Free Essay

Pertamina vs Karaha Bodas 20130414

In: Business and Management

Submitted By adolf001
Words 2186
Pages 9
Contents Bab III. Pandangan Kelompok 1 Bab IV. Kesimpulan 7

Bab III. Pandangan Kelompok

Menangapi kasus yang terjadi antara Pertamina dan Karaha Bodas, kelompok kami memiliki pandangan sebagai berikut : 1. Keputusan Kepres No 39/1997, Kepres No 47/1997 dan Kepres No 05/1998, timbul karena adanya krisis ekonomi yang terjadi secara regional, sehingga seharusnya keputusan ini dapat dikatakan keadaan force majeure bukan dibuat atas dasar wan prestasi. 2. Persiapan yang tidak seutuhnya dilakukan oleh pihak Pertamina dan Pemerintah RI dalam menghadapi tuntutan yang dilakukan oleh Karaha Bodas di sidang Arbritase di Jenewa, Swiss 3. Pertamina dan Pemerintah RI tidak seutuhnya siap akan apa yang dapat terjadi setelah adanya keputusan dari sidang Arbritase. 4. Pembatalan pelaksanaan keputusan dari sidang Arbitrase antara Pertamina dan Karaha Bodas tidak seharusnya dibatalkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, karena hal tersebut berada diluar kewenangannya.

Keputusan Kepres No 39/1997 (Keputusan Penangguhan/Pengkajian Projek Pemerintah, BUMN dan Swasta yang berkaitan dengan Pemerintah/BUMN), Kepres No 47/1997 (Keputusan bahwa projek Pemerintah, BUMN dan Swasta yang berkaitan dengan Pemerintah/ BUMN boleh dilanjutkan kembali) dan Kepres No 05/1998 (Keputusan Penangguhan/Pengkajian Kembali Projek Pemerintah, BUMN dan Swasta yang berkaitan dengan Pemerintah/BUMN) dikatakan sebagai force majeure karena sebenarnya keputusan tersebut dibuat atas dasar pertimbangan bahwa secara regional pada saat itu telah terjadi sebuah sebab luar biasa yang tidak mampu dihindari oleh pihak manapun sehingga kerugian bagi pihak yang berkepentingan tetap tidak dapat dihindari, yaitu terjadinya peristiwa Krisis Ekonomi. Selain itu keputusan tersebut dibuat berdasarkan rekomendasi dari IMF (International Monetary Fund) yang pada saat itu dianggap sebagai penasehat bagi Indonesia yang sedang berusaha agar dapat keluar dari krisis, setelah melihat bahwa adanya ketidak efisiensian secara keuangan terhadap beberapa projek yang sedang dijalankan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada saat itu.
Dan menurut fakta yang berkembang dikalangan masyarakat muncul pendapat bahwa sangat sayang hal ini tidak digunakan sepenuhnya oleh Pertamina selama menghadapi persidangan Arbtritase dengan Karaha Bodas, yang mana seharusnya hal ini dapat bertindak sebagai fakta yang tak terbantahkan dalam membuktikan bahwa Pertamina tidak melakukan wan prestasi, dan sebagai sebuah prima facie evidence yang seharusnya menjadi pertahanan yang sangat kuat dalam menghadapi persidangan ini.
Kemudian selama Pertamina dan Pemerintah RI melakukan persidangan sepertinya Pertamina dan Pemerintah RI tidak melakukan persiapan yang seutuhnya untuk menghadapi persidangan ini. Karena terkadang muncul kesan bahwa Pertamina menganggap bahwa pengadilan Arbitrase adalah pengadilan yang keputusannya tidak dapat berlaku di Indonesia dan menganggap remeh persidangan ini. Hal ini terbukti dari tidak dipilihnya arbiter yang akan melakukan proses peradilan selama di sidang Arbritase. Padahal sebagaimana diketahui menurut UU No 30 tahun 1999 (yang merupakan Undang-Undang yang dibentuk oleh pemerintah Indonesia untuk meratifikasi hasil dari New York Convention 1958)
Pada pasal (1) pada penjelasan nomor (7), dikatakan bahwa :
Arbiter adalah seorang atau lebih yang dipilih oleh para pihak yang bersengketa atau yang ditunjuk oleh Pengadilan Negeri atau oleh lembaga arbitrase, untuk memberikan putusan mengenai sengketa tertentu yang diserahkan penyelesaiannya melalui arbitrase.

Dan pada pasal 15, ayat (3), yang mengatakan bahwa :
Apabila dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah pemberitahuan diterima oleh termohon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), dan salah satu pihak ternyata tidak menunjuk seseorang yang akan menjadi anggota majelis arbitrase, arbiter yang ditunjuk oleh pihak lainnya akan bertindak sebagai arbiter tunggal dan putusannya mengikat kedua belah pihak.

Padahal kami menganggap pemilihan arbiter adalah salah satu langkah yang paling penting dalam tahapan persiapan menghadapi persidangan Arbritase, karena sifat dari Arbiter yang nantinya akan menjadi hakim dalam persidangan. Dan sudah selayaknya karena memang merupakan hak dari pihak bersengketa, tentunya akan memilih arbiter yang sekiranya mengerti dengan baik kondisi baik secara ekonomi, budaya dan hukum yang berlaku di Indonesia pada saat itu. Sehingga diharapkan setidaknya dapat memberikan penilaian yang jauh lebih objektif terhadap kasus yang sedang berjalan.
Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya Pertamina dan Pemerintah telah melewatkan kesempatan istimewa yang diberikan kepadanya mereka untuk memilih arbiter, sehingga arbiter yang terpilih untuk menjalankan kasus ini adalah berasal dari Eropa dan Mesir (Prof. Piero Bernardini, Prof. Ahmed S. El Kosheri dan Me Yves Derains) yang dikatakan sebenarnya tidak terlalu mengenal dengan baik kondisi ekonomi, budaya dan hukum yang berjalan di Indonesia. Hal ini mungkin secara tidak langsung melemahkan posisi dari Pertamina dan Pemerintah RI dalam proses persidangan tersebut. Walaupun pada akhirnya Pertamina dan Pemerintah RI membantah ketidak siapan mereka dalam menghadapi sidang ini bahwa mereka telah diberitahu secara tidak layak untuk melalui proses ini.
Kemudian setelah keluar keputusan dari sidang Arbritase Jenewa, hal yang disayangkan adalah sepertinya Pertamina dan Pemerintah tidak siap juga untuk menghadapi keputusan tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa hasil keputusan dari sebuah sidang Arbritase adalah final and binding (pertama dan terakhir, serta mengikat), dan dari pernyataan ini berarti bahwa seharusnya kemungkinan untuk dilakukannya banding adalah sudah hampir dapat dikatakan tidak mungkin. Kecuali keputusan yang dikeluarkan itu melanggar atas apa yang disebutkan pada UU No 30 tahun 1999, Pasal 66, yang mengatakan :

Putusan Arbitrase Internasional hanya diakui serta dapat dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia, apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

a. Putusan Arbitrase Internasional dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase di suatu negara yang dengan negara Indonesia terikat pada perjanjian, baik secara bilateral maupun multilateral, mengenai pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional; b. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a terbatas pada putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum perdagangan; c. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan dengan ketertiban umum; d. Putusan Arbitrase Internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat; dan e. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a yang menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa, hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuatur dari Mahkamah Agung Republik Indonesia yang selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Dan jika dilihat keputusan yang dibuat dari Arbitrase di Jenewa telah memenuhi semua syarat yang telah disebutkan diatas. Sehingga dapat dikatakan sebenarnya keputusan Arbritase adalah sudah sah dan seharusnya dapat dilaksanakan di Indonesia. Tindakan kontroversial selanjutnya yang dilakukan oleh Pertamina dan Pemerintah RI setelah adanya keputusan Arbritase adalah Pertamina dan Pemerintah RI sebagai pihak yang kalah dalam Arbritase, justru yang mendaftarkan hasil tersebut ke Pengadilan Negri Jakarta Pusat, dan hal ini tidak pernah dilakukan oleh Karaha Bodas sebagai pihak yang memenangkan Arbitrase. Langkah yang dilakukan ini justru menimbulkan pemikiran bahwa ini adalah sebuah langkah yang dilakukan oleh Pertamina dan Pemerintah RI agar dapat melakukan pembatalan keputusan dengan didasarkan pada UU No 30 tahun 1999 pasal 71 yang mengatakan :

Permohonan pembatalan putusan arbitrase harus diajukan secara tertulis dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak hari penyerahan dan pendaftaran putusan arbitrase kepada Panitera Pengadilan Negeri

Karena memang setelah pengajuan pendaftaran hasil dari keputusan Arbitrase di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, selanjutnya Pertamina dan Pemerintah RI segera mengajukan pembatalan keputusan.
Kontroversi kembali terjadi setelah dilakukannya proses persidangan untuk pembatalan keputusan Arbritase antara Pertamina dan Karaha Bodas, yang diajukan oleh Pertamina dan Pemerintah RI, adalah dengan dikeluarkannya Keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tanggal 27 Agustus 2002 No.86/PDT.G/2002/PN.JKT.PST, yang mengabulkan permintaan Pertamina dan Pemerintah RI untuk membatalkan Keputusan Arbitrase Jenewa. Dimana tindakan ini adalah sangat tidak sesuai dengan batasan kewenangan yang diberikan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dimana dalam hal ini Ketua Mejelis Hakim H. Herri Swantoro, SH, dan anggota Majelis Hakim : Saparuddin Hasibuan, SH dan Silverster Djuma, SH telah keliru menafsirkan ketentuan Pasal V(1)(e) Konvensi New York 1958 yang mengatakan bahwa :

“The award has not yet become binding on the parties, or has been set aside or suspended by a competent authority of the country in which, or under the law of with, that award was made”

Dan majelis hakim menafsirkan bahwa competent authority ini merupakan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, karena atas dasar hukum pada perjanjian yang dibuat oleh Pertamina dan Karaha Bodas terjadi di Indonesia, sehingga hukum yang berlaku seharusnya adalah hukum Indonesia. Sehingga dianggap tepat bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memang berhak untuk membatalkan keputusan yang dikeluarkan oleh Arbitrase di Jenewa. Padahal seharusnya dalam sistem hukum Arbtritase yang perlu diperhatikan dalam menafsirkan competent authority adalah tidak lain adalah berdasarkan konsep Lex Arbrity (dimana yang berhak membatalkan keputusan yang dibuat oleh Arbritase adalah pengadilan dimana negara dilaksanakannya proses Arbtritase tersebut), yang berarti adalah tidak lain Pengadilan Negri di Jenewa, Swiss. Jadi yang perlu diartikan secara explisit pernyataan dari Konvensi New York 1958 yang dijadikan sebagai acuan dari majelis hakim, mengatakan bahwa pengadilan yang diminta untuk melakukan ekskusi dapat menolak melaksanakan eksekusi jika setelah adanya pembatalan keputusan Arbritase di suatu competent auhtority (dalam hal ini adalah Pengadilan Negeri Swiss). Selain itu keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini tidak akan pernah diakui oleh Pengadilan Luar Negeri karena keputusan yang diambil ini adalah tidak benar. Dan juga Pengadilan Luar Negeri juga tidak akan pernah mengakui/mengabaikan hasil dari Pengadilan Negara Lain, karena adanya hubungan dengan kedaulatan dari sebuah negara. Sehingga keputusan Arbitrase Jenewa yang pada akhirnya tetap akan diakui dan dijalankan di negara-negara selain Indonesia.

Bab IV. Kesimpulan
Sengketa antara Pertamina dan Karaha Bodas Company (KBC) bermula dari ditandatanganinya perjanjian Joint Operation Contract (JOC) pada tanggal 28 November 1994. Perjanjian ini bertujuan untuk explorasi bersama energy panas bumi yang ada di Garut, Jawa Barat. Pada saat yang sama, Pertamina dan KBC juga menandatangani perjanjian dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) berupa Energy Supply Contract (ESC). Perjanjian ini bertujuan untuk memasok kebutuhan listrik PLN dari proyek eksplorasi JOC di Garut tersebut. Dalam kenyataannya, Indonesia secara khusus dan Asia secara umum jatuh ke dalam resesi dan krisis ekonomi pada medio 1997. Perekonomian nasional secara umum manjadi lumpuh, kemampuan financial pemerintah sebagai pemilik proyek JOC juga terkena imbas yang sangat serius sehingga pemerintah terpaksa menerima uluran bantuan IMF yang disertai dengan beberapa persyaratan yang hingga saat ini masih dipertanyakan motif dari syarat-syarat tersebut, seperti dihentikannya proyek dirgantara nasional dan juga salah satu keputusan pemerintah yang atas rekomendasi IMF adalah menunda proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi di Garut yang dalam hal ini merupakan JOC antara Pertamina dan KBC dan pada akhirnya berujung dengan gugatan ke arbitrase internasional dan dikabulkannya gugatan KBC pada tanggal 18 December 2000 oleh arbitrase Jenewa dengan keputusan agar Pertamina membayar kurang lebih USD 270 juta. Dari rangkaian kasus ini dapat diambil berbagai pelajaran yang bisa diambil oleh bangsa Indonesia antara lain; 1. Kasus Pertamina dengan KBC ini telah diputuskan oleh arbitrase internasional di Jenewa, Swiss sesuai dengan keputusan awal yang tertera dalam kontrak kerjasama JOC antara Pertamina dan KBC. Keputusan ini adalah keputusan yang final dan mengikat bagi para pihak yang bersengketa. Walaupun pada akhirnya Pertamina mengugat hasil keputusan tersebut baik di Swiss maupun menggunakan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk membatalkan putusan arbitrase internasional yang tentu saja kontra produktif dan semakin memperburuk image ketidakpastian hukum investasi di Indonesia. 2. Diperlukannya pedapat hukum professional maupun internasional yang reliable akan masalah arbitrase internasional. Pemerintah RI harusnya dapat melakukan pendekatan G to G sebelum KBC mengajukan gugatan arbitrrase internasional. Karena batalnya proyek JOC tersebut merupakan keadaan force majeure yang merupakan dampak krisis ekonomi pada medio 1997-1998 dan juga penangguhan tersebut adalah salah satu syarat yang diajukan IMF agar Indonesia dapat memperoleh bantuan penangan krisis ekonomi. 3. Semakin lama penangguhan pembayaran yang dilakukan Pertamina akan berdampak pada semakin besarnya pinalti yang harus dibayar kepada KBC. Pemerintah harus dapat dengan jeli melihat “untung-rugi” nya kasus ini dipertahankan seperti mengambang. Karena ini pasti akan berpengaruh terhadap iklim investasi yang merupakan program pemerintah untuk menggerakkan perekonomian nasional. Pemerintah harus dapat melakukan cut-lost dari apa yang telah terjadi. Sehingga beban ekonomi yang bias dihasilkan tidak terlampau berefek domino karena gagalnya investasi global untuk masuk Indonesia yang pasti berimbas pada pertumbuhan ekomoni. 4. Kurangnya pengalaman pemerintah dalam memfasilitasi kasus arbitrase investasi. Cenderung menganggap remeh kasus yang terjadi ternyata merupakan blunder yang fatal. Pemerintah harus lebih mempersiapkan diri dengan memagari setiap kontrak kerjasama yang akan dilakukan akan kemungkinan masalah yang timbul dikemudian hari. Dan jika memang terjadi seperti kasus Pertamina vs KBC, pemerintah hendaknya secara serius menangani masalah arbitrase ini. Karena jika keputusan sudah dibuat, keputusan itu merupakan final and binding decision yang harus ditaati oleh pihak yang bersengketa. 5. Pemerintah hendaknya menghindari proses hukum diluar kebiasaan internasional, seperti dalam kasus ini adalah pembatalan keputusan arbitrase Jenewa oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Karena walaupun secara hukum dimungkinkan adanya pembatalan putusan arbitrase tetapi hasil keputusan ditingkat domestic dapat diabaikan pada tingkat internasional. Sehingga walaupun PN Jakarta Pusat telah membatalkan kasus arbitrase tersebut, nyatanya asset Pertamina masih banyak yang diblokir diberbagai Negara atas permintaan KBC.

Daftar Pustaka
Undang-Undang Republik Indonesia No 30 tahun 1999 tentang “Arbritase dan Alternatif Penyelesaiian Sengketa”

Tudung Mulya Lubis, “Karaha Bodas, sampai kapan” http://www.lsmlaw.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=199&Itemid=18&lang=en Tudung Mulya Lubis, The Jakarta Post, Rabu, 24 November 2004, “Karaha Bodas and Five Mistakes”

Karen Mills, Jurnal Hukum Bisnis Volume 21, Oktober – November 2002, hal 55-66, “Enforcement of Arbitral Awards in Indonesia Issues Relating to Arbritation and The Judiciary”

Prof. Hikmahanto Juwana, SH, LL.M, PhD. Jurnal Hukum Bisnis Volume 21, Oktober – November 2002, hal 67-74, “Pembatalan Putusan Arbitrase Internasional oleh Pengadilan Nasional”

Similar Documents

Free Essay

Implementasi Etika Bisnis Dan Tanggung Jawab Sosial Pt Pertamina

...PAPER INTRODUCTIONS TO BISNIS “Implementasi Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial PT PERTAMINA” 1261026 EGI DUANITA MEIKASAPTA PT. PERTAMINA (persero) adalah perusahaan milik negara yang bergerak di bidang usaha minyak, gas bumi dan kegiatan-kegiatan lainnya yang terkait baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tujuan dari PT. PERTAMINA itu sendiri adalah memberikan yang terbaik serta kontribusi nyata bagi kesejahteraan bangsa dan negara dalam hal pemanfaatan potensi yang dimiliki bangsa Indonesia. PT. PERTAMINA juga berkomitmen untuk berupaya untuk melalukan perbaikan dan inovasi baru sesuai tuntutan kondisi global. PT. PERTAMINA (Persero) berkomitmen untuk melaksanakan Tata Kelola perusahaan yang baik sebagai bagian dari usaha untuk pencapaian Visi dan Misi perusahaan. Etika Kerja dan Bisnis (EKB) merupakan salah satu wujud komitmen tersebut. EKB mencakup seperangkat aturan perilaku yang dimiliki oleh pekerja PT PERTAMINA, baik dalam hubungan internal/antara sesama pekerja PT PERTAMINA maupun dengan pihak eksternal. EKB merupakan referensi bagi pekerja yang mengalami keragu-raguan dalam menjalankan kegiatan bisnis pada situasi-situasi tertentu. EKB Perusahaan terbagi atas tujuh poin utama, yaitu: 1. Kesetaraan & Profesionalisme: Proses menuju World Class, PT PERTAMINA dibangun melalui pengembangan pekerja yang profesional berlandaskan tata nilai, berintegritas, berwawasan luas dan saling menghargai serta didukung oleh lingkungan kerja yang kondusif.......

Words: 974 - Pages: 4

Free Essay

Cuestionario Foto Boda

...____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ IMPORTANTE: LAS RESPUESTAS DE ESTE CUESTIONARIO SON MUY IMPORTANTES YA QUE DE NO TENERLO, LA GRABACIÓN Y FOTOGRAFÍA SERA REALIZADA RESPECTO A NUESTRO CRITERIO Y NO PODRA HABER RECLAMACIONES DE NINGUN TIPO. INSTRUCCIONES PARA LA ELECCIÓN DE LAS FOTOGRAFÍAS. 1.       Entrar a su liga personal y guardar (botón derecho save as) las fotografías en su disco duro SIN CAMBIAR EL NOMBRE QUE APARECE. 2.       Depurar las fotos hasta llegar a un máximo de 150 fotografía para el álbum de la boda y 100 fotografías para el álbum de estudio (previo, bridal o trash). (CANTIDAD SUJETA A ELECCIÓN DE TAMAÑO DE ALBUM. 3.       Hacer una carpeta zip 4.       Entrar a www.transferbigfiles.com 5.       Arrastra y deja tu archivo zip en donde se te indica 6.       Escribir el correo de OSMOSIZ PRODUCCIONES info@osmosiz.com y enviar 7.       Una vez que tengamos los archivos se les contestara de recibido 8.       Diseño de Álbum 9.       Revisión por parte del cliente 10.   Lista con 40 cambios máximo (ejemplo 1 por hoja) 11.   Corrección de cambios 12.   Aceptación por parte del cliente 13.   Se da fecha de entrega 14.   Entrega y liquidación...

Words: 1374 - Pages: 6

Premium Essay

Unix vs Ms vs Mac

...Running head: UNIX vs. MS vs. MAC 1 CIS-155 Final - UNIX vs. MS vs. MAC UNIX vs. MS vs. MAC 2 Abstract This paper will explore the history of UNIX, Microsoft (MS), and Macintosh (MAC) operating systems. Not only will I discuss the history of these systems, but I will also dive into the pros and cons of each. The benefits of each over its rivals will also be discussed. Keywords: open source, UNIX, Windows, UNIX vs. MS vs. MAC 3 The topic of what operating system is best has been a long and heated one. But, in the long run, UNIX will beat its rivals in most categories hands down. As the reader will see throughout this paper, undisputed evidence will be presented that will detail exactly how UNIX based operating systems are superior. Operating systems (OS‘s) are a means for users to communicate with the computer. Each OS provides a set of commands for directing the operation of the computer. Without these operating systems to help as interfaces, each user would have to learn the command syntax, which can be very difficult. These operating systems can be menu-driven, which provides a set of menus and lets users choose desired functions from then, or they can be icon-driven, known as a graphical user interface (GUI). GUIs are very common these days and with them, users can choose an icon, usually with a mouse, to......

Words: 1794 - Pages: 8

Free Essay

Vs Cultural

...West-Europese landen. Ongeveer 55% van de bevolking is protestants, 25% is katholiek, 2% is joods en 1% is moslim. 15% heeft geen religie. De VS is het machtigste land ter wereld, dit als gevolg van het militaire, economische en culturele overwicht. De reacties op het Amerikaanse beleid, als gevolg van de politieke en culturele invloed, zijn vaak heftig. Deze variëren van bewondering voor alles wat Amerikaans is tot anti-Amerikanisme. Vooral de Amerikaanse steun aan Israël is een steen des aanstoots in de islamitische wereld. De economie van de Verenigde Staten is de grootste nationale economie ter wereld en bedraagt 14,6 biljoen dollar (bbp 2010). De economie is vooral gebaseerd op diensten, meer dan 75% van de Amerikanen werkt in de dienstensector. Belangrijkste handels partners zijn Canada, Mexico, Japan, Duitsland, Verenigd Koninkrijk en Zuid Korea. De Verenigde Staten hebben ook de grootste staatsschuld ter wereld4 (27-12-2012: 16,3 biljoen dollar). Door het oplopende begrotingstekort is de staatsschuld de laatste jaren flink opgelopen. China is de grootste krediet verstrekker van de Verenigde Staten en heeft voor 1,16 biljoen dollar aan Amerikaanse staatsobligaties in bezit. Het land heeft een strek negatieve handelsbalans, deze is vooral te danken aan de import van olie/energie. Voor 2013 wordt de groei van de energiesector in de VS gezien als ,,de belangrijkste kracht voor de stimulering van de wereldwijde economische groei in de toekomst'' (Huang Guobo, 2013).......

Words: 4917 - Pages: 20

Free Essay

Egyptian vs Persian vs Asyerian

...Egyptian vs. Persian vs. Assyrian Similarities and differences can bring two or more things together or make them separate or not anything at all. For example, the Egyptian, Persian, and Assyrian empires were similar in some ways and different in others, but they didn’t harm each other. The Egyptian, Persian and Assyrian empires are similar by their military, organization of government, and innovations. All three empires had a military. Although they were organized differently, they all consisted of the same things. Their military had officers and soldiers, and the best soldiers were the ones that led the troop into battle. Furthermore, the governments were organized by hierarchy, or from the highest ranked to the lower ranked officials. In all three empires, they had someone appointed as a king, governors and as “vice king”. In addition, the empires made some innovations; their innovations weren’t similar, but the fact that they made innovations makes them similar in some way. For instance, the Egyptians made mosaic glass, and practiced medicine and mummification. Plus the idea of coined money was spread by the Persians. Finally, the Assyrians were the most common empires that built sculptures, and painted stonework. Even though they weren’t similar with specific details, the three empires were similar. The Egyptian, Persian, and Assyrian empires are different by their religion and their type of government. The Egyptians were polytheistic, or that they believed in......

Words: 330 - Pages: 2

Premium Essay

Creationism vs

...Creationism Vs. Evolution in Today’s Society The dispute between creationism and evolution is a long debated controversy. It is an argument most people choose to avoid. This debate is extremely controversial due to personal belief, most in part due to secularism and religion. Even with the exponentially increasing knowledge of today, it has remained a long fought controversy throughout the twenty-first century. Science deals with the mind, and is the backbone of modern civilization. Religion deals with emotions, and often teaches people invaluable ethical principles. Both Science and Religion are vital in our culture in order for humanity to progress. In order for society to progress, children should be taught about both evolution and creationism, and taught to question both theories. As a result, our children will be open-minded and have the skills to “think outside of the box”. The theories of today and from the past are ones regarding strong factual evidence that has been extensively tested through the scientific method. The Theory of Evolution states that life has evolved from simple, single-celled organisms that all share a common ancestor. Throughout history these organisms faced the challenges of survival, and because of this, became more complex. Different stimuli, in different parts of the world, cause organisms to evolve differently. When these different simple organisms meet, there is often competition between the two in order to reproduce and/or survive. This......

Words: 1213 - Pages: 5

Free Essay

Epigenetics-vs-Nature-vs-Nurture

...Epigentics vs Nature vs Nurture Santina Wood ENG101 Argosy University 03/4/2014 Instructor Benjamin Atkins Epigenetics -vs- Nature -vs- Nurture The nature vs nurture debate is still ongoing, and within this debate, the world of science and psychology are faced with two new questions. Today we find some researchers asking; "Is development predetermined at birth, by hereditary factors, or do experience and other environ -mental factors affect it?", and "Can the two work together in shaping human development and behavior?" Developmental psychologists still attempt to find the answers to these questions in order to discover the sources of growth in children's cognitive, language, and social skills. Most developmental psychologists believe that nature and nurture combine to influence biological factors playing a stronger role in some aspects, such as physical development, and environmental factors playing a stronger role in others, such as moral development. They are also beginning to acknowledge the role of a variable combination of both inborn factors and social experiences when explaining children's behavior. Scientists and Psychologists have a name for such an occurrence; epigenetics/epigenesis. In this essay, I will be presenting to my audience information on this highly, and sometimes heated debate, as well as the reasons as to why the belief of this dual influence called epigenetics is becoming more fact than theory. For...

Words: 1643 - Pages: 7

Premium Essay

Acrual vs

...Accrual vs. Cash Thomas Warren Brow 2 October, 2014 HSM/260 Sara Stevens In cash accounting you only show transactions that are cash in or cash out transactions, and for a non-profit agency that does not show enough. The accrual method shows all transactions whether they are cash, credit, insurance, or check. In this system it keeps all monies out in the open, and stops any hidden monies from appearing out of nowhere and shows all monies and what is being done with them and how they are generated. The accrual takes the steps necessary to ensure that the agency has a clear and accurate account of any spending the agency does. In the accrual system you taken into account and record any revenue when the transaction occurs or a deal is made even in the event that there is no cash received, and more often than not the revenue and cash will not equal each other when this method is used. If the method of payment is cash when the service is rendered than it will be recorded the same, but if it is a credit payment that makes your revenue go up but your cash is the same then this is a case where the revenue and cash do not equal each other. ("Does Revenue Equal Cash In An Accrual System?", 2014) It is vital because statement of cash flow is the last document that is done for the finances and gives a flow of information which adds validity and accountability to financial records of the company. All people who fund an agency use these records to see what they are funding......

Words: 354 - Pages: 2

Premium Essay

Mac vs Microsoft vs

...for the process. Each task also holds the execution state, which can be running, interruptible, uninterruptible, stopped, zombie. Linux takes the user level threads for the tasks and can map them to kernel level processes with the same group ID. This offers resources sharing and security. Mac operating systems handle the execution of processes even differently than Windows and Linux. Mac has Grand Central Dispatch, which contains a pool of available threads. “Thread pools are automatically sized by the system to maximize the performance of the applications using GCD while minimizing the number of idle or competing threads” (Stallings 2012). Programs are intended to create blocks, which contain data and code on how to perform. “Windows vs. MAC vs. Linux OS will provide as much concurrency as possible based on the number of cores available and the thread capacity of the system” (Stallings, 2012). The development of these blocks is formatted in files and will run in concurrency using first-in-first-out processing. The merging process in the Grand Central Dispatch is well-organized in most cases compared to manually handling threads. Looking at UNIX/Linux it has one advantage over other operating systems on the market. It is less used than other operating systems. That fact alone improves the security of the operating system because the less hackers are trying to attack the system, the more secure it will be. Linux utilizes a firewall to block anyone trying to hack into the......

Words: 2337 - Pages: 10

Premium Essay

Diploma vs Associates vs Bachelor Degree Nrses

...Diploma vs. Associates vs. Bachelor Degree Nurses Louanne Adkins RN Grand Canyon University: Nursing History, Theories, and Conceptua... June 6, 2015 I have seen and experienced a wide variety of differences among the 3 types of degrees available, diploma vs. associates vs. bachelors. Myself, as a three year diploma nurse, I believe that I encountered more of a “hands on approach” to clinical skills versus the “book smart” bachelor approach versus the combination program of the associate’s degree. My diploma program started day one with patient interaction, from vital signs to baths. I discovered the bachelors program was mainly book work until the fourth year, at which time clinicals were initiated. The current trend and future of nursing is having a bachelor’s degree. I believe that this is due to the greater exposure to management skills on a daily basis that nurses now face. Previously there was a direct line from the doctors, who made the decisions, to the nurses that did as they were instructed. As the nursing processed evolved, nurses were empowered and started becoming a patient advocate, this came as a direct route of the education nurses received. Nurses have come to earn the respect of their coworkers and doctors that they have worked with. I had the experience of starting my first job out of nursing school on a med-surg floor on second shift with two other new grads. One was an associate degree grad while the other...

Words: 852 - Pages: 4

Free Essay

Eijgfiejig

...Indonesia PLTP Darajat Unit 1 COD : 12 Mei 2000 90 MW (1 x 90 MW) Unit 2 11. Himpurna Calipornia Energy PLTP Dieng Panas Bumi 180 MW ( 3 x 60 MW) Unit 1,2,3 12. Patuha Power Limited PLTP Patuha Panas Bumi 180 MW ( 3 x 60 MW) Unit 1,2,3 COD Unit I : 2002 COD Unit 2 : 2006 13. PT. Cikarang Listrindo PLTGU Cikarang 150 MW ( 1 x 150 MW) Gas Alam COD : 30 Oktober 2002 14. PT. Bajradaya Sentranusa PLTA Asahan - 180 MW ( 2 x 90 MW) PPA: 23/11/1996 COD : 2007 s.d 2040 Februari 2006 Halaman 3 dari 6 Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Daftar Pembangkit Listrik Swasta No. 15. Perusahaan PT. Pertamina (Persero) Nama Pembangkit PLTP Wayang Windu BB Panas Bumi Kapasitas 110 MW (1 x 110 MW) COD : Unit 1 2000 COD : Unit 2 2005 ESC : 2/12/1996 4 unit 400 MW (3x110 MW + 1x70 MW) 16. PT. Latoka Trimas Bina Energy PLTP Kamojang Panas Bumi 60 MW ( 2 x 30 MW) COD : 2006 ESC : 2/12/1994 17. Bali Energy Ltd. PLTP Bedugul Panas Bumi ESC : 17/11/1995 10 MW ( 1 x 10 MW) Unit 1 165 MW ( 3 x 55 MW) Unit 2,3,4 18. PT. Yala Teknosa Geothermal PLTP Cibuni Panas Bumi 10 MW (1 x 10 MW) Panas Bumi 10 MW (1 x 10 MW) ESC : 17/11/1996 19. PT. Dizamatra Powerindo PLTP Sibayak COD 2006 ESC : 15/1/1996 20. PT. Sumber Segara Primadaya (S2P) PLTU......

Words: 898 - Pages: 4

Premium Essay

Nature vs

...Psychology 1000 10/11/12 Nature vs. Nurture In the field of psychology there is a large controversy on whether nature or nurture affect who we are or who we will become. Those who favor nature will argue that our intelligence, personality traits and capacity to achieve goals are largely influenced by genetics. On the other side, people who put forward the idea of nurture will say that it is the environment we live in that shapes who we become. According to John Watson, a strong psychologist who proposed environmental learning as a dominating side, he can be able to train a baby randomly chosen in a group of 12 infants, to become any type of specialist he wants. As of now, we know that both nature and nurture play important parts in molding an individual; however, environmental factors are the real origins of our behavior. There are many examples that can be given to support Watson’s behavioristic views and theories. For instance, identical twins have very remarkable similarities; however when raised in two completely different environments, for example how accessible resources are to each of them, private school versus public school, cause several differences in the way they think and behave. Also, how well a parent takes care of his child and how safe the environment surrounding the family is, affects the child’s behavior and decision-making skills. Also, often children who have been raised in a stable and safe environment, with lots of affection from their parents......

Words: 317 - Pages: 2

Premium Essay

Nature vs. Nurture vs. Tofu

...Nature vs. Nurture vs. Tofu 2 Without conducting any research, I realize that I have never really thought about the subject of nature vs. nurture. By knowing a little of what the controversy is about, I am able to ask myself the right questions to complete my thoughts and come to a proper opinion. Usually I am an extremist by going with one side and not lingering with thoughts in the middle. However, this is a subject that does not deserve one end. By looking and observing those around me, many may notice that people share similar traits. Some traits are the result of nature and others are the result of nurture. There is no 50:50 ratio that is involved in the deciding factor of how much of each side contributes to the individuals we are today. Because biological factors and conformity are two different subjects, there is no scientific way to measure an accurate ratio of nature to nurture. Instead, I believe that each and every person is the product of 100 percent nature as well as 100 percent nurture. As my boyfriend and I are out to lunch, I throw my thoughts at him about nature vs. nurture and he makes me realize that tofu is a great example of both nature and nurture. He asks me how I am able to eat something so bland and tasteless. I tell him that tofu does have sort of a creamy nutty taste to it and is delicious plain uncooked. However, when tofu is cooked, it conforms to and picks up the flavor of the food or sauce that is being cooked......

Words: 1274 - Pages: 6

Premium Essay

Data vs Fixed Line vs Cellular Debate

...Jimmy Johnson NT1310 Monday Night Unit 1 Lab 1: Data on Fixed Line vs. Cellular Debate As many as one in six American households have given up their landline and are using only their cell phone, according to Steven Blumberg, a senior scientist at the Center for Disease Control’s Statistics department. If you are among the millions of Americans who are weighing the pros and cons of landlines vs. cell phones, here are a few things to consider. Cost: The most common reason to choose a cell phone is that in most areas, the cost of a cell phone plan is lower than the cost of a landline, especially when you count the cost of a long distance calling plan. However, the “per month” cost that many carriers quote can be misleading. As you compare the cost of a cell vs. a landline, consider these factors: •Do you need any services that aren’t covered in this plan? For example, will you be taking your cell phone out of the call area (i.e. roaming)? Does the cost of your landline plan include voice mail and caller ID? •Does your cell phone plan require a multi-year contract commitment? If so, what is the cost of ending your contract? •How much time do you spend talking on the phone, and when do you make your calls? Some providers offer free incoming calls, or free nights and weekends, but those aren’t helpful if you make lots of outbound calls during business hours. •How many people will use the phone? If you have a large family, you can ensure that everyone has a cell......

Words: 786 - Pages: 4

Premium Essay

Preliminary Risk Valuation in Indonesia Coal Bed Methane Project (Case: Pertamina Cbm Project)

...PRELIMINARY RISK VALUATION IN INDONESIA COAL BED METHANE PROJECT (Case: PERTAMINA CBM Project) DEWI GENTANA & DEDI YUSMEN PERTAMINA CBM TEAM Gas Asia Conferences, Kualalumpur 17-18 March 2009 OUTLINE A. RISK VALUATION APPROACH & METHODOLOGY B . SUB SURFACE, SURFACE, ECONOMICS C . RISK VALUATION RESULT AND ANALYSIS D. CONCLUSION Gas Asia Conferences, Kualalumpur 17-18 March 2009 1 OVERVIEW Overlapping Oil and Gas Working Area with Coal Mining Consession Area CBM (0-1000 M) OIL AND GAS > 1000 M Casing 9-5/8” caused by Coal Mining activity at UBEP Tanjung Field Bursting Production Pipe caused by tractors at UBEP Tanjung Field Gas Asia Conferences, Kualalumpur 17-18 March 2009 2 OUTLINE A. RISK VALUATION APPROACH & METHODOLOGY Gas Asia Conferences, Kualalumpur 17-18 March 2009 3 PERTAMINA CBM RISK VALUATION MODEL (Simple Model) COUNTRY & INDUSTRY ENV. •Country Risk •Economy • •Environment •General Issue •Petroleum Legislation •Energy Balance •Competitors •Activity PROJECT ECONOMICS •Economic Indicators •Commercial Types •Taxes •Fiscal Terms SURFACE AREA (25%) PRODUCTION FACILITY BUSINESS ENVIRONMENT ECONOMIC INDICATOR LAND ACCESS PROJECT ECONOMICS (25%) TECHNICAL/SUBSURFACE GEOTECHNICAL •Data •Basin •Reserves •Play Type •Petroleum Systems •Technical Feasibility POTENTIAL RESERVE (50%) Pertamina CBM Team, 2007. (Modified From De’Ath) Gas Asia Conferences, Kualalumpur 17-18 March......

Words: 1134 - Pages: 5