Free Essay

Melepaskan Diri Dari Manja

In:

Submitted By ViviRia
Words 4383
Pages 18
Melepaskan Diri dari Manja
SELEKSI MAWAPRES UK PETRA
Vivi ria putri
2014

BAB I. PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Mengacu pada Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 5b, pendidikan tinggi bertujuan : dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa (kemikbud, 2012). Dimana diharapkan dengan menyandang gelar kaum minoritas berintelektual, mahasiswa yang merupakan aset nasional diberi amanat untuk mewujudkan cita-cita perjuangan bangsa dan negara menuju perubahan yang lebih baik.
Namun sebaliknya, yang terjadi dalam pemeringkatan terbaru, QS World University Rankings 2013/2014, menunjukkan bahwa peringkat institusi pendidikan tinggi Indonesia justru merosot. Menurut Kepala Riset QS Intelligence Unit Ben Sowter, rangking semua institusi pendidikan tinggi Indonesia yang masuk dalam pemeringkatan turun satu bar (melampaui selisih angka 100). Padahal peringkat kampus Asia lainnya justru menanjak naik (okezone, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa di zaman yang ditopang kemajuan teknologi dan kemudahan mengakses segala informasi ini tidak digunakan sebagaimana mestinya. Dalam arti tidak digunakan untuk mendukung proses pembelajaran secara efektif.
Seaakan mengikuti arus zaman yang serba praktis, beberapa dari kaum agen perubahan (agent of change) Indonesia ini malah makin ‘manja’. Manja dalam pengertian mereka tidak perlu berusaha lebih jauh untuk memperoleh sesuatu, dan akhirnya menjadi tidak mau berusaha. Alhasil mereka tidak membuat suatu perubahan, malah ikut berubah karena perubahan dari luar. Akhirnya ketidak mandirian membentuk mereka menjadi generasi peminta, yang terus memprotes dan menyalahkan tanpa ikut turut serta mengambil peran untuk perubahan yang mereka harapkan.
Pola pikir dan pola hidup mahasiswa pada era sekarang ini memiliki andil dalam kemanjaan mereka. Pola pikir mereka telah terbentuk bahwa tidak perlu memacu diri saat menginginkan sesuatu dan terbiasa menerima perlakuan anak emas dari orang tua yang tidak ingin anaknya susah, menurunkan daya saing kaum intelektual minoritas ini.
Dahulunya orangtua anak itu mengalami masa yang sulit. Mereka pun tak ingin anaknya merasakan, sehingga memanjakannya. Dampaknya mereka pun over protective terhadap anaknya. Hal itu membuat anaknya sulit mandiri, mental anak tak sebaja mental orangtuanya. Pengamat Sosial dan Budaya Universitas Indonesia Devie Rahmawati (Sindo, 2014).
Intervensi orangtua pun hingga masuk pada perkuliahan, dimana orang tualah yang ‘menyuruh’ anaknya untuk kuliah, dan pada jurusan yang telah mereka tentukan. Lebih jauh bahkan memilihkan mata kuliah apa saja yang diambil dan jumlah satuan kredit semester (SKS) perkuliahan. Yang terjadi adalah tingkat kehadiran kelas yang rendah dan penurunan standar pendididkan. Akhirnya, mereka akan cenderung menjadi generasi penunggu dan peminta yang hidup dalam orientasi pada kenyamanan. Pada kenyataannya pola kehidupan yang disajikan adalah hidup yang menyenangkan secara individual.
Minimnya perilaku ilmiah tetap tidak bisa digeneralisir pada keseluruhhan mahasiswa. Meskipun demikian, adanya pseudo1 mahasiswa tidak bisa diingkari dan terkesan bangga mengenakan topengnya. Lebih parah lagi, mahasiswa bertopeng menyelesaikan tugas akhir atau skripsinya melalui “the invisible hand”. Diungkapkan oleh Hendra Sugiantoro Universitas Karangmalang Yogyakarta (bunghatta, 2008).
1. Pseudo adalah semu; palsu; bukan sebenarnya
Akibatnya mereka tidak terbiasa untuk ‘menchallenge’ dirinya dalam suatu pencapaian, sehingga daya kompetitifnya rendah karena tidak memiliki daya juang dalam pencapaian target.
Dampak dari salah satu ketidak mandirian ini adalah mereka tidak mengetahui dunia luar, hanya terfokus pada dirinya dan pemenuhan akan kebutuhan hidupnya. Paradigma yang saat ini beredar di mahasiswa Indonesia adalah “Lulus cepat, langsung kerja”, dimana yang sering terjadi adalah penanggalan peran penting mahasiswa sebagai pengabdi masyarakat. Peran mahasiswa sebagai iron stock (diibaratkan besi karena suatu saat pula besi yang baru akan berkarat dan harus diganti dengan besi yang baru lagi – pergantian generasi –) juga sepertinya masih jauh; mereka cenderung pasif dan tidak mau menoleh pada realita yang terjadi dalam masyarakat.
Pemerintah mencoba mengambil andil untuk menjawab permasalahan pada perguruan tinngi, yakni salah satunya melalui kebijakan Dirjen Dikti Kemendiknas, menetapkan mulai Agustus 2012 kriteria kelulusan mahasiswa jenjang S1, S2, S3 adalah dengan menulis karya ilmiah dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah. Kebijakan ini haruslah dijadikan motivasi dan tantangan yang harus ditaklukan serta menjadi perhatian bagi mahasiswa, agar serius dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan proses pembelajaran di bangku kuliah. Ketergantungan harus dilawan dengan kemandirian.
Dengan kebijakan publikasi jurnal, mahasiswa tidak akan serta-merta akan peduli dengan lingkungan sekitarnya. Peduli dengan realita masyarakat harus dilakukan dengan pendekatan yang berbeda. Salah satunya dengan mendorong peningkatan softskill yang jika diterapkan dengan benar selain bisa mengurangi ketidakmandirian seseorang, juga dapat mengarahkan mahasiswa ‘menoleh’ pada lingkungannya.
Seperti yang kita ketahui, soft skill adalah kecerdasan diluar kemampuan akademis yang menekankan EQ (Emotional Quotient) atau kecerdasan emosional. Soft skill merupakan kemampuan yang umum, tidak terpaku pada suatu bidang tertentu dan bersifat invisible atau tidak dapat dilihat secara langsung, misalnya kemampuan seseorang dalam memimpin. Dimana dalam keterampilan-keterampilan soft skill dapat membangun kemandirian dan menumbuhkan jiwa sosial.

Jika keadaan ketidakmandirian, manja ini terus dibiarkan, maka mahasiswa Indonesia tidak akan bisa menjadi pemimpin masa depan yang ideal, akan selalu bergantung pada orang lain; atau kalaupun mandiri, akan menjadi pribadi yang apatis2. Ia sebagai pribadi akan memiliki daya tahan yang lemah jika menghadapi sebuah persoalan karena tidak pernah dilatih untuk bagaimana menerjang ‘ombak di tengah lautan’. Ibarat hanya diberikan sebuah kapal mewah nan megah untuk melintasi samudra, tidak dibekali kepiawaian dalam mengoperasikan kemudi kapal; yakni hanya terbiasa diberi fasilitas tanpa mengerti bahwa itu adalah hasil perjuangan. Lebih jauh tidak bisa menjadi pribadi yang kompetitif seperti yang diharapkan bangsa. 1.2 Rumusan Masalah

Dalam karya tulis kali ini, penulis memberi batasan bahwa yang dianalisis adalah problem eksternal yaitu mengenai universitas, yakni kondisi yang berada di luar diri mahasiswa, sehingga permasalahan yang akan dibahas adalah : * Apakah yang penyebab dari luar diri mahasiswa sehingga menjadi pribadi yang dikategorikan sebagai manja? * Bagaimana solusi yang bisa diterapkan di luar diri mahasiswa (dari universitas) agar dapat mengurangi atau lebih jauh dapat menghilangkan sikap manja?

2. Apatis adalah acuh tidak acuh; tidak peduli; masa bodoh
1.3 Uraian Singkat

Dalam kesempatan ini, penulis menyusun karya tulis ini sebagai salah satu wujud keprihatinan terhadap fenomena manja yang terjadi di kalangan mahasiswa saat ini. Karya tulis ini akan membahas mengenai pengertian manja yang sebenarnya, lalu perilaku yang dikategorikan sebagai manja pada mahasiwa, faktor penyebabnya, akibat yang ditimbulkan dari adanya kemanjaan mahasiswa baik bagi dirinya sendiri maupun bangsa; serta beberapa solusi eksternal diluar diri yang ditawarkan untuk mencegah perilaku manja ini lebih luas.

Semoga apa yang disampaikan penulis melalui karya ini dapat berguna dan dapat memberi manfaat bagi pihak yang terlibat atau yang berkepentingan.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan karya ilmiah ini adalah:
1. Untuk mengetahui dampak manja pada kalangan mahasiswa.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab mahasiswa menjadi pribadi yang termasuk tidak mandiri.
3. Untuk mengetahui solusi yang dapat diberikan secara eksternal untuk menjawab permasalahan manja.
1.5 Manfaat Penelitian

Ada tiga manfaat yang dapat diperoleh melalui penelitian ini, yaitu :
1. Bagi penulis, penelitian ini dapat menjadi rujukan untuk mengetahui fenomena manja yang terjadi pada kalangan pelajar Universitas.

2. Bagi Universitas, dapat menjadi bahan referensi untuk proses pembelajaran selanjutnya mengenai kemanjaan mahasiswa.

3. Bagi Masyarakat, menjadi bahan evaluasi dengan adanya fenomena mahasiswa manja yang akhirnya tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

BAB II. TELAAH PUSTAKA

2.1 Definisi Manja

Seperti yang kita ketahui, manja sangat erat kaitannya dengan pribadi yang tidak mandiri. Dimana fenomena manja terjadi karena pribadi yang bersangkutan belum dapat/tidak dapat mengoptimalkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri; sehingga jika membahas ‘manja’ yang menjadi sorotan adalah kelakuan dari perilaku mandiri namun yang menyimpang.

Menurut Johnson dan Medinnus, (Widjaja, 1986 dalam Shilawati, 2012) bahwa mandiri merupakan salah satu ciri kematangan yang memungkinkan seorang berfungsi otonom3, berusaha ke arah terwujudnya prestasi pribadi dan tercapainya suatu tujuan. Basri (1995 dalam NN, 2012) menyatakan bahwa dalam arti psikologi, kemandirian mempunyai pengertian sebagai keadaan seseorang dalam kehidupannya yang mampu memutuskan atau mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Kemampuan tersebut hanya akan diperoleh jika seseorang mampu untuk memikirkan secara seksama tentang sesuatu yang dikerjakannya dan diputuskannya, baik dari segi manfaat atau kerugian yang akan dialaminya. Siswoyo (Zakiyah, 2000 dalam NN, 2012) mendefinisikan kemandirian sebagai suatu karakteristik individu yang mengaktualisasikan dirinya, menjadi dirinya seoptimal mungkin, dan ketergantungan pada tingkat yang relatif kecil. Orang-orang yang demikian relatif bebas dari lingkungan fisik dan sosialnya. Meskipun mereka tergantung pada lingkungan untuk memuaskan kebutuhan dasar, sekali kebutuhan tersebut terpenuhi

3. otonomi (autonomy) adalah sebagai keadaan pengaturan diri, atau kebebasan individu manusia untuk memilih, menguasai dan menentukan dirinya sendiri. mereka bebas untuk melakukan caranya sendiri dan mengembangkan potensinya.

Dari beberapa pengertian mandiri diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kata mandiri/kemandirian berasal dari kata otonomi dan mempunyai kata kunci yang sama, yakni terlepas dari ketergantungan orang lain, mengaktualisasi diri, mempunyai tanggung jawab pribadi, dan mampu melakukan segala sesuatu oleh dirinya sendiri merupakan ciri pribadi yang madiri.

Sedangkan untuk definisi ketidakmandirian, dapat kita ketahui sebagai lawan dari sikap mandiri adalah sikap yang selalu bergantung pada orang lain, tidak mampu mengaktualisasikan dan mengoptimalkan diri, tanggung jawab pribadi yang lemah, dan harus selalu meminta bantuan orang lain dalam mengerjakan sesuatu. Dari ketidakmandirian inilah ditemukan darimana manja itu berasal. Menurut Seto Mulyadi (academia, 2012) manja adalah kelakuan yang mengharapkan perhatian berlebih dari lingkungan sekitarnya diikuti keinginan untuk segera dituruti kemauannya. Merupakan cerminan dari perilaku yang selalu bergantung pada orang lain.

2.3 Dampak Manja

Seakan ulat yang menggerogoti apel dari dalam; menghancurkan dengan pelan tapi pasti, dimana perilaku manja ini sangat berbahaya. Karena manja ini kemudian menghasilkan dampak adanya perilaku-perilaku yang menyimpang bagi mahasiswa, kaum intelektual yang terjadi dalam lingkungan universitas.

1. Harus selalu Disuruh
Untuk mencatat pelajaran dari papan tulis saja harus diminta, apabila tidak maka hanya menjadi pendengar dalam kelas. Padahal, seharusnya jika memang merasa bahwa hal yang diberikan berguna/penting tanpa disuruhpun dari awal akan tersalin di catatannya. Begitu pula dengan membaca buku, dosen lah yang selalu meminta agar mahasiswa membaca buku referensi, bukan dari kesadaran sendiri.

2. Budaya Copas
Berkembangnya teknologi untuk arsitek dinilai menjadi salah satu pemicu mahasiswa jurusan arsitek manja. Mereka terbiasa hanya menerima sajian desain gambar di dunia internet sehingga budaya 'copy paste' desain pun menjadi tak terhindarkan, Ary Indra, salah satu perusahaan konsultan arsitek Aboday (beritajatim, 2013)

Inilah kiranya sedikit gambaran mengenai budaya copas – copy paste – yang terjadi di kalangan mahasiswa. Copas lain yang berkembang adalah menyalin hasil kerja dari teman jika diberikan tugas. Padahal tugas diberikan untuk menambah pemahaman mahasiwa, bukan untuk memberatkan.

3. Plagiarism
Dimudahkan dengan era teknologi yang sangat canggih untuk mengakses segala informasi memang menjadikan mahasiswa akhirnya lebih memilih browsing dibandingkan pergi ke perpustakaan dan mencari referensi data. Namun, yang menjadi permasalahan menyambung dari budaya copas adalah tidak dicantumkannya sumber asli penulisan, diakui sebagai karya sendiri.

4. Joki
Untuk mengejar indeks prestasi yang tinggi, adanya kegiatan gotong royong yang tidak pada tempatnya disertai uang yang terjadi. Tidak mau repot dan berusaha mengerjakan tugas, hanya tinggal membayar ‘otak sementara’ orang lain.

5. Agen Skripsi
Ini menjadi sarana menamatkan otak bagi mahasiswa tugas akhir. Seharusnya melalui pengerjaan skripsi, mahasiswa bisa melihat realita pada masyarakat dan dapat menyadari keadaan lingkungan di sekitarnya. Namun dengan pemilihan menggunakan jalan pintas, makna pembuatan skripsi tidak akan tersampaikan. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari membeli pikiran orang lain.

2.3 Penyebab Manja

Manusia adalah makhluk sosial, tentunya yang membentuk dirinya adalah dari lingkungan sosial dengan interaksi yang unik.

1. Keluarga
Bigner (Hadipranata, 2000) mengungkapkan bahwa faktor hubungan dengan orang tua mempunyai peran penting sebagai peletak dasar bagi pembentukan kepribadian, termasuk kemandirian. Sejalan dengan hal tersebut adalah hasil penelitian dari Thomas dan Chess (Masrun dkk., 1986), bahwa temperamen dasar dapat terbentuk dari pola interaksi dengan orang tua dan keluarganya.

Alfred Adler pendiri “The Society for Individual Psychology” menyatakan bahwa urutan kelahiran adalah pengaruh sosial yang utama ketika dalam keluarga. * Anak Pertama, karena telah terbiasa memiliki kekuasaan, anak pertama cenderung membawa sifat itu sepanjang hidupnya. Pengalaman menjadi kakak membuat anak pertama lebih dewasa secara intelektual dibandingkan saudara lainnya. * Anak Kedua, anak kedua selalu mencontoh perilaku dari anak yang lebih tua sebagai model. Persaingan dengan anak pertama dapat memotivasi anak kedua, yang berusaha untuk mengejar dan mengungguli saudara kandungnya yang lebih tua. * Anak Paling Muda, biasanya manja dan mereka tidak membutuhkan pembelajaran untuk melakukan apapun sendiri. Tidak biasa dengan kondisi untuk berusaha dan berjuang, mereka akan sulit untuk menyelesaikan masalah pada masa dewasa. * Anak Tunggal, mereka tetap menjadi fokus dan pusat perhatian. Anak tunggal meraih kedewasaan perilaku sebab berhubungan dengan yang lebih dewasa. Anak tunggal telah belajar, untuk selalu menjadi yang pertama.

Orang tua boleh menyenangkan anaknya, tapi tidak boleh sampai memanjakan selalu menuruti keinginannya. Melihat karakteristik urutan kelahiran anak, orang tua harusnya sadar bagaimana memperlakukan anaknya dengan tepat agar bisa mandiri.

2. Pergaulan dan Masyarakat
Seperti keluarga, lingkungan pergaulan juga dapat membentuk diri mahasiswa. Dimana ia tumbuh dan berkembang, belajar dan diajari mengenal lingkungan sekitarnya yang lebih luas. Orang yang cukup lama berada dalam sebuah lingkungan pergaulan, budaya dalam lingkungan tersebut akan ‘menempel’ pada perilakunya secara sadar atau tidak. Otomatis, jika mahasiswa memiliki lingkungan pergaulan yang malas, ia akan tertular perilaku malas. Masyarakat juga harus menjadi badan ‘yudikatif’ dalam arti mengawasi perilaku mahasiswa agar bisa menjadi penerus bangsa yang mandiri, jangan hanya dibiarkan jika terjadi penyimpangan. 3. Pendidikan
Pendidikan juga mengambil andil dalam pola perilaku tidak mandiri. Sebagai lembaga yang membentuk intelektual mahasiwa, biasanya yang dikedepankan adalah kemampuan akademik/hardskill dengan tolak ukur menggunakan indeks prestasi. Padahal dengan pelatihan softskill yang benar, mahasiswa akan dapat dibimbing menjadi pribadi yang tidak manja. Lebih jauh mengenai softskill, adalah suatu kemampuan yang dimiliki seseorang yang lebih menekankan pada EQ (emotional quotient) atau kecerdasan emosional. Softskill dapat dikatakan sebagai kemampuan di luar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal. Keterampilan intra personal mencakup kesadaran diri (kepercayaan diri, penilaian diri, sifat dan preferensi, serta kesadaran emosi) dan keterampilan diri (peningkatan diri, pengendalian diri, manajemen sumber daya, pro aktif). Sedangkan keterampilan inter personal mencakup kesadaran sosial (kesadaran politik, memanfaatkan keragaman, berorientasi pelayanan) dan keterampilan sosial (kepemimpinan, pengaruh, komunikasi, kooperatif, kerja sama tim, dan sinergi)

BAB III. METODE PENULISAN

3.1 Sumber dan Jenis Data Data-data yang dipergunakan dalam penyusunan karya tulis ini berasal dari berbagai literatur tertulis yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas. Beberapa jenis referensi utama yang digunakan adalah artikel dari internet mengenai psikologi, dan artikel mengenai hardskill & softskill. Jenis data yang diperoleh bersifat kualitatif . 3.2 Pengumpulan Data Metode penulisan bersifat studi pustaka. Informasi yang digunakan berasal dari berbagai sumber literatur dan disusun berdasarkan hasil studi dari informasi yang diperoleh. Penulisan diupayakan saling terkait antar satu sama lain dan sesuai dengan topik yang dibahas. 3.3 Analisis Data Data yang terkumpul diseleksi dan diurutkan sesuai dengan topik yang dibahas, kemudian disusun secara runtut secara logis dan sistematis. Teknik analisis data bersifat pendekatan struktural. 3.4 Penarikan Kesimpulan & Rekomendasi Kesimpulan didapatkan dengan cara melihat kembali pada rumusan masalah, tujuan penulisan serta pembahasan yang dibabarkan. Simpulan yang ditarik mempresentasikan pokok bahasan karya tulis dan rekomendasi adalah yang solusi lain yang disarankan penulis apabila gagasan gagal untuk diadopsi.

BAB IV. ANALISIS DAN SINTESIS

4.1 Analisis

Mahasiswa dihadapkan pada kondisi bahwa dirinya dipersiapkan dan akan menjadi agent of change dan iron stock,sebagai generasi pembawa perubahan lebih baik dan menjadi generasi pembaharu. Dimana setelah lulus dan bergelar sarjana harus mampu bersaing dan terjun ke masyarakat dengan memberi manfaat. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional jangka menengah nomor 9 yakni, meningkatkan daya saing bangsa dengan menghasilkan lulusan yang mandiri, bermutu, terampil, ahli dan profesional, mampu belajar sepanjang hayat, serta memiliki kecakapan hidup yang dapat membantu dirinya dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan (dikti, 2003). Namun, jangankan menjadi jiwa yang cerdas dan kompetitif, beberapa diantaranya bermanja ria dan tidak peduli dengan kondisi disekitar. Penyebabnya adalah telah dimanjakan dari lingkungan keluarga, khususnya orang tua yang tidak ingin melihat anaknya susah dan terbawa hingga sekarang, diberi segala sesuatu yang instan agar anaknya tidak repot. Dengan mengetahui bahwa urutan kelahiran anak dapat memberi pengaruh sosial, harusnya orang tua akan lebih mengerti bagaimana harus bertindak terhadap buah hatinya agar kedepannya mereka tidak menjadi pribadi yang manja. Orang tua juga harus mengurangi kebiasaan mengurusi segala kebutuhan anak, terutama mulai saat mereka menginjak usia remaja. Pemaksaan secara sepihak dari orang tua tidak akan mengembangkan si anak. Misalnya pada saat memasuki perkuliahan, yang mewajibkan untuk kuliah adalah orang tua, jurusan juga ditentukan. Bahkan ada orang tua yang mengatur seberapa banyak SKS yang diambil dan mata kuliah apa saja yang dipelajari dalam satu semester. Ini akan menyebabkan mahasiswa yang bersangkutan bukan semakin maju, malah memiliki kecenderungan tidak masuk perkuliahan atau bolos. Atau kadangkala masuk, namun izin keluar, dan baru kembali pada saat absen. Malah tidak mendapat ilmu yang seharusnya diharapkan.
Lingkungan pergaulan dan pendidikan juga jika salah tempat akan memberi dampak manja yang lebih parah, mahasiswa akan tambah tidak memiliki daya saing untuk pencapaian sesuatu. Terlalu menuntut nilai akademik bisa menjadi salah satu faktornya, mahasiswa akan mengahalalkan segala cara demi predikat indeks prestasi tiga koma (3,sekian) yang dianggap memuaskan.
Mengawasi pergaulan juga merupakan tugas dari masyarakat sekitar. Masyarakat tidak boleh langsung membiarkan begitu saja pada mahasiswa yang terjebak dalam pergaulan yang salah karena bisa jadi bukan karena kemauan mahasiswa sendiri, melainkan karena mereka tertolak pada pergaulan lingkungan sebelumnya dan bergabung untuk memeunuhi kebutuhan sosial hidupnya atau mereka sendiri tidak sadar bahwa pergaulan yang mereka lakukan itu salah. Disinilah peran masyarakat dibutuhkan paling tinggi, harus jeli melihat dan mengawasi dan membantu mereka yang ‘terdampar’ dalam pergaulan. Dalam tingkat yang lebih tinggi, masyarakat pelan-pelan dapat membantu pemerintah daerahnya untuk bersama-sama menyadarkan kelompok-kelompok yang terpinggirkan ini, misalnya dengan selalu melakukan aktivitas yang melibatkan seluruh warga secara rutin. Ini juga akan menguatkan rasa kebersamaan untuk mengawasi antar sesama warga.
Dari segi lingkungan pendidikan, dengan campur tangan pemerintah melalui keputusan Dikti juga belum cukup. Kebijakan publikasi pada jurnal ilmiah tetap mengarahkan bahwa akademik itu penting dan menjadi prioritas utama dalam proses pembelajaran. Selain akademik, tentunya mahasiswa juga harus mengembangkan non-akademik sebagai penyeimbangnya.
Softskill, salah satu kemampuan non-akademik bisa dikembangkan dengan banyak cara dalam perkuliahan, seperti melatih berbicara di depan umum, maupun kepantiaan dan berorganisasi, unit kegiatan kampus juga berperan. Namun untuk memulihkan mahasiswa dari sifat yang telah cenderung apatis terhadap masyarakat, haruslah kegiatan non-akademik yang berhubungan dengan masyarakat pula agar kaum intelektual ini sadar akan sekitarnya, atau lebih jauh yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat membangun masyarakat daerah sekitarnya menjadi lebih baik.
Karena jika terus dibiarkan, mahasiswa akan makin jauh dari daya saing kompetitif yang ingin ditingkatkan, akan semakin apatis juga dengan lingkungan sekitar. Dan yang lebih buruk lagi seandaiya fenomena manja ini berlanjut terus, mahasiswa manja akan sangat depresi jika keinginannya tidak dituruti. Karena tidak memiliki daya tahan akibat mental yang tidak pernah diasah, sedikit goncangan akan membuatnya frustasi.

4.2 Sintesis

Pendekatan yang dilakukan penulis adalah pendekatan struktural, yakni suatu metode atau pendekatan terhadap suatu fakta yang sasarannya bukan pada diri individual itu sendiri melainkan kondisi diluar individu yang bersangkutan. Karena menurut penulis, pendekatan eksternal yang sifatnya lebih besar akan membantu mereka yang berpotensi namun tidak bisa bersaing melawan kondisi luar. Dan dengan adanya bantuan dari luar, biasanya dari internal juga akan mulai bergerak.
Penulis mengambil pembahasan diluar pribadi mahasiswa manja, yakni tidak melakukan perubahan pada diri mahasiswa yang bersangkutan, melainkan merubah kondisi sekitar yang kiranya sebagai penyebab dari perilaku manja tadi. Dan karena berada dalam konteks mahasiswa adalah pelajar universitas, penulis akan fokus membahas apa yang bisa dilakukan universitas terkait fenomena mahasiswanya.
Sebelumnya, telah dibahas bahwa salah satu penyebab mahasiswa menjadi manja pada lingkungan pendidikan adalah karena kurang berkembangnya softskill pribadi, yang menuntut keterampilan dalam diri dan juga sosial. Dimana pada softskill mahasiswa akan diajarkan peduli akan lingkungannya, kesadarannya akan dibangun bahwa sebagai insan ia akan berelasi dengan berbagai pihak dan akan memberi dampak dan diberi dampak dari lingkungan sekitar.
Yang bisa diusulkan penulis adalah memperbanyak pelaksanaan kegiatan berelasi dengan masyarakat seperti service learning dimana mahasiswa dituntut harus langsung terjun dalam kondisi masyarakat secara riil dan membantu mengatasi permasalahan yang ada dengan menggunakan kapasitasnya sebagai mahasiswa. Melalui kegiatan service learning, penulis sendiri mengalami perbedaan sebelum dan setelah melakukan kegiatan turun ke masyarakat. Dari yang awalnya bahkan tidak mengetahui bahwa terdapat usaha ini disekitar kampus hingga akhirnya saling bertegur sapa dengan pemilik jika berpapasan. Penulis juga diajari dari service learning ini bahwa keadaan lapangan tidak selalu seperti yang terdapat pada buku teori, banyak hal yang baru bisa ditemukan jika usaha sudah berjalan dan beroperasi, dah bahkan kasus tertentu tidak pernah dipaparkan dalam pembelajaran kuliah terutama menyangkut value dalam bekerja.
Community Outreach Program (COP) juga akan mendorong mahasiswa menjauh dari perilaku manjanya karena program ini mengkondisikan mahasiswa untuk tinggal di rumah-rumah penduduk (di luar daerah) selama kurun waktu tertentu dan membantu kehidupan sehari-hari masyarakat disana. Ini secara tidak langsung akan membuat mahasiswa tidak apatis dan sadar akan kehidupan sekitarnya, apa yang akan ia hadapi nanti sebagai pembawa nasib bangsa.
Melangkah lebih kedepan, mahasiswa sedari awal harus diperhatikan apakah pribadinya cenderung mandiri atau manja dalam perkuliahan. Awalnya bisa dilihat dari bagaimana dirinya menanggapi kerjasama kelompok, menanggapi tugas yang diberikan, dan menanggapi saat kegiatan bersama warga sekitar selama proses orientasi mahasiswa berlangsung. Jika ditemukan sedari awal, akan lebih mudah diberikan penyadaran. Bisa dilakukan dengan pembimbingan rutin secara kolektif dan personal kalau memungkinkan. Badan konseling universitas tentu akan sangat berperan dalam proses penilaian ini, akan lebih baik lagi bila dibentuk tim yang memang khusus untuk menjaring mahasiswa yang juga khusus ini. Dimana tim yang baru setiap pergantian tahun ajaran akan mengawasi mahasiswa yang masuk ditahun ajarannya dan selama masa perkuliahan mahasiswanya.
Program baru juga bisa dilaksanakan untuk menyadarkan generasi muda ini dengan bekerja sama dengan pemerintah daerah. Dimana kegiatan yang akan berjalan rutin dan melibatkan warga, pemerintah dan masyarakat ini bisa dilakukan dengan : pertama, lingkungan yang membutuhkan bantuan akan mengungkapkannya pada pemerintah, pemerintah pada universitas, dan universitas kepada mahasiswa. Tentunya bantuan yang diberikan sesuai dengan kapasitas mahasiswa. Misalnya, warga melaporkan pada pemerintah daerah bahwa ingin berwirausaha namun tidak mengerti dalam hal pasar yang dituju dan seberapa besar modal yang dibutuhkan. Kemudian pemerintah akan menghubungi universitas yang memang mempunyai kompetensi pada bidang kewirausahaan untuk membantu permasalahan warga, dan universitas akan mengarahkan mahasiswanya untuk datang. Dalam hal ini mahasiswa akan dapat membantu warga dalam pembuatan business plan yang memang untuk menuntun arah pembukaan usaha baru mulai dari perencanaan, lokasi, hingga biaya yang dibutuhkan.
Kedua, jika pemerintah memiliki program/kebijakan baru. Dengan berdasar mahasiswa kaum intelek, tentu akan lebih mudah memahami seperti apa program/kebijakan yang akan berlaku daripada warga yang umumnya tidak mencapai bangku pendidikan tinggi. Disinilah peran mahasiswa, yakni membantu pemerintah mensosialisasikan pada warga mengenai apa yang berubah dan seperti apa dampak yang ditimbulkan dari adanya perubahan program,/kebijakan ini.
Diluar kedua cara diatas, mahasiswa juga bisa langsung menghubungi pemerintah daerah mengenai kegiatan yang bisa dilakukan yang sekiranya dapat membantu pembangunan warga sekitar menjadi lebih baik. Tentunya disertai dengan sistem terstruktur dan forum agar kegiatan ini bisa menjadi semakin efektif dengan adanya keteraturan dalam pelaksnaan tugasnya dan masukan untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.
Diharapkan dengan berlangsungnya program ini, mahasiswa bisa peka pada keadaan diluar dirinya. Dalam arti tidak hanya terfokus pada pemenuhan kebutuhan pribadi, dan bertindak mandiri tanpa ketergantungan yang berlebihan; karena dengan mandiri, mahasiswa akan meninggalkan sifat manjanya sendiri. Membentuk mahasiswa yang cerdas dan kompetitif harus merontokkan manjanya terlebih dahulu.

BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5. 1 Kesimpulan

Untuk menjadi pribadi mahasiswa yang cerdas dan kompetitif yang pertama adalah kita harus melepaskan diri dari manja. Dimana manja dalah perilaku yang tidak mandiri, bergantung pada orang lain dalam melakukan sesuatu. Manja ini bisa mengakibatkan daya saing pribadi yang rendah karena tidak terbiasa terpacu untuk mencapai target yang lebih, dan membuat pribadi tidak pernah berjuang meraih pencapaian. Penyebab dari manja ini sendiri biasanya karena orang tua memberi fasilitas terlalu berlebihan dan menuruti semua permintaan anak sehingga membentuk pola pikir anak yang tidak mau susah, sehingga akhirnya mengurusi seluruh kebutuhan anak. Lingkungan pergaulan yang tidak tepat juga dapat makin menjerumuskan pribadi mahasiswa. Masyarakat juga menjadi penentu akan berjalan lurus tidaknya mahasiswa dalam bermasyarakat. Pendidikan juga harus diatur sedemikian rupa agar mahasiswa tidak lagi bisa manja dengan seenaknya.
Institusi pendidikan, khususnya universitas sebagai tempat yang menaungi harus bisa menahan dan mengatasi fenomena ini. Tidak hanya berfokus pada pentingnya akademik saja, namun harus diseimbangkan dengan pengembangan softskill mahasiswa. Dimana softskill ini akan membantu mahasiswa untuk tidak hanya berpusat pada dirinya sendiri.
Solusi eksternal dari luar diri mahasiswa yang bisa ditawarkan penulis adalah dengan memberdayakan kegiatan yang memiliki relasi dengan masyarakat sekitar, dimana mahasiswa harus dikondisikan berada di lapangan dan melakukan pekerjaan sehari-hari yang akhirnya bisa menyadarkan mahasiswa bahwa akan tindakan manjanya selama ini adalah salah. Dukungan emerintah juga diharapkan dalam pemberantasan manja ini melalui kerjasama dengan program-program universitas.

5. 2 Rekomendasi

Rekomendasi dari penulis jika gagasan ini gagal diadopsi adalah dengan melakukan pendekatan internal, karena memang dengan adanya prakarsa pendekatan eksternal, internal akan bisa tergerakkan dan juga akan berubah. Namun, biasanya ini juga harus didorong memang dengan keinginan pribadi mahasiswa untuk berubah. Apabila tidak, sama saja akan kembali lagi ke awal, tetap berperilaku manja.

DAFTAR PUSTAKA

Andyini, Dita A., Maret 2013. Soft Skill & Hard Skill. [Online] Tersedia : http://andyinis-journal.blogspot.com/2012/03/soft-skill-hard-skill.html [Diakses 16 Maret 2014]
Farid, S., 2013. Definisi Soft Skill. [Online] Tersedia : http://faridshofwan.blogspot.com/2013/05/definisi-soft-skill_26.html [Diakses 16 Maret 2014]
Ferdyant, F., 2013. Realita Mahasiswa saat ini. [Online] Tersedia : http://ferlyprogresif.blogspot.com/2013/06/realita-mahasiswa-saat-ini-integritas.html [Diakses 18 Maret 2014]
Ginting, Rina Z., 2014. Psikologi Kepribadian. [Online] Tersedia : http://12070rzg.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false.html [Diakses 16 Maret 2014]
Ma’ruf, Hidayat., 2010. Pengaruh Gaya Pengasuhan Orangtua Terhadap Kemandirian Remaja. [Online] Tersedia : http://hidayah-ilayya.blogspot.com/2010/02/pengaruh-gaya-pengasuhan-orangtua.html [Diakses 15 Maret 2014]
Nurfuadah, Rifa N., 2013. Waduh, Peringkat Kampus RI di Dunia Turun! [Online] Tersedia : http://kampus.okezone.com/read/2013/09/09/373/863131/waduh-peringkat-kampus-ri-di-dunia-turun [Diakses 27 Maret 2014]
SIP, Hendrizal, 2014. Visi Depdiknas dan Tantangan. [Online] Tersedia : http://www.pelita.or.id/baca.php?id=84040 [Diakses 16 Maret 2014]
Umami, Rahayu, 2008. Pragmatisme Mahasiswa. [Online] Tersedia : http://www.bunghatta.ac.id/artikel/283/pragmatisme-mahasiswa.html [Diakses 18 Maret 2014]
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012, 2012. kemdikbud.go.id/kemdikbud/sites/default/files/UUPT-12-thn-2012.pdf‎ [Diakses 16 Maret 2014]
Virdhani, Marieska H., 2014. Kasus Bunuh Diri karena Anak Terlalu Dimanja. [Online] Tersedia : http://nasional.sindonews.com/read/2014/03/04/31/841240/kasus-bunuh-diri-karena-anak-terlalu-dimanja [Diakses 16 Maret 2014]
Wati, Shila., Desember 2012. Makalah Psikologi Perkembangan Remaja tentang Perkembangan Kemandirian Remaja. [Online] Tersedia : http://shilawati24.blogspot.com/2012/12/makalah-psikologi-perkembangan-remaja.html [Diakses 15 Maret 2014]

Similar Documents

Free Essay

Fgdhghd

...CIKGUJANA IBRAHIM - ESEI-ESEI TERBAIK PELAJAR-PELAJAR BAHASA MELAYU SPM Wednesday, July 1, 2009 PERANAN IBU BAPA Soalan : Peranan keluarga dalam pembangunan modal insan. Dalam era globalisasi tanpa limitasi ini, negara Malaysia kini sedang pesat membangun dari sehari ke sehari. Persoalannya, apakah faktor yang mendorong pembangunan ini? Sebenarnya, pembangunan negara adalah sejajar dengan pembangunan modal insan kelas pertama yang berilmu pengetahuan dan berkemahiran tinggi. Modal insan ini lahir daripada generasi muda kita yang berwawasan tinggi. Generasi yang berwawasan memiliki sikap-sikap positif seperti dinamik, proaktif, beriltizam dan berdaya saing. Tetapi apakah pula rahsia pembentukan generasi berwawasan yang mendukung pembangunan modal insan di negara ini? Dalam hal ini, keluarga memainkan peranan dan tanggungjawab yang sangat penting untuk dipikul demi merealisasikan hasrat negara untuk melahirkan lebih ramai modal insan yang cemerlang dalam pelbagai aspek.Generasi hari ini merupakan pemimpin masa hadapan. Mereka mesti menyediakan diri dengan ciri-ciri kepimpinan dan memantapkan ilmu serta kemahiran. Di sini jugalah keluarga khususnya ibu bapa memainkan peranan untuk memimpin tangan dan membantu anak mereka dalam mengharungi kehidupan dengan cara yang paling efektif sekali. Hal ini demikian kerana keluarga merupakan pihak yang paling dekat dengan anak-anak. Ibu bapa seharusnya menunjukkan teladan yang baik terhadap anak-anak kerana segala perbuatan dan tingkah...

Words: 8683 - Pages: 35

Free Essay

Pedang Ular Merah

...info/ http://cerita-silat.co.cc/ http://kang-zusi.info Jilid 01 Pegunungan tai hang san di perbatasan Mongolia merupakan daerah pegunungan yang amat luas dan di situ penuh dengan hutan-hutan liar yang jarang dikunjungi manusia. Di puncak bukit yang paling ujung yakni di bagian barat terdapat sebuah hutan yang benarbenar masih liar dan belum pernah ada manusia berani memasukinya. Hutan ini terkenal menjadi sarang binatang buas, terutama sekali banyak terdapat ular berbisa semacam ular yang berkulit merah dan tidak terdapat di lain bagian dunia akan tetapi yang banyak terdapat di hutan itu, membuat hutan itu dinamakan hutan ular merah. Pada suatu pagi yang sejuk dengan sinar matahari yang cerah terdengarlah suara nyaring dan merdu dari seorang anak perempuan berusia paling banyak enam tahun, anak itu mungil dan cantik sekali dengan sepasang matanya yang bening kocak dan dua kuncir rambutnya yang panjang dan hitam. Tiap kali ia menggerakkan kepalanya, kuncirnya itu menyabet ke kanan ke kiri dan kalau kuncirnya melewati pundak lalu jatuh bergantung di atas pundaknya ke depan, ia tampak lucu dan manis. Sambil memetik bunga-bunga hutan yang beraneka warna, anak ini bernyanyi dengan merdu. Akan tetapi sungguh mengherankan suaranya yang amat merdu itu bcrlawanan sekali dengan kata-kata nyanyiannya yang dapat membuat orang melengak saking heran tidak mengerti. Aku bukan dewata bukan pula setan Akan tetapi baik dewata maupun setan Takkan dapat menguasai aku Biar dewata...

Words: 126872 - Pages: 508

Free Essay

Perahu Kertas

...Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta Pasal 2: 1. Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundangan-undangan yang berlaku. Ketentuan Pidana: Pasal 72: 1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). 2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagai dimaksud pada Ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Dee PERAHU KERTAS © 2009, Dee / Dewi Lestari Editor: Hermawan Aksan Proof Reader: Jenny Jusuf Reza Gunawan Desain Sampul: Kebun Angan www.kebun-angan.com Tata Letak Isi: Irevitari Kontak Dee: Jenny Jusuf +62-817 992 8558 Email: j3nnyjusuf@yahoo.com Penerbit: Bentang Pustaka Truedee Pustaka Sejati Jl. Pandega Padma no 19 Jl. Rajawali no 2 Yogyakarta 55824 Bandung...

Words: 89668 - Pages: 359

Free Essay

Alexs Wish

...pemerintahan yang mengatur negeri, perkantoran, sekolah, dan sebagainya. Dan di sana juga terdapat kendaraan yang sama seperi di bumi. Sosok malaikat dan setan juga sama sepert sosok manusia penghuni bumi. Bedanya, sementara manusia bisa memilih apa-apa sendiri—seperti pakaian yang harus dipakainya, sekolah tempatnya belajar, negeri tempatnya tinggal, berteman dengan siapa saja yang diinginkannya—makhluk langit nggak punya kebebasan itu. Meski sosok mereka sama, merka diharuskan hidup di dua kerajaan yang berbeda, dengan wajah dan penampilan berbeda. Malaikat umumnya berwajah biasa dan berpakaian sederhana. Pakaian yang mereka kenakan umumnya berwarna soft, kalo nggak putih sekalian. Sementara setan umumnya berwajah cantik dan tampan. Kebanyakan dari mereka sering menghiasi wajah dengan...

Words: 37587 - Pages: 151

Free Essay

Agree

...DE_SUPERNOVA-_BintanG_jatuH SUPERNOVA Episode: Ksatria, Puteri, dan BintanG jatuH © 2000 Pee H Proof Reader Prof. Dr. Fuad Hassan Hernia wan Aksan Tata Letak Muhammad Roniyadi (thatkid20@yahoo.com) Desain Sampul Tepte (teple@imatrekkie.com) Foto Dissy Ekapramudita Penerbit Truedee Books X Patrakomala no. 57, Bandung 40113, Indonesia Tel/Fax. 62-22-4213691 http://www.truedee.com E-mail: Dooks@truedee.com Hotfine Customer Service: 081-22141015 Pre-press Polar Repro Bandung Percetakan Gpta Cekas Grafika - Bandung Osakanl : Februari 2001 /CefakanU -Maret 2001 hafalan IH : April 2001 Cetakan IV :Juni2001 **«anV ; November 2001 Katalog Dalam Terbitan i ¦fe^'S ^ Bi,Mn* BMK,un8: T»*, Books; 200. $&96257-0-X JudulEngkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal Hidup.Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam Cinta tak bermuara.Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara. Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian. Gerakmu tiada pasti. Namun aku terus di sini. Mencintaimu. Entah kenapa. (catatan di satu pagi buta di atas atap rumah tetangga) Sanksi Pelanggaran Pasat 44: Undang-undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 6 tahun 1982 Tentanq Hak Cipta Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak 8p 100.000...

Words: 53406 - Pages: 214

Free Essay

Story

...kelab dan balik mabuk.Okay, salah aku lagi, duit syarikat abah habis aku joli kan. Banyaknya salah aku. Jadinya,abah kahwinkan aku dengan Siti Syahirah binti Hj. Amran ni. Bukan itu je, abah hantar aku dengan dia duduk dekat Kepala Batas, Pulau Pinang ni. Itu okay lagi, abah ambil kereta sport aku – dan aku kena guna kereta isteri aku ni. Abah suruh aku uruskan syarikat dia dekat ceruk ni. Nak enjoy pun tak boleh, sebab ini Pulau Pinang bukan Kuala Lumpur. Enjoylah aku dengan laptop ni. Baru sehari duduk rumah ni, aku dah nak gila. Belum seminggu lagi. Kalau sebulan? Huh.“abang dengar tak?”. Macam cakap dengan laptop tu je. “hm,saya sembahyang dekat surau.” Ek, macam mana ayat tu keluar. Huh,surau pun aku tak tahu dekat mana. Nak lari dari jadi imam sebenarnya. “saya ikut. Jap saya siap.” Si isteri telah pun hilang di pandangan mata. Aiman tersentak. Aduh,dia nak ikut pulak. Laptop di matikan. Dia duduk di sofa sementara menanti si isteri bersiap. Fikiran ligat memikir dekat mana surau.?...

Words: 6285 - Pages: 26

Free Essay

Btec

...perusahaan ekspedisi yang pendapatannya 500 tael perak sebulan malah lebih sulit lagi, karena posisi itu didapatkan dengan darah dan keringat. Akhir-akhir ini ia jarang mengawal sendiri barang-barang antaran perusahaannya. Kepala perusahaan ekspedisi “Pembawa Kedamaian” adalah juga kakak seperguruannya. Mereka berdua menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir ini dalam hidup yang tenteram dan damai, berlatih sedikit kungfu di pagi hari, minum arak di malam hari. Dengan melihat bendera “Pedang Besi Tombak Emas” sudah cukup membuat orang-orang di wilayah tenggara menjauh dari barang-barang antaran perusahaan “Pembawa Kedamaian”. Tetapi barang antaran kali ini terlalu penting, si pemilik meminta kedua saudara seperguruan itu melakukan sendiri seluruh proses antaran. Tapi karena sang kepala sedang sakit, Chang Man Tian terpaksa mengambil kembali sepasang pedang besinya yang masing-masing berbobot lebih dari 13 kg dan memimpin sendiri ekspedisi kali ini. “Minggir…. Pembawa Kedamaian… Tolong minggir….” Si tua Zhao yang berada di...

Words: 70871 - Pages: 284