa bersama-sama. Dia memimp ikan aku. Aku ingin memimpikan dia. Dia menatap balik, ekspresinya keheranan. Aku pun berpaling. Aku tidak mungkin memimpikan dia. Tidak seharusn ya dia memimpikan aku. Kau belum melontarkan pertanyaan yang paling pent ing. Jantungku semakin beku, lebih keras dari biasanya. Dia harus dipaksa untuk memahami. Dia harus menyadari bahaya apa yang sedang ia hadapi. Dia harus kubuat men gerti bahwa semua ini adalah pentingµ jauh lebih pentin g dari pertimbangan apapun. Pertimbangan-pertimbangan seperti bahwa aku mencintai dia. Yang mana? tanyanya terkejut dan tidak sadar. Itu cuma membuat suaraku makin parau. eduli dengan dengan makananku? Oh, itu. Dia bicara begitu pelan hingga aku tidak bi sa mengartikan intonasinya. Ya, itu. Tidakkah kau ingin tahu apakah aku minum darah? Dia tersentak mendengar pertanyaanku yang langsun g ke sasaran. Akhirnya. Dia mengerti juga. Well, Jacob mengatakan sesuatu tentang itu. Apa yang dikatakan Jacob? Kau tidak p

272

Dia bilang kau tidak... memburu manusia. Katanya k eluargamu seharusnya tidak berbahaya karena kalian han ya memburu binatang. Dia bilang kami tidak berbahaya? ulangku sinis. Tidak juga, dia membetulkan. Dia bilang kalian seh arusnya tidak berbahaya. Tapi suku Quileute masih tidak menginginkan kehadiran kalan di tanah mereka, untuk be rjaga- jaga. Aku memandang lurus kedepan. Pikiranku menggera m putus asa. Tenggorokanku terbakar oleh rasa haus yan g sangat kukenal. Jadi apakah itu benar? ru manusia? Suku Quileute punya ingatan yang panjang. gangguk sendiri sambil berpikir keras. Tapi jangan senang dulu, asih berbahaya. Aku tidak mengerti. Tentu saja dia tidak mengerti. Bagaimana caranya m embuat dia mengerti? Kami berusaha, aku coba menjelaskan pelan-pelan. Kami biasanya sangat andal dengan apa yang kami lakuka n. Tapi kadang kami juga membuat kesalahan. Aku, conto hnya, membiarkan diriku berduaan denganmu. Aromanya masih sangat tajam di dalam sini. Aku su dah mulai terbiasa, aku hampir bisa mengabaikannya, tap i tidak bisa dipungkiri bahwa tubuhku masih mengingink an dia untuk alasan yang salah. Liur masih membanjiri m ulutku. kataku cepat-cepat. Mere ka benar untuk tetap menjaga jarak dengan kami. Kami m Dia men Suaranya setenang seakan se Tentang tidak membu dang membicarakan laporan cuaca.

273

Kau sebut ini kesalahan?

suaranya terdengar sedih.

Dan itu meluluhkanku. Dia ingin bersama dengankuµterle pas dari segalanya, dia ingin bersama denganku. Harapan kembali mengembang. Dan lagi-lagi kembal i kukibas. Kesalahan yang sangat berbahaya. Aku mengatakan sejujur-jujurnya, berharap akhirnya dia bisa mengerti. Selama beberapa saat dia tidak menanggapi. Bisa ku dengar irama napasnya berubahµjadi tidak beraturan, yan g anehnya tidak seperti ketakutan. Ceritakan lagi, ujarnya tiba-tiba. Suaranya bergetar sedih. Aku mengamati baik-baik. Ah, dia terluka. Bagaimana bisa aku membiarkan in i? Apa lagi, yang ingn kau ketahui? Aku mencari-cari cara untuk membuatnya tidak terluka. Dia tidak boleh ter luka. Aku tidak boleh membiarkan dia sampai terluka. Katakan kenapa kau memburu binatang dan bukan ma nusia? Suaranya masih sedih dan putus asa. Bukankah sudah jelas? Atau, barangkali ini juga tid ak penting buat dia. Aku tidak ingin menjadi monster, Tapi binatang tidak cukup bukan? Aku mencari perbandingan lain agar dia bisa menger ti. Aku tidak yakin tentu saja, tapi aku membandingkann ya dengan hidup hanya dengan makan tahu dan susu kede lai; kami menyebut diri kami vegetarian, lelucon di anta ra kami sendiri. Tidak benar-benar memuaskan lapar kam iµatau dahaga tepatnya. Tapi membuat kami cukup kuat u ntuk bertahan. Hampir sepanjang waktu. ya. Bahaya yang terus saja kubiarkan... ebih sulit dari yang lainnya. Suaraku merend Kadang-kadang l ah; aku merasa malu atas bahaya yang kuakibatkan padan gumamku.

274

Apakah sekarang sangat sulit bagimu? Aku menghela napas. Tentu saja dia akan menanyaka n pertanyaan yang tidak ingin kujawab. us-terang. Kali ini aku bisa menebak respon fisiknya dengan b enar: irama napasnya terjaga, detak jantungnya teratur. Aku sudah menduga itu, tapi tetap tidak bisa memahamin ya. Kenapa dia tidak takut? Tapi kau tidak sedang lapar. Kenapa kau berpikir begitu? Matamu, ungkapnya begitu saja. Sudah kubilang ak u punya teori. Aku memperhatikan bahwa orang-orangµkh ususnya cowokµjadi lebih pemarah ketika mereka lapar. Aku terkekeh mendengar istilahnya: pemarah. Keden garannya lebih bersahabat, tapi lagi-lagi tepat sasaran. Kau ini memang pengamat, ya kan? Aku kembali tertawa. Dia sedikit tersenyum. Kerut diantara matanya munc ul lagi, sepertinya dia sedang berkonsentrasi pada sesuat u. Apakah kau pergi berburu akhir pekan ini, dengan E mmet? tanyanya setelah tawaku reda. Nada bicaranya ya ng biasa-biasa saja sungguh menakjubkan, sekaligus mem buat frustasi. Bagaimana bisa dia menerimanya begitu sa ja. Justru aku yang lebih mendekati syok ketimbang dia. Ya. Aku hampir memberitahu sebatas itu saja, namu Aku tidak ingin per n aku merasakan dorongan yang sama seperti di restoran tadi: Aku ingin dia mengenal diriku. gi. s. Kenapa kau tidak ingin pergi? Aku melanjutkan pelan-pelan, tapi ini penting. Lebi Dia kedengaran yakin. Ya, jawabku ter

h mudah berada di sekitarmu ketika aku tidak sedang hau

275

Aku mengambil napas panjang, dan kemudian menole h, menatap matanya. Kejujuran yang seperti ini sama sul itnya. Itu membuatku... khawatir... µkurasa istilah itu cuk up memadai, meski masih belum cukup kuatµ berada jauh darimu. Aku tidak bercanda ketika memintamu untuk tida k jatuh ke laut atau tidak kenapa-kenapa kamis lalu. Sep anjang akhir pekan aku tak bisa berkonsentrasi karena m engkhawatirkanmu. Dan setelah apa yang terjadi malam i ni, aku terkejut kau bisa melewati seluruh akhir pekan i ni tanpa tergores. angannya. lnya. Apa? Tanganmu... Dia menghela napas dan cemberut. Sudah kuduga. Aku terjatuh. K Aku tak sanggup menahan senyum. Lalu aku ingat bekas luka di telapak t Well, tidak benar-benar tanpa tergores sebetu

urasa, mengingat siapa dirimu, kejadiannya bisa lebih bu ruk lagiµdan kemungkinan itu menyiksaku selama keperg ianku. Tiga hari yang amat panjang. Aku benar-benar me mbuat Emmet kesal. .. Tiga hari? Suaranya mendadak berubah tajam. Buka nkah kau baru kembali hari ini? Aku tidak mengerti kenapa dia jadi kesal. mi kembali hari minggu. Lalu kenapa tak satu pun dari kalian masuk sekolah? Kemarahannya membuatku bingung. Kelihatannya dia tidak sadar kalau pertanyaan itu masih ada hubungannya dengan mitos-mitos tadi. Well, kau bertanya apakah matahari menyakitiku, da n memang tidak, jawabku. Tapi aku tak bisa keluar keti Tidak, ka Dan sepertinya Emmet sampai sekar ang masih kesal, juga seluruh keluargaku. Kecuali Alice.

276

ka matahari bersinarµsetidaknya, tidak di tempat yang bi sa dilihat orang. Jawabanku mengalihkan dia dari kekesalannya yang misterius. sisi. Aku ragu bisa menemukan analogi yang pas untuk m enjelaskan yang satu ini. Jadi aku cuma mengatakan, an-kapan akan kutunjukan padamu. Kemudian aku jadi bertanya-tanya, apa ini akan jadi janji yang pada akhirnya akan kuingkari. Apakah aku aka n melihatnya lagi setelah malam ini? Apa aku cukup men cintai dia namun juga sanggup untuk meninggalkannya? Kau kan bisa meneleponku, Jalan keluar yang aneh. saja, Tapi aku tidak tahu di mana kau berada. Akuµ adak ia berhenti, dan memandangi tangannya. Apa? Aku tidak suka, nya menghangat. buatku waswas. Apa kau puas sekarang? Bentakku pada diriku sendir i. Well, inilah ganjarannya karena sudah berharap. Aku bingung, gembira, ngeriµsebagian besar ngeriµ menyadari bagaimana akhirnya angan-anganku mendekati kenyataan. Inilah alasannya kenapa 'tidak penting' jika a ku adalah seorang monster. Alasan yang sama persis den gan alasan kenapa segala aturan itu juga tidak penting b uatku; kenapa yang benar dan salah jadi kabur, kenapa s egala prioritasku hanya terpusat pada gadis ini. ...Bella juga menyukaiku. Aku tahu itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan bagaimana aku mencintai dia. Tapi itu sudah cukup buat ucapnya malu, kulit di sekitar pipi Tidak bertemu denganmu. Itu juga mem mend ucapnya pelan. Tapi aku tahu kau baik-baik kap Kenapa? Dia menelengkan kepalanya ke satu

277

dia untuk mengambil resiko dengan duduk disini bersama ku. Untuk melakukannya dengan senang hati. ...Cukup untuk membuatnya merana jika aku melaku kan tindakan yang benar dan meninggalkannya. Adakah yang bisa kulakukan yang tidak akan meluka inya? Apa saja? Aku seharusnya tetap pergi. Aku seharusnya tidak k embali ke Forks. Aku hanya akan membuatnya menderita. Pertanyaannya sekarang, apakah itu akan menghenti kan keinginanku untuk tetap tinggal? Apakah itu bisa me ncegahku untuk menjadikannya lebih buruk lagi? Melihat perasaanku saat ini, merasakan kehangatann ya di sampingku... Tidak, tetap tidak bisa. Tidak akan ada yang bisa m enghentikanku. Aku tidak akan sanggup untuk pergi. Aku tidak akan sanggup meninggalkan dia. Ah. Aku mengerang tak berdaya. Ini salah. Memangnya aku bilang apa? merasa bersalah. Tidakkah kau mengerti, Bella? Tidak masalah bagik u membuat diriku sendiri merana, tapi kalau kau melibat kan dirimu terlalu jauh, itu masalah lain lagi. aku tak m au mendengar kau merasa seperti itu lagi. Itulah yang se benarnya, sekaligus kebohongan. Bagian diriku yang pali ng egois mengawang-awang karena tahu dia juga menging inkan aku seperti aku menginginkan dia. Tidak. Bibirnya mencebik merajuk. Ini salah. Ini ti dak aman. Aku berbahaya, Bellaµkumohon, mengertilah. Aku berperang dengan diriku sendiri begitu hebatny aµsebagian ingin dia menerimaku apa adanya, sebagian i ngin dia mendengar peringatanku dan lariµsehingga katakata yang keluar berupa geraman. Aku serius. tanyanya cepat-cepat,

278

Begitu juga aku. Terlambat?

Dia bersikeras.

Sudah kubilang, ti

dak penting kau itu apa. Sudah terlambat. Dalam ingatanku, dunia begitu muram, gelap dan pu cat, saat aku mengawasi bayang- bayang hitam merangka k di pekarangan rumah Bella menuju sosoknya yang terti dur. Tak terelakan dan tak terhentikan. Bayang-bayang it u mencuri rona pada kulitnya, dan menenggelamkan dia k edalam kegelapan. Terlambat? Penglihatan Alice muncul di kepalaku, mata merah-d arah Bella menatapku datar. Tanpa ekspresiµtapi tidak m ungkin dia tidak membenciku atas masa depan itu. Memb enciku karena telah merampas segalanya. Merampas hidu pnya dan jiwanya. Ini belum terlambat. Jangan pernah katakan itu, desisku. Dia melihat keluar jendela, dan dia menggigit bibir nya lagi. Tangannya mengeras di pangkuannya. Napasnya tersedak dan tak beraturan. Apa yang sedang kau pikirkan? Aku harus tahu. Dia menggeleng tanpa melihat ke arahku. Aku melih at sesuatu berkilau di pipinya, seperti kristal. Perasaanku langsung nyeri. Kau menangis? Aku me mbuatnya menangis. Aku melukainya sedalam itu. Dia menghapus air matanya dengan punggung tanga n. Tidak, elaknya dengan suara gemetar. Instingku yang terpendam dalam mendorongku untuk meraih diaµdalam detik itu aku merasa menjadi lebih ma nusia dari kapanpun. Tapi kemudian aku ingat bahwa ak u...bukan. Dan kuturunkan tanganku.

279

Maafkan aku,

sesalku dengan rahangku terkunci. Ba

gaimana bisa aku mengatakan padanya seberapa menyesal nya aku? Maaf atas segala kesalahan bodoh yang telah ku buat. Maaf atas keegoisanku yang tak beujung. Maaf atas nasibnya yang sial karena untuk pertama kalinya telah m enginspirasi aku pada kisah cinta yang tragis ini. Maaf j uga atas sesuatu yang diluar konstrolkuµbahwa aku telah menjadi monster yang dipilih oleh takdir untuk mengakhi ri hidupnya. Aku mengambil napas dalam-dalamµmengabaikan ras a perih yang diakibatkan aromanyaµdan berusaha mengua sai diri. Aku ingin mengganti topik, untuk memikirkan sesuat u yang lain. Dan untung bagiku, rasa penasaranku pada g adis ini tidak ada habis-habisnya. Aku selalu punya pert anyaan. Aku bertanya-tanya, gantung di suaranya. Apa yang kau pikirkan di lorong tadi, sebelum aku muncul? Aku tak bisa mengerti ekspresimuµkau tidak ter lihat setakut itu, kau seperti sedang berkonsentrasi kera s pada sesuatu. nuh tekad. Aku sedang mencoba mengingat bagimana cara meng hadapi serangan. Kau tahu kan, ilmu bela diri, jawabnya Aku b dengan lebih terkendali. Tapi kemudian nadanya yang te nang tidak berlanjut, nadanya berubah jadi marah, epala. Kini kemarahannya yang menggemaskan tidak lagi lu cu. Aku bisa melihat sosoknya yang rapuhµhanya balutan ermaksud menghancurkan hidungnya hingga melesak ke k Aku ingat ekspresinyaµsambil berusaha melupakan dari mata siapa aku melihatnyaµtatapannya pe kataku kemudian. Ya? Dia berusaha tegar, namun air mata masih meng

280

sutra diatas permukaan kacaµterpojok oleh manusia beng is kekar yang ingin menyakitinya. Amarah mendidih di b elakang kepalaku. Kau akan melawan mereka? ingin melarikan diri? Aku sering terjatuh kalau lari, ucapnya malu-malu. Bagaimana kalau berteriak meminta tolong? Aku juga bermaksud melakukannya. Aku menggeleng-geleng tidak percaya. Bagaimana ca ranya dia bisa bertahan hidup sebelum datang ke Forks? Kau benar. p. Dia menghela napas, dan memandang keluar jendela. Kemudian ia kembali menatapku. Apakah besok kita akan bertemu? a. Karena toh akhirnya akan ke neraka juga, jadi kenap a tidak sekalian saja. Yaµada tugas yang harus dikumpulkan. Aku akan menunggumu saat makan siang. Jantungnya berdegup kencang; jantungku yang mati mendadak terasa hangat. Aku menghentikan mobil di dep an rumahnya. Dia tetap tidak bergerak. Kau janji akan datang besok? Aku janji. Kok bisa-bisanya melakukan sesuatu yang salah tapi terasa semenyenangkan ini? Pasti ada yang keliru. Dia mengangguk puas, dan mulai mencopot jaketku. Aku buru-buru mencegahnya, ya. kau boleh menyimpann Aku ingin dia memiliki sesuatu dariku. Sebuah kena Aku terseny um padanya. Rasanya menyenangkan bisa melakukannya. pintanya tiba-tib Suaraku terdengar masam. Aku jelas-jel as melawan takdir karena mencoba menjagamu tetap hidu Aku ingin mengerang. In Tidakkah kau stingnya mematikanµbagi dirinya sendiri.

281

ng-kenangan, seperti tutup botol dalam sakuku... dak punya jaket yang bisa kau pakai besok.

Kau ti

Dia tetap mengembalikannya padaku sambil tersenyu m menyesal. Aku tak mau menjelaskannya pada Charlie. Oh, benar. Bisa kubayangkan. Aku pun tersenyum.

Dia sudah memegang gagang pintu mobil, tapi berhe nti. Dia enggan pergi, sama seperti aku enggan dia perg i. Aku tidak mau meninggalkannya tanpa perlindungan, bahkan hanya sebentar saja... Peter dan Charlotte sedang dalam perjalanan, pasti sudah jauh melewati Seattle. Tap i selalu ada yang lain. Dunia ini bukan tempat yang ama n buat manusia, dan buat dia kelihatannya jauh lebih ber bahaya lagi. Bella? Dan aku terkejut dengan betapa menyenangka nnya rasanya hanya dengan mengucapkan namanya saja. Ya? Maukah kau beranji padaku? Ya. ak. Jangan pergi ke hutan seorang diri. atanya. Dia mengerjap, kaget. Kenapa? Aku menoleh ke kegelapan malam yang tidak bisa di percaya. Ketiadaan cahaya bukan masalah buat mataku, t api itu juga berlaku sama buat pemburu lainnya. Itu hany a membutakan manusia. Aku tidak selalu yang paling berbahaya di luar sana . Anggap saja begitu. Aku bertanya-t anya, apakah permintaan itu akan memicu penolakan di m Dia langsung setuju. Tapi kemudian tatapannya menajam, seakan sedang mencari-cari alasan untuk menol

282

Dia gemetar, namun cepat menguasai diri, dan bahka n sempat tersenyum ketika mengatakan, amu. Napasnya menyentuh wajahku, begitu manis dan har um. Aku bisa tinggal begini semalaman, tapi dia butuh t idur. Dua keinginan itu kelihatannya sama kuat, dan mas ih berperang dalam diriku: menginginkan dia versus men ginginkan dia aman. Aku mendesah pada kemustahilan ini. Sampai ketemu besok, an bertemu denganku besok. Baik kalau begitu. Kemudian dia membuka pintu. La gi-lagi terasa nyeri sekali, melihatnya pergi. Aku mencondongkan badan ke arahnya, ingin menaha n dia disini. Bella? Dia menoleh, dan membeku, terkejut mendapati wajah kami begitu dekat. Begitu pula denganku, meluap-luap karena kedekata n ini. Kehangatan datang bergelombang membasuh wajah ku. Aku bisa merasakan segalanya kecuali kelembutan ku litnya... Jantungnya berdegup kencang, dan bibirnya mereka h. Tidur nyenyak ya, bisikku, dan segera menjauh sebe lum dorongan dalam tubuhkuµ entah haus yang biasanya atau hasrat aneh yang baru kali ini kurasakanµakan mem buatku melakukan sesuatu yang bisa menyakitinya. Untuk sesaat dia masih duduk diam tidak bergerak, matanya melebar dan membeku. Terpesona, kukira. Begitu pula denganku. ucapku, meski tahu aku akan segera menemuinya jauh sebelum itu. Dia sendiri baru ak terserah apa kat

283

Dia kembali menguasai diriµmeski wajahnya masih a gak terpanaµdan terlihat limbung ketika keluar dari mob il hingga harus berpegangan agar tidak jatuh. Aku tertawa geliµberharap dia tidak mendengarnya. Aku melihat dia sempat tersandung ketika sampai di depan pintu. Untuk sementara aman. Dan aku akan segera kembali untuk memastikan. Aku bisa merasakan tatapannya mengikutiku saat mo bilku melaju pergi. Ini merupakan sensasi yang berbeda dari biasanya. Biasanya, secara harfiah aku menyaksikan diriku melalui pandangan orang lain yang menatapku per gi. Tapi anehnya ini jauh lebih menyenangkanµ sensasi s emu dari tatapan yang mengawasi. Aku tahu ini menyena ngkan hanya karena tatapannya berasal dari Bella. Berjuta pikiran berkecamuk dalam kepalaku saat ber kendara tanpa tujuan di tengah kegelapan malam. Selama beberapa lama aku berputar-putar tak tentu a rah. Aku memikirkan Bella, lega karena akhirnya dia tah u yang sebenarnya. Tidak perlu lagi waswas jati diriku t erbongkar. Dia sudah tahu. Itu tidak penting buat dia. M eski jelas-jelas buat dia ini buruk, tetap saja sangat mel egakan. Lebih dari itu, aku memikirkan perasaan Bella pada ku. Dia tidak mungkin menyukaiku sebesar aku mencinta nyaµperasaan cinta yang sedahsyat dan semelimpah ini b arangkali akan menghancurkan tubuh rapuh dia. Tapi per asaannya cukup kuat juga. Cukup kuat hingga bisa menun dukkan insting takut dia. Cukup kuat untuk ingin bersam aku. Dan berada bersamanya adalah kebahagiaan paling b esar yang pernah kurasakan. Untuk sesaatµsaat aku sudah sendirian dan tidak ada siapapun yang bisa kusakitiµaku membiarkan diriku untu k menikmati kebahagiaan ini tanpa harus dibebani traged

284

inya. Hanya untuk merasa bahagia karena dia juga menyu kaiku. Hanya untuk bersuka ria karena telah berhasil me menangkan perasaannya. Hanya untuk terus mengingat ke mbali bagaimana rasanya duduk di dekat dia, mendengar suaranya, dan mendapat senyumannya. Aku mengingat kembali senyum itu, menyaksikan bi birnya yang penuh tertarik di kedua sudutnya hingga men ggerakkan garis-garis pipinya, bagaimana matanya mengh angat dan mencair... Malam ini jari-jarinya terasa hanga t dan lembut pada tanganku. Aku membayangkan bagaima na rasanya jika menyentuh kulit pipinya yang lembutµbal utan sutra pada permukaan kaca...begitu mudah pecah. Aku tidak tahu kemana anganku berujung hingga terl ambat. Pada saat sedang menyelami kerapuhannya, gamba ran baru wajahnya menyeruak dalam anganku. Tersesat di tengah kegelapan, pucat karena takutµna mun rahangnya terkunci penuh tekad, tatapannya sengit, badannya yang ramping siap menyerang sosok-sosok besa r yang mengurungnya. Mimpi buruk yang suram... Ah. mukaan. Aku sendirian. Bella telah aman di rumahnya; untuk sesaat aku lega bahwa Charlie Swanµkepala polisi setem pat, yang terlatih dan bersenjataµmerupakan ayahnya. It u membuatnya lebih aman. Dia sudah aman. Tidak akan makan waktu lama untu k membalas orang-orang itu... Tidak. Bella layak mendapatkan yang lebih baik dar i itu. Aku tidak akan membiarkan dia jatuh cinta pada se orang pembunuh. Tapi...bagaimana dengan perempuan-perempuan lain yang bisa jadi korban manusia biadab itu? Aku mengerang saat kebencian membara yang te lah terlupakan oleh kebahagiaan tadi, muncul lagi ke per

285

Bella memang sudah aman. Angela dan Jessica juga sudah aman di rumahnya. Namun monster itu masih berkeliaran di Port Angele s. Monster-manusiaµapa itu membuatnya jadi urusan man usia? Untuk melakukan pembunuhan, yang sudah gatal in gin kulakukan, adalah salah. Aku tahu itu. Tapi membiar kannya berkeliaran untuk menyerang orang lain juga tida k benar. Si penerima tamu pirang yang di restoran tadi, si pe layan yang tak pernah kuperhatikan, keduanya sama-sama membuatku kesal. Tapi, bukan berarti mereka pantas unt uk berada dalam bahaya. Satu dari mereka mungkin Bellanya seseorang. Keny ataan itu memastikan keputusanku. Aku memutar mobil ke utara. Aku langsung tancap g as begitu punya tujuan. Kapanpun aku punya masalah yan g tidak bisa kuatasi, aku tahu kemana bisa minta bantuan . Alice sedang duduk di beranda, menungguku. Aku be rhenti di depan rumah, tidak masuk ke garasi. Carlisle di ruangannya, m aku sempat bertanya. Terima kasih, ucapku sambil mengacak-acak rambut nya saat melewati dia. Terima kasih telah menjawab teleponku, sindirnya d alam hati. Oh. Aku berhenti di depan pintu, mengeluarkan han d phoneku, lalu membukanya. Sori. Aku bahkan tidak mengecek itu dari siapa. Ak u sedang...sibuk. Ya, aku tahu. Aku juga minta maaf. Pada saat aku m elihat itu akan terjadi, kau sudah tahu. Tadi itu hampir saja... gumamku. Alice memberitahuku sebelu

286

Maaf, ulangnya, malu pada dirinya. Sangat mudah untuk berbaik hati karena tahu Bella s udah aman. Tidak usah menyesal. Aku mengerti kau tida k mungkin mengawasi segalanya. Tidak ada yang berhara p kau bisa jadi mahatahu, Alice. Thanks. Aku hampir mengajakmu makan malam tadiµapa kau sempat melihat itu sebelum aku berubah pikiran? Dia cemberut. Tidak, aku melewatkan itu juga. Cob a aku tahu. Aku pasti datang. Kau sedang berkonsentrasi ke apa, sampai melewatk an begitu banyak? Jasper sedang memikirkan perayaan anniversary kam i. Dia tertawa. Dia berusaha untuk tidak membuat keputu san tentang hadiahku, tapi kurasa aku bisa menebakny a... Dasar, memalukan. Yup. Dia mengerutkan bibir dan menatapku, ada ekspresi menuduh pada wajahnya. Lain kali aku akan mengawasi l ebih baik. Apa kau akan memberitahu mereka kalau dia t ahu? Aku mengeluh. Ya. Nanti. Aku tidak akan bilang apa-apa. Tapi tolong beritahu Rosalie ketika aku sedang tidak ada, oke? Oke. Bella menerimanya dengan baik. Terlalu baik. Alice cemberut padaku. Jangan meremehkan Bella. Aku berusaha memblokir gambaran yang tidak ingin kulihatµBella dan Alice bersahabat. Karena mulai tak sabar, aku mengeluh panjang. Aku ingin segera menyelesaikan babak selanjutnya dari mala

287

m ini; aku ingin segera mengakhirinya. Tapi aku sedikit waswas untuk meninggalkan Forks... Alice... kan. Malam ini dia akan baik-baik saja. Mulai sekarang a ku akan mengawasinya lebih baik. Bisa dibilang dia mem butuhkan pengawasan dua puluh empat jam penuh, iya ka n? Kurang lebih begitu. Ngomong-ngomong, kau akan segera menemuinya tid ak lama lagi. Aku mengambil napas panjang. Kata-kata i tu begitu indah buatku. Ayo sanaµcepat selesaikan biar kau bisa segera men emuinya. Aku mengangguk, dan buru-buru ke kamar Carlisle. Dia sedang menungguku, pandangannya ke arah pint u dan bukannya ke buku tebal yang ada di mejanya. Aku mendengar Alice memberitahumu dimana aku, s ambutnya sambil tersenyum. Akhirnya aku merasa lega bi sa bertemu Carlisle, untuk melihat empati dan kecerdasa n di matanya. Dia pasti tahu apa yang mesti dilakukan. Aku butuh bantuan. Apa saja, Edward. Apa Alice memberitahumu apa yang terjadi pada Bel la tadi? Hampir terjadi, dia mengoreksi. Ya, hampir. Aku bingung, Carlisle. Kau tahu, aku in gin...sangat ingin...untuk membunuh orang itu. a itu berhamburan begitu saja. kata-kat Sangat ingin. Tapi aku ta Tapi dia sudah tahu apa yang ingin kutanya

hu itu salah, karena itu berarti balas dendam, bukan kea dilan. Murni karena marah. Namun tetap saja, rasanya ti dak benar membiarkan seorang pembunuh dan pemerkosa kambuhan berkeliaran di Port Angeles! Aku tidak kenal p

288

enduduk di sana, tapi aku tidak bisa membiarkan ada per empuan lain yang akan menggantikan posisi Bella dan ja di korban monster itu. Perempuan itu mungkin punya ses eorang yang perasaannya sama dengan perasaanku pada B ella. Sama menderitanya seperti diriku jika dia disakiti. Itu tidak betulµ Senyum lebarnya yang tiba-tiba muncul menghentikan semburan kata-kataku. Efek kehadirannya sangat baik untukmu, iya kan? K au jadi begitu pengasih, dan sangat terkontrol. Aku terk esan. Aku tidak sedang butuh pujian, Carlisle. Tentu saja tidak. Tapi aku kan tidak bisa mengekang pikiranku. Dia tersenyum lagi. Aku akan membereskannya. Kau tenang saja. Tidak a kan ada lagi korban berikutnya. Aku bisa melihat rencana di kepalanya. Itulah tepat nya yang kubutuhkan. Memang, itu tidak memuaskan inst ing buasku, tapi aku bisa melihat itu hal yang tepat. Akan kutunjukan dimana orang itu. Ayo kita pergi. Dia mengambil tas dokter hitam miliknya. Sebetulny a aku lebih setuju jika memakai penenang yang lebih kua tµseperti dengan memecahkan kepalanyaµtapi biar Carlis le melakukan dengan caranya. Kami memakai mobilku. Alice masih ada di beranda. Dia tersenyum dan melambaikan tangan saat kami menjau h. Kulihat dia mengecek jauh ke depan di pikirannya; ka mi tidak akan kesulitan. Perjalanannya sangat singkat karena jalanan kosong. Lampu mobil kumatikan agar tidak menarik perhatian. Ak u tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Bella deng an kecepatan seperti ini. Padahal tadi, sebelum dia prote

289

s, aku sudah lebih pelan dari biasanyaµ untuk memperla ma waktu. Carlisle juga sedang memikirkan Bella. Tak kusangka sebaik ini dampak Bella bagi Edward. Sangat tak terduga. Barangkali memang harus seperti ini jalannya. Mungkin ini demi tujuan yang lebih jauh. Hany a saja... Dia membayangkan Bella dengan kulit pucat dingin dan mata merah-darah, namun segera mengalihkan bayang an itu. Ya. Hanya saja. Sudah tentu. Karena, dimana sisi ba iknya kalau menghancurkan sesuatu yang begitu murni da n indah? Aku memandang ke kegelapan malam. Semua kebaha giaan tadi hancur karena pikiran Carlisle. Edward pantas untuk bahagia. Dia harus bahagia. Ke sungguhan pikiran Carlisle mengejutkanku. Pasti ada jal an keluar, pikirnya lagi. Kuharap aku bisa mempercayai itu. Tapi tidak ada t ujuan yang lebih jauh dari apa yang terjadi pada Bella. Yang ada hanya siluman rubah-betina jahat yang mengen dalikanku, yang tidak tahan melihat Bella menjalani kehi dupannya. Aku tidak berlama-lama di Port Angeles. Aku memba wa Carlisle ke depan bar, tempat mahluk bernama Lonnie itu meratapi kekecewaannya bersama dua rekannyaµyang sudah lebih dulu mabuk berat. Carlisle bisa melihat beta pa beratnya bagiku untuk berada sedekat ini µhingga bis a mendengar pikiran monster itu dan melihat ingatannya, ingatan tentang Bella yang bercampur dengan gadis-gadi s lain yang sudah jadi korbannya. Napasku memburu. Kucengkram erat kemudi di hada panku.

290

Pergilah, Edward, ucap Carlisle lembut. Akan kubua t dia tidak bisa menyakiti siapa- siapa lagi. Kembalilah ke Bella. Pilihan kata Carlisle sangat tepat. Nama Bella adala h satu-satunya yang bisa mengalihkan pikiranku. Kutinggalkan Carlisle sendirian di mobil, dan lari menuju Forks lewat hutan. Ini makan waktu lebih cepat k etimbang naik mobil. Hanya dalam beberapa menit aku su dah meniti di bawah jendela kamar Bella dan merangkak masuk. Aku mendesah lega. Semuanya telah seperti seharus nya. Bella aman di tempat tidurnya, bermimpi, dengan ra mbutnya yang basah tergerai diatas bantal. Tapi, tidak seperti malam-malam lainnya, kini dia m eringkuk memeluk badannya. Kurasa karena dingin. Sebe lum aku sempat duduk di tempat biasanya, dia menggigil, bibirnya ikut gemetar. Aku memperhatikan sejenak, kemudian menyelinap k eluar ke lorong, menjelejahi bagian dalam rumahnya untu k pertama kalinya. Dengkuran Charlie keras dan stabil. Aku bahkan ha mpir bisa menangkap mimpinya. Sesuatu tentang kegiatan di air dan menunggu dengan sabar...memancing barangkal i? Nah, disana, di dekat tangga, letak lemari yang kuc ari-cari. Aku membukanya penuh harap, dan menemukan yang kucari. Aku memilih selimut yang paling tebal, dan kubawa kembali ke kamar. Akan kukembalikan lagi sebel um dia bangun, tidak akan ada yang tahu. Sambil menahan napas, dengan hati-hati kuselimuti dia; dia tidak beraksi dengan beban tambahan itu. Kemud ian aku kembali duduk di kursi goyang di pojokan.

291

Sambil menunggu waswas sampai dia merasa hangat, aku memikirkan Carlisle, bertanya-tanya dimana dia seka rang. Aku tahu rencananya akan berjalan lancarµAlice te lah melihatnya. Memikirkan ayahku membuatku menghela napasµCarl isle terlalu memujiku. Seandainya saja aku adalah sosok yang ia pikir. Sosok itu, yang pantas untuk bahagia, bar angkali cukup pantas buat gadis yang sedang tidur ini. B etapa berbedanya seandainya aku bisa menjadi Edward ya ng seperti itu. Saat sedang mempertimbangkan hal itu, tiba-tiba mu ncul gambaran lain yang tidak diundang. Untuk sesaat, sosok siluman rubah betina yang tadi kubayangkan, yang mengidamkan kehancuran Bella, diga ntikan oleh sosok malaikat bodoh yang sembrono. Seoran g malaikat pelindungµsesuatu yang seperti versi Carlisle tentang diriku. Dengan senyum acuh, mata biru yang lici k, malaikat itu membuat Bella sedemikian rupa hingga ti dak mungkin bisa kujaga: Aroma tajam yang konyol untu k menggugah seleraku, pikiran yang sunyi untuk memanc ing penasaranku, kecantikan yang mempesona untuk meng hipnotis mataku, hati yang tidak egois untuk menangkap kekagumanku; Dia hapus juga insting pelindungan diriny aµsupaya Bella tidak takut dan betah berada di dekatkuµ dan, yang terakhir, tambahkan kesialan tanpa batas. Dengan tawa sembrono, malaikat yang tidak bertang gung jawab itu mendorong kreasi rapuhnya tepat ke hada panku. Dia percayakan Bella pada moralku yang rusak un tuk menjaganya tetap hidup. Dalam pandangan ini, aku bukan eksekutor Bella, m elainkan dialah hadiahku. Aku menggeleng-geleng sendiri pada bayangan malai kat tak bermoral seperti itu. Dia tidak jauh berbeda deng

292

an monster. Tidak mungkin mahluk suci bisa berkelakuan seburuk itu. Paling tidak kalau siluman rubah betina aku masih bisa melawannya. Lagi pula, aku tidak punya malaikat pelindung. Mer eka cuma untuk orang-orang baik µorang-orang seperti B ella. Tapi dimana malaikat dia selama ini? Siapa yang m engawasi dia? Aku tertawa pelan, tertegun, saat menyadari bahwa saat ini aku lah yang memainkan peran itu. Malaikat berwujud vampirµbenar-benar kontras. Setelah lewat setengah jam, posisi Bella mulai lebih rileks. Napasnya makin dalam. Dan dia mulai bergumam. Aku tersenyum puas. Ini hal sepele, tapi paling tidak ma lam ini dia bisa tidur lebih nyaman berkat aku disini. Edward, desahnya, dan dia tersenyum. Aku menyingkirkan tragedinya sesaat, membiarkan d iriku diliputi kebahagiaan.

293

11. Interogasi
CNN mengulas berita itu duluan. Aku bersyukur muncul sebelum aku berangkat sekola h. Aku tidak sabar ingin mendengar cara manusia mengul as kejadiannya, dan seberapa menarik perhatian. Untung hari ini ada berita yang lebih besar. Ada gempa bumi di Amerika Selatan dan penculikan tokoh politik di Timur T engah. Jadi berita itu cuma diulas beberapa detik, denga n satu foto yang tidak jelas. Alonzo Calderas Wallace, tersangka pembunuh dan p emerkosa kambuhan, yang jadi buron di negara bagian Te xas dan Oklahoma, telah berhasil ditangkap di Portland, Oregon. Wallace berhasil ditangkap berkat adanya infor masi dari orang yang tak dikenal. Dia ditemukan tidak sa darkan diri di sebuah gang dini hari tadi, hanya beberap a meter dari kantor polisi. Saat ini pihak berwenang bel um bisa menentukan apakah dia akan disidangkan di Texa s atau di Oklahoma. Fotonya agak buram, foto buron. Dia masih berjangg ut lebat waktu foto itu diambil. Bahkan jika Bella menon ton dia tidak akan mengenalinya. Kuharap dia tidak men onton; itu bisa membuatnya ketakutan. Beritanya tidak akan sampai ke Forks. Kejadiannya terlalu jauh untuk jadi berita lokal, ku. r dari negara bagian ini. Aku mengangguk. Bella sendiri tidak terlalu sering nonton TV. Aku juga jarang melihat ayahnya menonton a cara selain olahraga. Aku telah melakukan yang kubisa. Monster itu tidak lagi berkeliaran, dan aku tidak jadi pembunuh. Paling ti dak, bukan belakangan ini. Pilihanku tepat dengan memp 294 beritahu Alice pada Beruntung ada Carlisle yang bisa membawanya kelua

ercayakannya pada Carlisle, walaupun aku tidak sepenuh nya puas penjahat itu bisa lolos semudah itu. Kuharap di a akan diadili di Texas, dimana hukuman mati masih seri ng diberikan... Tidak. Itu tidak penting lagi. Aku akan melupakan h al itu, dan fokus pada apa yang paling penting. Aku baru meninggalkan kamar Bella tidak sampai sa tu jam yang lalu, tapi aku sudah tidak sabar ingin menem uinya lagi. Alice, maukah kauµ Dia langsung memotongku, Rosalie yang akan menge Al mudi. Dia akan berlagak marah, tapi tahu sendiri, dia ak an senang punya alasan untuk memamerkan mobilnya. ice tertawa riang. Aku tersenyum padanya. ai. Aku tahu, aku tahu, batinnya. Belum saatnya. Aku A kan menunggu sampai kau siap buat Bella mengenalku. K au mestinya tahu, ini bukan karena aku egois. Bella juga akan menyukaiku. Aku tidak menanggapi, dan buru-buru keluar. Itu ca ra pandang yang berbeda untuk melihat situasi ini. Mauk ah Bella mengenal Alice? Maukah dia punya sahabat seor ang vampir? Kalau dari sudut pandang Bella...mungkin ide itu ti dak terlalu mengganggu. Aku mengeluh sendiri. Apa yang Bella mau dan apa yang terbaik bagi Bella adalah dua hal yang bertentanga n. Aku mulai gelisah ketika parkir di depan rumah Bell a. Pepatah manusia mengatakan, banyak hal kelihatan ber beda di pagi hariµhal itu berubah karena kau tidur. Apak Sampai ketemu di sekolah. Alice menghela napas, dan senyumku berubah jadi sering

295

ah aku juga akan kelihatan berbeda di mata Bella, di baw ah langit mendung dan berkabut pada pagi hari ini? Mun gkinkah kebenaran itu akhirnya meresap ketika dia tidu r? Mungkinkah akhirnya dia takut? Sepertinya tadi malam mimpinya indah. Ketika meng gumamkan namaku berulang- ulang, dia tersenyum. Lebih dari sekali dia memohon agar aku tetap tinggal. Apa itu tidak akan ada artinya hari ini? Aku menunggu dengan cemas, mendengarkan suara-s uara yang ditimbulkannya di dalam rumahµlangkahnya ya ng setengah berlari di tangga, sobekan kertas timah, ben turan botol-botol saat dia menutup lemari es. Sepertinya dia sedang terburu-buru. Tidak sabar ingin cepat-cepat k e sekolah? Bayangan itu membuatku tersenyum, penuh ha rapan lagi. Aku melihat ke jam. Sepertinyaµjika menghitung-hit ung kecepatan maksimal truknya µdia hampir terlambat. Bella menghambur keluar rumah. Tasnya disampirka n di pundak. Rambut ikalnya agak berantakan. Sweter hij au yang dia pakai tidak cukup tebal untuk melindungi tu buhnya dari dinginnya kabut. Sweter panjang itu ukurannya kebesaran sehingga m enyamarkan bentuk tubuh Bella yang gemulai, mengubah lekuk-lekuknya yang menawan jadi tidak berbentuk. Nam un aku sama menyukainya seperti jika dia memakai blus biru muda tadi malam...warna biru mengalir bagai air di permukaan tubuhnya, kainnya membalut kulitnya begitu r upa hingga terlihat sangat menarik, potongannya cukup p endek untuk menunjukkan tulang selangkanya yang memp esona, yang melengkung indah dari bawah leher... Kurasa lebih baik aku menjauhkan bayangan itu. Jad i aku bersyukur dengan sweter yang dia pakai. Aku tidak boleh membuat kesalahan. Dan merupakan kesalahan besa

296

r jika aku sampai terhanyut pada hasrat aneh yang mulai terbebas dalam diriku, hasrat terhadap bibirnya...kulitny a...tubuhnya.... Hasrat yang selama seratus tahun terkur ung rapat. Tapi aku tidak boleh membayangkan itu. Aku tidak boleh membayangkan menyentuhnya, karena itu mus tahil. Aku akan meremukkan dia. Setelah membanting pintu Bella langsung lari hingg a hampir saja tidak menyadari mobilku. Kemudian dia berhenti mendadak. Tubuhnya membek u. Tasnya merosot ke tangan, dan matanya membelalak sa at melihat mobilku. Aku keluar, tanpa repot-repot mengekang kecepatan kilatku, dan membukakan pintu mobil untuk dia. Aku tid ak mau mengelabuinya lagiµpaling tidak saat kami berdu a, aku akan menjadi diriku sendiri. Dia menatapku, terkejut saat aku muncul begitu saja . Kemudian kekagetan di matanya berubah jadi sesuatu y ang lain, dan aku tidak perlu lagi takut perasaannya beru bah. Hangat, kagum, terpesona, semua jadi satu pada mat a coklatnya yang mencair. Kau mau berangkat bersamaku hari ini? tanyaku pad anya. Tidak seperti waktu makan malam kemarin, aku me mberinya pilihan. Mulai sekarang, semua harus sesuai ke mauannya. Ya, terima kasih, gumamnya sambil masuk kedalam mobilku tanpa ragu-ragu. Apa aku akan berhenti keheranan, bahwa akulah ora ng yang dijawab ya olehnya? Sepertinya aku akan terus h eran. Aku langsung melesat mengitari mobil, tidak sabar i ngin berada di sampingnya. Dia tidak terlihat kaget deng an kemunculanku yang tiba-tiba.

297

Kebahagiaan yang kurasakan ketika dia duduk disam pingku seperti ini, tidak ada bandingannya. Walau aku s angat menikmati kedekatan keluargaku, juga dengan berb agai kemewahan yang kupunya, aku belum pernah merasa sebahagia ini. Bahkan walau tahu kalau ini salah, bahwa ini tidak akan berakhir dengan baik, tetap saja tidak bis a menghapus senyumku. Jaketku kusampirkan di sandaran kursinya. Kulihat dia memandanginya. Aku membawakan jaket untukmu. Itu alasan yang ku pakai untuk datang tanpa diundang. Pagi ini dingin. Dia tidak punya jaket. Tentunya ini bentuk sikap ksatria yan g bisa diterima. Aku tak ingin kau sakit atau apa. sanggahnya sambil m Aku tak selemah itu, kau tahu,

enatap dadaku dan bukannya wajahku, seakan dia ragu-ra gu untuk menatap mataku. Tapi jaketku dipakai juga tanp a harus kupaksa. Benarkah? gumamku sendiri. Dia terlihat menerawang ke luar saat kami mulai jal an. Aku hanya tahan berdiam diri selama beberapa detik. Aku harus tahu apa yang dia pikirkan pagi ini. Ada bany ak hal yang berubah diantara kami sejak matahari terbit. Apa tidak ada rentetan pertanyaan hari ini? tanyaku sesantai mungkin. Dia tersenyum, terlihat lega aku mengungkitnya. akah pertanyaan-pertanyaanku mengganggumu? Tidak seperti reaksimu, jawabku jujur sambil tersen Apakah reaksiku bu yum untuk membalas senyumnya. Ujung bibirnya mengerut turun. ruk? Tidak, itu masalahnya. Kau menerimanya dengan ten ang sekaliµtidak wajar. Tidak ada satu jeritanpun. Bagai Ap

298

mana itu mungkin?

Itu memuatku bertanya-tanya, apa ya

ng sebenarnya kau pikirkan. Tentu saja, apapun yang dia perbuat atau tidak perb uat, membuatku bertanya-tanya. Aku selalu mengatakan apa yang sebenarnya kupikir kan. Kau mengeditnya. Dia menggigit bibirnya lagi, kelihatannya tidak sad arµreflek ketika sedang tegang. Tidak terlalu banyak. Hanya dengan mendengar kata-kata itu sudah membu at penasaranku memuncak. Apa yang dengan sengaja ia tu tupi dariku? Cukup untuk memuatku gila, ndengarnya. Aku harus berpikir sebentar, mengulang kembali sel uruh pembicaraan tadi malam, kata perkata, mencari hub ungannya. Mungkin aku mesti lebih berkonsentrasi lagi k arena aku tidak bisa membayangkan ada sesuatu yang tid ak ingin kudengar dari dia. Tapi kemudianµkarena nada bicaranya sama dengan tadi malam; ada kepedihan yang t iba-tiba munculµaku ingat. Secara spesifik aku sempat m eminta dia untuk tidak mengucapkan pikirannya; Jangan pernah katakan itu. Aku hampir menggeram ketika itu, da n membuatnya menangis... Apa itu yang ia sembunyikan? Kedalaman perasaann ya padaku? Bahwa sosokku sebagai monster tidak penting buatnya, dan bahwa sudah terlambat untuk berubah pikir an? Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kebahagiaan dan pe nderitaan ini terlalu kuat untuk diungkapkan lewat katakata. Benturan keduanya terlalu liar untuk dijelaskan. K sergahku. Kau tidak ingin me Dia ragu sejenak, lalu berbisik,

299

eadaan hening, hanya ada suara dari detak jantungnya ya ng teratur. Di mana keluargamu yang lain? tanyanya tiba-tiba. Aku mengambil napas panjangµmerasakan aroma pek atnya yang membakar untuk pertama kalinya pagi ini; ak u mulai terbiasa, aku menyadari dengan puasµdan memak sa diriku serileks mungkin. Mereka naik mobil Rosalie. Kebetulan ada tempat k osong di samping mobil yang ia tanyakan, dan aku parkir disitu. Kuseembunyikan senyumku saat matanya membela lak. Kelewat mencolok, kan? Mmm, wow. Kalau Rosalie punya itu, kenapa dia per gi bersamamu? Rosalie pasti akan menikmati reaksi Bella...jika dia mau bersikap obyektif tentang Bella, yang mana kuraguk an. Seperti kataku, kelewat mencolok. Kami berusaha m embaur. Kalian tidak berhasil. Dan dia tertawa riang. Keria ngan suara tawanya menghangatkan jantungku. Jadi kenapa Rosalie mengemudi sendiri kalau itu kel ewat menarik perhatian?tanyanya heran. Tidakkah kau tahu? Aku melanggar semua aturan sek arang. Jawabanku pasti tidak terlalu menakuktkanµjadi tent u saja, Bella tersenyum mendengarnya. Dia tidak menunggu untuk dibukakan pintu, sama se perti tadi malam. Sekarang aku harus menjaga sikapkuµj adi aku tidak bisa melesat untuk menahannyaµtapi untuk selanjutnya dia harus mulai membiasakan diri untuk dipe rlakukan dengan sopan. Dan harus secepatnya.

300

Aku berjalan di sampingnya sedekat yang aku berani sambil mengamati kalau-kalau dia merasa risih. Dua kali tangannya sedikit terjuntai ke arahku, namun ditarik lagi . Kelihatannya seperti ingin menyentuhku... Napasku me mburu. Kenapa kalian mempunyai mobil-mobil seperti itu? Kalau kalian memang menginginkan privasi? mbil jalan. Memanjakan diri. Kami semua suka ngebut. Sudah kuduga, gumamnya masam. Dia tidak mendongak untuk melihat seringai jailku. Ya ampun! Aku tidak percaya ini! Bagaimana cara B ella melakukannya? Aku tidak mengerti! Kenapa? Suara batin Jessica menyela pikiranku. Dia sedang menunggu Bella, berlindung dari guyuran hujan di bawah atap kafetaria. Jaket Bella di tangannya. Matanya membe lalak tidak percaya. Kemudian Bella melihat juga. Rona merah muda mun cul di pipinya ketika dia menangkap reaksi Jessica. Piki ran Jessica terbaca dengan jelas di wajahnya. Hei Jessica. Terima kasih sudah ingat membawanya, sapa Bella. Dia mengambil jaketnya dan Jessica memberi kan masih sambil melongo. Aku harus sopan pada teman Bella, entah dia itu tem an yang baik atau bukan. Selamat, pagi Jessica. Waahhh... Mata Jessica makin membelalak. Ini aneh...dan jujur saja, sedikit memalukan...menyadari bagaimana berada d i dekat Bella telah melunakkan diriku. Sepertinya tidak ada lagi orang yang takut. Jika Emmet sampai tahu, dia pasti akan menertawaiku habis-habisan. tanyanya sa

301

Err...hai, elas Trigono.

gumam Jessica tidak jelas. Kemudian mat Kalau begitu sampai ketemu di k

anya memelototi Bella.

Kau harus menceritakan semuanya. Tidak boleh tida k. Setiap detailnya. Aku harus mendapatkan detailnya! S i Edward CULLEN!! Dunia tidak adil! Bibir Bella cemberut. Yeah, sampai ketemu nanti. Benak Jessica makin berkeliaran saat berjalan menuj u kelas. Sesekali dia menoleh ke belakang. Cerita lengkapnya. Aku tidak mau terima jika kuran g dari itu. Apa mereka memang sudah berencana untuk be rtemu tadi malam? Apa mereka sudah berkencan? Sudah b erapa lama? Tega-teganya Bella merahasiakan hal ini? K enapa juga dia mau merahasiakannya? Ini tidak mungkin cuma isengµBella pasti serius. Apa ada kemungkinan yan g lain? Aku akan mencari tahu. Kira-kira, apa dia sudah menciumnya? Ya ampun... Benak Jessica tiba-tiba terput us, dia ganti membayangkan adegan itu. Aku langsung be rusaha mengusirnya. Itu tidak akan mungkin terjadi. Namun tetap saja ak u... Tidak, aku menolak untuk membenarkan tindakan ya ng seperti itu, bahkan tidak ke diriku sendiri. Aku meng inginkan dia dengan cara salah seperti apa lagi? Dan car a mana yang akhirnya akan berujung pada kematiannya? Aku menggeleng, berusaha ceria lagi. Apa yang akan kau katakan padanya? . Hei! pikiranku! Aku tak bisa. Aku menatap kaget, berusaha mengola Bagaimanapun, aku bisa memba h ucapanya. Ahµkami pasti memikirkan hal yang sama. H mm...aku cukup suka itu. desisnya tajam. Kupikir kau tak bisa membaca

302

ca pikirannyaµdia tak sabar ingin menginterogasimu di k elas. Bella mengerang. Kemudian dengan begitu saja dia melepas jaketku. Awalnya aku tidak sadarµaku sama seka li tidak meminta jaketku; aku lebih memilih dia pakai te rus...sebagai kenang-kenanganµjadi aku terlambat memba ntu melepaskannya. Dia mengembalikan jaketku, dan me makai jaketnya sendiri tanpa melihat kalau tanganku sud ah siap membantu. Aku merengut karenanya, namun cepat mengontrol ekspresiku agar tidak dilihat dia. Jadi, kau akan bilang apa padanya? desakku. Tolong bantu aku sedikit. Apa yang ingin diketahuin ya? Aku tersenyum, dan menggeleng. Aku ingin mendeng ar apa yang dia pikirkan saat itu juga, tanpa persiapan. Itu tidak adil. Matanya menyipit. Tidak, kau tidak akan memberita hu apa yang kau ketahuiµitu baru tidak adil. Betulµdia tidak suka standar ganda. Kami sampai di depan kelasnyaµdimana aku harus m eninggalkan dia; aku bertanya- tanya apa Ms. Cope mau membantu menukar jadwal pelajaran bahasa Inggrisku... Sebaiknya jangan, aku harus berlaku adil. Dia ingin tahu apakah kita diam-diam berkencan, taku lambat-lambat. aanmu terhadapku. Matanya melebarµbukannya kaget, tapi dibuat-buat. Dia sok polos. Iihh, Hmm. gumamnya. Apa yang harus kukatakan? Dia selalu saja mencoba mengorekku ketimba ka Dan dia ingin tahu bagaimana peras

ng membuka pikirannya sendiri. Aku menimbang-nimbang bagaimana menjawabnya.

303

Sejumput rambutnya yang agak basah karena kabut, terlepas dari belakang telinga, dan terjuntai di sekitar t ulang selangkanya yang sekarang tersembunyi dibalik sw eter. Itu menarik perhatian mataku...pada lekuk tulangny a yang masih agak kelihatan... Kuraih rambut itu hati-hati agar jangan sampai men yentuh kulitnyaµpagi ini sudah cukup dingin tanpa ketam bahan sentuhankuµdan mengembalikannya ke balik teling a agar tidak menarik perhatianku lagi. Aku ingat saat Mi ke Newton menyentuh rambutnya, ketika itu Bella langsu ng menjauh. Kali ini reaksinya sama sekali berbeda; pup il matanya melebar, aliran darah di balik kulitnya mende ras, dan detak jantungnya mendadak tidak beraturan. Aku berusaha menyembunyikan senyumku saat menja wab pertanyaannya. Kurasa kau bisa mengatakan ya untu biar µitu lebih mu k petanyaan pertama... kalau kau tidak keberatanµ, kan dia yang memilih, harus selalu begitu, dah daripada penjelasan lainnya. Aku tak keberatan, h belum teratur. Dan untuk pertanyaan yang satu lagi... ak bisa menyembunyikan senyumku. engar jawabannya langsung darimu. Biarkan Bella mempertimbangkan hal itu. Aku mena han tawaku saat syok terlihat di wajahnya. Aku cepat-cepat berbalik, sebelum dia sempat menu ntut jawaban lagi. Aku menemui kesulitan untuk tidak m enjawab apapun yang ia tanya. Dan aku ingin mendengar pikirannya, bukan pikiranku sendiri. Sampai ketemu saat makan siang, kataku sambil men oleh melihatnya, sekedar alasan untuk mengecek apa dia masih memandangiku dengan terlongo. Dan, dia masih be kini aku tid Well, aku akan mend bisiknya. Detak jantungnya masi

304

gitu, dengan mulut terbuka. Aku berbalik lagi dan tertaw a. Samar-samar aku menyadari pikiran syok orang-oran g disekitarkuµtatapan mereka bergantian ke aku dan Bell a. Namun aku tidak terlalu memperhatikan mereka. Aku t idak bisa berkonsentrasi. Untuk melangkah dengan tenan g saja sudah susah. Aku ingin lariµbenar- benar lari, sec epat kilat hingga menghilang, seperti terbang. Sebagian dariku sekarang sudah terbang. Sesampainya di kelas jaketku kupakai. Keharuman p ekat Bella yang tertinggal pun bergelung disekelilingku. Kubiarkan tenggorokanku terbakar supaya nanti saat bert emu lagi lebih mudah mengatasinya. Ada untungnya juga para guru sudah tidak pernah m enanyaiku lagi. Hari ini mungkin mereka bisa memergoki ku tanpa jawaban. Pikiranku sedang berkeliaran ke tempa t lain; hanya badanku yang di kelas. Tentu saja aku sedang memandangi Bella. Itu jadi al amiahµsealami seperti bernapas. Dia sedang bercakap-ca kap dengan Mike Newton, dan sebisa mungkin berusaha mengalihkan pembicaraan ke Jessica. Aku menyeringai b egitu lebar hingga Rob Sawyer, yang duduk di meja sebel ahku, berjengit di kursinya dan bergeser menjauh. Ugh. Menyeramkan. Well, aku tidak sepenuhnya kehilangan tajiku. Kadang-kadang aku juga mengawasi Jessica. Dia tid ak sabar menunggu jam ke empat, dan sedang memikirkan daftar pertanyaan untuk Bella. Aku sendiri sepuluh kali lebih tidak sabar ketimbang Jessica. Dan aku juga mendengarkan Angela Weber. Aku tidak lupa dengan hutang budiku padanyaµkaren a telah memikirkan yang baik- baik saja tentang Bella da n pertolongannya tadi malam. Jadi sepanjang pelajaran a

305

ku mencari-cari sesuatu yang ia inginkan. Kusangka itu akan mudah; seperti kebanyakan orang, pasti ada barangbarang mewah atau benda tertentu yang dia idam-idamka n. Beberapa, mungkin. Aku akan mengirimkannya tanpa n ama, dan menganggap impas. Tapi ternyata Angela sama polosnya dengan Bella. P ikirannya sangat aneh untuk ukuran remaja. Bahagia. Bar angkali ini alasan dari kebaikan hatinya yang tidak lazi mµdia satu dari beberapa orang yang telah memiliki yang dia inginkan, dan menginginkan yang telah ia miliki. Jik a tidak sedang memperhatikan pelajaran, dia memikirkan adik kembarnya, yang akan ia ajak ke pantai akhir pekan nantiµterhibur oleh semangat mereka dengan sikap hampi r keibuan. Dia sering diminta menjaga mereka, tapi itu t idak membuatnya kesal... Itu sangat murah hati. Tapi tidak terlalu menolong buatku. Pasti ada sesuatu yang dia mau. Aku cuma perlu ter us mencari. Tapi nanti lagi. Ini saatnya kelas Trigono B ella bersama Jessica. Aku tidak memperhatikan jalanku saat menuju kelas bahasa Inggris. Jessica sudah duduk di kursinya. Kedua kakinya mengetuk-ngetuk lantai tidak sabaran menunggu Bella datang. Sebaliknya, ketika sampai di kursiku, aku langsung sepenuhnya diam. Aku sampai harus mengingatkan diriku untuk sesekali membuat gerakan, untuk memainkan sandi waraku sebagai manusia. Itu sangat sulit, pikiranku terla lu fokus ke Jessica. Kuharap dia benar-benar memperhati kan, benar-benar membaca wajah Bella untukku. Ketukan Jessica makin cepat ketika Bella memasuki kelas. Dia kelihatan...murung. Kenapa? Mungkin tidak terj adi apa-apa antara dia dengan Edward Cullen. Itu pasti

306

mengecewakan. Kecuali...dengan begitu Edward berarti masih sendirian...jika tiba-tiba Edward tertarik untuk ke ncan, aku tidak kebaratan membantunya... Wajah Bella ti dak kelihatan murung, melainkan malas. Dia gelisahµdia tahu aku akan mendengar semuanya. Aku tersenyum sendi ri. Ceritakan semuanya! ergerak dengan enngan. Ugh, di lamban sekali. Ayo cepat ceritakan! Apa yang ingin kau ketahui? ati setelah dia duduk. Apa yang terjadi semalam? Dia mengajakku makan malam, lalu mengantarku pul ang. nya. Bagaimana kau bisa pulang secepat itu? Kulihat Bella memutar bola matanya dari pandangan curiga Jessica. Dia ngebut seperti orang sinting. Mengerikan. Dia tersenyum, senyuman kecil. Dan aku tergelak, m emotong pembicaraan Mr. Mason. Tawaku berusaha kuuba h jadi batuk, tapi tidak ada yang tertipu. Mr. Mason mem elototiku, tapi aku bahkan tidak mau repot-repot menden garkan pikirannya. Aku masih sibuk dengan Jessica. Huh. Sepertinya dia menceritakan yang sebenarnya. Kenapa dia mesti membuatku menanyakannya kata per kat a? Kalau itu aku, pasti sudah tidak sabar untuk mencerit akannya. Apakah itu semacam kencanµapakah kau memberitah unya untuk menemuimu disana? Lalu? Ayolah, pasti lebih dari itu! Paling-paling di a bohong, aku tahu itu. Aku akan cari tahu yang sebenar tanya Bella setengah h desak Jess, sementara Bella m asih melepas jaketnya untuk disampirkan di kursi. Dia b

307

Jessica mengamati baik-baik ekspresi Bella, dan kec ewa karena kelihatannya datar- datar saja. Tidakµaku sangat terkejut melihatnya di sana, ahu Bella. Apa yang terjadi?? Tapi hari ini dia menjemputmu k e sekolah? Pasti ada cerita lainnya. Yaµitu juga kejutan. Dia memerhatikan aku tidak me mbawa jaket semalam. Itu tidak terlalu menarik, batin J essica, lagi-lagi kecewa. Aku capek mendengar rentetan pertanyaannyaµaku m au mendengar sesuatu yang belum kuketahui. Kuharap Je ssica tidak terlalu kecewa hingga melewatkan pertanyaan yang kutunggu-tunggu. Jadi, kalian akan berkencan lagi? desak Jessica. Dia menawarkan mengantarku ke Seattle sabtu nanti, karena menurut dia, trukku tidak bakal sanggupµapakah i tu masuk hitungan? Hmm. Sepertinya Edward juga cukup serius...well, j aga Bella baik-baik. Pasti ada yang aneh dengan si Edwa rd, jika bukan Bella-nya yang aneh. Bagaimana INI bisa terjadi? Ya. Jessica menjawab pertanyaan Bella. tegas Bella. Entah Bella menyukai Edwar Well, kalau begitu, ya, W-o-w. Edward Cullen. Aku tahu, desah Bella. berit

d atau tidak, ini berita besar. Nada suara Bella menyemangati Jessica. Akhirnyaµd ia menyadari juga situasinya. Dia juga pasti tahu... Tunggu! penting. Tiba-tiba dia ingat pertanyaan yang paling Apakah dia sudah menciummu? Please bilang ya gumam Bella pelan, lalu dia menunduk, mem Bukan begitu.

. Lalu ceritakan setiap detailnya! Belum, andangi tangannya.

308

Sial. Kuharap... Ha. Sepertinya Bella juga menghara pkannya. Aku mengerutkan dahi. Bella memang terlihat kecew a akan sesuatu, tapi tidak mungkin itu alasannya. Dia tid ak mungkin menginginkan hal itu. Dia tidak mungkin ma u sedekat itu dengan gigiku. Seperti yang dia ketahui, a ku punya taring. Aku menggigil. Menurutmu hari sabtu...? desak Jessica lagi. Bella bahkan terlihat lebih kecewa ketika berkata, Aku sangat meragukannya. Yah, dia memang mengingink annya. Itu pasti menyebalkan buat dia. Apakah karena melihatnya lewat persepsi Jessica ma ka sepertinya asumsi Jessica betul? Selama setengah deti k pikiranku disela oleh bayanganµyang mustahilµtentang bagaimana rasanya jika mencium Bella. Bibirku pada bib irnya, batu-dingin pada kehangatan, merasakan kelembut annya yang seperti sutra... Kemudian dia mati. Aku menggeleng-geleng sambil meringis, lalu memp erhatikan lagi. Apa yang kalian obrolkan? Apa kau bicara denganny a, atau kau justru membuatnya harus bertanya satu persat u seperti ini? Aku tersenyum kecut. Tebakan Jessica tidak terlalu melenceng. Entahlah, Jess, banyak. Kami membicarakan tentang tugas esai bahasa Inggris, sedikit. Sangat, sangat sedikit. Aku tersenyum lebar. Oh, A YOLAH. sejenak. Well, baiklah... akan kuceritakan satu. Mestinya ka u lihat pelayan restoran merayunyaµterang-terangan seka li. Tapi dia tidak memerhatikan pelayan itu sama sekali. Ayolah, Bella! Ceritakan detailnya. Bella ragu

309

Detail yang aneh untuk diceritakan. Aku bahkan tida k menyangka Bella menyadari hal itu. Sepertinya itu tida k terlalu relevan. Menarik... ntik? Hmm. Jessica menanggapinya dengan lebih serius ke timbang aku. Pasti urusan perempuan. Sangat, 20. Sesaat Jessica ingat ketika ia dan Mike kencan seni n kemarinµMike bersikap terlalu sopan dengan si pelaya n, yang menurut Jessica sama sekali tidak cantik. Dia me ngusir ingatan itu dan kembali. Dia mengekang kekesala nnya agar bisa meneruskan pertanyaannya. Lebih baik lagi. dia pasti menyukaimu. Kurasa begitu, pir saja berdiri. alu misterius. Aku pasti tidak setransparan dan se-lepas kendali se perti yang kupikir. Namun tetap saja...dengan pengamata n yang ia punya... Bagaimana mungkin dia tidak menyada ri bahwa aku jatuh cinta padanya? Kuulang kembali selur uh pembicaraan kami berdua, dan baru sadar aku memang belum pernah mengucapkan kata-kata itu. Tapi rasanya u ngkapan itu sudah terbalut dalam setiap kata yang kuuca pkan. Wow. Bagaimana caranya kau bisa duduk di samping seorang model dan mengobrol dengannya? Bella terlihat syok. aksud apa? Dia begitu... Kenapa? Apa istilahnya yang tepat? Me Aku tidak men gira kau berani sekali hanya berduaan dengannya. Reaksi yang aneh. Memangnya menurut dia yang kum ngintimidasi. Aku takkan tahu apa yang harus kukatakan ucap Bella tidak yakin, dan aku ham Tapi sulit mengetahuinya. Sikapnya sel ujar Bella. Dan barangkali umurnya 19 atau Itu pertanda baik. Apakah pelayan itu ca

310

padanya.

Bahkan tadi aku tidak bisa bicara dengan benar

, padahal dia cuma mengucapkan selamat pagi. Aku pasti kelihatan seperti orang idiot. Bella tersenyum. Tapi aku memang punya beberapa masalah dengan logika ketika bersamanya. Dia pasti sekedar menghibur Jessica. Bella terlihat begitu terkendali ketika bersamaku. Oh, well, pan. Tatapan Bella tiba-tiba jadi dingin. Pancaran matan ya mirip seperti ketika sedang tersinggung. Jessica sendi ri tidak menangkap perubahan itu. Dia jauh lebih dari pada sekedar sangat tampan, as Bella. Oooh. Akhirnya muncul juga. a? Bella menggigit bibirnya sebelum menjawab. luar biasa di balik wajahnya. gi sesuatu yang jauh. Yang kurasakan saat ini mirip dengan yang kurasaka n ketika Carlisle atau Esme menyanjungku lebih dari yan g sepantasnya. Mirip, tapi lebih dalam, dan lebih melimp ah. Jangan berlagak bodohµtidak ada yang lebih baik ke timbang wajahnya! Kecuali mungkin badannya. Hhh. kah itu mungkin? Jessica terkikik. Apa Aku ta k bisa menjelaskannya dengan tepat... tapi dia jauh lebih Dia berpaling dari Jessica, tatapannya berubah tidak fokus seakan sedang memandan Sungguh? Seperti ap tuk desah Jessica. Dia memang luar biasa tam

Bella tidak menoleh. Dia terus memandang ke kejau han, mengabaikan Jessica. Orang normal pasti sudah berbunga-bunga. Barangka li jika kutanyakan dengan bahasa yang lebih sederhana.

311

Ha ha. Aku seperti bicara dengan anak TK. nyukainya? Badanku membeku. Bella tidak melihat ke Jessica. Ya. Lihat, dia tersipu-sipu! Ya, aku sedang melihatnya. Seberapa suka? desak Jessica. Ya.

Jadi, kau me

Maksudku, kau benar-benar menyukainya?

Ruang kelasku mungkin saja diguncang gempa dan a ku tidak menyadarinya. Wajah Bella bersemu merahµaku hampir bisa merasakan hangatnya. Terlalu suka, bisiknya. Lebih dari dia menyukaiku. Mmm. No Tapi aku tidak tahu bagaimana mengatasinya. Sial! Apa tadi yang Mr. Varner tanyakan? mer berapa Mr. Varner? Untung Jessica tidak bisa menanyai Bella lagi. Aku butuh waktu sebentar. Apa coba yang dipikirkan gadis itu? Lebih dari dia menyukaiku? Darimana dia dapat ide itu? Tapi aku tidak tahu bagaimana mengatasinya? Apa coba itu artinya? Aku tidak bisa menemukan penjelasan yang rasional dari perk ataanya. Ucapannya tak beralasan. Rasanya aku seperti tidak dihargai. Sesuatu yang su dah sangat-sangat jelas, entah bagaimana jadi terpelintir di dalam otaknya yang ganjil. Lebih dari dia menyukaiku ? Barangkali dia memang masih perlu dibawa ke psikiate r. Aku melihat ke jam, dan menggertakan gigi. Kenapa satu menit jadi terasa seabad untuk mahluk abadi seperti ku? Kemana larinya akal sehatku? Rahangku terkatup rapat selama jam pelajaran Mr. V arner. Aku lebih banyak mendengar pelajaran di kelas Be

312

lla ketimbang di kelasku sendiri. Bella dan Jessica tidak bicara lagi, tapi sesekali Jessica melirik ke Bella. Satu kali, wajahnya sempat bersemu merah tanpa alasan yang jelas. Jam makan siang tidak datang-datang juga. Kuharap Jessica bisa mendapatkan semua jawaban ya ng kutunggu saat jam pelajaran selesai. Tapi Bella lebih cepat dari dia. Sesaat setelah bel bunyi, Bella menoleh ke Jessica. Di kelas Inggris, Mike bertanya apakah kau mengata kan sesuatu tentang Senin Malam, dalah pertahanan yang terbaik. Mike bertanya tentang aku? Perasaan senang membu at pikiran Jessica jadi melunak, tanpa sindiran seperti bi asanya. nang. Katakan apa persisnya yang dikatakannya, juga jawa banmu! Jelas, cuma itu yang bisa kudapat dari Jessica hari i ni. Bella tersenyum seakan sedang memikirkan hal yang sama, seakan dia telah memenangkan ronde ini. Well, pada saat makan siang nanti akan lain ceritan ya. Aku harus lebih berhasil ketimbang Jessica. Akan ku pastikan itu. Hanya kadang-kadang Aku saja mengecek pikiran Jes sica selama jam pelajaran selanjutnya. Aku tidak tahan d engan obsesinya pada Mike Newton. Aku sudah cukup me ndengar tentang Mike Newton selama dua minggu ini. Su dah untung dia masih hidup. Aku berjalan dengan malas ke ruang gimnasium bers ama Alice. Kami selalu malas jika menyangkut aktivitas Kau bercanda! Apa katamu? Kubilang kau sangat menikmatinyaµdia kelihatan se kata Bella sambil ters enyum. Aku mengerti apa yang dia lakukanµmenyerang a

313

fisik bersama manusia. Ini hari pertama bermain badmint on. Alice jadi pasanganku. Aku mendesah bosan, mengay unkan raketku dengan sangat-sangat pelan untuk mengem balikan kok nya ke seberang net. Lauren Mallory jadi la wan kami; dia gagal memukulnya. Alice memutar-mutar r aketnya sambil menatap ke langit-langit. Kami semua membenci pelajaran olahraga, terutama Emmet. Mengalah dalam pertandingan bertentangan denga n filosofi hidupnya. Pelajaran olahraga hari ini lebih pa rah dari biasanyaµaku hampir sekesal Emmet. Sebalum kepalaku meledak, Coach Clapp menyudahi permainan. Dengan geli aku bersyukur dia melewatkan sa rapannyaµpercobaan awal untuk dietµdan rasa lapar yang diakibatkannya membuat dia ingin cepat-cepat mencari m akan. Dia berjanji ke dirinya sendiri akan mengulang lag i besok... Ini memberiku cukup waktu untuk ke kelas Bella seb elum dia keluar. Selamat bersenang-senang, batin Alice saat dia berg egas menemui Jasper. Aku cuma perlu bersabar beberapa hari lagi. Kurasa kau tidak mau menyampaikan salamku u ntuk Bella, kan? Aku menggeleng jengkel. Apa semua paranormal me mang sombong? Sekedar informasi, matahari akan bersinar cerah akh ir pekan nanti. Kau mungkin perlu mengatur ulang renca namu. Aku menghela napas saat berjalan ke arah yang berl awanan dengan Alice. Sombong, tapi jelas berguna. Aku bersandar di depan kelas Bella, menunggu. Aku berdiri cukup dekat hingga bisa mendengar suara Jessica dari balik tembok, sama jelasnya dengan suara pikiranny a.

314

Hari ini kau tidak akan duduk bersama kami, kan? d ia terlihat...berseri-seri. Berani taruhan, pasti ada bany ak yang tidak ia ceritakan. Kurasa tidak, jawab Bella. Anehnya, dengan ragu. Bukannya tadi aku sudah janji akan makan siang ber samanya? Apa yang dia pikir? Mereka keluar kelas berdu a, sama-sama tercengang ketika melihatku. Tapi aku cum a bisa mendengar pikiran Jessica. Baik sekali dia. Wow. Oh, pasti itu, pasti ada lebih banyak lagi yang tidak Bella ceritakan. Barangkali aku a kan meneleponnya nanti malam...atau mungkin aku tidak usah menyemangatinya. Huh. Kuharap Edward cepat bosa n dengan Bella. Mike sih cukup manis tapi...wow. Sampai nanti, Bella. Bella menghampiriku, berhenti beberapa langkah dar iku, masih belum yakin. Pipinya merona merah muda. Aku sekarang cukup mengenalnya untuk yakin bahwa bukan takut yang membuatnya ragu. Rupanya ini ada kait annya dengan jurang perasaan yang dia bayangkan. Lebih dari dia menyukaiku. Sangat absurd! Halo, erah. Hai. Kelihatannya dia tidak tahu harus berkata apa lagi, jadi kami diam saja selama berjalan ke kafetaria. Jaketku bekerja dengan baikµaromanya jadi tidak se tajam biasanya. Ini cuma rasa terbakar yang sudah sering kurasakan. Dengan mudah bisa kuabaikan. Bella nampak resah ketika berjalan di antrian. Tanp a sadar dia memain-mainkan resleting jaketnya, dan men gganti-ganti tumpuan kakinya dengan gugup. Dia sering melirikku, namun tiap kali bertemu pandang, dia langsun g menunduk, seakan malu. Apa ini karena ada begitu ban yak orang yang menatap kami? Mungkin dia bisa menden sapaku dengan suara parau. Wajahnya makin c

315

gar bisikan- bisikan merekaµgosip yang terucap tidak be da dengan isi kepala mereka. Atau barangkali dia sadar, dari melihat ekspresiku, bahwa dia dalam kesulitan. Dia tidak bicara apa-apa sampai aku mengambil mak anan untuk dia. Aku tidak tahu kesukaannya apaµbelum t ahuµjadi aku mengambil satu dari tiap makanan yang ad a. Apa yang kau lakukan? desisnya pelan. engambil itu semua untukku, kan? Aku menggeleng, dan membawa nampannya ke kasir. Tentu saja separuhnya untukku. Alisnya terangkat skeptis, tapi tidak berkomentar. S etelah membayar makanannya, aku mengajaknya duduk di tempat kami bicara minggu lalu. Sepertinya itu sudah be rlalu lama sekali. Semuanya tampak berbeda sekarang. Dia duduk di sebrangku lagi. Kudorong nampannya k e dia. Ambil apa saja yang kau mau. Dia mengambil sebuah apel dan memutar-mutarnya d i tangan. Sorot matanya menyelidik. Aku penasaran. Benar-benar kejutan. Apa yang kau lakukan bila ada yang menantangmu m akan? Dia mengucapkannya dengan sangat pelan hingga t idak mungkin ada orang yang bisa mendengar. Telinga ke luargaku lain lagi, jika mereka sedang memperhatikan. M estinya aku terlebih dulu mengatakan sesuatu ke merek a... Kau selalu saja penasaran, keluhku. Oh, baiklah. In i bukannya aku belum pernah makan sebelumnya. Ini bagi an dari bersikap ksatria. Bagian yang tidak menyenangka n. Kau tidak m

316

Aku mengambil yang terdekat, dan menatap matanya sembari menggigit apapun ini. Tanpa melihat aku tidak t ahu apa yang kumakan. Bentuknya tipis dan padat, sama menjijikannya dengan semua makanan manusia lainnya. A ku mengunyah cepat-cepat dan menelannya, menyembunyi kan ekspresi jijik di wajahku. Gumpalan makanan itu ber gerak pelan dan tidak nyaman di tenggorokanku. Aku me ngeluh saat memikirkan harus memuntahkannya lagi nant i. Menjijikan! Ekspresi Bella syok. Kagum. Kalau seseorang menantangmu makan kotoran, kau b isa melakukannya, ya kan? ersenyum. Tidak terlalu buruk. Aku tertawa. Kurasa aku tidak terkejut. Mereka terlihat nyaman, ya kan? Dilihat dari bahasa tubuhnya begitu. Nanti biar kuberitahu ke Bella. Edward mencondongkan tubuhnya ke Bella seperti seharusnya jik a dia tertarik pada Bella. Dia terlihat tertarik. Dia terli hat...sempurna. Jessica menghela napas. Yumy. Aku bertemu pandang dengan tatapan penasaran Jess ica, dan dia langsung berpaling gugup, cekikikan ke tem an sebelahnya. Hmm. Barangkali sebaiknya aku tetap dengan Mike s aja. Realita, bukan fantasi... Jessica sedang memerhatikan semua tindak-tandukku . Aku memberitahu Bella. Nanti dia akan memaparkannya padamu. Kusorongkan sisa makanannya ke Bellaµpizza, setel ah kulihatµbertanya-tanya bagaimana memulainya. Rasa f rustasiku kembali muncul, kata-kata itu terulang kembali di kepalaku: lebih dari dia menyukaiku. Tapi aku tidak t ahu bagaimana cara mengatasinya. Hidungnya mengerut dan ia t Aku pernah melakukannya... ketika ditantang.

317

Dia menggigit sisa pizza tadi. Itu membuatku takjub , melihat begitu percayanya dia padaku. Tentu saja dia ti dak tahu aku punya liur berbisa yang beracunµmeski tida k akan menular dengan cara seperti itu. Tetap saja, kuki ra dia akan memperlakukanku dengan cara yang berbeda, seperti sesuatu yang lain. Tapi dia tidak pernah memperl akukanku berbedaµ paling tidak, tidak dengan cara yang negatif... Aku mesti memulainya pelan-pelan. Jadi pelayannya cantik, ya? Dia mengangkat alisnya. erhatikan? Dia pikir ada perempuan lain yang bisa mengalihkan perhatianku darinya. Lagi-lagi absurd. Tidak. Aku memikirkan banyak hal. a... Untungnya sekarang dia memakai sweter jelek ini. Perempuan malang, ujar Bella sambil tersenyum. Dia senang aku tidak tertarik pada pelayan itu. Cuk up bisa dipahami. Sudah berapa kali, coba, aku membaya ngkan meremukkan Mike Newton sewaktu di kelas Biolog i? Tapi tidak mungkin dia percaya bahwa perasaan man usianya, pengalaman tujuh belas tahunnya yang pendek, bisa lebih kuat dari hasrat abadi yang telah terbangun se lama satu abad dalam diriku. Sesuatu yang kau katakan pada Jessica... sanggup membuat suaraku tetap santai. ngguku. Dia langsung mengambil sikap defensif. Aku tidak t erkejut kau mendengar sesuatu yang tidak kau sukai. Kau tahu kan apa kata pepatah tentang tukang nguping. Aku tidak Well, itu mengga Diantaranya per hatianku tertuju pada blus tipis yang membalut tubuhny Kau benar-benar tidak mem

318

Tukang nguping tidak akan pernah mendengar sesuat u yang baik buat diri mereka, begitu pepatahnya. Aku sudah mengingatkan bahwa aku akan mendengar kan. Dan aku sudah mengingatkan tidak semua yang kupi kirkan baik untuk kau ketahui. makin parau. Ah, yang dia maksud saat aku membuatnya menangis. Penyesalan membuat suaraku Memang. Meski begitu, kau tidak sepenuhn ya benar. Aku ingin tahu apa yang kau pikirkanµsemuany a. Aku hanya berharap... kau tidak memikirkan beberapa hal. Lagi-lagi separuh bohong. Aku tahu, tidak seharusn ya aku berharap dia peduli padaku. Tapi toh aku menghar apkannya. Tentu saja aku mengharapkannya. Itu sama saja, Lalu apa? Dia mencondongkan tubuh ke depan. Tangan kananny a memegangi leher. Dan itu menarik perhatianku. Pasti k ulitnya halus sekali... Fokus, perintahku pada diriku. Apakah kau benar-benar yakin kau lebih peduli pada ku daripada aku padamu? Buatku pertanyaan itu terdenga r menggelikan, seakan kata-katanya campur aduk. Matanya melebar, napasnya terhenti. Kemudian dia berpaling, berkedip cepat. Dia menghela napas pelan. Kau melakukannya lagi, Apa? Membuatku terpesona, ku hati-hati. Oh. Hmm. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi itu. Aku juga tidak yakin aku tidak mau membuatnya beg akunya, sambil menatap mata gumamnya. gerutunya dengan bersungut-sungut. Tapi bukan itu masalahnya sekarang.

319

itu. Aku masih tidak percaya bisa melakukannya. Tapi it u tidak akan membantu pembicaraan ini. Bukan salahmu. isa mencegahnya. Sabar. Apakah kau akan menjawab pertanyaanku? Dia memandangi meja. Ya. Cuma itu yang dia katakan. Ya, kau akan menjawab, atau ya, kau benar-benar be rpendapat begitu? rpendapat begitu, tanyaku tidak Ya, aku benar-benar be jawabnya pelan, masih menghindari ta desakku. Dia menghela napas lagi. Kau tak b

tapanku. Ada nada sendu pada suaranya. Dan dia tersipu lagi. Giginya mulai menggigit bibirnya. Aku jadi sadar, pasti sangat sulit buat dia untuk me ngakui itu, karena dia benar-benar mempercayainya. Dan aku tidak jauh beda dengan si pengecut Mike Newton, ya ng menanyakan perasaan Bella duluan sebelum menyataka n perasaannya. Tidak penting bahwa rasanya aku telah m engungkapkan perasaanku dengan jelas, yang pasti, dia t idak pernah menangkapnya. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk mengelak. Kau salah. Aku meyakinkan dia. Pasti dia mendenga Kau tak bisa me r kelembutan dalam suaraku. Bella menatapku. Tatapanny a misterius, tidak memberitahu apa-apa. ngetahuinya, bisiknya pelan.

Menurutnya aku meremehkan perasaannya karena aku tidak bisa mendengar pikirannya. Tapi yang sebenarnya t erjadi, dia lah yang meremehkan perasaanku. Apa yang membuatmu berpikir begitu? -tanya. Dia menatapku balik, dengan kerut diantara alisnya, dan sambil menggigit bibir. Untuk kesekian kali, dengan sia-sia aku berharap bisa mendengar pikirannya. Aku bertanya

320

Aku hampir memohon padanya untuk memberitahu ap a yang sedang berkecamuk dalam pikirannya, tapi dia me ngangkat jarinya untuk mencegahku bicara. Biarkan aku berpikir, pintanya. Selama dia cuma mengatur pikiran, aku bisa sabar. Atau, aku bisa pura-pura sabar. Dia mengatupkan tangan, mengait dan menguraikan j emarinya yang mungil. Dia mengamati tangannya seakan itu milik orang lain saat dia mulai bicara. Well, terlepas dari kenyataannya, agu. gumamnya ragu-r Kadang-kadang... aku tidak yakinµaku tidak tahu ca

ranya membaca pikiranµtapi terkadang rasanya seolah ka u berusaha mengucapkan selamat tinggal ketika kau meng atakan sesuatu yang lain. Dia tidak mendongak. Dia menangkapnya, ya kan? Sadarkah dia bahwa han ya karena diriku lemah dan egois maka aku tetap ada dis ini? Apa dia memandang remeh perasaanku hanya karena itu? Peka, bisikku, dan menghela napas. Kemudian aku Tapi justru itulah melihat dengan ngeri saat ekspresinya berubah terluka. Aku buru-buru menyangkal asumsinya. kenapa kau salah. Aku berhenti sebentar, mengingat-ing Apa maksud

at kata pertama dari penjelasannya. Kata itu mengganggu ku, meski tidak terlalu mengerti maknanya. mu dengan 'kenyataannya'? Well, lihat aku, ujarnya. Aku sedang melihatnya. Yang dari tadi kulakukan ad alah melihatnya. Apa maksudnya? Aku sangat biasa-biasa saja. Dia menjelaskan. Well , kecuali untuk hal-hal buruk seperti pengalaman yang sa ngat dekat dengan kematian, dan aku begitu canggung se hingga bisa dibilang nyaris tak berdaya. Sedang kan ka

321

u?

dia melambaikan tangan ke arahku, seakan sedang me Dia pikir dia biasa-biasa saja? Dia pikir, entah bag

negaskan sesuatu yang sudah sangat jelas. aimana, aku jauh lebih baik dibanding dirinya? Berdasar perkiraan siapa? Orang konyol yang berpikiran picik sep erti Jessica atau Ms. Cope? Bagaimana mungkin dia tida k menyadari bahwa dia adalah perempuan paling cantik... paling indah... bahkan kata-kata itu tidak cukup untuk m elukisan dirinya. Dan dia tidak menyadari hal itu. Kau sendiri tidak melihat dirimu dengan jelas, ku padanya. u... kata Kuakui kau benar tentang hal-hal buruk it

Aku tertawa kecut. Aku tidak menganggap takdir gel

ap yang memburunya menggelikan. Namun begitu, kecang gungannya cukup lucu juga. Menggemaskan. Apa mungkin dia mau percaya jika kukatakan dia itu cantik luar-dalam ? Mungkin dia lebih percaya dengan bukti. Tapi kau tida k mendengar apa yang dipikirkan setiap laki-laki di seko lah ini tentangmu pada hari pertamamu di sini. Ah, aku ingat harapan dan getaran hati, yang jadi pi kiran mereka waktu itu. Yang kemudian berubah menjadi fantasi-fantasi yang mustahil. Mustahil karena Bella tid ak menginginkan satupun dari mereka. Padaku lah Bella mengatakan ya. Senyumku pasti so mbong. Sementara wajahnya kosong karena terkejut. k percaya... gumamnya. Aku ta

Percayalah sekali ini sajaµkau bukan manusia biasa. Keberadaannya sendiri saja cukup jadi alasan untuk menghargai seisi dunia lainnya. Dia tidak terbiasa dengan pujian, bisa kulihat itu. S atu lagi yang mesti dia biasakan. Dia merona, dan buru-b

322

uru mengubah topik pembicaraan. apkan selamat tinggal.

Tapi aku tidak menguc

Tidakkah kau mengerti? Itu yang membuktikan bahw a aku benar. Akulah yang paling peduli, karena seandain ya aku bisa melakukannya... Apakah aku akan bisa jadi c ukup tidak- egois untuk melakukan apa yang seharusnya? Aku menggeleng putus asa. Aku harus bisa mendapatkan kekuatan itu. Dia pantas memperoleh kehidupan, bukan s eperti yang Alice lihat di masa depan. Seandainya menin dan m ggalkanmu adalah sesuatu yang harus kulakukan... at yang sembrono. Bella bukan untukku. kau tetap aman. Karena sudah mengatakannya, aku bersikeras bahwa itulah yang seharusnya terjadi. Dia mendelik padaku. Entah bagaimana, ucapanku te lah membuatnya marah. an hal yang sama? Dia sangat marahµbegitu lembut dan rapuh. Bagaima na mungkin dia bisa menyakiti orang lain? ernah perlu membuat keputusan itu, mi. Dia menatapku. Kini sorot prihatin menggantikan am arah di matanya, memunculkan kerut diantara dua mata it u. Pasti ada yang salah dengan dunia ini jika seseoran g, yang begitu baik dan rapuh seperti dia, tidak memilik i malaikat pelindung untuk menjaganya tetap aman. Well, batinku dengan humor gelap, paling tidak dia memiliki vampir pelindung. Kau takkan p sanggahku dengan s Dan pikirmu aku takkan melakuk

emang itu yang seharusnya, ya kan? Tidak ada itu malaik Akan kusakiti d iriku sendiri demi menjagamu agar tidak terluka, supaya

uara tertekan, menyadari besarnya perbedaan diantara ka

323

Aku tersenyum. Aku senang dengan alasan itu.

Tent

u saja menjagamu tetap aman mulai terasa seperti pekerj aan purnawaktu yang senantiasa memerlukan kehadirank u. Dia tersenyum juga. unuhku hari ini, Tak seorangpun mencoba memb ucapnya santai.

Kemudian selama setengah detik wajahnya berubah s pekulatif sebelum kemudian tatapannya jadi misterius la gi. Belum, Belum. tambahku datar. Secara mengejutkan dia sependapat. Kukira

dia akan menyangkal setiap usaha untuk melindunginya. Tega-teganya dia. DASAR EGOIS! Tega-teganya dia melakukan hal itu pada kita! Teriakan murka pikiran Rosalie memecah konsentras iku. Tenanglah, Rose, eµmenahannya. Sori, Edward, sesal Alice dalam hati. Dia bisa mene bak Bella tahu terlalu banyak dari isi pembicaraanmu...d an, well, akan lebih parah lagi andai aku tidak langsung memberitahu yang sebenarnya. Percayalah. Aku mengernyit pada gambaran yang mengikutinya, akan apa yang bakal terjadi seandainya Rosalie baru tah u ketika di rumah, dimana dia tidak perlu menahan diri u ntuk melindungi identitasnya. Aku mesti menyembunyika n Aston Martinku jika dia masih belum juga tenang saat sekolah usai. Gambaran mobil favoritku hancur berkepin g-keping membuatku kesalµmeski tahu aku pantas meneri manya. Jasper juga tidak terlalu senang dengan keputusanku . kudengar bisikan Emmet dari sebe rang kafetaria. Tangannya merangkul erat pundak Rosali

324

Biar kutangani mereka nanti. Siang ini waktuku bers ama Bella tidak terlalu banyak, dan aku tidak mau menyi a-nyiakannya. Dan aku jadi teringat dengan peringatan A lice tadi. Kugeser jauh-jauh histeria pikiran Rosalie yang mas ih belum berhenti. Tanyakan saja, Aku punya pertanyaan lain untukmu. ujarnya sambil tersenyum.

Apakah kau benar-benar harus ke Seattle sabtu ini, atau kah itu hanya alasan untuk menolak semua penggem armu? Dia cemberut. Kau tahu, aku belum memaafkanmu u ntuk masalah Tyler. Itu semua salahmu, sehingga dia me ngira aku akan pergi ke prom bersamanya. Oh, dia akan mengajakmu sendiri tanpa bantuankuµa ku cuma ingin melihat reaksimu. Aku tergelak mengingat ekspresi syoknya. Tidak sat upun cerita horor tentang diriku bisa membuatnya sesyok itu. Kebenaran tidak membuatnya takut. Dia ingin bersa ma denganku. Jalan pikirannya benar-benar ruwet. Kalau aku mengajakmu, apakah kau akan menolak? Mungkin tidak. Tapi aku kemudian akan membatalka nnyaµberpura-pura sakit atau mengalami cedera pergelan gan kaki. Benar-benar aneh. mengerti. Ah. ? Tentu saja. Itu bukan masalah. Tergantung siapa yang memimpin dansanya. Kenapa kau melakukan itu? Dia menggeleng, seakan kecewa aku tidak langsung Kau tak pernah melihatku di kelas olahraga, t Apakah kau sedang bicara tentang fakta bahwa api kupikir kau bakal mengerti. kau tak bisa berjalan di permukaan rata tanpa tersandung

325

Selama sepersekian detik, perasaanku meluap gembi ra pada bayangan merangkulnya pada saat berdansaµdan pasti dia memakai sesuatu yang cantik dan indah ketimba ng sweter jelek ini. Dengan sangat jelas aku ingat bagaimana tubuhnya t erasa dibawah pelukanku setelah menyelematkan dia dari terjangan van. Aku lebih bisa mengingat sensasinya keti mbang kepanikanku waktu itu. Dia terasa begitu hangat d an lembut, sangat pas dalam rengkuhan tubuhku... Aku kembali dari ingatan itu. Tapi kau belum bilangµ kataku buru-buru, mencegah dia mendebat soal kecanggungannya, seperti yang jelas-j elas ingin dia lakukan. atu yang berbeda? Sedikit rumitµmemberinya kesempatan untuk memili h, tapi tanpa memberinya pilihan untuk tidak bersamaku. Kurasa itu tetap adil. Lagipula tadi malam aku sudah jan ji padanya...dan aku senang pada ide untuk memenuhinya µhampir sebesar kecemasanku pada ide itu sendiri. Sabtu nanti matahari akan bersinar. Aku bisa mempe rlihatkan diriku yang sebenarnya, jika aku cukup berani untuk menghadapi kengerian dan kejijikan dia. Aku tahu tempat yang tepat untuk mengambil resiko itu... Aku terbuka untuk tawaran lain. Tapi aku punya sat u permintaan. nginkan? Apa? Boleh aku yang mengemudi? Apa ini idenya untuk melucu? Kenapa? Well, terutama karena waktu kubilang kepada Charli e akan pergi ke Seattle, dia secara spesifik bertanya apa kah aku pergi sendirian, dan waktu itu, memang ya. Kala Setuju, tapi dengan syarat. Apa yang dia i Apakah kau sudah mantap ingin ke Seattle, atau kau tidak keberatan kita melakukan sesu

326

u dia bertanya lagi, barangkali aku tidak akan berbohong , tapi rasanya dia tidak akan bertanya lagi, dan meningg alkan truk di rumah akan membuatnya bertanya-tanya. Ju ga karena cara menyetirmu membuatku takut. Aku memutar bola mataku. caraku mengemudi. Dari semua hal dalam dir iku yang bisa membuatmu takut, kau malah takut dengan Aku menggeleng tak percaya. Jujur s aja, jalan pikirannya betul-betul terbalik. Edward, panggil Alice mendesak. Mendadak, aku menatap ke sinar cerah matahari; sal ah satu dari penglihatan Alice. Itu tempat yang sangat kukenal, tempat dimana aku akan mengajak Bellaµsebuah padang rumput kecil, yang belum pernah dikunjungi siapapun selain diriku. Tempat sunyi yang indah, tempat aku biasa menyendiriµcukup ja uh dari jalan setapak atau pemukiman penduduk hingga b ahkan pikiranku bisa tenang, tidak mendengar apa-apa. Alice mengenalinya juga, karena dia telah melihatku disana, pada salah satu penglihatannya yang tidak terlal u lamaµsalah satu dari penglihatan kabur dan bekedip-ke dip yang Alice tunjukan padaku di pagi ketika Bella kus elamatkan dari terjangan van. Dalam penglihatan yang berkedip-kedip itu, aku tida k sendirian. Dan sekarang semuanya jelasµBella bersama ku disana. Berarti aku berani mengambil resiko itu. Bell a memandangiku, pelangi menari di depan wajahnya, mat anya tidak bisa dijajaki. Itu tempat yang sama, batin Alice. Pikirannya dilip uti kengerian yang tidak cocok dengan penglihatan itu. T egang, itu mungkin, tapi kenapa ngeri? Apa maksudnya d engan tempat yang sama? Kemudian aku melihatnya.

327

Edward! teriak Alice nyaring. Aku mencintainya, Ed ward! Aku langsung mengusirnya. Dia tidak mencintai Bella seperti aku mencintainya. Penglihatannya mustahil. Keliru. Dia pasti salah, meliha t sesuatu yang tidak mungkin. Tidak sampai setengah detik telah berlalu. Bella me natap wajahku penasaran, menunggu persetujuanku atas p ermintaannya. Apa dia sempat melihat kekalutanku, atau itu terlalu cepat untuk dia? Aku fokus pada dirinya, pada pembicaraan yang belu m selesai ini. Kuusir jauh-jauh Alice, juga penglihatann ya yang keliru, dari pikiranku. Hal itu tidak layak mend apat perhatianku. Meski begitu, aku terlanjur tidak bisa mengimbangi suasana hati Bella. Aku bertanya dengan nada serius dan agak muram, tidakkah kau ingin memberitahu ayahmu, ka u akan melewatkan hari itu bersamaku? Kuusir lebih jauh lebih penglihatan itu, menjaganya agar tidak terlintas di pikiranku. Dengan Charlie, berbohong selalu lebih baik, ya yakin akan hal itu. emana? Alice pasti salah. Sangat salah. Sama sekali tidak m ungkin itu bisa terjadi. Dan itu penglihatan yang sudah s angat lama, sudah tidak relevan lagi. Banyak hal telah b erubah. Prakiraan cuacanya bagus, kataku pelan sambil beru saha mengatasi kepanikan dan kebimbanganku. Alice past i salah. Aku akan melanjutkan seakan aku tidak mendeng ar atau melihat apa-apa. Jadi aku akan menghilang untuk sementara... dan kau bisa ikut bersamaku kalau mau. ucapn Lagi pula, memangnya kita mau k

328

Bella langsung mengerti yang kumaksud; matanya ja di cerah dan bersemangat. Dan kau akan memperlihatkan padaku yang kau maksud mengenai matahari? Mungkin, seperti yang sudah-sudah, reaksi dia beso k akan berbeda dari yang kukira. Aku tersenyum pada ke mungkinan itu. Dan aku berjuang untuk bisa kembali men ikmati momen santai ini. a. Ya. Tapi... Dia belum bilang y Kalau kau tidak ingin... berduaan denganku, aku tetap

tidak ingin kau pergi ke Seattle sendirian. Aku khawatir memikirkan masalah yang mungkin menimpamu di kota se besar itu. Bibirnya mengatup rapat; dia tersinggung. Phoenix tiga kali lebih besar daripada Seattleµitu b aru jumlah populasinya. Untuk ukuranµ Tapi nyatanya, insiden yang kau alami tidak bermul a di Phoenix, sanggahku, menyela pembenarannya. Jadi, lebih baik kau berada di dekatku. Dia bisa bersamaku selamanya dan itu tetap masih b elum cukup. Aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Kami tidak p unya waktu selamanya. Tiap detik berjalan lebih cepat d ari sebelumnya; tiap detik mengubah dirinya sementara a ku tidak akan pernah berubah. Karena itu sudah terjadi, aku tak keberatan berduaa n saja denganmu, Aku tahu. ujarnya sependapat. Meski begitu, kau h Bukan, itu lebih karena instingnya yang terbalik. Aku menghela napas. arus memberitahu Charlie. Kenapa aku harus repot-repot melakukannya? tanyan ya ngeri. Aku mendelik ke dia, penglihatan yang tidak lagi m ampu kutahan akhirnya berkeliaran di kepalaku.

329

Sebagai satu alasan kecil bagiku untuk memulangka nmu, desisku. Dia mesti memberiku kesempatanµsatu ora Kenapa Alice mesti menunjukan penglihatan itu seka rang? Bella menelan ludah, kemudian menatapku lama. Ap a yang dia lihat? Kurasa aku akan mengambil resiko itu. Ugh! Apa dia tipe orang yang jadi bersemangat keti ka nyawanya sedang terancam? Apa dia mencari sesuatu yang bisa memacu adrenalinnya? Aku mendelik marah ke Alice, yang sedang melirikk u dengan tatapan memperingatkan. Di sampingnya, Rosal ie menatapku murka. Tapi aku tidak terlalu peduli. Biar saja dia menghancurkan mobilku. Itu cuma mainan. Kita bicara yang lain saja, saran Bella tiba-tiba. Aku kembali melihat ke arahnya, bertanya-tanya ken apa dia begitu tidak peduli dengan apa yang sudah jelasjelas di depan mata. Kenapa dia tidak menganggapku seb agai monster, seperti yang semestinya? Apa yang ingin kau bicarakan? Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan, seakan seda ng memastikan tidak ada yang menguping. Dia pasti bere ncana untuk mengungkit topik yang berhubungan dengan mitos- mitos itu lagi. Matanya berhenti sejenak, badanny a membeku, lalu dia kembali melihat ke arahku. Kenapa kau pergi ke Goat Rocks akhir pekan lalu... untuk berburu? Charlie bilang, itu bukan tempat yang ba ik untuk hiking, banyak beruang. Benar-benar tidak peduli. Aku menatapnya, mengangkat satu alis. Beruang? Dia menahan napas. ng saksi untuk membuatku tetap waspada.

330

Aku tersenyum kecut saat mengamati hal itu meresa p dalam pikirannya. Apa ini akan membuat dia menangga piku dengan serius? Dia mengendalikan ekspresinya. dengan mata menyipit. Kalau kau membaca dengan teliti, peraturannya hany a mencakup berburu dengan senjata. Sejenak dia tidak bisa mengendalikan ekspresinya la gi. Mulutnya ternganga. Beruang? yok. Beruang Grizzly adalah kesukaan Emmet. Aku mengamati matanya, melihat dia mengolah ucap anku. Hmm, mannya. Jadi, akhirnya dia mendongak. Kesukaanmu apa? Mestinya aku bisa menduga pertanyaan dia, tapi aku tidak. Bella selalu saja menarik, sekecil apapun itu. Singa gunung, Ah. ing enak. Baiklah kalau begitu. Jika dia memang menganggapn ya ini bukan sesuatu yang tidak umum... Tentu saja, kami harus berhati-hati agar tidak memb ahayakan lingkungan dengan kegiatan berburu kami. berusaha mengimbangi nada suaranya. Aku Kami berusaha fok jawabku cepat. Nadanya santai, detak jantungnya tetap tenang, gumamnya. Dia menunduk dan menggigit piza nya. Dia mengunyah sambil berpikir, lalu meneguk minu Kali ini dengan nada sangsi, bukan lagi s Kau tahu, sekarang bukan musim berburu beruang,ucapnya sungguh-sungguh

seakan kita sedang membicarakan tempat makan yang pal

us pada area yang jumlah populasi binatang predatornya tinggiµmenciptakan daerah jangkauan sejauh mungkin. D

331

i sekitar sini banyak rusa dan kijang, dan itu sebenarnya cukup, tapi dimana kesenangannya? Dia mendengarkan dengan ekspresi tertarik yang sop an, seakan aku seorang guru yang sedang mengajar. Mau tidak mau aku tersenyum. Ya, benar, a lagi. Awal musim semi adalah musim berburu beruang kes ukaan Emmet. Aku meneruskan dengan kuliahku. Mereka baru saja selesai hibernasi, jadi lebih pemarah. Tujuh puluh tahun kemudian, dia masih belum bisa melupakan kekalahan pertamanya dulu. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada beruang Grizzly yang sedang marah. Bella mengangguk-angguk serius. Aku tertawa terbahak-bahak, menggeleng-geleng pad a ketenangannya yang tidak logis. Itu pasti dibuat-buat. Tolong katakan apa yang benar-benar kau pikirkan. Aku mencoba membayangkannyaµtapi tidak bisa. rutan muncul diantara matanya. u beruang tanpa senjata? Oh, kami punya senjata. etap tenang. Kupamerkan gigiku dengan seringai lebar. Kukira dia akan terlonjak, tapi ternyata t Pokoknya bukan jenis senjata yang terpikir oleh mereka ketika membuat peraturan berburu. Kalau ka u pernah melihat beruang menyerang di acara televisi, ka u seharusnya bisa membayangkan cara Emmet berburu. Dia melirik ke meja tempat keluargaku duduk, dan g emetar. Akhirnya. Kemudian aku tertawa sendiri karena aku tahu sebagian dari diriku berharap dia tetap tidak pedul i. Ke Bagaimana kalian berbur gumamnya santai. Dia menggigit pizzany

332

Matanya yang gelap terlihat lebar dan dalam saat me natapku. Apa kau juga seperti beruang? suaranya hampir Ak seperti bisikan. Lebih seperti singa, atau begitulah kata mereka. u berusaha bicara senormal mungkin. kami mencerminkan kepribadian kami. Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Kelihatanny a dia berusaha tersenyum. Barangkali. Kemudian dia menelengkan kepalanya, r Apakah aku aka asa penasaran terlihat jelas di matanya. n pernah melihatnya? Aku tidak perlu gambaran dari Alice untuk mengilus trasikan kengerian iniµimajinasiku sendiri sudah cukup. Tentu saja tidak! s takut. Aku bersandar ke kursi, menjauh juga. Dia tidak aka n pernah melihatnya. Dia tidak boleh melakukan itu agar aku bisa menjaganya tetap hidup. Terlalu menakutkan buatku? lebih cepat. Kalau cuma karena itu, aku sudah akan mengajakmu nantai malam, jawabku ketus. Kau perlu merasakan ketakutan yang sebenarnya. Ta k ada cara yang lebih baik buatmu. Lalu kenapa? desaknya tidak peduli. Aku mendelik sengit, menunggu dia untuk takut. Ak u sendiri takut. Bisa kubayangkan bagaimana jadinya jik a Bella ada di dekatku saat aku sedang berburu... Matanya masih tetap penasaran dan tidak sabar. Han ya itu. Tidak ada takut. Dia masih menunggu jawabanku. suaranya tetap datar. S edang jantungnya, biar bagaimanapun, berdetak dua kali Aku menggeram padanya. Dia menjauh ke belakang. Matanya tertegun sekaligu Barangkali pilihan

333

Tapi satu jamku dengan dia sudah habis. Nanti saja jawabnya, erdiri. kataku masih kesal, dan aku b Kita bakal terlambat.

Dia memandang ke sekelilingnya, bingung, seakan l upa sedang makan siang. Bahkan seperti lupa sedang ber ada di sekolahµterkejut bahwa aku dan dia tidak sedang sendirian di tempat yang terpencil. Aku sangat mengerti perasaan itu. Sulit mengingat sekelilingku jika sedang b ersamanya. Dia cepat-cepat bangkit, sedikit terhuyung-huyung, dan menyampirkan tasnya ke pundak. Kalau begitu sampai nanti, ar akan menagih jawabanku. jawabnya. Aku bisa melihat dia belum menyerah; dia benar-ben

334

12. Kesulitan
Kami berdua berjalan bersama-sama menuju kelas Bi ologi. Aku berusaha fokus pada momen ini, pada gadis di sampingku, pada apa yang nyata dan solid, pada apapun yang bisa menjauhkan dari penglihatan palsunya Alice. Kami meleweati Angela Weber, yang sedang berlama -lama di lorong. Dia sedang mendiskusikan sebuah tugas bersama dengan seorang cowok dari kelas trigono. Aku c uma mengamati pikirannya sekilas, mengira akan kecewa lagi, namun aku justru kaget karena mendapati nuansany a yang sayu. Ah, ternyata ada juga yang Angela inginkan. Sayang nya, itu bukan sesuatu yang bisa dibungkus dan dikirim dengan mudah. Aku jadi merasa lebih tenang setelah mendengar ker induan terpendam Angela. Aku bisa mengerti keputus-asa an dia. Dan saat itu juga aku merasa senasib dengannya. Walau aneh, aku merasa terhibur karena tahu aku bu kan satu-satunya yang mengalami kisah cinta yang tragi s. Patah hati ada dimana-mana. Detik berikutnya aku jadi marah. Tidak seharusnya kisah Angela berakhir tragis. Dia manusia, pujaannya ju ga manusia. Dan perbedaan mereka yang menurut dia tida k bisa ditanggulangi adalah konyol. Benar-benar konyol jika dibandingkan dengan situasiku. Patah hatinya tidak beralasan. Kesedihan yang sia-sia, tidak ada alasan bagi dia untuk tidak bisa bersama orang yang ia inginkan. Ke napa dia tidak bisa mendapatkan yang ia inginkan? Kena pa kisah cintanya tidak bisa berakhir bahagia? Aku sudah berniat memberinya hadiah... Well, aku a kan memberi dia apa yang dia inginkan. Dengan kemampu an alamiku, mungkin itu tidak akan terlalu sulit. 335

Aku ganti mengamati pikiran cowok disampingnya, p emuda dambaannya. Dan sepertinya anak itu bukannya ti dak tertarik, hanya saja dia juga terkendala oleh kesulit an yang sama dengan Angela. Tidak punya harapan dan s udah menyerah duluan. Yang perlu kulakukan cuma merencanakan sesuatu u ntuk mendorong mereka... Rencana itu pun langsung terbentuk dengan mudah, naskahnya tersusun begitu saja. Aku butuh bantuan Emm etµmembujuknya untuk mau terlibat adalah satu-satunya kesulitan. Sifat manusia jauh lebih mudah untuk dimanipulasi ketimbang vampir. Aku puas dengan rencanaku, dengan hadiahku untuk Angela. Itu pengalihan yang menyenangkan dari masalah ku sendiri. Seandainya saja masalahku bisa diatasi semu dah itu. Moodku sedikit lebih baik saat aku dan Bella duduk di tempat kami. Mungkin sebaiknya aku lebih optimis. M ungkin di luar sana ada solusi yang terlewatkan olehku, sama seperti solusi sederhana Angela yang tidak terlihat olehnya. Mungkin tidak terlalu mirip...tapi kenapa mesti membuang-buang waktu dengan berputus asa? Aku tidak punya banyak waktu untuk disia-siakan jika menyangkut tentang Bella. Setiap detik berharga. Mr. Banner masuk sambil menarik meja beroda yang diatasnya terdapat TV dan VCR kuno. Dia melompati sat u bab pelajaran yang menurut dia tidak menarikµkelainan genetisµ dengan memutar film selama tiga hari kedepan. Lorenzo's Oil bukan film yang terlalu riang, tapi itu tid ak mengendurkan semangat seisi kelas. Tidak ada catatan , tidak ada bahan tes. Tiga hari bebas. Kesukaan manusia .

336

Bagiku sendiri tidak terlalu penting. Aku tidak bere ncana memperhatikan apapun selain Bella. Hari ini aku tidak menarik kursiku menjauh. Biasan ya aku melakukannya untuk memberi ruang buat bernapa s. Sebagai gantinya, aku duduk di dekatnya seperti yang dilakukan manusia normal. Lebih dekat dari saat duduk d i mobil, cukup dekat hingga sisi kiri tubuhku terbenam k e dalam kehangatan dari kulitnya. Itu pengalaman yang ganjil, menyenangkan sekaligu s mendebarkan, tapi aku lebih menyukai ini ketimbang d uduk di sebrang meja seperti di kafetaria. Ini melebihi d ari yang biasa kudapat, namun tetap saja aku langsung m enyadari bahwa ini masih belum cukup. Aku belum puas. Berada sedekat ini dengannya hanya membuatku ingin be rada lebih dekat lagi. Aku telah menuduhnya sebagai magnet bagi mara ba haya. Saat ini terasa seperti itulah arti harfiahnya. Aku adalah bahaya, dan, dengan setiap inchi lebih dekat deng annya, daya tariknya jadi semakin kuat. Kemudian Mr. Varner mematikan lampu. Rasanya aneh bagaimana itu membuat situasinya jad i lain, padahal kegelapan tidak terlalu berdampak buat m ataku. Aku masih bisa melihat seterang dan sejelas seper ti sebelumnya. Setiap detail dalam ruangan ini terlihat s angat jelas. Jadi, kenapa mendadak muncul aliran listrik yang m enyengat tubuhku? Apakah karena aku tahu cuma aku sat u-satunya yang masih bisa melihat dengan jelas? Bahwa Bella dan aku tidak terlihat oleh orang lain? Seperti kam i sedang sendirian, hanya berdua saja, tersembunyi di ke gelapan, duduk bersebelahan begitu dekat... Tau-tau tanganku sudah bergerak ke arahnya tanpa b isa kukontrol. Hanya untuk menyentuh tangannya, untuk

337

menggenggamnya di tengah kegelapan. Apa itu bisa jadi kesalahan yang mengerikan? Jika kulit dinginku menggan ggu, dia cuma tinggal menarik tangannya... Kutarik tanganku lagi, kudekap lenganku rapat-rapat di dada, dan mengepalkan tangan. Tidak boleh ada kesala han. Aku sudah berjanji dengan diriku untuk tidak memb uat kesalahan, tidak peduli seberapa kecil kelihatannya. Jika aku memegang tangannya, aku hanya akan meminta l ebih lagiµsentuhan lain yang tidak berdasar, gerakan lai n yang lebih dekat. Aku bisa merasakan itu. Jenis hasrat yang baru, berkembang di dalam diriku, berusaha menem bus pengendalianku. Tidak boleh ada kesalahan. Bella juga mendekap lengannya di dada. Tangannya juga terkepal. Apa yang kau pikirkan? Aku sangat ingin membisikk an kata-kata itu, tapi ruangannya terlalu sunyi untuk me nyamarkan bisikan sekalipun. Filmnya dimulai, memberi tambahan penerangan sedi kit. Bella melirik. Dia menyadari kekakuan posisi badan kuµseperti badannyaµdan tersenyum. Bibirnya sedikit me rekah, dan matanya terlihat hangat mengundang. Atau, barangkali aku melihat apa yang ingin kuliha t. Aku tersenyum balik; dia seperti kehabisan napas da n buru-buru berpaling. Itu membuatnya lebih buruk. Aku tidak tahu pikiran nya, tapi aku jadi yakin dugaanku tepat, bahwa dia ingin aku menyentuhnya. Dia merasakan hasrat berbahaya ini s ama seperti diriku. Aliran listrik mengalir diantara badanku dan dia. Selama sisa pelajaran dia tidak bergerak sama sekal i, terus mendekap lengannya rapat- rapat, sama seperti a

338

ku juga terus mendekap lenganku. Sesekali dia melirik, dan segera saja aliran listrik yang lebih kuat menyambar ku. Satu jam berlalu lambat. Ini pengalaman baru. Aku t idak keberatan duduk begini terus selama berhari-hari ha nya untuk menikmati sensasi ini sepenuhnya. Bermacam pikiran berkecamuk dalam kepalaku selam a menit demi menit berlalu. Rasionalitasku bergumul den gan hasratku sementara aku berusaha mencari pembenara n untuk bisa menyentuhnya. Akhirnya Mr Varner menyalakan lampu lagi. Dalam terang, atmosfer ruangan kembali normal. Bel la menghela napas dan melepaskan dekapannya, kemudian melemaskan jemarinya. Pasti tidak nyaman buat dia berta han di posisi itu selama tadi. Sebaliknya buatku sangat mudahµdiam mematung sudah jadi sifat alamiku. Aku tertawa geli melihat ekspresi lega di wajahnya. Well, tadi itu menarik. Hmmm, gumamnya. Jelas dia mengerti apa yang kum aksud, tapi tidak berkomentar. Itu jadi membuatku tidak bisa mendengar apa yang sedang dipikirkan dia saat ini. Aku menghela napas. Berharap seperti apapun tetap tidak akan membantu. Yuk? ajakku sambil berdiri. Dia mengerutkan muka dan bangkit dengan agak terh uyung, tangannya mencari-cari pegangan supaya tidak jat uh. Aku bisa menawarkan tanganku. Atau aku bisa meme gangi sikunya hingga dia bisa berdiri seimbang. Tentu it u bukan pelanggaran yang terlalu berat... Tidak boleh ada kesalahan. Dia sangat pendiam saat kami berjalan ke ruang gim nasium. Kerut diantara matanya jadi bukti bahwa dia sed

339

ang berpikir keras. Aku sendiri juga sedang bepikir kera s. Satu sentuhan saja tidak akan menyakiti dia. Sisi eg oisku masih saja bersikeras. Aku bisa dengan mudah mengatur tekanan sentuhank u. Itu sama sekali tidak sulit, selama aku bisa mengontr ol diriku sepenuhnya. Indera perabaku jauh lebih sensiti f dibanding manusia; aku bisa berjuggling dengan selusi n gelas kristal tanpa memecahkan gelas-gelas itu; aku bi sa memegang gelembung sabun tanpa memecahkannya. Se lama aku bisa mengontrol diriku... Bella seperti gelembung sabunµrapuh dan tidak abad i. Sampai berapa lama lagi aku bisa membenarkan keha diranku dalam hidupnya? Berapa banyak waktu yang kupu nya? Akankah ada kesempatan lain seperti kesempatan in i, seperti saat ini, seperti detik ini? Bella tidak selalu bisa berada dalam jangkauan tang anku seperti ini... Sesampainya di depan ruang gimnasium, dia berbali k menghadapku. Matanya melebar saat melihat ekspresi wajahku. Dia tidak bicara. Kuamati bayangan diriku yan g terpantul di matanya, dan melihat pergumulan dalam di riku. Aku menyaksikan bagaimana wajahku berubah saat sisi baikku kalah dalam peperangan itu. Dan tanganku sudah terangkat begitu saja. Selembut seakan dia terbuat dari kaca yang paling tipis, seakan di a serapuh gelembung sabun, jari-jariku membelai kulit p ipinya yang hangat. Dibawah sentuhanku, pipinya jadi m emanas, dan bisa kurasakan denyut darahnya semakin cep at dibalik kulitnya yang bening. Cukup, perintahku, meski tanganku masih ingin men eruskan belaiannya ke sisi wajahnya yang lain. Cukup.

340

Rasanya sulit untuk menarik tanganku, untuk mengh entikan diriku agar tidak lebih mendekat lagi ke dia. Ta pi aku berhasil melakukannya. Dan dalam sekejapan itu beribu pilihan yang berbed a berkecamuk dalam pikirankuµ beribu pilihan cara untu k menyentuhnya. Ujung jariku menelusuri bentuk bibirny a. Telapak tanganku mengusap dagunya. Mengambil seju mput rambutnya dengan tanganku. Lenganku melingkari p inggangnya, merangkulnya dalam dekapanku. Cukup. Aku memaksa diriku untuk berbalik, untuk menjauh darinya. Badanku bergerak kakuµingin menolak. Kubiarkan pikiranku tertinggal di belakang untuk m engawasi Bella saat aku berlalu menjauh, hampir lari unt uk menghindari godaannya. Aku menangkap pikiran Mike Newton µitu yang paling berisikµsementara dia menyaksi kan Bella berjalan linglung melewatinya. Mata Bella tid ak fokus dan pipinya merah. Mike mendelik, dan tiba-tib a namaku bercampur dengan sumpah serapah di kepalanya ; aku tidak tahan untuk tidak menyeringai menanggapi it u. Tanganku masih seperti tersengat listrik. Aku mele maskan dan mengepalkan, tapi tetap saja sengatan itu tet ap ada. Tidak, aku tidak menyakiti diaµtapi menyentuhnya t etap sebuah kesalahan. Rasanya seperti apiµseperti haus yang biasanya mem bakar tenggorokanku telah menyebar ke sekujur tubuh. Lain kali, saat berada di dekatnya, mampukah aku m engendalikan diri untuk tidak menyentuhnya lagi? Dan ji ka sudah menyentuhnya satu kali, sanggupkah aku berhen ti sampai disitu saja?

341

Tidak boleh ada kesalahan lagi. Titik. Nikmati saja kenangannya, Edward, aku memberitahu diriku dengan m uram, dan jaga tanganmu untuk dirimu sendiri. Pilihanny a itu, atau aku harus memaksa diriku untuk pergi...entah bagaimana caranya. Karena aku tidak boleh berada di de katnya jika terus-terusan membuat kesalahan. Aku mengambil napas panjang dan menenangkan piki ran. Aku bertemu Emmet di depan kelas bahasa Spanyol. Hai, Edward. ih baik. Bahagia. Hai, Em. a begitu. Sebainya kau hati-hati, kid. Rosalie ingin merobek mulutmu. Aku mendesah. Sori aku membuatmu harus menghada pi kemarahannya. Apa kau marah denganku? Tidak. Lama-lama Rose juga akan lupa. Biar bagaim anapun memang sudah seharusnya itu terjadi. a yang dilihat Alice bakal terjadi... Mengingat penglihatan Alice bukan sesuatu yang ku butuhkan saat ini. Aku memandang lurus kedepan, gigiku terkunci rapat. Saat sedang mencari pengalih perhatian, Ben Cheney masuk ke kelas mendului kami. Ahµini kesempatanku unt uk memberi hadiah ke Angela Weber. Aku berhenti dan menangkap lengan Emmet. sebentar. Ada apa? Aku tahu aku tidak pantas mendapatkannya, tapi ma ukah kau menolongku? Menolong bagaimana? tanyanya penasaran. Tunggu Dengan ap Apa aku terlihat bahagia? Sepertinya begit u, terlepas dari kekacauan di dalam kepalaku, aku meras Dia terlihat lebih baik. Aneh, tapi leb

342

Di bawah napaskuµdan dengan kecepatan yanag tida k mungkin diikuti pendengaran manusia, tidak peduli seb erapa keras kata-kata itu diucapkanµkujelaskan padanya apa yang kumau. Dia terlongo. Pikirannya sama kosongnya dengan wa jahnya. Jadi? bisikku. a? Ayolah, Emmet. Kenapa tidak? Siapa kau dan apa yang kau lakukan terhadap saudar aku? Bukankah kau selalu mengeluh bahwa sekolah selalu saja membosankan? Ini sesuatu yang berbeda, kan? Angg ap saja ini sebagai eksperimenµeksperimen terhadap sifa t dasar manusia. Dia memandangku sebentar sebelum menyerah. u. Emmet mendengus lalu mengangkat bahu. Wel l, ini memang berbeda, kuakui itu... Baiklah kalau begit Aku akan m embantumu. Aku tersenyum padanya. Kini aku jadi lebih bersema ngat dengan rencanaku setelah Emmet setuju untuk terlib at. Rosalie memang selalu menjengkelkan, tapi aku akan selalu berhutang padanya karena telah memilih Emmetl; t idak ada yang memiliki saudara lebih baik ketimbang dir iku. Emmet tidak butuh latihan. Aku membisikkan sekali lagi baris-baris skenario miliknya pada saat kami masuk ke dalam kelas. Ben sudah duduk di belakangku. Dia sedang mencari -cari tugasnya untuk dikumpulkan. Emmet dan aku duduk dan melakukan hal yang sama. Kelas masih belum sepenu hnnya tenang; gumaman orang-orang yang saling ngobrol Kamu mau membantuku? Tapi, kenap Butuh semenit buatnya untuk merespon.

343

tidak akan berhenti sampai Mrs. Goff menyuruh mereka d iam. Dia sendiri tidak buru-buru, dia sedang memberi nil ai tes kelas sebelumnya. Jadi, ku. ujar Emmet dengan suara lebih keras dari yan g dibutuhkanµjika dia memang berniat bicara hanya pada Apa kau sudah mengajak Angela Weber kencan? Suara kesibukan di belakangku tiba-tiba terhenti, pe rhatian Ben terpaku pada pembicaraanku dan Emmet. Angela? Mereka sedang membicarakan Angela? Bagus. Aku berhasil menarik perhatiannya. Belum, nyesal. Kenapa belum? ut? Aku meringis padanya. Bukan karena itu. Kudengar dia tertarik dengan orang lain. Edward Cullen ingin mengajak Angela kencan? Tapi. .. Tidak. Aku tidak suka itu. Aku tidak mau dia dekat-de kat Angela. Dia...tidak pantas untuk Angela. Tidak...ama n. Aku tidak menduga yang muncul adalah insting untu k melindungi. Yang kurencanakan adalah cemburu. Tapi apapun itu sama saja. Kau membiarkan itu menghentikanmu? mengejek, berimprovisasi lagi. Kau tidak mau bersaing? Aku mendelik padanya, Bukan begitu. Kurasa dia su dah terlanjur suka dengan seorang bocah bernama Ben, s alah satu dari teman-temannya. Aku tidak mau berusaha meyakinkan dia yang sebaliknya. Masih ada gadis-gadis l ain. Reaksi di belakangku menggemparkan. Ben siapa? tanya Emmet, kembali ke naskahnya. tanya Emmet Emmet berimprovisasi, Apa kau tak jawabku sambil menggeleng agar terlihat me

344

Kalau tidak salah pasangan labku bilang namanya Be n Cheney. Aku tidak tahu pasti yang mana orangnya. Aku menahan senyumku. Hanya keluarga Cullen yang sombong yang bisa lolos saat pura-pura tidak kenal setia p murid di sekolahan yang kecil ini. Pikiran Ben berkecamuk tidak karuan. Aku? Daripad a Edward Cullen? Tapi kenapa dia bisa suka denganku? Edward, Emmet berbisik dengan suara rendah, melir Dia tepat di belakangmu, mi ik ke bocah di belakangku.

miknya dibuat sedemikian rupa hingga si Ben bisa denga n mudah membaca kata-katanya. Oh. Aku berbalik ke belakang dan mendelik ke bocah it u. Untuk sesaat, tatapan di balik kacamata itu ketakutan, tapi kemudian dia menegakkan pundaknya, merasa tersin ggung karena diremehkan. Mukanya memerah karena mara h. Huh, Emmet. Dia pikir dia lebih baik dariku. Tapi Angela tidak b erpikir begitu. Akan kubuktikan ke orang sombong ini... Sempurna. Tapi, bukannya katamu Angela mengajak si Yorkie k e pesta dansa nanti? tanya Emmet sambil mendengus keti ka menyebut nama bocah yang sering ia cemooh karena k ecanggungannya. Nampaknya itu keputusan dia bersama teman-teman perempuannya. Aku ingin meyakinkan bahwa Ben betul-b Angela itu pemalu. Jika B etul mengerti tentang hal ini. dengusku arogan kemudian kembali menoleh ke

µ well, jika seorang laki-laki tidak punya nyali untuk m engajaknya kencan, Angela tidak akan pernah mengajakn ya.

345

Kau sendiri suka dengan gadis yang pemalu. i...hmm, aku tidak tahu. Mungkin Bella Swan? Aku menyeringai padanya. mbali ke pertunjukan ini. Tepat.

Emmet

kembali berimprovisasi. Gadis yang pemalu. Gadis sepert kemudian aku ke

Mungkin Angela akan capek menunggu. Mungkin aku akan mengajaknya ke pesta prom. Tidak, kau tidak akan. Batin Ben sambil menegakka n duduknya. Memang kenapa kalau dia lebih tinggi darik u? Jika dia sendiri tidak peduli, begitu pula aku. Angela adalah orang yang paling baik, paling cerdas, dan paling cantik di sekolahan ini...dan dia menginginkan aku. Aku suka dengan Ben. Kelihatannya dia cerdas dan b aik hati. Cukup pantas untuk perempuan seperti Angela. Aku mengacungkan ibu jari ke Emmet dari bawah me ja. Dan saat bersamaan Mrs. Goff berdiri, mengucapkan s alam ke kelas. Oke, kuakuiµtadi itu menyenangkan, batin Emmet. Aku tersenyum sendiri, senang telah berhasil membu at satu kisah cinta berakhir bahagia. Aku sangat yakin B en akan melanjutkan niatnya, dan Angela akan menerima hadiahku. Hutangku telah lunas. Betapa menggelikannya manusia, menjadikan perbed aan tinggi enam inchi mengacaukan kebahagiaan mereka. Kesuksesan rencana tadi mengembalikan suasana hat iku jadi baik. Aku tersenyum lagi seraya duduk lebih ny aman, siap-siap untuk terhibur. Bagaimanapun, seperti y ang Bella katakan, aku belum pernah melihat dia di kela s olahraga. Pikiran Mike lebih mudah ditemui diantara dengung an suara-suara disana. Pikirannya jadi terlalu familiar s elama satu minggu ini. Dengan mengeluh aku mengalah u

346

ntuk mendengarkan lewat dia. Paling tidak aku tahu dia akan memperhatikan Bella. Aku mendengarkan tepat saat dia menawarkan diri ja di pasangan badminton Bella; saat bersamaan, bentuk ber pasangan yang lain terlintas di kepala Mike. Senyumku l enyap, gigiku terkatup erat, dan aku mesti mengingatkan diriku bahwa membunuh Mike Newton bukan sesuatu yang bisa dimaafkan. Terima kasih, Mikeµkau tahu, kau tak perlu melakuk annya. Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu. Mereka saling senyum satu sama lain. Dan di kepala Mike berkelebatan berbagai insiden sebelumnya di kelas olahragaµselalu saja dengan berbagai cara berhubungan dengan Bella. Awalnya Mike bermain sendirian, Bella cuma berdiri enggan di belakang lapangan, memegangi raketnya hati-h ati seakan itu senjata. Kemudian Coach Clapp menyuruh Mike memberi Bella kesempatan main. Oh, aduh, batin Mike saat Bella melangkah maju sa mbil mengeluh. Dia memegang raketnya dengan canggun g. Jenifer Ford sengaja mengarahkan servis langsung k e Bella. Mike melihat Bella maju menghadang tapi ayuna n raketnya jauh dari sasaran. Mike pun buru-buru mengej ar koknya. Pada saat itu aku melihat arah ayunan raket Bella d engan ngeri. Dan benar saja, raketnya mengenai ujung at as net dan memantul kembali ke dia, memukul keningnya sebelum kemudian terpelintir dan mengenai bahu Mike de ngan suara keras. Ow. Ow. Aduh. Itu pasti akan meninggalkan bekas.

347

Bella mengelus-elus keningnya. Rasanya sulit untuk tetap tinggal di tempatku, mengetahui dia terluka. Tapi apa yang bisa kulakukan jika disana? Dan kelihatannya t idak terlalu serius... Aku menahan diri dan tetap mengaw asi saja. Jika dia berniat untuk tetap melanjutkan, aku a kan mencari alasan untuk mengeluarkan dia dari kelas. Coach Clapp tertawa. Sori, Newton. Gadis itu adala h orang paling ceroboh yang pernah kulihat. Sebaiknya t idak perlu membuat yang lain jadi korbannya. Dia sengaja memunggungi Mike dan Bella, ganti men gawasi pertandingan lain supaya Bella bisa kembali jadi penonton saja. Aduh, batin Mike lagi sambil memijat-mijat tangann ya. Dia menoleh ke Bella. a merah. Kurasa aku baik-baik saja. Jangan sampai kedengara n seperti anak cengeng. Tapi ya ampun, ini sakit! Mike mengayun-ngayunkan tangannya sambil mering is. Aku akan tinggal di belakang sini saja. Bella terlih at malu daripada sakit. Mungkin Mike yang kena pukul l ebih keras. Aku jelas berharap itu yang terjadi. Paling ti dak Bella tidak ikut main lagi. Dia memegang raketnya s angat hati-hati di belakang punggung, matanya melebar menyesal... Aku menyamarkan tawaku sebagai batuk. Apa yang lucu? Emmet ingin tahu. Nanti saja, gumamku. Bella tidak ikut main lagi. Coach Clapp mengabaika n dia dan membiarkan Mike bermain sendirian. Di penghujung jam, aku sudah menyelesaikan tesnya dengan mudah. Dan Mrs. Goff mengijinkanku keluar lebi h awal. Aku mendengarkan pikiran Mike lekat-lekat sela Apa kau tidak apa-apa? tanyanya malu, mukany Tidak apa-apa, kau sendiri?

348

ma berjalan melintasi halaman sekolah. Dia memutuskan untuk menanyakan Bella tentang aku. Jessica bersumpah mereka berkencan. Kenapa? Kenapa Edward harus memili h Bella? Dia tidak menyadari kejadian yang sebenarnyaµ bahwa Bella lah yang memilih aku. Jadi. Jadi apa? tanya Bella bingung. Kau jalan dengan Cullen, heh? Kau dengan si aneh i tu. Kurasa, jika orang kaya sebegitu pentingnya buatmu.. . Aku menggertakan gigi mendengar asumsinya yang m erendahkan itu. Itu bukan urusanmu, Mike. Defensif. Jadi itu betul. Sial. Memang tidak perlu, Aku tidak suka. sergah Bella marah.

Kenapa Bella tidak melihat betapa anehnya si Culle n itu? Mereka semuanya aneh. Melihat bagaimana cara di a memandang Bella membuatku merinding. ndangmu... seolah ingin memakanmu. Aku ngeri menunggu respon Bella. Mukanya merah padam, dia menekan bibirnya seakan sedang menahan napas. Kemudian, tiba-tiba keluar suara tawa dari mulutnya. Sekarang dia menertawakan aku. Sial. Mike memutar badan, dan pergi ke ruang ganti, piki rannya sunyi. Aku bersandar ke tembok ruang gimnasium sambil b erusaha mengendalikan diri. Bagaimana bisa dia menerta wakan tuduhan Mikeµbegitu tepat sasaran hingga membua tku khawatir jangan-jangan penduduk Forks sudah jadi te rlalu sadar... kenapa dia tertawa pada tebakan bahwa aku mau membunuhnya, ketika dia tahu itu sepenuhnya tepat? Apanya yang lucu dari itu? Caranya mema

349

Ada apa dengan dia? Apa dia punya selera humor yang gelap? Itu tidak c ocok dengan karakternya, tapi bagaimana aku bisa yakin? Atau mungkin lamunanku tentang malaikat sembrono itu ada betulnya, paling tidak di satu sisi, bahwa Bella tida k punya rasa takut sama sekali. Pemberani µitu istilah u mumnya. Yang lain mungkin akan bilang dia itu bodoh, t api aku tahu bagaimana cerdasnya dia. Namun, apapun al asannya, ketidak kenal takutan dia dan keanehan selera h umornya itu, tidak baik untuk dirinya. Apakah hal itu ya ng membuat dia selalu berada dalam bahaya? Mungkin di a akan selalu membutuhkan kehadiranku disampingnya... Begitu saja, dan seketika suasana hatiku sudah mem bumbung tinggi. Jika aku bisa mendisiplinkan diri, membuat diriku t etap aman, maka mungkin aku bisa tetap berada disampin gnya. Ketika dia berjalan menuju pintu, pundaknya terliha t kaku dan dia sedang menggigit birbirnya lagiµtanda gel isah. Tapi begitu matanya menatapku, pundaknya yang ka ku langsung rileks dan senyum mengembang di wajahnya. Ekspresinya sangat damai. Dia berjalan ke arahku tanpa ragu-ragu, hanya berhenti ketika dia sudah begitu dekat hingga kehangatan badannya menyapuku seperti gelomba ng. Hai, bisiknya. Kebahagaiaan yang kurasakan saat ini, lagi, tidak a da bandingannya. Halo, sapaku, laluµkarena moodku yang tiba-tiba ja bagaimana kelas olahragamu? Baik-baik saja. di begitu enteng, aku tidak tahan untuk tidak menggodan yaµaku menambahkan, Senyumnya bimbang.

Dia tidak pandai berbohong.

350

Benarkah?

aku sudah akan melanjutkan pertanyaank

uµaku masih mengkhawatirkan kepalanya; apa masih saki t?µtapi kemudian pikiran ribut Mike Newton memecah ko nsentrasiku. Aku benci dia. Kuharap dia mati. Semoga mobil mew ahnya terjun ke jurang. Kenapa dia harus menganggu Bel la segala? Kenapa dia tidak bergaul saja dengan kaumnya sendiri µkaum orang-orang aneh. Apa? desak Bella. Mataku kembali fokus ke Bella. Dia melihat ke Mike yang memunggungi kami pergi, kemudian ke aku lagi. Newton membuatku kesal, akuku. Dia terperanjat, dan senyumnya lenyap. Dia pasti lu pa aku punya kemampuan untuk mengawasi semua kekiku kan dia selama satu jam tadi, atau berharap aku tidak me nggunakannya. n? Bagaimana kepalamu? Kau ini bukan main! merah padamµdia malu. Aku megejarnya, berharap kemarahannya segera reda . Biasanya dia cepat memaafkan. Kau sendiri yang bilang, aku tak pernah melihatmu di kelas olahragaµaku jadi penasaran. Dia tidak menjawab. Dia masih tampak kesal. Sesampainya di parkiran mendadak dia berhenti saat menyadari jalan menuju mobilku terhalangi oleh kerumun an cowok. Kira-kira seberapa cepat mobil ini di jalan bebas ha mbatan... Coba lihat pedal gas SMGnya itu. Aku belum pernah melihatnya selain di majalah... Peleknya keren... desisnya kesal, lalu pergi meni nggalkanku, berjalan cepat-cepat ke parkiran. Mukanya Kau tidak sedang mendengarkan lagi, ka

351

Tentu saja, kuharap aku punya enampuluh ribu dolar di kantongku... Ini lah sebabnya kenapa Rosalie sebaiknya hanya me nggunakan mobilnya saat keluar kota saja. Aku menyelinap diantara mereka menuju mobilku; se telah bimbang sejenak, Bella mengikuti. Kelewat mencolok, il. Mobil apa itu? M3. Dahinya berkerut. l. Itu keluaran BMW. Aku memutar bola mataku, lalu f okus pada usahaku untuk mundur tanpa menyenggol siapa pun. Terutama aku harus memusatkan padangan pada bebe rapa cowok yang kelihatannya tidak mau bergerak sama s ekali. Cukup dengan setengah detik bertemu pandang den ganku, mereka berhasil diyakinkan untuk minggir. Kau masih marah? tanyaku padanya. Kerutan di dahi nya telah lenyap. Jelas. sergahnya kasar. Aku menghela napas. Mungkin mestinya tadi aku tid ak mengungkitnya. Oh, baiklah. Kurasa aku bisa mencoba untuk minta maaf. eminta maaf? Dia mempertimbangkan sejenak. Mungkin..., kalau k Dan k au bersungguh-sungguh.Akhirnya dia memutuskan. alau kau berjanji tidak mengulanginya lagi. Aku tidak mau berbohong, dan tidak mungkin aku se tuju pada hal itu. Mungkin aku bisa menawarkan janji ya ng lain... Maukah kau memaafkanku kalau aku m Aku tidak paham jenis-jenis mobi gumamku saat dia masuk ke mob

352

Bagaimana kalau aku bersungguh-sungguh, dan aku s etuju membiarkanmu mengemudi sabtu nanti? git dalam hati pada pikiran itu. Kerut diantara matanya kembali muncul saat dia sed ang mempertimbangkan tawaranku. ah beberapa saat. Sekarang untuk permintaan maafku... Aku belum per nah dengan sengaja mencoba membuat Bella terpesona, ta pi sekarang kelihatannya waktu yang tepat. Sambil meng emudikan mobilku menjauh dari sekolahan, aku menatap lekat-lekat ke dalam matanya, bertanya-tanya apa sudah melakukannya dengan benar. Aku menggunakan nada yang paling membujuk. Kalau begitu aku sangat menyesal telah membuatmu marah. Jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya, ir amanya berantakan. Matanya melebar, kelihatan seperti t erhipnotis. Aku setengah tersenyum. Sepertinya aku telah melak ukan dengan benar. Tentu saja, aku juga sulit berpaling dari matanya. Sama-sama terpesona. Untung aku sudah ha pal jalan ini. Dan aku akan tiba di depan rumahmu pagi-pagi sekal i sabtu nanti, tambahku, melengkapi permintaan maafku. Mmm, gumamny Dia mengerjap beberapa kali, dan menggoyang kepal anya seperti ingin menjenihkan isinya. a, olvo asing di halaman rumahnya. Ah, betapa masih sedikitnya pengetahuan dia tentan g diriku. Aku tidak berencana membawa mobil. Dia sudah mau akan bertanya. Bagaimanaµ rasanya tidak terlalu membantu bila Charlie melihat v Setuju, ucapnya setel Aku berjen

353

Tapi kusela duluan. Jawabannya sulit dijelaskan jik a tanpa didemonstrasikan, dan sekarang bukan waktu yan g tepat. a mobil. Jangan khawatir soal itu. Aku akan datang, tanp Dia menelengkan kepala, sesaat seperti ingin b

ertanya lebih lanjut, tapi kemudian berubah pikiran. Apakah ini sudah cukup 'nanti' seperti yang kau janj ikan? Dia mengingatkan pada pembicaraan yang belum se lesai di kafetaria tadi; dia melepas satu pertanyaan sulit hanya untuk kembali pada pertanyaan yang juga tidak me ngenakan. Kurasa sudah, jawabku enggan. Aku parkir di depan rumahnya. Mendadak aku jadi t egang memikirkan bagaimana cara menjelaskannya...tanp a membuat sifat monsterku jadi terlihat dengan jelas, ta npa membuatnya takut. Atau, apakah menutupi sifat gela pku itu salah? Dia menunggu dengan ekspresi tertarik yang sopan s eperti tadi siang. Jika aku tidak sedang gelisah, ketenan gannya yang tidak masuk akal ini pasti akan membuatku tertawa. Kau masih ingin tahu kenapa kau tidak bisa melihat ku berburu? tanyaku akhirnya. Well, aku terutama ingin tahu bagaimana reaksimu. Apa aku membuatmu takut? an menyangkal. Tidak. Aku berusaha untuk tidak tersenyum, tapi gagal. u minta maaf telah membuatmu takut. lenyap. mentara kami berburu. Pasti buruk? Membayangkannya saja sudah terlalu mengerikanµBe lla yang begitu rapuh berada di tengah kegelapan; sosok Ak Dan senyumku pun aku sangat yakin dia ak

Hanya saja, membayangkan kau ada disana... se

354

ku yang lepas kendali... Aku berusaha mengusir bayanga n itu. Sangat. Karena...? Aku mengambil napas dalam-dalam, berkonsentrasi p ada rasa haus yang membakar kerongkonganku. Merasaka nnya dalam-dalam, mengaturnya, membuktikan dominasik u atas sensasi itu. Rasa haus itu tidak akan pernah meng uasaiku lagiµkuharap itu benar-benar bisa jadi kenyataan . Aku akan jadi lebih aman untuk Bella. Kutatap awan yang menggantung di luar tanpa benar -benar menatapnya, berharap bisa percaya bahwa tekadku semata akan membuat perbedaan jika saat berburu aku me nemukan aromanya. Ketika kami berburu...kami membiarkan indra menge ndalikan diri kami. au kuucapkan. Kupertimbangkan setiap kata yang m Tanpa banyak menggunakan pikiran. Terut

ama indra penciuman kami. Kalau kau berada di dekatku ketika aku kehilangan kendali seperti itu... Aku menggeleng dengan perasaan tersiksa, membaya ngkan apa yang akanµbukan apa yang mungkin, tapi apa yang akanµpasti terjadi. Aku mendengarkan suara detak jantungnya, lalu men oleh, resah, untuk membaca matanya. Wajah Bella nampak tenang, tatapannya sungguh-sun gguh. Mulutnya sedikit mengerut µyang kuduga karenaµp rihatin. Tapi prihatin karena apa? Keamanan dirinya? At au karena kegundahanku? Aku terus menatapnya, berusah a menerjemahkan ekpresi ambigunya jadi sesuatu yang pa sti. Dia menatap balik. Matanya melebar setelah beberap a saat, dan pupilnya meluas meski cahaya disini tidak be rubah.

355

Napasku semakin cepat, dan mendadak keheningan i ni berubah. Getaran yang kurasakan siang tadi memenuhi atmosfer sekelilingku. Aliran listrik yang mengalir diant ara kami dan hasarat untuk menyentuhnya, dalam sekejap berkembang lebih kuat dari rasa hausku. Aliran listrik ini membuatku seperti memiliki denyu t jantung lagi. Tubuhku menari bersamanya, seakan aku manusia. Lebih dari apapun di dunia ini aku ingin meras akan kehangatan bibirnya di bibirku. Selama sekejap, ak u berusaha mati-matian mencari kekuatan, untuk mengont rol diriku, untuk sanggup mendekatkan bibirku ke bibirn ya... Dia menarik napasµtersendat. Dan pada saat itulah a ku sadar bahwa ketika napasku memburu, justru saat bers amaan napasnya terhenti sama sekali. Aku memejamkan mata, berusaha memutus aliran list rik diantara kami. Tidak boleh ada kesalahan. Keberadaan bella sangat bergantung pada ribuan kes eimbangan proses kimiawi yang sensitif. Semuanya sanga t mudah terganggu. Irama denyut paru-paru, aliran oksig en, adalah soal hidup-mati bagi dia. Debaran detak jantu ngnya yang rapuh bisa dihentikan begitu saja oleh berba gai macam insiden konyol atau oleh penyakit atau oleh... diriku. Semua anggota keluargaku tidak akan ragu-ragu unt uk menukarkan keabadian mereka kalau itu bisa membuat mereka menjadi manusia lagi. Mereka siap menantang ap apun, dibakar hidup-hidup selama berhari-hari atau bahk an berabad-abad bila perlu. Kebanyakan dari kaum kami menyanjung-nyanjung k eabadian melebihi apapun. Bahkan ada manusia yang men gidamkannya, yang mencari di tempat-tempat gelap untuk

356

bisa menemukan mahluk yang mau memberi mereka hadia h kegelapan itu... Bukan kami. Bukan keluargaku. Kami akan menukar apapun untuk bisa menjadi manusia lagi. Tapi, tidak satupun dari kami yang pernah seputus a sa ingin kembali seperti diriku saat ini. Aku memandangi bintik-bintik mikroskopis yang ada di kaca depan, seakan solusinya tersembunyi di situ. Get aran listrik itu masih belum lenyap, dan aku harus berko nsentrasi untuk menjaga tanganku tetap berada di kemudi . Tangan kananku mulai tersengat listrik lagi, seperti saat habis menyentuhnya. Bella, kurasa kau harus masuk sekarang. Dia langsung menurut, tanpa berkomentar, keluar da ri mobil dan menutup pintunya. Apakah dia juga merasak an kemungkinan terjadinya petaka sejelas yang kurasaka n? Apakah menyakitkan baginya untuk pergi, sama sepe rti menyakitkannya bagiku untuk membiarkan dia pergi? Satu-satunya penghibur adalah bawah aku akan segera me nemuinya. Lebih cepat dari dia akan melihatku. Aku ters enyum pada hal itu, kemudian menurunkan kaca jendela s amping dan mencondongkan tubuhku untuk bicara dengan nya sekali lagiµ sekarang sudah lebih aman, dengan keha ngatan tubuhnya di luar mobil. Dia menoleh untuk mencari tahu apa yang kumau, pe nasaran. Masih saja penasaran, meski hari ini dia sudah mena nyaiku berbagai macam pertanyaan. Rasa penasaranku se ndiri sama sekali belum terpuaskan; menjawab pertanyaa n- pertanyaannya hari ini hanya mengungkapkan rahasiak

357

uµaku tidak mendapat apa-apa dari dia kecuali dugaan be laka. Itu tidak adil. Oh, Bella? Ya? Besok giliranku. Dahinya berkerut. Bertanya padamu. Giliran apa? Besok, ketika kami berdua berada

di tempat yang lebih aman, dikelilingi saksi-saksi, aku a kan mendapat jawabanku. Aku tersenyum pada pikiran itu , lalu berpaling karena dia tidak menunjukan tanda-tanda akan beranjak. Bahkan dengan dia di luar mobil, gaung g etaran listrk itu masih menggantung di sekelilingku. Aku juga ingin keluar, untuk mengantarnya ke depan pintu se bagai alasan untuk bisa tetap di sampingnya... Tidak boleh ada kesalahan. Aku menginjak pedal gas, lalu menghela napas begit u dia hilang di belakangku. Kelihatannya aku selalu lari menuju Bella atau melarikan diri dari dia, tidak pernah t etap tinggal di tempat. Aku mesti mencari cara untuk bis a mengendalikan diriku jika mau semuanya berjalan lanc ar.

~~T A M A T~~

358

Similar Documents

Premium Essay

The Sun

...“SUN” The Sun is the star at the center of the Solar System. It is almost perfectly spherical and consists of hot plasma interwoven with magnetic fields. The Sun is a G-type main-sequence star comprising about 99.86% of the total mass of the Solar System. The Sun consists of plasma and is not solid. It rotates faster at its equator than at its poles. This behavior is known as differential rotation, and is caused by convection in the Sun and the movement of mass. The Sun is a Population I or heavy element-rich star.  The formation of the Sun may have been triggered by shockwaves from one or more supernovas. The Sun does not have a definite boundary as rocky planets do. Through most of the Sun's life, energy is produced by nuclear fusion through a series of steps called the proton–proton chain. This process converts hydrogen into helium. The Sun is a magnetically active star that supports a strong, changing magnetic field that varies year to year and reverses direction about every eleven years around solar maximum. The Sun's magnetic field leads to many effects that are called solar activity which carries material through the Solar System. Solar activity changes the structure of Earth's outer atmosphere. All matter in the Sun is in the form of gas and plasma because of its high temperatures. This makes it possible for the Sun to rotate faster at its equator than it does at higher latitudes. The Sun was formed about 4.57 billion years ago from the......

Words: 894 - Pages: 4

Free Essay

Midnight Sun

...The midnight sun is a natural phenomenon occurring in summer months at places north of the Arctic Circle and south of the Antarctic Circle where the sun remains visible at the local midnight. Around the solstice (June 21 in the north and December 21 in the south) and given fair weather the sun is visible for the full 24 hours. The number of days per year with potential midnight sun increases the farther towards either pole one goes. Although approximately defined by the polar circles, in practice midnight sun can be seen as much as 90 km outside the polar circle, as described below, and the exact latitudes of the farthest reaches of midnight sun depend on topography and vary slightly year-to-year. There are no permanent human settlements south of the Antarctic Circle, so the countries and territories whose populations experience it are limited to the ones crossed by the Arctic Circle, e.g. Canada (Yukon, Northwest Territories, and Nunavut), Denmark (Greenland), Finland, Sápmi, Norway, Russia, Sweden, the United States (Alaska), and extremities of Iceland. A quarter of Finland's territory lies north of the Arctic Circle and at the country's northernmost point the sun does not set at all for 60 days during summer. In Svalbard, Norway, the northernmost inhabited region of Europe, there is no sunset from approximately 19 April to 23 August. The extreme sites are the poles where the sun can be continuously visible for a half year. The opposite phenomenon, polar night,......

Words: 514 - Pages: 3

Free Essay

Sun Microsystems

... and Scott McNealy founded Sun Microsystems in 1982 with the intention of selling low-cost, high- performance desktop computers running the UNIX operating system. These computer workstations found instant acceptance among scientists, engineers, and software developers who benefited from having dedicated machines, rather than sharing costly minicomputers or mainframe computer systems. Sun Microsystems did not have revenue from other sources to fund the research and development of its computer workstations. To develop a hardware-manufacturing infrastructure and to attract top-flight hardware and software engineers, Sun Microsystems needed hundreds of millions of dollars in start up costs as well as large purchase agreements. In 1983, Sun Microsystems signed a multimillion-dollar original equipment manufacturer (OEM) agreement with Computervision Corporation. Shortly after, Sun Microsystems signed large OEMs with Eastman Kodak Corporation, AT&T Corporation, and Xerox Corporation. The OEMs for which Sun Microsystems built computers that sold the workstations under their own labels brought the company strong revenue and profit growth. Sun Microsystems passed $1 billion in annual sales in 1988, just six years after start-up. Only Compaq Computer Corporation had reached the billion-dollar mark faster. In an effort to overcome some of the problems associated with networking different manufacturers’ machines while running different operating systems, Sun Microsystems introduced......

Words: 1141 - Pages: 5

Free Essay

Midnight on the Motorcycle

...Midnight on the Motorcycle August 24, 2013 at 12:54am Midnight on the Highway, foggy lens, lonely road The wind is cold, my face is dry and black the color code. I stopped near a raging stream, lit a cigarette to calm my pensive mood The tree toad echoed its song, the steaming Enfield engine and its machine mode. An Old Man in a tattered rag, sleeping by the road side... Looked longingly at my fire and joined me on that highway divide As the smoke blew in the air, and its perfume my honey guide The phantom smiled its toothless snide and melted into the night. And there I stood on that lonely road casting my shadow by the red tail light And the red glowing stars, in the purple sky, casting mirrors in the stream site. And the faint smell of whisky still drifting in the air Made me long for my sweetheart and how in her eyes I could forever stare. Midnight on the highway, the tune of a song on my lips I whistle on this lonely road, my wheels crushing a few tobacco thrips. Crossing each dead man's turn I get further away from my home Thinking of friends some dead, some gone and most who left me alone. The hilt of my knife sits cold by my waist, the cold steel my constant friend The blade I have sharpened this twilight, fit to make its cold descend. It shall not feed I think tonight, at least, it is what I shall for the moment pretend I have had more than my share of misfortunes and dealt many a bitter end. The roaring engine tears through the......

Words: 325 - Pages: 2

Free Essay

Earth Sun

...LECTURE 2 Earth-Sun Relationships and Illumination of the Globe I. Earth-Sun Relationships: Why we have to understand? Because by understanding earth-sun relationships one will be able to determine the apparent path of the sun in the sky, the angles at which sun's ray (light) strike, the lengths of day and night, and the occurence of seasons. The earth is turning on its axis at the same time that it is moving in a path about the sun, and because the earth's axis is tilted with respect to the plane of its orbit, therefore, it will be much easier for us to view these relationships in 3-dimension, or to view the earth from space. II. Motion of the Earth: Rotation and Revolution A. Rotation: The spinning of the earth on its polar axis. Direction of Rotation: is from west to east (eastward), eastward rotation of the earth. Looking down upon the North Pole - it is counterclockwise rotation; clockwise movement on the South Pole. Time of Rotation: Mean Solar Day - consisting of 24 mean solar hours, it is the average time required for the earth to make one complete turn (rotation) in respect to the sun. Velocity of Rotation: rate of travel of a point on the earth's surface in a circular path due to rotation. Angular velocity (constant on earth) and linear velocity. Equator: 25,000 miles / 24 hrs = 1050 miles / hr 40,000 km/24 hrs = 1700 km/ hr 60 N & S = 525 miles / hr = 850 km / hr 90 N & S = 0 mile / hr We are unaware of this motion because......

Words: 1725 - Pages: 7

Premium Essay

Sun Tzu

...Ancient Theories for a Modern Strategy There are numerous books on warfare but not many that have been relevant for two and a half thousand years. Sun Tzu was a general in the Kingdom of Wu in China around 490BC. His text was translated from Chinese to French in 1782 and it has been suggested that it was the key to Napoleon's success. To this day, military strategists around the world have used Sun Tzu’s philosophies to win wars and have made Sun Tzu on the Art of War a staple of their military education. Sun Tzu’s theories on war are timeless to both military and civilian strategists. His theories are as relevant today as they were in 500 B.C. Sun Tzu’s work covers all levels and spectrum of war. It provides fairly simple but applicable guidance from tactical aspects for the commander in the battlefield for waging war to strategic deliberations in the council chambers as to whether or not to wage war.( Cook,99) The principles that lie buried in the text of The Art of War have been used successfully in countless battles throughout time. Speed was an essential facet in the victories of Genghis Khan and his Mongolian horde. Controlling their enemies by the skillful use of alliances allowed the Romans to expand and maintain their empire. Secrecy and deception were used in major World War II battles, both by the Japanese in their attack on Pearl Harbor and by the Allies to mislead the Germans about the exact location of their invasion of France. The use of......

Words: 702 - Pages: 3

Free Essay

A Raisin in the Sun

...LORRAINE ANSBERRY H A Raisinin the Sun Characters RUTH YOUNGER TRAVIS YOUNGER WALTER LEE YOUNGER (BROTHER) BENEATHA YOUNGER LENA YOUNGER (MAMA) JOSEPH ASAGAI GEORGE MURCHISON MRS. JOHNSON KARL LINDNER BOBO MOVING MEN The action of the playis set in Chicago's side, sometime South between World War II and thepresent. Act I Scene I Friday morning. Scene II Thefollowing morning. Act II Scene I Later, thesame day. Scene II Friday night, a few later. weeks Scene III Moving day, one later. week Act III An hour later. ACT I SCENEI The YOUNGER living room would comfortable wellbe a and ordered roomifitwere for a not number of indestructible contradictions to this stateofbeing. furnishings andunIts typical are 486 Lorraine Hansberry distinguished and their primary feature now is that they have clearly had to accommodate the livingof too many people too for many years—and they aretired.Still,we can seethatatsome time, a time probably no longer rememberedby the (except perfamily haps for MAMA),the furnishings this room were actually selected of with care and love and even hope—and brought tothis apartment and arranged with taste and pride. That was a long time ago. Now the once loved patternof the couch upholstery has to fight to show from under of itself acres crocheted doilies and couch covers which have themselvesfinally come to be more important than the upholstery. And hereatable or a chair has been moved to disguisetheworn places thecarpet; in but the......

Words: 30520 - Pages: 123

Free Essay

Midnight in Paris

...Frank Vargas Professor Beverly Whitson English 52 24 March 2014 The Era We Live In What’s one of the worst parts about living life? It can be not being able to find that one true love in life, or even living with regret in your heart. I always hear conversations about people being together with a person they don’t love, or people talking about something they wish they could have done when they had the chance, but were too concerned about another factor in their lives, now having to live life full of regrets. Like Gil Pender says, “That’s just the era we line in…” In the 2011 film, Midnight In Paris, written and directed by Woody Allen, tells the story of Gil Pender’s, played by Owen Wilson, longing for self-fulfillment and his love for historical 1920’s Paris, France. The film also stars veteran actress, Rachael McAdams, playing Gil’s significant other, Inez. The film starts off with Gil and Inez, two engaged Americans in modern Paris having a little vacation. On a lonesome late night stroll, Gil finds himself lost in the backstreets of Paris and sees an old car from the 20’s drive up to him with open doors. Ready for an adventure in Paris he decides to get into the vehicle. Little does he know that he just stepped into a time portal transporting Gil back to the wonderful times of 1920’s Paris. Confused and full of awe, he assures himself that, “He was born too late.” While trying to figure out where he is, he runs into another young American couple, Zelda and Scott......

Words: 2167 - Pages: 9

Premium Essay

Midnight in the Cemetery

...a fruit, because Honeydew you know how fine you look right now? Does your left eye hurt? Because you've been looking right all day. I will stop loving you when an apple grows from a mango tree on the 30th of February. Do you live in a corn field, cause I'm stalking you. Sorry, but you owe me a drink. [Why?] Because when I looked at you, I dropped mine. Are you a parking ticket? 'Cause you've got fine written all over you. You look cold. Want to use me as a blanket? Can I have directions? [To where?] To your heart. I'm not drunk, I'm just intoxicated by YOU. I was so enchanted by your beauty that I ran into that wall over there. So I'm going to need your name and number for insurance purposes. Babe, your beauty makes the morning sun look like the dull glimmer of the moon. I'm not staring at your boobs. I'm staring at your heart. You're the only girl I love now... but in ten years, I'll love another girl. She'll call you 'Mommy.' Can I take your picture to prove to all my friends that angels do exist? I tried my best to not feel anything for you. Guess what? I failed. Your body is 65% water and I'm thirsty. Hey, don't frown. You never know who could be falling in love with your smile. My doctor says I'm lacking Vitamin U. Have you been to the doctor lately? Cause I think you're lacking some Vitamin Me. Forget about Spiderman, Superman, and Batman. I'll be your man. Can I follow you home? Cause my parents always told me to follow my dreams. Because of you, I...

Words: 4737 - Pages: 19

Premium Essay

Overexposure to the Sun

...Overexposure to the sun is a significant global health issue. The atmosphere provides a natural protection against harmful ultraviolet (UV) rays that are emitted by the sun. However, depletion of the ozone layer has decreased that natural protection, leading to many health problems as a result (United States Environmental Protection Agency, 2010). Skin cancers, premature aging, cataracts and other eye damage, and problems with the immune system are all problems associated with overexposure to the sun. Anthropologists have theorized since 1934 that human skin color “is an evolutionary adaption to UV exposure” (Weishaar, 2013). The notion that the human race’s ancestors had darker skin because they lived near the equator, protecting them against the harmful effects of high UV levels, was made as an explanation as to how overexposure to the sun became a problem over time. Tom Weishaar, member of the Department of Health and Behavior Sutdies, explains that the migration of humans away from the equator resulted in lighter hues in skin color and a lack of adequate vitamin D synthesis in the skin, making them more at risk for health problems associated with overexposure. He further explains that the result is that individuals with darker skin are at risk in areas where there are lower levels of UV exposure and that, adversely, those with lighter skin are more at risk in areas with higher levels of UV exposure. The suggestion was made that public health professionals globally...

Words: 1212 - Pages: 5

Premium Essay

Sun Brewing (a)

...Q1-1.What situation was Khemka family involve during the case? SUN Brewing was founded in 1992 by Shiv Khemka with Nand, his father, and his brother, Uday. The situation is set in March 1999, when the company was facing a major crisis. In 1998, the family had been planning to raise a $200-$400 million through equity and debt offering for the company on the NYSE (New York Stock Exchange), in aim to finance major investments because of the increasing competition from international beer companies in the Russian market. In August 1998, there was a massive devaluation of the rouble that led to a 90% decrease in the stock price of SUN Brewing listed on the Luxembourg stock exchange. The proposed NYSE listings have then been cancelled and there is a $40 million bridge loan outstanding that now needs to be repaid. Q1-2.What other options could they choose originally? Bring another strategic partner (and idea originally dismissed because the family didn’t want their power over the company threatened) Reinvest from the family pool (that option was highly overlook because the family already budgeted the project and they prefer to ensure a backstop reserve of capital for preservation and discipline, also for the family reputation. Quit the business (seriously consider if the best options for them is to move on to new opportunities in other industries. Q2.Why there are different financing ways in each period? There are many different stages of financing and......

Words: 1038 - Pages: 5

Free Essay

Observing the Sun

...Observing Surface Features of the Sun for Amateur Astronomers Nikhil Anand Mustafa Shahid B.Tech Aerospace Engineering, IV Sem Indian Institute of Space Science and Technology Email: nikhil.myindia@gmail.com B.Tech Avioncs, IV Sem Indian Institute of Space Science and Technology Email: mustafashahid4@googlemail.com Abstract—Viewing the sun through a telescope is a very underrated astronomical practice. This paper will focus in detail on the relevance and significance of observing the sun. The various features on the sun are explained along with appropriate methodologies for safely viewing them. Three techniques are deployed to safely observe the sun. Further scope and interpretations of this experiment are also discussed. I. I NTRODUCTION Looking at the sun with naked eyes can be extremely dangerous, but with the right equipment, several interesting features of the sun can be revealed. Some of the notable features include sunspots, granulation and corona of the sun. To view the surface, three techniques are used. each has its own advantage. A. Surface features 1) Sun Spots : Sunspots are temporary phenomena on the photosphere of the Sun that appear visibly as dark spots on the surface. They correspond to concentrations of magnetic field that inhibit convection and result in reduced surface temperature compared to the surrounding photosphere. Sunspots usually appear as pairs, with each spot having the opposite magnetic polarity of the......

Words: 1157 - Pages: 5

Premium Essay

Death at Midnight

...| Death at Midnight: Confessions of an Executioner | Book Project | | | | | The book Death at Midnight the Confession of an Executioner is an autobiography by Donald A. Cabana. The story is about the life of a college graduate who rose to the position of warden at Parchman. At the beginning of his career in criminal justice, Cabana quickly learned the harsh reality of his occupation. Cabana experienced confrontations with both workers and convicts. Cabana's honest and forward-thinking approach to law enforcement caused him to be temporarily fired from his job at Parchman. Cabana returned years later as warden and was finally able to make the necessary adjustments. Unfortunately, the death penalty had once again gained legality a short time before Cabana's rise to power. As warden, Cabana was forced to execute two men. Cabana, uncomfortable with the idea of sentencing young men to death, began to question his beliefs on the criminal justice system. After the execution of Cabana's friend Connie Ray Evans, Donald Cabana retired from the position of warden. Donald Cabana now spends his time teaching at the University of Southern Mississippi. In the book, Cabana mentions frequently the corruption of politics. A prime example of such corruption in the penal system is when Warden John Collier leaves Parchment. The next warden, a good one, had to quit because he refused to do what the politicians wanted him to do. Another example is when Cabana explains the......

Words: 1310 - Pages: 6

Free Essay

Reverie of Midnights' Series

...their branches as the cool zephyr danced with them, the humming of the swallows as they swoop down the meadows of fresh-looking daisies gently kissed by the warm rays of the sun, and the splashing of crystal clear waters on the rocks, stones, and pebbles on the shore six yards away from us. I stood up and said, “It’s nice to strive hard to live especially when the surroundings is like this, right?” I turned to her with a smiling face. She was about to say something when I added, “But we’re humans. We are but passers of this wonderful world. We’re here today and gone tomorrow. Whether we like it or not, the time of leaving and bidding everyone goodbye will just come...and all we are left to do is to thank the people we met along the roads of our journey.” Rose noticed that I was already speaking of my “Mí Ultimo Adiós”. “Thank you,” I said. “For what?” she replied. “For having met you. Thank you very much. You’ve played an important role in my life. Thanks for all those times. Somehow, I’m glad I’ve met and known a person like you. I love you! You know that well,” I added and smiled. I then sat back down again beside her and held her left hand like lovers holding each other’s hands. “It’s tiresome,” I told her. Then, I laid my head on her shoulder and hers on my head. I spoke once again, “Though the sun sets and hides below the horizons, you can still see its rays reaching above shining still. It somehow reminds us its significance that it had brought light to the world,”......

Words: 3910 - Pages: 16

Free Essay

The Attention Grabbers of Midnight Cowboy

...Karlee Folk ENGL-126 - 002W - Film & Literature June 7th 2012 The opening scene of midnight cowboy does an extremely good job of out lining what the story of the film will be about. With the use of different visual effects of the shots throughout the movie they display the main focus points that will be important during this movie. The movie gives the viewers the main key elements of the movie in the first couple scenes. For example, the main characters name repeated “where’s that Joe Buck.” Or the emphasis on the “cowboy” features in his outfit from head to toe. Finally the almost arrogant or cocky like attitude given through his singing to himself through the mirror. These main points are not only obvious but the lighting and visual distance from the camera highlight’s these key points even more. With the key point given to the viewers the plot is able to be narrowed in by the end of the opening scene. With this done there is no hidden agenda that the director is trying to have and the viewers are never left out of what this film will be about. They are able to outline the plot an follow the plot while watching this movie. One of the main features this movie uses to its advantage is a close up. This is where the shot is close up to a person or an object (Petrie, G-2). Midnight cowboy uses this most while emphasizing on the cowboy features that Joe Buck was wearing. A close up was done as he carefully placed the black hat with a gold band on his head. Another......

Words: 857 - Pages: 4