Free Essay

Pengaruh Penduduk Pendatang Bagi Kelangsungan Hidup Kota Jakarta Pada Tahun 2012

In: Social Issues

Submitted By fiska
Words 5259
Pages 22
Bakrie University | Fiska J

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sejak zaman orde baru pembangunan di Indonesia sudah mulai mengalami banyak kemajuan yang sangat signifikan khususnya Jakarta karena pada saat itu pemerintah menggunakaan sistem sentralisasi yaitu menempatkan Jakarta sebagai pusat pembangunan modern di Indonesia. Disaat Jakarta tumbuh sebagai kota yang modern, kota-kota lain disekitarnya terutama daerah di luar Pulau Jawa. Karena itu banyak penduduk dari kota lain yang berkeinginan untuk berkunjung ke Jakarta untuk sekedar wisata, bahkan untuk menyambung hidup. Banyaknya penduduk kota lain yang masuk ke Jakarta menimbulkan permasalahan baik bagi penduduk tersebut maupun bagi kota Jakarta sendiri. Jakarta dianggap sebagai kota yang pas untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ditempat mereka terdahulu. Menurut badan kependudukan di Jakarta, jumlah penduduk pada tahun 2010 mencapai 9607787 jiwa1 hampir seperempat dari penduduk Indonesia yang mencapai 241 juta jiwa2.
Urbanisasi tidak dapat dihindari dari Indonesia yang dulunya menganut sistem sentralisasi. Pembangunan di pusat lebih diutamakan dari pembangunan didaerah. Karena itu walaupun Indonesia mempunyai sistem pembangunan sebagai bagian dari kemajuan bangsa, yang dimajukan hanyalah daerah pusat atau pulau jawa. Sekarang perkembangan dipulau jawa sudah sangat pesat berbeda dengan pembangunan di pulau lain seperti Papua, Kalimantan dan
Sulawesi. Daerah-daerah ini masih menggunakan pertanian dan pertambangan sebagai tumpuan utama perekonomian mereka. Dengan pengalihan lahan yang semakin sering dilakukan oleh pemerintah, semakin berkurang lahan mereka untuk bekerja, karena itu sebagai salah satu jalan untuk mendapatkan pekerjaan mereka pergi kekota.
Masyarakat yang kekota bukan hanya karena mereka ingin bekerja, ada penduduk pendatang yang bertujuan untuk menuntut ilmu. Jakarta merupakan tempat banyaknya
1

http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/id/demografipendudukjkel.php?ia=31&is=37 (akses 22 januari 2013 pukul 11:06)
2
http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=44150 (akses 22 Januari 2013 pukul 11:23)

1

Bakrie University | Fiska J

universitas negeri dan swasta ternama, dekat dengan pusat kota dan pemerintahan serta mudah untuk akses ke luar negeri seperti beasiswa dan lain-lain. Karena itu kota Jakarta semain padat dengan dibangunnya rumah kost, kontrakan dan komplek yang baru untuk para pendatang ini.
Tetapi para pendatang ini sudah mempunyai bekal untuk meniti kehidupannya di Jakarta, berbeda dengan penduduk urbanisasi dari desa. Mereka biasanya termotivasi untuk bekerja apa saja dan mempunyai pandangan bahwa orang kota pasti lebih sejahtera daripada penduduk di desa. Kepadatan penduduk terjadi karena adanya hubungan antara penduduk dan tata ruang kota. Penduduk dikonotasikan sebagai orang atau orang-orang yang mendiami suatu tempat, kampung, wilayah atau negeri, dan merupakan aset pembangunan atau sering disebut sumber daya manusia (SDA). Variabel-variabel dalam problema kependudukan sangatlah kompleks, meliputi penduduk itu sendiri, kemiskinan, kesempatan kerja, permukiman, kesehatan, gizi pendidikan, kejahatan, pencemaran lingkungan, krisis ekonomi, kelaparan, sandang, air bersih, kebodohan, keterbelakangan, fasilitas umum (fasum), fasilitas sosial (fasos).
Sedangkan tata ruang kota dan wilayah, menurut Slamet Darwani, adalah menentukan, merencanakan, dan memastikan bagaimana penggunaan ruang secara proporsional sehingga area yang ada di Jakarta dapat memenuhi aspek kegiatan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup pada kawasan kota tersebut ketiga aspek tesebut sangat penting bagi keamanan, kesejahteraan, dan kemajuan pada masyarakat yang tinggal pada kawasan tersebut. Tata ruang kota berperan aktif dalam membentuk pemukiman yang bersih dan rapih. Namun seperti kita ketahui, tata ruang kota di Jakarta menjadi sangat “amburadul”. Lahan yang seharusnya hanya dapat ditempati untuk satu rumah, bisa ditempati oleh tiga hingga empat rumah. Sehingga jarak antar rumah sudah tidak ada lagi dan pemukiman warga menjadi kumuh. Jika kita melihat keadaan Jakarta dari satelit, maka akan terlihat betapa tidak teraturnya susunan rumah penduduk Jakarta.
Selain itu masalah yang sering timbul pada kota yang dikenal sebagai salah satu kota terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 10 juta jiwa ini adalah masih lambannya Pemprov DKI Jakarta dalam hal penyediaan infrastruktur kota yang tidak selalu sejalan dengan laju pertumbuhan kota yang pesat. Seperti ketidakmampuan Pemprov
DKI Jakarta dalam hal memberikan pelayanan transportasi yang aman dan nyaman sehingga

2

Bakrie University | Fiska J

banyak masyarakat yang beralih ke kendaraan pribadi. Alhasil tindakan tersebut menimbulkan persoalan klasik kota Jakarta yaitu kemacetan.
Dewasa ini, kita sering mendengar berbagai masalah mengenai ibukota negara Indonesia, jakarta. Pertumbuhan populasi manusia di DKI talah memunculkan berbagai masalah, seperti pencemaran atau polusi, banjir, sampah, air bersih, transportasi, perumahan atau tempat tinggal, dan kebakaran, yang kesemuanya dapat berdampak pada kesehatan, baik kesehatan manusia maupun kesehatan lingkungan. Pemerintah pun juga sudah berupaya untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut seperti pembangunan banjir kanal, penggunaan teknologi pengolahan sampah, teknologi informasi untuk mitigasi bencana, penggunaan teknologi untuk mengurangi dampak polusi, dan lain sebagainya.

1.2 Relevansi Kasus
1. Urbanisasi merupakan permasalahan penduduk yang belum dapat diselesaikan oleh pemerintah DKI Jakarta. Urbanisasi menyebabkan ketimpangan jumlah penduduk antara kota dan desa dan menyebabkan ketidakseimbangan antara luas daerah dengan jumlah penduduk yang menempatinya.
2. Urbanisasi terjadi karena adanya industrialisasi pembangunan yang dilakukan di kota
Jakarta. Banyaknya gedung-gedung, pabrik-pabrik yang berdiri di Jakarta pasti membutuhkan banyak tenaga kerja seperti tukang bangunan, buruh pabrik dan pelayan.
Tetapi semakin banyak penduduk yang datang semakin sedikit kuota pekerjaan yang dimiliki oleh Jakarta sehingga banyak penduduk yang menganggur.
3. Terlalu banyak penduduk bisa menyebabkan ekonomi menjadi tidak stabil. Para pekerja saling bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang jumlahnya tidak setara dengan jumlah calon pekerja yang ada. Para pengangguran ini biasanya kurang mendapatkan pendidikan dan pelatihan karena itu kurang bisa bersaing dengan orang lain yang lebih ahli dari mereka. 4. Pendidikan dan pelatihan yang kurang menempatkan masyarakat tersebut kedalam kelas sosial menengah kebawah. Mereka yang kurang bersaing membangun tempat tinggal seadanya dan hidup dengan keadaan yang serba pas-pasan bahkan kekurangan. Di

3

Bakrie University | Fiska J

Jakarta, penduduk yang kelas bawah ini membangun rumah liar disekitar sungai, jalanjalan dan di bawah jembatan.
5. Banyaknya rumah liar yang dibangun membuat lingkungan menjadi tidak stabil. Banyak warga yang membuang sampah disekitar sungai, melakukan MCK di sungai, dan menebang pohon untuk menjadikan bahan membuat rumah mereka.

1.3 Rumusan Masalah
1. Mengapa penduduk di luar Jakarta memilih untuk berurbanisasi ke Jakarta?
2. Bagaimanakah kesempatan kerja penduduk pendatang tersebut di Jakarta?
3. Mengapa banyak pendatang yang tidak mendapatkan kesempatan kerja di Jakarta?
4. Seperti apa kehidupan mereka setelah gagal bersaing dengan penduduk Jakarta?
5. Apa dampak datangnya penduduk tersebut terhadap lingkungan di Jakarta?

4

Bakrie University | Fiska J

BAB II
KERANGKA TEORITIS

2.1 Perubahan Sosial
(untuk menganalisis perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat terkait dengan modernitas, urbanisasi dan isu lingkungan)
Perubahan sosial merupakan perubahan budaya dan institusi sosial yang terjadi dari waktu ke waktu.3 Terdapat empat karakteristik utama di dalam proses perubahan sosial, yaitu4:
1. Perubahan sosial terjadi setiap waktu
2. Perubahan sosial adalah sesuatu yang disengaja, tetapi sering kali tidak direncanakan
3. Perubahan sosial itu controversial
4. Beberapa perubahan lebih penting daripada yang lain
Konsep pokok perubahan social adalah modernitas. Modernitas merupakan proses sistematik. Modernitas melibatkan perubahan pada hampir segala aspek tingkah laku sosial, termasuk didalamnya adalah proses industrialisasi, urbanisasi, sentralisasi, dan sebagainya.5
Urbanisasi adalah pemusatan penduduk ke kota. Urbanisasi membagi populasi kedalam sebuah masyarakat dan mengubah banyak pola yang ada di kehidupan social.6 Urbanisasi yang berlebihan menimbulkan perubahan kearah negatife, seperti masalah keadaan lingkungan.
Keadaan lingkungan merupakan isu sosial karena merefleksikan bagaimana manusia mengatur kehidupan sosialnya. Isu lingkungan yang ada meliputi7:


Membuang limbah padat



Melindungi kualitas air dan udara



Melindungi hutan hujan
3

John C. Macionis, Sociology, edisi ke-13, (New Jersey: Pearson Education, 2010), halaman 627.
Ibid.
5
Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial, edisi pertama, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), halaman 58.
6
John C. Marcionis, Op.Cit., halaman 575.
7
Ibid., halaman 597.
4

5

Bakrie University | Fiska J



Lingkungan rasisme

2.2 Ekonomi dan Kerja
(untuk menganalisis dinamika kepadatan penduduk terhadap perekonomian di Kota Jakarta)
Ekonomi adalah institusi sosial yang mengatur proses produksi, distribusi, konsumsi barang dan jasa kepada masyarakat.8 Ekonomi tidak akan lepas dari istilah kerja, yaitu suatu jenis kegiatan khusus, yang bisa dibedakan dengan kegiatan-kegiatan lain baik dalam ruang maupun waktunya.9

2.3 Stratifikasi Sosial
(untuk menganalisis timbulnya stratifikasi sosial antara penduduk kelas bawah dengan penduduk kelas atas)
Stratifikasi sosial menurut Pitrim A. Sorokin adalah pembedaaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat, yang diwujudkan dalam kelas tinggi, kelas sedang, dan kelas rendah dengan ditandai oleh adanya ketidakseimbangan dalam pembagian antara hak dan kewajiban serta tanggung jawabindividu dan kelompok di dalam suatu sistem sosial.10 Elemen didalam struktur social meliputi11:

8

John C. Macionis, Sociology, edisi ke-13, (New Jersey: Pearson Education, 2010), halaman 412.
Peter Worsley et.al, Pengantar Sosiologi, Sebuah Pembanding, (Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 1992), halaman 276.
10
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/1966042519920329

ELLY_MALIHAH/POKOK_MATERI_SOSIOLOGI,_ELLY_M/8._STRATIFIKASI_SOSIAL_DAN_DIFERESI
ASI_SOSIAL_%28rev%29.pdf, (akses 21 Januari 2013 pukul 13.14)
11

Ibid.

6

Bakrie University | Fiska J

a. Status social (kedudukan social), posisi seseorang secara individual sekelompok orang dalam pelapisan social tertentu secara hierarki (berlapis-lapis dari atas kebawah atau sebaliknya).
Berdasarkan cara perolehannya, kedudukan dibagi menjadi:


ascribed status: status yang diperoleh secara alamiah, memperolehnya tanpa melalui usaha, tetapi diperoleh sejak lahir.



achieved status: status social yang diperoleh melalui usaha-usaha tertentu sehingga melalui usahanya dapat mendapatkan posisi tertentu.



assigned status: status social yang diterima oleh seseorang atau sekelompok orang karena pemberian.

b. Peran social (role), merupakan seperangkat harapan terhadap seseorang atau sekelompok orang untuk menempati posisi atau status social tertentu.
c. Kelompok social (social group), merupakan sejumlah orang yang hidup bersama dalam suatu area tertentu secara permanen yang memiliki seperangkat tatanan norma, nilai, dan harapan yang sama dan secara sadar dan teratur saling berinteraksi. d. Lembaga social (social institution), merupakan pola organisasi kepercayaan dan perilaku yang terpusatkan pada kebutuhan dasar social.
Sifat sistem stratifikasi sosial meliputi12:
1. Tertutup (closed social stratification), membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan kelapisan yang lain, baik yang merupakan gerak keatas atau kebawah.
2. Terbuka (opened social stratification), setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau, bagi mereka yang tidak beruntung, untuk jatuh dari lapisan yang atas kelapisan dibawahnya.

2.4 Pemerintah
(untuk menganalisis peran serta pemerintah terhadap urbanisasi)
12

http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/387/jbptunikompp-gdl-inggarpray-19318-9-bab9-st-l.pdf (akses 21
Januari 2013 pukul 08.20)

7

Bakrie University | Fiska J

Pemerintah dengan segala regulasinya memiliki wewenang untuk mengatur dan menertibkan urbanisasi yang berlangsung.

8

Bakrie University | Fiska J

BAB III
ANALISA STUDI KASUS

3.1 “Magnet” Kota Jakarta bagi Penduduk Pendatang
Jakarta merupakan ibukota Negara, dimana segala kegiatan baik ekonomi, politik, maupun pemerintahan terpusat di kota ini. Hal tersebut membuat penduduk luar Jakarta tertarik untuk mencoba peruntungan di kota yang biasa disebut kota metropolitan ini. Kedatangan penduduk luar ke Jakarta merupakan refleksi dari urbanisasi yang merupakan pemusatan penduduk ke kota. Urbanisasi membagi populasi kedalam sebuah masyarakat dan mengubah banyak pola yang ada di kehidupan sosial.13 Urbanisasi menyebabkan peningkatan jumlah penduduk di kota Jakarta, karena setiap tahunnya penduduk luar berdatangan ke Jakarta dan membawa serta sanak saudaranya.
Alasan yang melatarbelakangi terjadinya urbanisasi pun beragam. Salah satunya adalah perubahan sosial yang berbentuk perubahan pola pikir, yaitu dari pola pikir masyarakat desa menuju ke masyarakat modern. Pendidikan yang dahulunya dinomor duakan pun mendapatkan perhatian khusus, terbukti dengan banyaknya anak usia sekolah yang berdatangan ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya. Mereka berfikir bahwa pendidikan di kota lebih baik dan lebih bermutu jika dibandingkan dengan di daerah. Sebagai pusat kota, Jakarta memang memiliki banyak sekolah dan universitas ternama yang namanya sudah dikenal di penjuru Indonesia.
Peluang kerja yang ditawarkan di kota Jakarta pun lebih terbuka lebar dan untuk membuat usaha kecil-kecilan memiliki peluang yang besar. Bagaimana tidak? Di Jakarta ada ratusan bahkan ribuan perusahaan, pabrik dan tempat usaha lainnya yang siap menerima pekerja.
Hal itu tentunya tidak akan disia-siakan oleh pendatang yang notabenenya memang membutuhkan pekerjaan.
Upah Minimum Regional (UMR) pekerja yang tinggi membuat penduduk di daerah tertarik untuk bekerja di Jakarta. Dibandingkan dengan UMR di daerah lain, seperti Lampung
13

John C. Macionis, Sociology, edisi ke-13, (New Jersey: Pearson Education, 2010), halaman 575.

9

Bakrie University | Fiska J

yang mempunyai UMR sebesar Rp.1.043.181, DI Yogyakarta sebesar Rp.892.660, dan Jawa
Barat sebesar Rp.1.236.991, kota Jakarta memiliki UMR tertinggi yaitu sebesar Rp.1.529.150.14
Hal itulah yang menyebabkan banyak penduduk pendatang yang ingin bekerja di Jakarta.
Apalagi saat ini, sektor industri sedang mengalami pertumbuhan besar-besaran.
Bermunculannya mall-mall dan tempat rekreasi menambah deret panjang daya tarik
Jakarta bagi para penduduk pendatang. Jika biasanya didaerah, penduduk pendatang hanya dapat berbelanja di warung atau pasar tradisional yang pemenuhan akan barang-barang kebutuhan rendah, dengan hidup dikota, penduduk pendatang dapat dengan mudahnya berbelanja di mallmall atau supermarket yang menyebar luas di Jakarta dan pemenuhan akan barang-barang kebutuhan pun tinggi. Tempat rekreasi yang memberikan banyak hiburan membuat penduduk luar semakin tertarik untuk tinggal di Jakarta.
Di daerah perkotaan, seseorang bebas untuk memilih dan menyuarakan pendapatnya dengan terbuka, karena hak-hak pribadi atau individu sangat dijunjung tinggi. Hal ini karena, tiap individu memiliki tujuan dan pandangan yang berbeda.

3.2 Kesempatan Kerja Penduduk Pendatang di Jakarta
Pada asasnya ada dua cara untuk meluaskan kesempatan kerja, yaitu15:
1. Pengembangan industri, terutama jenis industri yang bersifat padat karya (labourintensive) yang dapat menyerap relative banyak tenaga kerja dalam proses produksi
(produksi-absorptive), dan
2. Melalui berbagai proyek pekerjaan umum seperti pembuatan jalan, saluran air, bendungan, jembatan, dan sebagainya.
Penciptaan lapangan kerja dan peningkatan produktivitas di sektor-sektor kegiatan yang makin meluas akan menambah pendapatan bagi sebagian penduduk yang bersangkutan.
Kebijaksanaan yang diarahkan pada pada perluasan kesempatan kerja dan peningkatan

14

http://leopratama.com/UMR%20Indonesia%202012.pdf, (akses 27 Januari 2013 pukul 15.12)
Ninik Widiyanti, Masalah Penduduk Kini dan Mendatang, edisi pertama, (Jakarta: PT Pradnya Paramita,
1987), halaman 106.
15

10

Bakrie University | Fiska J

produktivitas tenaga kerja harus dilihat dalam hubungan dengan kebijaksanaan yang menyangkut perataan pendapatan dalam masyarakat.16
Hasil survey BPS tahun 2008 mencatat, terdapat 1.866 perusahaan dengan daya serap tenaga kerja sebanyak 351.084 orang.17 Sedangkan untuk tenaga kerja itu sendiri, pada tahun
2009 jumlah Angkatan Kerja sebesar 4,69 juta orang dan Bukan Angkatan Kerja 2,35 juta orang.
Selanjutnya dari Angkatan Kerja tersebut terdapat penduduk bekerja sebanyak 4,12 juta orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 569 ribu orang. Kebanyakan dari mereka berkecimpung di sector perdagangan atau hotel dan restoran, jasa dan industry, masing-masing sebesar 36,83 persen, 24,52 persen, dan 16,22 persen. Jika diamati berdasarkan status pekerjaanya ada sebesar
57,72 persen sebagai buruh, sementara dengan status pengusaha sebesar 35,48 persen.18 Dari survey diatas dapat dilihat bahwa, daya serap perusahaan untuk tenaga kerja cukup banyak dan menyebabkan kesempatan bekerja di Jakarta terbuka lebar.
Tetapi meskipun begitu, untuk dapat bekerja di suatu perusahaan atau pabrik tertentu, penduduk pendatang maupun penduduk Jakarta harus dapat memenuhi syarat yang diajukan oleh perusahaan atau pabrik tertentu, karena perusahaan atau pabrik memiliki kriteria pekerjanya sendiri. Dari persyaratan itu, nantinya akan disaring, pekerja mana yang layak untuk bekerja di perusahaan atau pabrik tersebut.
Meskipun kesempatan kerja penduduk pendatang tidak sebesar penduduk Jakarta, penduduk pendatang masih dapat mengejar ketertinggalannya dengan pendidikan dan latihan kejuruan untuk meningkatkan keterampilan.

3.3 Penyebab Penduduk Pendatang Tidak Mendapat Kesempatan Kerja
Pada umumnya penduduk pendatang tidak memiliki pendidikan yang cukup, apalagi pendidikan di desa cenderung rendah kualitasnya, jadi mereka adalah generasi pekerja kasar yang tidak mempunyai keahlian apa-apa kecuali ototnya yang sudah terbiasa melayani sektor ekonomi agraris dan tradisional. Hal ini menyebabkan mereka tidak mendapat kesempatan kerja.
16

Ibid., halaman 107
Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta, Jakarta Dalam Angka, (Jakarta: BPS Provinsi DKI Jakarta,
2010), halaman 297.
18
Ibid., halaman 66.
17

11

Bakrie University | Fiska J

Salah satu penyebab penduduk pendatang tidak mendapat kesempatan kerja adalah karena kurang terlatih. Setiap orang yang akan melamar pekerjaan setidaknya harus sudah pernah memiliki pengalaman bekerja. Sehingga ketika bekerja di real life, mereka dapat memahami dunia kerja itu seperti apa dan dapat bekerja dengan baik dan bertanggung jawab.
Biaya transaksi yang tinggi dalam perekonomian, juga menyebabkan kesempatan kerja menurun. Staf Ahli Kadin untuk Program Peningkatan Masyarakat Sipil dalam Iklim
Perdagangan dan Investasi (ACTIVE), Yohanna Gultom mengatakan biaya transaksi memiliki dampak ganda pada masalah penyerapan kerja. Dia memaparkan survei BPS menunjukkan peningkatan biaya transaksi cenderung menurunkan jumlah unit usaha dan pendapatan perusahaan. Pertumbuhan unit usaha yang rendah, jelasnya, menekan kemampuan penyerapan tenaga kerja baru. Adapun tekanan biaya transaksi pada pendapatan perusahaan menyulitkan pemilik usaha menaikkan upah pekerja.19
Penggunaan tenaga mesin yang menggantikan tenaga manusia memang lebih efektif dan efisien, karena apabila perusahaan atau pabrik yang tadinya menggunakan tenaga manusia hanya dapat memproduksi suatu barang dengan skala kecil, kini dengan menggunakan mesin perusahaan atau pabrik dapat memproduksi suatu barang dengan lebih banyak dan dalam skala besar. Hal tersebut tentunya menurunkan minat perusahaan atau pabrik untuk menyerap tenaga kerja manusia dan membuat pendatang luar maupun pendatang Jakarta tidak mendapatkan kesempatan kerja.
Persaingan antar penduduk pendatang yang cukup ketat membuat kesempatan kerja menurun. Belum lagi jika ditambah dengan pesaing yang datang dari penduduk Jakarta, semakin kecil kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan. Karena di era globalisasi ini, kesempatan memang terbuka lebar tetapi persaingannya pun semakin ketat. Bursa tenaga kerja yang bebas dan terbuka menyebabkan pekerja dari berbagai Negara di seluruh dunia dapat bekerja di
Indonesia begitupun sebaliknya.

19

http://www.bisnis.com/articles/biaya-transaksi-tinggi-jadi-penyebab-hilangnya-kesempatan-kerja (akses

24 Januari 2013 pukul 00.25)

12

Bakrie University | Fiska J

3.4 Akibat yang Timbul dari Kegagalan Mendapatkan Kesempatan Kerja
Pengurangan tenaga manusia dalam lapangan pekerjaan yang makin lama makin banyak terjadi di Negara ini. Mesin-mesin untuk segala jenis pekerjaan telah membanjiri pasaran. Orang yang tadinya bekerja di suatu lapangan pekerjaan, sekarang sudah diganti dengan mesin dan menambah jumlah pengangguran.
Menurut Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi, pengangguran itu dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:
a. Pengangguran terbuka, yaitu yang berupa orang-orang yang sama sekali tidak mempunyai pekerjaan.
b. Pengangguran terselubung, yaitu yang kelihatannya bekerja, tetapi kemampuan menghasilkannya kecil.
c. Setengah pengangguran, yaitu mereka yang bekerja tidak sesuai dengan pendidikan dan keahliannya.20
Karena sempitnya lapangan kerja, maka banyak tenaga kerja yang terpaksa mau bekerja dalam lapangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki dan banyak yang memilih untuk menganggur.
Suryo menjelaskan, penduduk Indonesia yang berjumlah 240 juta jiwa menghasilkan angkatan kerja tidak kurang dari 2,91 juta per tahun. Pertumbuhan angkatan kerja itu pada tahun lalu telah menghasilkan tingkat pengangguran sebesar 7,61 persen.21 Dari data diatas dapat diketahui bahwa, tingkat pengangguran di Indonesia tergolong tinggi.
Selain menimbulkan peningkatan angka pengangguran, kegagalan dalam mendapatkan pekerjaan juga menimbulkan penambahan angka kemiskinan dan kriminalitas.
Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan

20

Pendidikan Kependudukan Untuk S.M.P Proyek Nasional Pendidikan Kependudukan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, 1978, hal. 13, seperti dikutip oleh
Ninik Widiyanti, Ledakan Penduduk Menjelang Tahun 2000, edisi pertama, (Jakarta: PT Bina Aksara, 1987), halaman 139.
21
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/91008 (akses 24 Januari 2013 pukul 00.25)

13

Bakrie University | Fiska J

tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. Kemiskinan dianggap sebagai masalah social, apabila perbedaan kedudukan ekonomis para warga masyarakat ditentukan secara tegas.22
Di Jakarta yang merupakan daerah perkotaan, batas antara yang kaya dan yang miskin sangat terlihat jelas. Terbukti dengan banyaknya pemukiman padat penduduk yang kumuh dan tidak layak huni. Kemiskinan telah merenggut hak-hak penduduk miskin dan memasukkan mereka ke dalam lingkaran setan.
Data statistik menunjukkan angka kemiskinan di Jakarta menurun dari 7.35% (2005),
4.61% (2007), menjadi 3.75% (2011). Angka kemiskinan ini dihitung dengan menggunakan ukuran kemiskinan mutlak di mana seseorang dinyatakan miskin jika pengeluaran kurang dari
Rp. 355.480/bulan/kapita pada tahun 2011. Sebuah batas yang sangat rendah untuk hidup layak di Jakarta. DKI Jakarta sangat tertinggal karena dalam 4 tahun (2007-2011) hanya mampu menurunkan kemiskinan sebesar 0.86% atau 0.21%/tahun.23
Sedangkan jika dihitung dengan angka kemiskinan relatif menggunakan data Susenas
2005, angka kemiskinan relatif di DKI Jakarta adalah sebesar 41.31%, sebuah angka kemiskinan relatif terbesar di Indonesia. Terlihat jelas dengan menggeser ukuran kemiskinan dari ukuran mutlak menjadi ukuran relatif, angka kemiskinan DKI Jakarta melonjak dari 7.37% menjadi
41.31%. Ukuran kemiskinan relatif dapat dijadikan salah satu indikator ketimpangan pendapatan dalam masyarakat dan juga indikator hidup layak seperti warga lain di lingkungan sekelilingnya.
Apa itu kemiskinan relatif? Kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang dihitung dengan membandingkan pendapatan seseorang dengan rata-rata pendapatan seluruh masyarakat di suatu wilayah. Seorang dikatakan miskin jika pendapatannya kurang dari 0.5 dari rata-rata pendapatan seluruh masyarakat.24
Isu kemiskinan relatif ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan isu masyarakat inklusif (inclusive society) dan isu kerentanan sosial. Dua isu ini sangat penting bagi wilayah yang memiliki keragaman etnis, sosial, budaya, ekonomi seperti DKI Jakarta. Seorang

22

Soejono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, edisi ke-4, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1990), halaman 365.
23
http://www.tempo.co/read/kolom/2012/07/05/615/Ukuran-Kemiskinan-dan-Masalah-Sosial-di-Jakarta-,
(akses 27 Januari 2013 pukul 13.46)
24
Ibit.

14

Bakrie University | Fiska J

yang miskin secara relatif akan tersingkir (teralineasi) dari pergaulan dalam masyarakat, sehingga akan menimbulkan kecemburuan sosial dan pada akhirnya mendorong kerentanan dan kerusuhan sosial. Sebagai contohnya seorang yang berpenghasilan Rp 2 juta/bulan dan tinggal di wilayah yang rata-rata memiliki penghasilan Rp 5 juta/bulan, maka orang tersebut akan merasa lebih miskin dan tersingkir dari pergaulan dengan lingkungan sekitar karena tidak memiliki kecukupan finansial. Kondisi ini mampu menciptakan ruang bagi seseorang yang tersisih dari lingkungan pergaulan, karena permasalahan finansial mengambil jalan pintas yang bertentangan dengan norma hukum seperti pencurian, korupsi dan penggelapan.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat kemiskinan relatif berkaitan erat dengan tingkat kriminalitas di suatu daerah. Satu persen kenaikan angka kemiskinan relatif akan meningkatkan resiko kriminalitas sebesar 11 per 100.000 penduduk. Data kepolisian tahun 2009 menunjukkan angka resiko kriminalitas di Jakarta adalah 2 kali lebih besar dibandingkan dengan rata-rata resiko kriminalitas di Indonesia. Kombinasi kemacetan, stres warga ibukota, ketimpangan sosial dan kriminalitas merupakan racikan dasyat bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu di
Jakarta.
Kriminalitas menjadi berita sehari-hari berita pos kota, perkelahian antar pelajar makin menjadi hobi anak-anak sekolah, penyalahgunaan narkoba, sudah menjadi masalah serius yang berdampak negatif terhadap masa depan generasi muda, dan masalah anak-anak jalanan dan pelacuran yang juga menimpa anak-anak makin menjadi isu sehari-hari di kota-kota besar.
Padahal anak-anak yang seharusnya sedang menikmati masa kanak-kanaknya dengan senang dan gembira, justru menjadi korban dari meningkatnya kemiskinan dan pengangguran.
Banyak orang miskin dan pengangguran yang menjadi preman. Dimana preman adalah orang-orang yang dianggap sampah masyarakat karena perbuatan mereka yang merugikan masyarakat. Orang-orang yang tersingkir ini memang berbahaya karena mereka biasa melakukan kejahatan dengan darah dingin, itulah sebabnya setiap hasutan yang sampai ke telinga mereka akan disambut denga tuntas dan kita dapat melihat bila mereka memperoleh legitimasi atau solidaritas untuk berbuat sesuatu bila turun ke jalan.

15

Bakrie University | Fiska J

Kejahatan dan kekerasan perkotaan yang banyak terjadi bukan hanya bersifat pribadi tetapi sudah mencakup kelompok bahkan kejahatan missal. Perkelahian antar pelajar sekolah sudah menjadi isu rutin di kota-kota besar di Indonesia, bahkan di Jakarta tawuran antar pelajar tentunya sudah sering terjadi.
Mendekati akhir tahun 2012, terjadi tawuran antar pelajar yang melibatkan sekolah SMA
Negeri 6 dengan musuh bebuyutannya SMA Negeri 70 Bulungan, Jakarta Selatan sekitar pukul
12.00 WIB yang menewaskan Alawi, salah satu pelajar dari kubu SMA Negeri 6.25 Kejadian tersebut memperlihatkan betapa “bobrok” moral anak bangsa yang seharusnya pelajar itu memiliki tugas untuk belajar dan memiliki moral yang baik.

3.5 Dampak Urbanisasi terhadap Lingkungan Hidup di Jakarta
Seorang ahli tata kota, Louis Wirth, dalam bukunya yang berjudul “Urbanism as a way of life” menyebutkan permasalahan sebagai berikut:
1. Kota-kota urban sifatnya luas, padat dengan penduduk yang heterogen.
2. Masyarakat kota cenderung terkotak-kotak dalam kelas-kelas sosial, tingkat pendapatan, dan kesukaan, sedang kota akan terbagi-bagi menjadi daerah industri, perdagangan, pertokoan, pendidikan, rekreasi, dan perumahan.
3. Di kota akan meningkat pembagian buruh atas spesialisasi, dan akan makin banyak digunakan teknologi yang kompleks.
4. Institusi-institusi sosial, politik, dan ekonomi formal akan menggantikan peran keluarga dan sifat paguyuban masyarakat desa.
5. Di kota-kota besar akan makin berkurang nilai manusia sebagai pribadi, manusia kota kehilangan identitas, merasa terasing dan terjerat dalam tingkah laku massa kota yang sering irrasional sifatnya.26

25

http://www.jakarta-media.com/tawuran-antar-pelajar-sma-6-dan-sma-70-satu-orang-tewas.html, (akses
27 Januari 2013 pukul 14.55)
26
Herlianto, Urbanisasi, Pembangunan, dan Kerusuhan Kota, edisi pertama, (Bandung: P.T.Alumni,
1997), halaman 31.

16

Bakrie University | Fiska J

Jumlah penduduk yang makin bertambah dan meningkat di kota Jakarta menyebabkan kepadatan bangunan dan hunian yang semakin tinggi yang berdampak serius terhadap lingkungan fisik perkotaan itu sendiri. Lingkungan yang semakin padat dan perumahan yang semakin kumuh benar-benar membuat Jakarta semakin tidak layak huni. Munculnya kawasan kumuh menimbulkan kesenjangan social antara pemukiman kumuh dan pemukiman elit yang merupakan sumber potensi konflik yang besar. Sebagaiman dinyatakan dalam sistem stratifikasi social tertutup (closed social stratification), stratifikasi sosial membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan kelapisan yang lain, baik yang merupakan gerak keatas atau kebawah.27 Berdasarkan sistem tersebut, masyarakat pemukiman kumuh memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk bisa merubah statusnya menjadi masyarakat pemukiman elit.
Daya dukung lingkungan yang rusak mengakibatkan adanya polusi baik disebabkan sampah atau buangan pabrik yang sekarang mengotori sungai-sungai di kota Jakarta, dan udara kota penuh dengan polusi udara karena asap pabrik dan kendaraan. Kenyataan ini mendatangkan berbagai penyakit terkait kesehatan terutama di kawasan daerah kumuh yang justru dihuni oleh paling banyak penduduk kota Jakarta.
Menurut Biro Pusat Statistik (BPS) Jakarta, sesuai hasil temuan penelitian proyek
Prokasih, sepanjang tiga sungai utama di Jakarta saja yaitu sungai Ciliwung, Cipinang, dan
Mookervant, ada 458 industri besar, 885 industri menengah, dan 3041 industri kecil.28 Umumnya industri-industri ini membuang limbahnya ke sungai-sungai tersebut. Bisa dibayangkan betapa kotornya sungai-sungai itu, apalagi sungai-sungai itu dimanfaatkan oleh penduduk disekitar tempat industri untuk mandi dan mencuci. Padahal kandungan racun dan zat-zat kimia lain yang membahayakan, melebihi ambang batas.
Menyinggung masalah kemacetan lalu lintas, menarik sekali memahami uraian Francis
Bello dalam buku The Exploading Metropolis mengenai hubungan antara kota dan mobil dimana disebutkan bahwa jelas di kota-kota besar dan modern akan makin menumpuk mobil-mobil yang mengakibatkan kemacetan lalu-lintas, kecelakaan, masalah parkir, polusi udara dan kebisingan

27 http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/387/jbptunikompp-gdl-inggarpray-19318-9-bab9-st-l.pdf (akses 21
Januari 2013 pukul 08.20)
28
Capaian Prokasih Lebihi Target, Media Jaya No.03 Th.XVIII, Juni 1995, hal.89-91, seperti dikutip oleh
Herlianto, Urbanisasi, Pembangunan, dan Kerusuhan Kota, edisi pertama, (Bandung: P.T.Alumni, 1997), halaman
40

17

Bakrie University | Fiska J

suara mesin dan klakson mobil. Suatu kondisi stagnasi yang membuat manusia kota bisa mengalami stress dan frustasi.29
Pembangunan besar-besaran yang dilakukan menyebabkan daya dukung lingkungan menurun. Lahan-lahan resapan air yang tadinya berfungsi sebagai penyangga kini dijadikan area parkir dan gedung. Selokan-selokan tidak lagi berfungsi dengan baik sehingga menyebabkan banjir bila turun hujan. Masalah sampah yang menjadi sorotan kota Jakarta yang hingga saat ini belum ada solusinya pun merupakan penyebab banjir yang paling utama.
Pencemaran dan polusi yang terjadi secara besar-besaran dapat menimbulkan global warming. Dimana global warming sendiri merupakan kenaikan suhu rata-rata bumi akibat peningkatan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer.30 Selama beberapa abad terakhir, temperature global mengalami kenaikan sekitar 1,3OF (dari rata-rata 58Of). Para ilmuwan memperingatkan akan adanya kemungkinan temperature bumi mengalami kenaikan sekitar 5OF sampai 10OF selama abad ini. Terbukti dengan mulai melelehnya gunung es di kutub utara dan kutub selatan yang apabila kenaikan temperature tersebut terus terjadi, maka para ilmuwan memprediksi, pulau-pulau kecil dan daratan rendah akan tenggelam.

29
30

Herlianto, Op.Cit., halaman 44
John C. Macionis, Sociology, edisi ke-13, (New Jersey: Pearson Education, 2010), halaman 590.

18

Bakrie University | Fiska J

BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

4.1 Kesimpulan
Dari analisa kasus yang dikaitkan dengan konsep-konsep teori pada bagian kerangka teori, maka dapat disimpukan bahwa:
1. Urbanisasi disebabkan oleh berbagai faktor seperti pola pikir masyarakat daerah yang mengalami perubahan dari pikiran tradisional ke pikiran modern, desakan ekonomi, minimnya kesempatan kerja di daerah, dan keinginan untuk memiliki hidup yang lebih baik.
2. Adanya ketimpangan sosial yang terjadi antara penduduk pemukiman kumuh dengan penduduk pemukiman elit. Dimana kelas sosial penduduk pemukiman kumuh lebih rendah jika dibandingkan dengan kelas sosial penduduk pemukiman elit.
3. Kesempatan kerja yang ada di Jakarta memang banyak dan terbuka untuk umum, tetapi dengan semakin banyaknya penduduk luar yang datang ke Jakarta menyebabkan kesempatan kerja itu menurun, karena lapangan kerja yang ada tidak mampu menampung semua penduduk produktif yang ada di Jakarta.
4. Jurang kaya miskin dan kesenjangan ekonomi yang semakin menganga, memicu timbulnya tindakan anarki dan kriminalitas.
5. Penduduk pendatang yang kehilangan kesempatan untuk bekerja cenderung membuat mereka malas untuk bekerja dan memilih untuk menjadi pengangguran sehingga menyebabkan tingkat kemiskinan dan kriminalitas meningkat.
6. Urbanisasi menimbulkan dampak negatife bagi lingkungan hidup Jakarta seperti pemukiman yang semakin padat dan kumuh sehingga tidak layak huni, tingkat polusi yang tinggi baik polusi udara, air maupun tanah yang disebabkan oleh indusrialisasi dan transportasi, banjir yang diakibatkan oleh sampah dan lahan resapan air yang dialih fungsikan, dan kebakaran yang sering terjadi akibat padatnya perumahan penduduk. 19

Bakrie University | Fiska J

4.2 Rekomendasi
Dari kesimpulan diatas, dapat diberikan rekomendasi sebagai berikut:
1. Pemerintah harus bertindak cepat dalam rangka menekan angka urbanisasi sehingga masalah kepadatan penduduk dapat diatasi dengan baik.
2. Pemerintah memiliki andil yang besar dalam masalah pengentasan kemiskinan
3. Penduduk Jakarta seharusnya tidak mudah terprofokasi oleh pihak manapun sehingga tercipta kehidupan yang damai dan tentram.
4. Penduduk pendatang harus lebih selektif dan tidak langsung mengambil keputusan untuk melakukan urbanisasi ke Jakarta, karena Jakarta sudah sangat padat.
5. Pemerintah dan penduduk Jakarta harus dapat bersinergi dengan baik untuk menanggulangi masalah sampah yang berujung pada banjir.

20

Bakrie University | Fiska J

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta. Jakarta Dalam Angka. Jakarta: BPS Provinsi DKI
Jakarta, 2010
Herlianto. Urbanisasi, Pembangunan, dan Kerusuhan Kota. Bandung: P.T.Alumni, 1997
Macionis, John C. Sociology. New Jersey: Pearson Education, 2010
Martono, Nanang. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Pers, 2011
Soekanto, Soejono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1990
Widiyanti, Ninik. Ledakan Penduduk Menjelang Tahun 2000. Jakarta: PT Bina Aksara, 1987
Widiyanti, Ninik. Masalah Penduduk Kini dan Mendatang. Jakarta: PT Pradnya Paramita, 1987
Worsley, Peter, et.al. Pengantar Sosiologi, Sebuah Pembanding. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta,
1992
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/387/jbptunikompp-gdl-inggarpray-19318-9-bab9-st-l.pdf, akses 21 Januari 2013, pukul 08.20 http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/196604251992032ELLY_MALIHAH/POKOK_MATERI_SOSIOLOGI,_ELLY_M/8._STRATIFIKASI_SOSIAL_DAN_DIFERESI ASI_SOSIAL_%28rev%29.pdf, akses 21 Januari 2013, pukul 13.14 http://regionalinvestment.bkpm.go.id/newsipid/id/demografipendudukjkel.php?ia=31&is=37, akses 22 januari 2013, pukul 11:06 http://www.riauterkini.com/sosial.php?arr=44150, akses 22 Januari 2013, pukul 11:23 http://www.bisnis.com/articles/biaya-transaksi-tinggi-jadi-penyebab-hilangnya-kesempatankerja, akses 24 Januari 2013, pukul 00.25 http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/91008, akses 24 Januari 2013, pukul 00.25

21

Bakrie University | Fiska J

http://www.tempo.co/read/kolom/2012/07/05/615/Ukuran-Kemiskinan-dan-Masalah-Sosial-diJakarta-, akses 27 Januari 2013, pukul 13.46 http://www.jakarta-media.com/tawuran-antar-pelajar-sma-6-dan-sma-70-satu-orang-tewas.html, akses 27 Januari 2013 pukul, 14.55 http://leopratama.com/UMR%20Indonesia%202012.pdf, akses 27 Januari 2013, pukul 15.12

22

Similar Documents

Free Essay

Green

...No. Nama Perguruan Tinggi AKADEMI AKUNTANSI PGRI JEMBER Nama Pengusul Sisda Rizqi Rindang Sari Program Kegiatan Judul Kegiatan 1 PKMK KUE TART CAENIS ( CANTIK, ENAK DAN EKONOMIS) BERBAHAN DASAR TAPE 2 AKADEMI FARMASI KEBANGSAAN Nensi MAKASSAR AKADEMI KEBIDANAN CITRA MEDIKA SURAKARTA AKADEMI KEBIDANAN GIRI SATRIA HUSADA AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDIKA SIDOARJO AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDIKA SIDOARJO AKADEMI KEPERAWATAN KERTA CENDIKA SIDOARJO Putri Purnamasari PKMK LILIN SEHAT AROMA KURINDU PANCAKE GARCINIA MANGOSTANA ( PANCAKE KULIT MANGGIS ) 3 PKMK 4 Latifah Sulistyowati PKMK Pemanfaatan Potensi Jambu Mete secara Terpadu dan Pengolahannya sebagai Abon Karmelin (Karamel Bromelin) : Pelunak Aneka Jenis Daging Dari Limbah Nanas Yang Ramah Lingkungan, Higienis Dan Praktis PUDING“BALECI”( KERES) MAKANAN BERSERATANTI ASAM URAT 5 Achmad PKMK Zainunddin Zulfi 6 Dian Kartika Sari PKMK 7 Radita Sandia PKMK Selonot Sehat (S2) Diit untuk Penderita Diabetes 8 AKADEMI PEREKAM Agustina MEDIK & INFO KES Wulandari CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Anton Sulistya CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM Eka Mariyana MEDIK & INFO KES Safitri CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Ferlina Hastuti CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM Nindita Rin MEDIK & INFO KES Prasetyo D CITRA MEDIKA AKADEMI PEREKAM MEDIK & INFO KES Sri Rahayu CITRA MEDIKA AKADEMI PERIKANAN YOGYAKARTA PKMK Kasubi Wingko Kaya Akan......

Words: 159309 - Pages: 638