Free Essay

Pulau Kemaro

In:

Submitted By rizal13
Words 497
Pages 2
pulau Legenda Pulau Kemaro | Viana Aldila, 21, PerempuanMahasiswa,Palembang, Indonesia,Depok25 November 2011 |

Legenda Pulau Kemaro
Pada suatu hari, seorang bangsawan dari negeri cina singgah di daratan palembang dari perjalanan jauhnya mengarungi samudera. Bangsawan itu bernama Tan Bun Ah. Ketika berada di Palembang, Tan Bun Ah bertemu seorang putri palembang bernama Siti Fatimah yang tak lain adalah anak dari seorang raja. Diam-diam Tan Bun Ah menaruh hati pada Siti Fatimah dan akhirnya menjalin hubungan tanpa diketahui oleh orang tuanya masing-masing. Setelah sekian lama akhirnya Tan Bun Ah beranikan diri untuk membicarakan hubungan mereka kepada orangtua nya agar mendapat persetujuan. Awalnya sang raja dan permaisuri sangat menentang hubungan mereka yang berbeda keyakinan. Siti Fatimah akhirnya dikekang oleh raja untuk tidak bertemu lagi dengan Tan Bun Ah, namun, semakin lama Siti Fatimah kondisinya memburuk, ia jadi sakit-sakitan karena tidak mau makan kalau tidak bertemu Tan Bun Ah. Raja bingung dan akhirnya permaisuri (ibu Siti Fatimah) membujuk suaminya agar menyetujui hubungan Siti Fatimah dengan bangsawan cina Tan Bun Ah itu. Raja berpikir matang-matang dan akhirnya iya menyetujui hubungan Siti Fatimah dengan Tan Bun Ah. Tan Bun Ah segera mengabarkan keluarganya yang berada di cina bahwa ia akan segera meminang gadis asli palembang yang dicintainya. Keluarga Tan Bun Ah pun mengirimkan upeti-upeti menggunakan kapal kayu mengarungi samudra. Setelah sampai di dermaga, Tan Bun Ah terkejut setelah melihat isi dari upeti-upeti tersebut hanya sayur-sayuran, Tan Bun Ah merasa malu di depan Siti Fatimah dengan tingkah keluarganya yang hanya mengirimkan upeti berupa sayur-sayuran itu hingga ia marah dan menceburkan semua upeti-upeti tersebut ke dalam sungai. Padahal, sesungguhnya upeti itu adalah emas namun dengan pemikiran orang tuanya emas itu ditutupi sayuran supaya terhindar dari perompak di samudra lepas. Seseorang utusan baru menyampaikan kabar tersebut setelah semua upeti-upeti diceburkan oleh Tan Bun Ah, Tan Bun Ah menyesal dan langsung menyelam untuk mengambil upeti-upeti itu kembali yang jatuh ke dasar sungai. Namun Tan Bun Ah tidak muncul kembali ke permukaan, Siti Fatimah merasa gelisah dan akhirnya ia ikut menenggelamkan diri untuk menemukan dan menyelamatkan Tan Bun Ah tetapi akhirnya mereka berdua tak kunjung kembali ke permukaan. Kapal di sekitar dermaga pun ikut menjadi bangkai dan akhirnya membentuk sebuah pulau ditengah sungai musi yang dinamakan Pulau Kemaro (Kemarau)

Syamsul Rizal Baihaqi, Bengkulu
20, lelaki
Jalan Caringin
Pancoran Mas
Depok
Viana Aldila

Viana mengetahui kisah ini melalui cerita ibunya dan semapat beberapa tahun yang lalu menonton kisahnya di sebuah film televisi yang menyuguhkan cerita-cerita rakyat. Saat itu ia merasa kisah ini sangat menjunjung tinggi toleransi berkeyakinan sehingga sangat baik untuk diketahui semua kalangan. Memperjuangkan rasa cinta dan kasih sayang yang besar kepada sesama.
Saya mengklasifikasikan naskah ini ke dalam Legenda, karena cerita ini adalah tentang kisah terbentuknya sebuah pulau di tengah sungai Musi, bagaimana seorang pasangan yang berbeda keyakinan mendapatkan haknya untuk menikah dan mendapat restu dari orang tuanya. Dan bagaimana cara legenda ini menyampaikan pesan-pesan moral yang tersirat dalam kisah-kisahnya.

Syamsul Rizal Baihaqi

Similar Documents

Free Essay

What Outdoor Education Done for Me

...join the Boy Scouts unit were to have a chance to experience the outdoors, get close to nature, be skilled in craftsmanship (I learnt that I would learn to tie knots, pitch tents, use a stove, operate kerosene lamps, learn some survival skills and many more), as well as forge friendship and brotherhood with others. I was curious about expeditions, mountain climbing trips and wondered what it would be like to trek through one. My years in Scouts opened my eyes and ears and introduced to me a world I had only read in books and seen on television. I recall my experiences at Mt Ophir and Gunung Tahan with a lot of fond memory. I also recall our trips to Pulau Tekong when it was still open to civilians before it was gazetted by the government for military training. I recall bathing by the well waters and walking past hot springs at Pulau Tekong, and...

Words: 1025 - Pages: 5