Free Essay

F34100110

In:

Submitted By khaerinaf
Words 6581
Pages 27
PENENTUAN KONSENTRASI BATING AGENT DAN WAKTU BATING DALAM PROSES BATING
KULIT IKAN TUNA

DETERMINATION OF BATING AGENT CONCENTRATION AND BATING TIME IN THE BATING
PROCESS OF TUNA FISH SKIN
Ono Suparno*), Hafizah Khaerina
Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Kampus IPB Darmaga, Kode POS 122, Bogor 16002
E-mail: ono.suparno@gmail.com
ABSTRACT
Bating is one of the most important processes in beamhouse operation and has effects on leathers quality. Bating agent generally use pancreas enzyme containing protease and lipase. Concentration of bating agent and duration (time) of bating are factors which were predicted have effect on quality of bated pelts. The objectives of this research were to determine the effects of bating agent concentration and bating time on the the quality of bated pelts and to choose the best combination of both factors. The concentrations were used for this study were 0.5%, 1%, and 1.5%, and the bating times were 0.5, 1.5, and 2.5 hours. Responses measured were thickness reduction, dissolved protein, fat content, and organoleptic properties of the pelts. Based on this research, concentration of bating agent significantly affected the thickness, dissolved protein, and fat content.
Time of bating significantly affected dissolved protein, and fat content. But interaction between two factors did not significantly affect all observed respons. The best treatment in the research was bating agent concentration of 1% and bating time of 2.5 hours. The best treatment gave thickness reduction of 5.6%, dissolved protein of
1502 ppm, effectiveness of fat removal of 1.6%, and good elasticity and pressure strength.
Keywords: bating, bating agent, concentration, leather, bating time.
ABSTRAK
Bating merupakan salah satu proses yang sangat penting pada proses prapenyamakan (beamhouse) dan berpengaruh pada mutu kulit samak. Bating agent yang umum digunakan berasal dari ekstrak pankreas yang mengandung protease dan lipase. Konsentrasi bating agent dan waktu bating diduga akan mempengaruhi mutu kulit hasil bating. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh konsentrasi bating agent dan waktu bating terhadap mutu kulit hasil bating. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan kondisi terbaik dari kedua faktor tersebut dalam menghasilkan respon sesuai dengan yang diharapkan. Konsentrasi bating agent yang digunakan adalah 0,5%, 1%, dan 1,5%, sedangkan waktu bating adalah 0,5, 1,5, dan 2,5 jam.
Respon yang diamati mencakup penurunan ketebalan, kadar protein terlarut, kadar lemak, dan uji organoleptik.
Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi bating agent berpengaruh dalam menurunkan ketebalan, kadar lemak, dan meningkatkan kadar protein terlarut secara signifikan. Waktu bating berpengaruh dalam meningkatkan kadar protein terlarut dan menurunkan kadar lemak secara signifikan. Namun interaksi di antara kedua faktor tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap semua respon yang diamati. Perlakuan bating terbaik dari penelitian ini adalah konsentrasi bating 1% dengan waktu bating 2,5 jam. Penurunan ketebalan pada kondisi terbaik sebesar 5,6%, kadar protein terlarut 1502 ppm, penurunan kadar lemak sebesar 1,6%, serta memiliki kelenturan dan ketahanan tekan yang baik
Kata kunci: bating, bating agent, konsentrasi, kulit samak, waktu bating.
PENDAHULUAN
Ikan tuna adalah salah satu hasil perikanan tangkap yang paling banyak dikonsumsi masyarakat dunia, khususnya Jepang. Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor ikan tuna terbanyak ke Jepang dan menduduki peringkat pertama kemudian diikuti oleh Srilanka, Australia,
Thailand, dan Taiwan. Pada tahun 2007, Indonesia

telah pengekspor 25.798 ton dari berbagai spesies ikan tuna ke Jepang (Satria et al. 2009).
Ikan tuna yang diekspor biasanya dalam bentuk fillet atau daging tanpa tulang, kulit, dan kepala. Hasil samping fillet tuna tersebut sering menjadi masalah karena dapat menjadi limbah yang mencemari lingkungan sekitar. Pada penelitian yang dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan
Bioteknologi (BBP4BKP), hasil samping perikanan

Ono Suparno dan Hafizah Khaerina

dapat dikembangkan dan diolah berbasis lipida, selulosa, senyawa aktif dan nutraseutikal, dan kulit tersamak (Peranginangin et al. 2011).
Teknologi
penyamakan kulit untuk mengolah limbah ikan merupakan teknologi yang masih terus dikembangkan oleh para peneliti.
Meskipun tingkat komersialnya belum sama dengan penyamakan kulit sapi, domba, dan hewan mamalia lainnya, namun peluang usaha penyamakan kulit ikan tersebut dapat dijadikan sebagai alternatif bisnis. Menurut Hastuti (2013), ketersediaan kulit ikan yang mencapai 3,4% dari total produksi ikan tuna di sebuah industri dapat dijadikan sebagai pilihan bahan baku karena kurangnya ketersediaan bahan baku kulit mamalia khususnya sapi. Di Indonesia, ketersediaan bahan baku kulit mentah konvensional tersebut sering menjadi kendala industri penyamakan kulit karena industri tersebut tidak mampu memenuhi banyaknya permintaan akan produk turunan kulit samak. Berdasarkan data yang diperoleh Kementrian
Perindustrian,
jumlah industri penyamakan kulit di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2008 tercatat sebanyak
53 industri penyamakan kulit dan meningkat menjadi 58 industri pada tahun 2010. Laju pertumbuhan industri tersebut juga meningkat sebesar 7,52% pada tahun 2011. Pada tahun 2007, produksi kulit samak untuk keperluan ekspor terus meningkat hingga tahun 2010. Pada tahun 2011, total kulit samak yang berhasil diekspor oleh industri tersebut mencapai 116.986.724 ton. Jenis barang kulit yang paling banyak diekspor adalah sepatu olah raga kulit, sandal, dan alas kaki lainnya. Teknologi penyamakan kulit ikan memang tidak jauh berbeda dengan penyamakan kulit mamalia lainnya. Tahapan penyamakan tersebut meliputi tahap prapenyamakan, penyamakan, dan pascapenyamakan. Salah satu proses yang dilalui pada tahap prapenyamakan adalah bating
(pelumatan). Proses bating ini bertujuan untuk menghilangkan sejumlah protein non kolagen dan lemak yang tidak diperlukan pada proses penyamakan. Proses ini akan memudahkan masuknya bahan penyamak untuk berdifusi ke dalam kulit dan akan berpengaruh pada mutu hasil kulit samak (Saravanbhavan et al. 2006).
Penyamakan adalah proses memodifikasi protein dalam kulit sehingga ketahanan terhadap panas, pendegradasian enzimatis, dan kekuatan termomekanikalnya lebih stabil (Krishnaraj 2010).
Bahan penyamak yang masuk ke jaringan kulit akan meningkatkan daya tahan kulit terhadap lingkungan seperti suhu dan pengaruh mikrobiologis. Kulit samak akan memiliki suhu kerut yang lebih tinggi dibandingkan kulit mentah, tergantung dengan jenis bahan penyamak yang diberikan pada kulit. Selain itu, kulit samak juga

tahan terhadap serangan mikroorganisme yang dapat merusak kulit mentah. Hal ini disebabkan karena mikroorganisme tidak memiliki kemampuan untuk merusak ikatan crosslinking antara kolagen kulit dengan bahan penyamak. Kedua hal ini akan meningkatkan mutu fisik kulit samak.
Proses bating biasanya dilakukan secara enzimatik. Pada industri penyamakan kulit, bating agent yang umumnya digunakan berasal dari ekstrak pankreas yang mengandung enzim protease dan lipase. Proses bating yang baik dipengaruhi beberapa faktor yaitu konsentrasi bating agent, waktu, pH, suhu, dan adanya aktivator. Konsentrasi bating agent dan waktu bating akan mempengaruhi banyaknya protein yang akan dipecah oleh enzim.
Selain memecah protein, enzim ini juga turut memecah sejumlah lemak yang terkandung pada kulit sehingga akan berpengaruh pada ketebalan dan tekstur kulit hasil bating. Oleh karena itu, penelitian mengenai faktor-faktor yang diduga mempengaruhi kulit hasil bating penting dilakukan untuk meningkatkan mutu kulit hasil bating.
METODOLOGI
Peralatan dan Bahan
Bahan utama untuk penelitian ini adalah kulit ikan tuna spesies Thunnus albacore. Bahan baku tersebut disimpan dalam kondisi beku yang diperoleh dari PT Lautan Niaga Jaya, Muara Baru,
Jakarta. Bahan-bahan yang diperlukan untuk tahap prapenyamakan adalah akuades, natrium sulfida
(Na2S), kapur tohor (Ca(OH)2), non ammonia deliming agent (asam borat, natrium sitrat, dan asam sitrat 2:1:1) 1,4%, degreasing agent 0,4%, dan bating agent berupa ekstrak pankreas dengan berbagai konsentrasi.
Peralatan yang digunakan selama penelitian berlangsung adalah sejumlah peralatan gelas seperti gelas ukur, gelas arloji, dan gelas piala. Selain itu, digunakan pula neraca analitik, sudip, dan botol jar.
Dalam menganalisis pengaruh konsentrasi bating agent dan waktu bating digunakan alat pengukur ketebalan thickness gauge (leather) merk
CheckLine tipe J-40-L, tabung ulir, sentrifuse merk
Hermle tipe Z 383 K dan spektrofotometer Hach.
Metode
Persiapan
Sebelum dilakukan proses prapenyamakan, kulit terlebih dahulu dianalisis proksimat (kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar serat kasar, kadar protein, dan kadar karbohidrat by difference).
Aktivitas enzim yang terkandung pada bating agent turut diukur pada penelitian ini.
Pengukuran aktivitas enzim protease dilakukan dengan metode Bergmeyer dan Grassl (1983),

Penentuan Konsentrasi Bating Agent dan Waktu Bating Dalam Proses Bating Kulit Ikan Tuna

sedangkan aktivitas enzim lipase dengan metode
Quinn et al. (1982) dan Shirai et al. (1982).
Liming

Kulit ikan tuna segar dicuci di bawah air mengalir hingga bersih. Setelah bersih, kulit dipotong dengan ukuran 6x6 cm2 dan ditimbang sebagai bobot basah sebagai acuan bobot untuk bahan kimia yang akan digunakan pada proses liming. Potongan kulit ikan tuna direndam dalam larutan liming (akuades 400%, Na2S 3%, Ca(OH)2
5%) dan diaduk dengan shaker bersuhu 30oC selama 105 menit dengan kecepatan pengadukan
150 rpm. Penentuan komposisi larutan liming ini berdasarkan persentase bahan dari bobot basah sampel kulit. Kemudian sampel diangkat dan didiamkan selama 16 jam 15 menit. Sampel selanjutnya ditimbang sebagai lime weight sample
(Ya-nan et al. 2013). Bobot bahan kimia yang digunakan dalam proses berikutnya (proses deliming dan proses bating) ditimbang berdasarkan persentase lime weight sample.
Deliming
Sampel kulit ikan tuna direndam dalam larutan non ammonia deliming agent 1,4% (asam borat, asam sitrat, dan natrium sitrat 2:1:1), degreasing agent 0,4%, akuades 200%, di dalam shaker bersuhu 29-30oC selama 120 menit dengan kecepatan pengadukan 150 rpm (Ya-nan et al.
2013, yang telah dimodifikasi). Sampel kemudian dicuci dengan air mengalir.
Bating
Perlakuan bating dilakukan dengan merendam sampel dalam larutan bating. Larutan ini dibuat dalam dalam akuades 100% yang mengandung bating agent sebanyak 0,5%, 1%, dan 1,5%. Sampel diaduk dengan shaker pada suhu 29-30oC dengan kecepatan pengadukan 150 rpm dengan pH yang dicapai 7-8 selama waktu yang dicoba yaitu 0,5, 1,5, 2,5 jam. Persentase kebutuhan bahan untuk bating berdasarkan lime weight sample.
Analisis Kulit Hasil Bating
Variabel yang diukur pada penelitian ini adalah penurunan ketebalan, kandungan protein terlarut pada cairan hasil bating, kadar lemak pada kulit, dan organoleptik. Pengukuran ketebalan dilakukan dengan mengukur ketebalan kulit sebelum dan sesudah proses bating, sehingga diperoleh nilai penurunan ketebalan kulit yang dinyatakan dalam persen (%). Pengukuran kadar protein terlarut dilakukan dengan memisahkan cairan hasil bating dengan alat sentrifus 8000 rpm selama 6 menit. Selanjutnya dianalisis dengan metode Lowry dan hasilnya dinyatakan dalam ppm
(part per million). Kadar lemak (AOAC 2005) pada kulit diukur dengan mengambil sampel kulit
* Penulis untuk korespondensi

sebelum dan sesudah bating dan dinyatakan dalam satuan persen (%). Uji organoleptik dilakukan dengan pengamatan tekstur kulit hasil bating
(kelenturan dan ketahanan tekan) dengan scoring skala 1-10.
Analisis Data Statistik
Rancangan percobaan yang digunakan untuk analisis data hasil bating kulit ikan tuna adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial
3x3 dengan dua kali ulangan. Faktor yang dicobakan adalah konsentrasi (A) dengan taraf
0,5%, 1%, dan 1,5%, serta waktu bating (B) dengan taraf 0,5, 1, dan 1,5 jam. Model matematikanya adalah sebagai berikut:
Yijk = μ + αi + βj + (αβ)ij + εk(ij)
Keterangan:
Yijk : nilai pengamatan pada faktor konsentrasi bating agent taraf ke-i faktor waktu bating taraf ke-j dan ulangan ke-k μ : nilai rata-rata yang sesungguhnya (rata-rata populasi) αi
: pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor konsentrasi bating agent βj : pengaruh aditif taraf ke-j dari faktor waktu bating (αβ)ij : pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor konsentrasi bating agent dan taraf ke-j dari faktor faktor waktu bating εk(ij) : galat (error) dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi perlakuan ij.
Variabel yang diperoleh dari penelitian ini diuji ragam (anova). Apabila ada pengaruh signifikan dari setiap perlakuan, maka dilakukan uji lanjut (Duncan). Analisis statistik ini dilakukan dengan menggunakan software SPSS 16.00.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Kulit Ikan Tuna
Ikan tuna merupakan salah satu hewan yang hidup di lautan yang beberapa spesiesnya dijadikan sebagai ikan tangkap bernilai tinggi. Ikan tuna termasuk genus Scombrid fishes, famili Scombridae, subfamili Scombrinae, suku Thunini, dan genus Thunnus (Sjarif et al. 2012). Thunnus albacares atau tuna sirip kuning adalah salah satu spesies tuna yang dapat dibedakan dari spesies tuna lainnya. Spesies ini dapat ditangkap sepanjang tahun dengan daerah penyebaran di perairan tropis dan subtropis seperti Samudra Hindia, Pasifik, dan
Atlantik. Suhu perairan yang tepat untuk menemukan spesies ini berada pada rentang 1828oC. Menurut Sjarif et al. (2012), spesies ini memiliki bobot 10-70 kg per ekor dan bobot terbaik mutu ekspor adalah 30 kg. Penampakan tuna sirip kuning dapat dilihat pada Gambar 1

Ono Suparno dan Hafizah Khaerina

Gambar 1 Tuna sirip kuning (Habibi et al. 2011)
Tabel 1 Karakteristik kimiawi kulit ikan tuna
Komponen
Persen (b/b) Persen (b/b)a
Kadar Air
46,52
56,40
Kadar Abu
0,33
2,68
Kadar Lemak
17,55
17,51
Kadar Protein
31,55
22,42
Kadar Serat Kasar
0,32
Kadar Karbohidrat
3,72
a
Sumber: Yudhatama (2013)
Tabel 1 menunjukkan karakteristik kimiawi kulit ikan tuna. Karakteristik kimiawi ini diperoleh dari hasil analisis proksimat yang dilakukan terhadap komponen yang dimiliki oleh kulit ikan tuna. Terdapat beberapa perbedaan antara karakteristik kimiawi ikan tuna yang dihasilkan dengan karakteristik kimiawi pada literatur.
Komponen kulit ikan tuna paling banyak mengandung air karena kulit ini masih dalam keadaan segar yang ditandai dengan nilai kadar air yang paling tinggi, di antara komponen-komponen lainnya. Kandungan air pada kulit ikan ini adalah sebesar 46,52% dan nilai ini lebih rendah dari pada kandungan air yang berasal dari literatur yakni sebesar 56,4%.
Kulit ikan tuna juga mengandung protein sebesar 31,5% dan hal ini menunjukkan kandungan protein pada ikan lebih tinggi dari pada kandungan protein yang berasal dari literatur, yakni sebesar
22,42%. Perbedaan kandungan protein yang terdapat pada kulit ikan tuna disebabkan karena sampel yang diambil untuk analisis proksimat berasal dari letak bagian kulit yang berbeda.
Bagian kulit yang berada di bagian perut mengandung protein lebih sedikit dibandingkan beberapa bagian lainnya seperti ekor dan punggung karena kulit pada bagian perut cenderung lebih banyak mengandung lemak.
Kadar abu pada kulit ikan tuna yang diperoleh adalah sebesar 0,33%. Kadar abu ini lebih rendah jika dibandingkan dengan literatur, yakni 2,68%. Hal ini dipengaruhi oleh adanya mineral seperti K, Na, Ca, Mg, P, Z, dan Fe
(Yudhatama 2013).
Kulit ikan tuna mengandung lemak yang cukup tinggi, yaitu sekitar 17,5%. Nilai ini tidak jauh berbeda dengan literatur yang menyebutkan bahwa kandungan lemak pada kulit ikan tuna sebesar 17,51%. Hal ini dapat disebabkan karena lokasi pengambilan sampel pada bagian tubuh tuna tertentu dan masih adanya sisa-sisa daging yang

masih menempel ketika pengulitan kulit ikan tuna.
Kandungan serat kasar pada kulit ikan tuna ini sebesar 0,32% dan kadar karbohidrat sebesar
3,72% yang dihitung secara by difference.
Kulit ikan tuna merupakan salah satu bahan baku alternatif industri penyamakan kulit. Secara mikroskopis, kulit pada umumnya terdiri atas tiga lapisan, yaitu epidermis, kutis, dan subkutis
(Judoamidjojo et al. 1979). Lapisan epidermis adalah lapisan yang terluar dari kulit ikan yang memiliki struktur ketebalan lebih tinggi dibandingkan bagian kulit yang lain. Epidermis ini berfungsi untuk melindungi tubuh dari pengaruh eksternal, seperti lingkungan, dan biasanya ditumbuhi sisik pada ikan. Lapisan kutis atau corium berada pada lapisan antara epidermis dan subkutis. Lapisan kutis sebagian besar tersusun atas serat-serat tenunan pengikat. Lapisan subkutis merupakan lapisan terdalam dari lapisan-lapisan lainnya yang juga terdiri dari jaringan lemak.
Pada kulit, terdapat sejumlah protein. Ada dua jenis protein yang terdapat pada kulit yaitu protein globular dan protein fibril (serat). Protein globular adalah albumin dan globulin, sedangkan protein serat adalah keratin, elastin, dan kolagen.
Pada kulit samak, kolagen inilah yang dimanfaatkan sebagai protein yang berikatan silang dengan bahan penyamak, sehingga sebagian besar proses prapenyamakan bertujuan untuk mempersiapkan kulit mentah menjadi kulit yang siap untuk diberi bahan penyamak.
Penurunan Ketebalan
Ketebalan kulit merupakan salah satu parameter mutu fisik pada hasil kulit samak.
Ketebalan kulit ini dipengaruhi adanya proses prapenyamakan yang terdiri atas beberapa tahap, yaitu liming (pengapuran), deliming (penghilangan kapur), bating (pelumatan), dan pickling
(pengasaman). Proses bating dapat mempengaruhi ketebalan kulit karena pada proses ini terjadi proses hidrolisis protein non kolagen dan lemak secara enzimatik, serta terlarutnya sejumlah kapur yang masih tersisa pada kulit hasil deliming.
Berdasarkan analisis ragam (anova) konsentrasi bating agent berpengaruh pada variabel penurunan ketebalan kulit. Waktu bating tidak berpengaruh pada variabel penurunan ketebalan kulit. Interaksi antara faktor konsentrasi bating agent dan waktu bating tidak berpengaruh pada penurunan ketebalan kulit.
Gambar
2 menunjukkan pengaruh konsentrasi bating agent terhadap penurunan ketebalan kulit. semakin tinggi pula penurunan ketebalan yang dihasilkan kulit hasil bating.
Menurut Covington (2011b), konsentrasi bating agent akan berpengaruh terhadap mutu kulit hasil bating. Hal ini disebabkan oleh enzim protease dan lipase yang dikandung bating agent mampu

Penentuan Konsentrasi Bating Agent dan Waktu Bating Dalam Proses Bating Kulit Ikan Tuna

Penurunan
Ketebalan (%)

menghidrolisis protein non kolagen dan lemak, serta mengakibatkan hilangnya sejumlah substansi yang membuat ketebalan kulit menurun. Hal tersebut diduga dapat berupa sisa kapur yang masih menempel pada kulit hasil deliming.
10
5
0

0
0,5
1
1,5
Konsentrasi Bating Agent (%)
Gambar 2 Hubungan konsentrasi bating agent dengan penurunan ketebalan
Nilai rataan penurunan ketebalan kulit akibat pengaruh konsentrasi bating agent ditunjukkan dalam subset yang berbeda. Subset ini merupakan hasil pengelompokan Duncan (Duncan grouping). Nilai rataan yang memiliki subset yang berbeda menunjukkan bahwa ada pengaruh yang berbeda nyata akibat pengaruh konsentrasi bating agent di setiap tarafnya. Konsentrasi bating agent
0% (kontrol) berpengaruh nyata terhadap penurunan ketebalan kulit yang menggunakan bating agent 0,5%, 1%, dan 1,5%. Penggunaan bating agent 0,5% berpengaruh terhadap penurunan ketebalan kulit yang diberi bating agent
1% dan 1,5% secara signifikan. Konsentrasi bating agent 1% dan 1,5% memiliki subset yang sama, yang menandakan bahwa nilai penurunan ketebalan dengan kedua konsentrasi tersebut tidak berbeda nyata. Perlakuan kontrol menghasilkan penurunan ketebalan yang paling rendah diantara sampel dengan perlakuan penambahan bating agent. Hal ini disebabkan karena tidak adanya katalisator sebagaimana fungsi katalisator ini dimiliki oleh enzim (Winarno 2010).
Proses pada tahap prapenyamakan yang paling berpengaruh pada ketebalan kulit adalah proses liming. Liming (pengapuran) dilakukan dengan menambah kapur tohor (Ca(OH)2) dan natrium sulfida (Na2S). Proses ini bertujuan untuk menghidrolisis protein kulit akibat penambahan
Na2S, khususnya pada bagian epidermis dan subkutis yang mengandung protein globular. Pada proses ini, kolagen relatif lebih sulit mengalami kerusakan akibat perlakuan basa, namun dapat meningkatkan pembuangan non-structural protein atau protein globular pada kulit (Covington 2011b).
Kulit hasil liming akan bersifat basa (pH ±12), bertekstur kaku, dan mengalami pembengkakan atau swelling akibat penambahan kapur itu sendiri.
Menurut Madhan et al. (2010), protein seperti albumin dan globulin memiliki kelarutan yang tinggi dalam kondisi basa pada proses liming. Pada kulit yang bengkak, proses fleshing atau pembuangan sisa-sisa daging yang masih melekat
* Penulis untuk korespondensi

akan lebih mudah dilakukan karena lapisan subkutis ikut terbuang. Sisa daging yang tersisa pada kulit akan mengakibatkan proses penyamakan menjadi kurang sempurna karena sisa daging tersebut menghalangi bahan penyamak untuk masuk dan membentuk crosslinking dengan serat kolagen. Pada proses liming kulit mengalami pembengkakan atau swelling karena struktur kulit mengikat ion Ca2+ dari Ca(OH)2. Mekanisme pembengkakan kulit tersebut dapat dilihat pada
Gambar 3.

Gambar 3 Proses pengikatan ion Ca2+ dalam kolagen kulit (Hendryanto 2013)
Pembengkakan kulit akan menyusut ketika proses deliming atau penghilangan kapur dengan deliming agent berupa garam amonium atau asam lemah. Proses ini akan menurunkan pH kulit hasil liming yang sebelumnya bersifat basa. Penggunaan garam amonium berdampak pada pencemaran lingkungan yang dapat menyebabkan nitrifikasi pada badan air (Colac dan Kilic 2007). Asam borat yang tergolong asam lemah dapat digunakan sebagai non-amonium deliming agent karena memiliki kemampuan penetrasi dan dapat mengurasi resiko terjadinya swelling pada kulit
(Yunhang et al. 2011).
Pada industri penyamakan kulit, garam yang paling sering digunakan adalah garam amonium klorida dan amonium sulfat. Dengan adanya ion sulfat dan ion klorida, ion kalsium dapat terikat menjadi garam larut air. Mekanisme pengikatan ion
Ca2+ oleh ion sulfat dan ion klorida dapat dilihat pada Gambar 4.
Ca(OH)2 + SO42Ca(OH)2 + Cl-

CaSO4 + 2OHCaCl2 + 2OH-

Gambar 4. Reaksi pengikatan ion kalsium oleh ion sulfat dan klorida (Covington 2011a)
Sampel kulit yang diberi perlakuan bating akan memiliki nilai ketebalan yang lebih kecil dibandingkan sampel kulit hasil deliming karena zat-zat yang terbuang pada kulit akan semakin banyak. Zat-zat tersebut adalah protein, lemak, dan sisa kapur. Menurut Ya-nan et al. (2013), kulit yang diberi perlakuan bating akan kehilangan sejumlah protein dan lemak yang dapat larut pada cairan bating. Kapur yang terkandung pada kulit hasil deliming tidak akan hilang seluruhnya dan masih menyisakan 0,2-0,4% kapur (Ya-nan et al.
2013). Oleh karena itu, proses bating juga berperan dalam penurunan ketebalan kulit.

Ono Suparno dan Hafizah Khaerina

Pada penelitian ini, konsentrasi bating agent terbaik adalah 1%, karena pada konsentrasi tersebut nilai penurunan ketebalan yang dimiliki lebih tinggi dibanding konsentrasi 0% dan 0,5%.
Namun nilai tersebut tidak berbeda nyata dengan nilai penurunan ketebalan yang dihasilkan oleh konsentrasi 1,5%. Dengan pertimbangan efisiensi penggunaan bating agent juga maka konsentrasi
1% dipilih sebagai konsentrasi terbaik dalam menurunkan ketebalan. Pemilihan konsentrasi ini juga akan dipertimbangkan pada kedua respon lainnya, yaitu kadar protein terlarut dan penurunan kadar lemak kulit. Waktu terbaik dalam proses bating adalah 0,5 jam. Hal ini disebabkan berbagai taraf waktu tidak berpengaruh signifikan dan dapat dikatakan bahwa baik 0,5, 1,5, dan 2,5 jam memiliki pengaruh yang sama terhadap penurunan ketebalan kulit.
Kadar Protein

Kadar Protein
Terlarut (ppm)

Bating (pelumatan) merupakan proses untuk menyempurnakan pembuangan protein non kolagen. Protein adalah senyawa kompleks yang terdiri atas asam-asam amino yang diikat satu sama lain dengan ikatan peptida (Winarno 2010). Asam amino terdiri atas rantai karbon (radikal, R), atom hidrogen, dan gugus karboksilat (COOH), dan terkadang gugus hidroksil (OH), belerang (S), serta gugus amino (NH2). Proses bating melanjutkan pembuangan protein yang dilakukan pada proses sebelumnya, yaitu liming. Pada proses liming, protein yang terkandung pada lapisan epidermis dan subkutis dihidrolisis.
Berdasarkan analisis ragam (anova), pengaruh konsentrasi bating agent dan waktu bating, keduanya berpengaruh pada variabel kadar protein terlarut. Interaksi antara faktor konsentrasi bating agent dan waktu bating tidak berpengaruh pada kadar protein terlarut.
Gambar 5 dan Gambar 6 menunjukkan pengaruh konsentrasi bating agent dan waktu bating terhadap kadar protein terlarut. Gambar 5 menunjukkan semakin tinggi konsentrasi bating agent yang digunakan, semakin banyak kadar protein yang terlarut dalam cairan hasil bating
(Covington 2011b). Begitu pula dengan waktu
(Gambar 6), semakin lama waktu bating akan meningkatkan laju reaksi hidrolisis protein yang ada pada kulit.
1500
1000
500
0

0
0,5
1
1,5
Konsentrasi Bating Agent (%)
Gambar 5 Hubungan konsentrasi bating agent terhadap kadar protein terlarut

Gambar 6 Hubungan waktu bating terhadap kadar protein terlarut
Nilai rataan kadar protein terlarut akibat pengaruh konsentrasi bating agent dan waktu bating memiliki subset yang berbeda. Subset ini merupakan hasil pengelompokan Duncan (Duncan grouping). Nilai rataan yang memiliki subset yang berbeda menunjukkan bahwa ada pengaruh yang berbeda nyata akibat pengaruh konsentrasi bating agent dan waktu bating di setiap tarafnya.
Konsentrasi bating agent 0% (kontrol) berpengaruh pada kadar protein terlarut yang menggunakan bating agent 0,5%, 1%, dan 1,5% secara signifikan.
Konsentrasi bating agent 0,5%, 1%, dan 1,5% memiliki subset yang sama, yang menandakan bahwa ketiga konsentrasi tersebut tidak memberikan berpengaruh dalam peningkatan kadar protein terlarut secara signifikan. Masing-masing perlakuan waktu bating (0,5, 1,5, 2,5 jam) memberikan nilai peningkatan kadar protein terlarut yang berbeda nyata.
Bating agent yang umum digunakan oleh industri penyamakan kulit adalah enzim yang berasal dari ekstrak pankreas dengan berbagai macam merk dagang. Enzim protease merupakan salah satu enzim yang terkandung pada pankreas.
Hal ini dibuktikan dengan adanya aktivitas enzim protease sebesar 1,13 U/g.menit pada bating agent yang digunakan. Kinerja bating agent pada proses pelumatan ditandai dengan banyaknya kandungan protein pada kulit yang menurun. Analisis kadar protein terlarut ini juga dapat dideteksi melalui larutan hasil bating dengan metode Lowry (Ya-nan et al. 2013; Madhan et al. 2010). Pengujian kadar protein ini bertujuan untuk mengukur protein dari kulit yang terlarut di dalam cairan hasil bating.
Mekanisme kerja enzim protease yang terkandung dalam bating agent adalah dengan memutus ikatan peptida pada protein non kolagen, sehingga pada saat pengukuran kadar protein terlarut, asam-asam amino sebagai residu pada proses hidrolisis protein tersebut dinyatakan sebagai protein yang terhidrolisis yang larut di dalam cairan bating (Gambar 7). Enzim protease akan mempercepat proses hidrolisis protein yang terjadi. Hidrolisis protein adalah proses pemecahan kompleks protein dengan melibatkan air. Air yang tersedia dalam larutan bating akan memecah ikatan peptida. Ion H+ akan berikatan dengan gugus

Penentuan Konsentrasi Bating Agent dan Waktu Bating Dalam Proses Bating Kulit Ikan Tuna



amina pada suatu asam amino dan ion OH- akan berikatan dengan gugus karboksil yang ada pada asam amino lainnya.

Kepekatan warna tersebut diukur dengan spektrofotometri untuk diukur nilai absorbansinya, sehingga konsentrasi protein terlarut (ppm) dapat diukur juga dari rumus persamaan garis yang diperoleh ketika membuat kurva standar.
Konsentrasi terbaik dalam proses bating belum dapat ditentukan pada respon kadar protein terlarut dengan berbagai taraf konsentrasi (0,5%,
1%, dan 1,5%) karena tidak berpengaruh pada respon tersebut secara signifikan. Namun konsentrasi terbaik sudah dapat ditentukan dari respon penurunan ketebalan yaitu pada konsentrasi
1%. Respon lain yang turut dipertimbangkan lebih lanjut dan dapat memperkuat alasan pemilihan konsentrasi tersebut adalah penurunan kadar lemak kulit. Waktu terbaik dalam proses bating adalah 2,5 jam karena pada waktu tersebut memiliki nilai kadar protein terlarut yang paling tinggi di antara kedua waktu lainnya (0,5 jam dan 1,5 jam). Nilai tersebut juga berbeda nyata dengan nilai kadar protein terlarut dengan berbagai waktu lainnya.
Nilai kadar protein terlarut kondisi terbaik ini yaitu sebesar 1502 ppm.

N–C–C

Kadar Lemak

Dipeptida

Air
H


H

H

O



H

H

N–C–C

+

H2O




N–C–C

O
R



H

R

O

H
H

O

H


N–C–C
R

O

H

Asam amino (1)

O





H

+





H
H

H

R

O

Asam amino (2)

Gambar 7 Mekanisme hidrolisis protein oleh air
(Sumardjo 2006)
Enzim memiliki keistimewaan berupa daya katalitik dan spesifisitas yang sangat tinggi
(Winarno 2010). Protein kolagen tidak ikut terhidrolisis pada proses bating tersebut karena kolagen relatif lebih stabil terhadap adanya enzim protease yang mengandung tripsin dan kimotripsin.
Namun kolagen dapat terdenaturasi oleh panas dan dalam keadaan tersebut, kolagen dapat dengan mudah terhidrolisis oleh enzim protease. Enzim yang dapat menghidrolisis kolagen dalam keadaan belum terdenaturasi adalah enzim kolagenase yang mempunyai spesifitas yang tinggi terhadap substrat yang memiliki asam amino prolin, hidroksiprolin, dan glisin (Winarno 2010).
Asam amino yang terlarut di dalam cairan bating agent berupa triptofan dan tirosin. Hal ini berdasarkan prinsip pengukuran kadar protein terlarut metode Lowry yaitu untuk mengetahui kandungan protein yang terlarut dalam suatu larutan. Reaksi antara Cu2+ dan ikatan peptida dengan mereduksi asam fosfolibdat dan asam fosfotungstat oleh tirosin dan triptofan yang merupakan residu protein dan menghasilkan warna biru (Lowry et al. 1951). Kepekatan warna biru yang dihasilkan menandakan banyaknya residu protein yang terkandung pada cairan hasil bating.
* Penulis untuk korespondensi

Proses bating memegang peranan penting dalam menentukan mutu kulit samak. Substansi pada kulit selain protein non kolagen akan dihilangkan melalui proses ini adalah lemak.
Lemak dipecah oleh enzim lipase yang dikandung ekstrak pankreas yang digunakan sebagai bating agent. Lemak merupakan cadangan energi terbesar pada tubuh makhluk hidup. Lemak atau trigliserida terdiri atas gliserol dan asam lemak.
Berdasarkan analisis ragam (anova), pengaruh konsentrasi bating agent dan waktu bating masing-masing berpengaruh pada variabel penurunan kadar lemak. Interaksi antara faktor konsentrasi bating agent dan waktu bating tidak berpengaruh pada penurunan kadar lemak.
Gambar 8 dan Gambar 9 menunjukkan pengaruh konsentrasi bating agent dan waktu bating terhadap penurunan kadar lemak. Gambar 8 menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi bating agent akan meningkatkan penurunan kadar lemak pada kulit. Hal ini disebabkan oleh semakin tinggi konsentrasi bating agent akan mempercepat laju reaksi hirolisis lemak yang terjadi (William
2013). Begitu juga dengan waktu bating yang semakin lama (Gambar 9). Hal ini akan berdampak pada penurunan kadar lemak yang semakin banyak jumlahnya. Waktu bating yang tepat tentu akan membuat proses pemecahan lemak terjadi secara sempurna. Namun jika waktu bating yang digunakan terlalu sebentar, proses hidrolisis lemak ini belum terjadi secara sempurna yang ditandai dengan rendahnya penurunan kadar lemak yang terjadi. Ono Suparno dan Hafizah Khaerina

Penurunan Kadar
Lemak (%)

2
1,5
1
0,5
0

Penurunan Kadar
Lemak (%)

0
0,5
1
1,5
Konsentrasi Bating Agent (%)
Gambar 3 Hubungan konsentrasi bating agent dengan penurunan kadar lemak
2
1,5
1
0,5
0
0,5

1,5
2,5
Waktu (jam)
Gambar 9 Hubungan waktu bating dengan penurunan kadar lemak
Nilai rataan penurunan kadar lemak akibat pengaruh konsentrasi bating agent dan waktu bating memiliki subset yang berbeda. Subset ini merupakan hasil pengelompokan Duncan (Duncan grouping). Nilai rataan yang memiliki subset yang berbeda menunjukkan bahwa ada pengaruh yang berbeda nyata akibat pengaruh konsentrasi bating agent dan waktu bating di setiap tarafnya.
Konsentrasi bating agent 0% (kontrol) berpengaruh pada penurunan kadar lemak yang menggunakan bating agent 0,5%, 1%, dan 1,5% secara signifikan.

Konsentrasi bating agent 0,5% dan 1,5% memiliki subset yang sama, yang menandakan bahwa kedua konsentrasi tersebut tidak memberikan perubahan yang nyata terhadap penurunan kadar lemak.
Namun penggunaan bating agent 1% berpengaruh pada penurunan kadar lemak kulit yang diberi bating agent 1,5%. Waktu bating 0,5 jam memberikan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap kadar lemak kulit yang diberi perlakuan waktu selama 1,5 jam. Namun waktu bating 0,5 jam memberi nilai kadar lemak yang berbeda nyata dengan pengaruh waktu 2,5 jam. Hal ini ditandai dengan pengelompokan Duncan bahwa nilai-nilai ini memiliki subset yang berbeda.
Hidrolisis lemak yang terjadi pada proses bating dipengaruhi adanya enzim lipase yang dikandung pada bating agent berupa ekstrak pankreas. Aktivitas enzim lipase yang terdapat pada bating agent ini sebesar 0,051 U/g.menit.
Enzim lipase berfungsi mengkatalisis penguraian trigliserida (lemak) menjadi digliserida dan asam lemak. Selain itu, lipase juga dapat menghidrolisis digliserida lebih lanjut menjadi monogliserida dan bahkan yang heterogen. Menurut Winarno (2010), hal ini berarti lipase sangat lambat kerjanya pada larutan lemak dalam air dan menjadi sangat cepat dalam keadaan emulsi.
Kerja lipase juga memiliki spesifitas terhadap lokasi atau posisi ester. Skema hidrolisis trigliserida dapat dilihat pada Gambar 10. Pada gambar tersebut, ester yang letaknya pada bagian luar molekul yaitu alkohol primer akan lebih dulu dipecah, kemudian diikuti oleh pemecahan alkohol sekunder yaitu posisi tengah.

1,2-Digliserida
(c)
(b) 2-Monogliserida
+ asam lemak

Trigliserida(a)

Gliserol
+ asam lemak

2,3-Digliserida + asam lemak Gambar 10 Reaksi hidrolisis trigliserida (a) sangat cepat, (b) lambat, (c) sangat lambat (Winarno 2010)
O

O

CH2 – O – C – R’





O

CH – O – C – R”

+ 3 H2 O

O

CH – OH

+

HO – C – R”
O





O

CH2 – OH

CH2 – O – C – R’” trigliserida HO – C – R’

CH2 – OH

3 mol air

gliserol

Gambar 11 Mekanisme hidrolisis trigliserida oleh air (Ketaren 1986)

HO – C – R’”
3 mol asam lemak

Penentuan Konsentrasi Bating Agent dan Waktu Bating Dalam Proses Bating Kulit Ikan Tuna

Mekanisme hidrolisis lemak terjadi karena adanya keterlibatan air (Gambar 11). Air akan memutus ikatan karboksilat yang terdapat pada trigliserida. Ion H+ akan membentuk asam lemak sedangkan ion OH- akan membentuk gliserol dari hasil pemecahan trigliserida. Lemak yang hilang dari permukaan kulit akan membantu kulit untuk mempermudah penyerapan dan pembentukan crosslinking antara bahan penyamak dan kolagen
(Judoamidjojo 1979).
Konsentrasi bating agent terbaik yaitu pada konsentrasi 1%, karena pada konsentrasi tersebut nilai penurunan kadar lemak yang dimiliki lebih tinggi dibanding konsentrasi 0% dan 0,5%. Namun nilai tersebut tidak berbeda nyata dengan nilai kadar lemak yang dihasilkan pada konsentrasi
1,5%. Dengan pertimbangan efisiensi penggunaan bating agent juga maka konsentrasi 1% dipilih sebagai konsentrasi terbaik dalam penurunan kadar lemak. Waktu terbaik dalam proses bating adalah
2,5 jam karena pada waktu tersebut memiliki nilai penurunan kadar lemak yang paling tinggi di antara kedua waktu lainnya (0,5 jam dan 1,5 jam).
Penurunan kadar lemak pada kondisi terbaik ini yaitu sebesar 1,6%.
Uji Organoleptik
Pengujian organoleptik atau sensori adalah pengujian untuk menilai mutu suatu benda menggunakan indra yang dimiliki manusia
(Setyaningsih et al. 2010). Mutu organoleptik kulit hasil bating dilakukan pada tekstur kulit melalui perabaan. Tekstur dijadikan sebagai salah satu parameter untuk menentukan mutu fisik kulit yang telah diproses, baik itu pada proses bating, maupun proses penyamakan. Parameter tekstur yang diamati adalah ketenturan dan ketahanan tekan kulit terhadap beban yang diberikan.
Tabel 2 Hubungan konsentrasi bating agent dan waktu bating terhadap kelenturan dan ketahanan tekan kulit hasil bating
Konsentrasi
Waktu
Sifat Organoleptik
Bating
Bating
Kelenturan Ketahanan
Agent (%)
(jam)
Tekan
0,5
2
2
0,5
1,5
2
3
2,5
3
3
0,5
5
4
1
1,5
7
6
2,5
7
7
0,5
8
7
1,5
1,5
8
7
2,5
9
8
Keterangan =
1-3
: agak lentur/tidak berbekas
4-7
: lentur/berbekas
8-10
: sangat lentur/sangat berbekas
* Penulis untuk korespondensi

Tabel 2 menunjukkan hubungan antara konsentrasi bating agent dan waktu bating terhadap mutu organoleptik tekstur. Data tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi bating agent yang digunakan membuat kulit semakin lentur dan berbekas apabila ditekan dengan beban. Kelenturan menandakan bahwa kulit kehilangan kandungan protein non kolagen seperti elastin, keratin, sistin, dan lain sebagainya akibat proses bating. Elastin akan memberikan elastisitas yang baik pada kulit. Keratin merupakan protein yang terkandung pada kulit bagian epidermis yang memberikan tekstur kulit relatif lebih tebal dan keras dari pada bagian kulit lainnya. Begitu juga dengan sistin. Protein ini mengandung atom S
(sulfur) yang berikatan dengan asam amino pembentuknya. Ketahanan tekan kulit yang rendah juga diakibatkan kehilangan protein dan juga lemak sehingga kulit nampak ‘kosong’ dan cenderung sulit untuk kembali ke bentuk semula jika ditekan dengan suatu beban.
Pada industri penyamakan kulit, proses bating dapat dikatakan cukup apabila tekstur kulit hasil bating memiliki ketahanan tekan yang rendah
(Judoamidjojo et al. 1979). Ini berarti bahwa apabila kulit ditekan dengan jari, kulit tidak mudah kembali ke bentuk semula dan meninggalkan bekas tekan. Namun, apabila kulit hasil bating masih agak keras dan tidak meninggalkan bekas tekan, biasanya industri melanjutkan bating dengan penambahan waktu. Terkait parameter tekstur, waktu bating perlu diperpanjang atau tidak, tergantung pada mutu kulit yang diinginkan.
Penentuan Kombinasi Perlakuan Terbaik
Penentuan kombinasi perlakuan terbaik pada penelitian ini dilakukan berdasarkan pada sifat fisik, kimiawi, dan mutu organoleptik yang dihasilkan. Proses bating dapat dikatakan cukup baik apabila kulit bating yang dihasilkan memiliki tekstur yang lentur dan apabila ditekan meninggalkan bekas tekan yang tidak mudah kembali ke bentuk semula kulit. Hal ini menandakan bahwa kandungan kimiawi kulit seperti protein dan lemak telah hilang atau dihidrolisis oleh bating agent. Selain itu pula, adanya sisa kapur yang terlarut pada kulit juga turut mempengaruhi tekstur kulit hasil bating.
Kehilangan kandungan kimiawi ini akan berdampak pada sifat fisik seperti penurunan ketebalan. Pada penelitian ini, kombinasi perlakuan terbaik yang dipilih adalah bating agent dengan konsentrasi 1% dan waktu 2,5 jam. Konsentrasi 1% merupakan konsentrasi terbaik karena pada beberapa parameter yang diuji secara umum menurut uji statistik (uji ragam dan uji lanjut) berpengaruh pada semua respon kulit hasil bating yang diberi konsentrasi 0,5%. Namun konsentrasi

Ono Suparno dan Hafizah Khaerina

1% tidak memberikan hasil yang berbeda nyata dengan kulit hasil bating yang diberi konsentrasi
1,5%. Waktu 2,5 jam merupakan waktu terbaik karena bating agent memiliki kemampuan menghidrolisis yang lebih baik jika dibandingkan dengan waktu 0,5 dan 1,5 jam. Waktu bating yang lebih lama akan membuat waktu kontak antara kulit dengan bating agent juga semakin lama dan proses hidrolisis yang terjadi menjadi lebih sempurna.
Kombinasi tersebut menghasilkan penurunan ketebalan sebesar 5,6%, kadar protein terlarut 1502 ppm, penurunan kadar lemak sebesar 1,6%, serta kelenturan yang lentur dan berbekas apabila diuji ketahanan tekan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Konsentrasi bating agent berpengaruh dalam menurunkan ketebalan, kadar lemak, dan meningkatkan kadar protein terlarut. Waktu bating berpengaruh dalam meningkatkan kadar protein terlarut dan menurunkan kadar lemak. Namun, interaksi kedua faktor tersebut tidak berpengaruh terhadap semua variabel yang diamati. Konsentrasi bating agent 1% dan waktu bating 2,5 jam merupakan kombinasi perlakuan terbaik dari penelitian ini. Penurunan ketebalan pada kondisi tersebut sebesar 5,6%, kadar protein terlarut 1502 ppm, dan penurunan kadar lemak sebesar 1,6%.
Pada kondisi tersebut, mutu organoleptik kulit yang dihasilkan memiliki tekstur yang lentur dan berbekas apabila diuji ketahanan tekan.
Saran
Faktor konsentrasi bating agent dan waktu bating merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kulit hasil bating. Dalam melakukan penelitian ini, diperlukan suhu dan pH yang sesuai agar bating agent dapat bekerja secara sempurna. Kondisi yang sesuai untuk melakukan bating dengan menggunakan ekstrak pankreas yaitu suhu 30-40oC dan pH 7,5-8,5.
DAFTAR PUSTAKA
Colac SM, Kilic E. 2007. Deliming with Leak
Acids: Effect on Leather Quality and
Effluent. Journal of The Society of Leather
Technologists and Chemists. 92 (3): 120123.
Covington AD. 2011a. Tanning Chemistry The
Science of Leather. Northampton (UK): The
Royal Society of Chemistry.
Covington AD. 2011b. Prediction in Leather
Processing: A Dark Art or a Clear
Possibility? Procter Memorial Lecture.
Journal of The Society of Leather

Technologists and Chemists. 95 (6): 231242.
Habibi A, Dwi A, Sugiyanta. 2011. Seri Panduan
Perikanan Skala Kecil. Perikanan Tuna –
Panduan Penangkapan dan Penanganan.
Jakarta (ID): WWF-Indonesia.
Hastuti TU. 2013. Penyamakan Kulit Ikan Tuna
(Thunnus Sp) dengan Kombinasi Penyamak
Krom dan Nabati. Bogor (ID): IPB.
Hendryanto D. 2013. Penentuan Jenis Deliming
Agent dan Kecepatan Pengadukan dalam
Proses Penghilangan Kapur (Deliming)
Kulit Liming Ikan Tuna. Bogor (ID): IPB.
Judoamidjojo RM, Fahidin, Basuki. 1979.
Komoditi Kulit di Indonesia. Bogor (ID):
Departemen Teknologi Hasil Pertanian.
Ketaren S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan
Lemak Pangan. Jakarta (ID): UI Press.
Krishnaraj K, Thanikaivelan, Chandrasekaran B.
2010. Effect of Chromium and Tanning
Method on The Drape of Goat Suede
Apparel Leathers. The Journal of The
American Leather Chemists Association.
105: 71 – 77.
Lowry OH, Nira JR, A Lewis F, Rose JR. 1951.
Protein Measurement with The Folin Phenol
Reagent. The Journal of Biological
Chemistry. 193: 265-275.
Madhan B, J Rao, B Nair. 2010. Studies on The
Removal of Interfibrillary Materials Part I:
Removal of Protein, Proteoglycans,
Glycosoaminoglycans from Conventional
Beamhouse Process. The Journal of The
American Leather Chemists Association.
105 (5): 145-149.
Muchtadi D. 2010. Teknik Evaluasi Nilai Gizi
Protein. Bandung (ID): Alfabeta.
Peranginangin R, Agusman, dan Achmad P. 2011.
Penelitian dan Pengembangan Hasil
Samping Industri Perikanan. Jurnal. Analisis
Kebijakan
Pengembangan
Industri
Pengolahan Hasil Perikanan dan Kelautan.
ISBN 978-602-9619: 78-98.
Saravanbhavan S, Rao JR, Nair BU. 2006. A New
Leather Making Process for Meeting EcoLabel Standards: Processing Goat Skins.
The Journal of The American Leather
Chemists Association. 105: 181-188.
Satria A, Eva A, Akhmad S. 2009. Globalisasi
Perikanan: Reposisi Indonesia?. Bogor (ID):
IPB Press.
Setyaningsih D, Anton A, dan Maya PS. 2010.
Analisis Sensori untuk Industri Pangan dan
Agro. Bogor (ID): IPB Press.
Sjarif B, Suwardiyono, Syahasta D G. 2012.
Penangkapan dan Penanganan Ikan Tuna
Segar di Kapal Rawai Tuna. Semarang (ID):
Balai
Besar
Pengembangan
dan
Penangkapan Ikan.

Penentuan Konsentrasi Bating Agent dan Waktu Bating Dalam Proses Bating Kulit Ikan Tuna

Sumardjo D. 2009. Pengantar Kimia Buku Panduan
Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program
Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta (ID):
EGC.
Shirai K, Jackson RL. 1982. Lipoprotein Lipasecatalyzed Hydrolysis of p-Nitrophenyl
Butyrate.
Interfacial
Activation
by
Phospholipid Vesicles. Journal of Biological
Chemistry. 257 (3): 1253-1258.
Quinn DM, Shirai K, Jackson RL, Harmony JAK.
1982. Lipoprotein Lipase Catalyzed
Hydrolysis of Water-soluble p-Nitrophenyl
Ester: Inhibition by Apolipoprotein-II.
Biochemistry. 21:6872–6879.
William J. 2013. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim [internet]. [diacu 2014 12
Agustus].
Tersedia dari http://www.jendelasarjana.com/2013/09/ faktor-yang-mempengaruhi-kerjaenzim.html. Winarno FG. 2010. Enzim Pangan. Bogor (ID): MBrio Press.
Ya-nan W, Yunhang Z, Xuepin L, Wenhua Z, Bi S.
2013. Removal of Calcium from Pelt During
Bating Process: An Effective Approach for
Non-Ammonia Bating. The Journal of The
American Leather Chemists Association.
108 (4): 120-127.
Yudhatama R. 2013. Penentuan Konsentrasi
Ca(OH)2 dan Suhu untuk Proses
Pengapuran (Liming) Kulit Ikan Tuna.
Bogor (ID): IPB.
Yunhang Z, Jiahong L, Xuepin L, Qiang H, Bi S.
2011. Non-ammonia Deliming Using
Sodium Hexametaphosphate and Boric
Acid. The Journal of The American Leather
Chemists Association. 106 (9): 257-263.

* Penulis untuk korespondensi

Similar Documents